<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muhammad SAW Teladanku &#187; Keluarga Dan Sahabat</title>
	<atom:link href="http://nabimuhammad.info/category/keluarga-dan-sahabat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nabimuhammad.info</link>
	<description>A to Z informasi tentang Nabi Muhammad SAW</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 11:12:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Orangtua Nabi</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/08/orangtua-nabi/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/08/orangtua-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 13:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Tua Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=3489</guid>
		<description><![CDATA[Abdullāh bin Syaibah atau lebih dikenal dengan Abdullah bin Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: عبدالله بن عبد المطلب‎)‎ (545-570) adalah ayah dari Muhammad, Nabi Islam. Ia anak Abdul-Muththalib. Ia meninggal di perjalanan kafilah antara Mekkah dan Madinah. Saat ia meninggal Muhammad masih dalam kandungan ibunya Aminah.
    Silsilah lengkapnya adalah:
    عبدالله بن [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Abdullāh bin Syaibah </strong>atau lebih dikenal dengan <strong>Abdullah bin Abdul-Muththalib </strong>(Bahasa Arab: عبدالله بن عبد المطلب‎)‎ (545-570) adalah ayah dari Muhammad, Nabi Islam. Ia anak Abdul-Muththalib. Ia meninggal di perjalanan kafilah antara Mekkah dan Madinah. Saat ia meninggal Muhammad masih dalam kandungan ibunya Aminah.</p>
<p>    Silsilah lengkapnya adalah:</p>
<p>    عبدالله بن عبد المطلب ابن هاشم بن عبد مناف بن قصي بن كلاب بن مرة بن كعب بن لؤي بن غالب ابن فهر بن مالك بن النضر بن كنانة بن خزيمة بن مدركة بن الياس بن مضر بن نزار بن معد بن عدنان</p>
<p>    Dalam huruf latin, </p>
<blockquote><p>&#8216;Abdullah bin &#8216;Abdul-Muththalib<br />
bin Hasyim (Amr)<br />
bin Abdul Manaf (al-Mughira)<br />
bin Qushay (Zaid)<br />
bin Kilab bin Murrah<br />
bin Ka`b<br />
bin Lu&#8217;ay<br />
bin Ghalib<br />
bin Fihr (Quraish)<br />
bin Malik<br />
bin an-Nadr (Qais)<br />
bin Kinanah<br />
bin Khuzaimah<br />
bin Mudrikah (Amir)<br />
bin Ilyas<br />
bin Mudar<br />
bin Nizar<br />
bin Ma`ad<br />
bin Adnan.</p>
</blockquote>
<p><strong>Aminah binti Wahab</strong></p>
<p>Aminah binti Wahab (???-577) (Bahasa Arab: آمنة بنت وهب) adalah ibu yang melahirkan Muhammad, Nabi Islam. Aminah menikah dengan Abdullah. Tidak terdapat keterangan mengenai lahirnya beliau, dan menurut sejarah ia meninggal pada tahun 577 ketika dalam perjalanan menuju Yatsrib untuk mengajak Muhammad mengunjungi pamannya dan melihat kuburan ayahnya.</p>
<p><strong>Kelahiran &#038; kehidupan keluarga</strong></p>
<p>Aminah dilahirkan di Mekkah. </p>
<blockquote><p>Ayah Aminah adalah pemimpin Bani Zuhrah, yang bernama<br />
Wahab<br />
bin Abdulmanaf<br />
bin Zuhrah<br />
bin Kilab</p></blockquote>
<p>Sedangkan ibu Aminah adalah Barrah binti Abdul-Uzza bin Usman bin Abduddar bin Qushay.</p>
<div style='display:none' id="post-refEl-3489"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/08/orangtua-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abdullah bin Abdul Muththalib</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/08/abdullah-bin-abdul-muththalib/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/08/abdullah-bin-abdul-muththalib/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 10:34:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga Dekat]]></category>
		<category><![CDATA[Paman dan Bibi Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Abdul Muththalib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=3486</guid>
		<description><![CDATA[Abdullāh bin Syaibah atau lebih dikenal dengan Abdullah bin Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: عبدالله بن عبد المطلب‎)‎ (545-570) adalah ayah dari Muhammad, Nabi Allah SAW. 
Ia anak Abdul-Muththalib. Ia meninggal di perjalanan kafilah antara Mekkah dan Madinah. Saat ia meninggal Muhammad masih dalam kandungan ibunya Aminah.
    Silsilah lengkapnya adalah:
    عبدالله [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abdullāh bin Syaibah atau lebih dikenal dengan Abdullah bin Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: عبدالله بن عبد المطلب‎)‎ (545-570) adalah ayah dari Muhammad, Nabi Allah SAW. </p>
<p>Ia anak Abdul-Muththalib. Ia meninggal di perjalanan kafilah antara Mekkah dan Madinah. Saat ia meninggal Muhammad masih dalam kandungan ibunya Aminah.</p>
<p>    Silsilah lengkapnya adalah:<br />
    عبدالله بن عبد المطلب ابن هاشم بن عبد مناف بن قصي بن كلاب بن مرة بن كعب بن لؤي بن غالب ابن فهر بن مالك بن النضر بن كنانة بن خزيمة بن مدركة بن الياس بن مضر بن نزار بن معد بن عدنان</p>
<p>    Dalam huruf latin, &#8216;Abdullah bin &#8216;Abdul-Muththalib bin Hasyim (Amr) bin Abdul Manaf (al-Mughira) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka`b bin Lu&#8217;ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan.[1] </p>
<div style='display:none' id="post-refEl-3486"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/08/abdullah-bin-abdul-muththalib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harits bin Abdul Muthalib</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/08/harits-bin-abdul-muthalib/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/08/harits-bin-abdul-muthalib/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 04:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paman dan Bibi Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Paman Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=3470</guid>
		<description><![CDATA[AL Harits adalah anak tertua Abdul Muthalib.
Ia memiliki beberapa anak, yaitu:
1. Ubaidah bin Harits (Arab:عبيدة بن الحارث) adalah sepupu dan Sahabat Nabi Muhammad. Ia mati syahid dalam Pertempuran Badar dan ia merupakan anak dari Harits bin Abdul Muthalib.
2. Abu Sufyan bin Harits (Arab:أبو سفيان بن الحارث)
3. Rabi&#8217;ah bin Harits (Arab:ربيعة ابن الحريث)
4. Arwa binti Harits
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AL Harits adalah anak tertua Abdul Muthalib.</p>
<p>Ia memiliki beberapa anak, yaitu:</p>
<p>1. Ubaidah bin Harits (Arab:عبيدة بن الحارث) adalah sepupu dan Sahabat Nabi Muhammad. Ia mati syahid dalam Pertempuran Badar dan ia merupakan anak dari Harits bin Abdul Muthalib.<br />
2. Abu Sufyan bin Harits (Arab:أبو سفيان بن الحارث)<br />
3. Rabi&#8217;ah bin Harits (Arab:ربيعة ابن الحريث)<br />
4. Arwa binti Harits</p>
<div style='display:none' id="post-refEl-3470"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/08/harits-bin-abdul-muthalib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sahabat Nabi</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/08/sahabat-nabi-2/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/08/sahabat-nabi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 13:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Para Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=3422</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Nabi, dari kata shahabah (ash-shahaabah, الصحابه) adalah mereka yang mengenal dan melihat langsung Nabi Muhammad SAW, membantu perjuangannya dan meninggal dalam keadaan Muslim.
Definisi
Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi&#8217;i pernah berkata:
    &#8220;Ash-Shabi (sahabat) ialah orang yang bertemu dengan Rasulullah SAW, beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan Islam&#8221;
Kebanyakan muslim mendefinisikan para sahabat sebagai mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sahabat Nabi,</strong> dari kata shahabah (ash-shahaabah, الصحابه) adalah mereka yang mengenal dan melihat langsung Nabi Muhammad SAW, membantu perjuangannya dan meninggal dalam keadaan Muslim.</p>
<p><strong>Definisi</strong></p>
<p>Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi&#8217;i pernah berkata:</p>
<p>    &#8220;Ash-Shabi (sahabat) ialah orang yang bertemu dengan Rasulullah SAW, beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan Islam&#8221;</p>
<p>Kebanyakan muslim mendefinisikan para sahabat sebagai mereka yang mengenal Nabi Muhammad SAW, mempercayai ajarannya, dan meninggal dalam keadaan Islam. Para sahabat utama yang biasanya disebutkan hingga 50 sampai 60 nama, yakni mereka yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Sahabat disebut pula murid Nabi Muhammad.</p>
<p>Identifikasi terhadap sahabat nabi, termasuk status dan tingkatannya merupakan hal yang penting dalam dunia Islam karena dapat digunakan untuk mengevaluasi keabsahan suatu hadits maupun perbuatan Nabi yang diriwayatkan oleh mereka.</p>
<p><strong>Tingkatan Sahabat</strong></p>
<p>Menurut al-Hakim dalam Mustadrak, Sahabat terbagi dalam beberapa tingkatan, yaitu:</p>
<p>   1. <strong>Para sahabat yang masuk Islam di Mekkah,</strong> sebelum melakukan hijrah, seperti Khulafa&#8217;ur Rasyidin<br />
         1. Khadijah binti Khuwailid<br />
         2. Ali bin Abi Thalib<br />
         3. Zaid bin Haritsah<br />
         4. Abu Bakar ash-Shiddiq<br />
         5. Umar bin Khattab<br />
         6. Utsman bin Affan<br />
         7. Abbas bin Abdul Muthalib<br />
         8. Hamzah bin Abdul Muthalib<br />
         9. Ja&#8217;far bin Abi Thalib<br />
   2. Para sahabat yang mengikuti <strong>majelis Darunnadwah</strong><br />
   3. Para sahabat yang ikut serta ber<strong>hijrah ke negeri Habasyah</strong><br />
   4. Para sahabat yang ikut serta pada <strong>bai&#8217;at Aqabah pertama</strong><br />
   5. Para sahabat yang ikut serta pada <strong>bai&#8217;at Aqabah kedua</strong><br />
   6. Para sahabat yang berhijrah setelah sampainya Rasulullah ke <strong>Madinah</strong><br />
   7. Para sahabat yang ikut serta pada <strong>perang Badar</strong><br />
   8. Para sahabat yang berhijrah antara <strong>perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah</strong><br />
   9. Para sahabat yang ikut serta pada <strong>bai&#8217;at Ridhwan</strong><br />
  10. Para sahabat yang berhijrah antara <strong>perjanjian Hudaibiyyah dan fathu Makkah</strong><br />
         1. Khalid bin Walid<br />
         2. Amru bin Ash<br />
  11. Para sahabat yang masuk Islam pada <strong>fathu Makkah</strong>,<br />
         1. Abu Sufyan<br />
         2. Mu&#8217;awiyah bin Abu Sufyan<br />
         3. Ikrimah bin Abu Jahal<br />
  12. <strong>Bayi-bayi dan anak-anak </strong>yang pernah melihat Rasulullah saw pada fathu Makkah</p>
<p><strong>Beberapa sahabat yang terkenal<br />
</strong><br />
    * Abdullah ibn Umar<br />
    * Abdurrahman bin Auf<br />
    * Abu Bakar<br />
    * Abu Dzar Al-Ghiffari<br />
    * Abu Hurairah<br />
    * Abu Ubaidah bin al-Jarrah<br />
    * Ali bin Abi Talib<br />
    * al-Qamah<br />
    * Amru bin Ash<br />
    * Bilal bin Rabah<br />
    * Hakim bin Hazm<br />
    * Hamzah bin Abdul Muthalib<br />
    * Khalid bin Walid</p>
<p>    * Mua&#8217;dz bin Jabal<br />
    * Mua&#8217;wiyah bin Abu Sufyan<br />
    * Mus&#8217;ab bin Umair<br />
    * Sa&#8217;ad bin Abi Waqqas<br />
    * Sa&#8217;id bin Zayd bin `Amr<br />
    * Thalhah bin Ubaidillah<br />
    * Umar bin Khattab<br />
    * Usamah bin Zaid bin Haritsah<br />
    * Usman bin Affan<br />
    * Uwais Al-Qarny<br />
    * Wahsyi<br />
    * Zubair bin Awwam</p>
<div style='display:none' id="post-refEl-3422"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/08/sahabat-nabi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abu Lahab</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/08/abu-lahab/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/08/abu-lahab/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 03:43:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paman dan Bibi Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=3394</guid>
		<description><![CDATA[
Abu Lahab bin &#8216;Abdul Muttalib (Bahasa Arab: أبو لهب‎) (meninggal 624) adalah paman Nabi Muhammad yang terkenal akan kebenciannya terhadap ajaran Islam. Namanya disebut dalam Al-Qur&#8217;an Surah Al-Lahab yang merupakan pengutukkan atasnya sebagai salah satu musuh Islam.
Nama lengkapnya adalah Abdul al-Uzza bin &#8216;Abdul Muttalib dan panggilannya Abu Lahab (bapak dari api yang berkobar), karena pipinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/08/lario-lake.jpg" alt="lario-lake" title="lario-lake" width="600" height="450" class="alignnone size-full wp-image-3395" /><br />
Abu Lahab bin &#8216;Abdul Muttalib (Bahasa Arab: أبو لهب‎) (meninggal 624) adalah paman Nabi Muhammad yang terkenal akan kebenciannya terhadap ajaran Islam. Namanya disebut dalam Al-Qur&#8217;an Surah Al-Lahab yang merupakan pengutukkan atasnya sebagai salah satu musuh Islam.</p>
<p>Nama lengkapnya adalah Abdul al-Uzza bin &#8216;Abdul Muttalib dan panggilannya Abu Lahab (bapak dari api yang berkobar), karena pipinya selalu merah atau seperti terbakar. Istrinya adalah Ummu Jamil, yang telah melahirkan dua anak Utbah bin Abu Lahab and Utaybah bin Abu Lahab.</p>
<p><strong>Abu Lahab pun Bersyukur atas Kelahiran Rasulullah<br />
</strong></p>
<p>Kitab Shahih Bukhari menceritakan tentang sebuah kisah mengenai menyangkut tentang Tsuwaibah, seorang budak perempuan Abu Lahab (paman Nabi Muhammad SAW).<br />
ini terjadi tepat pada hari Senin tanggal 12 Robiul Awwal tahun Gajah. Ketika Rasulullah lahir dari rahim ibunda tercintanya, Siti Aminah, Tsuwaibah datang kepada Abu Lahab<br />
seraya memberikan kabar tentang kelahiran Muhammad, keponakannya yang berupa bayi laki-laki sehat tanpa kekurangan suatu apa pun.</p>
<p>Tatkala mendengar kabar kelahiran keponakan lelakinya ini, Abu lahab bersuka cita. Ia melompat-lompat riang gembira seraya meneriakkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut sepanjang jalan.<br />
inilah bentuk kegembiraan Abu Lahab, sang paman yang kelak menjadi salah satu musuh bebuyutannya dalam berdakwah. Namun rupanya tidak cukup sampai di situ saja luapan kegembiraan ini. Ia segera mengundang tetangga-tetangga dan para kerabat dekatnya untuk merayakan kelahiran keponakan tercintanya ini.<br />
Sebagai bentuk paling populer dari ungkapan rasa syukurnya dan sebagai penanda suka citanya yang sangat memuncak kemudian ia berkata kepada Tsuwaibah di hadapan khalayak ramai yang mendatangi undangan perayaan kelahiran keponakannya, </p>
<blockquote><p>
&#8221;Wahai Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-laki ku (Abdullah), maka dg ini kamu adalah lelaki merdeka mulai hari ini&#8217;<br />
&#8216;</p></blockquote>
<p>Demi mendengar kabar gembira inipun Tsuwaibah lantas bersuka cita, Sejak hari ini, karena ia yang membawa kabar gembira atas kelahiran keponakan tercinta, mahluk paling mulia di seluruh dunia, maka ia mendapatkan keberkahan tak terkirakan berupa kemerdekaanya.</p>
<p>Maka sejak hari itu ia bukan lagi berstatus sebagai budak yang dapat di perintah sesukanya oleh majikan. Sejak hari itu, ia adalah lelaki merdeka yang bertanggung jawab atas segala nasib dan keberuntunganya sendiri.</p>
<p>Konon,karena kebaikannya membebaskan Tsuwaibah sebagai bukti kegembiraan atas kelahiran Rasulullah, Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa kubur pada setiap hari Senin. meskipun sepanjang masa hidupnya, Abu Lahab senantiasa memusuhi dan tidak mempercayai kenabian keponakan tercintanya ini. (Wallahu A&#8217;lam Bisshowab)  [disunting dari ©marzuki]</p>
<p><strong>Surat Al Lahab</strong></p>
<p>Surat Al Lahab (nama lainnya: surat Al Masad) mengisahkan paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang betul-betul memusuhi beliau yaitu Abu Lahab. Nama asli beliau adalah Abdul ‘Uzza bin ‘Abdil Mutholib. Nama kunyahnya adalah Abu ‘Utaibah. Namun beliau lebih dikenal dengan Abu Lahab, karena wajahnya yang memerah (makna lahab: api yang bergejolak). Beliau lah yang paling banyak menentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga Allah Ta’ala membicarakan Abu Lahab dalam satu surat.</p>
<p>Berikut beberapa pelajaran tafsir yang kami gali dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim (karya Ibnu Katsir) dan kami tambahkan faedah dari kitab tafsir lainnya. Semoga manfaat.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)</p>
<p>“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.  Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al Lahab: 1-5)</p>
<p>Sebab Turunnya Ayat</p>
<p>Mengenai asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat ini diterangkan dalam riwayat berikut:</p>
<p>عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَصَعِدَ إِلَى الْجَبَلِ فَنَادَى يَا صَبَاحَاهْ فَاجْتَمَعَتْ إِلَيْهِ قُرَيْشٌ فَقَالَ أَرَأَيْتُمْ إِنْ حَدَّثْتُكُمْ أَنَّ الْعَدُوَّ مُصَبِّحُكُمْ أَوْ مُمَسِّيكُمْ أَكُنْتُمْ تُصَدِّقُونِي قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ أَلِهَذَا جَمَعْتَنَا تَبًّا لَكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ إِلَى آخِرِهَا</p>
<p>“Dari Ibnu Abbas bahwa suatu hari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam keluar menuju Bathha`, kemudian beliau naik ke bukit seraya berseru, &#8220;Wahai sekalian manusia.&#8221; Maka orang-orang Quraisy pun berkumpul. Kemudian beliau bertanya, &#8220;Bagaimana, sekiranya aku mengabarkan kepada kalian, bahwa musuh (di balik bukit ini) akan segera menyergap kalian, apakah kalian akan membenarkanku?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Ya.&#8221; Beliau bersabda lagi, &#8220;Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian. Sesungguhnya di hadapanku akan ada adzab yang pedih.&#8221; Akhirnya Abu Lahab pun berkata, &#8220;Apakah hanya karena itu kamu mengumpulkan kami? Sungguh kecelakanlah bagimu.&#8221; Maka Allah menurunkan firman-Nya: &#8220;TABBAT YADAA ABII LAHAB..&#8221; Hingga akhir ayat.” (HR. Bukhari no. 4972 dan Muslim no. 208)</p>
<p>Tafsir Ayat</p>
<p>Ayat (تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ), yaitu binasalah kedua tangan Abu Lahab, menunjukkan do’a kejelekan padanya. Sedangkan ayat (وَتَبَّ), yaitu sungguh dia akan binasa, menunjukkan kalimat berita.</p>
<p>Firman Allah Ta’ala (تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ), maksudnya adalah sungguh Abu Lahab merugi, putus harapan, amalan dan usahanya sia-sia. Sedangkan makna (وَتَبَّ), maksudnya adalah kerugian dan kebinasaan akan terlaksana.</p>
<p>Firman Allah Ta’ala (مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ), yang dimaksud (وَمَا كَسَبَ) yaitu apa yang ia usahakan adalah anaknya.</p>
<p>Firman Allah Ta’ala (سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ), yaitu kelak Abu Lahab akan mendapat balasan yang jelek dan akan disiksa dengan api yang bergejolak, sehingga ia akan terbakar dengan api yang amat panas.</p>
<p>Firman Allah Ta’ala (وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ), istri Abu Lahab biasa memikul kayu bakar. Istri Abu Lahab bernama Ummu Jamil, salah seorang pembesar wanita Quraisy. Nama asli beliau adalah Arwa binti Harb bin Umayyah. Ummu Jamil ini adalah saudara Abu Sufyan. Ummu Jamil punya kelakuan biasa membantu suaminya dalam kekufuran, penentangan dan pembakangan pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, pada hari kiamat, Ummu Jamil akan membantu menambah siksa Abu Lahab di neraka Jahannam. Oleh karena itu, Allah Ta’ala katakan dalam ayat selanjutnya,</p>
<p>وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)</p>
<p>“Dan (begitu pula) istri Abu Lahab, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” Yaitu istri Abu Lahab akan membawa kayu bakar, lalu ia akan bertemu suaminya Abu Lahab. Lalu ia menambah siksaan Abu Lahab. Dan memang istri Abu Lahab dipersiapkan untuk melakukan hal ini.</p>
<p>Yang dimaksud firman Allah Ta’ala (فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ), yaitu maksudnya di leher Ummu Jamil ada tali sabut dari api neraka. Sebagian ulama memaknakan masad dengan sabut. Ada pula yang mengatakan masad adalah rantai yang panjangnya 70 hasta. Ats Tsauri mengatakan bahwa masad adalah kalung dari api yang panjangnya 70 hasta.<br />
<strong><br />
Tafsiran Istri Abu Lahab Pembawa Kayu Bakar</strong></p>
<p>Di sini ada beberapa tafsiran ulama:</p>
<p>Pertama: Mengenai ayat (حَمَّالَةَ الْحَطَبِ), pembawa kayu bakar maksudnya adalah Ummu Jamil adalah wanita sering menyebar namimah, yaitu si A mendengar pembicaraan B tentang C, lantas si A menyampaikan berita si B pada si C dalam rangka adu domba. Ini pendapat sebagian ulama.</p>
<p>Kedua: Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud Ummu Jamil pembawa kayu bakar adalah karena kerjaannya sering meletakkan duri di jalan yang biasa dilewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat yang dipilih Ibnu Jarir Ath Thobari.</p>
<p>Ketiga: Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud (حَمَّالَةَ الْحَطَبِ) adalah Ummu Jamil biasa mengenakan kalung dengan penuh kesombongan. Lantas ia katakan, “Aku aku menginfakkan kalung ini dan hasilnya digunakan untuk memusuhi Muhammad.” Akibatnya, Allah Ta’ala memasangkan tali di lehernya dengan sabut dari api neraka.<br />
<strong><br />
Surat Al Lahab adalah Bukti Nubuwwah</strong></p>
<p>Surat ini merupakan mukjizat yang jelas-jelas nampak yang membuktikan benarnya nubuwwah (kenabian), bahwasanya betul-betul beliau adalah seorang Nabi. Karena sejak turun firman Allah Ta’ala,</p>
<p>سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)</p>
<p>“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.  Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut”, Abu Lahab dan Ummu Jamil tidaklah beriman sama sekali baik secara zhahir atau batin, dinampakkan atau secara sembunyi-sembunyi. Maka inilah bukti benarnya nubuwwah beliau. Apa yang dikabarkan pada beliau, maka itu benar adanya.<br />
<strong></p>
<blockquote><p>Faedah berharga dari Surat Al Lahab:</strong></p>
<p>   1. Allah telah menetapkan akan kebinasaan Abu Lahab dan membatalkan tipu daya yang ia perbuat pada Rasulnya.<br />
   2. Hubungan kekeluargaan dapat bermanfaat jika itu dibangun di atas keimanan. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Lahab punya kedekatan dalam kekerabatan, namun hal itu tidak bermanfaat bagi Abu Lahab karena ia tidak beriman.<br />
   3. Anak merupakan hasil usaha orang tua sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya anak adalah hasil jerih payah orang tua.” (HR. An Nasai no. 4452, Ibnu Majah no. 2137,  Ahmad 6/31. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini shahih). Jadi apa pun amalan yang dilakukan oleh anak baik shalat, puasa dan amalan lainnya, orang tua pun akan memperoleh hasilnya.<br />
   4. Tidak bermanfaatnya harta dan keturunan bagi orang yang tidak beriman, namun sebenarnya harta dan keturunan dapat membawa manfaat jika seseorang itu beriman.<br />
   5. Api neraka yang bergejolak.<br />
   6. Mendengar berita neraka dan siksaan di dalamnya seharusnya membuat seseorang takut pada Allah dan takut mendurhakai-Nya sehingga ia pun takut akan maksiat.<br />
   7. Bahaya saling tolong menolong dalam kejelekan sebagaimana dapat dilihat dari kisah Ummu Jamil yang membantu suaminya untuk menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
   8. Akibat dosa namimah, yaitu menyulut api permusuhan sehingga diancam akan disiksa dengan dikalungkan tali sabut dari api neraka.<br />
   9. Siksaan pedih akibat menyakiti seorang Nabi.<br />
  10. Terlarang menyakiti seorang mukmin secara mutlak.<br />
  11. Setiap Nabi dan orang yang mengajak pada kebaikan pasti akan mendapat cobaan dari orang yang tidak suka pada dakwahnya. Inilah sunnatullah yang mesti dijalani dan butuh kesabaran.<br />
  12. Akibat jelek karena infaq dalam kejelekan dan permusuhan.<br />
  13. Benarnya nubuwwah (kenabian) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
  14. Ummu Jamil dan Abu Lahab mati dalam keadaan kafir secara lahir dan batin, mereka akan kekal dalam neraka.<br />
  15. Tidak boleh memakai nama dengan bentuk penghambaan kepada selain Allah, karena Abu Lahab disebut dalam ayat ini tidak menggunakan nama aslinya yaitu Abdul Uzza (hamba Uzza). Padahal Al Qur’an biasa jika menyebut nama orang akan disebut nama aslinya. Maka ini menunjukkan terlarangnya model nama semacam ini karena mengandung penghambaan kepada selain Allah. (Ahkamul Quran, Al Jashshosh, 9/175)<br />
  16. Nama asli (seperti Muhammad) itu lebih mulia daripada nama kunyah (nama dengan Abu &#8230; dan Ummu &#8230;). Alasannya karena dalam ayat ini demi menghinakan Abu Lahab, ia tidak disebut dengan nama aslinya namun dengan nama kunyahnya. Sedangkan para Nabi dalam Al Quran selalu disebut dengan nama aslinya (seperti Muhammad) dan tidak pernah mereka dipanggil dengan nama kunyahnya. (Ahkamul Quran, Ibnul ‘Arobi, 8/145)<br />
  17. Kedudukan mulia yang dimiliki Abu Lahab dan istrinya tidak bermanfaat di akhirat. Ini berarti kedudukan mulia tidak bermanfaat bagi seseorang di akhirat kelak kecuali jika ia memiliki keimanan yang benar.<br />
  18. Imam Asy Syafi’i menyebutkan bahwa pernikahan sesama orang musyrik itu sah, karena dalam ayat ini Ummu Jamil dipanggil dengan “imro-ah” (artinya: istrinya). Berarti pernikahan antara Ummu Jamil dan Abu Lahab yang sama-sama musyrik itu sah.
</p></blockquote>
<p>Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk terus mengkaji Al Quran dan menggali faedah di dalamnya.</p>
<p>Referensi:</p>
<p>Ahkamul Qur’an, Al Jashshosh Al Hanafi, Asy Syamilah</p>
<p>Ahkamul Qur’an, Ibnul ‘Arobi, Asy Syamilah</p>
<p>Aysarut Tafaasir, Abu Bakr Jaabir Al Jazairi, Maktabah Adwail Munir.</p>
<p>Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.</p>
<p>Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, Darul Fawaid – Dar Ibnu Rajab.</p>
<p>Faedah dari Kajian Ustadz Dzulkarnaen mengenai Tafsir Ayat Ahkam, akhir Maret 2010, di Masjid Pogung Raya</p>
<p>Panggang-GK, malam hari, 2 Jumadil Ula 1431 H (16/04/2010)</p>
<p>Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel dari <strong>www.rumaysho.com</strong></p>
<div style='display:none' id="post-refEl-3394"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/08/abu-lahab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abū Thālib bin ‘Abdul-Muthalib</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/07/abu-thalib-bin-%e2%80%98abdul-muththalib/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/07/abu-thalib-bin-%e2%80%98abdul-muththalib/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 05:06:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paman dan Bibi Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=3382</guid>
		<description><![CDATA[
Abū Thālib bin ‘Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: أبو طالب بن عبد المطلب‎) (549/550 &#8211; 619) adalah ayah dari Ali bin Abi Thalib serta paman dari Nabi Muhammad. 
Sebagai pemimpin Bani Hasyim setelah kematian ayahnya, Abdul-Muththalib, ia menjadi pengasuh Nabi Muhammad dan kemudian pendukung utama dalam berdakwah. Ia menikah dengan Fatimah binti Asad dan memiliki 6 orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/07/abu-thalib.jpg" alt="abu thalib" title="abu thalib" width="346" height="377" class="alignnone size-full wp-image-3383" /><br />
Abū Thālib bin ‘Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: أبو طالب بن عبد المطلب‎) (549/550 &#8211; 619) adalah ayah dari Ali bin Abi Thalib serta paman dari Nabi Muhammad. </p>
<p>Sebagai pemimpin Bani Hasyim setelah kematian ayahnya, Abdul-Muththalib, ia menjadi pengasuh Nabi Muhammad dan kemudian pendukung utama dalam berdakwah. Ia menikah dengan Fatimah binti Asad dan memiliki 6 orang anak.</p>
<p><strong>Keluarga</strong></p>
<p>Abu Thalib bin Abdul Muthalib memiliki empat orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan, yaitu</p>
<p>   1. Thalib bin Abu Thalib<br />
   2. Ja&#8217;far bin Abu Thalib<br />
   3. Ali bin Abu Thalib<br />
   4. Aqil bin Abu Thalib<br />
   5. Fakhtihah binti Abu Thalib<br />
   6. Jumanah binti Abu Thalib (Ummi Hani)</p>
<p><strong>Masa sebelum Islam</strong></p>
<p>Ia adalah anak dari Abdul Muthalib dan Fatimah bin Amr dan memiliki sembilan saudara yang salah satunya adalah Abdullah bin Abdul Muthalib yang merupakan ayah dari Nabi Muhammad. Ia merupakan pengasuh dari Nabi Muhammad setelah meninggalnya Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab hingga Nabi Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid.</p>
<p>Nama sebenarnya adalah <strong>Abdu Manaf bin Abdul Muthalib bin Hasyim</strong>, sedang “Abu Thalib” adalah nama Panggilan yang berasal dari putra pertamanya yaitu Thalib [nama kunyah= nama yang melekat pada orangtua berdasarkan nama anak lelaki pertama dalam keluarga] . Abu Thalib adalah paman dan ayah asuh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, Ia adalah ayah dari Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Abu Thalib telah menerima amanat dari ayahnya Abdul Mutthalib untuk mengasuh Nabi dan telah dilaksanakan amanat tersebut. Nabi adalah sebaik-baik asuhan dan Abu Thalib adalah sebaik-baik pengasuh.</p>
<p><strong>Setelah Kenabian Muhammad (570-632)<br />
</strong><br />
Setelah Muhammad diangkat sebagai rasul dan nabi, ia merupakan pelindung utama dari keluarga Bani Hasyim dari serangan masyarakat Mekkah dan sekitarnya.</p>
<p>Abu Thalib membela Nabi dengan jiwa raganya dalam berdakwah. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan pengikutnya di hadang di sebuah lembah. Lalu datanglah Abu Thalib dengan tegar berkata: “Kalian tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku”. Abu Thalib selalu setia mendampingi Nabi. Beliau adalah orang yang banyak membantu perjuangan dakwah Islam.</p>
<p>Abu Thalib adalah paman Nabi yang menjadi &#8216;ayah asuh&#8217; Nabi sejak beliau kecil dan pelindung awal Nabi ketika memulai dakwah Islam. Di dalam kitab tarikh diceritakan ketika Muhammad kecil bersama pamannya berdagang ke kota Busrah, di sana keduanya bertemu dengan pendeta Nasrani. Saat itu umur Muhammad, 12 tahun. Pendeta itu melihat tanda nubuwah (kenabian) dalam diri Nabi. Pendeta itu khawatir jika itu diketahui orang Yahudi akan mengganggu keselamatan Nabi Muhammad kekhawatiran itu karena tanda-tanda kenabian itu tidak diturunkan kepada orang Yahudi tapi pada orang Quraisy. Abu Thalib mematuhi nasihat pendeta itu dan segera membawa Muhammad kecil kembali ke kota Makkah.</p>
<p>Catatan sejarah ini membuktikan, sebelum Muhammad kecil diangkat menjadi Nabi. Pamannya Abu Thalib sudah meyakini tanda-tanda kenabian Muhammad sebelum orang lain mengenal kenabiannya. Apakah wajar jika seorang tua yang mengangkat Muhammad kecil sebagai anaknya, kemudian mempercayainya untuk mendampinginya dalam berbisnis, lalu melindungi tanda-tanda kenabiannya agar selamat dari serangan orang kafir dan merawat hingga dewasa, kita meragukan keimanannya kepada kerasulan Nabi? Mungkin ada yang berpendapat, pamannya melindungi bukan karena tanda-tanda kenabiannya, tapi karena keponakannya yang memiliki hubungan darah kepadanya? Jika demikian halanya mengapa Abu Jahal yang juga pamannya membenci dan hendak membunuhnya? Jadi hemat saya Abu Thalib meyakini tanda kenabian Muhammad bukan saja karena hubungan darah tapi juga karena mengimani tanda-tanda kenabian Muhammad yang langsung ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, tanpa ragu sedikit pun.</p>
<p>Ketika orang-orang kafir Quraisy menggunakan berbagai macam cara untuk menghalangi dakwah Nabi, sampai kepada menawarkan iming-iming berupa jabatan, harta dan wanita. Jika Nabi menerimanya maka dia mendapatkan seluruh kemewahan duniawi yang diingini banyak orang, tapi karena tujuannya bukanlah ketiga hal tersebut maka ia menolaknya. Maka kemarahan orang kafir Quraisy dipimpin Abu Sofyan pun memuncak. Mereka lalu bermusyawarah dan bersepakat akan membunuh Nabi Muhammad, mereka menunjuk agar masing-masing kabilah (suku) mengutus utusannya dan dipilih orang yang paling kuat, paling gagah dan paling berani untuk membunuh Nabi. Akan tetapi sebelum mereka menyerang Nabi, mereka bersepakat mengirim utusan terakhir untuk disampaikan kepada Abu Thalib paman Nabi. Mereka pun pergi dan menghadap kepada paman Nabi dan menyampaikan keinginan mereka yang tegas bahwa jika Abu Thalib tidak bisa menghentikan keponakannya menyampaikan agama barunya itu, maka kami akan membunuhnya.</p>
<p>Berita itu membuat pamannya cemas, akhirnya ia memanggil keponakannya Muhammad dan berkata, Wahai Muhammad, orang-orang itu datang dan meminta kepadaku agar menyampaikan kepada engkau agar menghentikan agama barumu itu karena aku khawatir akan keselamatanmu. Nabi Muhammad menjawab, Wahai pamanku andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, aku tidak akan mundur selangkah pun meskipun aku hancur karenanya.&#8217; Ucapan Nabi yang demikian teguhnya membuat pamannya terharu, simpatik dan semakin yakin dengan kebenaran agama baru itu. Ketika orang-orang kafir Quraisy itu menemui paman Nabi untuk yang kesekian kalinya Abu Thalib berkata kepada mereka, Kalian tidak dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku. Dari catatan sejarah itu, awalnya Abu Thalib kelihatan  berada pada posisi di tengah atau netral, namun setelah melihat sikap Nabi yang demikian meyakinkan dirinya membuat itu menjatuhkan pilihan untuk membela Nabi sampai titik darah penghabisan.</p>
<p>Peran Abu Thalib tidak hanya sampai dalam melindungi fisik Nabi, tapi memikirkan masa depan rumah tangga Nabi. Abu Thalib yang melakukan pendekatan dan meyakinkan agar Muhammad keponakannya menerima lamaran Khadijah, meskipun awalnya Nabi kelihatan ragu untuk menerima pinangan Khadijah, tapi karena peran Abu Thalib dalam meyakinkan Nabi bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang berbudi pekerti luhur dan memiliki kedudukan terhormat, maka Nabi menerima Khadijah sebagai istri. Berhasilnya peran Abu Thalib menghubungkan keduanya menjadi suami istri, membuat Nabi tidak saja disegani, tapi dihormati karena kedudukan Nabi yang berstatus sebagai orang yang berkecukupan secara finansial dan memiliki kedudukan yang terhormat karena menjadi suami dari seorang wanita yang kaya raya lagi disegani masyarakatnya.  </p>
<p>Tidak berlebihan jika dikatakan Abu Thaliblah yang memiliki jasa paling besar dalam mendidik Nabi dan memikirkan masa depannya. Sehingga Abu Thalib bukan saja sebagai sosok seorang paman, tapi juga sudah menjadi seperti seorang ayah bagi Nabi. Ketika pamannya meninggal, Nabi sangat terpukul dan bersedih, air mata beliau basah mengaliri pipinya, sambil mengusap kening pamannya, Nabi mendoakan agar pamannya diberikan imbalan yang sebaik-baiknya dari Allah karena jasanya yang demikian besar. Meninggalnya paman Beliau, sebulan kemudian istri Nabi Khadijah, meninggal dunia juga. Sehingga tahun itu menjadi tahun yang sangat penuh duka cita mendalam. Berbulan-bulan Nabi merasakan kepedihan hati. Sehingga tahun ini disebut dalam sejarah sebagai tahun duka cita (&#8217;amul huzni)</p>
<p>Abu Thalib ketika mau meninggal dunia berwasiat kepada keluarganya untuk selalu berada di belakang Nabi dan membelanya untuk menenangkan dakwahnya.</p>
<p><strong><br />
Kematian</strong></p>
<p>Ia wafat pada tahun 3 SH.  Ia meninggal pada tahun yang sama dengan meninggalnya Khadijah binti Khuwailid, yaitu pada tahun 619 M.</p>
<p>Disalin dari riwayat Abu Thalib dalam Ishabah 1/117, Thabaqat Ibn Sa’ad 1/24 dan sumber lainnya</p>
<div style='display:none' id="post-refEl-3382"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/07/abu-thalib-bin-%e2%80%98abdul-muththalib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Betulkah Aisyah Berusia 6 Th Saat Dinikahi Nabi?</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/06/betulkah-aisyah-berusia-6-th-saat-dinikahi-nabi/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/06/betulkah-aisyah-berusia-6-th-saat-dinikahi-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 08:57:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Istri Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=2566</guid>
		<description><![CDATA[(dikutip dari answeringfaithfreedom)
Latar Belakang Perkawinan dengan Aisyah dan Hafsha

Dalam Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husein Haikal disebutkan bahwa sebagai berikut: Adapun Aisyah dan Hafsha adalah puteri-puteri dua orang pembantu dekatnya, Abu Bakar dan Umar. Segi inilah yang membuat Muhammad mengikatkan diri dengan kedua orang itu dengan ikatan semenda perkawinan dengan puteri-puteri mereka. Sama juga halnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(dikutip dari answeringfaithfreedom)</p>
<p><strong>Latar Belakang Perkawinan dengan Aisyah dan Hafsha<br />
</strong></p>
<p>Dalam Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husein Haikal disebutkan bahwa sebagai berikut: Adapun Aisyah dan Hafsha adalah puteri-puteri dua orang pembantu dekatnya, Abu Bakar dan Umar. Segi inilah yang membuat Muhammad mengikatkan diri dengan kedua orang itu dengan ikatan semenda perkawinan dengan puteri-puteri mereka. Sama juga halnya ia mengikatkan diri dengan Usman dan Ali dengan jalan mengawinkan kedua puterinya kepada mereka. Kalaupun benar kata orang mengenai Aisyah serta kecintaan Muhammad kepadanya itu, maka cinta itu timbul sesudah perkawinan, bukan ketika kawin.</p>
<p>Gadis itu dipinangnya kepada orangtuanya tatkala ia berusia sembilan tahun dan dibiarkannya dua tahun sebelum perkawinan dilangsungkan (perkawinan di usia minimal 11 tahun). Logika tidak akan menerima kiranya, bahwa dia sudah mencintainya dalam usia yang masih begitu kecil. Hal ini diperkuat lagi oleh perkawinannya dengan Hafsha binti Umar yang juga bukan karena dorongan cinta berahi, dengan ayahnya sendiri sebagai saksi. Namun oleh para orientalis, usia perkawinan Aisah ini diputarbalikkan menjadi fitnah yang sangat keji.</p>
<p>&#8220;Sungguh,&#8221; kata Umar, &#8220;tatkala kami dalam zaman jahiliah, wanita-wanita tidak lagi kami hargai. Baru setelah Tuhan memberikan ketentuan tentang mereka dan memberikan pula hak kepada mereka.</p>
<p>Kita sudah melihat bukan, bahwa Muhammad mengawini Aisyah atau mengawini Hafsha bukan karena cintanya atau karena suatu dorongan berahi, tapi karena hendak memperkukuh tali masyarakat Islam yang baru tumbuh dalam diri dua orang pembantu dekatnya (Abu Bakar dan Umar) itu. Sama halnya ketika ia kawin dengan Sauda, maksudnya supaya pejuang-pejuang Muslimin itu mengetahui, bahwa kalau mereka gugur untuk agama Allah, isteri-isteri dan anak-anak mereka tidak akan dibiarkan hidup sengsara dalam kemiskinan.</p>
<p><strong><br />
Perkawinannya dengan Janda-Janda</strong></p>
<p>Perkawinannya dengah Zainab bt. Khuzaima dan dengan Umm Salama mempertegas lagi hal itu. Zainab adalah isteri &#8216;Ubaida bin&#8217;l-Harith bin&#8217;l-Muttalib yang telah mati syahid, gugur dalam perang Badr. Dia tidak cantik, hanya terkenal karena kebaikan hatinya dan suka menolong orang, sampai ia diberi gelar Umm&#8217;l-Masakin (Ibu orang-orang miskin). Umurnya pun sudah tidak muda lagi. Hanya setahun dua saja sesudah itu ia pun meninggal. Sesudah Khadijah dialah satu-satunya isteri Nabi yang telah wafat mendahuluinya.</p>
<p>Kemudian peristiwa-peristiwa sejarah serta logikanya juga menjadi saksi yang jujur mendustakan cerita misi-misi penginjil dan para Orientalis itu sehubungan dengan poligami Nabi. Seperti kita sebutkan tadi, selama 28 tahun ia hanya beristerikan Khadijah seorang, tiada yang lain. Setelah Khadijah wafat, ia kawin dengan Sauda bint Zam&#8217;a, janda Sakran b. &#8216;Amr b. &#8216;Abd Syams. Tidak ada suatu sumber yang menyebutkan, bahwa Sauda adalah seorang wanita yang cantik, atau berharta atau mempunyai kedudukan yang akan memberi pengaruh karena hasrat duniawi dalam perkawinannya itu.</p>
<p>Melainkan soalnya ialah, Sauda adalah isteri orang yang termasuk mula-mula dalam lslam, termasuk orang-orang yang dalam membela agama, turut memikul pelbagai macam penderitaan, turut berhijrah ke Abisinia setelah dianjurkan Nabi hijrah ke seberang lautan itu. Sauda juga sudah Islam dan ikut hijrah bersama-sama, ia juga turut sengsara, turut menderita. Kalau sesudah itu Muhammad kemudian mengawininya untuk memberikan perlindungan hidup dan untuk memberikan tempat setarap dengan Umm&#8217;l-Mu&#8217;minin, maka hal ini patut sekali dipuji dan patut mendapat penghargaan yang tinggi.</p>
<p>Sedang Umm Salama sudah banyak anaknya sebagai isteri Abu Salama, seperti sudah disebutkan di atas, bahwa dalam perang Uhud ia menderita luka-luka, kemudian sembuh kembali. Oleh Nabi ia diserahi pimpinan untuk menghadapi Banu Asad yang berhasil di kucar-kacirkan dan ia kembali ke Medinah dengan membawa rampasan perang. Tetapi bekas lukanya di Uhud itu terbuka dan kembali mengucurkan darah yang dideritanya terus sampai meninggalnya. Ketika sudah di atas ranjang kematiannya, Nabi juga hadir dan terus mendampinginya sambil mendoakan untuk kebaikannya, sampai ia wafat. Empat bulan setelah kematiannya itu Muhammad meminta tangan Umm Salama.</p>
<p>Tetapi wanita ini menolak dengan lemah lembut karena ia sudah banyak anak dan sudah tidak muda lagi. Hanya dalam pada itu akhirnya sampai juga ia mengawini dan dia sendiri yang bertindak menguruskan dan memelihara anak-anaknya.</p>
<p>Adakah sesudah ini semua para misi penginjil dan Orientalis itu masih akan mendakwakan, bahwa karena kecantikan Umm Salama itulah maka Muhammad terdorong hendak mengawininya?</p>
<p>Kalau hanya karena itu saja, masih banyak gadis-gadis kaum Muhajirin dan Anshar yang lain, yang jauh lebih cantik, lebih muda, lebih kaya dan bersemarak, dan tidak pula ia akan dibebani dengan anak-anaknya. Akan tetapi sebaliknya, ia mengawininya itu karena pertimbangan yang luhur itu juga, sama halnya dengan perkawinannya dengan Zainab binti. Khuzaima, yang membuat kaum Muslimin bahkan makin cinta kepadanya dan membuat mereka lebih-lebih lagi memandangnya sebagai Nabi dan Rasul Allah. Di samping itu mereka semua memang sudah menganggapnya sebagai ayah mereka. Ayah bagi segenap orang miskin, orang yang tertekan, orang lemah, orang yang sengsara dan tak berdaya. Ayah bagi setiap orang yang kehilangan ayah, yang gugur membela agama Allah.</p>
<p>Dari riwayat tersebut di atas, terlihat bahwa usia 6 tahun menikah adalah fitnah. Yang benar adalah 9 tahun di pinang dan 2 tahun kemudian dinikahi (11 tahun menikah). Jadi memutar angka 6 dan 9 adalah teknik pengkaburan angka sang ide pembuat keji.</p>
<p><strong><br />
Penelusuran Bukti</strong><br />
<em><strong><br />
Bukti 1: Pengujian Terhadap Sumber Fitnah Keji<br />
</strong></em><br />
”Pernikahan gadis polos berumur 6 tahun, Aisyah, dengan Nabi”</p>
<p>Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya, Yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini. Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, dimana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.</p>
<p>Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : &#8220;Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq” (Tehzi’bu’l-Tehzi’b, Ibn Hajar Al-`asqala’ni, Dar Ihya Al-Turath Al-Islami, 15th Century. Vol 11, p.50).</p>
<p>Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq:” Saya pernah dikasih tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq (Tehzi’b u’l-Tehzi’b, IbnHajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).</p>
<p>Mizanu’l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanu’l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).<br />
<em><strong><br />
Kesimpulan Bukti 1 :<br />
</strong></em><br />
Berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.</p>
<p><em><br />
<strong><br />
Bukti 2: Meminang<br />
</strong></em><br />
Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun. Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakar (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya ” (Tarikhu’l-umam wa’l-mamlu’k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-fikr, Beirut, 1979).</p>
<p>Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M).</p>
<p>Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur minimal 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.<br />
<em><strong><br />
Kesimpulan Bukti 2 </strong></em>: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.</p>
<p><em><strong><br />
Bukti 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah<br />
</strong></em><br />
Menurut Ibn Hajar, “Fatimah dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun. Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah ” (Al-isabah fi tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).</p>
<p>Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, usia Fatimah minimal 17 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah minimal 12 tahun.</p>
<p><<em>strong>KESIMPULAN:</em></strong> Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 6 tahun tidak benar dan merupakan fitnah sangat keji yang tidak berdasar yang sengaja dilontarkan oleh kaum yang ingin menjauhkan Muhammad dari hati umat Islam..</p>
<p><em><strong>Bukti 4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’<br />
</strong></em><br />
Menurut Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la’ma’l-nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992). Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya (Aisyah)” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, IbnKathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).</p>
<p>Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut riwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)</p>
<p>Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).</p>
<p>Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisuh usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M). Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada tahun dimana Aisyah berumah tangga.</p>
<p>Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda’l-Rahman ibn abi Zanna’d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.</p>
<p>Dalam bukti 3, Ibn Hajar memperkirakan usia berdasar usia Fatimah, Aisyah 12 tahun dan dalam bukti 4 Ibn Hajar berdasar usia Asma’ maka usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi sama sekali usia menikah tidak dalam usia 6 tahun.</p>
<p><<em>strong>Kesimpulan Bukti 4</em>:</strong> Ibn Hajar dalam periwayatan usia Aisyah jelas membantah usia 6 tahun dalam menikah.</p>
<p><em><strong><br />
Bukti 5: Perang BADAR dan UHUD<br />
</strong></em><br />
Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam Hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”</p>
<p>Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud dan Badr.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.”</p>
<p>Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 years akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perangm, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud</p>
<p><em><strong>Kesimpulan 5</em></strong>: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 6 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.<br />
<em><strong><br />
Bukti 6: Surat al-Qamar (Bulan)<br />
</strong></em><br />
Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan (Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).</p>
<p>Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tersebut diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah dalam bahasa arab) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia minimal 14 sampai 21 tahun ketika dinikah Nabi.</p>
<p><em><strong>KESIMPULAN</em>:</strong> Riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 6 tahun.<br />
<em><strong><br />
Bukti 7: Terminologi bahasa Arab<br />
</strong></em><br />
Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah (Khadijah), Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis (bikr) tersebut, Khaulah menyebutkan nama Aisyah.</p>
<p>Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 6 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yangmasih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah.. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”. Oleh karean itu, tampak jelas bahwa gadis belia 6 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).</p>
<p><em><strong>Kesimpulan Bukti 7</em>:</strong> Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita dewasa, yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan (virgin).” Oleh karena itu, Aisyah adalah seorang gadis dewasa pada waktu menikahnya.</p>
<p>Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 6 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 6 tahun. Orang-orang arab tidak pernah keberatan dengan pernikahan seperti ini, karena ini tak pernah terjadi sebagaimana isi fitnah keji tersebut.</p>
<p>Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 6 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran tidak sesuai dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable dan kontradiksi dengan pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim yang menunjukkan mengenai usia menikah Aisyah 6 tahun ketika menikah adalah tidak nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.</p>
<p>Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 6 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tersebut dan lebih layak disebut sebagai fitnah yang keji.</p>
<p><strong>KRONOLOGI:</strong> Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:</p>
<p>pra-610 M: Jahiliyah (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu<br />
610 M: turun wahyu pertama dan AbuBakar menerima Islam<br />
613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat<br />
615 M: Hijrah ke Abyssinia.<br />
616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.<br />
620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah<br />
622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Madinah.<br />
623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Kaum orientalis senantiasa mencari sisi-sisi dalam Islam sebagai bahan fitnahan. Suatu bukti bahwa moral kaum orientalispun harus dipertanyakan.<br />
Umat Islam tidak akan terpengaruh dan tidak akan goyah cintanya kepada Rasulullah saw, Utusan Allah manusia sempurna.<br />
Tidak pernah terjadi permasalahan yang buruk di dalam pernikahan dan kehidupan keluarga Rasulullah saw yang mulia.<br />
Daftar Bahan Acuan</p>
<p>Terjemahan in Indonesia of The Ancient Myth Exposed By T.O. Shanavas , di Michigan. © 2001 Minaret from The Minaret. Source: http://www.iiie.net/<br />
Muhammad Husain Haekal, Seri Pustaka Islam. Sejarah Hidup Muhammad Penerbit PUSTAKA JAYA. Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980.</p>
<div style='display:none' id="post-refEl-2566"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/06/betulkah-aisyah-berusia-6-th-saat-dinikahi-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Nabi Beristri Banyak? (1)</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/06/mengapa-nabi-beristri-banyak-1/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/06/mengapa-nabi-beristri-banyak-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 08:14:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Istri Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=2564</guid>
		<description><![CDATA[(dikutip dari situs answeringfaithfreedom)
Mengapa Rasulullah Saw. tidak membatasi empat orang isteri saja, padahal qur’an membatasi jumlah isteri ketika beliau sedang beristeri sembilan orang, dan mengapa tidak ditalak selebihnya? Jawabannya; di ayat lain, Allah SWT telah mengharamkan isteri-isteri beliau nikah dengan umatnya, karena status mereka adalah ummahat (ibu-ibu kaum muslimin) (Q.S: al-Ahzab: 6 dan 53). Jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(dikutip dari situs answeringfaithfreedom)</p>
<p>Mengapa Rasulullah Saw. tidak membatasi empat orang isteri saja, padahal qur’an membatasi jumlah isteri ketika beliau sedang beristeri sembilan orang, dan mengapa tidak ditalak selebihnya? Jawabannya; di ayat lain, Allah SWT telah mengharamkan isteri-isteri beliau nikah dengan umatnya, karena status mereka adalah ummahat (ibu-ibu kaum muslimin) (Q.S: al-Ahzab: 6 dan 53). Jika seandainya ditalak, maka akan dikemanakan mereka. Bukankah hal yang sama, kita tidak tega melakukannya untuk anak perempuan kandung, saudara, dan ibu kita.</p>
<p>Sebab lainnya; jika Rasulullah menalak isterinya, maka akan membuat isteri-isterinya bersedih, mendatangkan kebencian keluarga dan kabilah mereka. Ada orang yang bilang; kalau begitu apa bedanya dengan isteri-isteri kaum muslim yang tertalak, bukankah mereka juga akan bersedih, keluarga dan kabilahnya akan tersinggung.</p>
<p>mengapa Rasulullah berpoligami? Karena, hal itu adalah perintah Allah SWT berdasarkan sebab-sebab tertentu. Jika Rasulullah pengagum sex, mengapa beliau tidak melakukan poligami saat usia muda? Sejarah telah mengabarkan kepada kita, bahwa beliau monogami bersama Siti Khadijah selama dua puluh lima tahun. Saat-saat dimana jiwa muda bergelora. Juga, Siti Khadijah lebih tua dari beliau lima belas tahun. Beliau tidak nikah, kecuali setelah Siti Khadijah wafat.</p>
<p>Ketika Rasulullah berusia lima puluh tiga tahun, ditambah dengan aktifitas dakwah yang padat, salat tahajud sampai kaki beliau bengkak, ikut bertempur memerangi orang-orang kafir, menerima tamu-tamu yang berkunjung, mengadakan<br />
perjanjian-perjanjian damai demi keamanan dengan Yahudi, orang-orang munafik, dan kabilah-kabilah tetangga, dll. Yang jika ditela’ah, satu orang anak manusiapun tidak mampu melakukan berbagai aktifitas yang padat tadi. Mungkinkah, Rasulullah masih punya waktu banyak dan tenaga yang cukup untuk bersenang-senang dengan isteri-isterinya? Belum lagi kehidupan beliau yang penuh dengan kezuhudan dan kesederhanaan.</p>
<p>Sampai-sampai, saat beliau sangat lapar, dua butir batu beliau gunakan untuk menonggak perutnya, agar rasa lapar tidak terasa. Makan hanya dengan tiga butir kurma dan dapurnya hampir tidak pernah berasap. Juga, keseringan puasanya. Padahal umatnya dilarang puasa wisal (bersambung) sedangkan beliau sendiri puasa wisal sampai tiga hari berturut-turut.</p>
<p>Kalau Rasulullah pengagum sex, mengapa beliau memilih isteri-isteri yang sudah lanjut usia, lemah dan juga memilih Siti Aisyah yang masih kecil? Mengapa pula Rasulullah memilih janda-janda? Sejarah membuktikan, bahwa semua isteri<br />
Rasulullah adalah wanita-wanita lanjut usia, lemah, dan janda. Kecuali Siti Aisyah. Bahkan sebagian mereka telah sangat lanjut usia. Seperti Siti Khadijah, Siti Saudah, dan Siti Zainab binti Khuzaimah.</p>
<p><strong><br />
Berikut adalah sebab-sebab Rasulullah poligami<br />
</strong><br />
Beliau nikah dengan Siti Saudah binti Zam’ah yang janda ditinggal mati suami. Sedangkan kerabatnya adalah orang-orang musyrik. Usia Siti Saudah kala itu enam puluh enam tahun. Lebih tua dengan beliau lima belas tahun. Demi tidak membiarkan Siti saudah dalam kesendirian, sebatang kara. Karena kalau dia kembali ke kerabatnya yang musyrik, maka Islamnya akan terancam. Sebelumnya Siti Aisyah bermimpi, bahwa Siti Saudah menjadi isteri Rasulullah. (Sahihul<br />
Jami’: 915).</p>
<p>Rasulullah nikah dengan Siti Aisyah dan Siti Hafsah sebagai penghargaan kepada keduanya, juga kepada kedua orang tua keduanya. Sebab kedua bapak mereka adalah menteri beliau. Hal ini demi tidak menghalangi keduanya untuk menziarahi Rasulullah kapan saja.</p>
<p>Rasulullah nikah dengan Umu Salamah (Hindun binti Abi Umayah bin Almuqirah). Karena Umu Salamah adalah salah peserta hijrah ke Habasyah dan Madinah. Suaminya yang baik hati, Abu Salamah meninggal dunia, sedangkan dia mempunyai anak-anak yang butuh asuhan. Maka Rasulullah menikahinya demi memuliakan dia, karena dia penyabar, juga karena dia termasuk golongan orang-orang yang menganut Islam dimasa awal-awal. Dan yang jelas, demi memuliakan mantan suaminya yang begitu baik. Dengan cara mengasuh anak-anaknya. Rasulullah sebenarnya telah berdoa kepada Allah agar Umi Salamah mendapatkan suami yang terbaik. Di malam pertama, Rasulullah menanyai anak-anaknya. Karena beliau tidak melihat mereka nampak bersama ibunya. Umi Salamah menjawab; mereka di rumah paman mereka. Rasulullah tidak menerima hal itu, lalu memerintahkan kepadanya agar mereka balik. Setelah itu Rasulullah bersabda; “barang siapa yang memisahkan antara orang tua dan anaknya, maka Allah akan memisahkannya dengan orang yang dia cintai di hari kiamat”. (Sunan Turmudzi dan Sahihul Jami’: 6412). Rasulullah sangat menyayangi anak-anak Umu Salamah. Menimang mereka, bermain bersama, makan bersama.</p>
<p>Adapun Umu Habibah (Ramlah binti Abi Sufyan) mendapatkan terror dari bapak dan saudaranya. Lalu dia hijrah bersama suaminya ke Habsyah. Tiba di sana, suaminya masuk agama Kristen. Jadilah dia dalam kesendirian. Rasulullah kemudian mengirim utusan kepada Raja Habsyah, Najasyi, agar meminangnya untuk Rasulullah, demi memuliakan Umu Habibah. Jika dia kembali kepada kerabatnya, maka dipastikan, dia akan sengsara lagi.</p>
<p>Siti Zainab binti Jahsy adalah sepupu Rasulullah. Allah memerintahkan beliau agar menikahinya, demi menghapus adat tabanni (anak angkat). Karena sebelumnya, Siti Zainab adalah isteri dari anak angkat Rasulullah. Lalu diceraikan suaminya.</p>
<p>Siti Juwairiyah binti Harits menjadi tawanan perang Bani Mustaliq. Bapaknya, Harits adalah kepala suku. Ketika Rasulullah kembali ke Madinah. Harits bermaksud hendak menjumpai Rasulullah dan menebus anaknya dengan beberapa ekor onta. Kala Harits tiba disuatu tempat yang bernama Aqiq, merasa kagum dengan onta-onta disitu dan memilih dua ekor untuk dia sembunyikan tanpa diketahui oleh masyarakat muslim disitu. Setibanya dihadapan Rasulullah, dia berkata; aku datang menebus putriku yang telah kalian tawan. Rasulullah bertanya; mana dua ekor onta yang telah kau sembunyikan di Aqiq tanpa sepengetahuan penduduknya? Harits kaget; Demi Allah, tak seorangpun yang tau hal itu. Aku bersaksi bahwa<br />
tiada tuhan selain Allah dan engkau adalah Rasulullah. Lalu Rasulullah memintanya agar menikahkan putrinya dengan beliau. Maka Harits langsung memenuhinya. Perhatikan, bagaimana Rasulullah memuliakan Siti Juwairiyah, bapaknya (karena dia masuk Islam), dan kerabatnya. Bukan saja Rasulullah membebaskan Siti Juwairiyah, tapi menikahinya. Para sahabatpun langsung membebaskan tawanan-tawanan yang ada pada mereka. Demi hormat kepada keluarga Rasulullah. Tawanan perang Bani Mustaliq kala itu berjumlah sekitar seratus orang.</p>
<p>Siti Zainab binti Khuzaimah paling tua disbanding Rasulullah. Suaminya gugur pada perang Uhud. Tiada seorangpun yang mencoba menikahinya. Rasulullah kemudian menikahinya. Zainab binti Khuzaimah terkenal kala itu, dengan panggilan Umu Masakin (ibu para fakir miskin). Karena dia sering berinfak.</p>
<p>Siti Shafiyah binti Huyayyi tertawan pada perang Khaibar. Dalam perang itu suami, bapak, saudara, dan pamannya ter- bunuh. Rasulullah membebaskannya, demi kasih sayang, hormat, dan agar ada yang menaunginya. Siti Shafiyah sebelumnya<br />
bermimpi, bulan purnama jatuh di pangkuannya. Tatkala dia menceritakan mimpinya kepada keluarganya. Pamannya langsung menamparnya dan berkata; kau mau dengan Nabinya bangsa Arab itu!</p>
<p>Secara garis besar, alasan Rasulullah berpoligami adalah demi menanamkan benih kasih sayang dengan kerabat dan kabilah isteri-isterinya. Agar mereka masuk Islam. Hikmah lainnya; agar kepribadian Rasulullah dirumah diketahui oleh banyak orang. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa banyak orang yang nampak di luar rumah sebagai seorang yang alim dan bertaqwa, tetapi ketika di dalam rumahnya, sifat-sifat tadi tidak bisa dipertahankan.</p>
<p>Hikmah lainnya; rumah-rumah isterinya menjadi pusat penyebaran risalah Islam. Lebih lagi, bila ajaran yang menyangkut masalah khusus perempuan.</p>
<p><strong><br />
Penutup:</strong><br />
Poligami yang dilakukan oleh Rasulullah sesungguhnya sarat dengan catatan-catatan penting. Beliau tidak melakukannya secara bebas dan tanpa pertimbangan. Sangat berbeda dengan praktek poligami oleh kebanyakan orang sekarang.</p>
<div style='display:none' id="post-refEl-2564"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/06/mengapa-nabi-beristri-banyak-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hafshah binti Umar</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/06/hafshah-binti-umar/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/06/hafshah-binti-umar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 07:52:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Istri Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=2562</guid>
		<description><![CDATA[Hafshah binti Umar (Arab:حفصة بنت عمر) adalah salah seorang istri Muhammad. Ia seorang janda dari seorang pria bernama Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy yang meninggal dunia saat Perang Badar.

Genealogi
Nama lengkap Hafshah adalah Hafshah binti Umar bin Khaththab bin Naf’al bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay dari suku Arab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hafshah binti Umar (Arab:حفصة بنت عمر) adalah salah seorang istri Muhammad. Ia seorang janda dari seorang pria bernama Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy yang meninggal dunia saat Perang Badar.</p>
<p><strong><br />
Genealogi</strong></p>
<p>Nama lengkap Hafshah adalah Hafshah binti Umar bin Khaththab bin Naf’al bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay dari suku Arab Adawiyah. Ibunya adalah Zaynab binti Madh’un bin Hubaib bin Wahab bin Hudzafah, saudara perempuan Utsman bin Madh’un.</p>
<p><strong><br />
 Biografi/ Masa Petumbuhannya</strong></p>
<p>Hafshah dilahirkan pada tahun yang sangat terkenal dalam sejarah orang Quraisy, yaitu ketika Rasullullah memindahkan Hajar Aswad ke tempatnya semula setelah Ka’bah dibangun kembali setelah roboh karena banjir. Pada tahun itu juga dilahirkan Fathimah az-Zahra, putri bungsu Rasulullah dari empat putri, dan kelahirannya disambut gembira oleh beliau. Beberapa hari setelah Fathimah lahir, lahirlah Hafshah binti Umar bin Khaththab. Mendengar bahwa yang lahir adalah bayi wanita, Umar sangat berang dan resah, sebagaimana kebiasaan bapak-bapak Arab Quraisy ketika mendengar berita kelahiran anak perempuannya. Waktu itu mereka menganggap bahwa kelahiran anak perempuan telah membawa aib bagi keluarga. Padahal jika saja ketika itu Umar tahu bahwa kelahiran anak perempuannya akan membawa keberuntungan, tentu Umar akan menjadi orang yang paling bahagia, karena anak yang dinamai Hafshah itu kelak menjadi istri Rasulullah. Di dalam Thabaqat, Ibnu Saad berkata, “Muhammad bin Umar berkata bahwa Muhammad bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya, Umar mengatakan, ‘Hafshah dilahirkan pada saat orang Quraisy membangun Ka’bah, lima tahun sebe1um Nabi diutus menjadi Rasul.”</p>
<p>Sayyidah Hafshah r.a. dibesarkan dengan mewarisi sifat ayahnya, Urnar bin Khaththab. Dalarn soal keberanian, dia berbeda dengan wanita lain, kepribadiannya kuat dan ucapannya tegas. Aisyah melukiskan bahwa sifat Hafshah sarna dengan ayahnya. Kelebihan lain yang dirniliki Hafshah adalah kepandaiannva dalarn rnernbaca dan menulis, padahal ketika itu kernampuan tersebut belum lazirn dirniliki oleh kaurn perempuan.</p>
<p><strong><br />
Memeluk Islam</strong></p>
<p>Hafshah tidak termasuk ke dalam golongan orang yang pertama masuk Islam, karena ketika awal-awal penyebaran Islam, ayahnya, Urnar bin Khaththab, masih menjadi musuh utama umat Islam hingga suatu hari Umar tertarik untuk masuk Islam. Ketika suatu waktu Umar mcngetahui keislarnan saudara perernpuannya, Fathimah dan suarninya Said bin Zaid, dia sangat marah dan berniat menyiksa mereka. Sesampainya di rumah saudara perempuannya, Umar mendengar bacaan Al-Qur’an yang mengalun dan dalam rumah, dan memuncaklah amarahnya ketika dia memasuki rumah tersebut. Tanpa ampun dia menampar mereka hingga darah mengucur dari kening keduanya. Akan tetapi, hal yang tidak terduga terjadi, hati Umar tersentuh ketika meihat darah mengucur dari dahi adiknya, kernudian diarnbilnyalah Al Qur’an yang ada pada mereka. Ketika selintas dia membaca awal surat Thaha, terjadilah keajaiban. Hati Umar mulai diterangi cahaya kebenaran dan keimanan. Allah telah mengabulkan doa Nabi . yang mengharapkan agar Allah membuka hati salah seorang dari dua Umar kepada Islam. Yang dimaksud Rasulullah dengan dua Umar adalah Amr bin Hisyam atau lebih dikenal dengan Abu Jahl dan Umar bin Khaththab.</p>
<p>Setelah kejadian itu, dari rumah adiknya dia segera menuju Rasulullah dan menyatakan keislaman di hadapan beliau, Umar bin Khaththab bagaikan bintang yang mulai menerangi dunia Islam serta mulai mengibarkan bendera jihad dan dakwah hingga beberapa tahun setelah Rasulullah wafat. Setelah menyatakan keislaman, Umar bin Khaththab segera menemui sanak keluarganya untuk mengajak mereka memeluk Islam. Seluruh anggota keluarga menerima ajakan Umar, termasuk di dalamnya Hafshah yang ketika itu baru berusia sepuluh tahun.</p>
<p><strong><br />
Menikah dan Hijrah ke Madinah</strong></p>
<p>Keislaman Umar membawa keberuntungan yang sangat besar bagi kaum muslimin dalam menghadapi kekejaman kaum Quraisy. Kabar keislaman Umar ini mernotivasi para muhajirin yang berada di Habasyah untuk kembali ke tanah asal rnereka setelah sekian larna ditinggalkan. Di antara mereka yang kembali itu terdapat seorang pemuda bernama Khunais bin Hudzafah as-Sahami. Pemuda itu sangat mencintai Rasulullah sebagaimana dia pun mencintai keluarga dan kampung halamannya. Dia hijrah ke Habasyah untuk rnenyelamatkan diri dan agamanya. Setibanya di Mekah, dia segera mengunjungi Umar bin Khaththab, dan di sana dia melihat Hafshah. Dia meminta Umar untuk menikahkan dirinya dengan Hafshah, dan Umar pun merestuinya. Pernikahan antara mujahid dan mukminah mulia pun berlangsung. Rumah tangga mereka sangat berbahagia karena dilandasi keirnanan dan ketakwaan.</p>
<p>Ketika Allah menerangi penduduk Yatsrib sehingga memeluk Islam, Rasulullah . menernukan sandaran baru yang dapat membantu kaum muslimin. Karena itulah beliau mengizinkan kaum muslimin hijrah ke Yatsrib untuk menjaga akidah mereka sekaligus menjaga mereka dan penyiksaan dan kezaliman kaum Quraisy. Dalam hijrah ini, Hafshah dan suaminya ikut serta ke Yatsrib.</p>
<p><strong><br />
Cobaan dan Ganjaran</strong></p>
<p>Setelah kaum muslirnin berada di Madinah dan Rasulullah . berhasil menyatukan mereka dalam satu barisan yang kuat, tiba saatnya bagi mereka untuk menghadapi orang musyrik yang telah memusuhi dan mengambil hak mereka. Selain itu, perintah Allah untuk berperang menghadapi orang musyrik sudah tiba.</p>
<p>Peperangan pertarna antara umat Islam dan kaum musyrik Quraisy adalah Perang Badar. Dalam peperangan ini, Allah telah menunjukkan kemenangan bagi harnba- hamba-Nya yang ikhlas sekalipun jumlah mereka masih sedikit. Khunais termasuk salah seorang anggota pasukan muslimin, dan dia mengalami luka yang cukup parah sekembalinya dari peperangan tersebut. Hafshah senantiasa berada di sisinya dan mengobati luka yang dideritanya, namun Allah berkehendak memanggil Khunais sebagai syahid dalam peperangan pertama melawan kebatilan dan kezaliman, sehingga Hafshah menjadi janda. Ketika itu usia Hafshah baru delapan belas tahun, namun Hafshah telah memiliki kesabaran atas cobaan yang menimpanya.</p>
<p>Umar sangat sedih karena anaknya telah menjadi janda pada usia yang sangat muda, sehingga dalam hatinya terbetik niat untuk menikahkan Hafshah dengan seorang muslim yang saleh agar hatinya kembali tenang. Untuk itu dia pergi ke rumah Abu Bakar dan merninta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi, Abu Bakar diam, tidak menjawab sedikit pun. Kemudian Umar menemui Utsman bin Affan dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi, pada saat itu Utsman masih berada dalam kesedihan karena istrinya, Ruqayah binti Muhammad, baru meninggal. Utsman pun menolak permintaan Umar. Menghadapi sikap dua sahabatnya, Uman sangat kecewa, dan dia bertambah sedih karena memikirkan nasib putrinya. Kemudian dia menemui Rasulullah dengan maksud mengadukan sikap kedua sahabatnya. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah . bersabda, “Hafshah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Utsman dan Abu Bakar. Utsman pun akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Hafshah.” Semula Umar tidak memahami maksud ucapan Rasulullah, tetapi karena kecerdasan akalnya, dia kemudian memahami bahwa Rasulullah yang akan meminang putrinya.</p>
<p>Umar merasa sangat terhormat mendengar niat Rasulullah untuk menikahi putrinya, dan kegernbiraan tampak pada wajahnya. Umar langsung menernui Abu Bakar untuk mengutarakan maksud Rasulullah. Abu Bakar berkata, “Aku tidak bermaksud menolakmu dengan ucapanku tadi, karena aku tahu bahwa Rasulullah telah rnenyebut-nyebut nama Hafshah, namun aku tidak mungkin membuka rahasia beliau kepadamu. Seandainya Rasulullah membiarkannya, tentu akulah yang akan menikahi Hafshah.” Umar baru memahami mengapa Abu Bakar menolak menikahi putrinya. Sedangkan sikap Utsman hanya karena sedih atas meninggalnya Ruqayah dan dia bermaksud menyunting saudaranya, Ummu Kultsum, sehingga nasabnya dapat terus bersambung dengan Rasulullah. Setelah Utsman menikah dengan Ummu Kultsum, dia dijuluki dzunnuraini (pemilik dua cahaya). Pernikahan Rasulullah . dengan Hafshah lebih dianggap sebagai penghargaan beliau terhadap Umar, di samping juga karena Hafshah adalah seorang janda seorang mujahid dan muhajir, Khunais bin Hudzafah as-Sahami.</p>
<p><strong><br />
Berada di Rumah Rasulullah</strong></p>
<p>Di rumah Rasulullah, Hafshah menempati kamar khusus, sama dengan Saudah binti Zum’ah dan Aisyah binti Abu Bakar. Secara manusiawi, Aisyah sangat mencemburui Hafshah karena mereka sebaya, lain halnya Saudah binti Zum’ah yang menganggap Hafshah sebagai wanita mulia putri Umar bin Khaththab, sahabat Rasulullah yang terhormat.</p>
<p>Umar memahami bagaimana tingginya kedudukan Aisyah di hati Rasulullah. Dia pun rnengetahui bahwa orang yang rnenyebabkan kemarahan Aisyah sama halnya dengan menyebabkan kemarahan Rasulullah, dan yang ridha terhadap Aisyah berarti ridha terhadap Rasulullah. Karena itu Umar berpesan kepada putrinya agar berusaha dekat dengan Aisyah dan mcncintainya. Selain itu, Umar meminta agar Hafshah rnenjaga tindak-tanduknya sehingga di antara mereka berdua tidak terjadi perselisihan. Akan tetapi, mcmang sangat manusiawi jika di antara mereka rnasih saja terjadi kesalahpahaman yang bersumber dari rasa cemburu. Dengan lapang dada Rasulullab . mendamaikan mereka tanpa menimbulkan kesedihan di antara istri – istrinya. Salah satu contoh adalah kejadian ketika Hafshah melihat Mariyah al-Qibtiyah datang rnenemui Nabi dalam suatu urusan. Mariyah berada jauh dari masjid, dan Rasulullah menyuruhnya masuk ke dalarn rumah Hafshah yang ketika itu sedang pergi ke rumah ayahnya, dia melihat tabir karnar tidurnya tertutup, sementara Rasulullah dan Mariyah berada di dalamnya. Melihat kejadian itu, amarah Hafshah meledak. Hafshah menangis penuh amarah. Rasulullah berusaha membujuk dan meredakan amarah Hafshah, bahkan beliau bersumpah rnengharamkan Mariyah baginya kalau Mariyah tidak merninta maaf pada Hafshah, dan Nabi meminta agar Hafshah rnerahasiakan kejadian tersebut.</p>
<p>Merupakan hal yang wajar jika istri-istri Rasulullah merasa cemburu terhadap Mariyah, karena dialah satu-satunya wanita yang melahirkan putra Rasulullah setelah Siti Khadijah r.a.. Kejadian itu segera menyebar, padahal Rasulullah telah memerintahkan untuk menutupi rahasia tersebut. Berita itu akhirnya diketahui oleh Rasulullah sehingga beliau sangat marah. Sebagian riwayat mengatakan bahwa setelah kejadian tersebut, Rasulullah . menceraikan Hafshah, namun beberapa saat kemudian beliau merujuknya kembali karena melihat ayah Hafshah, Umar, sangat resah. Sementara riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah bermaksud menceraikan Hafshah, tetapi Jibril mendatangi beliau dengan maksud memerintahkan beliau untuk mempertahankan Hafshah sebagai istrinya karena dia adalah wanita yang berpendirian teguh. Rasulullah pun mempertahankan Hafshah sebagai istrinya, terlebih karena tersebut Hafshah sangat menyesali perbuatannya dengan membuka rahasia dan memurkakan Rasulullah .</p>
<p>Umar bin Khaththab mengingatkan putrinya agar tidak lagi membangkitkan amarah Rasulullah dan senantiasa menaati serta mencari keridhaan beliau. Umar bin Khaththab meletakkan keridhaan Rasulullah . pada tempat terpenting yang harus dilakukan oleh Hafshah. Pada dasarnya, Rasulullah menikahi Hafshah karena memandang keberadaan Umar dan merasa kasihan terhadap Hafshah yang ditinggalkan suaminya. Allah menurunkan ayat berikut ini sebagai antisipasi atas isu-isu yang tersebar.</p>
<p>“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang telah Allah menghalalkannya bagimu,- kamu mencari kesenangan hati istri -istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dan sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dan istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberiitakan Allah kepadanya) dan rnenyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya, ‘Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?’ Nabi menjawab, ‘Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukrnin yang haik; dan selain dan itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda, dan yang perawan.” (Qs. At-Tahrim:1-5)</p>
<p><strong><br />
Cobaan Besar</strong></p>
<p>Hafshah senantiasa bertanya kepada Rasulullah dalam berbagai rnasalah, dan hal itu menyebabkan marahnya Umar kepada Hafshah, sedangkan Rasulullah . senantiasa memperlakukan Hafshah dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Beliau bersabda, “Berwasiatlah engkau kepada kaum wanita dengan baik.” Rasulullah . pernah marah besar kepada istri-istrinya ketika mereka meminta tambahan nafkah sehingga secepatnya Umar mendatangi rumah Rasulullah. Umar melihat istri-istri Rasulullah murung dan sedih, sepertinya telah terjadi perselisihan antara mereka dengan Rasulullah. Secara khusus Umar memanggil putrinya, Hafshah, dan mengingatkannya untuk menjauhi perilaku yang dapat membangkitkan amarah beliau dan menyadari bahwa beliau tidak memiliki banyak harta untuk diberikan kepada mereka. Karena marahnya, Rasulullah bersumpah untuk tidak berkumpul dengan istri-istri beliau selama sebulan hingga mereka menyadari kesalahannya, atau menceraikan mereka jika mereka tidak menyadari kesalahan. Kaitannya dengan hal ini, Allah berfirman,</p>
<p>“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menghendaki kehidupan dunia dan segala perhiasannya, maka kemarilah, aku akan memenuhi keinginanmu itu dan aku akan menceraikanmu secara baik-baik. Dan jika kalian menginginkan (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di kampung akhirat, sesungguhnya Allah akan menyediakan bagi hamba-hamba yang baik di antara kalian pahala yang besar. “ (QS. Al-Ahzab)</p>
<p>Rasulullah . menjauhi istri-istrinya selama sebulan di dalam sebuah kamar yang disebut khazanah, dan seorang budak bernama Rabah duduk di depan pintu kamar.</p>
<p>Setelah kejadian itu tersebarlah kabar yang meresahkan bahwa Rasulullah . telah menceraikan istri-jstri beliau. Yang paling merasakan keresahan adalah Urnar bin Khaththab, sehingga dia segera rnenemui putrinya yang sedang menangis. Urnar berkata, “Sepertinya Rasulullah telah menceraikanmu.” Dengan terisak Hafshah menjawab, “Aku tidak tahu.” Umar berkata, “Beliau telah menceraikanmu sekali dan merujukmu lagi karena aku. Jika beliau menceraikanmu sekali lagi, aku tidak akan berbicara dengan mu selama-lamanya.” Hafshah menangis dan menyesali kelalaiannya terhadap suami dan ayahnya. Setelah beberapa hari Rasulullah . menyendiri, belum ada seorang pun yang dapat memastikan apakah beliau menceraikan istri-istri beliau atau tidak. Karena tidak sabar, Umar mendatangi khazanah untuk menemui Rasulullah yang sedang rnenyendiri. Sekarang ini Umar menemui Rasulullah bukan karena anaknya, melainkan karena cintanya kepada beliau dan merasa sangat sedih melihat keadaan beliau, di samping memang ingin memastikan isu yang tersebar. Dia merasa putrinyalah yang menjadi penyebab kesedihan beliau. Umar pun meminta penjelasan dari beliau walaupun di sisi lain dia sangat yakin bahwa beliau tidak akan menceraikan istri – istri beliau. Dan memang benar, Rasulullah . tidak akan menceraikan istri-istri beliau sehingga Umar meminta izin untuk mengumumkan kabar gembira itu kepada kaum muslimin. Umar pergi ke masjid dan mengabarkan bahwa Rasulullah . tidak menceraikan istri-istri beliau. Kaum muslimin menyambut gembira kabar tersebut, dan tentu yang lebih gembira lagi adalah istri-istri beliau.</p>
<p>Setelah genap sebulan Rasulullah menjauhi istri-istrinya, beliau kembali kepada mereka. Beliau melihat penyesalan tergambar dari wajah mereka. Mereka kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk lebih meyakinkan lagi, beliau rnengurnumkan penyesalan mereka kepada kaurn muslimin. Hafshah dapat dikatakan sebagai istri Rasul yang paling menyesal sehingga dia mendekatkan diri kepada Allah dengan sepenuh hati dan menjadikannya sebagai tebusan bagi Rasulullah. Hafshah memperbanyak ibadah, terutama puasa dan shalat malam. Kebiasaan itu berlanjut hingga setelah Rasulullah wafat. Bahkan pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Urnar, dia mengikuti perkembangan penaklukan-penaklukan besar, baik di bagian timur maupun barat.</p>
<p>Hafshah merasa sangat kehilangan ketika ayahnya meninggal di tangan Abu Lu’luah. Dia hidup hingga masa kekhalifahan Utsman, yang ketika itu terjadi fitnah besar antar muslirnin yang menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman hingga masa pembai’atan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Ketika itu, Hafshah berada pada kubu Aisyah sebagaimana yang diungkapkannya, “Pendapatku adalah sebagaimana pendapat Aisyah.” Akan tetapi, dia tidak termasuk ke dalam golongan orang yang menyatakan diri berba’iat kepada Ali bin Abi Thalib karena saudaranya, Abdullah bin Umar, memintanya agar berdiam di rumah dan tidak keluar untuk menyatakan ba’iat.</p>
<p>Tentang wafatnya Hafshah, sebagian riwayat mengatakan bahwa Sayyidah Hafshah wafat pada tahun ke empat puluh tujuh pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Dia dikuburkan di Baqi’, bersebelahan dengan kuburan istri-istri Nabi yang lain.</p>
<p><strong><br />
Pemilik Mushaf yang Pertama</strong></p>
<p>Karya besar Hafshah bagi Islam adalah terkumpulnya A1-Qur’an di tangannya setelah mengalami penghapusan karena dialah satu-satunya istrii Nabi . yang pandai membaca dan menulis. Pada masa Rasul, A1-Qur’an terjaga di dalam dada dan dihafal oleh para sahabat untuk kemudian dituliskan pada pelepah kurma atau lembaran-lembaran yang tidak terkumpul dalam satu kitab khusus.</p>
<p>Pada masa khalifah Abu Bakar, para penghafal A1-Qur’an banyak yang gugur dalam peperangan Riddah (peperangan rnelawan kaum murtad). Kondisi seperti itu mendorong Umar bin Khaththab untuk mendesak Abu Bakar agar mengumpulkan Al-Qur’an yang tercecer. Awalnya Abu Bakar merasa khawatir kalau mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu kitab itu merupakan sesuatu yang mengada-ada karena pada zaman Rasul hal itu tidak pernah dilakukan. Akan tetapi, atas desakan Umar, Abu bakar akhirnya memerintah Hafshah untuk mengumpulkan Al-Qur’an, sekaligus menyimpan dan memeliharanya. Mushaf asli Al-Qur’an itu berada di rumah Hafshah hingga dia meninggal.</p>
<div style='display:none' id="post-refEl-2562"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/06/hafshah-binti-umar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri Istri Nabi</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/06/istri-istri-nabi/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/06/istri-istri-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 05:24:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Istri Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=2556</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan oleh Abdul Malik bin Muhammad Al-Naisaburi dengan sanad sahabat Abu Sa’id Al Khudri,  bahwa ia berkata:
&#8220;Rasulullah bersabda: ‘Tidaklah ku nikahi isteri-isteriku dan tidaklah kunikahkan putri putriku  kecuali dengan wahyu yang disampaikan oleh Jibril a.s.  kepadaku dari Allah Azza wa Jalla”

1.	Khadijah Binti Khuwailid
Wanita pertama yang   Nabi  nikahi ialah Siti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diriwayatkan oleh <strong>Abdul Malik bin Muhammad Al-Naisaburi </strong>dengan sanad sahabat Abu Sa’id Al Khudri,  bahwa ia berkata:</p>
<p>&#8220;Rasulullah bersabda: ‘Tidaklah ku nikahi isteri-isteriku dan tidaklah kunikahkan putri putriku  kecuali dengan wahyu yang disampaikan oleh Jibril a.s.  kepadaku dari Allah Azza wa Jalla”<br />
<strong><br />
1.	Khadijah Binti Khuwailid</strong></p>
<p>Wanita pertama yang   Nabi  nikahi ialah Siti Khadijah r.a.  Telah diberitakan bahwa Rasulullah pernah menyuruh seseorang untuk memberitahukan kabar gembira kepada Khadijah tentang sebuah rumah di surga yang bertahtakan permata intan berlian, yang tidak mengandung suara gaduh dan kepayahan.<br />
Pada suatu hari, Siti Aisyah pernah berkata kepada Rasulullah yang sebelumnya telah memuji muji Siti Khadijah:  &#8220;Buat apa mengingat-ingat perempuan tua yang merah kedua sudut mulutnya   itu. Bukanlah Allah telah memberi ganti  buatmu, seorang wanita yang lebih balk daripadanya?“<br />
Dengan marah Rasulullah menjawab: &#8220;Allah tidak menggantikan buatku yang lebih baik daripadanya. Ia beriman kepadaku tatkala orang-orang mendustakan aku, dan ia pun telah me-<br />
ngorbankan harta bendanya buatku tatkala orang-orang memboikotku, dan aku  telah dikaruniai anak dari rahimnya, sedang darl isteri  isteriku yang lain tidak.&#8221; </p>
<p><strong>2.	Saudah binti Zam’ah</strong></p>
<p>Saudah binti Zam’ah  dinikahi nabi pada tahun kesepuluh kenabian, setelah wafatnya Khadijah.   Sebelum itu ia adalah isteri dari saudara sepupunya yang bernama Sakran bin Amru.   Ia sudah cukup berumur/ tua.  Suaminya ini masuk Islam bersamanya dan hijrah ke negeri Habasyah pada hijrah yang kedua.   Ketika suaminya meninggal dunia, dan Rasul memberi penghargaan yang tinggi kepadanya, maka Nabi lantas menikahinya.<br />
Tatkala usianya telah lanjut,  beliau bermaksud akan menceraikannya, tetapi ia memohon agar tidak diceraikan dengan memberikan gilirannya bagi Aisyah.  Akhirnya beliau tldak jadi menceraikannya.  Ia meninggal dunia pada masa kekhalifahan Umar.</p>
<p>Acara pernikahan dilakukan oleh Salit bin Amr. Riwayat lain menyatakan upacara dilakukan oleh Abu Hatib bin Amr. Maskawinnya ialah 400 dirham.</p>
<p><strong>3. Aisyah</strong></p>
<p>Setelah itu Nabi menikahi Aisyah binti Abubakar Al-Shiddiq r.a., pada bulan Syawwal tahun keduabelas kenabian menurut salah satu qaul. Ketika itu Aisyah baru berusia tujuh tahun —- menurut suatu qaul -— dan baru pada bulan kedelapan hijriah beliau membina rumah tangga dengannya, (saat itu Aisyah berusia sembilan tahun) meninggal dunia pada saat Aisyahrberusia delapan belas tahun dan beliau tidak menikahi dengan seorang gadis perawan pun kecuali  Aisyah.<br />
Manaqibnya sangat banyak sekali. Ia mendapat julukan sama dengan nama putra saudarinya Asma yang bernama Abdullah bin Zubair.<br />
Siti Aisyah meninggal dunia pada tahun lima puluh enam atau lima puluh tujuh atau lima puluh delapan hijriah, dan dishalati oleh Abu Hurairah serta dikebumikan di waktu malam di pekuburan Baqi’. Pada saat itu umurnya mendekati enam puluh tujuh tahun,.<br />
Ada sebagian erang yang mengatakan bahwa Nabi menikah dengan Aisyah sebelum dengan Saudah. Yang lain mengatakan bahwa Nabi mengadakan akad nikah dulu dengan Aisyah sebelum resmi dengan Saudah. J adi tidak ada pertentangan antara kedua pendapat tersebut.</p>
<p><strong><br />
4. Hafshah</strong></p>
<p>Kemudian Hafshah binti Umar binti Khatthab radliyallaahu ta’ala anhuma, yang dinikahi pada bulan Sya’ban setelah lewat tiga puluh bulan dari hijrah Nabi.  Ia dilahirkan lima tahun sebelum masa kenabian, dan meninggal dunia pada bulan Sya’ban tahun empat puluh lima hijriah serta dishalati oleh Marwan bin Hakam, Gubernur Madinah saat itu. </p>
<p>Hafsah seorang janda. Suami pertamanya Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy yang meninggal dunia saat Perang Badar. Ayahnya Umar meminta Abu Bakar menikah dengan Hafsah, tetapi Abu Bakar tidak menyatakan persetujuan apapun dan Umar mengadu kepada nabi Muhammad. Kemudian rasulullah mengambil Hafsah sebagai isteri. Hafsah Binti Umar (wafat 45 H)</p>
<p>Hafshah binti Umar bin Khaththab adalah putri seorang laki-laki yang terbaik dan mengetahui hak-hak Allah dan kaum muslimin. Umar bin Khaththab adalah seorang penguasa yang adil dan memiliki hati yang sangat khusyuk. Pernikahan Rasulullah . dengan Hafshah merupakan bukti cinta kasih beliau kepada mukminah yang telah menjanda setelah ditinggalkan suaminya, Khunais bin Hudzafah as-Sahami, yang berjihad di jalan Allah, pernah berhijrah ke Habasyah, kemudian ke Madinah, dan gugur dalam Perang Badar. Setelah suami anaknya meninggal, dengan perasaan sedih, Urnar menghadap Rasulullah untuk mengabarkan nasib anaknya yang menjanda. Ketika itu Hafshah berusia delapan belas tahun. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah memberinya kabar gembira dengan mengatakan bahwa beliau bersedia menikahi Hafshah.</p>
<p>Jika kita menyebut nama Hafshah, ingatan kita akan tertuju pada jasa-jasanya yang besar terhadap kaum muslimin saat itu. Dialah istri Nabi yang pertama kali menyimpan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan pada kulit, tulang, dan pelepah kurma, hingga kemudian menjadi sebuah kitab yang sangat agung.</p>
<p>Nabi menceraikannya, karena ia membocorkan suatu rahasia kepada Aisyah yang dipercayakan Nabi kepadanya. Memang antara keduanya itu terjalin suatu ikatan persahabatan yang erat. </p>
<p>Lalu turunlah Jibril a.s. seraya berkata: &#8220;Rujuklah kembali kepada Hafshah, karena ia banyak berpuasa<br />
dan banyak beribadat di waktu malam. Selain itu dia pun adalah isterimu di surga.&#8221; Dalam riwayat lain disebutkan bahwa tatkala Nabi telah menceraikan Hafshah, berita itu sampai kepada Umar, maka Umar menaburkan tanah ke atas kepalanya seraya berkata. &#8220;Allah sudah tidak lagi mempedulikan Umar dan putri-<br />
nya!&#8221;<br />
Keesokan harinya turunlah Jibril a.s. menjumpai Nabi dengan membawa pesan dari Allah, katanya: &#8220;Sesungguhnya Allah menyuruhmu agar rujuk dengan Hafshah, karena kasihan terhadap Umar.&#8221; Dan Umar mengatakan bahwa sebenarnya Nabi tidaklah menceraikannya tetapi hanya &#8220;bermaksud&#8221; menceraikannya sa-<br />
ja, sedangkan yang dimaksud rujuk itu adalah merukuni dan menyenangkannya kembali.</p>
<p><strong><br />
5. Zainab binti Khuzaimah</strong></p>
<p>Istri beliau kemudian adalah Zainab binti Khuzaimah, yang dinikahi pada tahun ketiga hijriah. Pada masa jahiliah dahulu ia dipanggil dengan sebutan Ummul Masakin, karena ia suka memberikan makanan kepada orang orang miskin. Ia mendampingi Nabi tidak lama, hanya dua atau tiga bulan saja, kemudian meninggal dunia. Ia dishalati sendiri oleh Rasulullah dan dikebumikan di pekuburan Baqi’. Pada saat meninggalnya itu, usianya telah mencapai tigapuluh tahun. </p>
<p>Ia termasuk salah seorang di antara tiga isteri Nabi — yaitu Khadijah, Zainab dan Raihanah — yang meninggal dunia semasa hidup Nabi.</p>
<p><strong><br />
6. Ummu Salamah</strong></p>
<p>Ummu Salamah Hindun binti Abi Umayyah bin Mughirah, seorang janda tua mempunyai 4 anak dengan suami pertama yang bernama Abdullah bin Abd al-Asad. Suaminya syahid dalam Perang Uhud dan saudara sepupunya turut syahid pula dalam perang itu lalu nabi Muhammad melamarnya. Mulanya lamaran ditolak karena menyadari usia tuanya. Alasan umur turut digunakannya ketika menolak lamaran Abu Bakar dan Umar al Khattab.</p>
<p>Lamaran kali kedua nabi Muhammad diterimanya dengan maskawin sebuah tilam, mangkuk dari sebuah pengisar tepung.</p>
<p>Ia dinikahi pada akhir Syawal tahun keempat hijriah. Ketika itu Rasulullah mengutus seseorang untuk menemuinya guna membicarakan lamaran beliau kepadanya.<br />
Ummu Salamah pun berkata  &#8220;Marhaban ya Rasulillah, sesungguhnya saya seorang wanita yang memiliki tiga cela, yaitu sangat pencemburu, sudah mempunyai anak dan tidak mempunyai seorang wali.&#8221;<br />
Lantas Rasulullah mendatanginya seraya berkata: &#8220;Sesungguhnya apa yang kaukatakan tentang sifat pencemburumu itu, maka aku harapkan semoga Allah SWT menghapuskannya dari dalam hatimu. Dan tentang anak-anakmu itu, maka Allah akan mencukupi mereka. Dan tentang walimu, tidak ada seorang pun di antara wali walimu yang tidak suka kepadaku.&#8221;</p>
<p>Akhirnya ia berkata kepada putranya: &#8220;Nikahkanlah Rasulullah s.a.w.!&#8221;<br />
Ia meninggal dunla pada masa pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah, tepatnya pada tahun enam puluh hijriyah dalam usia delapan puluh empat tahun. Dishalati oleh Abu Hurairah dengan dikubur di pekuburan Baqi’. &#8216;</p>
<p><strong><br />
7. Zainab binti Jahsi</strong></p>
<p>Zainab binti Jahsi adalah puteri Amimah, bibi Nabi. Dahulu bemama Barrah, lalu diganti oleh Nabi dengan nama baru: Zainab. Sebelum menikah dengan Nabi, ia adalah isteri Zaid bin Haritsah yang diceraikannya. Kemudian Allah menikahkan beliau dengannya, pada tahun keempat hijriah, menurut salah satu qauL ketika itu ia berumur tiga puluh lima tahun. Peristiwa pernikahannya sesuai dengan fnrman Allah SWT di dalam surah al-Ahzab ayat 37:<br />
&#8216;Makal tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia. . .&#8217;</p>
<p>Dengan adanya ayat ini, ia sering membangga banggakan dirinya di hadapan isteri isteri Nabi yang lain, katanya: &#8220;Kalian semua dinikahkan oleh bapak kalian masing-masing, tetapi saya, Allah-lah yang menikahkan saya dengan beliau dari atas tujuh petala langit-Nya.&#8221;</p>
<p>Mengenai dlrinya pulalah turun ayat hijab, dan ia termasuk isteri pertama di antara isteri isteri Nabi yang menyusul beliau ke alam baka, sebagaimana sebelumnya telah diisyaratkan oleh Nabi. Di dalam kitab Shahih Muslim disebutkan sebuah hadis yang bersumber dari Siti Aisyah r.a.; &#8220;Sebagian isteri Nabi bertanya<br />
kepada beliau: ’Siapakah di antara kami yang paling cepat menyusulmu?’ Beliau menjawab:   &#8216;paling dermawan di antara kalian.’&#8221;<br />
Dan ternyata Zainab yang paling dahulu menyusul beliau.  Ia meninggal dunia pada tahun duapuluh atau duapuluh satu hijriyah dalam usia lima puluh tiga tahun. Dan dikebumikan di pekuburan Baqi’. Yang menshalatinya ialah Umar bin Khaththab r.a.<br />
Siti Aisyah menggambarkan pribadi Zainab sebagai berikut: ‘*Dia menyamai kedudukanku di sisi Rasulullah. Tidak pemah kulihat seorang wanita yang lebih balk dalam urusan agamanya, lebih takwa kepada Allah, paling jujur ucapannya, lebih menghubungkan tali kekeluargaan dan lebih banyak sedekahnya daripada Zainab&#8221;</p>
<p><strong><br />
8. Juwariyah binti Harits</strong></p>
<p>Ia termasuk salah seorang tawanan perang Mursasi’ (ghazwah Bani Mushthaliq), jatuh ke tangan Tsabit bin Qals Al-Anshari. Tsabit menetapkan tebusannya sebesar sembilan pound emas, lantas ditebus Nabi dan dimerdekakannya, kemudian dinikahinya. Sebelum itu namanya adalah Barrah, tetapi kemudian diganti Nabi dengan nama baru: Juwariyah. Ia termasuk seorang wanita yang sangat cantik. Tatkala oran orang mengetahui bahwa Nabi menikahinya, mereka pun membebaskan tawanan-tawanan Bani Mushthaliq lainnya. </p>
<p>Mengenai hal ini, Siti Aisyah memberikan komentar, ”Tidaklah kami ketahui seorang wanita yang lebih<br />
banyak berkat bagi kaumnya melebihi dirinya.”<br />
Ia meninggal dunia di Madinah pada bulan Rabi’ul Awwal tahun lima puluh enam hijriyah, dalam usia tujuh puluh tahun. Dan yang menshalatinya ialah Marwan bin Hakam.</p>
<p><strong><br />
9. Raihanah binti Yazid</strong></p>
<p>Raihanah binti Yazid berasal dari Bani Nadhir. Sebelumnya ia adalah isteri dari salah seorang lelaki Bani Quraidhah, tetapi akhirnya termasuk salah seorang tawanan dari Bani Quraidhah. Lalu Nabi memilihnya. Beliau menyuruh Raihanah untuk memilih antara masuk Islam atau tetap dalam agamanya. Ia memilih masuk<br />
Islam, maka Nabi pun membebaskannya dan kemudian menikahinya. Beliau memberikan mas kawin kepadanya dan menyelenggarakan pesta perkawinannya pada bulan Muharram tahun keenam hijriah. Nabi pernah menceraikannya karena sifat cemburunya yang berlebihan. </p>
<p>Setelah diceraikan Nabi, ia menangis terus hingga akhirnya Nabi melakukan rujuk kembali, Ia meninggal dunia pada saat kembali dari Hajjatul Wadai dan dikebumikan di pekuburan Baqi’.<br />
<strong></p>
<p>10. Ummu Habibah Ramlah</strong></p>
<p>Kemudian Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan Shakhar bin Harb. Ia berangkat hijrah bersama suaminya Ubaidillah bin Jahsyin al-Asadiy ke negeri Habasyah (Ethiopia), hijrah kedua. Ia melahirkan anak dari suaminya, Ubaidillah, yang diberi nama Habibah. Kemudian suaminya beralih ke agama Nashrani, sedang ia tetap dalam Islam.  Tak berapa lama kemudian suaminya meninggal.</p>
<p>Ia kemudian bercerai dari suaminya, jadi status Ramlah binti Abu Sufyan saat itu adalah seorang janda.  Ia lah janda pertama dari kalangan Islam yang sedang dalam keadaan berhijrah (di Habasyah), jauh dari sanak keluarganya, ia hanya beserta beberapa keluarga mukmin yang hijrah ke sana.</p>
<p>Maka Nabi s.a.w. mengutus Amru bin Umayah Al-Dhamiri kepada Negus, untuk membicarakan lamarannya pada Ummu Habibah tersebut, Negus lalu menikahkan beliau dengannya, dengan mas kawin sebesar empat ratus dinar. Sedangkan yang bertindak sebagai walinya ialah Khalid bin Sa’id bin ’Ash, karena ia adalah saudara sepupu ayahnya. Kemudian Negus mengembalikannya kepada beliau pada tahun tujuh Hijriyah (dikawal oleh Syarahbil bin Hasanah).</p>
<p>Dan ia meninggal dunia pada tahun empat puluh empat Hijriyah.</p>
<p><strong><br />
11. Shafiyah</strong></p>
<p>Shafiyah binti Huyai bin Akhthab adalah seorang wanita keturunan Nabi Harun bin Imran a.s. Ayahnya adalah penghulu Bani Nadhir, yang berperang dipihak Bani Quraidhah. Nabi s.a.w. memilihnya di antara para tawanan perang Khaibar. Lalu beliau merdekakan dan kemudian beliau menikahinya. Maharnya adalah kemerdekaan dirinya itu. Ia merupakan wanita yang eantik, yang usianya<br />
ketika itu belum lagi meneapai tujuh belas tahun. Ia meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun lima puluh atau lima puluh dua Hijriyah, dan dikebumikan di pekuburan Baqi’.</p>
<p><strong><br />
12. Maimunah</strong></p>
<p>Maimunah binti Harits dinikahi Nabi s.a.w. pada bulan Syawal tahun ketujuh Hijriyah, ketika beliau sedang dalam keadaan ihram pada umrah qadiza, seperti yang dikatakan oleh jumhun.  Namanya dahulu adalah Barrah, kemudian diganti oleh Nabi dengan nama Maimunah. la meninggal dunia pada tahun lima puluh<br />
satu Hijriyah dalam usia delapan puluh tahun. Ia merupakan wanita terakhir yang dinikahi oleh Nabi s.a.w. dan isteri beliau yang terakhir wafatnya. Ibnu Syihab ‘ mengatakan bahwa Maimunah inilah yang telah menyerahkan dirinya kepada Nabi s.a.w.<br />
* * *<br />
Mereka semua adalah isteri—isteri beliau yang dinikahi beliau dan tidak diceraikannya. Semuanya berjumlah dua belas orang dan yang meninggal dunia semasa beliau hidup ada tiga orang. </p>
<div style='display:none' id="post-refEl-2556"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/06/istri-istri-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
