<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muhammad SAW Teladanku &#187; Paman dan Bibi Nabi</title>
	<atom:link href="http://nabimuhammad.info/category/keluarga-dan-sahabat/paman-dan-bibi-nabi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nabimuhammad.info</link>
	<description>A to Z informasi tentang Nabi Muhammad SAW</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 11:12:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Abdullah bin Abdul Muththalib</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/08/abdullah-bin-abdul-muththalib/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/08/abdullah-bin-abdul-muththalib/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 10:34:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga Dekat]]></category>
		<category><![CDATA[Paman dan Bibi Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Abdul Muththalib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=3486</guid>
		<description><![CDATA[Abdullāh bin Syaibah atau lebih dikenal dengan Abdullah bin Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: عبدالله بن عبد المطلب‎)‎ (545-570) adalah ayah dari Muhammad, Nabi Allah SAW. 
Ia anak Abdul-Muththalib. Ia meninggal di perjalanan kafilah antara Mekkah dan Madinah. Saat ia meninggal Muhammad masih dalam kandungan ibunya Aminah.
    Silsilah lengkapnya adalah:
    عبدالله [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abdullāh bin Syaibah atau lebih dikenal dengan Abdullah bin Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: عبدالله بن عبد المطلب‎)‎ (545-570) adalah ayah dari Muhammad, Nabi Allah SAW. </p>
<p>Ia anak Abdul-Muththalib. Ia meninggal di perjalanan kafilah antara Mekkah dan Madinah. Saat ia meninggal Muhammad masih dalam kandungan ibunya Aminah.</p>
<p>    Silsilah lengkapnya adalah:<br />
    عبدالله بن عبد المطلب ابن هاشم بن عبد مناف بن قصي بن كلاب بن مرة بن كعب بن لؤي بن غالب ابن فهر بن مالك بن النضر بن كنانة بن خزيمة بن مدركة بن الياس بن مضر بن نزار بن معد بن عدنان</p>
<p>    Dalam huruf latin, &#8216;Abdullah bin &#8216;Abdul-Muththalib bin Hasyim (Amr) bin Abdul Manaf (al-Mughira) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka`b bin Lu&#8217;ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan.[1] </p>
<div style='display:none' id="post-refEl-3486"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/08/abdullah-bin-abdul-muththalib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harits bin Abdul Muthalib</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/08/harits-bin-abdul-muthalib/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/08/harits-bin-abdul-muthalib/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 04:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paman dan Bibi Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Paman Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=3470</guid>
		<description><![CDATA[AL Harits adalah anak tertua Abdul Muthalib.
Ia memiliki beberapa anak, yaitu:
1. Ubaidah bin Harits (Arab:عبيدة بن الحارث) adalah sepupu dan Sahabat Nabi Muhammad. Ia mati syahid dalam Pertempuran Badar dan ia merupakan anak dari Harits bin Abdul Muthalib.
2. Abu Sufyan bin Harits (Arab:أبو سفيان بن الحارث)
3. Rabi&#8217;ah bin Harits (Arab:ربيعة ابن الحريث)
4. Arwa binti Harits
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AL Harits adalah anak tertua Abdul Muthalib.</p>
<p>Ia memiliki beberapa anak, yaitu:</p>
<p>1. Ubaidah bin Harits (Arab:عبيدة بن الحارث) adalah sepupu dan Sahabat Nabi Muhammad. Ia mati syahid dalam Pertempuran Badar dan ia merupakan anak dari Harits bin Abdul Muthalib.<br />
2. Abu Sufyan bin Harits (Arab:أبو سفيان بن الحارث)<br />
3. Rabi&#8217;ah bin Harits (Arab:ربيعة ابن الحريث)<br />
4. Arwa binti Harits</p>
<div style='display:none' id="post-refEl-3470"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/08/harits-bin-abdul-muthalib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abu Lahab</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/08/abu-lahab/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/08/abu-lahab/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 03:43:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paman dan Bibi Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=3394</guid>
		<description><![CDATA[
Abu Lahab bin &#8216;Abdul Muttalib (Bahasa Arab: أبو لهب‎) (meninggal 624) adalah paman Nabi Muhammad yang terkenal akan kebenciannya terhadap ajaran Islam. Namanya disebut dalam Al-Qur&#8217;an Surah Al-Lahab yang merupakan pengutukkan atasnya sebagai salah satu musuh Islam.
Nama lengkapnya adalah Abdul al-Uzza bin &#8216;Abdul Muttalib dan panggilannya Abu Lahab (bapak dari api yang berkobar), karena pipinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/08/lario-lake.jpg" alt="lario-lake" title="lario-lake" width="600" height="450" class="alignnone size-full wp-image-3395" /><br />
Abu Lahab bin &#8216;Abdul Muttalib (Bahasa Arab: أبو لهب‎) (meninggal 624) adalah paman Nabi Muhammad yang terkenal akan kebenciannya terhadap ajaran Islam. Namanya disebut dalam Al-Qur&#8217;an Surah Al-Lahab yang merupakan pengutukkan atasnya sebagai salah satu musuh Islam.</p>
<p>Nama lengkapnya adalah Abdul al-Uzza bin &#8216;Abdul Muttalib dan panggilannya Abu Lahab (bapak dari api yang berkobar), karena pipinya selalu merah atau seperti terbakar. Istrinya adalah Ummu Jamil, yang telah melahirkan dua anak Utbah bin Abu Lahab and Utaybah bin Abu Lahab.</p>
<p><strong>Abu Lahab pun Bersyukur atas Kelahiran Rasulullah<br />
</strong></p>
<p>Kitab Shahih Bukhari menceritakan tentang sebuah kisah mengenai menyangkut tentang Tsuwaibah, seorang budak perempuan Abu Lahab (paman Nabi Muhammad SAW).<br />
ini terjadi tepat pada hari Senin tanggal 12 Robiul Awwal tahun Gajah. Ketika Rasulullah lahir dari rahim ibunda tercintanya, Siti Aminah, Tsuwaibah datang kepada Abu Lahab<br />
seraya memberikan kabar tentang kelahiran Muhammad, keponakannya yang berupa bayi laki-laki sehat tanpa kekurangan suatu apa pun.</p>
<p>Tatkala mendengar kabar kelahiran keponakan lelakinya ini, Abu lahab bersuka cita. Ia melompat-lompat riang gembira seraya meneriakkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut sepanjang jalan.<br />
inilah bentuk kegembiraan Abu Lahab, sang paman yang kelak menjadi salah satu musuh bebuyutannya dalam berdakwah. Namun rupanya tidak cukup sampai di situ saja luapan kegembiraan ini. Ia segera mengundang tetangga-tetangga dan para kerabat dekatnya untuk merayakan kelahiran keponakan tercintanya ini.<br />
Sebagai bentuk paling populer dari ungkapan rasa syukurnya dan sebagai penanda suka citanya yang sangat memuncak kemudian ia berkata kepada Tsuwaibah di hadapan khalayak ramai yang mendatangi undangan perayaan kelahiran keponakannya, </p>
<blockquote><p>
&#8221;Wahai Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-laki ku (Abdullah), maka dg ini kamu adalah lelaki merdeka mulai hari ini&#8217;<br />
&#8216;</p></blockquote>
<p>Demi mendengar kabar gembira inipun Tsuwaibah lantas bersuka cita, Sejak hari ini, karena ia yang membawa kabar gembira atas kelahiran keponakan tercinta, mahluk paling mulia di seluruh dunia, maka ia mendapatkan keberkahan tak terkirakan berupa kemerdekaanya.</p>
<p>Maka sejak hari itu ia bukan lagi berstatus sebagai budak yang dapat di perintah sesukanya oleh majikan. Sejak hari itu, ia adalah lelaki merdeka yang bertanggung jawab atas segala nasib dan keberuntunganya sendiri.</p>
<p>Konon,karena kebaikannya membebaskan Tsuwaibah sebagai bukti kegembiraan atas kelahiran Rasulullah, Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa kubur pada setiap hari Senin. meskipun sepanjang masa hidupnya, Abu Lahab senantiasa memusuhi dan tidak mempercayai kenabian keponakan tercintanya ini. (Wallahu A&#8217;lam Bisshowab)  [disunting dari ©marzuki]</p>
<p><strong>Surat Al Lahab</strong></p>
<p>Surat Al Lahab (nama lainnya: surat Al Masad) mengisahkan paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang betul-betul memusuhi beliau yaitu Abu Lahab. Nama asli beliau adalah Abdul ‘Uzza bin ‘Abdil Mutholib. Nama kunyahnya adalah Abu ‘Utaibah. Namun beliau lebih dikenal dengan Abu Lahab, karena wajahnya yang memerah (makna lahab: api yang bergejolak). Beliau lah yang paling banyak menentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga Allah Ta’ala membicarakan Abu Lahab dalam satu surat.</p>
<p>Berikut beberapa pelajaran tafsir yang kami gali dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim (karya Ibnu Katsir) dan kami tambahkan faedah dari kitab tafsir lainnya. Semoga manfaat.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)</p>
<p>“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.  Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al Lahab: 1-5)</p>
<p>Sebab Turunnya Ayat</p>
<p>Mengenai asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat ini diterangkan dalam riwayat berikut:</p>
<p>عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَصَعِدَ إِلَى الْجَبَلِ فَنَادَى يَا صَبَاحَاهْ فَاجْتَمَعَتْ إِلَيْهِ قُرَيْشٌ فَقَالَ أَرَأَيْتُمْ إِنْ حَدَّثْتُكُمْ أَنَّ الْعَدُوَّ مُصَبِّحُكُمْ أَوْ مُمَسِّيكُمْ أَكُنْتُمْ تُصَدِّقُونِي قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ أَلِهَذَا جَمَعْتَنَا تَبًّا لَكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ إِلَى آخِرِهَا</p>
<p>“Dari Ibnu Abbas bahwa suatu hari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam keluar menuju Bathha`, kemudian beliau naik ke bukit seraya berseru, &#8220;Wahai sekalian manusia.&#8221; Maka orang-orang Quraisy pun berkumpul. Kemudian beliau bertanya, &#8220;Bagaimana, sekiranya aku mengabarkan kepada kalian, bahwa musuh (di balik bukit ini) akan segera menyergap kalian, apakah kalian akan membenarkanku?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Ya.&#8221; Beliau bersabda lagi, &#8220;Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian. Sesungguhnya di hadapanku akan ada adzab yang pedih.&#8221; Akhirnya Abu Lahab pun berkata, &#8220;Apakah hanya karena itu kamu mengumpulkan kami? Sungguh kecelakanlah bagimu.&#8221; Maka Allah menurunkan firman-Nya: &#8220;TABBAT YADAA ABII LAHAB..&#8221; Hingga akhir ayat.” (HR. Bukhari no. 4972 dan Muslim no. 208)</p>
<p>Tafsir Ayat</p>
<p>Ayat (تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ), yaitu binasalah kedua tangan Abu Lahab, menunjukkan do’a kejelekan padanya. Sedangkan ayat (وَتَبَّ), yaitu sungguh dia akan binasa, menunjukkan kalimat berita.</p>
<p>Firman Allah Ta’ala (تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ), maksudnya adalah sungguh Abu Lahab merugi, putus harapan, amalan dan usahanya sia-sia. Sedangkan makna (وَتَبَّ), maksudnya adalah kerugian dan kebinasaan akan terlaksana.</p>
<p>Firman Allah Ta’ala (مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ), yang dimaksud (وَمَا كَسَبَ) yaitu apa yang ia usahakan adalah anaknya.</p>
<p>Firman Allah Ta’ala (سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ), yaitu kelak Abu Lahab akan mendapat balasan yang jelek dan akan disiksa dengan api yang bergejolak, sehingga ia akan terbakar dengan api yang amat panas.</p>
<p>Firman Allah Ta’ala (وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ), istri Abu Lahab biasa memikul kayu bakar. Istri Abu Lahab bernama Ummu Jamil, salah seorang pembesar wanita Quraisy. Nama asli beliau adalah Arwa binti Harb bin Umayyah. Ummu Jamil ini adalah saudara Abu Sufyan. Ummu Jamil punya kelakuan biasa membantu suaminya dalam kekufuran, penentangan dan pembakangan pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, pada hari kiamat, Ummu Jamil akan membantu menambah siksa Abu Lahab di neraka Jahannam. Oleh karena itu, Allah Ta’ala katakan dalam ayat selanjutnya,</p>
<p>وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)</p>
<p>“Dan (begitu pula) istri Abu Lahab, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” Yaitu istri Abu Lahab akan membawa kayu bakar, lalu ia akan bertemu suaminya Abu Lahab. Lalu ia menambah siksaan Abu Lahab. Dan memang istri Abu Lahab dipersiapkan untuk melakukan hal ini.</p>
<p>Yang dimaksud firman Allah Ta’ala (فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ), yaitu maksudnya di leher Ummu Jamil ada tali sabut dari api neraka. Sebagian ulama memaknakan masad dengan sabut. Ada pula yang mengatakan masad adalah rantai yang panjangnya 70 hasta. Ats Tsauri mengatakan bahwa masad adalah kalung dari api yang panjangnya 70 hasta.<br />
<strong><br />
Tafsiran Istri Abu Lahab Pembawa Kayu Bakar</strong></p>
<p>Di sini ada beberapa tafsiran ulama:</p>
<p>Pertama: Mengenai ayat (حَمَّالَةَ الْحَطَبِ), pembawa kayu bakar maksudnya adalah Ummu Jamil adalah wanita sering menyebar namimah, yaitu si A mendengar pembicaraan B tentang C, lantas si A menyampaikan berita si B pada si C dalam rangka adu domba. Ini pendapat sebagian ulama.</p>
<p>Kedua: Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud Ummu Jamil pembawa kayu bakar adalah karena kerjaannya sering meletakkan duri di jalan yang biasa dilewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat yang dipilih Ibnu Jarir Ath Thobari.</p>
<p>Ketiga: Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud (حَمَّالَةَ الْحَطَبِ) adalah Ummu Jamil biasa mengenakan kalung dengan penuh kesombongan. Lantas ia katakan, “Aku aku menginfakkan kalung ini dan hasilnya digunakan untuk memusuhi Muhammad.” Akibatnya, Allah Ta’ala memasangkan tali di lehernya dengan sabut dari api neraka.<br />
<strong><br />
Surat Al Lahab adalah Bukti Nubuwwah</strong></p>
<p>Surat ini merupakan mukjizat yang jelas-jelas nampak yang membuktikan benarnya nubuwwah (kenabian), bahwasanya betul-betul beliau adalah seorang Nabi. Karena sejak turun firman Allah Ta’ala,</p>
<p>سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)</p>
<p>“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.  Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut”, Abu Lahab dan Ummu Jamil tidaklah beriman sama sekali baik secara zhahir atau batin, dinampakkan atau secara sembunyi-sembunyi. Maka inilah bukti benarnya nubuwwah beliau. Apa yang dikabarkan pada beliau, maka itu benar adanya.<br />
<strong></p>
<blockquote><p>Faedah berharga dari Surat Al Lahab:</strong></p>
<p>   1. Allah telah menetapkan akan kebinasaan Abu Lahab dan membatalkan tipu daya yang ia perbuat pada Rasulnya.<br />
   2. Hubungan kekeluargaan dapat bermanfaat jika itu dibangun di atas keimanan. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Lahab punya kedekatan dalam kekerabatan, namun hal itu tidak bermanfaat bagi Abu Lahab karena ia tidak beriman.<br />
   3. Anak merupakan hasil usaha orang tua sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya anak adalah hasil jerih payah orang tua.” (HR. An Nasai no. 4452, Ibnu Majah no. 2137,  Ahmad 6/31. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini shahih). Jadi apa pun amalan yang dilakukan oleh anak baik shalat, puasa dan amalan lainnya, orang tua pun akan memperoleh hasilnya.<br />
   4. Tidak bermanfaatnya harta dan keturunan bagi orang yang tidak beriman, namun sebenarnya harta dan keturunan dapat membawa manfaat jika seseorang itu beriman.<br />
   5. Api neraka yang bergejolak.<br />
   6. Mendengar berita neraka dan siksaan di dalamnya seharusnya membuat seseorang takut pada Allah dan takut mendurhakai-Nya sehingga ia pun takut akan maksiat.<br />
   7. Bahaya saling tolong menolong dalam kejelekan sebagaimana dapat dilihat dari kisah Ummu Jamil yang membantu suaminya untuk menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
   8. Akibat dosa namimah, yaitu menyulut api permusuhan sehingga diancam akan disiksa dengan dikalungkan tali sabut dari api neraka.<br />
   9. Siksaan pedih akibat menyakiti seorang Nabi.<br />
  10. Terlarang menyakiti seorang mukmin secara mutlak.<br />
  11. Setiap Nabi dan orang yang mengajak pada kebaikan pasti akan mendapat cobaan dari orang yang tidak suka pada dakwahnya. Inilah sunnatullah yang mesti dijalani dan butuh kesabaran.<br />
  12. Akibat jelek karena infaq dalam kejelekan dan permusuhan.<br />
  13. Benarnya nubuwwah (kenabian) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
  14. Ummu Jamil dan Abu Lahab mati dalam keadaan kafir secara lahir dan batin, mereka akan kekal dalam neraka.<br />
  15. Tidak boleh memakai nama dengan bentuk penghambaan kepada selain Allah, karena Abu Lahab disebut dalam ayat ini tidak menggunakan nama aslinya yaitu Abdul Uzza (hamba Uzza). Padahal Al Qur’an biasa jika menyebut nama orang akan disebut nama aslinya. Maka ini menunjukkan terlarangnya model nama semacam ini karena mengandung penghambaan kepada selain Allah. (Ahkamul Quran, Al Jashshosh, 9/175)<br />
  16. Nama asli (seperti Muhammad) itu lebih mulia daripada nama kunyah (nama dengan Abu &#8230; dan Ummu &#8230;). Alasannya karena dalam ayat ini demi menghinakan Abu Lahab, ia tidak disebut dengan nama aslinya namun dengan nama kunyahnya. Sedangkan para Nabi dalam Al Quran selalu disebut dengan nama aslinya (seperti Muhammad) dan tidak pernah mereka dipanggil dengan nama kunyahnya. (Ahkamul Quran, Ibnul ‘Arobi, 8/145)<br />
  17. Kedudukan mulia yang dimiliki Abu Lahab dan istrinya tidak bermanfaat di akhirat. Ini berarti kedudukan mulia tidak bermanfaat bagi seseorang di akhirat kelak kecuali jika ia memiliki keimanan yang benar.<br />
  18. Imam Asy Syafi’i menyebutkan bahwa pernikahan sesama orang musyrik itu sah, karena dalam ayat ini Ummu Jamil dipanggil dengan “imro-ah” (artinya: istrinya). Berarti pernikahan antara Ummu Jamil dan Abu Lahab yang sama-sama musyrik itu sah.
</p></blockquote>
<p>Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk terus mengkaji Al Quran dan menggali faedah di dalamnya.</p>
<p>Referensi:</p>
<p>Ahkamul Qur’an, Al Jashshosh Al Hanafi, Asy Syamilah</p>
<p>Ahkamul Qur’an, Ibnul ‘Arobi, Asy Syamilah</p>
<p>Aysarut Tafaasir, Abu Bakr Jaabir Al Jazairi, Maktabah Adwail Munir.</p>
<p>Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.</p>
<p>Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, Darul Fawaid – Dar Ibnu Rajab.</p>
<p>Faedah dari Kajian Ustadz Dzulkarnaen mengenai Tafsir Ayat Ahkam, akhir Maret 2010, di Masjid Pogung Raya</p>
<p>Panggang-GK, malam hari, 2 Jumadil Ula 1431 H (16/04/2010)</p>
<p>Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel dari <strong>www.rumaysho.com</strong></p>
<div style='display:none' id="post-refEl-3394"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/08/abu-lahab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abū Thālib bin ‘Abdul-Muthalib</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/07/abu-thalib-bin-%e2%80%98abdul-muththalib/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/07/abu-thalib-bin-%e2%80%98abdul-muththalib/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 05:06:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paman dan Bibi Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=3382</guid>
		<description><![CDATA[
Abū Thālib bin ‘Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: أبو طالب بن عبد المطلب‎) (549/550 &#8211; 619) adalah ayah dari Ali bin Abi Thalib serta paman dari Nabi Muhammad. 
Sebagai pemimpin Bani Hasyim setelah kematian ayahnya, Abdul-Muththalib, ia menjadi pengasuh Nabi Muhammad dan kemudian pendukung utama dalam berdakwah. Ia menikah dengan Fatimah binti Asad dan memiliki 6 orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/07/abu-thalib.jpg" alt="abu thalib" title="abu thalib" width="346" height="377" class="alignnone size-full wp-image-3383" /><br />
Abū Thālib bin ‘Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: أبو طالب بن عبد المطلب‎) (549/550 &#8211; 619) adalah ayah dari Ali bin Abi Thalib serta paman dari Nabi Muhammad. </p>
<p>Sebagai pemimpin Bani Hasyim setelah kematian ayahnya, Abdul-Muththalib, ia menjadi pengasuh Nabi Muhammad dan kemudian pendukung utama dalam berdakwah. Ia menikah dengan Fatimah binti Asad dan memiliki 6 orang anak.</p>
<p><strong>Keluarga</strong></p>
<p>Abu Thalib bin Abdul Muthalib memiliki empat orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan, yaitu</p>
<p>   1. Thalib bin Abu Thalib<br />
   2. Ja&#8217;far bin Abu Thalib<br />
   3. Ali bin Abu Thalib<br />
   4. Aqil bin Abu Thalib<br />
   5. Fakhtihah binti Abu Thalib<br />
   6. Jumanah binti Abu Thalib (Ummi Hani)</p>
<p><strong>Masa sebelum Islam</strong></p>
<p>Ia adalah anak dari Abdul Muthalib dan Fatimah bin Amr dan memiliki sembilan saudara yang salah satunya adalah Abdullah bin Abdul Muthalib yang merupakan ayah dari Nabi Muhammad. Ia merupakan pengasuh dari Nabi Muhammad setelah meninggalnya Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab hingga Nabi Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid.</p>
<p>Nama sebenarnya adalah <strong>Abdu Manaf bin Abdul Muthalib bin Hasyim</strong>, sedang “Abu Thalib” adalah nama Panggilan yang berasal dari putra pertamanya yaitu Thalib [nama kunyah= nama yang melekat pada orangtua berdasarkan nama anak lelaki pertama dalam keluarga] . Abu Thalib adalah paman dan ayah asuh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, Ia adalah ayah dari Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Abu Thalib telah menerima amanat dari ayahnya Abdul Mutthalib untuk mengasuh Nabi dan telah dilaksanakan amanat tersebut. Nabi adalah sebaik-baik asuhan dan Abu Thalib adalah sebaik-baik pengasuh.</p>
<p><strong>Setelah Kenabian Muhammad (570-632)<br />
</strong><br />
Setelah Muhammad diangkat sebagai rasul dan nabi, ia merupakan pelindung utama dari keluarga Bani Hasyim dari serangan masyarakat Mekkah dan sekitarnya.</p>
<p>Abu Thalib membela Nabi dengan jiwa raganya dalam berdakwah. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan pengikutnya di hadang di sebuah lembah. Lalu datanglah Abu Thalib dengan tegar berkata: “Kalian tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku”. Abu Thalib selalu setia mendampingi Nabi. Beliau adalah orang yang banyak membantu perjuangan dakwah Islam.</p>
<p>Abu Thalib adalah paman Nabi yang menjadi &#8216;ayah asuh&#8217; Nabi sejak beliau kecil dan pelindung awal Nabi ketika memulai dakwah Islam. Di dalam kitab tarikh diceritakan ketika Muhammad kecil bersama pamannya berdagang ke kota Busrah, di sana keduanya bertemu dengan pendeta Nasrani. Saat itu umur Muhammad, 12 tahun. Pendeta itu melihat tanda nubuwah (kenabian) dalam diri Nabi. Pendeta itu khawatir jika itu diketahui orang Yahudi akan mengganggu keselamatan Nabi Muhammad kekhawatiran itu karena tanda-tanda kenabian itu tidak diturunkan kepada orang Yahudi tapi pada orang Quraisy. Abu Thalib mematuhi nasihat pendeta itu dan segera membawa Muhammad kecil kembali ke kota Makkah.</p>
<p>Catatan sejarah ini membuktikan, sebelum Muhammad kecil diangkat menjadi Nabi. Pamannya Abu Thalib sudah meyakini tanda-tanda kenabian Muhammad sebelum orang lain mengenal kenabiannya. Apakah wajar jika seorang tua yang mengangkat Muhammad kecil sebagai anaknya, kemudian mempercayainya untuk mendampinginya dalam berbisnis, lalu melindungi tanda-tanda kenabiannya agar selamat dari serangan orang kafir dan merawat hingga dewasa, kita meragukan keimanannya kepada kerasulan Nabi? Mungkin ada yang berpendapat, pamannya melindungi bukan karena tanda-tanda kenabiannya, tapi karena keponakannya yang memiliki hubungan darah kepadanya? Jika demikian halanya mengapa Abu Jahal yang juga pamannya membenci dan hendak membunuhnya? Jadi hemat saya Abu Thalib meyakini tanda kenabian Muhammad bukan saja karena hubungan darah tapi juga karena mengimani tanda-tanda kenabian Muhammad yang langsung ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, tanpa ragu sedikit pun.</p>
<p>Ketika orang-orang kafir Quraisy menggunakan berbagai macam cara untuk menghalangi dakwah Nabi, sampai kepada menawarkan iming-iming berupa jabatan, harta dan wanita. Jika Nabi menerimanya maka dia mendapatkan seluruh kemewahan duniawi yang diingini banyak orang, tapi karena tujuannya bukanlah ketiga hal tersebut maka ia menolaknya. Maka kemarahan orang kafir Quraisy dipimpin Abu Sofyan pun memuncak. Mereka lalu bermusyawarah dan bersepakat akan membunuh Nabi Muhammad, mereka menunjuk agar masing-masing kabilah (suku) mengutus utusannya dan dipilih orang yang paling kuat, paling gagah dan paling berani untuk membunuh Nabi. Akan tetapi sebelum mereka menyerang Nabi, mereka bersepakat mengirim utusan terakhir untuk disampaikan kepada Abu Thalib paman Nabi. Mereka pun pergi dan menghadap kepada paman Nabi dan menyampaikan keinginan mereka yang tegas bahwa jika Abu Thalib tidak bisa menghentikan keponakannya menyampaikan agama barunya itu, maka kami akan membunuhnya.</p>
<p>Berita itu membuat pamannya cemas, akhirnya ia memanggil keponakannya Muhammad dan berkata, Wahai Muhammad, orang-orang itu datang dan meminta kepadaku agar menyampaikan kepada engkau agar menghentikan agama barumu itu karena aku khawatir akan keselamatanmu. Nabi Muhammad menjawab, Wahai pamanku andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, aku tidak akan mundur selangkah pun meskipun aku hancur karenanya.&#8217; Ucapan Nabi yang demikian teguhnya membuat pamannya terharu, simpatik dan semakin yakin dengan kebenaran agama baru itu. Ketika orang-orang kafir Quraisy itu menemui paman Nabi untuk yang kesekian kalinya Abu Thalib berkata kepada mereka, Kalian tidak dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku. Dari catatan sejarah itu, awalnya Abu Thalib kelihatan  berada pada posisi di tengah atau netral, namun setelah melihat sikap Nabi yang demikian meyakinkan dirinya membuat itu menjatuhkan pilihan untuk membela Nabi sampai titik darah penghabisan.</p>
<p>Peran Abu Thalib tidak hanya sampai dalam melindungi fisik Nabi, tapi memikirkan masa depan rumah tangga Nabi. Abu Thalib yang melakukan pendekatan dan meyakinkan agar Muhammad keponakannya menerima lamaran Khadijah, meskipun awalnya Nabi kelihatan ragu untuk menerima pinangan Khadijah, tapi karena peran Abu Thalib dalam meyakinkan Nabi bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang berbudi pekerti luhur dan memiliki kedudukan terhormat, maka Nabi menerima Khadijah sebagai istri. Berhasilnya peran Abu Thalib menghubungkan keduanya menjadi suami istri, membuat Nabi tidak saja disegani, tapi dihormati karena kedudukan Nabi yang berstatus sebagai orang yang berkecukupan secara finansial dan memiliki kedudukan yang terhormat karena menjadi suami dari seorang wanita yang kaya raya lagi disegani masyarakatnya.  </p>
<p>Tidak berlebihan jika dikatakan Abu Thaliblah yang memiliki jasa paling besar dalam mendidik Nabi dan memikirkan masa depannya. Sehingga Abu Thalib bukan saja sebagai sosok seorang paman, tapi juga sudah menjadi seperti seorang ayah bagi Nabi. Ketika pamannya meninggal, Nabi sangat terpukul dan bersedih, air mata beliau basah mengaliri pipinya, sambil mengusap kening pamannya, Nabi mendoakan agar pamannya diberikan imbalan yang sebaik-baiknya dari Allah karena jasanya yang demikian besar. Meninggalnya paman Beliau, sebulan kemudian istri Nabi Khadijah, meninggal dunia juga. Sehingga tahun itu menjadi tahun yang sangat penuh duka cita mendalam. Berbulan-bulan Nabi merasakan kepedihan hati. Sehingga tahun ini disebut dalam sejarah sebagai tahun duka cita (&#8217;amul huzni)</p>
<p>Abu Thalib ketika mau meninggal dunia berwasiat kepada keluarganya untuk selalu berada di belakang Nabi dan membelanya untuk menenangkan dakwahnya.</p>
<p><strong><br />
Kematian</strong></p>
<p>Ia wafat pada tahun 3 SH.  Ia meninggal pada tahun yang sama dengan meninggalnya Khadijah binti Khuwailid, yaitu pada tahun 619 M.</p>
<p>Disalin dari riwayat Abu Thalib dalam Ishabah 1/117, Thabaqat Ibn Sa’ad 1/24 dan sumber lainnya</p>
<div style='display:none' id="post-refEl-3382"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/07/abu-thalib-bin-%e2%80%98abdul-muththalib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hamzah bin Abdul Muthalib</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/06/hamzah-bin-abdul-muthalib/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/06/hamzah-bin-abdul-muthalib/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jun 2010 09:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paman dan Bibi Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=2535</guid>
		<description><![CDATA[
Hamzah bin Abdul-Muththalib (bahasa arab : حمزه بن عبدالمطلب  ) adalah sahabat sekaligus paman dan saudara sepersusuan Nabi Muhammad  SAW. Ia memiliki julukan &#8220;Singa Allah&#8221; karena kepahlawanannya saat membela Islam.

Kelahiran &#038; Kehidupan Keluarga
Hamzah lahir diperkirakan hampir bersamaan dengan Muhammad. Ia merupakan anak dari Abdul-Muththalib dan Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah. Menurut riwayat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/06/3064962983_9ee846a956.jpg" alt="3064962983_9ee846a956" title="3064962983_9ee846a956" width="500" height="337" class="alignnone size-full wp-image-3404" /><br />
<strong>Hamzah bin Abdul-Muththalib</strong> (bahasa arab : حمزه بن عبدالمطلب  ) adalah sahabat sekaligus paman dan saudara sepersusuan Nabi Muhammad  SAW. Ia memiliki julukan &#8220;Singa Allah&#8221; karena kepahlawanannya saat membela Islam.</p>
<p><strong><br />
Kelahiran &#038; Kehidupan Keluarga</strong></p>
<p>Hamzah lahir diperkirakan hampir bersamaan dengan Muhammad. Ia merupakan anak dari Abdul-Muththalib dan Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah. Menurut riwayat, pernikahan Abdul-Muththalib dan Abdullah bin Abdul-Muththalib terjadi bersamaan waktunya, dan ibu dari Nabi, Aminah binti Wahab, adalah saudara sepupu dari Haulah binti Wuhaib.</p>
<p>Hamzah mendapat gelar &#8217;singa Allah dan Rasul&#8217; atas keberaniannya membela Islam dan Muhammad, sang Nabi yang juga keponakannya. Umur Hamzah diperkirakan tak terpaut jauh dengan keponakannya itu. Mereka berdua merupakan teman sepermainan sejak kanak-kanak.</p>
<p>Tak heran jika Hamzah menjadi orang yang paling dekat dan mengenal secara mendalam kepribadian Muhammad. Keduanya memiliki hubungan yang sangat kuat. Meski demikian, sebagaimana Bani Muttalib lainnya, Hamzah memang tidak langsung menerima dan memeluk agama yang diwahyukan kepada Muhammad.</p>
<p>Walaupun dalam lubuk hatinya, ia tak bisa mengingkari keluhuran budi pembawa risalah tersebut. Meski demikian, ia tak memperlihatkan rasa tidak suka terhadap dakwah Muhammad, seperti yang dilakukan orang-orang Quraiys.</p>
<p>Bahkan ia selalu memberikan perlindungan terhadap diri Nabi Muhammad. Pada saat kaum kafir memperlihatkan kebencian yang kian meningkat, ia pun meningkatkan perlindungan kepada Muhammad. Beruntung, Hamzah ditakdirkan menjadi pria perkasa.</p>
<p>Hamzah memiliki fisik yang kuat. Ia pun terkenal sebagai penunggang kuda yang cekatan, ahli pedang, dan bela diri di seantero Makkah. Hamzah merupakan manusia padang pasir yang lebih suka menyendiri. Ia juga dikenal sebagai seorang pemburu rusa yang mumpuni.</p>
<p>Pada salah satu kisah perburuan rusa, Hamzah dikejutkan dengan suatu keributan. Ternyata, seekor singa telah memasuki kemahnya. Setelah menurunkan rusa yang baru saja di burunya, ia kemudian menghadapi singa itu seorang diri. Berbekal keahliannya, akhirnya, ia berhasil mengakhiri keganasan binatang buas tersebut.</p>
<p>Lalu ia pun menguliti singa tersebut, dan melemparkan kulitnya ke atas pelana kudanya. Orang-orang Makkah melihat kulit singa di pelana kuda Hamzah mafhum dengan keberanian dan kepiawaian Hamzah. Kegagahannya itu, membuat lawan-lawannya merasa gentar meski hanya mendengar namanya.</p>
<p>Bahkan ia berani melabrak petinggi Quraiys semacam Abu Jahal. Penyebabnya, Abu Jahal telah memperlakukan keponakannya, Muhammad, secara tak hormat.</p>
<p>Pada suatu hari, Abu Jahal berjalan melewati Rasulullah Muhammad ketika ia berada di Safa. Pada saat bertemu muka, ia pun mulai mencaci, memaki dan melampiaskan amarahnya kepada rasul. Meski demikian, Muhammad tidak menanggapi semua perilaku Abu Jahal.</p>
<p>Usai menumpahkan segala amarahnya, Abu Jahal bergegas bergabung dalam pertemuan petinggi Quraiys. Tanpa sepengetahuannya, tindakan Abu Jahal diketahui oleh seorang wanita, budak Jud&#8217;an bin Amir. Tak lama berselang terlihat Hamzah memasuki Makkah dengan busur di bahunya, usai berburu.</p>
<p>Rekan Abu Jahal melihat itu langsung bergegas untuk mengingatkan Abu Jahal bahwa Hamzah telah datang dari berburu dan khawatir akan mendengar perlakuan Abu Jahal terhadap keponakannya.</p>
<p>Menjadi kebiasaan Hamzah, setelah berburu ia pergi ke Baitullah untuk berthawaf, sebelum ia kembali ke keluarganya. Setelah melihat Hamzah, budak wanita Jud&#8217;an bin Amir menghampirinya dan mengisahkan apa yang dilakukan Abu Jahal kepada Rasulullah SAW.</p>
<p>Amarah menjalar ke seluruh tubuhnya setelah mendengarkan kisah wanita itu. Bergegas ia mencari Abu Jahal. Ia telah menetapkan niat untuk menghajar dan memberi pelajaran kepada Abu Jahal. Di Masjid yang tak jauh dari Ka&#8217;bah, ia melihat Abu Jahal.</p>
<p>Sesampainya di hadapan Abu Jahal, langsung saja Hamzah memukulkan busurnya ke kepala Abu Jahal. Darah segar pun mengucur. Tak hanya itu, ia pun memukul tubuh lawannya hingga babak belur dan tersungkur. Hamzah tetap berdiri gagah di hadapan petinggi Quraiys itu.</p>
<p>Di hadapan mereka ia menyatakan bahwa ia berada di pihak Muhammad. Hamzah pun kemudian memberikan kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Pada saat Abu Jahal tersungkur, orang-orang dari suku Makhzumah ingin menolongnya. Namun dicegah Hamzah, mereka pun kembali duduk.</p>
<p>Para petinggi Quraiys saling pandang. Semula mereka akan menentang Hamzah atas perlakuannya terhadap Abu Jahal. Namun mereka pun rupanya takut dan akhirnya kembali duduk di masjid. Beberapa saat kemudian ia menendang debu ke arah muka para petinggi Quraiys itu, dan meninggalkan tempat itu.</p>
<p>Pembelaan dan pernyataan Hamzah, telah menyadarkan kafir Quraiys bahwa Hamzah yang gagah berani akan selalu membela Muhammad. Tak heran jika kemudian mereka mulai menimbang akibat ketika akan mengganggu nabi yang mulia itu. Abu Sufyan menyatakan bahwa Muhammad telah mendapatkan teman yang kuat dan sangat disegani.</p>
<p>Allah memperkuat agamanya dengan masuknya Hamzah ke dalam Islam. Ia berdiri tegar dan siap membela rasul. Sejak memeluk Islam ia mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk kemajuan Islam. Sehingga Rasulullah SAW memberinya gelar Asad Allah wa Asad Rasulih (Singa Allah dan Rasulnya). </p>
<p><strong>Perang Dan Kematian Hamzah<br />
</strong></p>
<p>Thabarani telah mengeluarkan dari Al-Harits At-Taimi dia berkata: Adalah Hamzah bin Abdul Mutthalib r.a. pada hari pertempuran di Badar membuat tanda dengan bulu burung Na&#8217;amah (Bangau). Sesudah selesai peperangan, maka seorang dari kaum Musyrikin bertanya: Siapa orang yang bertanda dengan bulu burung Na&#8217;amah itu?</p>
<p>Maka orang berkata: Dialah Hamzah bin Abdul Mutthalib. Sahut orang itu lagi: Dialah orang yang banyak mepermalukan kita di dalam peperangan itu. (Majma&#8217;uz Zawa&#8217;id 6:81)</p>
<p>Bazzar mengeluarkan dari Abdul Rahman bin Auf ra. dia berkata: Bertanya Umaiyah bin Khalaf kepadanya: Hai Abdullah! Siapa orang yang memakai bulu burung Na&#8217;amah di dadanya pada perang Badar itu?</p>
<p>Jawabku: Dia itu paman Muhammad, dialah Hamzah bin Abdul Mutthalib ra.</p>
<p>Berkata lagi Umaiyah bin Khalaf: Dialah orang yang banyak mempermalukan kita dengan senjatanya sehingga dia dapat membunuh banyak orang di antara kita. (Majma&#8217;uz Zawa&#8217;id 6:81)</p>
<p>Pada saat pasukan Muslim bertemu dengan pasukan Kafir Quraiys di Perang Badr, Hamzah betul-betul memperlihatkan keberanian dan kecakapan perang yang luar biasa. Banyak orang kafir Quraiys tumbang di tangannya. Bahkan ayah Hindun, seorang petinggi Quraiys mati di ujung pedangnya.</p>
<p>Pada Perang Badr, umat Islam mendapatkan kemenangan gemilang. Orang-orang kafir mundur dengan teratur. Tak heran jika kekalahan ini menumbuhkan dendan kesumat di dada mereka. Hamzah pun dianggap memiliki peran besar dalam kekalahan mereka.</p>
<p>Untuk membalas kekalahan, mereka kemudian terlibat dalam Perang Uhud. Selain nyawa Nabi yang menjadi incaran, Hamzah pun telah ditetapkan menjadi target sebagai tumbal kekalahan pasukan kafir pada Perang Badr.</p>
<p>Hindun yang ayahnya terbunuh oleh Hamzah menetapkan strategi. Ia memerintahkan seorang budak bernama Wahsyi yang mahir memanah, untuk membunuh Hamzah di medan perang. Dan menjanjikan kemerdekaan kepada budak tersebut.</p>
<p>Hakim telah mengeluarkan dari Sabir bin Abdullah ra. dia berkata: Rasulullah SAW mencari-cari Hamzah pada hari Uhud setelah selesai peperangan, dan setelah semua orang berkumpul di sisinya: Di mana Hamzah? Maka salah seorang di situ menjawab: Tadi, saya lihat dia berperang di bawah pohon di sana, dia terus menerus mengatakan: Aku singa Allah, dan singa RasulNya! Ya Allah, ya Tuhanku! Aku mencuci tanganku dari apa yang dibawa oleh mereka itu, yakni Abu Sufyan bin Harb dan tentera Quraisy. Dan aku memohon uzur kepadamu dari apa yang dibuat oleh mereka itu dan kekalahan mereka, yakni tentera Islam yang melarikan diri! </p>
<p>Lalu Rasulullah SAW pun menuju ke tempat itu, dan didapati Hamzah telah gugur. Sewaktu Beliau melihat dahinya, Beliau menangis, dan melihat mayatnya dicincang-cincang, Beliau menarik nafas panjang. Kemudian Beliau berkata: Tidak ada kain kafan buatnya?! Maka segeralah seorang dari kaum Anshar membawakan kain kafan untuknya. Berkata Jabir seterusnya, bahwa Rasulullah SAW telah berkata: Hamzah adalah penghulu semua orang syahid nanti di sisi Allah pada hari kiamat. (Hakim 3:199)</p>
<p>Ibnu Ishak telah mengeluarkan dari Ja&#8217;far bin Amru bin Umaiyah Adh-Dhamri, dia berkata: Aku keluar bersama Abdullah bin Adiy bin Al-Khiyar pada zaman Mu&#8217;awiyah ra&#8230; dan disebutkan ceritanya hingga kami duduk bersama Wahsyi (pembunuh Hamzah ra.), maka kami berkata kepadanya: Kami datang ini untuk mendengar sendiri darimu, bagaimana engkau membunuh Hamzah ra. </p>
<blockquote><p>
Wahsyi bercerita: Aku akan memberitahu kamu berdua, sebagaimana aku telah memberitahu dahulu kepada Rasulullah SAW ketika Beliau bertanya ceritanya dariku.</p></blockquote>
<p>Pada mulanya, aku ini adalah hamba kepada Jubair bin Muth&#8217;im, dan pamannya yang bernama Thu&#8217;aimah bin Adiy telah mati terbunuh di perang Badar. Pada saat kaum Quraisy keluar untuk berperang di Uhud, Jubair berkata kepadaku: Jika engkau dapat membunuh Hamzah, paman Muhammad untuk menuntut balas kematian pamanku di Badar, engkau akan aku merdekakan. Begitu tentara Quraisy keluar ke medan Uhud, aku turut keluar bersama mereka. </p>
<p>Aku seorang Habsyi yang memang mahir untuk melempar pisau , dan sebagaimana biasanya orang Habsyi, jarang-jarang tidak mengenai sasaran apabila melempar. Apabila kedua belah pihak bertempur di medan Uhud itu, aku keluar mencari-cari Hamzah untuk kujadikan sasaranku, hingga aku melihatnya di antara orang yang bertarung, seolah-olahnya dia unta yang mengamuk, terus memukul dengan pedangnya segala apa yang datang menyerangnya, tiada seorang pun yang dapat melawannya. Aku pun bersiap untuk menjadikannya sasaranku. Aku lalu bersembunyi di balik batu berdekatan dengan pohon yang dia sedang bertarung, sehingga sewaktu dia datang berdekatan denganku, mudahlahlah aku melemparkan pisau racunku itu.</p>
<p>Tatkala dia dalam keadaan begitu, tiba-tiba datang menyerangnya Sibak bin Abdul Uzza. Hamzah melihat Sibak datang kepadanya, lalu dia berteriak: Ayo ke sini, siapa yang mau mencari mati! Disabetnya dengan sekali ayunan kepalanya berguling di tanah. Maka pada ketika itulah, aku terus mengacung-acungkan pisau bengkokku itu, dan saat aku rasa sudah tepat sasaranku, aku pun melemparkannya ke Hamzah mengenai bawah perutnya terus rnenembu bawah selangkangnya. </p>
<p>Dia mencoba menerkamku, tetapi dia sudah tidak berdaya lagi, aku lalu meninggalkannya di situ hingga dia mati. Kemudian aku kembali lagi untuk mengambil pisau bengkokku itu, dan aku membawanya ke perkemahan kami. Aku duduk di situ menunggu, dan aku tidak punya tujuan yang lain, kecuali membunuh Hamzah agar aku dapat dimerdekakan oleh tuanku. Dan itu sudah aku lakukan.</p>
<p><em>Ibnu Atsir berkata dalam kitab ‘Usud al Ghabah”, Dalam perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy, sampai pada suatu saat beliau tergelincir sehingga ia terjatuh kebelakang dan tersingkaplah baju besinya, dan pada saat itu ia langsung ditombak dan dirobek perutnya . lalu hatinya dikeluarkan oleh Hindun kemudian dikunyahnya hati Hamzah tetapi tidak tertelan dan segera dimuntahkannya.</em></p>
<p>Ketika Rasulullah melihat keadaan tubuh pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib, Beliau sangat marah dan Allah menurunkan firmannya ,” Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (Qs; an Nahl 126)</p>
<p>Kami kembali ke Makkah, seperti yang dijanjikan oleh tuanku, aku dimerdekakan. Aku terus tinggal di Makkah. Dan apabila kota Makkah ditaklukkan oleh Rasulullah SAW aku pun melarikan diri ke Tha&#8217;if dan menetap di sana. Ketika rombongan orang-orang Tha&#8217;if bersiap-siap hendak menemui Rasulullah SAW untuk memeluk Islam, aku merasa serba salah tidak tahu ke mana harus melarikan diri. Aku berfikir, apakah aku harus melarikan diri ke Syam, atau ke Yaman, ataupun ke negeri-negeri lainnya, sampai kapan aku akan menjadi orang buruan?! Demi Allah, aku merasakan diriku susah sekali.</p>
<p>Tiba-tiba ada orang yang datang kepadaku memberi nasehat: Apa yang engkau takutkan? Muhammad tidak membunuh orang yang masuk ke dalam agamanya, dan menyaksikan syahadat kebenaran! Aku tidak punya jalan lain kecuali menerima nasehat itu. Aku pun menuju ke Madinah untuk menemui Rasulullah SAW. Tanpa diduga tiba-tiba Beliau melihatku berdiri di hadapannya menyaksikan syahadat kebenaran itu. </p>
<p>Beliau lalu menoleh kepadaku seraya berkata: Apakah engkau ini Wahsyi? Jawabku: Saya, wahai Rasulullah! Beliau berkata lagi: Duduklah! Ceritakanlah bagaimana engkau rnembunuh Hamzah?! Aku lalu menceritakan kepadanya seperti aku menceritakan sekarang kepada kamu berdua.</p>
<blockquote><p>Setelah selesai bercerita, Nabi berkata kepadaku: Awas! Jangan lagi engkau datang menunjukkan wajahmu kepadaku! </p></blockquote>
<p>Karena itu aku terus-menerus menjauhkan diri dari Rasulullah SAW supaya Beliau tidak melihat wajahku lagi, sehinggalah Beliau wafat meninggalkan dunia ini. </p>
<p>Kemudian saat kaum Muslimin keluar untuk berperang dengan Musailimah Al-Kazzab, pemimpin kaum murtad di Yamamah, aku turut keluar untuk berperang melawannya. Aku bawa pisau bengkok yang membunuh Hamzah itu. Ketika orang-orang sedang bertempur, aku mencuri-curi masuk dan aku lihat Musailimah sedang berdiri dan di tangannya pedang yang terhunus, maka aku pun membuat persiapan untuk melemparnya dan di sebelahku ada seorang dari kaum Anshar yang sama tujuan denganku. Aku terus mengacung-acungkan pisau itu ke arahnya, dan setelah aku rasa bidikanku sudah cukup tepat, aku pun melemparkannya, dan mengenainya, lalu orang Anshar itu menghabisi hidupnya dengan pedangnya. Aku sendiri tidak memastikan siapa yang membunuh Musailimah itu, apakah pisau bengkokku itu, ataupun pedang orang Anshar tadi, hanya Tuhan sajalah yang lebih mengetahui. Jika aku yang membunuhnya, maka dengan demikian aku telah membunuh orang yang terbaik pada masa hidup Rasulullah SAW dan aku juga membunuh orang yang paling jahat sesudah masa Beliau. (Al-Bidayah Wan-Nihayah 4:18)</p>
<p>Diriwayatkan dari Jabir bahwa ketika Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melihat Hamzah terbunuh, maka beliau menagis.</p>
<p>Ia wafat pada tahun 3 H, dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dengan “Sayidus Syuhada”.</p>
<p>[islamuda.com] </p>
<p><strong><br />
Kematian</strong></p>
<p>Hamzah syahid pada Perang Uhud, dibunuh oleh Wahsyi bin Harb, seorang budak Ethiopia milik Hindun bin Utbah, istri dari Abu Sufyan bin Harb, yang ayahnya dibunuh oleh Hamzah pada Perang Badar. Hindun menjanjikan kebebasan untuk Wahsyi bila ia mampu membalaskan dendam Hindun dengan membunuh Hamzah.~~</p>
<div style='display:none' id="post-refEl-2535"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/06/hamzah-bin-abdul-muthalib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abbas Bin Abdul Muthalib</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/06/abbas-bin-abdul-muthalib/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/06/abbas-bin-abdul-muthalib/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jun 2010 09:29:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paman dan Bibi Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=2533</guid>
		<description><![CDATA[
Abbas bin Abdul-Muththalib (Arab: العباس بن عبد المطلب) (lahir 566 – wafat 653) adalah paman dan Sahabat dari Nabi Muhammad. Keturunan dari Abbas-lah yang menjadi golongan khalifah yang dikenal dengan nama Bani Abbasiyah yang pernah berkuasa di Baghdad.

Keturunan
Abbas memiliki 5 orang keturunan, diantaranya adalah
   1. Abdullah bin Abbas, yang kerap disebut pula Ibnu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/06/535537188d2ad1ac2e1yg9.jpg" alt="535537188d2ad1ac2e1yg9" title="535537188d2ad1ac2e1yg9" width="156" height="139" class="alignnone size-full wp-image-3402" /><br />
<strong>Abbas bin Abdul-Muththalib </strong>(Arab: العباس بن عبد المطلب) (lahir 566 – wafat 653) adalah paman dan Sahabat dari Nabi Muhammad. Keturunan dari Abbas-lah yang menjadi golongan khalifah yang dikenal dengan nama Bani Abbasiyah yang pernah berkuasa di Baghdad.<br />
<strong></p>
<p>Keturunan</strong></p>
<p>Abbas memiliki 5 orang keturunan, diantaranya adalah</p>
<p>   1. Abdullah bin Abbas, yang kerap disebut pula Ibnu Abbas. Dia pernah menjadi gubernur di Basrah pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dia meninggal dan dikuburkan di Thaif, Arab Saudi.<br />
   2. Ubaidillah bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Yaman pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Madinah.<br />
   3. Fahdl bin Abbas, dikuburkan di Syam.<br />
   4. Qutsam bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Bahrain pada masa Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Samarkand<br />
   5. Ma&#8217;bad bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Mekkah pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Afrika</p>
<p><strong><br />
Fakta penting</strong></p>
<p>    * Ia menikah dengan Ummu al-Fadhl Lubab dan ayah dari Abdullah bin Abbas dan Fadl bin Abbas.<br />
    * Ia dilahirkan hanya beberapa tahun sebelum keponakannya Muhammad, dan merupakan saudara termuda ayahnya Muhammad.<br />
    * Melalui keturunan putranya Abdullah bin Abbas, Bani Abbasiyah mengambil klaim atas gelar khalifah.<br />
    * Menurut sumber-sumber dari Sunni, ia tidak berbai&#8217;at kepada Abu Bakar sampai Ali bin Abi Thalib melakukannya.<br />
    * Ia dimakamkan di Pemakaman al-Baqi di Madinah.<br />
    * Ummu Fadl diklaim sebagai wanita kedua yang memeluk Islam, pada hari yang sama dengan sahabatnya Khadijah. Secara resmi, Abbas menerima Islam sesaat sebelum Pembebasan Mekkah, 20 tahun kemudian.[1]</p>
<div style='display:none' id="post-refEl-2533"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/06/abbas-bin-abdul-muthalib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paman &amp; Bibi Nabi</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/01/paman-bibi-nabi/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/01/paman-bibi-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 00:43:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paman dan Bibi Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[
Seperti bisa dilihat dari Silsilah Nabi Muhammad, Hasyim memiliki anak bernama Abdul Muthalib

Abdul Muthalib adalah kakek Rasulullah.  Ia seorang tokoh terkemuka Quraisy dari bani Hasyim memiliki beberapa putra dan putri, diantaranya:
   1. Al Haarits bin Abdul Muthalib, anak tertua beliau dan wafat dimasa hidup Abdul Muthalib. Dari anak-anak Al Harits yang masuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/01/5860_1137922213858_1401474950_30456289_4079662_n.jpg" alt="5860_1137922213858_1401474950_30456289_4079662_n" title="5860_1137922213858_1401474950_30456289_4079662_n" width="400" height="571" class="alignnone size-full wp-image-3399" /><br />
<strong>Seperti bisa dilihat dari Silsilah Nabi Muhammad, Hasyim memiliki anak bernama Abdul Muthalib<br />
</strong><br />
Abdul Muthalib adalah kakek Rasulullah.  Ia seorang tokoh terkemuka Quraisy dari bani Hasyim memiliki beberapa putra dan putri, diantaranya:</p>
<p>   1. <strong>Al Haarits bin Abdul Muthalib,</strong> anak tertua beliau dan wafat dimasa hidup Abdul Muthalib. Dari anak-anak Al Harits yang masuk Islam adalah Ubaidah terbunuh di parang badar, Rabi’ah, Abu Sufyaan dan Abdullah.<br />
   2. <strong>Az Zubair bin Abdul Muthalib,</strong> saudara kandung Abdullah (ayahanda Rasulullah), ia adalah penglima bani Hasyim dan bani Al Muthalib dalam perang Fijaar, seorang terhormat dan penyair, namun tidak menjumpai masa-masa Islam. Diantara anaknya yang masuk Islam adalah Abdullah terbunuh dalam perang Ajnadain, Dhuba’ah, Majl, Shafiyah dan ‘Atikah.<br />
   3. <strong>Hamzah bin Abdul Muthalib</strong>, paman sekaligus saudara sesusuan Rasulullah yang masuk Islam dan menjadi pahlawan islam di perang Badar dan Uhud. Beliau terbunuh syahid di perang Uhud.<br />
   4. <strong>Al Abaas bin Abdul Muthalib,</strong> yang masuk islam dan menjadi pembela Rasulullah dalam memperjuangkan Islam. Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum perang gajah dan meninggal tahun 32 H dalam usia 86 tahun.<br />
   5. <strong>Abu Lahab bin Abdul Muthalib, </strong>musuh besar dan penentang keras dakwah Rasululloh, sampai Allah turunkan firmanNya: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. (QS. 111:1-4) Ia mati setelah perang Badar. Diantara putra-putranya ‘Utaibah yang mati diterkam binatang buas, Utbah dan Mu’tib keduanya masuk islam pada hari penaklukan kota Makkah.<br />
   6. <strong>Abu Thalib Abdul Manaf bin Abdul Muthalib,</strong> paman Nabi yang memelihara dan membela beliau dalam penyebaran dakwah Islam, namun tidak mau masuk islam lantaran takut dicela kaumnya.<br />
   7. <strong>Jahl [Mughirah]</strong><br />
   8. <strong>Abdul  Ka&#8217;bah</strong><br />
   9. <strong>Qutsam</strong><br />
  10. <strong>Dhirar</strong><br />
  11.	<strong>Ghaidaq</strong> (merupakan gelar) sedangkan namanya adalah Mush’ab dan ada juga yang mengatakan Nofel dan ada juga yang mengatakan Muqawim.</p>
<p>Ada sebagian orang yang mengatakan hanya sepuluh, dengan menyatakan bahwa Abdul Ka’bah dan Muqawim itu orangnya sama, dan Jahl serta Ghaidaq itu juga sama.</p>
<p>  12.<strong> Abdullah bin Abdul Muthalib,</strong>anak terkecil,  ayah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.</p>
<p><strong><br />
<em>Inilah shirah singkat paman Nabi:</strong></em></p>
<p><strong>1. Hamzah</strong><br />
Hamzah adalah paman Nabi s.a.w. dan juga saudara sepersusuan beliau, yang sama—sama disusui oleh Tsuwaibah Al-Aslamiyah. Usianya hanya lebih tua sedikit dari Nabi. Ia merupakan singa Allah dan Rasul—Nya sebagaimana disebutkan  dalam beberapa riwayat. Ia hadir dalam perang Badr dan Uhud. Di Uhud ia mati syahid di tangan Wahsyi. Pada waktu itu di tubuhnya terdapat delapan puluh lebih luka bekas sabetan pedang, tikaman tombak dan tusukan anak panah.<br />
Anak—anaknya tidak ada yang meninggalkan keturunan.  Hamzah adalah seorang penghulu para syuhada. Dan dalam riwayat lain disebutkan bahwa sebaik-baik syuhada ummat ini di hari Kiamat adalah Hamzah. Disebutkan  juga bahwa Nabi s.a.w. berkata: &#8220;Sebaik-baik pamanku adalah Hamzah.&#8221;  </p>
<p><strong>2. Abbas</strong><br />
Abbas adalah paman Nabi yang paling muda usianya.   Umurnya hanya lebih tua dua atau tiga tahun dari Nabi SAW.   Ia hadir dalam perang Badr di pihak kaum musyrikin yang telah memperdayakannya.  Termasuk salah seorang tawanan perang dan ia pun menebus dirinya.  Ia masuk Islam sebelum penaklukan benteng Khaibar dan merahasiakannya sampai hari terjadinya penaklukan kota Makkah.  Ada pula yang mengatakan bahwa sebenamya ia sudah masuk Islam sebelum terjadinya perang Badr, namun ia merahasiakan keislamannya itu.   Ia hadir dalam perang Hunain bersama Nabi.   Nabi sangat mengagungkan dan memuji-muji dirinya.   Ia meninggal pada tahun ketigapuluh dua Hijriah dalam usia delapan puluh delapan tahun, dan dishalati oleh Utsman.  Ia dikaruniai sepuluh orang anak laki laki; ( tertua), Abdullah, Ubaidillah, Ma’badullah, Qutsam, Abdurrahman, Harits, Katsir, Auf dan Tamaam (anak bungsu); dan tiga anak   perempuan.   Yakni: Ummu Hubaib, Ummu Kultsum, dan Amimah.<br />
Diziwayatkan oleh Ibnu Asakir dan lainnya bahwa Nabi SAW  berkata:  &#8220;Ya Allah, menangkanlah Abbas dah putra Abbas sebanyak tiga kali”<br />
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al Hakim dan Abu Nu’aim dari sahabat Ibnu Umar, bahwa Nabi telah bersabda: &#8220;Sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan aku sebagai khalil-Nya sebagaimana Dia telah mengangkat Ibrahim sebagai khalil-Nya. Keaudukanku dan kedudukan Ibrahim di surga kelak ibarat keduanya ini, dan Abbas berada di antara kami. &#8221;</p>
<p><strong>3. Abu Thallb</strong><br />
Abu Thalib mempunyai beberapa orang anak, laki laki dan perempuan, yaitu: Thalib, Aqil, Ja’far dan Ali.    Jarak umur mereka antara satu dengan lainya adalah 10 tahun  . Kemudian Ummu Hani yang nama sebenarnya Fakhitah, dan Jamanah.  Mereka semua masuk Islam kecuali  Thalib.</p>
<p><strong>4. Abu Lahab</strong><br />
Abu Lahab mempunyai beberapa orang anak, yaitu: Utbah, Mu’tab dan Durah. Semua masuk Islam.  Kemudian Utaibah yang akhirnya dimangsa singa.</p>
<p><strong>5. Harits</strong><br />
Harits, putra sulung Abdul Mutthalib dan yang menjadi kunyah (julukan)nya, tidak sampai mengalami masa Islam. Namun putra-putranya, yaitu: Nofel, Rabi’ah,  Abu Sufyan (saudara sesusuan Nabi dari ibu susu Halimah dan termasuk orang yang membela Nabi dalam perang Hunain), dan Abdullah. Keempat orang putra Harits ini, semuanya masuk Islam.  Ibnu Abdilbar mengatakan bahwa putra Harits sebenamya ada lima, dan yang kelima bemama Mughirah.  Nofel adalah putra sulung  Harits dan orang tertua dari Bani Hasyim yang masuk Islam.</p>
<p><strong>6. Zubalr</strong><br />
Zubair mempunyai beberapa orang putra, yaitu: Abdullah, Dhabzfah, Shafiyah, Ummul  Hakam, dan Ummu Zubair.  Mereka semua masuk Islam.</p>
<p><strong>7. Jahl<br />
8. Abdul Ka’bah,<br />
9. Qutsam,<br />
10. Ahirar dan<br />
11. Ghaidaq</strong></p>
<p>Jahl mempunyai anak, namun keturunannya terputus. Demikian pula halnya Muqawwim. Sedangkan Abdul Ka’bah, tidak menemui masa Islam dan tldak mempunyai keturunan. Dan Qutsam meninggal dunia selagi kanak-kanak.   Dhiran meninggal dunia pada saat Nabi mendapat wahyu dan tidak sampai masuk Islam.  Ia termasuk salah seorang pemuda Quraisy yang paling eakap dan paling dermawan.   Ghaidaq termasuk orang Guralsy yang paling dermawan juga,   banyak mendermakan makanan dan harta,  sehlngga ia digelari Al-Ghaidaq.  Saudara kandung Abdullah, ayahanda Nabi  ialah Abu Thalib, Zubalr dan Abdul Ka’bah.</p>
<p>Para bibi Nabi SAW (saudara perempuan ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib, ayah Nabi Muhammad SAW} yaitu: </p>
<p>  1. <strong>Al Baidha’ Ummu Hakiem bintu Abdul Muthalib,</strong> yang menikah dengan Kurz bin Rabi’ah bin Habieb bin Abdus Syams. Ia memiliki dua anak yang bernma Amir dan Arwa’, lalu Arwa ini menikah dengan Affaan bin Abu Al ‘Ash dan melahirkan Utsman bin Affan khalifah Rasyidin yang ketiga. Arwa’ ibunya Utsman bin Affaan ini hidup sampai masa kekhilafahan anaknya.<br />
   2. <strong>Barrah binti Abdul Muthalib, i</strong>bu sahabat Abu Salamah bin Abdul Aswad Al Makhzumi<br />
   3. <strong>Shafiyah bintu Abdul Muthalib,</strong> ibu sahabat Al Zubair bin Al Awaam, beliau menikah pertama kali dengan Al Haarits bin Harb, lalu ditinggal mati dan menikah lagi dengan Al ‘Awam dan melahirkan Al Zubair. Beliau masuk islam dan ikut berhijrah. Beliau wafat tahun 20 H di Madinah dan dimakamkan di Baqi’<br />
  4. <strong>Arwa’, </strong>ibu dari keluarga Jahsy yang memiliki anak-anak diantaranya: Abdullah, Abu Ahmad, Ubaidillah, Zainab dan Hamnah.<br />
 5.	Atikah<br />
 6.	Amimah<br />
(tentang ketidakislaman ketiganya ini tidak ada perselisihan).   Keenam bibi Nabi  yang disebutkan terakhir tadi, semuanya adalah saudara kandung Abdullah,  ayahanda   Nabi. </p>
<p><strong>Dari paman dan bibi Nabi SAW di atas yang seayah seibu dengan ‘Abdullah ayah Rasulullah SAW adalah :</strong><br />
1. Abu Thalib<br />
2. Az-Zubair<br />
3. Abdul Ka’bah<br />
4. Ummu Hakim<br />
5. Barroh<br />
6. Arwaa<br />
7. Umaimah<br />
8. ‘Atikah</p>
<p>Adapun yang lainnya adalah seayah dengan ‘Abdullah ayah Rasulullah SAW, namun lain ibu.</p>
<div style='display:none' id="post-refEl-468"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/01/paman-bibi-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
