<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muhammad SAW, Nabi Muhammad SAW, Cerita Nabi Muhammad, Riwayat Nabi Muhammad, Rasulullah Muhammad SAW,  Dakwah Nabi Muhammad &#187; Putra Putri Nabi</title>
	<atom:link href="http://nabimuhammad.info/category/keluarga-dan-sahabat/putra-putri-nabi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nabimuhammad.info</link>
	<description>Nur Muhammad, Muhammad, Nabi Muhammad SAW, Riwayat Nabi Muhammad, Sejarah Muhammad SAW,  Cerita Nabi Muhammad, Surat Muhammad, Maulid Nabi Muhammad, kisah Muhammad, Habib Muhammad, Kelahiran Nabi Muhammad, Cerita Nabi Muhammad, Hadist Nabi Muhammad, Foto Muhammad, Pidato nabi Muhammad</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:38:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Zaid Bin Haritsah</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 07:25:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Putra Putri Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah ibnul Rawahah]]></category>
		<category><![CDATA[al-Ahzab: 40]]></category>
		<category><![CDATA[al-Hismi]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Jumuh]]></category>
		<category><![CDATA[al-’Ish]]></category>
		<category><![CDATA[anak angkat Muhammad Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[anak angkat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[at-Tharaf]]></category>
		<category><![CDATA[Bal'qa]]></category>
		<category><![CDATA[Bani Maan]]></category>
		<category><![CDATA[budak]]></category>
		<category><![CDATA[dijual]]></category>
		<category><![CDATA[ditawan]]></category>
		<category><![CDATA[Hakim bin Hizam]]></category>
		<category><![CDATA[Haritsah]]></category>
		<category><![CDATA[HIjrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hijriah]]></category>
		<category><![CDATA[Hukaim bin Hisyam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ja’far bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Jumadil Ula]]></category>
		<category><![CDATA[Ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[Kabilah Kalb]]></category>
		<category><![CDATA[keponakan]]></category>
		<category><![CDATA[Khadijah]]></category>
		<category><![CDATA[Madinah]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarif]]></category>
		<category><![CDATA[mati syahid]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Rasulullah SAW]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[Pahlawan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Panglima Perang]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Ukaz]]></category>
		<category><![CDATA[pelayan]]></category>
		<category><![CDATA[Perampok Badui]]></category>
		<category><![CDATA[perang Muktah]]></category>
		<category><![CDATA[Pertempuran Mu'tah]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Romawi]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Su'da]]></category>
		<category><![CDATA[Syafa'at]]></category>
		<category><![CDATA[Syam]]></category>
		<category><![CDATA[Syam (Syiria)]]></category>
		<category><![CDATA[Syma]]></category>
		<category><![CDATA[Ummi Ayman]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Kultsum binti ‘Uqbah]]></category>
		<category><![CDATA[Usamah bin Zaid bin Haritsah]]></category>
		<category><![CDATA[Zaid bin Haritsah]]></category>
		<category><![CDATA[Zainab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=2531</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info _ Zaid bin Haritsah (578-629) (Arab:زيد بن حارثة) adalah anak angkat Nabi. Ia juga dikenal sebagai sahabat nabi Muhammad SAW. Biografi Singkat Zaid bin Haritsah berasal dari kabilah Kalb yang menghuni sebelah utara jazirah Arab. Di masa kecilnya, ia ditangkap oleh sekelompok penjahat yang kemudian menjualnya sebagai seorang budak. Kemudian ia dibeli oleh Hukaim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/07/3064962983_9ee846a9561.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/07/3064962983_9ee846a9561.jpg" alt="3064962983 9ee846a9561 Zaid Bin Haritsah" title="3064962983_9ee846a956" width="500" height="337" class="alignnone size-full wp-image-3002" /></a><strong>nabimuhammad.info</strong><strong><em> _  Zaid bin Haritsah</em></strong> (578-629) (Arab:زيد بن حارثة) adalah anak angkat Nabi. Ia juga dikenal sebagai sahabat nabi Muhammad SAW.</p>
<p><strong><br />
Biografi Singkat<br />
</strong><br />
Zaid bin Haritsah berasal dari kabilah Kalb yang menghuni sebelah utara jazirah Arab. Di masa kecilnya, ia ditangkap oleh sekelompok penjahat yang kemudian menjualnya sebagai seorang budak. Kemudian ia dibeli oleh Hukaim bin Hisyam keponakan dari Khadijah. Oleh Khadijah, ia diberikan kepada Nabi Muhammad yang kemudian memerdekakan Zaid bin Haritsah. </p>
<p>Ia adalah salah satu orang yang pertama dalam memeluk agama Islam.  Zaid diangkat sebagai anak oleh Muhammad, hanya saja nasabnya tetap bersandar pada bapaknya seperti yang diperintah oleh Allah SWT. Di keluarga Muhammad dan Khadijah, Zaid bersama sama Ali bin Abi Thalib tumbuh berkembang bersama dengan keempat anak perempuan Muhammad.</p>
<p>Zaid menjadi sahabat serta pelayan yang setia Nabi Muhammad. Ia menikah dengan Ummi Ayman dan memiliki putra yang bernama Usamah bin Zaid bin Haritsah. Ia mengikuti hijrah ke Madinah serta mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Dalam Pertempuran Mu&#8217;tah, ia diangkat sebagai panglima perang dan dalam Pertempuran Mu&#8217;tah inilah, ia mati syahid.</p>
<p>              *******                            ***********</p>
<p>Zaid bin Haritsah, seorang yang dilukiskan oleh para ahli sejarah dengan perawakan biasa, pendek, kulitnya coklat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek, adalah termasuk pahlawan-pahlawan Islam yang besar.</p>
<p>Sudah lama sekali Su’da, isteri Haritsah, berniat hendak berziarah ke kaum keluarganya di kampung Bani Maan. Ia sudah gelisah dan seakan-akan tak sabar lagi menunggu waktu keberangkatanya. Pada suatu pagi yang cerah, suaminya (ayah Zaid) mempersiapkan kendaraan dan perbekalan untuk keperluan itu. Kelihatan Su’da sedang menggendong anaknya yang masih kecil, Zaid bin Haritsah. </p>
<p>Di waktu ia akan menitipkan isteri dan anaknya kepada rombongan kafilah yang akan berangkat bersama dengan isterinya, menyelinaplah rasa sedih di hatinya disertai perasaan aneh: menyuruh agar ia turut serta mendampingi anak dan isterinya. Karena ia harus menyelesaikan tugas dan pekerjaannya, perasaan gundah itu hilang jua. Kafilah pun berangkat meninggalkan kampung itu; Haritsah pun mengucapkan selamat jalan kepada isteri dan anaknya ….</p>
<p>Haritsah melepas kepergian isteri dan anaknya dengan air mata berlinang. Isteri dan anaknya pun sangat sedih dalam peristiwa perpisahan itu.</p>
<p>Setelah mereka berdua sampai di tempat tujuan, beberapa waktu kemudian terjadilah musibah yang menimpa penduduk kampung Bani Maan. Kampung itu habis porak-poranda diserang oleh gerombolan perampok Badui. Semua barang berharga milik penduduk kampung itu dikuras habis; penduduknya ditawan dan digiring oleh para perampok itu sebagai tawanan, termasuk si kecil Zaid bin Haritsah.</p>
<p>Dengan perasaan duka, pulanglah Su’da untuk menyusul suaminya seorang diri. Demi Haritsah mengetahui kejadian itu, ia pun jatuh tak sadarkan diri. Dengan tongkat di pundaknya segera ia berjalan mencari anak kesayangannya. Padang pasir dijelajahinya, kampung demi kampung diselidikinya. Sesekali ia bertanya kepada kabilah yang lewat; kalau-kalau ada yang tahu keberadaan anaknya tersayang, Zaid. Usahanya itu pun belum menunjukan hasil. Sambil menghibur diri, ia bersyair:</p>
<blockquote><p>“Kutangisi Zaid ku tak tahu apa yang telah terjadi<br />
Dapatkah ia diharapkan hidup, atau telah mati?<br />
Demi Allah ku tak tahu, sungguh aku hanya bertanya<br />
Apakah di lebah ia celaka, atau dibukit ia binasa?<br />
Di kala matahari terbit ku terkenang padanya<br />
Bila surya terbenam ingatan kembali menjelma<br />
Tiupan angin yang membangkitkan kerinduan pula<br />
Wahai, alangkah lamanya duka nestapa, diriku jadi merana.”</p></blockquote>
<p>Ketika kabilah perampok yang menyerang desa Bani Maan berhasil dengan rampokannya, mereka pergi ke pasar Ukaz menjual barang-barang dan tawanan hasil rampokannya. Si kecil Zaid dibeli oleh Hakim bin Hizam. Pada kemudian harinya ia memberikannya kepada Siti Khadijah. Pada waktu itu, Khadijah ra telah menjadi isteri Muhammad bin Abdullah (sebelum diangkat menjadi rasul oleh Allah SWT).</p>
<p>Selanjutnya Khadijah memberikan khadamnya Zaid sebagai pelayan bagi Muhammad. Beliau pun menerimanya dengan senang hati, lalu segera memerdekannya. Dengan pribadinya yang besar dan jiwanya yang mulia, Zaid diasuh dan dididiknya dengan segala kelembutan dan kasih sayang seperti terhadap anaknya sendiri.</p>
<blockquote><p>Pada salah satu musim haji, sekelompok orang dari desa tempat Haritsah tinggal dan berjumpa dengan Zaid di Mekah. Mereka menyampaikan kerinduan ayah bunda Zaid. Zaid balik menyampaikan pesan salam rindu dan hormatnya kepada kedua orang tuanya. Kepada para hujaj atau jamaah haji itu, Zaid berkata, “Tolong beritakan kepada kedua orang tuaku bahwa aku di sini tinggal bersama seorang ayah yang paling mulia.”</p></blockquote>
<p>Begitu ayah Zaid mengetahui di mana anaknya berada, segera ia mengatur perjalanan ke Mekah bersama seorang saudaranya. Sesampainya di Mekah, ia menanyakan di mana rumah Muhammad. Setelah bertemu dengan Muhammad, Harisah berkata, “Wahai Ibnu Abdul Muththalib…!, wahai putera dari pemimpin kaumnya! Anda termasuk penduduk tanah Suci yang biasa membebaskan orang tertindas, yang suka memberi makanan para tawanan. Kami datang ini kepada anda hendak meminta anak kami. Sudilah kiranya menyerahkan anak itu kepada kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya?”</p>
<p>Muhammad merasakan benar bahwa hati Zaid telah lekat dan terpaut kepadanya, tetapi dalam pada itu ia merasakan pula kerinduan dan kepedihan seorang ayah terhadap anaknya. </p>
<blockquote><p>Maka kata Muhammad kepada Haritsah, ”Panggilah Zaid itu ke sini, suruh ia memilih sendiri. Seandainya dia memilih Anda, maka akan saya kembalikan kepada Anda tanpa tebusan. Sebaliknya, jika ia memilihku, maka demi Allah aku tak hendak menerima tebusan dan tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku!”</p></blockquote>
<p>Mendengar ucapan Muhammad yang demikian, wajah Haritsah berseri-seri kegirangan karena tak disangkanya sama sekali keluar darinya kemurahan seperti itu, lalu ucapnya: “Benar-benar Anda telah menyadarkan kami dan Anda beri pula keinsafan di balik kesadaran itu!”</p>
<p>Kemudian Muhammad menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Setibanya dihadapannya, beliau langsung bertanya, “Tahukah Engkau siapa orang-orang ini?” “Ya, tahu,” jawab Zaid.” Yang ini ayahku, sedangkan yang seorang lagi adalah pamanku.”</p>
<p>Kemudian Muhammad mengulangi lagi apa yang telah dikatakannya kepada ayahnya tadi, yaitu tentang kebebasan memilih orang yang disenanginya.</p>
<p>Tanpa berpikir panjang, Zaid menjawab, “Tak ada orang pilihanku, kecuali Anda (Muhammad)! Andalah ayah, dan Andalah pamanku!”</p>
<p>Mendengar itu, kedua mata Muhammad basah dengan air mata karena rasa syukur dan haru. Lalu dipegangnya tangan Zaid, dibawanya ke pekarangan Ka’bah, tempat orang-orang Quraisy sedang banyak berkumpul, lalu serunya:</p>
<blockquote><p>“Saksikan oleh kalian semua bahwa mulai saat ini Zaid adalah anakku… yang akan menjadi ahli warisku dan aku jadi ahli warisnya.”</p></blockquote>
<p>Mendengar ucapan itu hati Harits seakan-akan berada diawang-awang karena suka citanya, sebab ia bukan saja telah menemukan kembali anaknya bebas merdeka tanpa tebusan, malahan sekarang diangkat anak pula oleh seseorang yang termulia dari suku Quraisy yang terkenal dengan sebutan “Ash-Shadiqul Amin”(orang lurus terpercaya), keturunan Bani Hasyim, tumpuan penduduk kota Mekah seluruhnya.</p>
<p>Meskipun telah sekian lama merindukan anaknya kembali, Zaid dan pamannya pulang dengan hati yang tenteram karena anaknya berada dalam naungan keluarga yang termulia, keluarga Muhammad.</p>
<p>Muhammad telah mengangkat Zaid sebagai anak angkat, maka menjadi terkenallah ia diseluruh Mekah dengan nama “Zaid bin Muhammad.”</p>
<p>Pada suatu hari yang cerah, seruan wahyu yang pertama datang kepada Muhammad, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan! Ia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang telah mengajari manusia dengan kalam (pena). Mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.” (al-Alaq: 1-5).</p>
<p>Kemudian datang susul-menyusul wahyu berkikutnya kepadanya, “Wahai orang yang berselimut! bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah.” (al-Muddatsir: 1-3)</p>
<p>“Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (genggaman) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (al-Maidah: 67)</p>
<p>Tidak tak lama setelah Muhammad memikul tugas kerasulannya dengan turunnya wahyu tersebut, jadilah Zaid sebagai orang yang kedua masuk Islam, bahkan ada yang mengatakan sebagai orang yang pertama.</p>
<p>Rasul sangat sayang sekali kepada Zaid. Kesayangan Nabi itu memang pantas dan wajar disebabkan kejujurannya, kebesaran jiwanya, kelembutan dan kesucian hatinya, sertai terpelihara lidah dan tangannya.</p>
<p>Semua itu menyebabkan Zaid punya kedudukan tersendiri sebagai “Zaid Kesayangan” sebagaimana yang telah dipanggilkan sahabat-sahabat rasul kepadanya. Berkatalah Aisyah ra, “Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat menjadi pemimpinnya. Seandainya ia masih hidup sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkatnya sebagai khalifah.”</p>
<p>Suatu ketika Rasulullah saw berdiri melepas bala tentara Islam yang akan berangkat menuju medan perang Muktah melawan orang-orang Romawi. Beliau mengumumkan tiga nama yang akan memegang pimpinan dalam pasukan secara berurutan, sabdanya:</p>
<p>“Kalian semua berada di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah! Seandainya ia tewas, pimpinan akan diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib; dan seandainya Jafar tewas pula, maka komando hendaklah dipegang oleh Abdullah ibnul Rawahah.”</p>
<p>Sampai ke tingkat inilah kedudukan Zaid di sisi Rasulullah saw. Siapakah sebenarnya Zaid ini?</p>
<p>Ia seorang anak yang pernah ditawan, diperjualbelikan, lalu dibebaskan Rasul dan dimerdekakannya. Ia seorang laki-laki yang berperawakan pendek, berkulit coklat kemerahan, hidung pesek, tapi ia adalah manusia yang berhati mantap dan teguh serta berjiwa merdeka. Karena itulah, ia mendapt tempat yang tinggi di dalam Islam dan di hati Rasululah saw.</p>
<p>Rasulullah saw menikahkan Zaid dengan Zainab. Sayangnya, pernikahannya tidak berumur panjang dan berakhir dengan perceraian. Kesediaan Zainab menikah dengan Zaid hanya karena rasa enggan menolak anjuran dan syafaat Rasulullah, dan karena tidak sampai hati menolak Zaid sendiri. Maka Rasulullah saw mengambil tanggung jawab terhadap rumah tangga Zaid ini yang telah pecah itu. Rasulullah merangkul Zainab dengan menikahinya sebagai isterinya, kemudian mencarikan Ummu Kultsum binti ‘Uqbah yang kemudian dinikahkan dengan Zaid.</p>
<p>Karena peristiwa tersebut, terjadilah kegemparan di kalangan masyarakat kota madinah. Mereka melemparkan kecaman, kenapa Rasul menikahi bekas isteri anak angkatnya.</p>
<p>Tantangan dan kecaman ini kemudian dijawab oleh Allah SWT dengan wahyu-Nya yang membedakan antara anak angkat dan anak kandung atau anak adaptasi dengan anak sebenarnya, sekaligus membatalkan adat kebiasaan yang berlaku selama itu. Pernyataan wahyu itu berbunyi sebagai berikut:</p>
<p>“Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki (yang ada bersama) kalian. Tetapi, ia adalah Rasul Allah dan Nabi penutup. (al-Ahzab: 40)</p>
<p>Dengan turunnya wahyu tersebut, Zaid kemudian dipanggil dengan sebutan “Zaid bin Haritsah.”</p>
<p>Dan sekarang….<br />
Tahukah anda bahwa kekuatan Islam yang pernah maju ke medan perang “Al-Jumuh” komandannya adalah Zaid bin Haritsah? Kekuatan-kekuatan laskar Islam yang begerak maju ke medan pertempuran at-Tharaf, al-’Ish, al-Hismi dan lainnya, panglima pasukannya adalah Zaid bin Haritsah juga? Begitulah, sebagaimana yang pernah kita dengar dari Aisyah ra sebelumnya, “Setiap Nabi mengirimkan Zaid dalam suatu pasukan, pasti ia yang diangkat menjadi pemimpinnya.”</p>
<p>Suatu ketika datanglah perang Muktah yang terkenal itu. Adapun orang-orang Romawi dengan kerajaan mereka yang telah tua bangka secara diam-diam mulai cemas dan takut terhadap kekuatan Islam, bahkan mereka melihat adanya bahaya besar yang dapat mengancam keselamatan mereka. Terutama di daerah jajahan mereka, Syam (Syiria) yang berbatasan dengan negara dari agama baru ini, yang senantiasa bergerak maju dalam membebaskan negara-negara tetangganya dari cengkeraman penjajah. Bertolak dari pikiran demikian, mereka hendak mengambil Syria sebagai batu loncatan untuk menaklukan jazirah Arab dan negeri-negeri Islam.</p>
<p>Gerak-gerik orang-orang Romawi dan tuan terakhir mereka yang hendak menumpas kakuatan Islam dapat tercium oleh Nabi. Sebagai seorang yang ahli strategi, Nabi memutuskan untuk mendahului mereka dengan serangan mendadak sebelum diserang di daerahnya sendiri.</p>
<p>Demikianlah, pada bulan Jumadil Ula, tahun yang kedelapan Hijriah, tentara Islam maju bergerak ke Balqa’ di wilayah Syam. Demi mereka sampai di perbatasannya, mereka dihadapi tentara Romawi yang dipimpin oleh Heraklius, dengan mengerahkan juga kabilah-kabilah atau suku-suku badui yang diam di perbatasan. Tentara Romawi mengambil tempat di suatu daerah yang bernama Masyarif, sedangkan laskar Islam mengambil posisi di dekat negeri kecil yang bernama Muktah yang kemudian dijadikan nama pertempuran ini.</p>
<p>Rasulullah saw mengetahui benar arti penting dan bahayannya peperangan ini. Oleh sebab itu, beliau sengaja memilih tiga orang panglima perang yang di waktu malam bertakarub mendekatkan mendekatkan diri kepada Ilahi, sedangkan di siang hari sebagai pendekar pejuang pembela agama. Tiga orang pahlawan itu adalah mereka yang siap menggadaikan jiwa raga mereka kepada Allah, yang tiada berkeinginan kembali, yang bercita-cita mati syahid dalam perjuangan menegakkan kalimat Allah, yang mengharap semata-mata ridha Illahi dengan menemui wajah-Nya Yang Maha Mulia kelak.</p>
<p>Mereka bertiga secara berurutan memimpin tentara itu ialah: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah, moga-moga Allah rela kepada mereka dan menjadikan mereka rela kepada-Nya, serta Allah merelakan pula seluruh sahabat lainya.</p>
<p>Rasul berdiri di hadapan pasukan tentara Islam yang hendak berangkat itu. Rasul melepas mereka dengan amanat, “Kalian harus tunduk kepada Zaid bin Harits sebagai pimpinan, seandainya ia gugur pimpinan dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib, dan senadainya Ja’far gugur pula, maka tempatnya diisi oleh Abdullah bin Rawabah.”</p>
<p>Ja’far bin Abi Thalib dijadikan orang yang kedua setelah Zaid, meskipun keberanian dan ketangkasanya serta keturunan dan kebangsawanannya tidak diragukan lagi, bahkan orang yang paling dekat kepada Rasul dari segi hubungan keluarga, sebagai anak pamannya sendiri.</p>
<p>Beginilah contoh dan teladan yang diperlihatkan Rasul dalam mengukuhkan suatu prinsip. Islam sebagai suatu agama baru mengikis habis segala hubungan lapuk yang didasarkan pada darah dan turunan atau yang ditegakkan atas yang batil dan rasialisme. Islam mengganti sistem-sistem yang tidak baik itu atas bimbingan dan hidayah Ilahi yang berpokok kepada hakikat kemanusiaan.</p>
<p>Ketika Rasulullah memilih mereka bertiga untuk menjadi pemimpin pasukan secara berurutan, seolah-olah beliau telah telah mengetahui secara ghaib tentang pertempuarn yang akan berlangsung. Beliau mengatur dan menetapkan susunan panglimanya dengan tertib berurutan: Zaid, lalu lalu Ja’far, kemudian Ibnu Abi Rawahah, ternyata ketika mereka menemui ajalnya, pulang ke rahmat Allah sebagai syuhada, sesuai dengan urutan itu pula.</p>
<p>Demi Kaum Muslimin melihat tentara romawi yang jumlahnya menurut taksiran tidak kurang dari 200.000 orang, suatu jumlah yang tak mereka duka sama sekali, mereka terkejut. Tetapi kapankah pertarungan yang didasari iman mempertimbangkan jumlah bilangan?</p>
<p>Ketika itulah, disana, merek amaju terus tanpa gentar, tak perduli dan tak menghiraukan besarnya musuh. Didepan sekali kelihatan dengan tangkasnya mengendarai kuda, panglima mereka Zaid, sambil memegang teguh panji-panji Rasulullah SAW. maju menyerbu laksana topan, dicelah-celah desingan anak panah, ujung tombak dan pedang musuh. Mereka bukan hanya semata-mata mencari kemenangan, tetapi lebih dari itu mereka mencari apa yang telah dijanjikan Allah, yakni tempat pembaringan disisi Allah, karena sesuai dengan firman-Nya:</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang Mukmin dengan surga sebagai imbalannya.” (QS. at-Taubah: 111)</p></blockquote>
<p>Zaid tak sempat melihat pasir Balqa’, bahkan pula keadaan bala tentara Romawi, tetapi ia langsung melihat keindahan taman-taman surga dengan dedaunannya yang hijau berombak laksana kibaran bendera, yang memberitakan kepadanya, bahwa itulah hari istirahat dan kemenanggannya.</p>
<p>Ia telah terjun ke medan laga dengan menerpa, menbas, membunuh atau dibunuh. Tetapi ia tidaklah memisahkan kepala musuh-musuhnya, ia hanyala membuka pintu dan menembus dinding, yang menghalanginya kekampung kedamaian, surga yang kekal disisi Allah.</p>
<p>Ia telah menemui tempat peristirahatannya yang akhir. Rohnya yang melayang dalam perjalannya ke surga tersenyum bangga melihat jasadnya yang tidak berbungkus sutera dewangga, hanya berbalut darah suci yang mengalir di jalan Allah.</p>
<p>Senyumnya semakin melebar dengan tenang penuh nikmat, karena melihat panglima yang kedua Ja’far melesit maju ke depan laksana anak panah lepas dari busurnya. untuk menyambar panji-panji yang akan dipanggulnya sebelum jatuh ketanah.~~</p>
<p>http://risalahrasul.wordpress.com/2008/05/29/zaid-bin-haritsah/</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab "><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>June 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab ">Zaynab </a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas"><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>October 11, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas">Bab 1. Ikhlas</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/ali-bin-abi-thalib/" title="Ali "><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>April 12, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/ali-bin-abi-thalib/" title="Ali ">Ali </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah "><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah ">Hamzah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi"><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi">Paman Dan Bibi Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/palestina-masuk-unesco-marah-besar-ancam-hentikan-donasi/" title="Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi"><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>October 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/palestina-masuk-unesco-marah-besar-ancam-hentikan-donasi/" title="Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi">Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi</a> (3)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/kewafatan-rasulullah/" title="Wafatnya Rasulullah"><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>April 17, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/kewafatan-rasulullah/" title="Wafatnya Rasulullah">Wafatnya Rasulullah</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/10-alasan-kita-berislam/" title="10 Alasan Kita Ber&#8217;Islam&#8217;"><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>December 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/10-alasan-kita-berislam/" title="10 Alasan Kita Ber&#8217;Islam&#8217;">10 Alasan Kita Ber&#8217;Islam&#8217;</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fatimah</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/06/fatimah-binti-muhammad/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/06/fatimah-binti-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 07:14:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Putra Putri Nabi]]></category>
		<category><![CDATA["Al-Istii'aab"]]></category>
		<category><![CDATA[Abil Ash bin Rabi']]></category>
		<category><![CDATA[Abil Qasim]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Dawud]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Hurairah r.a.]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[ahli bait]]></category>
		<category><![CDATA[Aisyah ra]]></category>
		<category><![CDATA[akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Al Batuul]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Hasan]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Husein]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Asma' binti Umais]]></category>
		<category><![CDATA[Az Zahra]]></category>
		<category><![CDATA[Az-Zubair bin Bukar]]></category>
		<category><![CDATA[Fatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatimah Az Zahra]]></category>
		<category><![CDATA[Fatimah binti Muhammad SAW]]></category>
		<category><![CDATA[hasab]]></category>
		<category><![CDATA[HR. Syaikha]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Majah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnul Abdil Barr]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnul Jauzi]]></category>
		<category><![CDATA[ibu dari ayahnya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Khadijah]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad SAW]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[nasab]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni Shuffah]]></category>
		<category><![CDATA[putri bungsu]]></category>
		<category><![CDATA[Qutaibah bin Said]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah Saw]]></category>
		<category><![CDATA[renovasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ruqqayah]]></category>
		<category><![CDATA[Siyar A'laamin Nubala']]></category>
		<category><![CDATA[surga Firdaus]]></category>
		<category><![CDATA[Tirmidzi]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Kultsum]]></category>
		<category><![CDATA[Utsman bin Affan]]></category>
		<category><![CDATA[Zaynab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=6444</guid>
		<description><![CDATA[Setelelah kelahiran Ummu Kultsum, Khadijah sekali lagi hamil. Ini adalah kehamilan ke 6 bagi Khadijah selama beristrikan Muhammad. Saat itu usia Khadijah sudah memasuki kepala 5. Namun kebugaran fisiknya memang cukup terjaga, mengingat Khadijah adalah pebisnis tangguh yang sering melakukan perjalanan dagang ke negeri yang jauh. Itu pula sebabnya meski telah mempersembahkan 6 anak kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/images11.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/images11.jpg" alt="images11 Fatimah " title="images11" width="167" height="167" class="alignnone size-full wp-image-6446" /></a></p>
<p>Setelelah kelahiran Ummu Kultsum, Khadijah sekali lagi hamil.  Ini adalah kehamilan ke 6 bagi Khadijah selama beristrikan Muhammad.  Saat itu usia Khadijah sudah memasuki kepala 5.  Namun kebugaran fisiknya memang cukup terjaga, mengingat Khadijah adalah pebisnis tangguh yang sering melakukan perjalanan dagang ke negeri yang jauh.  Itu pula sebabnya meski telah mempersembahkan 6 anak kepada suami tercinta, Muhammad, Khadijah masih tetap segar dan bersemangat.  Ia juga tetap mempersiapkan diri menghadapi kelahiran anak ke 6 nya ini.</p>
<p>Fatimah lahir saat Kabah sedang di renovasi.  Dan ia di juluki  &#8220;ibu dari ayahnya&#8221;  karena sejak Khadijah meninggal, praktis Fatimah lah yang mengurusi sang ayah, Nabi Muhammad.  Apalagi sejak ketiga kakaknya, Zaynab, Ruqqayah dan Ummu Kultsum meninggal. Seluruh kebutuhan dan keperluan sang ayahnda, dipenuhi oleh Fatimah.   Dia adalah puteri yang mulia dari dua pihak, yaitu puteri pemimpin para makhluq, Rasulullah SAW, Abil Qasim, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim.</p>
<p>Dia juga digelari <strong>Al Batuul,</strong> yaitu yang memusatkan perhatiannya pada  ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan ilmu, akhlaq, adab, hasab dan nasab.</p>
<p>        Fatimah binti Muhammad lebih muda dari Zainab, isteri Abil Ash bin Rabi&#8217; dan Ruqayyah, isteri Utsman bin Affan. Juga dia lebih muda dari Ummu Kultsum. Dia adalah anak yang sungguh dicintai Nabi SAW sehingga beliau bersabda :&#8221;Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkan aku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku.&#8221; [Ibnul Abdil Barr dalam "Al-Istii'aab"]</p>
<p>        Sesungguhnya dia adalah pemimpin wanita dunia dan penghuni syurga yang paling utama, puteri kekasih Robbil&#8217;aalamiin, dan ibu dari Al-Hasan dan Al-Husein. Az-Zubair bin Bukar berkata :&#8221;Keturunan Zainab<br />
telah tiada dan telah sah riwayat, bahwa Rasulullah SAW menyelimuti Fatimah dan suaminya serta kedua puteranya dengan pakaian seraya berkata :</p>
<p>&#8220;Ya, Allah, mereka ini adalah ahli bait ku. Maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih bersihnya.&#8221;<br />
["Siyar A'laamin Nubala', juz 2, halaman 88]</p>
<p>        Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :&#8221;Datang Fatimah kepada Nabi SAW meminta pelayan kepadanya. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya : &#8220;Ucapkanlah :</p>
<p>&#8220;Wahai Allah, Tuhan pemilik bumi dan Arsy yang agung.<br />
Wahai, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu yang menurunkan Taurat, Injil dan Furqan, yang membelah biji dan benih.<br />
Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai nyawanya.<br />
Engkaulah awal dan tiada sesuatu sebelumMu.<br />
Engkaulah yang akhir dan tiada sesuatu di atasMu.<br />
Engkaulah yang batin dan tiada sesuatu di bawahMu.<br />
Lunaskanlah utangku dan cukupkan aku dari kekurangan.&#8221;<br />
(HR. Tirmidzi)</p>
<p>        Inilah Fatimah binti Muhammad SAW yang melayani diri sendiri dan menanggung berbagai beban rumahnya. Thabrani menceritakan, bahwa ketika kaum Musyrikin telah meninggalkan medan perang Uhud, wanita wanita sahabah keluar untuk memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin.<br />
Di antara mereka yang keluar terdapat Fatimah. Ketika bertemu Nabi SAW, Fatimah memeluk dan mencuci luka lukanydengan air, sehingga darah semakin banyak yangk keluar. Tatkala Fatimah melihat hal itu, dia<br />
mengambil sepotong tikar, lalu membakar dan membubuhkannya pada luka itu sehingga melekat dan darahnya berhenti keluar.&#8221; (HR. Syaikha dan Tirmidzi) </p>
<p>Dalam kancah pertarungan, tampaklah peranan puteri Muslim supaya menjadi teladan yang baik bagi pemudi<br />
Muslim masa kini.</p>
<p><strong>Pemimpin wanita penghuni Syurga Fatimah Az-Zahra&#8217;, puteri Nabi SAW</strong></p>
<p>Ia berada di tengah tengah pertempuran tidak berada dalam sebuah panggung yang besar, tetapi bekerja di antara tikaman tikaman tombak dan pukulan pukulan pedang serta hujan anak panah yang menimpa kaum Muslimin untuk menyampaikan makanan, obat dan air bagi para prajurit. Inilah gambaran lain dari  sebaik-baik makhluk yang kami persembahkan kepada para pengantin masa kini yang membebani para suami dengan tugas yang tidak dapat dipenuhi. </p>
<p>        Ali bin Abi Thalib r.a. berkata :&#8221;Aku menikahi Fatimah, sementara kami tidak mempunyai alas tidur selain kulit domba untuk kami tiduri di waktu  malam dan kami letakkan di atas unta untuk mengambil air di siang hari.<br />
Kami tidak mempunyai pembantu selain unta itu.&#8221; Ketika Rasulullah SAW menikahkannya (Fatimah), beliau mengirimkannya (unta itu) bersama satu lembar kain dan bantal kulit berisi ijuk dan dua alat penggiling gandum, sebuah timba dan dua kendi. Fatimah menggunakan alat penggiling gandum itu hingga melecetkan tangannya dan memikul qirbah (tempat air dari kulit) berisi air hingga berbekas pada dadanya. Dia menyapu rumah hingga berdebu bajunya dan menyalakan api di bawah panci hingga mengotorinya juga. Inilah<br />
dia, Az-Zahra&#8217;, ibu kedua cucu Rasulullah SAW :Al-Hasan dan Al-Husein.</p>
<p>Fatimah selalu berada di samping Nabi, maka tidaklah mengherankan bila dia meninggalkan bekas yang paling indah di dalam hatinya yang penyayang. Dunia selalu mengingat Fatimah, &#8220;ibu ayahnya, Muhammad&#8221;, Al Batuul (yang mencurahkan perhatiannya pada ibadah), Az-Zahra&#8217; (yang cemerlang), Ath-Thahirah (yang suci), yang taat beribadah dan menjauhi keduniaan. Setiap merasa lapar, dia selalu sujud, dan setiap merasa payah, dia selalu berdzikir. Imam Muslim menceritakan kepada kita tentang keutamaan keutamaannya dan meriwayatkan dari Aisyah&#8217; r.a. dia berkata :</p>
<p>        &#8220;Pernah isteri-isteri Nabi SAW berkumpul di tempat Nabi SAW. Lalu datang Fatimah r.a. sambil berjalan, sedang jalannya mirip dengan jalan Rasulullah SAW. Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau menyambutnya seraya<br />
berkata :&#8221;Selamat datang, puteriku.&#8221; Kemudian beliau mendudukkannya di  sebelah kanan atau kirinya. Lalu dia berbisik kepadanya. Maka Fatimah  menangis dengan suara keras. Ketika melihat kesedihannya, Nabi SAW berbisik kepadanya untuk kedua kalinya, maka Fatimah tersenyum. </p>
<p>Setelah itu aku berkata kepada Fatimah :Rasulullah SAW telah berbisik kepadamu secara khusus di antara isteri-isterinya, kemudian engkau menangis!&#8221; Ketika Nabi SAW pergi, aku bertanya kepadanya :&#8221;Apa yang dikatakan Rasulullah SAW  kepadamu ?&#8221; Fatimah menjawab :&#8221;Aku tidak akan menyiarkan rahasia Rasul<br />
Allah SAW.&#8221; Aisyah berkata :&#8221;Ketika Rasulullah SAW wafat, aku berkata kepadanya :&#8221;Aku mohon kepadamu demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah kepadaku apa  yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu itu ?&#8221; </p>
<p>Fatimah pun menjawab :&#8221;Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik pertama kali kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasanya memeriksa bacaannya terhadap Al Qur&#8217;an sekali dalam setahun, dan sekarang dia memerika bacaannya dua kali. Maka, kulihat ajalku sudah dekat. Takutlah kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang mendahuluimu.&#8221; </p>
<p>Fatimah berkata :&#8221;Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau lihat itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku, dan berkata :&#8221;Wahai, Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin<br />
wanita-wanita kaum Mu&#8217;min  atau ummat ini ?&#8221; </p>
<p>Fatimah berkata :&#8221;Maka aku pun tertawa seperti yang engkau lihat.&#8221;</p>
<p>Inilah dia, Fatimah Az-Zahra&#8217;. Dia hidup dalam kesulitan, tetapi mulia dan terhormat. Dia telah menggiling gandum dengan alat penggiling hingga berbekas pada tangannya. Dia mengangkut air dengan qirbah hingga<br />
berbekas pada dadanya. Dan dia menyapu rumahnya hingg berdebu bajunya.  Ali r.a. telah membantunya dengan melakukan pekerjaan di luar. Dia berkata kepada ibunya, Fatimah binti Asad bin Hasyim :&#8221;Bantulah pekerjaan puteri Rasulullah SAW di luar dan mengambil air, sedangkan dia akan mencoba bekerja di dalam rumah :yaitu membuat adonan tepung, membuat roti dan menggiling gandum.&#8221;</p>
<p>        Tatkala suaminya, Ali, mengetahui banyak hamba sahaya telah  datang kepada Nabi SAW, Ali berkata kepada Fatimah, &#8220;Alangkah baiknya bila engkau pergi kepada ayahmu dan meminta pelayan darinya.&#8221; </p>
<p>Kemudian Fatimah datang kepada Nabi SAW. Maka beliau bertanya kepadanya :&#8221;Apa sebabnya engkau datang, wahai anakku ?&#8221; Fatimah menjawab :&#8221;Aku datang untuk memberi salam kepadamu.&#8221; Fatimah merasa malu untuk meminta kepadanya, lalu pulang. Keesokan harinya, Nabi SAW datang kepadanya, lalu bertanya :<br />
&#8220;Apakah keperluanmu ?&#8221; Fatimah diam. </p>
<p>        Ali r.a. lalu berkata :&#8221;Aku akan menceritakannya kepada Anda, wahai Rasululllah. Fatimah menggiling gandum dengan alat penggiling  hingga melecetkan tangannya dan mengangkut qirbah berisi air hingga<br />
berbekas di dadanya. Ketika hamba sahaya datang kepada Anda, aku menyuruhnya agar menemui dan meminta pelayan dari Anda, yang bisa membantunya guna meringankan bebannya.&#8221;</p>
<p>        Kemudian Nabi SAW bersabda :&#8221;Demi Allah, aku tidak akan memberikan pelayan kepada kamu berdua, sementara aku biarkan perut penghuni Shuffah merasakan kelaparan. Aku tidak punya uang untuk nafkah mereka, tetapi aku jual hamba sahaya itu dan uangnya aku gunakan untuk nafkah mereka.&#8221;</p>
<p>        Maka kedua orang itu pulang. Kemudian Nabi SAW datang kepada mereka ketika keduanya telah memasuki selimutnya. Apabila keduanya menutupi kepala, tampak kaki-kaki mereka, dan apabila menutupi kaki, tampak kepala-kepala mereka. Kemudian mereka berdiri. Nabi SAW bersabda :&#8221;Tetaplah di tempat<br />
tidur kalian. Maukah kuberitahukan kepada kalian yang lebih baik daripada apa yang kalian minta dariku ?&#8221; Keduanya menjawab :&#8221;Iya.&#8221;<br />
Nabi SAW bersabda: &#8220;Kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, yaitu hendaklah kalian mengucapkan : Subhanallah setiap selesai shalat 10 kali, Alhamdulillaah 10 kali  dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur, ucapkan Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan takbir (Allahu akbar) 33 kali.&#8221;</p>
<p>        Dalam mendidik kedua anaknya, Fatimah memberi contoh : Adalah Fatimah menimang nimang anaknya, Al-Husein seraya melagukan :&#8221;Anakku ini mirip Nabi, tidak mirip dengan Ali.&#8221; </p>
<p>        Dia memberikan contoh kepada kita saat ayahandanya wafat. Ketika ayahnya menjelang wafat dan sakitnya bertambah berat, Fatimah berkata : &#8220;Aduh, susahnya Ayah !&#8221; Nabi SAW menjawab :&#8221;Tiada kesusahan atas Ayahanda sesudah hari ini.&#8221; Tatkala ayahandanya wafat, Fatimah berkata :&#8221;Wahai, Ayah, dia telah memenuhi panggilang Tuhannya. Wahai, Ayah, di surga Firdaus tempat tinggalnya. Wahai, Ayah, kepada Jibril kami sampaikan beritanya.&#8221;</p>
<p>        Fatimah telah meriwayatkan 18 hadits dari Nabi SAW. Di dalam  Shahihain diriwayatkan satu hadits darinya yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim dalam riwayat Aisyah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud.  Ibnul Jauzi berkata :&#8221;Kami tidak mengetahui seorang pun di antara puteri puteri Rasulullah SAW yang lebih banyak meriwayatkan darinya selain Fatimah.&#8221;</p>
<p>        Fatimah pernah mengeluh kepada Asma&#8217; binti Umais tentang tubuh yang kurus. Dia berkata :&#8221;Dapatkah engkau menutupi aku dengan sesuatu ?&#8221;<br />
Asma&#8217; menjawab :&#8221;Aku melihat orang Habasyah membuat usungan untuk wanita  dan mengikatkan keranda pada kaki-kaki usungan.&#8221; Maka Fatimah menyuruh membuatkan keranda untuknya sebelum dia wafat. Fatimah melihat keranda itu, maka dia berkata :&#8221;Kalian telah menutupi aku, semoga Allah menutupi aurat kalian.&#8221; [Imam Adz-Dzhabi telah meriwayatkan dalam "Siyar A'laamin Nubala'. Semacam itu juga dari Qutaibah bin Said ...dari Ummi Ja'far]</p>
<p>        Ibnu Abdil Barr berkata :&#8221;Fatimah adalah orang pertama yang  dimasukkan ke keranda pada masa Islam.&#8221; Dia dimandikan oleh Ali dan Asma&#8217;, sedang Asma&#8217; tidak mengizinkan seorang pun masuk. Ali r.a.<br />
berdiri di kuburnya dan berkata :</p>
<p>        Setiap dua teman bertemu tentu akan berpisah<br />
        dan semua yang di luar kematian<br />
        adalah sedikit kehilangan satu demi satu<br />
        adalah bukti bahwa teman itu<br />
        tidak kekal</p>
<p>        Semoga Allah SWT meridhoinya. Dia telah memenuhi pendengaran, mata dan hati. Dia adalah &#8216;ibu dari ayahnya&#8217;, orang yang paling erat hubungannya dengan Nabi SAW dan paling menyayanginya. Ketika Nabi SAW<br />
terluka dalam Perang Uhud, dia keluar bersama wanita-wanita dari Madinah menyambutnya agar hatinya tenang. Ketika melihat luka-lukanya, Fatimah langsung memeluknya. Dia mengusap darah darinya, kemudian mengambil air dan membasuh mukanya. </p>
<p>        Betapa indah situasi di mana hati Muhammad SAW berdenyut  menunjukkan cinta dan sayang kepada puterinya itu. Seakan akan kulihat Az-Zahra&#8217; a.s. berlinang air mata dan berdenyut hatinya dengan cinta dan kasih sayang. Selanjutnya, inilah dia, Az-Zahra&#8217;, puteri Nabi SAW, puteri sang pemimpin. Dia memberi contoh ketika keluar bersama 14 orang wanita, di antara mereka terdapat Ummu Sulaim binti Milhan dan Aisyah Ummul Mu&#8217;minin r.a. dan mengangkut air dalam sebuah qirbah dan bekal di atas punggungnya untuk memberi<br />
makan kaum Mu&#8217;minin yang sedang berperang menegakkan agama Allah SWT.</p>
<p>Semoga kita semua, kaum Muslimah, bisa meneladani para wanita mulia tersebut. Amiin yaa Robbal&#8217;aalamiin.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bishowab.</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab "><img src="Array" alt=" Fatimah "  title="Fatimah " /></a>June 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab ">Zaynab </a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/silsilah-nabi-2/" title="Silsilah Nabi Muhammad SAW &#038; Kaum Kerabat [2]"><img src="Array" alt=" Fatimah "  title="Fatimah " /></a>June 25, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/silsilah-nabi-2/" title="Silsilah Nabi Muhammad SAW &#038; Kaum Kerabat [2]">Silsilah Nabi Muhammad SAW &#038; Kaum Kerabat [2]</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi"><img src="Array" alt=" Fatimah "  title="Fatimah " /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi">Paman Dan Bibi Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/" title="Ruqayyah "><img src="Array" alt=" Fatimah "  title="Fatimah " /></a>June 15, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/" title="Ruqayyah ">Ruqayyah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/puasa-rasulullah/" title="Hari Yang Dipilih Rasulullah Untuk Berpuasa"><img src="Array" alt=" Fatimah "  title="Fatimah " /></a>May 8, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/puasa-rasulullah/" title="Hari Yang Dipilih Rasulullah Untuk Berpuasa">Hari Yang Dipilih Rasulullah Untuk Berpuasa</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/abu-lahab/" title="Abu Lahab "><img src="Array" alt=" Fatimah "  title="Fatimah " /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/abu-lahab/" title="Abu Lahab ">Abu Lahab </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/suami-harus-lemah-lembut-terhadap-istri/" title="Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri"><img src="Array" alt=" Fatimah "  title="Fatimah " /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/suami-harus-lemah-lembut-terhadap-istri/" title="Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri">Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/etika-makan-dan-minum/" title="Etika duduk ketika Makan dan Minum"><img src="Array" alt=" Fatimah "  title="Fatimah " /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/etika-makan-dan-minum/" title="Etika duduk ketika Makan dan Minum">Etika duduk ketika Makan dan Minum</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/06/fatimah-binti-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ummu Kultsum</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/06/ummu-kultsum-binti-muhammad/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/06/ummu-kultsum-binti-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 02:54:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Putra Putri Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abul Ash]]></category>
		<category><![CDATA[Asma bintu Umais]]></category>
		<category><![CDATA[Asma’ bintu ‘Umais dan Shafiyah bintu ‘Abdil Muththalib r]]></category>
		<category><![CDATA[berhijrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hafshah bintu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma]]></category>
		<category><![CDATA[Khadijah]]></category>
		<category><![CDATA[Madinah]]></category>
		<category><![CDATA[Makkah]]></category>
		<category><![CDATA[mendatangi istrinya]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Badar]]></category>
		<category><![CDATA[Ruqayyah Binti Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Shafiyah bintu ‘Abdil Muththalib r]]></category>
		<category><![CDATA[Surat Al Lahab]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Jamil]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Kultsum]]></category>
		<category><![CDATA[Utsman bin Affan]]></category>
		<category><![CDATA[Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu]]></category>
		<category><![CDATA[Zaynab binti Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[‘Utaibah bin Abi Lahab]]></category>
		<category><![CDATA[‘Utbah bin Abu Lahab bin ‘Abdul Muththalib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=6430</guid>
		<description><![CDATA[Setelah Zaynab dan Ruqayyah, hanya selang satu tahun kemudian, Khadijah hamil kembali. Kehamilan ke tiga ini tentu disambut hangat dan penuh cinta dari Khadijah dan Muhammad. Mereka berharap, bayi ke tiga mereka bisa tumbuh menjadi anak yang berbakti dan selalu berprilaku terpuji. Dan ketika bayi ketiga lahir, suka citalah mereka. Disambutnya bayi yang lagi lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/images3.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/images3.jpg" alt="images3 Ummu Kultsum " title="images3" width="240" height="210" class="alignnone size-full wp-image-6435" /></a><br />
Setelah <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/">Zaynab</a> dan <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/">Ruqayyah</a>, hanya selang satu tahun kemudian, <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/khadijah-binti-khuwailid/">Khadijah</a> hamil kembali.  Kehamilan ke tiga ini tentu disambut hangat dan penuh cinta dari Khadijah dan <a href="http://nabimuhammad.info/category/sejarah/sejarah-hidup-nabi/buku-muhammad-maulana/">Muhammad.</a> Mereka berharap, bayi ke tiga mereka bisa tumbuh menjadi anak yang berbakti dan selalu berprilaku terpuji.</p>
<p>Dan ketika bayi ketiga lahir, suka citalah mereka.  Disambutnya bayi yang lagi lagi adalah bayi perempuan, dengan kegembiraan yang sangat.  Meski lahir kembali anak perempuan, Muhammad tidak berkecil hati sama sakali.  Baginya, laki laki atau perempuan, masing masing memiliki keistimewaan, kelebihan sekaligus kelemahan.  Sehingga Muhammad tidak terlalu memikirkan jenis kelamin anak anaknya.  Sikap Muhammad ini, membuat Khadijah menjadi sangat lega sekali.  Karena bisa dimaklumi, sebagai ibu yang hidup di jaman ketika bayi bayi perempuan dianggap hina dan cacat, bahkan ada yang dibunuh, Muhammad sama sekali tidak merasa rendah diri mendapati bayinya adalah bayi perempuan.  Khadijah sungguh bersyukur Muhammad menerima anak anak mereka dengan kegembiraan dan rasa syukur yang sama besar, baik ketika melahirkan Qasim atau Ummu Kultsum.</p>
<p>Karena jarak yang tidak terlalu jauh, Ummu Kultsum dan kakaknya Ruqayyah bagaikan anak kembar.  Mereka gemar melakukan pekerjaan bersama sama, bermain bersama, hingga tidurpun mereka memilih di atas satu ranjang.</p>
<p>Kedekatan dua bersaudara ini tentu mudah dipahami.  Selisih usia yang cukup dekat [sekitar satu tahun] dan juga sifat dan rupa yang [konon] juga sama, membuat mereka cukup dekat satu sama lain.  Masa kecil mereka lalui bersama.  Dan ketika Zaynab, kakak tertua menikah dengan <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/">Abul Ash</a>, sudah banyak pemuda pemuda Mekah yang ingin meminang Ruqayyah dan Ummu Kultsum.  </p>
<p>Saat itu adalah sebelum datang masa sang ayah diangkat sebagai nabi Allah, Ruqayyah disunting oleh seorang pemuda bernama ‘Utbah, putra Abu Lahab bin ‘Abdul Muththalib, sementara Ummu Kultsum menikah dengan saudara ‘Utbah, ‘Utaibah bin Abi Lahab. Namun, pernikahan itu tak berjalan lama. Berawal dengan diangkatnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi, menyusul kemudian turun Surat Al-Lahab yang berisi cercaan terhadap Abu Lahab, maka Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, menjadi berang. Dia berkata kepada dua putranya, ‘Utbah dan ‘Utaibah yang menyunting putri-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Haram jika kalian berdua tidak menceraikan kedua putri Muhammad!”</p>
<p>Kembalilah dua putri yang mulia ini dalam keteduhan naungan ayah bundanya, sebelum sempat dicampuri suaminya. Bahkan dengan itulah Allah selamatkan mereka berdua dari musuh-musuh-Nya. Ruqayyah dan Ummu Kultsum pun berislam bersama ibunda dan saudari-saudarinya.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ganti yang jauh lebih baik. Ruqayyah bintu Rasulullah radhiallahu ‘anha disunting oleh seorang sahabat mulia, ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu.</p>
<p>Sebagaimana kaum muslimin yang lain, mereka berdua menghadapi gelombang ujian yang sedemikian dahsyat melalui tangan kaum musyrikin Makkah dalam menggenggam keimanan. Hingga akhirnya, pada tahun kelima setelah nubuwah, Allah Subhanahu wa Ta’ala bukakan jalan untuk hijrah ke bumi Habasyah, menuju perlindungan seorang raja yang tidak pernah menzalimi siapa pun yang ada bersamanya. ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu membawa istrinya di atas keledai, meninggalkan Makkah, bersama sepuluh orang sahabat yang lainnya, berjalan kaki menuju pantai. Di sana mereka menyewa sebuah perahu seharga setengah dinar.</p>
<p>Di bumi Habasyah, Ruqayyah radhiallahu ‘anha melahirkan seorang putra yang bernama ‘Abdullah. Akan tetapi, putra ‘Utsman ini tidak berusia panjang. Suatu ketika, ada seekor ayam jantan yang mematuk matanya hingga membengkak wajahnya. Dengan sebab musibah ini, ‘Abdullah meninggal dalam usia enam tahun.</p>
<p>Perjalanan mereka belum berakhir. Saat kaum muslimin meninggalkan negeri Makkah untuk hijrah ke Madinah, mereka berdua pun turut berhijrah ke negeri itu. Begitu pun Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha, berhijrah bersama keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Selang berapa lama mereka tinggal di Madinah, bergema seruan perang Badar. Para sahabat bersiap untuk menghadapi musuh-musuh Allah. Namun bersamaan dengan itu, Ruqayyah bintu Rasulullah radhiallahu ‘anha diserang sakit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu untuk tetap tinggal menemani istrinya.</p>
<p>Ternyata itulah pertemuan mereka yang terakhir. Di antara malam-malam peristiwa Badar, Ruqayyah binti Rasulullah radhiallahu ‘anha kembali ke hadapan Rabbnya karena sakit yang dideritanya. ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu sendiri yang turun untuk meletakkan jasad istrinya di dalam kuburnya.</p>
<p>Saat diratakan tanah pekuburan Ruqayyah radhiallahu ‘anha, terdengar kabar gembira kegemilangan pasukan muslimin melibas kaum musyrikin yang diserukan oleh Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu. Kedukaan itu berlangsung bersama datangnya kemenangan, saat Ruqayyah bintu Muhammad radhiallahu ‘anha pergi untuk selama-lamanya pada tahun kedua setelah hijrah.</p>
<p>Sepeninggal Ruqayyah radhiallahu ‘anha, ‘Umar bin Al Khaththab radhiallahu ‘anhu menawarkan kepada ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu untuk menikah dengan putrinya, Hafshah bintu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma yang kehilangan suaminya di medan Badar. Namun saat itu ‘Utsman dengan halus menolak. Datanglah ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan kekecewaannya.</p>
<p>Ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihkan yang lebih baik dari itu semua. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminang Hafshah radhiallahu ‘anha untuk dirinya, dan menikahkan ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu dengan putrinya, Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha. Tercatat peristiwa ini pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ke-tiga setelah hijrah.</p>
<p>Enam tahun berlalu. Ikatan kasih itu harus kembali terurai. Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha kembali ke hadapan Rabbnya pada tahun kesembilan setelah hijrah, tanpa meninggalkan seorang putra pun bagi suaminya. Jasadnya dimandikan oleh Asma’ bintu ‘Umais dan Shafiyah bintu ‘Abdil Muththalib radhiallahu ‘anhuma. Tampak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalati jenazah putrinya. Setelah itu, beliau duduk di sisi kubur putrinya. Sembari kedua mata beliau berlinang air mata, beliau bertanya, “Adakah seseorang yang tidak mendatangi istrinya semalam?” Abu Thalhah menjawab, “Saya.” Kata beliau, “Turunlah!”</p>
<p>Jasad Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha dibawa turun dalam tanah pekuburannya oleh ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, Usamah bin Zaid serta Abu Thalhah Al-Anshari radhiallahu ‘anhum.</p>
<p>Ruqayyah dan Ummu Kultsum, dua putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah meridhai keduanya….</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/" title="Ruqayyah "><img src="Array" alt=" Ummu Kultsum "  title="Ummu Kultsum " /></a>June 15, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/" title="Ruqayyah ">Ruqayyah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab "><img src="Array" alt=" Ummu Kultsum "  title="Ummu Kultsum " /></a>June 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab ">Zaynab </a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/hafshah-binti-umar/" title="Hafshah "><img src="Array" alt=" Ummu Kultsum "  title="Ummu Kultsum " /></a>June 20, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/hafshah-binti-umar/" title="Hafshah ">Hafshah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi"><img src="Array" alt=" Ummu Kultsum "  title="Ummu Kultsum " /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi">Paman Dan Bibi Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/" title="Zaid Bin Haritsah"><img src="Array" alt=" Ummu Kultsum "  title="Ummu Kultsum " /></a>December 23, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/" title="Zaid Bin Haritsah">Zaid Bin Haritsah</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim"><img src="Array" alt=" Ummu Kultsum "  title="Ummu Kultsum " /></a>October 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim">Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas"><img src="Array" alt=" Ummu Kultsum "  title="Ummu Kultsum " /></a>October 11, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas">Bab 1. Ikhlas</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/fatimah-binti-muhammad/" title="Fatimah "><img src="Array" alt=" Ummu Kultsum "  title="Ummu Kultsum " /></a>June 22, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/fatimah-binti-muhammad/" title="Fatimah ">Fatimah </a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/06/ummu-kultsum-binti-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruqayyah</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 09:12:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Putra Putri Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Abdulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Al Lahab]]></category>
		<category><![CDATA[Badar]]></category>
		<category><![CDATA[bangsawan Quraisy]]></category>
		<category><![CDATA[Habasyah]]></category>
		<category><![CDATA[HIjrah]]></category>
		<category><![CDATA[hijrah pertama]]></category>
		<category><![CDATA[Khadijah]]></category>
		<category><![CDATA[Kunyah]]></category>
		<category><![CDATA[Madinah]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[pinangan]]></category>
		<category><![CDATA[Quraisy]]></category>
		<category><![CDATA[Raja Habasyah]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah Saw]]></category>
		<category><![CDATA[Rsulullah SAW]]></category>
		<category><![CDATA[Ruqayyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ruqayyah Binti Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Umar bin Khatab]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Jamil binti Harb]]></category>
		<category><![CDATA[Utbah bin Abu Lahab]]></category>
		<category><![CDATA[Utsman bin Affan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=6425</guid>
		<description><![CDATA[Ruqayyah adalah putri ke dua Nabi Muhammad dan Khadijah. Beliau lahir beberapa tahun setelah Zaynab. Usia Ruqayyah dan adik ketiga, Ummu Kultsum, konon tidak terpaut jauh, mungkin sekitar 1 atau 2 tahun, itulah sebabnya Ruqayyah dan ummu Kultsum bagaikan dua anak kembar, karena perawakan mereka sama dan dalam keseharian, mereka cukup dekat satu sama lain. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/images6.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/images6.jpg" alt="images6 Ruqayyah " title="images6" width="259" height="194" class="alignnone size-full wp-image-6426" /></a></p>
<p>Ruqayyah adalah putri ke dua Nabi Muhammad dan Khadijah. Beliau lahir beberapa tahun setelah Zaynab.  Usia Ruqayyah dan adik ketiga, Ummu Kultsum, konon tidak terpaut jauh, mungkin sekitar 1 atau 2 tahun, itulah sebabnya Ruqayyah dan ummu Kultsum bagaikan dua anak kembar, karena perawakan mereka sama dan dalam keseharian, mereka cukup dekat satu sama lain.</p>
<p>Ketika memasuki usia cukup, Ruqayyah &#8216;diikat&#8217; dengan Utbah bin Abu Lahab sebelum masa kenabian. Sebenarnya hat itu sangat tidak disukai oleh Khadijah ra.. Karena ia telah mengenal perilaku ibu Utbah, yaitu Ummu Jamil binti Harb, yang terkenal berperangai buruk dan jahat. Ia khawatir putrinya akan memperoleh sifat-sifat buruk dari ibu mertuanya tersebut. Tapi Khadijah tak berdaya untuk menolak, karena Muhammad telah menerima pinangan tsb.  </p>
<p>Dan ketika Rasulullah SAW. telah diangkat menjadi Nabi, maka Abu Lahablah, orang yang paling memusuhi Rasulullah SAW. dan Islam. Abu Lahab telah banyak menghasut orang-orang Mekkah agar memusuhi Nabi SAW. dan para sahabat ra.. Begitu pufa istrinya, Ummu Jamil yang senantiasa berusaha mencelakakan Rasulullah SAW. dan memfitnahnya. </p>
<blockquote><p>Atas perilaku Abu Lahab dan permusuhannya yang keras terhadap Rasulullah SAW., maka Allah telah menurunkan wahyu-Nya,<br />
 &#8216;Maka celakalah kedua tangan Abu Lahab, (Al Lahab: 1) </p></blockquote>
<p>Setelah ayat ini turun, maka Abu lahab berkata kepada kedua orang putranya, Utbah dan Utaibah, &#8216;Kepalaku tidak haal bagi kepalamu selama kamu tidak menceraikan Putri Muhammad.&#8217; Atas perintah bapaknya itu, maka Utbah mericeraikan istrinya tanpa alasan. Setelah bercerai dengan Utbah, kemudian Ruqayyah dinikahkan oleh Rasulullah SAW. dengan Utsman bin Affan ra.</p>
<p>Hati Ruqayyah pun berseri-seri dengan pernikahannya ini. Karena Utsman adalah seorang Muslim yang beriman teguh, berbudi luhur, tampan, kaya raya, dan dari golongan bangsawan Quraisy. Setelah pernikahan itu, penderitaan kaum muslimin bertambah berat, dengan tekanan dan penindasan dari kafirin Quraisy. Ketika semakin hari penderitaan kaum muslimin, termasuk keluarga Rasulutlah SAW. bertambah berat, maka dengan berat hati Nabi SAW. mengijinkan Utsman beserta keluarganya dan beberapa muslim lainnya untuk berhijrah ke negeri Habasyah. Ketika itu Rasulullah SAW. bersabda, &#8216;Pergilah ke negeri Habasyah, karena di sana ada seorang raja yang terkenal baik budinya, tidak suka menganiaya siapapun, Di sana adalah bumi yang melindungi kebenaran. Pergilah kalian ke sana. Sehingga Allah akan membebaskan kalian dari penderitaan ini.&#8217;</p>
<p>Inilah hijrah pertama yang dilakukan kaum muslimin.<br />
Maka berangkatlah satu kafilah untuk berhijrah dengan diketuai oleh Utsman bin Affan ra. Rasulullah SAW. bersabda tentang mereka, Mereka adalah orang yang pertama kali hijrah karena Allah setelah Nabi Luth as.&#8217; Setibanya di Habasyah mereka memperoleh perlakuan yang sangat baik dari Raja Habasyah. Mereka hidup tenang dan tenteram, hingga datanglah berita bahwa keadaan kaum muslimin di Mekkah telah aman. Mendengar berita tersebut, disertai kerinduan kepada kampung halaman, maka Utsman memutuskan bahwa kafilah muslimin yang dipimpimnya itu akan kembali lagi ke kampung halamannya di Mekkah. Mereka pun kembali. Namun apa yang dijumpai adalah berbeda dengan apa yang mereka dengar ketika di Habasyah. </p>
<p>Pada masa itu, mereka mendapati keadaan kaum muslimin yang mendapatkan penderitaan lebih parah lagi. Pembantaian dan penyiksaan atas kaum muslimin semakin meningkat. Sehingga rombongan ini tidak berani memasuki Mekkah pada siang hari. Ketika malam telah menyelimuti kota Mekkah, barulah mereka mengunjungi rumah masingmasing yang dirasa aman. Ruqayyah pun masuk ke rumahnya, melepas rindu terhadap orang tua dan saudara-saudaranya.</p>
<p>Namun ketika matanya beredar ke sekeliling rumah, ia tidak menjumpai satu sosok manusia yang sangat ia rindukan. la bertanya, &#8216;Mana ibu?&#8230;.. mana ibu?&#8230;.&#8217; Saudara-saudaranya terdiam tidak menjawab. Maka Ruqayyah pun sadar, orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu telah tiada. Ruqayyah menangis. Hatinya sangat bergetar, bumi pun rasanya berputar atas kepergiannya. Penderitaan hatinya, ternyata tidak berhenti sampai di situ. Tidak lama berselang, anak lelaki satu-satunya, yaitu Abdullah yang lahir ketika hijrah pertama, telah meninggal dunia pula. Padahal nama Abdullah adalah kunyah bagi Utsman ra., yaitu Abu Abdullah. Abdullah masih berusia dua tahun, ketika seekor ayam jantan mematuk mukanya sehingga mukanya bengkak, maka Allah mencabut nyawanya. Ruqayyah tidak mempunyai anak lagi setelah itu.</p>
<p>Dia hijrah ke Madinah setelah Rasulullah SAWj. hijrah. Ketika Rasulullah SAW. bersiap-siap untuk perang Badar, Ruqayyah jatuh sakit, sehingga Rasulullah SAW. menyuruh Utsman bin Affan agar tetap tinggal di Madinah untuk merawatnya. Namun maut telah menjemput Ruqayyah ketika Rasulullah SAW. masih berada di medan Badar pada bulan Ramadhan. Kemudian berita wafatnya ini dikabarkan oleh Zaid bin Haritsah ke Badar. Dan kemenangan kaum muslimin yang dibawa oleh Rasulullah SAW. beserta pasukannya dari Badar, ketika masuk ke kota Madinah, telah disambut dengan berita penguburan Ruqayyah ra. Pada saat wafatnya Ruqayyah, Rasulullah SAW. berkata, Bergabunglah dengan pendahulu kita, Utsman bin Maz&#8217;un.&#8217;</p>
<p>Para wanita menangisi kepergian Ruqayyah. Sehingga Umar bin Khattab ra. datang kepada para wanita itu dan memukuli mereka dengan cambuknya agar mereka tidak keterlaluan dalam menangisi jenazah Ruqayyah. Akan tetapi Rasulullah SAW. menahan tangan Umar ra. dan berkata, &#8216;Biarkaniah mereka menangis, ya Umar. Tetapi hati-hatilah dengan bisikan syaitan. Yang datang dari hati dan mata adalah dari Allah dan merupakan rahmat. Yang datang dari tangan dan lidah adalah dari syaitan.&#8217;~~</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab "><img src="Array" alt=" Ruqayyah "  title="Ruqayyah " /></a>June 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab ">Zaynab </a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas"><img src="Array" alt=" Ruqayyah "  title="Ruqayyah " /></a>October 11, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas">Bab 1. Ikhlas</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ummu-kultsum-binti-muhammad/" title="Ummu Kultsum "><img src="Array" alt=" Ruqayyah "  title="Ruqayyah " /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ummu-kultsum-binti-muhammad/" title="Ummu Kultsum ">Ummu Kultsum </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/hafshah-binti-umar/" title="Hafshah "><img src="Array" alt=" Ruqayyah "  title="Ruqayyah " /></a>June 20, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/hafshah-binti-umar/" title="Hafshah ">Hafshah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim"><img src="Array" alt=" Ruqayyah "  title="Ruqayyah " /></a>October 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim">Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/fatimah-binti-muhammad/" title="Fatimah "><img src="Array" alt=" Ruqayyah "  title="Ruqayyah " /></a>June 22, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/fatimah-binti-muhammad/" title="Fatimah ">Fatimah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/abdullah-bin-muhammad/" title="Abdullah bin Muhammad"><img src="Array" alt=" Ruqayyah "  title="Ruqayyah " /></a>June 9, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/abdullah-bin-muhammad/" title="Abdullah bin Muhammad">Abdullah bin Muhammad</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/08/istri-istri-nabi/" title="Istri Nabi"><img src="Array" alt=" Ruqayyah "  title="Ruqayyah " /></a>August 20, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/08/istri-istri-nabi/" title="Istri Nabi">Istri Nabi</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zaynab</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 02:10:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Putra Putri Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah]]></category>
		<category><![CDATA[Abil Ash bin Rabi']]></category>
		<category><![CDATA[Abu Sufyan]]></category>
		<category><![CDATA[aku akan memanahnya]]></category>
		<category><![CDATA[aku telah melindungi Abil Ash bin Rabi']]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[busur dan anak panah]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta dan kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[fai']]></category>
		<category><![CDATA[Fathimah]]></category>
		<category><![CDATA[Habbar bin Aswad bin Muththalib]]></category>
		<category><![CDATA[Halah binti Khuwailid]]></category>
		<category><![CDATA[hamil]]></category>
		<category><![CDATA[harta Abil Ash]]></category>
		<category><![CDATA[HIjrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hindun binti Utbah]]></category>
		<category><![CDATA[istri yang pe cinta dan mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Janji]]></category>
		<category><![CDATA[Kalung]]></category>
		<category><![CDATA[karena perintah Allah SWT]]></category>
		<category><![CDATA[keguguran]]></category>
		<category><![CDATA[Khadijah]]></category>
		<category><![CDATA[Kinanah bin Rabi']]></category>
		<category><![CDATA[Madinah]]></category>
		<category><![CDATA[makan harta kalian]]></category>
		<category><![CDATA[Mekah]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Nafi' bin Abdul Qais]]></category>
		<category><![CDATA[Nani SAW]]></category>
		<category><![CDATA[nikah baru]]></category>
		<category><![CDATA[pelangkin]]></category>
		<category><![CDATA[putri Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Qasim]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah Saw]]></category>
		<category><![CDATA[Ruqayah]]></category>
		<category><![CDATA[saudara Ummul Mu'minin Khadijah]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri itu akhirnya berpisah]]></category>
		<category><![CDATA[Syam]]></category>
		<category><![CDATA[tombak]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Kultsum]]></category>
		<category><![CDATA[wanita wanita terpelihara]]></category>
		<category><![CDATA[Zainab]]></category>
		<category><![CDATA[Zainab binti Muhammad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=6380</guid>
		<description><![CDATA[Setelah meninggalnya Qasim dan Abdullah, Khadijah berharap hamil kembali agar ia bisa mempersembahkan anak kepada suami tercintanya, Muhammad. Dan tak berapa lama kemudian, Khadijah betul betul hamil kembali. Kehamilannya yang ketiga ini tentu membuat harapan yang semula pupus, menjadi mekar kembali. Bersemi kembali. Menyemangati hari hari mereka berdua. Muhammad dan Khadijah sungguh berbahagia dengan kehamilan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/clematis.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/clematis.jpg" alt="clematis Zaynab " title="clematis" width="640" height="480" class="alignnone size-full wp-image-6381" /></a><br />
Setelah meninggalnya  Qasim dan Abdullah, Khadijah berharap hamil kembali agar ia bisa mempersembahkan anak kepada suami tercintanya, Muhammad.  Dan tak berapa lama kemudian, Khadijah betul betul hamil kembali.</p>
<p>Kehamilannya yang ketiga ini tentu membuat harapan yang semula pupus, menjadi mekar kembali.  Bersemi kembali. Menyemangati hari hari mereka berdua.  Muhammad dan Khadijah sungguh berbahagia dengan kehamilan ini dan berharap bayi yang akan lahir nanti bisa tumbuh hingga dewasa dengan sehat dan kuat.</p>
<p>Akhirnya lahirlah anak ketiga Muhammad dan Khadijah.  Bayi itu ternyata berjenis kelamin perempuan, dimana adat waktu itu masih kuat akan dipandang rendahnya derajat anak perempuan dibanding laki laki.  Anak perempuan hanya dipandang sebagai beban dan bukan karunia.  </p>
<blockquote><p>Namun Khadijah dan Muhammad menyambut kelahiran bayi perempuan mereka dengan suka cita dan kegembiraan.  Bayi itu dinamakan Zaynab binti Muhammmad.</p></blockquote>
<p>Zainab dilahirkan tahun 30 setelah kelahiran Nabi SAW. Jadi sekitar 5 tahun setelah pernikahan Muhammad dan Khadijah.<br />
Zainab tumbuh menjadi anak yang cerdas, mandiri, lemah lembut dan sangat penyayang terhadap ayah-ibu dan adik adik nya.  Lewat bimbingan sang ibunda, Khadijah, Zaynab dididik menjadi perempuan yang sangat peka perasaannya, cekatan, mudah menolong dan sangat melindungi adik adiknya.  Seluruh kebutuhan adik adiknya, yang kesemuanya berjumlah 3 orang [Ruqayah, Ummu Kultsum &#038; Fathimah] dikerjakan oleh Zaynab.  Apalagi bila sang ibu pergi berdagang, maka tulang punggung keluarga akan jatuh ke pundak Zaynab.</p>
<p>Ketika mencapai usia perkawinan, bibinya, <strong>Halah binti Khuwailid,</strong> saudara Ummul Mu&#8217;minin Khadijah meminang untuk puteranya, Abil Ash bin Rabi&#8217;. Semua pihak setuju dan ridha. Zainab binti Muhammad SAW diboyong ke rumah Abil Ash bin Rabi&#8217;. </p>
<p>Ibnu Sa&#8217;ad menyebutkan bahwa Abil Ash mengawini Zainab sebelum Nabi SAW diangkat menjadi Nabi. Imam Adz-Dzahabi berkata : Ini adalah [benar]. Kemudian dia berkata : Zainab masuk Islam dan hijrah 6 tahun sebelum suaminya masuk Islam.</p>
<p>Khadijah pergi menemui kedua suami isteri yang saling mencintai itu dan mendoakan agar keduanya mendapatkan berkah. Kemudian dia melepas kalungnya dan menggantungkannya ke leher Zainab sebagai hadiah bagi pengantin. Perkawinan itu berlangsung sebelum turun wahyu kepada ayahnya, Nabi SAW. </p>
<p>Ketika cahaya Tuhannya menerangi bumi, Zainab pun beriman. Akan tetapi Abil Ash tidak mudah meninggalkan agamanya. Maka kedua suami isteri itu merasa bahwa kekuatan yang lebih kuat dari cinta mereka berusaha memisahkan antara keduanya.</p>
<p>Abil Ash tetap membangkang dan berkata :&#8221;Tidak akan tercapai tujuan di antara kita, wahai Zainab, kecuali engkau tetap dalam agamamu dan aku tetap dalam agamaku.&#8221; </p>
<p>Adapun Zainab, maka dia berkata :&#8221;Sabarlah, wahai suamiku, Engkau tidak halal bagiku selama engkau tetap memeluk agama itu. Maka serahkan aku kepada ayahku atau masuklah Islam bersamaku. Zainab tidak akan menjadi milikmu sejak hari ini, kecuali bila engkau beriman pada agama yang aku imani.&#8221;</p>
<blockquote><p>Pasangan suami isteri itu terdiam sebentar sambil merenung. Keduanya sadar ketika terdengar suara yang membisikkan kepada keduanya :&#8221;Jika agama memisahkan antara kedua jasad mereka, maka cinta mereka akan tetap ada hingga keduanya dipersatukan oleh sebuah agama.&#8221;</p></blockquote>
<p>Hari-hari berlalu dalam keadaan ini setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Pasukan Quraisy berangkat menuju Badr untuk memerangi Rasul SAW dan di antara mereka terdapat Abil Ash bin Rabi&#8217;, bukan untuk menyatakan ke-Islamannya, tetapi untuk memerangi Rasul SAW. Situasi menjadi kritis ketika Abil Ash jatuh menjadi tawanan di tangan kaum Muslimin di bawah pimpinan Rasulullah SAW di Madinah. Kemudian kaum Quraisy mengutus orang untuk menebus tawanan-tawanannya. </p>
<p>Zainab pun mengirimkan harta dan sebuah kalung untuk menebus tawanannya, Abil Ash bin Rabi&#8217;. Ketika Rasulullah SAW melihat kalung itu, beliau merasa iba hatinya dan bersabda :&#8221;Jika kalian tidak keberatan melepaskan tawanan dan mengembalikan harta miliknya, maka lakukanlah.&#8221; Mereka menjawab :&#8221;Baiklah, wahai Rasulullah.&#8221; Kemudian mereka melepas- kannya dan mengembalikan harta milik Zainab. Di sini Rasulullah SAW mendapat janji dari Abil Ash untuk membebaskan Zainab dan mengembalikannya kepada beliau di Madinah.</p>
<p>Abil Ash kembali ke Mekkah dan di dalam jiwanya terdapat gambaran yang lebih cemerlang dari isteri yang penuh cinta dan mulia ini. Maka dia kembali bukan untuk berterima kasih atas kebaikan Zainab kepadanya, akan tetapi untuk berkata keapdanya :&#8221;Kembalilah kepada ayahmu, wahai Zainab.&#8221; Dia telah memenuhi janjinya kepada Rasulullah SAW untuk membiarkan Zainab pergi kepada Nabi SAW. Abil Ash tidak kuasa menahan tangisnya dan tidak dapat mengantarkannya ke tepi dusun di luar Mekkah, di mana telah menunggu Zaid bin Haritsah dan seorang laki- laki Anshor.</p>
<p>Bagaimana dia mampu melepaskan orang yang dicintainya, sedang dia mengetahui bahwa, itu merupakan perpisahan terakhir selama kekuasaan agama ini berdiri di antara kedua hati dan masing-masing berpegang pada agamanya. Abil Ash berkata kepada saudaranya, Kinanah bin Rabi&#8217; :&#8221;Hai, Saudaraku, tentulah engkau mengetahui kedudukannya dalam jiwaku. Aku tidak menginginkan seorang wanita Quraisy di sampingnya dan engkau tentu tahu bahwa aku tidak sanggup meninggalkannya. Maka temanilah dia menuju tepi dusun, di mana telah menungggu dua utusan Muhammad. Perlakukanlah dia dengan lemah lembut dalam perjalanan dan perhatikanlah dia sebagaimana engkau memperhatikan wanita wanita terpelihara. Lindungilah dia dengan panahmu hingga anak panah yang penghabisan.&#8221;</p>
<p>Di saat Zainab sedang bersiap-siap untuk menyusul ayahnya, datanglah Hindun binti Utbah, menemuinya, dan dia berkata :&#8221;Wahai, puteri Muhammad, aku mendengar bahwa engkau akan menyusul ayahmu !&#8221; </p>
<p>Zainab menjawab :&#8221;Aku tidak ingin melakukannya.&#8221; Hind berkata :&#8221;Wahai puteri pamanku, jangan engkau lakukan. Jika engkau mempunyai keperluan akan suatu barang yang menjadi bekal dalam perjalananmu atau harta yang hendak engkau sampaikan kepada ayahmu, maka aku akan memenuhi keperluanmu. Maka janganlah engkau segan kepadaku, karena sesuatu yang masuk di antara orang-orang lelaki tidaklah masuk di antara orang- orang wanita.&#8221; </p>
<p>Zainab berkata : &#8220;Demi Allah, aku tidak melihatnya mengatakan hal itu, kecuali untuk melakukannya, tetapi aku takut kepadanya. Maka aku menyangkal bahwa aku akan pergi dan aku pun bersiap siap.&#8221;</p>
<p>Setelah menyelesaikan persiapannya, iparnya, Kinanah bin Rabi&#8217; menyerahkan kepada Zainab seekor unta, lalu dinaikinya. Kinanah mengambil busur dan anak panahnya. Kemudian dia keluar membawa Zainab di waktu siang dan Zainab duduk di dalam pelangkinnya, sementara Kinanah menuntun untanya. Akan tetapi, apakah Quraisy membiarkannya keluar setelah mereka mengalami kekalahan di Badr. Bagaimana dia boleh keluar sementara orang-orang melihat dan mendengarnya ?</p>
<p>Tidak&#8230;sekali lagi tidak ! Banyak orang laki-laki Quraisy telah membicarakan hal itu. Maka keluarlah mereka untuk mencarinya hingga mereka berhasil menyusul di Dzi Thuwa. Yang pertama kali menemukannya adalah Habbar bin Aswad bin Muththalib dan Nafi&#8217; bin Abdul Qais. Habbar menakutinya dengan tombak. Di saat itu Zainab berada di dalam pelangkinnya dan dia sedang dalam keadaan hamil. Ketika pulang, dia mengalami keguguran kandungannya.</p>
<p>Iparnya marah dan berkata kepada para penyerang :&#8221;Demi Allah, tidak seorang pun yang mendekat kepadaku, melainkan aku akan memanahnya.&#8221; Maka orang-orang bubar meninggalkannya. Abu Sufyan bersama rom- bongan Quraisy datang kepadanya dan berkata :&#8221;Hai, orang laki-laki, tahanlah panahmu hingga aku berbicara kepadamu.&#8221; Maka Kinanah menahan panahnya. Abu Sufyan datang menghampirinya dan berkata :&#8221;Tindakanmu tidak tepat. Engkau keluar membawa wanita secara terang-terangan di hadapan orang banyak. Sesungguhnya hal itu menunjukkan kehinaan yang menimpa kita akibat musibah dan bencana yang telah kita alami sebelum- nya. Sesungguhnya hal itu menunjukkan kelemahan kita. Demi umurku, kami tidak perlu mencegahnya untuk pergi kepada ayahnya. Kami tidak ingin membalas dendam, tetapi kembalikan wanita itu.&#8221;</p>
<p>Tatkala suara sudah reda, Kinanah membawa Zainab pada waktu malam, lalu menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan temannya. Keduanya pergi mengantarkan Zainab kepada Rasulullah SAW. Suami isteri itu akhirnya berpisah. Tidak ada jalan untuk bertemu. Abil Ash tinggal di Makkah menyendiri dengan pikiran kacau dan hati terluka. Zainab pun tinggal di Madinah dengan badan yang sakit dan hati yang lemah. Kalau saja bukan karena iman dan takwa yang menguatkan tekadnya, tentu dia lekas mati dan tidak dapat bertemu.</p>
<p>Tahun demi tahun berlalu, Abil Ash keluar bersama kafilah dagangnya menuju Syam. Dalam perjalanan pulang dia berjumpa pasukan Rasulullah SAW yang berhasil merampas hartanya, akan tetapi dia bisa lolos. Dia telah kehilangan hartanya dan harta titipan orang banyak. Abil Ash tidak dapat mengembalikan barang-barang titipan itu kepada para pemiliknya. Maka apa yang harus dilakukannya ?</p>
<p>Dia teringat Zainab yang memberinya imbalan berupa cinta dan kesetiaan. Maka Abil Ash memasuki Madinah pada waktu malam dan mohon kepada Zainab agar melindungi dan membantunya untuk mengembalikan hartanya. Maka Zainab pun melindunginya. Orang-orang berlari ke masjid Rasulullah SAW, bertakbir bersama kaum Muslimin. Tiba-tiba terdengar suara teriakan di belakang dinding :&#8221;Hai, orang orang, aku telah me- lindungi Abil Ash bin Rabi&#8217;. Dia dalam lindungan dan jaminanku.&#8221; Ternyata, Zainablah yang berseru itu.</p>
<p>Rasulullah SAW menyelesaikan shalatnya, lalu beliau menemui orang banyak dan bersabda :&#8221;Wahai, orang-orang, apakah kalian mendengar apa yang aku dengar ? Sesungguhnya serendah-rendah orang Muslim adalah dapat memberi perlindungan.&#8221; Kemudian beliau masuk menemui puterinya dan berbicara kepadanya, Nabi SAW berpesan :&#8221;Wahai, puteriku, muliakanlah tempatnya dan jangan sampai dia lolos kepadamu, karena engkau tidak halal baginya selama dia masih musyrik.&#8221; Nabi SAW terkesan melihat kesetiaan puterinya kepada suaminya yang ditinggalkan dan dia putuskan hubungan syahwat dengannya karena perintah Allah SWT.</p>
<p>Di samping itu, Zainab pun masih tetap memberinya kebaktian, kesetiaan dan pertolongan : yaitu kebaktian sebagai wanita muslim, kesetiaan sebagai teman dan pertolongan sebagai manusia. Abil Ash mendapatkan dari Nabi SAW apa yang didengar dan diketahuinya, sehingga dia menyembunyikan dalam hatinya harapan kepada Allah. Kemudian, Nabi SAW mengutus orang kepada pasukan yang merampas harta Abil Ash. Beliau berkata :&#8221;Sesungguhnya kalian telah mengetahui kedudukan orang ini terhadap kami. Kalian telah merampas hartanya. Jika kalian berbuat baik kepadanya dan mengembalikan hartanya, maka kami menyukai hal itu. Jika kalian menolak, maka itu adalah fai&#8217; dari Allah yang diberikan-Nya kepada kalian dan kalian lebih berhak atasnya.&#8221;</p>
<p>Mereka berkata :&#8221;Kami akan mengembalikannya kepada Abil Ash.&#8221; Beberapa orang di antara mereka berkata :&#8221;Hai, Abil Ash, maukah engkau masuk Islam dan mengambil harta benda ini, karena semua ini milik orang orang musyrik ?&#8221;<br />
Abil Ash menjawab : &#8220;Sungguh buruk awal Islamku, jika aku mengkhianati amanatku.&#8221;</p>
<p>Maka mereka mengembalikan harta itu kepadanya demi kemuliaan Rasulullah SAW dan sebagai penghormatan kepada Zainab. Laki-laki itu pun kembali ke Mekkah dengan membawa hartanya dan harta orang banyak. Jiwanya dipenuhi berbagai makna dan di antara kedua matanya terlihat gambaran yang tidak meninggalkannya.</p>
<p>Setelah mengembalikan harta kepada pemiliknya masing-masing, Abil Ash berdiri dan berkata :&#8221;Wahai, kaum Quraisy, apakah masih ada harta seseorang di antara kalian padaku ?&#8221; Mereka menjawab :&#8221;Tidak. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Kami telah mendapati kamu seorang yang jujur dan mulia.&#8221; Abil Ash berkata :&#8221;Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Demi Allah, tiada yang menghalangi aku masuk Islam di hadapannya, kecuali karena aku khawatir mereka menyangka aku ingin makan harta kalian. Setelah Allah menyampaikannya kepada kalian dan aku selesai membagikannya, maka aku masuk Islam.&#8221;</p>
<p>Asy-Sya&#8217;bi berkata :&#8221;Zainab masuk Islam dan hijrah, kemudian Abil Ash masuk Islam sesudah itu, dan Islam tidak memisahkan antara keduanya.&#8221; [Adz-Dzahabi, "Siyar A'laamin Nubala'. Demikian pula kata Qatadah : Dia berkata :"Kemudian diturunkan surah Baro'ah sesudah itu. Maka, jika ada seorang wanita masuk Islam sebelum suaminya, dia hanya boleh mengawininya dengan nikah baru."]</p>
<p>Abil Ash keluar dari Mekkah, hijrah menuju Madinah dengan mendapat petunjuk iman dan keyakinan. Suami isteri yang saling mencintai bertemu untuk kedua kalinya setelah lama berpisah. Akan tetapi isteri yang setia itu telah menunaikan kewajiban dan menyelesaikan urusan dunianya ketika menyadarkan laki-laki yang dicintainya serta memenuhi hak suaminya sesuai dengan kadar cintanya kepada suami. Tidak lama setelah pertemuan itu, Zainab meninggal dunia.</p>
<p>Zainab meninggal dunia pada tahun 8 Hijriah dan Rasulullah SAW sangat sedih atas kepergiannya. Zainab meninggal dunia setelah mening- galkan kenangan terbaik. Dia telah menjadi contoh terbaik dalam hal kesetiaan isteri, keikhlasan cinta dan kebenaran iman. Tidaklah mengherankan apabila suaminya berkata dalam suatu perjalanannya ke Syam : &#8220;Puteri Al Amiin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan setiap suami akan memuji sesuai dengan yang diketahuinya.&#8221;</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/" title="Ruqayyah "><img src="Array" alt=" Zaynab "  title="Zaynab " /></a>June 15, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/" title="Ruqayyah ">Ruqayyah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/" title="Zaid Bin Haritsah"><img src="Array" alt=" Zaynab "  title="Zaynab " /></a>December 23, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/" title="Zaid Bin Haritsah">Zaid Bin Haritsah</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas"><img src="Array" alt=" Zaynab "  title="Zaynab " /></a>October 11, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas">Bab 1. Ikhlas</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/fatimah-binti-muhammad/" title="Fatimah "><img src="Array" alt=" Zaynab "  title="Zaynab " /></a>June 22, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/fatimah-binti-muhammad/" title="Fatimah ">Fatimah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/10/halimah-as-sadiyah/" title="Halimah "><img src="Array" alt=" Zaynab "  title="Zaynab " /></a>October 24, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/10/halimah-as-sadiyah/" title="Halimah ">Halimah </a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/08/istri-istri-nabi/" title="Istri Nabi"><img src="Array" alt=" Zaynab "  title="Zaynab " /></a>August 20, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/08/istri-istri-nabi/" title="Istri Nabi">Istri Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/silsilah-nabi-2/" title="Silsilah Nabi Muhammad SAW &#038; Kaum Kerabat [2]"><img src="Array" alt=" Zaynab "  title="Zaynab " /></a>June 25, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/silsilah-nabi-2/" title="Silsilah Nabi Muhammad SAW &#038; Kaum Kerabat [2]">Silsilah Nabi Muhammad SAW &#038; Kaum Kerabat [2]</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-muhammad-alaihish-shalatu-wassalam/" title="Prakata: Muhammad, &#8216;alaihi&#8217;sh-shalatu wassalam"><img src="Array" alt=" Zaynab "  title="Zaynab " /></a>April 7, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-muhammad-alaihish-shalatu-wassalam/" title="Prakata: Muhammad, &#8216;alaihi&#8217;sh-shalatu wassalam">Prakata: Muhammad, &#8216;alaihi&#8217;sh-shalatu wassalam</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abdullah bin Muhammad</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/06/abdullah-bin-muhammad/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/06/abdullah-bin-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 14:22:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Putra Putri Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Ash bin Wa’il Assahmi]]></category>
		<category><![CDATA[At Thayyib]]></category>
		<category><![CDATA[Khadijah]]></category>
		<category><![CDATA[Mimbar]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Quraisy]]></category>
		<category><![CDATA[seorang yang buntung]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat]]></category>
		<category><![CDATA[Terputuslah Keturunannya]]></category>
		<category><![CDATA[tidak punya anak laki laki]]></category>
		<category><![CDATA[‘Sesungguhnya orang-orang yang membencimu itulah yang akan terputus keturunannya’. (QS A1-Kautsar: 3)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=6372</guid>
		<description><![CDATA[Setelah kematian Qasim, tak berapa lama kemudian Khadijah hamil kembali. Betapa gembiranya Muhammad dan Khadijah, karena masih diberi kesempatan untuk memiliki anak. Dan setelah sembilan bulan, lahirlah anak kedua Muhammad, yang kemudian diberi nama Abdullah. Abdullah lalu mendapat gelar At Thayyib. Namun sayang, lagi lagi Allah berkehendak untuk memanggil pulang Abdullah sebelum Abdullah sempat mengecap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/tulip_wallpaper_1024.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/tulip_wallpaper_1024.jpg" alt="tulip wallpaper 1024 Abdullah bin Muhammad" title="Spring Flowers Wallpapers" width="1024" height="768" class="alignnone size-full wp-image-6378" /></a></p>
<p>Setelah kematian Qasim, tak berapa lama kemudian Khadijah hamil kembali.  Betapa gembiranya Muhammad dan Khadijah, karena masih diberi kesempatan untuk memiliki anak. Dan setelah sembilan bulan, lahirlah anak kedua Muhammad, yang kemudian diberi nama Abdullah.</p>
<blockquote><p>Abdullah lalu mendapat gelar At Thayyib.</p></blockquote>
<p>  Namun sayang, lagi lagi Allah berkehendak untuk memanggil pulang Abdullah sebelum Abdullah sempat mengecap lebih lama kehidupan di dunia.  Abdullah meninggal dalam usia satu atau dua tahun.<br />
Tak terbayangkan betapa sedihnya Khadijah dan Muhammad karena kematian dua anak laki laki mereka dalam usia yang masih sangat kecil.  Namun Muhammad dan Khadijah tetap berdoa dan memohon agar masih bisa dikaruniai anak anak sebagai &#8216;penyejuk jiwa&#8217;.</p>
<p>Kematian dua anak laki laki inilah yang bertahun tahun kemudian, ketika Muhammad telah diangkat menjadi Rasul, menjadi ejekan yang menyakitkan yang dilontarkan orang orang Quraisy.</p>
<p>Pada suatu saat, ketika Muhammad telah diangkat menjadi Rasul, salah satu tokoh Quraisy, Al-Ash bin Wa’il Assahmi mendatangi Abi Thalib.  Ia memohon kepada paman Rasulullah itu agar melarang keponakannya berdakswah.</p>
<p>Di hadapan kaum Quraisy, AL &#8216;Ash  berkata: &#8220;Hai kaumku! Biarkan saja dia, dia seorang yang buntung, dia tidak punya anak laki laki.  Apabila kelak dia mati habislah riwayatnya dan kalian semua akan menjadi lega.  Karena terputuslah keturunannya!&#8221;</p>
<p>Maka Allah menurunkan  firman-Nya:  ‘Sesungguhnya orang-orang yang membencimu itulah yang akan terputus keturunannya’. (QS A1-Kautsar: 3)</p>
<p>Karena sampai hari kiamat pun, seluruh anak kaum muslimin tetap menjadi anak Muhammad dan generasi seterusnya.<br />
Allah bahkan menyatakan bahwa nama Muhammad akan selalu di sebut di setiap mimbar, diucapkan oleh orang orang yang bershalawat.  Bahkan terucap minimal 5 kali sehari dari tiap mulut kaum beriman.  Dan setiap menyebut nama Allah, maka akan selalu diikuti dengan menyebut nama Nabi Muhammad.</p>
<p>Jadi, Muhammad bukanlah orang yang buntung.  Sebaliknya, musuh Muhammad itulah yang akan dilupakan di dunia dan di akhirat, jikapun namanya di sebut maka akan disertai dengan kutukan.~~</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/05/putra-putri-nabi-muhammad/" title="Putra Putri Nabi Muhammad"><img src="Array" alt=" Abdullah bin Muhammad"  title="Abdullah bin Muhammad" /></a>May 5, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/05/putra-putri-nabi-muhammad/" title="Putra Putri Nabi Muhammad">Putra Putri Nabi Muhammad</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/" title="Ruqayyah "><img src="Array" alt=" Abdullah bin Muhammad"  title="Abdullah bin Muhammad" /></a>June 15, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/" title="Ruqayyah ">Ruqayyah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim"><img src="Array" alt=" Abdullah bin Muhammad"  title="Abdullah bin Muhammad" /></a>October 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim">Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/shalawat/" title="I&#8217;tiraf"><img src="Array" alt=" Abdullah bin Muhammad"  title="Abdullah bin Muhammad" /></a>October 27, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/shalawat/" title="I&#8217;tiraf">I&#8217;tiraf</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab "><img src="Array" alt=" Abdullah bin Muhammad"  title="Abdullah bin Muhammad" /></a>June 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab ">Zaynab </a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/qasim-bin-muhammad/" title="Qasim bin Muhammad"><img src="Array" alt=" Abdullah bin Muhammad"  title="Abdullah bin Muhammad" /></a>June 9, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/qasim-bin-muhammad/" title="Qasim bin Muhammad">Qasim bin Muhammad</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/aisyah/" title="Aisyah"><img src="Array" alt=" Abdullah bin Muhammad"  title="Abdullah bin Muhammad" /></a>April 22, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/aisyah/" title="Aisyah">Aisyah</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/abu-lahab/" title="Abu Lahab "><img src="Array" alt=" Abdullah bin Muhammad"  title="Abdullah bin Muhammad" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/abu-lahab/" title="Abu Lahab ">Abu Lahab </a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/06/abdullah-bin-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Qasim bin Muhammad</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/06/qasim-bin-muhammad/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/06/qasim-bin-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 12:53:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Putra Putri Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[40 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Abal Qasim]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Ash bin Wa’il]]></category>
		<category><![CDATA[At Thahir]]></category>
		<category><![CDATA[Khadijah]]></category>
		<category><![CDATA[Kunyah]]></category>
		<category><![CDATA[putra pertama Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Qasim bin Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Terputuslah Keturunannya]]></category>
		<category><![CDATA[‘Sesungguhnya orang-orang yang membencimu itulah yang akan terputus keturunannya’. (QS A1-Kautsar: 3)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=6364</guid>
		<description><![CDATA[1. Qasim Qasim adalah putra pertama Nabi Muhammad yang lahir dari rahim Khadijah. Setelah beberapa tahun membina rumah tangga, dan ada kekhawatiran tidak memiliki keturunan, mengingat Khadijah telah berusia di atas 40 tahun dan telah melahirkan anak anak dari suami terdahulunya, namun Allah ternyata memiliki rencana lain yang Maha Sempurna. Beberapa tahun kemudian lahirlah Qasim. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/Flower-Art-34-ANPLKUMT66-1280x800.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/Flower-Art-34-ANPLKUMT66-1280x800.jpg" alt="Flower Art 34 ANPLKUMT66 1280x800 Qasim bin Muhammad" title="Flower-Art-34-ANPLKUMT66-1280x800" width="1280" height="800" class="alignnone size-full wp-image-6365" /></a></p>
<p><strong>1. Qasim</strong></p>
<p>Qasim adalah putra pertama Nabi Muhammad yang lahir dari rahim Khadijah.  Setelah beberapa tahun membina rumah tangga, dan ada kekhawatiran tidak memiliki keturunan, mengingat Khadijah telah berusia di atas 40 tahun dan telah melahirkan anak anak dari suami terdahulunya, namun Allah ternyata memiliki rencana lain yang Maha Sempurna.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian lahirlah Qasim.  Betapa gembiranya Nabi Muhammad atas kelahiran anak laki laki pertamanya itu.  Dari sinilah maka Rasulullah mendapat gelar kunyah nya yakni <strong>Abal Qasim</strong> [ayahnya Qasim].</p>
<p>Dan Qasim sendiri mendapat julukan At Thahir.</p>
<p>Namun sayang, Qasim meninggal di kota Makkah setelah usianya mencapai dua tahun.  Ada juga yang  mengatakan di bawah dua tahun dan ada pula yang mengatakan di atas dua tahun.  Dia adalah putra beliau yang pertama meninggal dunia.~~</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/abdullah-bin-muhammad/" title="Abdullah bin Muhammad"><img src="Array" alt=" Qasim bin Muhammad"  title="Qasim bin Muhammad" /></a>June 9, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/abdullah-bin-muhammad/" title="Abdullah bin Muhammad">Abdullah bin Muhammad</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/05/putra-putri-nabi-muhammad/" title="Putra Putri Nabi Muhammad"><img src="Array" alt=" Qasim bin Muhammad"  title="Qasim bin Muhammad" /></a>May 5, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/05/putra-putri-nabi-muhammad/" title="Putra Putri Nabi Muhammad">Putra Putri Nabi Muhammad</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/" title="Ruqayyah "><img src="Array" alt=" Qasim bin Muhammad"  title="Qasim bin Muhammad" /></a>June 15, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/" title="Ruqayyah ">Ruqayyah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/nama-nama-mulia-nabi-muhammad-saw/" title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW"><img src="Array" alt=" Qasim bin Muhammad"  title="Qasim bin Muhammad" /></a>December 25, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/nama-nama-mulia-nabi-muhammad-saw/" title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW">Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW</a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/" title="Zaid Bin Haritsah"><img src="Array" alt=" Qasim bin Muhammad"  title="Qasim bin Muhammad" /></a>December 23, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/" title="Zaid Bin Haritsah">Zaid Bin Haritsah</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/fatimah-binti-muhammad/" title="Fatimah "><img src="Array" alt=" Qasim bin Muhammad"  title="Qasim bin Muhammad" /></a>June 22, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/fatimah-binti-muhammad/" title="Fatimah ">Fatimah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ummu-kultsum-binti-muhammad/" title="Ummu Kultsum "><img src="Array" alt=" Qasim bin Muhammad"  title="Qasim bin Muhammad" /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ummu-kultsum-binti-muhammad/" title="Ummu Kultsum ">Ummu Kultsum </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab "><img src="Array" alt=" Qasim bin Muhammad"  title="Qasim bin Muhammad" /></a>June 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab ">Zaynab </a> (1)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/06/qasim-bin-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Putra Putri Nabi Muhammad</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/05/putra-putri-nabi-muhammad/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/05/putra-putri-nabi-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 06:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Putra Putri Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abbal Qasim]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Utsman]]></category>
		<category><![CDATA[Abul’Ash bin Rabi’ bin Abdul ’Uzza bin Abdu Syams bin Abdu Manaf.]]></category>
		<category><![CDATA[Khadijah]]></category>
		<category><![CDATA[Mekah]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Putra Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[putra putri nabi]]></category>
		<category><![CDATA[putra putri rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Qasim]]></category>
		<category><![CDATA[Terputuslah Keturunannya]]></category>
		<category><![CDATA[‘Sesungguhnya orang-orang yang membencimu itulah yang akan terputus keturunannya’. (QS A1-Kautsar: 3)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Menurut pendapat ulama yang paling sahih, putra-putri beliau berjumlah tujuh orang. Tiga laki laki dan empat perempuan. Dan seluruh putra putri Rasulullah adalah dari rahim Khadijah. Kecuali Ibrahim. Putra beliau yang pertama ialah Qasim, dan dari nama putra beliau inilah yang kemudian menjadi julukan beliau. Abbal Qasim. Kemudian Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum (namanya pun menj [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/01/Flower-Wallpaper.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/01/Flower-Wallpaper.jpg" alt="Flower Wallpaper Putra Putri Nabi Muhammad" title="Flower Wallpaper" width="1920" height="1200" class="alignnone size-full wp-image-6359" /></a></p>
<blockquote><p>Menurut pendapat ulama yang paling sahih, putra-putri beliau berjumlah tujuh orang.<br />
Tiga laki laki dan empat perempuan. Dan seluruh putra putri Rasulullah adalah dari rahim Khadijah. Kecuali Ibrahim.</p></blockquote>
<p> Putra beliau yang pertama ialah <strong>Qasim</strong>, dan dari nama putra beliau inilah yang kemudian menjadi julukan beliau.  Abbal Qasim.<br />
Kemudian <strong>Zainab</strong>,<br />
<strong>Ruqayyah</strong>,<br />
<strong>Ummu Kultsum</strong> (namanya pun menj adi julukannya),<br />
dan kemudian <strong>Abdullah</strong> yang dinamai juga dengan Thayib atau Thahir,<br />
<strong>Fathimah</strong>,<br />
<strong>Ibrahim</strong></p>
<p>Namun ada juga yang mengatakan bahwa Thayib dan Thahir itu lain dari Abdullah yang keduanya dilahirkan dari satu rahim sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, dan ada pula yang mengatakan lain dari itu. Semuanya dilahirkan di kota Makkah, dari satu kandungan yaitu Siti Khadijah. Kemudian lahir <strong>Ibrahim</strong> dari kandungan Maria Al-Qibthiyah.</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/abdullah-bin-muhammad/" title="Abdullah bin Muhammad"><img src="Array" alt=" Putra Putri Nabi Muhammad"  title="Putra Putri Nabi Muhammad" /></a>June 9, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/abdullah-bin-muhammad/" title="Abdullah bin Muhammad">Abdullah bin Muhammad</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab "><img src="Array" alt=" Putra Putri Nabi Muhammad"  title="Putra Putri Nabi Muhammad" /></a>June 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab ">Zaynab </a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/qasim-bin-muhammad/" title="Qasim bin Muhammad"><img src="Array" alt=" Putra Putri Nabi Muhammad"  title="Putra Putri Nabi Muhammad" /></a>June 9, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/qasim-bin-muhammad/" title="Qasim bin Muhammad">Qasim bin Muhammad</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/fatimah-binti-muhammad/" title="Fatimah "><img src="Array" alt=" Putra Putri Nabi Muhammad"  title="Putra Putri Nabi Muhammad" /></a>June 22, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/fatimah-binti-muhammad/" title="Fatimah ">Fatimah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/" title="Ruqayyah "><img src="Array" alt=" Putra Putri Nabi Muhammad"  title="Putra Putri Nabi Muhammad" /></a>June 15, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/ruqayyah-binti-muhammad-2/" title="Ruqayyah ">Ruqayyah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/sejarah-hidup-muhammad-daftar-isi/" title="Sejarah Hidup Muhammad [Daftar Isi]"><img src="Array" alt=" Putra Putri Nabi Muhammad"  title="Putra Putri Nabi Muhammad" /></a>June 9, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/sejarah-hidup-muhammad-daftar-isi/" title="Sejarah Hidup Muhammad [Daftar Isi]">Sejarah Hidup Muhammad [Daftar Isi]</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/10/halimah-as-sadiyah/" title="Halimah "><img src="Array" alt=" Putra Putri Nabi Muhammad"  title="Putra Putri Nabi Muhammad" /></a>October 24, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/10/halimah-as-sadiyah/" title="Halimah ">Halimah </a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/08/istri-istri-nabi/" title="Istri Nabi"><img src="Array" alt=" Putra Putri Nabi Muhammad"  title="Putra Putri Nabi Muhammad" /></a>August 20, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/08/istri-istri-nabi/" title="Istri Nabi">Istri Nabi</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/05/putra-putri-nabi-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

