<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muhammad SAW, Nabi Muhammad SAW, Cerita Nabi Muhammad, Riwayat Nabi Muhammad, Rasulullah Muhammad SAW,  Dakwah Nabi Muhammad &#187; Saqafah Islamiyah</title>
	<atom:link href="http://nabimuhammad.info/category/artikel-dan-informasi-dunia-islam/saqafah-islamiyah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nabimuhammad.info</link>
	<description>Nur Muhammad, Muhammad, Nabi Muhammad SAW, Riwayat Nabi Muhammad, Sejarah Muhammad SAW,  Cerita Nabi Muhammad, Surat Muhammad, Maulid Nabi Muhammad, kisah Muhammad, Habib Muhammad, Kelahiran Nabi Muhammad, Cerita Nabi Muhammad, Hadist Nabi Muhammad, Foto Muhammad, Pidato nabi Muhammad</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 12:34:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2012/01/mengapa-allah-memakai-kata-ganti-aku-dia-dan-kami-dalam-al-quran/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2012/01/mengapa-allah-memakai-kata-ganti-aku-dia-dan-kami-dalam-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 08:35:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saqafah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Dia Dan Kami dalam Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=7280</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info _ Jika kita teliti, Allah SWT sering menggunakan kata &#8220;AKU&#8221;, &#8220;ALLAH&#8221;, DIA&#8221; didalam Al Qur&#8217;an (dalam bahasa Arab adalah &#8220;ANA&#8221; juga &#8220;INNI&#8221; atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf &#8220;TU&#8221;, atau juga langsung dengan lafadz &#8220;Allah&#8221; sendiri, begitu pula dengan kata &#8220;Dia&#8221; / &#8220;Huwa&#8221; dalam bahasa Arab). 1. Allah Contoh dalam ayat: أَوَلَمْ يَرَوْا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2012/01/ad.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2012/01/ad.jpg" alt="ad Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran" title="ad" width="264" height="152" class="alignnone size-full wp-image-7281" /></a>nabimuhammad.info _ Jika kita teliti, Allah SWT sering menggunakan kata &#8220;AKU&#8221;, &#8220;ALLAH&#8221;, DIA&#8221; didalam Al Qur&#8217;an (dalam bahasa Arab adalah &#8220;ANA&#8221; juga &#8220;INNI&#8221; atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf &#8220;TU&#8221;, atau juga langsung dengan lafadz &#8220;Allah&#8221; sendiri, begitu pula dengan kata &#8220;Dia&#8221; / &#8220;Huwa&#8221; dalam bahasa Arab).</p>
<p><strong>1. Allah</strong><br />
Contoh dalam ayat: </p>
<p>أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ وَجَعَلَ لَهُمْ أَجَلا لا رَيْبَ فِيهِ فَأَبَى الظَّالِمُونَ إِلا كُفُورًا</p>
<p>&#8220;Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya <strong>Allah</strong> yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.&#8221; (Al-Israa&#8217; Ayat 99)</p>
<p>dengan maksud SUATU PENCIPTAAN YANG TIDAK MELIBATKAN MAKHLUQ MANAPUN, umumnya ALLAH SWT mengatakan &#8220;ANA&#8221; / &#8220;INNI&#8221; (AKU) atau juga &#8220;HUWA&#8221; (DIA) bisa juga lafadz &#8220;ALLAH&#8221; sendiri.</p>
<p>&#8220;MENUNJUKKAN&#8221; HANYA ALLAH SWT SENDIRI YANG MENCIPTAKAN. TIDAK ADA UNSUR LAIN / MAKHLUQ LAIN (SEKUTU) YG MEMBANTU PENCIPTAANNYA.</p>
<p>maknanya menunjukkan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat. tidak ada makhluq pun yang dapat menyamai Keagungan &#038; Kekuatan Penciptaan-Nya Yang Luar Biasa.</p>
<p>contoh Ayat yang lain,</p>
<p>وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ</p>
<p>&#8220;Dan <strong>Allah</strong> menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.&#8221; (Al-Jaatsiyah Ayat 22)</p>
<p>maksudnya, Allah Swt. sendiri yang menciptakan langit &#038; bumi tanpa ada keterlibatan makhluq lainnya yang membantuNya.</p>
<p><strong>2. Kami</strong></p>
<p>Namun kadang Allah Swt juga menggunakan kata &#8220;KAMI&#8221; didalam Alquran (dalam bahasa Arab adalah &#8220;NAHNU&#8221; juga &#8220;INNA&#8221; atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf &#8220;NAA&#8221;).</p>
<p>orang Arab tentu akan paham, atau juga orang yg mondok di pesantren yg bahasa sehari-harinya menggunakan bahasa Arab (seperti Pondok Pesantren Gontor dan laen²) tentu tau makna penggunaan kata &#8220;Nahnu (kami)&#8221;.</p>
<p>Contoh 1 : &#8220;Nahnu (kami)&#8221; memang bisa digunakan untuk lebih dari satu yaitu &#8220;kami&#8221; (plural &#8211; jamak &#8211; banyak),<br />
bisa juga untuk &#8220;satu orang&#8221; yaitu yg dimaksudkan &#8220;saya-sendiri&#8221; dengan makna &#8220;kemuliaan&#8221;. (dalam Bahasa Arab)</p>
<p>Contoh 2 : &#8220;Antum (kalian)&#8221; memang bisa digunakan untuk lebih dari satu yaitu &#8220;Kalian&#8221; (plural &#8211; jamak &#8211; banyak),<br />
bisa juga untuk &#8220;satu orang&#8221; yaitu yg dimaksudkan &#8220;Anda&#8221; dengan makna &#8220;kemuliaan&#8221;. (dalam Bahasa Arab)<br />
(bukan kata &#8220;kamu&#8221;, yg tidak sopan diucapkan kepada orang tua)</p>
<p>kata &#8220;Antum (kalian)&#8221;, biasanya digunakan oleh para Santri (Murid) untuk memanggil sang Guru (Kyai) (yg seorang diri &#8211; bukan jamak/plural). artinya sangat dianggap TIDAK SOPAN jika Santri mengobrol dengan Kyai-nya memanggil dengan kata &#8220;ANTA (kamu)&#8221;, bukan &#8220;ANTUM&#8221;. Bukan berarti &#8220;Antum&#8221; ini bermakna &#8220;kalian&#8221; (jamak) akan tetapi BERMAKNA satu untuk &#8220;PENGHORMATAN&#8221;.</p>
<p>Ya, untuk SEBUAH &#8220;PENGHORMATAN DAN PENGAGUNGAN&#8221;.</p>
<p>Contoh kata ganti dalam bahasa Inggris:</p>
<p>I (am) = saya, aku.<br />
You = kamu<br />
We = kami<br />
They = Mereka<br />
He = dia (laki-laki)<br />
She = dia (wanita)<br />
It = dia (benda &#038; hewan)</p>
<p>Dalam bahasa Arab:</p>
<p>Huwa = dia (laki-laki)<br />
Huma = dia berdua (laki-laki)<br />
Hum = mereka (laki-laki)<br />
Hiya = dia (perempuan)<br />
Huma = dia berdua (perempuan)<br />
Hunna = mereka (perempuan)<br />
Anta = kamu (laki-laki)<br />
Antuma = kamu berdua (laki-laki)<br />
Antum = kalian (laki-laki)<br />
Anti = kamu (perempuan)<br />
Antuma = kamu berdua (perempuan)<br />
Antunna = kalian (perempuan)<br />
Ana = Saya, Aku<br />
Nahnu = Kami</p>
<p>belum lagi jika digabungkan dengan &#8216;kata kerja&#8217;, maka akan berubah. contoh kata &#8220;fa&#8217;ala&#8221; (melakukan / &#8220;do&#8221; dalam english) ditempatkan dengan kata-kata diatas maka akan menjadi: &#8220;yaf&#8217;alu&#8221; (dia (seorang lak-laki) melakukan&#8230;), &#8220;yaf&#8217;alaani&#8221; (dia dua orang lak-laki melakukan&#8230;), &#8220;yaf&#8217;aluuna&#8221; (mereka (laki-laki) melakukan&#8230;), dan seterusnya&#8230;. puannjaang dee pokoke&#8230;</p>
<p>&#8212;&#8211;> artinya, kita harus mengembalikan makna kata dalam Alquran ke BAHASA ASLINYA, yaitu BAHASA ARAB.</p>
<p><strong>contoh Ayat,</strong></p>
<p>وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ</p>
<p>&#8220;Dan sesungguhnya <strong>Kami</strong> telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.&#8221; (Al-Mu&#8217;minuun Ayat 12)</p>
<p>Terkadang Allah Swt. memaksudkan (dalam Alquran) suatu penciptaan  yang melibatkan oknum lain dalam  penciptaan tersebut sebagai proses, umumnya ALLAH SWT mengatakan &#8220;NAHNU&#8221; (KAMI), dan juga kadang ALLAH SWT menggunakan kata &#8220;ANA&#8221; (AKU) di Ayat lainnya.</p>
<p>Ketika Allah Swt. menciptakan manusia, ada unsur lain yang menjadi PROSES PENCIPTAANNYA. yaitu adanya pertemuan ayah &#038; ibu, bertemunya  sel sperma &#038; sel telur. ada PROSES inilah yang kemudian RAHASIA AL QUR&#8217;AN mengapa Allah Swt. menggunakan lafadz &#8220;NAHNU (KAMI)&#8221;.</p>
<p>contoh ayat yang sepadan, Allah Swt. mengatakan &#8220;Kholaqnaa&#8221; yaitu &#8220;Kami (menciptakan)&#8221;</p>
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا</p>
<p>&#8220;Hai manusia, sesungguhnya <strong>Kami</strong> menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa &#8211; bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.&#8221; (Al-Hujuraat Ayat 13)</p>
<p>Lalu Bagaimana dengan ayat&#8230;</p>
<p>وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ</p>
<p>“Dan tiadalah <strong>Kami</strong> mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”. (Al-Anbiyaa&#8217; Ayat 107)</p>
<p>kata Arsalna ( أَرْسَلْنَا &#8216;Kami mengutus&#8217;) berasal dari kata dasar &#8220;Arsala&#8221; أَرْسَلْ (yg mempunyai arti; mengutus, memberikan risalah, mengantarkan risalah).</p>
<p>sebagaimana penjelasan sebelumnya diatas, kata &#8220;KAMI&#8221; yg Allah SWT. maksudkan karena ADANYA OKNUM / UNSUR LAIN DALAM PROSES PENGUTUSAN. YAITU &#8220;MALAIKAT JIBRIL&#8221; SEBAGAI PENGANTAR WAHYU ALLAH SWT. makanya Allah Swt. menggunakan Kata &#8220;NAHNU&#8221; (KAMI).</p>
<p>&#8220;Menjadi Rahmat&#8221; tidak berarti hanya &#8220;diri Nabi Muhammad saw.&#8221; saja, akan tetapi dengan &#8220;MUKJIZAT ALQURAN (WAHYU &#8211; dari Allah Swt. melalui Malaikat Jibril) dan juga SUNNAH NABI SAW (perilaku &#038; akhlaq beliau selama hidup).</p>
<p>kadang ALLAH SWT menunjukkan kata &#8220;INNI&#8221; (AKU) dan &#8220;NAHNU&#8221; (KAMI) didalam Alquran adalah &#8220;LITTA&#8217;DZHIIM&#8221; (menunjukkan Keagungan &#038; Kebesaran).</p>
<p>مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ</p>
<p>&#8220;<strong>Kami</strong> tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.&#8221; (Al-Ahqaaf Ayat 3)</p>
<p>menjelaskan sesuatu Yang BESAR, AGUNG, MULIA, DAHSYAT.</p>
<p>contoh, dijelasin bahwa bumi itu mengitari matahari, itu saja. padahal tidak hanya sampai disitu saja. bahkan matahari pun berputar mengitari galaksi sebagaimana bumi mengitarinya. dan masing-masing mempunyai jalur lintasannya sendiri. memiliki jarak dan waktu tersendiri. semua bergerak. menakjubkan!</p>
<p>Ayat lainnya, (menunjukkan Keagungan dan Kebesaran Penciptaan-Nya)</p>
<p>وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ</p>
<p>&#8220;Dan segala sesuatu <strong>Kami</strong> ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.&#8221; (Adz-Dzaariyaat Ayat 49)</p>
<p>ada langit ada bumi, ada siang ada malam. dll.</p>
<p><strong>3. Aku</strong></p>
<p>tapi kadang di Ayat lain Allah juga menggunakan kata &#8220;Aku&#8221;,</p>
<p>وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ</p>
<p>&#8220;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.&#8221; (Adz Dzaariyaat : Ayat 56)</p>
<p>kata &#8220;KAMI&#8221; (memahaminya dalam Bahasa Arab) dalam Alquran bukan bermakna &#8220;TUHAN ITU LEBIH DARI SATU&#8221;. Akan tetapi sebagai TA&#8217;DZHIIM (PENGAGUNGAN). karena Ayat yang lain mengatakan ALLAH, TIADA TUHAN SELAIN DIA.</p>
<p>اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ</p>
<p>&#8220;<strong>Allah</strong>, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).&#8221;<br />
(Al-Baqarah Ayat 255)</p>
<p>قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ</p>
<p>&#8220;Katakanlah: &#8220;Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (Maha Satu).&#8221;<br />
(Al-Ikhlas Ayat 1)</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/wahyu/" title="Wahyu"><img src="Array" alt=" Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran"  title="Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran" /></a>January 6, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/wahyu/" title="Wahyu">Wahyu</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam"><img src="Array" alt=" Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran"  title="Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam">Hukum Menggambar Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan"><img src="Array" alt=" Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran"  title="Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan">Membaca Bismillah Sebelum Makan</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/6939/" title="Senyum"><img src="Array" alt=" Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran"  title="Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran" /></a>October 27, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/6939/" title="Senyum">Senyum</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/pidato-mahmoud-abbas-di-pbb/" title="Pidato Mahmoud Abbas di PBB"><img src="Array" alt=" Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran"  title="Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran" /></a>October 2, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/pidato-mahmoud-abbas-di-pbb/" title="Pidato Mahmoud Abbas di PBB">Pidato Mahmoud Abbas di PBB</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/09/yaa-munzi/" title="Yaa Munzi"><img src="Array" alt=" Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran"  title="Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran" /></a>September 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/09/yaa-munzi/" title="Yaa Munzi">Yaa Munzi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/09/sebutan-sayyid-bagi-rasulullah-sallallahu-alaihi-wassalam-1/" title="Sebutan Sayyid Bagi Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam [1]"><img src="Array" alt=" Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran"  title="Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran" /></a>September 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/09/sebutan-sayyid-bagi-rasulullah-sallallahu-alaihi-wassalam-1/" title="Sebutan Sayyid Bagi Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam [1]">Sebutan Sayyid Bagi Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam [1]</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/07/inilah-keputusan-awal-ramadhan-1432h-dari-ormasormas-islam-dan-pemerintah/" title="Inilah Keputusan Awal Ramadhan 1432H dari Ormas-ormas Islam dan Pemerintah"><img src="Array" alt=" Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran"  title="Mengapa Allah Memakai Kata Ganti Aku, Dia Dan Kami dalam Al Quran" /></a>July 22, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/07/inilah-keputusan-awal-ramadhan-1432h-dari-ormasormas-islam-dan-pemerintah/" title="Inilah Keputusan Awal Ramadhan 1432H dari Ormas-ormas Islam dan Pemerintah">Inilah Keputusan Awal Ramadhan 1432H dari Ormas-ormas Islam dan Pemerintah</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2012/01/mengapa-allah-memakai-kata-ganti-aku-dia-dan-kami-dalam-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Allah SWT</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2012/01/allah-swt/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2012/01/allah-swt/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 07:47:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saqafah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah SWT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=7276</guid>
		<description><![CDATA[Kata Allāh selalu ditulis tanpa alif untuk mengucapkan vowel ā. Ini disebabkan karena ejaan Arab masa lalu berawalan tanpa alif untuk mengeja ā. Akan tetapi, untuk diucapkan secara vokal, alif kecil selalu ditambahkan di atas tanda saddah untuk menegaskan prononsiasi tersebut. Allah adalah satu-satunya Tuhan (tanpa sekutu), Sang Pencipta, Hakim dari seluruh makhluk, Maha Kuasa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2012/01/images10.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2012/01/images10.jpg" alt="images10 Allah SWT" title="images10" width="259" height="194" class="alignnone size-full wp-image-7277" /></a>Kata Allāh selalu ditulis tanpa alif untuk mengucapkan vowel ā. Ini disebabkan karena ejaan Arab masa lalu berawalan tanpa alif untuk mengeja ā. Akan tetapi, untuk diucapkan secara vokal, alif kecil selalu ditambahkan di atas tanda saddah untuk menegaskan prononsiasi tersebut.</p>
<p>Allah adalah satu-satunya Tuhan (tanpa sekutu), Sang Pencipta, Hakim dari seluruh makhluk, Maha Kuasa, Maha Penyayang, Maha Pemurah dan Tuhan dari Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub, Musa, Dawud, Sulaiman, Isa dan Muhammad. </p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/penerima-wahyu-tidak-semuanya-adalah-nabi/" title="Penerima Wahyu Tidak Semuanya Adalah Nabi"><img src="Array" alt=" Allah SWT"  title="Allah SWT" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/penerima-wahyu-tidak-semuanya-adalah-nabi/" title="Penerima Wahyu Tidak Semuanya Adalah Nabi">Penerima Wahyu Tidak Semuanya Adalah Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam"><img src="Array" alt=" Allah SWT"  title="Allah SWT" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam">Hukum Membuat Patung Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/abu-lahab/" title="Abu Lahab "><img src="Array" alt=" Allah SWT"  title="Allah SWT" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/abu-lahab/" title="Abu Lahab ">Abu Lahab </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/suami-harus-lemah-lembut-terhadap-istri/" title="Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri"><img src="Array" alt=" Allah SWT"  title="Allah SWT" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/suami-harus-lemah-lembut-terhadap-istri/" title="Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri">Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makan-ketika-lapar-dan-berhenti-sebelum-kenyang/" title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang"><img src="Array" alt=" Allah SWT"  title="Allah SWT" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makan-ketika-lapar-dan-berhenti-sebelum-kenyang/" title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang">Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas"><img src="Array" alt=" Allah SWT"  title="Allah SWT" /></a>October 11, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas">Bab 1. Ikhlas</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/kitab-riyadhush-shalihin/" title="Kitab Riyadhush Shalihin"><img src="Array" alt=" Allah SWT"  title="Allah SWT" /></a>October 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/kitab-riyadhush-shalihin/" title="Kitab Riyadhush Shalihin">Kitab Riyadhush Shalihin</a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/isra-mikraj-nabi-perjalanan-mukjizat/" title="Detik Detik Perjalanan Isra&#8217; Mikraj Nabi"><img src="Array" alt=" Allah SWT"  title="Allah SWT" /></a>June 29, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/isra-mikraj-nabi-perjalanan-mukjizat/" title="Detik Detik Perjalanan Isra&#8217; Mikraj Nabi">Detik Detik Perjalanan Isra&#8217; Mikraj Nabi</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2012/01/allah-swt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Menggambar Dalam Islam</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 02:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saqafah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Talhah]]></category>
		<category><![CDATA[al Baqarah: 29]]></category>
		<category><![CDATA[Al Hafidh Ibnu Hajar]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bisir bin Said]]></category>
		<category><![CDATA[dzahaba yakhluqu kakhalqi]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Gambar]]></category>
		<category><![CDATA[gambar 2 dimensi]]></category>
		<category><![CDATA[halal]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Menggambar Dalam Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Mas'ud]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Thabari]]></category>
		<category><![CDATA[Ishak]]></category>
		<category><![CDATA[kitabNya]]></category>
		<category><![CDATA[lbnu Majah]]></category>
		<category><![CDATA[Lukisan]]></category>
		<category><![CDATA[Majusi]]></category>
		<category><![CDATA[makhluk-makhluk yang tidak bernyawa]]></category>
		<category><![CDATA[Malaikat]]></category>
		<category><![CDATA[Masruq]]></category>
		<category><![CDATA[mubah]]></category>
		<category><![CDATA[Musa]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[nabi Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[Parsi]]></category>
		<category><![CDATA[Patung]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Rum]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahal bin Hanif]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tirmidzi]]></category>
		<category><![CDATA[Ubaidillah al-Khaulani]]></category>
		<category><![CDATA[Zaid bin Khalid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=7265</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info _ Jika membuat gambar 3 dimensi [ dan seterusnya ] dilarang dalam Islam, bagaimana hukumnya dengan gambar 2 dimensi seperti gambar atau photo? Apakah juga dilarang? Untul lebih jelasnya mari kita sepakati dulu apa yang disebut gambar atau photo. Gambar [ atau citra ] adalah kombinasi antara titik, garis, bidang, dan warna untuk menciptakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/10/Flower-Art-34-ANPLKUMT66-1280x800.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/10/Flower-Art-34-ANPLKUMT66-1280x800.jpg" alt="Flower Art 34 ANPLKUMT66 1280x800 Hukum Menggambar Dalam Islam" title="Flower-Art-34-ANPLKUMT66-1280x800" width="1280" height="800" class="alignnone size-full wp-image-6910" /></a><strong>nabimuhammad.info _ </strong>Jika membuat gambar 3 dimensi [ dan seterusnya ] dilarang dalam Islam, bagaimana hukumnya dengan gambar 2 dimensi  seperti gambar atau photo? Apakah juga dilarang?</p>
<p>Untul lebih jelasnya mari kita sepakati dulu apa yang disebut gambar atau photo.</p>
<p>Gambar [ atau citra ] adalah kombinasi antara titik, garis, bidang, dan warna untuk menciptakan suatu imitasi dari suatu obyek – biasanya obyek fisik atau manusia. Citra ini bisa berwujud dua dimensi, seperti lukisan, foto, dan berwujud tiga dimensi, seperti patung.</p>
<p>Gambar atau citra telah berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Bentuknya tidak lagi hanya lukisan seperti zaman prasejarah. Tetapi sudah melibatkan teknologi, yakni dengan pemakaian berbagai program komputer untuk menggambar seperti photoshop dll. Sehingga gambar yang dihasilkan menjadi lebih hidup dan nyata.</p>
<p>Selain gambar, juga ada foto.  Yakni gambar yang dihasilkan dengan menangkap cahaya pada medium yang telah dilapisi bahan kimia peka cahaya atau sensor digital. </p>
<p>Lalu ada film, gambar yang bergerak. Film adalah gambar hidup, juga sering disebut movie (semula pelesetan untuk &#8216;gambar bergerak&#8217;). Film, secara kolektif, sering disebut &#8216;sinema&#8217;. Gambar-hidup adalah bentuk seni, bentuk populer dari hiburan, dan juga bisnis.</p>
<p>Film dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda (termasuk fantasi dan figur palsu) dengan kamera, dan/atau oleh animasi.</p>
<p>Animasi, atau lebih akrab disebut dengan film animasi, adalah film yang merupakan hasil dari pengolahan gambar tangan sehingga menjadi gambar yang bergerak. Pada awal penemuannya, film animasi dibuat dari berlembar-lembar kertas gambar yang kemudian di-&#8221;putar&#8221; sehingga muncul efek gambar bergerak. Dengan bantuan komputer dan grafika komputer, pembuatan film animasi menjadi sangat mudah dan cepat. Bahkan akhir-akhir ini lebih banyak bermunculan film animasi 3 dimensi daripada film animasi 2 dimensi.</p>
<p>Dengan adanya teknologi, evolusi gambar tidak hanya berkisar di seni lukis, seni patung, foto, dan film. </p>
<p>Medium yang dipakai mulai beragam, dari yang awalnya memakai kanvas, sekarang bisa memakai kertas hingga yang berbentuk digital. </p>
<p>Bagaimanapun juga, fungsi gambar juga tidak akan berubah, sebagai sebuah simbol dari apa yang ingin dikomunikasikan. Citra atau gambar adalah alat yang manusia pakai untuk menyampaikan pesan kepada manusia lainnya.</p>
<blockquote><p>Jadi pada intinya, baik gambar, photo, animasi atau film adalah sama. Yakni sama sama dalam bentuk dua dimensi </p></blockquote>
<p><strong>Lalu bagaimana hukumnya semua seni itu dalam Islam?</strong></p>
<p>DASAR pertama yang ditetapkan Islam, ialah: bahwa asal sesuatu yang dicipta Allah adalah halal dan mubah. Tidak ada satupun yang haram, kecuali karena ada nas yang sah dan tegas dari syari&#8217; (yang berwenang membuat hukum itu sendiri, yaitu Allah dan Rasul) yang mengharamkannya. Kalau tidak ada nas yang sah &#8211;misalnya karena ada sebagian Hadis lemah&#8211; atau tidak ada nas yang tegas (sharih) yang menunjukkan haram, maka hal tersebut tetap sebagaimana asalnya, yaitu mubah.</p>
<p>Ulama-ulama Islam mendasarkan ketetapannya, bahwa segala sesuatu asalnya mubah, seperti tersebut di atas, dengan dalil ayat-ayat al-Quran yang antara lain:</p>
<p>    &#8220;Dialah Zat yang menjadikan untuk kamu apa-apa yang ada di bumi ini semuanya.&#8221; (al-Baqarah: 29)</p>
<p>    &#8220;(Allah) telah memudahkan untuk kamu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi semuanya daripadaNya.&#8221; (al-Jatsiyah: 13)</p>
<p>    &#8220;Belum tahukah kamu, bahwa sesungguhnya Allah telah memudahkan untuk kamu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi; dan Ia telah sempurnakan buat kamu nikmat-nikmatNya yang nampak maupun yang tidak nampak.&#8221; (Luqman: 20)</p>
<p>Allah tidak akan membuat segala-galanya ini yang diserahkan kepada manusia dan dikurniakannya, kemudian Dia sendiri mengharamkannya. Kalau tidak begitu, buat apa Ia jadikan, Dia serahkan kepada manusia dan Dia kurniakannya?</p>
<p>Beberapa hal yang Allah haramkan itu, justeru karena ada sebab dan hikmat, yang &#8211;insya Allah&#8211; akan kita bahas nanti.</p>
<p>Untuk soal ini ada satu Hadis yang menyatakan sebagai berikut:</p>
<p>    &#8220;Apa saja yang Allah halalkan dalam kitabNya, maka dia adalah halal, dan apa saja yang Ia haramkan, maka dia itu adalah haram; sedang apa yang Ia diamkannya, maka dia itu dibolehkan (ma&#8217;fu). Oleh karena itu terimalah dari Allah kemaafannya itu, sebab sesungguhnya Allah tidak bakal lupa sedikitpun.&#8221; Kemudian Rasulullah membaca ayat: dan Tuhanmu tidak lupa.2 (Riwayat Hakim dan Bazzar)</p>
<p>    &#8220;Rasulullah s.aw. pernah ditanya tentang hukumnya samin, keju dan keledai hutan, maka jawab beliau: Apa yang disebut halal ialah: sesuatu yang Allah halalkan dalam kitabNya; dan yang disebut haram ialah: sesuatu yang Allah haramkan dalam kitabNya; sedang apa yang Ia diamkan, maka dia itu salah satu yang Allah maafkan buat kamu.&#8221; (Riwayat Tarmizi dan lbnu Majah)</p>
<p>Meski menggambar diperbolehkan dalam Islam, namun ada rambu rambu yang perlu untuk dipatuhi agar umat Islam tidak terjerumus dalam perbuatan yang sia sia.</p>
<p>1. Jika lukisan seni itu berbentuk sesuatu yang disembah selain Allah, seperti gambar al Masih bagi orang-orang Kristen atau sapi bagi orang-orang Hindu dan sebagainya, maka bagi si pelukisnya untuk tujuan-tujuan di atas, tidak lain dia adalah menyiarkan kekufuran dan kesesatan. Dalam hal ini berlakulah baginya ancaman Nabi yang begitu keras:</p>
<p>    &#8220;Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat ialah orang-orang yang menggambar.&#8221; (Riwayat Muslim)</p>
<p>Imam Thabari berkata: &#8220;Yang dimaksud dalam hadis ini, yaitu orang-orang yang menggambar sesuatu yang disembah selain Allah, sedangkan dia mengetahui dan sengaja. Orang yang berbuat demikian adalah kufur. Tetapi kalau tidak ada maksud seperti di atas, maka dia tergolong orang yang berdosa sebab menggambar saja.&#8221;</p>
<p>Yang seperti ini ialah orang yang menggantungkan gambar-gambar tersebut untuk dikuduskan. Perbuatan seperti ini tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim, kecuali kalau agama Islam itu dibuang di belakang punggungnya.</p>
<p>Sering juga ada pertanyaan, bagaimana jika gambar2 itu dibuat dan ditujukan agar umat Islam melihat sendiri dengan jelas dengan apa yang disebut dengan salib, bintang david atau simbol simbol sesat lainya? Dalam arti gambar2 itu dibuat sebagai penjelasan dari sebuah simbol?  Seandainya tidak ada lagi gambar yang bisa kita ambil atau kita copi, maka niat seperti itu masih diperbolehkan asalkan betul betul telah diperhitungkan segala akibatnya. Karena bisa saja gambar gambar yang kita buat malah menyuburkan &#8216;fantasi&#8217; orang lain sehingga malah mengkultuskannya.</p>
<p>Dan yang lebih mendekati persoalan ini ialah orang yang melukis sesuatu yang tidak biasa disembah, tetapi dengan maksud untuk menandingi ciptaan Allah. Yakni dia beranggapan, bahwa dia dapat membuat dan menciptakan jenis terbaru seperti ciptaan Allah. Orang yang melukis dengan tujuan seperti itu jelas telah keluar dari agama Tauhid. Terhadap orang ini berlakulah hadis Nabi yang mengatakan:</p>
<p>    &#8220;Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya ialah orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.&#8221; (Riwayat Muslim)</p>
<blockquote><p>Namun jelas sekali persoalan ini tergantung pada niat si pelukisnya itu sendiri. Apa niat dasar seseorang dalam membuat gambar. Sama seprti kita melakukan banyak perbuatan di dunia ini, semua kembali pada niat. </p></blockquote>
<p>Barangkali hadis ini dapat diperkuat pemahaman kita:</p>
<p>    &#8220;Siapakah orang yang lebih berbuat zalim selain orang yang bekerja membuat seperti pembuatanku? Oleh karena itu cobalah mereka membuat biji atau zarrah.&#8221; (<strong>Riwayat Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Allah mengungkapkan firmanNya di sini dengan kata-kata &#8220;dzahaba yakhluqu kakhalqi&#8221; (dia bekerja untuk membuat seperti pembuatanku), ini menunjukkan adanya suatu kesengajaan untuk menandingi dan menentang kekhususan Allah dalam ciptaannya dan keindahannya. Oleh karena itu Allah menentang mereka supaya membuat sebutir zarrah. Ia memberikan isyarat, bahwa mereka itu benar-benar bersengaja untuk maksud tersebut. Justru itu Allah akan membalas mereka itu nanti dan mengatakan kepada mereka: &#8220;Hidupkan apa yang kamu cipta itu!&#8221; Mereka dipaksa untuk meniupkan roh ke dalam lukisannya itu, padahal dia tidak akan mampu.</p>
<p>2. Termasuk gambar/lukisan yang diharamkan, yaitu gambar/lukisan yang dikuduskan (disucikan) oleh pemiliknya secara keagamaan atau diagung-agungkan secara keduniaan.</p>
<p>Untuk yang pertama: Seperti gambar-gambar Malaikat dan para Nabi, misalnya Nabi Ibrahim, Ishak, Musa dan sebagainya. Gambar-gambar ini biasa dikuduskan oleh orang-orang Nasrani, dan kemudian sementara orang-orang Islam ada yang menirunya, yaitu dengan melukiskan Ali, Fatimah dan lain-lain.</p>
<p>Sedang untuk yang kedua: Seperti gambar raja-raja, pemimpin-pemimpin dan seniman-seniman. Ini dosanya tidak seberapa kalau dibandingkan dengan yang pertama tadi. Tetapi akan meningkat dosanya, apabila yang dilukis itu orang-orang kafir, orang-orang yang zalim atau orang-orang yang fasik. Misalnya para hakim yang menghukum dengan selain hukum Allah, para pemimpin yang mengajak umat untuk berpegang kepada selain agama Allah atau seniman-seniman yang mengagung-agungkan kebatilan dan menyiarnyiarkan kecabulan di kalangan umat.</p>
<p>Kebanyakan gambar-gambar/lukisan-lukisan di zaman Nabi dan sesudahnya, adalah lukisan-lukisan yang disucikan dan diagung-agungkan. Sebab pada umumnya lukisan-lukisan itu adalah buatan Rum dan Parsi (Nasrani dan Majusi). Oleh karena itu tidak dapat melepaskan pengaruhnya terhadap pengkultusan kepada pemimpin-pemimpin agama dan negara.</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Abu Dhuha pernah berkata sebagai berikut: Saya dan Masruq berada di sebuah rumah yang di situ ada beberapa patung. Kemudian Masruq berkata kepadaku: Apakah ini patung Kaisar? Saya jawab: Tidak! Ini adalah patung Maryam.</p>
<p>Masruq bertanya demikian, karena menurut anggapannya, bahwa lukisan itu buatan Majusi dimana mereka biasa melukis raja-raja mereka di bejana-bejana. Tetapi akhirnya ketahuan, bahwa patung tersebut adalah buatan orang Nasrani.</p>
<p>Dalam kisah ini Masruq kemudian berkata: Saya pernah mendengar Ibnu Mas&#8217;ud menceriterakan apa yang ia dengar dari Nabi s.a.w., bahwa beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di sisi Allah, ialah para pelukis.&#8221;</p>
<p>Selain gambar-gambar di atas, yaitu misalnya dia menggambar/melukis makhluk-makhluk yang tidak bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, laut, gunung, matahari, bulan, bintang dan sebagainya. Maka hal ini sedikitpun tidak berdosa dan tidak ada pertentangan samasekali di kalangan para ulama.</p>
<p>Tetapi gambar-gambar yang bernyawa kalau tidak ada unsur-unsur larangan seperti tersebut di atas, yaitu bukan untuk disucikan dan diagung-agungkan dan bukan pula untuk maksud menyaingi ciptaan Allah, maka menurut hemat Muhammad Yusuf Qardhawi tidak haram. Dasar daripada pendapat ini adalah hadis sahih, antara lain:</p>
<p>    &#8220;Dari Bisir bin Said dari Zaid bin Khalid dari Abu Talhah sahabat Nabi, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: &#8220;Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada gambar.&#8221; (Riwayat Muslim)</p>
<p>Bisir berkata: Sesudah itu Zaid mengadukan. Kemudian kami jenguk dia, tiba-tiba di pintu rumah Zaid ada gambarnya. Lantas aku bertanya kepada Ubaidillah al-Khaulani anak tiri Maimunah isteri Nabi: Apakah Zaid belum pernah memberitahumu tentang gambar pada hari pertama? Kemudian Ubaidillah berkata: Apakah kamu tidak pernah mendengar dia ketika ia berkata: &#8220;Kecuali gambar di pakaian.&#8221;</p>
<blockquote><p> Tarmizi meriwayatkan dengan sanadnya dari Utbah, bahwa dia pernah masuk di rumah Abu Talhah al-Ansari untuk menjenguknya, tiba-tiba di situ ada Sahal bin Hanif. Kemudian Abu Talhah menyuruh orang supaya mencabut seprei yang di bawahnya (karena ada gambarnya). Sahal lantas bertanya kepada Abu Talhah: Mengapa kau cabut dia? Abu Talhah menjawab: Karena ada gambarnya, dimana hal tersebut telah dikatakan oleh Nabi yang barangkali engkau telah mengetahuinya. Sahal kemudian bertanya lagi: Apakah beliau (Nabi) tidak pernah berkata: &#8220;Kecuali gambar yang ada di pakaian?&#8221; Abu Talhah kemudian menjawab: Betul! Tetapi itu lebih menyenangkan hatiku.&#8221; (Kata Tarmizi: hadis ini hasan sahih)</p></blockquote>
<p>Tidakkah dua hadis di atas sudah cukup untuk menunjukkan, bahwa gambar yang dilarang itu ialah yang berjasad atau yang biasa kita istilahkan dengan patung? Adapun gambar-gambar ataupun lukisan-lukisan di papan, pakaian, lantai, tembok dan sebagainya tidak ada satupun nas sahih yang melarangnya.</p>
<p>Betul di situ ada beberapa hadis sahih yang menerangkan bahwa Nabi menampakkan ketidak-sukaannya, tetapi itu sekedar makruh saja. Karena di situ ada unsur-unsur menyerupai orang-orang yang bermewah-mewah dan penggemar barang-barang rendahan.</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari jalan Zaid bin Khalid al-Juhani dari Abu Talhah al-Ansari, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:</p>
<p>    &#8220;Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung. Saya (Zaid) kemudian bertanya kepada Aisyah: Sesungguhnya ini (Abu Talhah) memberitahuku, bahwa Rasulullah s.a.w. telah bersabda. Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung. Apakah engkau juga demikian? Maka kata Aisyah: Tidak! Tetapi saya akan menceriterakan kepadamu apa yang pernah saya lihat Nabi kerjakan, yaitu: Saya lihat Nabi keluar dalam salah satu peperangan, kemudian saya membuat seprei korden (yang ada gambarnya) untuk saya pakai menutup pintu. Setelah Nabi datang, ia melihat korden tersebut. Saya lihat tanda marah pada wajahnya, lantas dicabutnya korden tersebut sehingga disobek atau dipotong sambil ia berkata: Sesungguhnya Allahi tidak menyuruh kita untuk memberi pakaian kepada batu dan tanah. Kata Aisyah selanjutnya: Kemudian kain itu saya potong daripadanya untuk dua bantal dan saya penuhi dengan kulit buah-buahan, tetapi Rasulullah sama sekali tidak mencela saya terhadap yang demikian itu.&#8221; (Riwayat Muslim)</p>
<p>Hadis tersebut tidak lebih hanya menunjukkan makruh tanzih karena memberikan pakaian kepada dinding dengan korden yang bergambar.</p>
<p>Imam Nawawi berkata: hadis tersebut tidak menunjukkan haram, karena hakikat perkataan sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita itu tidak dapat dipakai untuk menunjukkan wajib, sunnat atau haram.</p>
<p>Yang semakna dengan ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari jalan Aisyah pula, ia berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;Saya mempunyai tabir padanya ada gambar burung, sedang setiap orang yang masuk akan menghadapnya (akan melihatnya), kemudian Nabi berkata kepadaku: Pindahkanlah ini, karena setiap saya masuk dan melihatnya maka saya ingat dunia.&#8221;(Riwayat Muslim)</p></blockquote>
<p>Dalam hadis ini Rasulullah s.a.w. tidak menyuruh Aisyah supaya memotongnya, tetapi beliau hanya menyuruh memindahkan ke tempat lain. Ini menunjukkan ketidaksukaan Nabi melihat, bahwa di hadapannya ada gambar tersebut yang dapat mengingatkan kebiasaan dunia dengan seluruh aneka keindahannya itu; lebih-lebih beliau selalu sembahyang sunnat di rumah. </p>
<blockquote><p><strong>Sebab seprai-seprai dan korden-korden yang bergambar sering memalingkan hati daripada kekhusyu&#8217;an dan pemusatan menghadap untuk bermunajat kepada Allah.</strong></p></blockquote>
<p> Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari jalan Anas, ia mengatakan: Bahwa korden Aisyah dipakai untuk menutupi samping rumahnya, kemudian Nabi menyuruh dia dengan sabdanya:</p>
<p>    &#8220;Singkirkanlah korden itu dariku, karena gambar-gambarnya selalu tampak dalam sembahyangku.&#8221; (Riwayat Bukhari)</p>
<p>Dengan demikian jelas, bahwa Nabi sendiri membenarkan di rumahnya ada tabir/korden yang bergambar burung dan sebagainya.</p>
<p>Dari hadis-hadis itu pula, sementara ulama salaf berpendapat: &#8220;Bahwa gambar yang dilarang itu hanyalah yang ada bayangannya, adapun yang tidak ada bayangannya tidak menqapa.&#8221;27</p>
<p>    Pendapat ini diperkuat oleh hadis Qudsi yang mengatakan: &#8220;Siapakah yang terlebih menganiaya selain orang yang bekerja untuk membuat seperti ciptaanKu? Oleh karena itu cobalah mereka membuat zarrah, cobalah mereka membuat beras belanda!&#8221; (Riwayat Bukhari).</p>
<p>Ciptaan Allah sebagaimana kita lihat, bukan terlukis di atas dataran tetapi berbentuk dan berjisim, sebagaimana Dia katakan:</p>
<p>    &#8220;Dialah Zat yang membentuk kamu di dalam rahim bagaimanapun Ia suka.&#8221; (ali-Imran: 6)</p>
<p>Tidak ada yang menentang pendapat ini selain hadis yang diriwayatkan Aisyah, dalam salah satu riwayat Bukhari dan Muslim, yang berbunyi sebagai berikut:</p>
<p>    &#8220;Sesungguhnya Aisyah membeli bantal yang ada gambar-gambarnya, maka setelah Nabi melihatnya ia berdiri di depan pintu, tidak mau masuk. Setelah Aisyah melihat ada tanda kemarahan di wajah Nabi, maka Aisyah bertanya: Apakah saya harus bertobat kepada Allah dan RasulNya, apa salah saya? Jawab Nabi: Mengapa bantal itu begitu macam? Jawab Aisyah: Saya beli bantal ini untuk engkau pakai duduk dan dipakai bantal. Maka jawab Rasulullah pula: Yang membuat gambar-gambar ini nanti akan disiksa, dan akan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang kamu buat itu. Lantas Nabi melanjutkan pembicaraannya: Sesungguhnya rumah yang ada gambarnya tidak akan dimasuki Malaikat. Dan Imam Muslim menambah dalam salah satu riwayat Aisyah, ia (Aisyah) mengatakan: Kemudian bantal itu saya jadikan dua buah untuk bersandar, dimana Nabi biasa bersandar dengan dua sandaran tersebut di rumah. Yakni Aisyah membelah bantal tersebut digunakan untuk dua sandaran.&#8221; (Riwayat Muslim)</p>
<p>Akan tetapi hadis ini, nampaknya, bertentangan dengan sejumlah hal-hal sebagai berikut:</p>
<p>1) Dalam riwayat yang berbeda-beda nampak bertentangan. Sebagian menunjukkan bahwa Nabi s.a.w. menggunakan tabir/korden yang bergambar yang kemudian dipotong-potong dan dipakai bantal. Sedang sebagian lagi menunjukkan, bahwa beliau samasekali tidak menggunakannya.</p>
<p>2) Sebagian riwayat-riwayat itu hanya sekedar menunjukkan makruh. Sedang kemakruhannya itu karena korden tembok itu bergambar yang dapat menggambarkan semacam berlebih-lebihan yang ia (Rasulullah) tidak senang. Oleh karena itu dalam Riwayat Muslim, ia berkata: &#8221;Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita supaya memberi pakaian pada batu dan tanah.&#8221;</p>
<p>3) Hadis Muslim yang diriwayatkan oleh Aisyah itu sendiri menggambarkan di rumahnya ada tabir/korden yang bergambar burung. Kemudian Nabi menyuruh dipindahkan, dengan kata-katanya: &#8220;Pindahkanlah, karena saya kalau melihatnya selalu ingat dunia!&#8221; Ini tidak menunjukkan kepada haram secara mutlak.</p>
<p>4) Bertentangan dengar: hadis qiram (tabir) yang ada di rumah Aisyah juga, kemudian oleh Nabi disuruhnya menyingkirkan, sebab gambar-gambarnya itu selalu tampak dalam shalat. Sehingga kata al-Hafidh: &#8220;Hadis ini dengan hadis di atas sukar sekali dikompromikan (jama&#8217;), sebab hadis ini menunjukkan Nabi membenarkannya, dan beliau shalat sedang tabir tersebut tetap terpampang, sehingga beliau perintahkan Aisyah untuk menyingkirkannya, karena melihat gambar-gambar tersebut dalam shalat dan dapat mengingatkan yang bukan-bukan, bukan semata-mata karena gambarnya itu an sich.</p>
<p>Akhirnya al-Hafidh berusaha untuk menjama&#8217; hadis-hadis tersebut sebagai berikut: hadis pertama, karena terdapat gambar binatang bernyawa sedang hadis kedua gambar selain binatang &#8230; Akan tetapi inipun bertentangan pula dengan hadis qiram yang jelas di situ bergambar burung.</p>
<p>5) Bertentangan dengan hadis Abu Talhah al-Ansari yang mengecualikan gambar dalam pakaian. Karena itu Imam Qurthubi berpendapat: &#8220;Dua hadis itu dapat dijama&#8217; sebagai berikut: hadis Aisyah dapat diartikan makruh, sedang hadis Abu Talhah menunjukkan mubah secara mutlak yang sama sekali tidak menafikan makruh di atas.&#8221; Pendapat ini dibenarkan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar.</p>
<p>6) Rawi hadis namruqah (bantal) ada seorang bernama al-Qasim bin Muhammad bin Abubakar, keponakan Aisyah sendiri, ia membolehkan gambar yang tidak ada bayangannya, yaitu seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu &#8216;Aun, ia berkata: &#8220;Saya masuk di rumah al-Qasim di Makkah sebelah atas, saya lihat di rumahnya itu ada korden yang ada gambar trenggiling dan burung garuda.&#8221;28</p>
<p>Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata; Barangkali al-Qasim berpegang pada keumuman hadis Nabi yang mengatakan kecuali gambar dalam pakaian dan seolah-olah dia memahami keingkaran Nabi terhadap Aisyah yang menggantungkan korden yang bergambar dan menutupi dinding. Faham ini diperkuat dengan hadisnya yang mengatakan: &#8220;Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita supaya memberi pakaian batu dan tanah.&#8221; Sedang al-Qasim adalah salah seorang ahli fiqih Madinah yang tujuh, dia juga termasuk orang pilihan pada zaman itu, dia pula rawi hadis namruqah itu. Maka jika dia tidak memaham rukhsakh terhadap korden yang dia pasang itu, niscaya dia tidak akan menggunakannya.29</p>
<blockquote><p>Tetapi di samping itu tampaknya ada kemungkinan yang tampak pada hadis-hadis yang berkenaan dengan masalah gambar dan pelukisnya, yaitu bahwa Rasulullah s.a.w. memperkeras persoalan ini pada periode pertama dari kerasulannya, dimana waktu itu kaum muslimin baru saja meninggalkan syirik dan menyembah berhala serta mengagung-agungkan patung. Tetapi setelah aqidah tauhid itu mendalam kedalam jiwa dan akar-akarnya telah menghunjam kedalam hati dan pikiran, maka beliau memberi perkenan (rukhshah) dalam hal gambar yang tidak berjasad, yang hanya sekedar ukiran dan lukisan. Kalau tidak begitu, niscaya beliau tidak suka adanya tabir/korden yang bergambar di dalam rumahnya; dan ia pun tidak akan memberikan perkecualian tentang lukisan dalam pakaian, termasuk juga dalam kertas dan dinding.</p></blockquote>
<p>Ath-Thahawi, salah seorang dari ulama madzhab Hanafi berpendapat: Syara&#8217; melarang semua gambar pada permulaan waktu, termasuk lukisan pada pakaian, karena mereka baru saja meninggalkan menyembah patung. Oleh karena itu secara keseluruhan gambar dilarang. Tetapi setelah larangan itu berlangsung lama, kemudian dibolehkan gambar yang ada pada pakaian karena suatu darurat. Syara&#8217; pun kemudian membolehkan gambar yang tidak berjasad karena sudah dianggap orang-orang bodoh tidak lagi mengagungkannya, sedang yang berjasad tetap dilarang.</p>
<blockquote><p>Untuk menggambar, tidak ada larangan yang tertera dalam Al Quran atau Hadits.  Dan itu berarti hukumnya adalah halal atau mubah.  Namun penting dipahami bersama, bahwa sesuatu yang dihalalkan, akan berubah menjadi haram bila melanggar.</p></blockquote>
<p>Bahwa hukumnya tidak jelas, kecuali kita harus melihat gambar itu sendiri untuk tujuan apa? Di mana dia itu diletakkan? Bagaimana diperbuatnya? Dan apa tujuan pelukisnya itu?</p>
<p>Kalau lukisan seni itu berbentuk sesuatu yang disembah selain Allah, seperti gambar al-Masih bagi orang-orang Kristen atau sapi bagi orang-orang Hindu dan sebagainya, maka bagi si pelukisnya untuk tujuan-tujuan di atas, tidak lain dia adalah menyiarkan kekufuran dan kesesatan. Dalam hal ini berlakulah baginya ancaman Nabi yang begitu keras:</p>
<p>    &#8220;Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat ialah orang-orang yang menggambar.&#8221; (Riwayat Muslim)</p>
<p><strong>Imam Thabari</strong> berkata: &#8220;Yang dimaksud dalam hadis ini, yaitu orang-orang yang menggambar sesuatu yang disembah selain Allah, sedangkan dia mengetahui dan sengaja. Orang yang berbuat demikian adalah kufur. Tetapi kalau tidak ada maksud seperti di atas, maka dia tergolong orang yang berdosa sebab menggambar saja.&#8221;</p>
<p>Yang seperti ini ialah orang yang menggantungkan gambar-gambar tersebut untuk dikuduskan. Perbuatan seperti ini tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim, kecuali kalau agama Islam itu dibuang di belakang punggungnya.</p>
<p>Dan yang lebih mendekati persoalan ini ialah orang yang melukis sesuatu yang tidak biasa disembah, tetapi dengan maksud untuk menandingi ciptaan Allah. Yakni dia beranggapan, bahwa dia dapat membuat dan menciptakan jenis terbaru seperti ciptaan Allah. Orang yang melukis dengan tujuan seperti itu jelas telah keluar dari agama Tauhid. Terhadap orang ini berlakulah hadis Nabi yang mengatakan:</p>
<p>    &#8220;Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya ialah orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.&#8221; (Riwayat Muslim)</p>
<p>Persoalan ini tergantung pada niat si pelukisnya itu sendiri.</p>
<p>Barangkali hadis ini dapat diperkuat dengan hadis yang mengatakan:</p>
<p>    &#8220;Siapakah orang yang lebih berbuat zalim selain orang yang bekerja membuat seperti pembuatanku? Oleh karena itu cobalah mereka membuat biji atau zarrah.&#8221; (Riwayat Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Allah mengungkapkan firmanNya di sini dengan kata-kata &#8220;<strong>dzahaba yakhluqu kakhalqi</strong>&#8221; (dia bekerja untuk membuat seperti pembuatanku), ini menunjukkan adanya suatu kesengajaan untuk menandingi dan menentang kekhususan Allah dalam ciptaannya dan keindahannya. Oleh karena itu Allah menentang mereka supaya membuat sebutir zarrah. Ia memberikan isyarat, bahwa mereka itu benar-benar bersengaja untuk maksud tersebut. Justru itu Allah akan membalas mereka itu nanti dan mengatakan kepada mereka: &#8220;Hidupkan apa yang kamu cipta itu!&#8221; Mereka dipaksa untuk meniupkan roh ke dalam lukisannya itu, padahal dia tidak akan mampu.</p>
<p>Termasuk gambar/lukisan yang diharamkan, yaitu gambar/lukisan yang dikuduskan (disucikan) oleh pemiliknya secara keagamaan atau diagung-agungkan secara keduniaan.</p>
<p>Untuk yang pertama: Seperti gambar-gambar Malaikat dan para Nabi, misalnya Nabi Ibrahim, Ishak, Musa dan sebagainya. Gambar-gambar ini biasa dikuduskan oleh orang-orang Nasrani, dan kemudian sementara orang-orang Islam ada yang menirunya, yaitu dengan melukiskan Ali, Fatimah dan lain-lain.</p>
<p>Sedang untuk yang kedua: Seperti gambar raja-raja, pemimpin-pemimpin dan seniman-seniman. Ini dosanya tidak seberapa kalau dibandingkan dengan yang pertama tadi. Tetapi akan meningkat dosanya, apabila yang dilukis itu orang-orang kafir, orang-orang yang zalim atau orang-orang yang fasik. Misalnya para hakim yang menghukum dengan selain hukum Allah, para pemimpin yang mengajak umat untuk berpegang kepada selain agama Allah atau seniman-seniman yang mengagung-agungkan kebatilan dan menyiarnyiarkan kecabulan di kalangan umat.</p>
<p>Kebanyakan gambar-gambar/lukisan-lukisan di zaman Nabi dan sesudahnya, adalah lukisan-lukisan yang disucikan dan diagung-agungkan. Sebab pada umumnya lukisan-lukisan itu adalah buatan Rum dan Parsi (Nasrani dan Majusi). Oleh karena itu tidak dapat melepaskan pengaruhnya terhadap pengkultusan kepada pemimpin-pemimpin agama dan negara.</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Abu Dhuha pernah berkata sebagai berikut: Saya dan Masruq berada di sebuah rumah yang di situ ada beberapa patung. Kemudian Masruq berkata kepadaku: Apakah ini patung Kaisar? Saya jawab: Tidak! Ini adalah patung Maryam.</p>
<p>Masruq bertanya demikian, karena menurut anggapannya, bahwa lukisan itu buatan Majusi dimana mereka biasa melukis raja-raja mereka di bejana-bejana. Tetapi akhirnya ketahuan, bahwa patung tersebut adalah buatan orang Nasrani.</p>
<p>Dalam kisah ini Masruq kemudian berkata: Saya pernah mendengar Ibnu Mas&#8217;ud menceriterakan apa yang ia dengar dari Nabi s.a.w., bahwa beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di sisi Allah, ialah para pelukis.&#8221;</p>
<p>Selain gambar-gambar di atas, yaitu misalnya dia menggambar/melukis makhluk-makhluk yang tidak bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, laut, gunung, matahari, bulan, bintang dan sebagainya. Maka hal ini sedikitpun tidak berdosa dan tidak ada pertentangan samasekali di kalangan para ulama.</p>
<p>Tetapi gambar-gambar yang bernyawa kalau tidak ada unsur-unsur larangan seperti tersebut di atas, yaitu bukan untuk disucikan dan diagung-agungkan dan bukan pula untuk maksud menyaingi ciptaan Allah, maka menurut hemat saya tidak haram. Dasar daripada pendapat ini adalah hadis sahih, antara lain:</p>
<p>    &#8220;Dari Bisir bin Said dari Zaid bin Khalid dari Abu Talhah sahabat Nabi, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: &#8220;Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada gambar.&#8221; (Riwayat Muslim)</p>
<p>Bisir berkata: Sesudah itu Zaid mengadukan. Kemudian kami jenguk dia, tiba-tiba di pintu rumah Zaid ada gambarnya. Lantas aku bertanya kepada Ubaidillah al-Khaulani anak tiri Maimunah isteri Nabi: Apakah Zaid belum pernah memberitahumu tentang gambar pada hari pertama? Kemudian Ubaidillah berkata: Apakah kamu tidak pernah mendengar dia ketika ia berkata: &#8220;Kecuali gambar di pakaian.&#8221;</p>
<p>    Tarmizi meriwayatkan dengan sanadnya dari Utbah, bahwa dia pernah masuk di rumah Abu Talhah al-Ansari untuk menjenguknya, tiba-tiba di situ ada Sahal bin Hanif. Kemudian Abu Talhah menyuruh orang supaya mencabut seprei yang di bawahnya (karena ada gambarnya). Sahal lantas bertanya kepada Abu Talhah: Mengapa kau cabut dia? Abu Talhah menjawab: Karena ada gambarnya, dimana hal tersebut telah dikatakan oleh Nabi yang barangkali engkau telah mengetahuinya. Sahal kemudian bertanya lagi: Apakah beliau (Nabi) tidak pernah berkata: &#8220;Kecuali gambar yang ada di pakaian?&#8221; Abu Talhah kemudian menjawab: Betul! Tetapi itu lebih menyenangkan hatiku.&#8221; (Kata Tarmizi: hadis ini hasan sahih)</p>
<p>Tidakkah dua hadis di atas sudah cukup untuk menunjukkan, bahwa gambar yang dilarang itu ialah yang berjasad atau yang biasa kita istilahkan dengan patung? Adapun gambar-gambar ataupun lukisan-lukisan di papan, pakaian, lantai, tembok dan sebagainya tidak ada satupun nas sahih yang melarangnya.</p>
<p>Betul di situ ada beberapa hadis sahih yang menerangkan bahwa Nabi menampakkan ketidak-sukaannya, tetapi itu sekedar makruh saja. Karena di situ ada unsur-unsur menyerupai orang-orang yang bermewah-mewah dan penggemar barang-barang rendahan.</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari jalan Zaid bin Khalid al-Juhani dari Abu Talhah al-Ansari, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:</p>
<p>    &#8220;Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung. Saya (Zaid) kemudian bertanya kepada Aisyah: Sesungguhnya ini (Abu Talhah) memberitahuku, bahwa Rasulullah s.a.w. telah bersabda. Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung. Apakah engkau juga demikian? Maka kata Aisyah: Tidak! Tetapi saya akan menceriterakan kepadamu apa yang pernah saya lihat Nabi kerjakan, yaitu: Saya lihat Nabi keluar dalam salah satu peperangan, kemudian saya membuat seprei korden (yang ada gambarnya) untuk saya pakai menutup pintu. Setelah Nabi datang, ia melihat korden tersebut. Saya lihat tanda marah pada wajahnya, lantas dicabutnya korden tersebut sehingga disobek atau dipotong sambil ia berkata: Sesungguhnya Allahi tidak menyuruh kita untuk memberi pakaian kepada batu dan tanah. Kata Aisyah selanjutnya: Kemudian kain itu saya potong daripadanya untuk dua bantal dan saya penuhi dengan kulit buah-buahan, tetapi Rasulullah sama sekali tidak mencela saya terhadap yang demikian itu.&#8221; (Riwayat Muslim)</p>
<p>Hadis tersebut tidak lebih hanya menunjukkan makruh tanzih karena memberikan pakaian kepada dinding dengan korden yang bergambar.</p>
<p>Imam Nawawi berkata: hadis tersebut tidak menunjukkan haram, karena hakikat perkataan sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita itu tidak dapat dipakai untuk menunjukkan wajib, sunnat atau haram.</p>
<p>Yang semakna dengan ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari jalan Aisyah pula, ia berkata:</p>
<p>    &#8220;Saya mempunyai tabir padanya ada gambar burung, sedang setiap orang yang masuk akan menghadapnya (akan melihatnya), kemudian Nabi berkata kepadaku: Pindahkanlah ini, karena setiap saya masuk dan melihatnya maka saya ingat dunia.&#8221;(Riwayat Muslim)</p>
<p>Dalam hadis ini Rasulullah s.a.w. tidak menyuruh Aisyah supaya memotongnya, tetapi beliau hanya menyuruh memindahkan ke tempat lain. Ini menunjukkan ketidaksukaan Nabi melihat, bahwa di hadapannya ada gambar tersebut yang dapat mengingatkan kebiasaan dunia dengan seluruh aneka keindahannya itu; lebih-lebih beliau selalu sembahyang sunnat di rumah. Sebab seprai-seprai dan korden-korden yang bergambar sering memalingkan hati daripada kekhusyu&#8217;an dan pemusatan menghadap untuk bermunajat kepada Allah. Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari jalan Anas, ia mengatakan: Bahwa korden Aisyah dipakai untuk menutupi samping rumahnya, kemudian Nabi menyuruh dia dengan sabdanya:</p>
<p>    &#8220;Singkirkanlah korden itu dariku, karena gambar-gambarnya selalu tampak dalam sembahyangku.&#8221; (Riwayat Bukhari)</p>
<p>Dengan demikian jelas, bahwa Nabi sendiri membenarkan di rumahnya ada tabir/korden yang bergambar burung dan sebagainya.</p>
<p>Dari hadis-hadis itu pula, sementara ulama salaf berpendapat: &#8220;Bahwa gambar yang dilarang itu hanyalah yang ada bayangannya, adapun yang tidak ada bayangannya tidak menqapa.&#8221;27</p>
<p>    Pendapat ini diperkuat oleh hadis Qudsi yang mengatakan: &#8220;Siapakah yang terlebih menganiaya selain orang yang bekerja untuk membuat seperti ciptaanKu? Oleh karena itu cobalah mereka membuat zarrah, cobalah mereka membuat beras belanda!&#8221; (Riwayat Bukhari).</p>
<p>Ciptaan Allah sebagaimana kita lihat, bukan terlukis di atas dataran tetapi berbentuk dan berjisim, sebagaimana Dia katakan:</p>
<p>    &#8220;Dialah Zat yang membentuk kamu di dalam rahim bagaimanapun Ia suka.&#8221; (ali-Imran: 6)</p>
<p>Tidak ada yang menentang pendapat ini selain hadis yang diriwayatkan Aisyah, dalam salah satu riwayat Bukhari dan Muslim, yang berbunyi sebagai berikut:</p>
<p>    &#8220;Sesungguhnya Aisyah membeli bantal yang ada gambar-gambarnya, maka setelah Nabi melihatnya ia berdiri di depan pintu, tidak mau masuk. Setelah Aisyah melihat ada tanda kemarahan di wajah Nabi, maka Aisyah bertanya: Apakah saya harus bertobat kepada Allah dan RasulNya, apa salah saya? Jawab Nabi: Mengapa bantal itu begitu macam? Jawab Aisyah: Saya beli bantal ini untuk engkau pakai duduk dan dipakai bantal. Maka jawab Rasulullah pula: Yang membuat gambar-gambar ini nanti akan disiksa, dan akan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang kamu buat itu. Lantas Nabi melanjutkan pembicaraannya: Sesungguhnya rumah yang ada gambarnya tidak akan dimasuki Malaikat. Dan Imam Muslim menambah dalam salah satu riwayat Aisyah, ia (Aisyah) mengatakan: Kemudian bantal itu saya jadikan dua buah untuk bersandar, dimana Nabi biasa bersandar dengan dua sandaran tersebut di rumah. Yakni Aisyah membelah bantal tersebut digunakan untuk dua sandaran.&#8221; (Riwayat Muslim)</p>
<p>Akan tetapi hadis ini, nampaknya, bertentangan dengan sejumlah hal-hal sebagai berikut:</p>
<p>1) Dalam riwayat yang berbeda-beda nampak bertentangan. Sebagian menunjukkan bahwa Nabi s.a.w. menggunakan tabir/korden yang bergambar yang kemudian dipotong-potong dan dipakai bantal. Sedang sebagian lagi menunjukkan, bahwa beliau samasekali tidak menggunakannya.</p>
<p>2) Sebagian riwayat-riwayat itu hanya sekedar menunjukkan makruh. Sedang kemakruhannya itu karena korden tembok itu bergambar yang dapat menggambarkan semacam berlebih-lebihan yang ia (Rasulullah) tidak senang. Oleh karena itu dalam Riwayat Muslim, ia berkata: &#8221;Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita supaya memberi pakaian pada batu dan tanah.&#8221;</p>
<p>3) Hadis Muslim yang diriwayatkan oleh Aisyah itu sendiri menggambarkan di rumahnya ada tabir/korden yang bergambar burung. Kemudian Nabi menyuruh dipindahkan, dengan kata-katanya: &#8220;Pindahkanlah, karena saya kalau melihatnya selalu ingat dunia!&#8221; Ini tidak menunjukkan kepada haram secara mutlak.</p>
<p>4) Bertentangan dengar: hadis qiram (tabir) yang ada di rumah Aisyah juga, kemudian oleh Nabi disuruhnya menyingkirkan, sebab gambar-gambarnya itu selalu tampak dalam shalat. Sehingga kata al-Hafidh: &#8220;Hadis ini dengan hadis di atas sukar sekali dikompromikan (jama&#8217;), sebab hadis ini menunjukkan Nabi membenarkannya, dan beliau shalat sedang tabir tersebut tetap terpampang, sehingga beliau perintahkan Aisyah untuk menyingkirkannya, karena melihat gambar-gambar tersebut dalam shalat dan dapat mengingatkan yang bukan-bukan, bukan semata-mata karena gambarnya itu an sich.</p>
<p>Akhirnya al-Hafidh berusaha untuk menjama&#8217; hadis-hadis tersebut sebagai berikut: hadis pertama, karena terdapat gambar binatang bernyawa sedang hadis kedua gambar selain binatang &#8230; Akan tetapi inipun bertentangan pula dengan hadis qiram yang jelas di situ bergambar burung.</p>
<p>5) Bertentangan dengan hadis Abu Talhah al-Ansari yang mengecualikan gambar dalam pakaian. Karena itu Imam Qurthubi berpendapat: &#8220;Dua hadis itu dapat dijama&#8217; sebagai berikut: hadis Aisyah dapat diartikan makruh, sedang hadis Abu Talhah menunjukkan mubah secara mutlak yang sama sekali tidak menafikan makruh di atas.&#8221; Pendapat ini dibenarkan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar.</p>
<p>6) Rawi hadis namruqah (bantal) ada seorang bernama al-Qasim bin Muhammad bin Abubakar, keponakan Aisyah sendiri, ia membolehkan gambar yang tidak ada bayangannya, yaitu seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu &#8216;Aun, ia berkata: &#8220;Saya masuk di rumah al-Qasim di Makkah sebelah atas, saya lihat di rumahnya itu ada korden yang ada gambar trenggiling dan burung garuda.&#8221;28</p>
<p>Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata; Barangkali al-Qasim berpegang pada keumuman hadis Nabi yang mengatakan kecuali gambar dalam pakaian dan seolah-olah dia memahami keingkaran Nabi terhadap Aisyah yang menggantungkan korden yang bergambar dan menutupi dinding. Faham ini diperkuat dengan hadisnya yang mengatakan: &#8220;Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita supaya memberi pakaian batu dan tanah.&#8221; Sedang al-Qasim adalah salah seorang ahli fiqih Madinah yang tujuh, dia juga termasuk orang pilihan pada zaman itu, dia pula rawi hadis namruqah itu. Maka jika dia tidak memaham rukhsakh terhadap korden yang dia pasang itu, niscaya dia tidak akan menggunakannya.29</p>
<p>Tetapi di samping itu tampaknya ada kemungkinan yang tampak pada hadis-hadis yang berkenaan dengan masalah gambar dan pelukisnya, yaitu bahwa Rasulullah s.a.w. memperkeras persoalan ini pada periode pertama dari kerasulannya, dimana waktu itu kaum muslimin baru saja meninggalkan syirik dan menyembah berhala serta mengagung-agungkan patung. Tetapi setelah aqidah tauhid itu mendalam kedalam jiwa dan akar-akarnya telah menghunjam kedalam hati dan pikiran, maka beliau memberi perkenan (rukhshah) dalam hal gambar yang tidak berjasad, yang hanya sekedar ukiran dan lukisan. Kalau tidak begitu, niscaya beliau tidak suka adanya tabir/korden yang bergambar di dalam rumahnya; dan ia pun tidak akan memberikan perkecualian tentang lukisan dalam pakaian, termasuk juga dalam kertas dan dinding.</p>
<p>Ath-Thahawi, salah seorang dari ulama madzhab Hanafi berpendapat: Syara&#8217; melarang semua gambar pada permulaan waktu, termasuk lukisan pada pakaian, karena mereka baru saja meninggalkan menyembah patung. Oleh karena itu secara keseluruhan gambar dilarang. Tetapi setelah larangan itu berlangsung lama, kemudian dibolehkan gambar yang ada pada pakaian karena suatu darurat. Syara&#8217; pun kemudian membolehkan gambar yang tidak berjasad karena sudah dianggap orang-orang bodoh tidak lagi mengagungkannya, sedang yang berjasad tetap dilarang</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam"><img src="Array" alt=" Hukum Menggambar Dalam Islam"  title="Hukum Menggambar Dalam Islam" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam">Hukum Membuat Patung Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim"><img src="Array" alt=" Hukum Menggambar Dalam Islam"  title="Hukum Menggambar Dalam Islam" /></a>October 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim">Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)"><img src="Array" alt=" Hukum Menggambar Dalam Islam"  title="Hukum Menggambar Dalam Islam" /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)">Kemuliaan Rasulullah (2)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-dasar-dasar-sederhana-dalam-kedua-agama/" title="Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama"><img src="Array" alt=" Hukum Menggambar Dalam Islam"  title="Hukum Menggambar Dalam Islam" /></a>April 7, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-dasar-dasar-sederhana-dalam-kedua-agama/" title="Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama">Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan"><img src="Array" alt=" Hukum Menggambar Dalam Islam"  title="Hukum Menggambar Dalam Islam" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan">Membaca Bismillah Sebelum Makan</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-1/" title="Kemuliaan Rasulullah (1)"><img src="Array" alt=" Hukum Menggambar Dalam Islam"  title="Hukum Menggambar Dalam Islam" /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-1/" title="Kemuliaan Rasulullah (1)">Kemuliaan Rasulullah (1)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/08/istri-istri-nabi/" title="Istri Nabi"><img src="Array" alt=" Hukum Menggambar Dalam Islam"  title="Hukum Menggambar Dalam Islam" /></a>August 20, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/08/istri-istri-nabi/" title="Istri Nabi">Istri Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/puasa-rasulullah/" title="Hari Yang Dipilih Rasulullah Untuk Berpuasa"><img src="Array" alt=" Hukum Menggambar Dalam Islam"  title="Hukum Menggambar Dalam Islam" /></a>May 8, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/puasa-rasulullah/" title="Hari Yang Dipilih Rasulullah Untuk Berpuasa">Hari Yang Dipilih Rasulullah Untuk Berpuasa</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Membuat Patung Dalam Islam</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 01:40:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saqafah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Daud]]></category>
		<category><![CDATA[Aisyah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah SWT]]></category>
		<category><![CDATA[berekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[boneka]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[gambar 3 dimensi]]></category>
		<category><![CDATA[Hewan]]></category>
		<category><![CDATA[HR. Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Membuat Patung Dalam Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Hibban]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Malik]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Syaukani]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kaum Wud]]></category>
		<category><![CDATA[khusyu']]></category>
		<category><![CDATA[kreatifitas]]></category>
		<category><![CDATA[kuda]]></category>
		<category><![CDATA[mainan anak anak]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[menyembahnya]]></category>
		<category><![CDATA[mu'tabar]]></category>
		<category><![CDATA[mubah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Nasa'i]]></category>
		<category><![CDATA[Nasr.]]></category>
		<category><![CDATA[Patung]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[rukhsah]]></category>
		<category><![CDATA[seniman]]></category>
		<category><![CDATA[Suwa']]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tirmidzi]]></category>
		<category><![CDATA[Ya'uq]]></category>
		<category><![CDATA[Yaghuts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=7259</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info _ Kehidupan di dunia yang semakin gemerlap dan penuh dengan kemudahan dan kemegahan, sering kali melenakan umat manusia. Hal hal yang sudah jelas dilarang dikerjakan, seringkali dilanggar dengan berbagai macam alasan. Alasan yang paling sering digunakan adalah hak asasi atau kreatifitas yang kesemuanya dikatakan untuk kebaikan umat. Padalah jika ditelisik lebih dalam, perbuatan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2012/01/patung-dewa-ruci.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2012/01/patung-dewa-ruci.jpg" alt="patung dewa ruci Hukum Membuat Patung Dalam Islam" title="patung-dewa-ruci" width="293" height="450" class="alignnone size-full wp-image-7261" /></a><strong>nabimuhammad.info _</strong> Kehidupan di dunia yang semakin gemerlap dan penuh dengan kemudahan dan kemegahan, sering kali melenakan umat manusia.  Hal hal yang sudah jelas dilarang dikerjakan, seringkali dilanggar dengan berbagai macam alasan.  Alasan yang paling sering digunakan adalah hak asasi atau kreatifitas yang kesemuanya dikatakan untuk kebaikan umat.  Padalah jika ditelisik lebih dalam, perbuatan itu jelas jelas hanya mengandung kemudharatan saja.</p>
<p>Salah satu contoh yang kerap diperdebatkan dewasa ini adalah masalah hukum membuat patung. Para seniman, atas nama kebebasan berekspresi atau kreatifitas, sering mengabaikan prinsip prinsip Islam dalam menuntun prilaku umat ini agar terhindar dari prilaku dosa.</p>
<p>Dalam Islam, jelaslah Allah SWT melarang kaum muslimin untuk membuat patung atau lebih jelasnya lagi membuat gambar 3 dimensi [atau lebih, karena kedepannya kita tidak pernah tahu jika kemajuan ilmu pengetahuan mampu membuat gambar 4 dimensi].  Sebagian besar ulama sepakat bahwa membuat patung [atau menyimpannya] dilarang dalam Islam.</p>
<p>Namun konteks patung disini adalah patung yang menyerupai mahluk hidup bergerak seperti manusia atau hewan.  Jika patung berbentuk pohon atau benda benda lain misalnya rumah, bangku taman, atau abstrak, maka dalam hal ini diperbolehkan.</p>
<p><strong>Sebab sebab patung dilarang dalam Islam:</strong></p>
<p>1) Di antara rahasia diharamkannya patung ini, walaupun dia itu bukan satu-satunya sebab, adalah untuk memelihara kemurnian Tauhid, dan supaya jauh dari menyamai orang-orang musyrik yang menyembah berhala-berhala mereka yang dibuatnya oleh tangan-tangan mereka sendiri, kemudian dikuduskan dan mereka berdiri di hadapannya dengan penuh khusyu&#8217;.</p>
<p>Islam bersungguh sungguh untuk melindungi Tauhid kaum muslimin dari setiap macam penyerupaan syirik.  Salah satu caranya adalah dengan mengharamkan membuat gambar 3 dimensi [ dan seterusnya, karena bisa jadi ke depan, manusia mampu membuat gambar 4 dimensi].  </p>
<p>Gambar 3 dimensi itu, terbuat dari bahan apapun, baik itu batu, kayu, kertas, gabus, kain perca dll sangat diharamkan.  Karena keseluruhannya bisa menggelincirkan manusia untuk menyembahnya.  </p>
<p>Sejarah telah membuktikan bahwa selama berabad abad, dari satu nabi ke nabi berikutnya, manusia selalu tergelincir pada lubang yang sama.  Meskipun kalimat tauhid telah diajarkan oleh para nabi Islam, yakni hanya menyembah Allah SWT, namun setelah nabi nabi itu meninggal mereka kembali kepada patung patung mereka. Semula patung patung itu dibuat untuk mengenang orang besar atau orang yang shaleh, kemudian disebut-sebut lah  nama mereka itu. Lama-kelamaan dan dengan sedikit demi sedikit orang-orang saleh yang telah dilukiskan dalam bentuk patung itu dikuduskan, sehingga akhirnya dijadikan sebagai Tuhan atau dewa yang disembah selain Allah; diharapkan, dan ditakuti serta diminta barakahnya. Hal ini pernah terjadi pada kaum Wud, Suwa&#8217;, Yaghuts, Ya&#8217;uq dan Nasr.</p>
<p>Begitulah  hal ini berlangsung terus menerus, dari satu nabi ke nabi berikutnya, umat manusia selalu jatuh dalam lubang yang sama.  yakni &#8216;penyembahan kepada selain Allah&#8217;. Dan semakin lama, bentuk penyembahan itu semakin &#8216;kreatif&#8217; bentuknya.  Tidak lagi berupa patung patung, tetapi bisa berupa jabatan, rumah mewah, popularitas, tas hermes, mobil jaguar, dll.</p>
<p>Islam dalam ikhtiarnya ini dan kesungguhannya untuk senantiasa berada di jalan yang benar, menjaganya dalam bentuk yang paling dasar dan mudah terlihat. Yakni pelarangan dalam bentuk patung.  </p>
<p>Tidak heran kalau dalam suatu agama yang dasar-dasar syariatnya itu selalu menutup pintu kerusakan, bahwa akan ditutup seluruh lubang yang mungkin akan dimasuki oleh syirik yang sudah terang maupun yang masih samar untuk menyusup ke dalam otak dan hati, atau jalan-jalan yang akan dilalui oleh penyerupaan kaum penyembah berhala dan pengikut-pengikut agama yang suka berlebih-lebihan. Lebih-lebih Islam itu sendiri bukan undang-undang manusia yang ditujukan untuk satu generasi atau dua generasi, tetapi suatu undang-undang untuk seluruh umat manusia di seantero dunia ini sampai hari kiamat nanti. Sebab sesuatu yang kini masih belum diterima oleh suatu lingkungan, tetapi kadang-kadang dapat diterima oleh lingkungan lain; dan sesuatu yang kini dianggap ganjil dan mustahil, tetapi di satu saat akan menjadi suatu kenyataan, entah kapan waktunya, dekat atau jauh.</p>
<p>Untuk itulah maka Rasulullah s.a.w. bersabda:</p>
<blockquote><p> &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang membuat patung-patung ini nanti di hari kiamat akan disiksa dan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah patung yang kamu buat itu.&#8221; ( HR Bukhari dan Muslim)</p></blockquote>
<p>Dan dalam hadis Qudsi, Allah s.w.t. berfirman pula:</p>
<p>    &#8220;Siapakah orang yang lebih menganiaya selain orang yang bekerja untuk membuat sesuatu seperti pembuatanku? Oleh karena itu cobalah mereka membuat zarrah (benda yang kecil), cobalah mereka membuat sebutir beras.&#8221; (Riwayat Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Orang-orang yang berbicara dalam persoalan seni ini tidak berhenti dalam suatu batas tertentu saja, tetapi mereka malah melukis (memahat) wanita-wanita telanjang atau setengah telanjang. Mereka juga melukis (dan juga memahat) lambang-lambang kemusyrikandan syiar-syiar agama lainnya, seperti salib, berhala dan lain-lain yang pada prinsipnya tidak dapat diterima oleh Islam.</p>
<p>Lebih dari itu semua, bahwa patung-patung itu selalu menjadi simbol kemegahan orang-orang yang berlebihan, mereka penuhi istana-istana mereka dengan patung patung, kamar-kamar mereka dihias dengan patung dan, mereka buat pahat (patung) dari berbagai lambang.<br />
Patung patung itu kini jarang memang dibuat dari bahan batu seperti jaman dulu, namun dibuat dari berlian, intan, emas, kaca, lilin, dan sebagainya.  Patutlah jika disebut patung patung itu menjadi simpbol kemewahan dan sikap berlebih lebihan.</p>
<p>Kalau agama Islam dengan gigih memberantas seluruh bentuk kemewahan dan kemegahan,  maka tidak mengherankan  kalau agama ini juga mengharamkan patung patung itu, sebagai lambang kemegahan, dalam rumah-rumah orang Islam.</p>
<p>Namun penting untuk dipahami, bahwa pembuatan gambar 3 dimensi ini [dgn segala material, misal batu, kayu, kain, busa dll] jika dimaksudkan untuk mainan anak anak, maka hal tersebut diperbolehkan.</p>
<p>Aisyah berkata:</p>
<p>    &#8220;Aku biasa bermain-main dengan anak-anakan perempuan (boneka perempuan) di sisi Rasulullah s.a.w. dan kawan-kawanku datang kepadaku, kemudian mereka menyembunyikan boneka boneka tersebut karena takut kepada Rasulullah s.a.w., tetapi Rasulullah s.a.w. malah senang dengan kedatangan kawan-kawanku itu, kemudian mereka bermain-main bersama aku.&#8221; (Riwayat Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dan dalam salah satu riwayat diterangkan:</p>
<p>    &#8220;Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pada suatu hari bertanya kepada Aisyah: Apa ini? Jawab Aisyah: Ini anak-anak perempuanku (boneka perempuanku); kemudian Rasulullah bertanya lagi: Apa yang di tengahnya itu? Jawab Aisyah: Kuda. Rasulullah bertanya lagi: Apa yang di atasnya itu? Jawab Aisyah: Itu dua sayapnya. Kata Rasulullah: Apa ada kuda yang bersayap? Jawab Aisyah: Belumkah engkau mendengar, bahwa Sulaiman bin Daud a.s. mempunyai kuda yang mempunyai beberapa sayap? Kemudian Rasulullah tertawa sehingga nampak gigi gerahamnya.&#8221; (Riwayat Abu Daud)</p>
<p>Yang dimaksud anak-anak perempuan di sini ialah boneka pengantin yang biasa dipakai permainan oleh anak-anak kecil. Sedang Aisyah waktu itu masih sangat muda.</p>
<p>Imam Syaukani mengatakan: hadis ini menunjukkan, bahwa anak-anak kecil boleh bermain-main dengan boneka (patung). Tetapi Imam Malik melarang laki-laki yang akan membelikan boneka untuk anak perempuannya. Dan Qadhi Iyadh berpendapat bahwa anak-anak perempuan bermain-main dengan boneka perempuan itu suatu rukhsah (keringanan).</p>
<p>Termasuk sama dengan permainan anak-anak, yaitu patung-patungan yang terbuat dari kue kue dan dijual pada hari besar (hari raya) ataupun hari biasa  kemudian tidak lama kue-kue tersebut dimakannya.</p>
<p><strong>Patung yang Tidak Sempurna dan Cacat</strong></p>
<p>Di dalam hadis disebutkan, bahwa Jibril a.s. tidak mau masuk rumah Rasulullah s.a.w. karena di pintu rumahnya ada sebuah patung. Hari berikutnya pun tidak mau masuk, sehingga ia mengatakan kepada Nabi Muhammad:</p>
<p>    &#8220;Perintahkanlah supaya memotong kepala patung itu. Maka dipotonglah dia sehingga menjadi seperti keadaan pohon.&#8221; (Riwayat Abu Daud, Nasai, Tarmizi dan Ibnu Hibban)</p>
<p>Dari hadis ini segolongan ulama ada yang berpendapat diharamkannya gambar itu apabila dalam keadaan sempurna, tetapi kalau salah satu anggotanya itu tidak ada yang kiranya tanpa anggota tersebut tidak mungkin dapat hidup, maka membuat patung seperti itu hukumnya mubah.</p>
<p>Tetapi menurut tinjauan yang benar berdasar permintaan Jibril untuk memotong kepala patung sehingga menjadi seperti keadaan pohon, bahwa yang mu&#8217;tabar (diakui) di sini bukan karena tidak berpengaruhnya sesuatu anggota yang kurang itu terhadap hidupnya patung tersebut, atau patung itu pasti akan mati jika tanpa anggota tersebut. Namun yang jelas, patung tersebut harus dibuat cacat supaya tidak terjadi suatu kemungkinan untuk diagungkannya setelah salah satu anggotanya tidak ada.</p>
<p>Cuma suatu hal yang tidak diragukan lagi, jika direnungkan dan kita insafi, bahwa patung separuh badan yang dibangun di kota guna mengabadikan para raja dan orang-orang besar [pahlawan dll], haramnya lebih tegas daripada patung kecil satu badan penuh yang hanya sekedar untuk hiasan rumah.~~</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam"><img src="Array" alt=" Hukum Membuat Patung Dalam Islam"  title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam">Hukum Menggambar Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/kitab-riyadhush-shalihin/" title="Kitab Riyadhush Shalihin"><img src="Array" alt=" Hukum Membuat Patung Dalam Islam"  title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam" /></a>October 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/kitab-riyadhush-shalihin/" title="Kitab Riyadhush Shalihin">Kitab Riyadhush Shalihin</a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/puasa-rasulullah/" title="Hari Yang Dipilih Rasulullah Untuk Berpuasa"><img src="Array" alt=" Hukum Membuat Patung Dalam Islam"  title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam" /></a>May 8, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/puasa-rasulullah/" title="Hari Yang Dipilih Rasulullah Untuk Berpuasa">Hari Yang Dipilih Rasulullah Untuk Berpuasa</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-1/" title="Kemuliaan Rasulullah (1)"><img src="Array" alt=" Hukum Membuat Patung Dalam Islam"  title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam" /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-1/" title="Kemuliaan Rasulullah (1)">Kemuliaan Rasulullah (1)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)"><img src="Array" alt=" Hukum Membuat Patung Dalam Islam"  title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam" /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)">Kemuliaan Rasulullah (2)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-2taubat/" title="Bab 2:Taubat"><img src="Array" alt=" Hukum Membuat Patung Dalam Islam"  title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam" /></a>October 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-2taubat/" title="Bab 2:Taubat">Bab 2:Taubat</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas"><img src="Array" alt=" Hukum Membuat Patung Dalam Islam"  title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam" /></a>October 11, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas">Bab 1. Ikhlas</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/07/6679/" title="Tanda Akhir Jaman"><img src="Array" alt=" Hukum Membuat Patung Dalam Islam"  title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam" /></a>July 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/07/6679/" title="Tanda Akhir Jaman">Tanda Akhir Jaman</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 Alasan Kita Ber&#8217;Islam&#8217;</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/10-alasan-kita-berislam/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/10-alasan-kita-berislam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 11:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saqafah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[10 Alasan Kita Ber'Islam']]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Imran]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab-Nya]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Rasulullah SAW]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[Ridha Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=7139</guid>
		<description><![CDATA[Setidaknya ada sepuluh alasan mengapa kita menganut agama Islam. Kesepuluh alasan tersebut adalah sebagai berikut: Pertama , karena kita ingin hidup di dalam naungan ridha Allah سبحانه و تعالى . Sedangkan Allah سبحانه و تعالى telah menegaskan di dalam Kitab-Nya bahwa satu-satunya agama atu jalan hidup yang diridhai-Nya hanyalah agama Islam. Tidak ada seorangpun Muslim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/01/5.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/01/5.jpg" alt="5 10 Alasan Kita BerIslam" title="5" width="1024" height="768" class="alignnone size-full wp-image-6457" /></a>Setidaknya ada sepuluh alasan mengapa kita menganut agama Islam. Kesepuluh alasan tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>Pertama</p></blockquote>
<p>, karena kita ingin hidup di dalam naungan ridha Allah سبحانه و تعالى . Sedangkan Allah سبحانه و تعالى telah menegaskan di dalam Kitab-Nya bahwa satu-satunya agama atu jalan hidup yang diridhai-Nya hanyalah agama Islam. Tidak ada seorangpun Muslim yang pernah membaca ayat di bawah ini kecuali pasti akan menjadikan Islam sebagai satu-satunya pilihan agama yang ia anut. Karena Allah سبحانه و تعالى hanya meridhai atau melegalisir agama Islam, bukan agama selain Islam.</p>
<p>إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.&#8221;</p>
<p>(QS. Ali Imran [3] : 19)</p>
<p>Seorang Muslim sangat peduli memperoleh ridha Allah سبحانه و تعالى dalam hidupnya. Ia tidak risau jika pak RT atau pak RW atau presiden atau bahkan penguasa negara superpower sekalipun tidak ridha kepadanya. Tapi ia sangat risau jika Allah سبحانه و تعالى Penguasa langit dan bumi tidak meridhai hidupnya.</p>
<p>Ayat di atas bukan saja menegaskan bahwa penganut agama Islam bakal memperoleh ridha dan restu Allah سبحانه و تعالى , tetapi secara implisit juga menegaskan bahwa barangsiapa mencari agama selain Islam berarti ia hidup di dunia tanpa keridhaan Allah سبحانه و تعالى . Jika Allah سبحانه و تعالى tidak ridha kepadanya berarti ia bakal menderita kerugian di akhirat nanti. Sebab murka Allah سبحانه و تعالى menanti dirinya. Bagaimana tidak? Allah سبحانه و تعالى telah memberikan begitu banyak nikmat —lahir maupun batin— kepadanya, namun ia malah tidak bersyukur terhadap nikmat yang paling utama, yaitu hidayah agama Islam. Bukti tidak bersyukurnya ialah dia memilih agama selain Islam yang sesungguhnya menjauhkan dirinya dari Ridha Allah سبحانه و تعالى .</p>
<p>وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>&#8220;Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.&#8221; (QS. Ali Imran [3] : 85)</p>
<p>Keridhaan Allah سبحانه و تعالى akan tercurah kepada kita karena kita memilih untuk beridentitas Islam, bukan yang lainnya. Sebab Allah سبحانه و تعالى menyuruh kita saat berinteraksi dengan penganut agama lainnya agar menawarkan prinsip hidup tauhid kepada mereka sebagai kesepakatan bersama. Tetapi kemudian jika mereka berpaling, kita tidak disuruh untuk berkompromi dengan mereka, misalnya dengan mencari identitas “pertengahan” seperti nasionalisme dan sejenisnya. Allah سبحانه و تعالى menyuruh kita untuk memproklamirkan diri sebagai orang-orang yang beridentitas Islam.</p>
<p>قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ</p>
<p>شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ</p>
<p>&#8220;Katakanlah, &#8216;Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah&#8217;. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, &#8216;Saksikanlah, bahwa kami adalah kaum muslimin (orang-orang yang berserah diri kepada Allah)&#8217;.&#8221; (QS. Ali Imran [3] : 64)</p>
<blockquote><p>Kedua</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena ingin hidup seirama dengan gerak alam semesta. Seluruh makhluk di langit maupun di bumi bersikap “Islam” atau berserah-diri, bersujud, tunduk dan patuh kepada Allah سبحانه و تعالى . Maka kita tidak ingin memilih irama yang berbeda dengan gerak alam. Kita kaum Muslimin sangat merasa perlu untuk hidup dalam harmoni keserasian dengan alam seluruhnya.</p>
<p>أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ</p>
<p>وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُوَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ</p>
<p>&#8220;Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?&#8221;</p>
<p>(QS. Al-Hajj [22] : 18)</p>
<p>Kita menganut Islam karena kita ingin dengan sukarela berserah diri kepada Allah سبحانه و تعالى . Kita sangat sadar bahwa kita semua berasal dari Allah سبحانه و تعالى dan akan dikembalikan kepada Allah سبحانه و تعالى sebagai akhir perjalanan hidup.</p>
<p>أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ</p>
<p>&#8220;Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri (aslama) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” (QS. Ali Imran [3] : 83)</p>
<blockquote><p>Ketiga</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena ingin dikumpulkan bersama orang-orang terbaik sepanjang zaman. Dari zaman ke zaman, dari negeri ke negeri Allah سبحانه و تعالى mengutus para Nabi dan Rasul-Nya untuk menyampaikan pesan Allah سبحانه و تعالى bahwa hidup di dunia ini adalah untuk menjalankan misi beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى semata dan menjauhkan diri dari musuh-musuh-Nya yaitu para thaghut. Berfihak kepada al-haq(kebenaran) dan tidak berkompromi dengan al-bathil(kebatilan).</p>
<p>Para Nabi dan Rasul Allah merupakan manusia-manusia terbaik sepanjang zaman. Kita ingin dikumpulkan bersama mereka kelak di Akhirat nanti. Oleh karena itu kita menganut Islam. Sebab Islam merupakan agama yang telah dianut bahkan diperjuangkan oleh setiap Nabi dan Rasul Allah sepanjang sejarah.</p>
<p>قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ</p>
<p>وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىوَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ</p>
<p>&#8220;Katakanlah, &#8216;Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, &#8216;Isa dan para nabi dari Rabb mereka&#8217;. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menjadi kaum muslimun (menyerahkan diri).&#8221;</p>
<p>(QS. Ali Imran [3] : 84)</p>
<p>Bahkan kita sangat berambisi agar bisa dikumpulkan bersama orang-orang terbaik sesudah level para Nabi dan Rasul Allah, yaitu para shiddiqiin (orang-orang yang selalu dalam kebenaran), syuhada (orang-orang yang mati syahid terbunuh oleh musuh-musuh Allah سبحانه و تعالى ) sertasholihiin (orang-orang yang menyibukkan diri mengerjakan amal ibadah dan amal sholeh). Sebab mereka inilah orang-orang yang paling pantas kita jadikan sebagai sebaik-baiknya teman setia di dunia maupun di Akhirat kelak.</p>
<p>وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ</p>
<p>وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا</p>
<p>&#8220;Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.&#8221; (QS. An-Nisa [4] : 69)\</p>
<p>Setidaknya ada sepuluh alasan mengapa kita menganut agama Islam. Tiga alasan pertama sudah kita bahas pada tulisan sebelumnya, Kenapa Kita Menganut Agama Islam? (Bagian 1). Alasan-alasan selanjutnya ialah:</p>
<blockquote><p>Keempat</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena ingin mati sebagai muslim yaitu sebagai orang yang berserah diri kepada Allah سبحانه و تعالى . Kita tidak mau mati sebagai seorang yang kafir kepada Allah سبحانه و تعالى . Demikian pula, kita tidak ingin mati sebagai orang yang berpura-pura atau bermain-main menjadi seorang yang beriman alias menjadi seperti kaum munafik. Begitu pula, kita tidak mau mati dalam keadaan sebagai seorang yang murtad. Mengapa? Karena Allah سبحانه و تعالى menyuruh kita untuk tidak mati kecuali dalam keadaan sebagai seorang muslim.</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ<br />
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran 102)</p>
<p>Orang yang mati dalam keadaan beragama Islam akan mendapat keselamatan dan kebahagiaan hakiki dan abadi di akhirat kelak dengan dimasukkan Allah سبحانه و تعالى ke dalam jannah-Nya (surga-Nya). Sedangkan orang yang mati dalam keadaan selain beragama Islam pasti celaka di akhirat, karena Allah سبحانه و تعالى bakal memasukkan dirinya ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Semua orang yang mati dalam keadaan kafir, munafik atau murtad berarti mati tidak dalam keadaan beragama Islam. Ia bakal hidup dalam kesengsaraan hakiki dan abadi di dalam azab Allah tersebut. Wa na’udzubillaahi min dzaalika&#8230;</p>
<p>Maka seorang yang mati dalam keadaan beragama Islam berarti telah mempersiapkan dirinya untuk mampu menjawab beberapa pertanyaan fundamental malaikat ketika dirinya sudah menjadi mayat berada di dalam kuburnya. Sebagaimana disebutkan Rasulullah صلى الله عليه و سلم di dalam hadits berikut:</p>
<p>قَالَ فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولَانِ لَهُ وَمَا عِلْمُكَ فَيَقُولُ قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ أَنْ صَدَقَ عَبْدِي<br />
Kata Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم : “&#8230; lantas rohnya di kembalikan ke jasadnya, kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya dan bertanya “Siapa Rabbmu?”. Ia menjawab “Rabb-ku Allah”. Tanya keduanya &#8220;Apa agamamu?&#8221; Ia menjawab: “Agamaku Islam.&#8221; Keduanya bertanya &#8220;Bagaimana komentarmu tentang laki-laki yang diutus kepada kamu ini?” Si mayit menjawab &#8220;Oh, dia Rasulullah صلى الله عليه و سلم .” Keduanya bertanya &#8220;Darimana kamu tahu itu semua?” Ia menjawab &#8220;Aku membaca Kitabullah sehingga aku mengimaninya dan membenarkannya.” Lantas ada Penyeru di langit memanggil-manggil:&#8221;HambaKu benar&#8230;” (HR Ahmad – Shahih)</p>
<blockquote><p>Kelima</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena ingin meneladani Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم yang disebut Allah سبحانه و تعالى merupakan rahmat bagi semesta alam.</p>
<p>وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ<br />
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya)</p>
<p>Seorang manusia yang menjalani kehidupan mengikuti agama Islam, berarti ia telah mengambil peranan sebagai rahmat bagi sekelilingnya. Sebab hakikat menjadi rahmat bagi sekelilingnya ialah ketika seseorang loyal dan istiqomah di dalam menganut agama Islam. Jangan dibalik. Bila orang kebanyakan (yang aqidahnya rusak serta terlanjur tenggelam dalam dosa) merasa terganggu oleh kehadiran orang yang sesungguhnya sholeh, maka orang sholeh itu dituduh tidak menjadi rahmat bagi orang-orang sekelilingnya (yang terlanjur gemar kemusyrikan dan bermaksiat alias durhaka kepada Allah سبحانه و تعالى ). Akhirnya supaya dianggap menjadi “rahmat” bagi orang-orang tersebut si sholeh tadi berkompromi dan menunjukkan sikap mencampuradukkan yang haq dengan yang batil. Ini pengertian yang keliru dari makna “rahmat bagi semesta alam.”</p>
<p>Maka, kita menganut agama Islam dan berusaha untuk istiqomah dengannya, karena tahu bahwa satu-satunya tolok-ukur kalau dirinya menjadi rahmat bagi sekelilingnya adalah ketika ia sibuk berusaha meneladani Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم dalam sebanyak mungkin aspek kehidupannya.</p>
<p>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ<br />
كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا<br />
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab 21)</p>
<blockquote><p>Keenam</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena ingin kehidupan yang baik di dunia dan kehidupan yang jauh lebih baik lagi di akhirat kelak nanti. Sebab seorang muslim yakin bahwa hidupnya belum berakhir ketika ia meninggal dunia. Ia sangat yakin bahwa kehidupan dunia ini fana dan masih ada kehidupan akhirat yang menantinya. Di dunia ini ia hanya menjalani kehidupan sementara dan sangat singkat. Sedangkan di akhirat nanti ia bakal menjalani kehidupan yang abadi dan hakiki. Kesenangan serta penderitaan di dunia merupakan kesenangan dan penderitaan yang artifisial. Sedangkan kesenangan dan derita di akhirat merupakan kesenangan dan derita yang sejati.</p>
<p>Maka seorang muslim tentunya ingin hidup baik dan senang di dunia, tetapi ia lebih fokus mengejar hidup yang baik dan senang di akhirat. Seorang muslim tentunya tidak ingin hidup yang buruk dan menderita di dunia, tapi ia lebih tidak ingin lagi hidup buruk dan menderita di akhirat nanti. Sedangkan  Allah سبحانه و تعالى menjanjikan bahwa jika ia menjadi penganut Islam yang baik dan benar, niscaya ia bakal memperoleh hidup yang baik di dunia dan hidup yang jauh lebih baik lagi di akhirat kelak nanti.</p>
<p>مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ<br />
حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ<br />
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl 97)</p>
<p>Yang sering mengecohkan manusia ialah kesalahfahaman mengenai makna “hidup yang baik di dunia.” Kebanyakan manusia modern mengartikannya sebagai hidup dengan berkecukupan dan kaya serta sukses meraih gelar akademis bahkan punya jabatan dan menjadi orang yang populer. Padahal tolok-ukur kesuksesan hidup di dunia, bagi seorang muslim, bukanlah itu. Kesuksesan diukur berdasarkan “taqwa”. Sedangkan taqwa ialah seberapa jauh seseorang menjalankan perintah-perintah Allah سبحانه و تعالى dan menjauhi larangan-larangan-Nya.</p>
<p>Seringkali karena seseorang patuh menjalankan perintah Allah سبحانه و تعالى (misalnya perintah berda’wah, amar ma’ruf dan nahi mungkar serta berjihad di jalan Allah) malah justeru dituduh sebagai pengacau, ekstrimis atau bahkan teroris, lalu dipenjara oleh penguasa zalim. Atau tatkala ia menjauhi larangan Allah سبحانه و تعالى (misalnya larangan mencuri/korupsi, berzina, memakan riba/bunga bank serta mentaati/berkompromi/berkoalisi dengan thaghut) malah ia dicap sebagai seorang yang kaku, radikal, kolot serta tidak progresif oleh kaum liberalis yang ingin hidup memperturutkan hawa-nafsu mereka. Apakah orang-orang seperti ini hidupnya tidak baik? Oh tidak, justeru inilah orang-orang yang sesungguhnya memperoleh “hidup yang baik di dunia” jika mereka tetap sabar dan istiqomah mematuhi Allah سبحانه و تعالى apapun resiko yang mesti mereka alami. Subhaanallah&#8230;.!</p>
<p>Setidaknya ada sepuluh alasan mengapa kita menganut agama Islam. Tiga alasan pertama sudah kita bahas pada tulisan sebelumnya Kenapa Kita Menganut Agama Islam? (bagian 1). Tiga alasan berikutnya telah kita bahas juga pada tulisan berjudul Kenapa Kita Menganut Agama Islam? (bagian 2).  Alasan-alasan sisanya ialah:</p>
<blockquote><p>Ketujuh</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena tidak mau menjadi orang yang berdusta sesudah mengaku beriman. Kita sadar bahwa sekedar berikrar syahadatain tidak serta-merta memastikan diri menjadi seorang yang benar imannya. Bahkan berpeluang masuk ke dalam golongan kaum munafik. Wa na’udzubillaahi min dzaalika&#8230;!</p>
<p>أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا<br />
الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ<br />
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: &#8220;Kami telah beriman&#8221;, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut 2-3)</p>
<p>Hidup seorang yang mengaku beriman pasti dipenuhi dengan ujian demi ujian dari Allah سبحانه و تعالى untuk menyingkap apakah dirinya seorang mukmin yang benar ucapannya ataukah seorang munafik yang terbiasa berdusta. Allah سبحانه و تعالى secara tegas menggolongkan kaum munafik yang suka berdusta sebagai orang-orang yang pada hakikatnya tidak beriman walau lisannya mengaku dirinya beriman.</p>
<p>وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ<br />
“Di antara manusia ada yang mengatakan: &#8220;Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian&#8221;, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (QS Al-Baqarah <img src='http://nabimuhammad.info/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt="icon cool 10 Alasan Kita BerIslam" class='wp-smiley' title="10 Alasan Kita BerIslam" /> </p>
<blockquote><p>Kedelapan</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena menyadari bahwa iman tidak bisa diwarisi dari orangtua atau nenek moyang kita. Iman dan Islam bukanlah perkara yang secara otomatis diwariskan dari orang-tua kepada anak-keturunannya. Menjadi orang beriman harus melalui sebuah perjuangan memelihara iman dan tauhid serta kesungguhan doa kepada Allah سبحانه و تعالى agar senantiasa menunjuki kita jalan hidayah dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Seorang ustadz yang alim dan sholeh tidak serta-merta mempunyai anak-keturunan yang juga alim dan sholeh. Jangankan seorang ustadz, bahkan seorang Nabiyullah-pun tidak selalu anaknya pasti menjadi orang beriman. Hal ini kita dapati di dalam kisah Nabiyullah Nuh ‘alaihis-salam.</p>
<p>وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ<br />
الْحَاكِمِينَ قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِي<br />
مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ<br />
“Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata: &#8220;Ya Rabbku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.&#8221; Allah berfirman: &#8220;Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.&#8221; (QS Huud 45-46)</p>
<p>Allah سبحانه و تعالى menegur Nabi Nuh agar jangan menganggap puteranya yang condong memilih kafir daripada iman sebagai bagian dari keluarganya. Bahkan Allah melarang Nabi Nuh mengajukan permohonan doa yang mencerminkan seolah dirinya selaku Nabi tidak berpengetahuan dalam persoalan mendasar ini. Yaitu persoalan aqidah sebagai pengikat sejati antar manusia, bahkan antara anak dan ayah. Pengikat sejati antar manusia adalah iman dan tauhid, bukan darah dan garis keturunan.</p>
<p>Demikian pula dengan Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Beliau dengan tegas memperingatkan kepada anak-keturunannya agar jangan mengandalkan garis keturunan sebagai hal yang otomatis mendatangkan keistimewaan dibandingkan orang lainnya yang tidak bergaris keturunan hingga ke Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Tidak mentang-mentang seseorang merupakan bagian dari ahli bait Rasulullah صلى الله عليه و سلم kemudian ia menjadi yakin dan pasti bahwa dirinya bakal masuk surga dan memperoleh syafaat dari Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Tidak&#8230;!<br />
إن أهل بيتي هؤلاء يرون أنهم أولى الناس بي وليس كذلك إن أوليائي منكم المتقون من كانوا و حيث كانوا &#8211; إسناده صحيح رجاله كلهم ثقات<br />
“Ahli Baitku berpandangan bahwa mereka adalah orang-orang yang paling berhak mendapat syafaatku, padahal tidaklah demikian. Sesungguhnya para waliku di antara kamu sekalian adalah yang bertaqwa, siapapun dia dan dimanapun adanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam “As-Sunnah” dan dipandang shahih oleh Al Al-Bani dalam takhrij beliau)</p>
<blockquote><p>Kesembilan</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena faham bahwa zaman yang sedang berlangsung dewasa ini merupakan era penuh fitnah dimana ancaman utama ialah munculnya gejala “murtad tanpa sadar”. Sehingga Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menggambarkannya seperti sepenggal malam yang gelap-gulita.</p>
<p>بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ<br />
يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا<br />
وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا<br />
Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: &#8220;Segeralah kalian beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki masih dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki masih dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.&#8221;<br />
(HR Muslim -Shahih)</p>
<p>Hadits di atas menggambarkan dengan tepat sekali kondisi dunia dewasa ini. Bila jujur dalam menilai, semua kita pasti merasakan betapa fitnah telah merebak ke segenap lini kehidupan. Entah itu fitnah ideologi, politik, sosial, ekonomi, budaya, hukum, pendidikan, media, militer dan lain-lainnya. Sehingga Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم tidak mengatakan bahwa gejala yang muncul ialah “di pagi hari seorang lelaki berbuat kebaikan, lalu berbuat kejahatan di sore harinya.” Tidak, Nabi tidak berkata demikian..! Sebab sejahat-jahatnya seseorang, namun bila iman dan tauhid masih bersemayam di dalam dadanya, ia masih berpeluang diampuni Allah سبحانه و تعالى . Jelas-tegas Nabi muhammad صلى الله عليه و سلم mengatakan “pagi beriman, sorenya kafir..!” Gejala “murtad tanpa sadar” inilah yang harus kita waspadai..!</p>
<p>Dalam hadits lainnya, kita temukan prediksi Nabi muhammad صلى الله عليه و سلم yang dengan tepat menggambarkan keadaan kaum muslimin dewasa ini.</p>
<p>لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ<br />
حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ<br />
قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ<br />
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: &#8220;Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.&#8221; Kami bertanya; &#8220;Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Siapa lagi kalau bukan mereka?&#8221; (HR Muslim &#8211; Shahih)</p>
<p>Tidakkah seperti itu kondisi sebagian besar kaum muslimin dewasa ini? Mereka mengekor secara membabi-buta kepada “the western civilization” (peradaban barat) yang tidak lain ialah “the judeo-christian civilization” (peradaban yahudi-nasrani) yang sedang mendominasi dunia saat ini. Dalam berideologi meyakini faham sekularisme, humanisme, pluralisme dan liberalisme. Dalam berhukum menolak hukum Allah سبحانه و تعالى dan membanggakan hukum produk manusia. Dalam berbudaya menjadikan syahwat sebagai tujuan bukan dzikrullah (mengingat Allah). Menjadikan riba sebagai praktek utama berekonomi yang diterima tanpa peduli larangan dan ancaman Allah سبحانه و تعال. Ikatan sosial dirajut berlandaskan faham nasionalisme bukan aqidah tauhid sebagaimana yang Allah perintahkan. Dalam berpolitik menjadikan faham Machiavelli (tujuan menghalalkan segala cara) serta demokrasi sebagai acuan utama, bukannya memperjuangkan tegaknya kedaulatan Allah سبحانه و تعالى dengan menerapkan syariah Islam sebagai aturan bersama. Media menjadi sarana penyebar-luasan kebohongan, kerusakan, humbar aurat, kelalaian bahkan kemusyrikan, bukan menjadi penerang yang menyadarkan manusia akan hakikat dan tujuan hidupnya. Sekolah formal sebagai sarana utama pendidikan malah menjadi penyebab utama disintegrasi keluarga serta tempat dimana anak belajar menjadi nakal dan mempersekutukan Allah, bukan menjadi santun dan ber-tauhid.</p>
<p>Pantas bilamana Allah سبحانه و تعالى memperingatkan kita akan bahaya kaum yahudi dan nasrani yang selalu menginginkan kaum muslimin mengekor kepada millah (baca: jalan hidup) mereka. Bahkan Allah سبحانه و تعالى memperingatkan kita bahwa jika loyalitas diserahkan kepada kaum yahudi dan nasrani, maka Allah tidak lagi memandang kita masih beragama Islam, alias murtad..!</p>
<p>وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ<br />
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)&#8221;. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqarah 120)</p>
<p>Allah jelas-tegas menyatakan bahwa &#8220;Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)&#8221;. Islam itulah petunjuk Allah. Islam itulah petunjuk yang benar. Mengapa sebagian kita mengikuti petunjuk kaum yahudi dan nasrani? Pantas dewasa ini sebagian besar kaum muslimin tidak merasakan pertolongan dan perlindungan Allah, sebab mereka sibuk mencari pertolongan dan perlindungan dari kaum yahudi dan nasrani..!</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ<br />
بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ<br />
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Maidah 51)</p>
<blockquote><p>Kesepuluh</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena sadar bahwa saat ini kaum muslimin sedang hidup di babak keempat perjalanan sejarah ummat Islam. Dan babak ini merupakan “the darkest ages of the Islamic era” (babak paling kelam dalam sejarah Islam). Di babak ini kaum muslimin hidup di bawah dominasi kepemimpinan mulkan jabbriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan Rasul-Nya). Belum pernah di dalam sejarah ummat Islam kita mengalami babak yang lebih kelam daripada babak ini. Simak hadits Nabiصلى الله عليه و سلم berikut ini:</p>
<p>تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِفَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ<br />
“Masa (1)kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa (2)Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian, selama beberapa masa hingga Allah mengangkatnya, kemudian datang masa (3)Raja-raja yang Menggigit selama beberapa masa, selanjutnya datang masa (4)Raja-raja/para penguasa  yang Memaksakan kehendak (diktator) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali (5)Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian. Kemudian Rasul SAW terdiam.” (HR Ahmad &#8211; Shahih)</p>
<p>Pada babak ketiga kaum muslimin sempat mengalami kepemimpinan yang juga bermasalah karena yang memimpin adalah para khalifah yang dijuluki Nabi صلى الله عليه و سلم sebagai mulkan aadhdhon (para raja yang menggigit). Mengapa? Sebab pada masa itu pergantian khalifah bak sistem kerajaan yaitu diwariskan dalam lingkup keluarga raja secara turun-temurun. Sehingga mereka dijuluki para raja. Lalu mengapa disebutmenggigit? Karena tidak sedikit di antara mereka yang memang berlaku zalim secara pribadinya, namun betapapun para kahliafah tersebut masih memenuhi kriteria sebagai ulil amri dalam hal kepemimpinannya dimana bila ada perselisihan, mereka masih menjadikan Allah (Al-Qur’an) serta Ar-Rasul (As-Sunnah) sebagai rujukan utama. Tidak demikian halnya di babak keempat dewasa ini. Para pemimpin dan pembesar yang ada mengambil rujukan selain Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam menyelesaikan persoalan masyarakat di dalam negara yang dipimpinnya. Inilah hal yang paling membedakan antara babak ketiga dengan babak keempat perjalanan sejarah ummat Islam. Di babak ketiga ummat masih merasakan kepemimpinan “ulil amri” sedangkan di babak keempat ummat tidak memiliki “ulil amri” sebab yang ada hanyalah para “pemimpin dan pembesar” yang mengajak masyarakat bukan menuju keridhoan Allah سبحانه و تعالى , malah menuju kemurkaan-Nya. Wa na’udzubillaahi min dzaalika..!</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا<br />
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur&#8217;an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”<br />
(QS An-Nisa 59)</p>
<p>يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ<br />
وَأَطَعْنَا الرَّسُولا وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلا<br />
رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا<br />
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: &#8220;Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul&#8221;. Dan mereka berkata: &#8220;Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar&#8221;.<br />
(QS Al-Ahzab 66-68)</p>
<p>Ya Allah, ajarkanlah kami bagaimana caranya beristiqomah menjadikan Kitab-Mu dan Sunnah Nabi-Mu Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai pemimpin kami di era fitnah ketiadaan ulil amri dewasa ini&#8230;</p>
<p>http://bolehjadikiamatsudahdekat.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=302:kenapa-kita-menganut-agama-islam-bagian-3-tamat&#038;catid=1:latest-news&#038;Itemid=55</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/ketika-rasulullah-menggoda-aisyah/" title="Ketika Rasulullah Menggoda Aisyah"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>December 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/ketika-rasulullah-menggoda-aisyah/" title="Ketika Rasulullah Menggoda Aisyah">Ketika Rasulullah Menggoda Aisyah</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/" title="Zaid Bin Haritsah"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>December 23, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/" title="Zaid Bin Haritsah">Zaid Bin Haritsah</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/identitas-para-penyerang-mavi-marmara-terkuak-lewat-fb/" title="Identitas Para Penyerang Mavi Marmara Terkuak Lewat FB"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>October 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/identitas-para-penyerang-mavi-marmara-terkuak-lewat-fb/" title="Identitas Para Penyerang Mavi Marmara Terkuak Lewat FB">Identitas Para Penyerang Mavi Marmara Terkuak Lewat FB</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/palestina-masuk-unesco-marah-besar-ancam-hentikan-donasi/" title="Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>October 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/palestina-masuk-unesco-marah-besar-ancam-hentikan-donasi/" title="Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi">Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/ali-bin-abi-thalib/" title="Ali "><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>April 12, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/ali-bin-abi-thalib/" title="Ali ">Ali </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam">Hukum Membuat Patung Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi">Paman Dan Bibi Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan">Membaca Bismillah Sebelum Makan</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/10-alasan-kita-berislam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Terjemah&#8221;: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/terjemah-sebuah-upaya-dalam-membangun-peradaban-islam/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/terjemah-sebuah-upaya-dalam-membangun-peradaban-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 11:25:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saqafah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Al Hazen]]></category>
		<category><![CDATA[Al Kindi (Abu Yusu Ya’kub bin Ishak Al Kindi). · Al Farabi (Abu Nashar Muhammad bin muhammad bin ‘Uzlaq bin twirkhan Al Farabi). · Ibnu Sina (Abdullah bin Sina). · Al Ghazali ( Abu Hamid Muhammad Al G]]></category>
		<category><![CDATA[Baghdad]]></category>
		<category><![CDATA[Bukhara]]></category>
		<category><![CDATA[Damaskus]]></category>
		<category><![CDATA[Eropa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Haltum]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Zuhr]]></category>
		<category><![CDATA[Kairo]]></category>
		<category><![CDATA[Kordova]]></category>
		<category><![CDATA[Nisyapur]]></category>
		<category><![CDATA[Palermo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=7124</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info _ Peradaban Islam ditinjau dari terjemahan bahasa Arab adalah al-hadharah al-islamiyah. Kata peradaban (al-hadharat, civilization) seringkali diidentikkan dengan kata kebudayaan (al-tsaqafah, culture). Meskipun sementara kalangan membedakan pengertian kedua kata tersebut, namun argumen yang mengidentikkan keduanya juga cukup kuat. Kompromi dalam masalah ini ialah bahwa pada suatu saat pembedaan itu absah dan pada saat yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/images33.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/images33.jpg" alt="images33 Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam " title="images33" width="236" height="157" class="alignnone size-full wp-image-6477" /></a><strong>nabimuhammad.info _</strong> Peradaban Islam ditinjau dari terjemahan bahasa Arab adalah al-hadharah al-islamiyah. Kata peradaban (al-hadharat, civilization) seringkali diidentikkan dengan kata kebudayaan (al-tsaqafah, culture). Meskipun sementara kalangan membedakan pengertian kedua kata tersebut, namun argumen yang mengidentikkan keduanya juga cukup kuat. Kompromi dalam masalah ini ialah bahwa pada suatu saat pembedaan itu absah dan pada saat yang lain pengidentikan juga absah. Dalam bahasa Arab, selain disebut sebagai al-hadharat, peradaban terkadang juga disebut dengan al-tamaddun. Karena itu tidaklah mengherankan apabila masyarakat madani kemudian diterjemahkan menjadi masyarakat beradab atau civil society.</p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p> Dalam pengertiannya yang paling luas, peradaban mencakup aspek material maupun immaterial. Aspek material bisa dicontohkan oleh piramida dan patung Sphinx Mesir, istana Al-Hamra, kastil Eropa Abad Pertengahan, atau gedung WTC yang telah runtuh, sementara aspek immaterial dicontohkan oleh ajaran Islam, ajaran Budha, filsafat Yunani, Konfusianisme, Kapitalisme, atau Sosialisme.</p>
<p>Menurut A.A. Fyzee, peradaban (civilization) dapat diartikan dalam hubungannya dengan kewarganegaraan karena berasal dari kata civies (Latin) atau civil (Inggris) yang berarti seorang warganegara yang berkemajuan. Dalam hal ini peradaban diartikan dalam dua cara: (1) proses menjadi berkeadaban, dan (2) suatu masyarakat manusia yang sudah berkembang atau maju.</p>
<blockquote><p> Islam memang berbeda dengan agama-agama lain. H.A.R Gibb di dalam bukunya Whiter Islam menyatakan,&#8221;islam is indeed much more than a system of theology,it is a complete civilization &#8221; (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, Ia adalah suatu peradaban yang sempurna.)</p></blockquote>
<p>Peradaban Islam memiliki tiga pengertian yang berbeda.<br />
<strong>Pertama</strong>, kemajuan dan tingkat kecerdasan akal yang dihasilkan dalam suatu periode kekuasaan Islam mulai dari periode Nabi Muhammad Saw. sampai perkembangan kekuasaan sekarang; <strong>kedua</strong>, hasil-hasil yang dicapai oleh umat Islam dalam lapangan kesusasteraan, ilmu pengetahuan dan kesenian;<br />
<strong>ketiga</strong>, kemajuan politik atau kekuasaan Islam yang berperan melindungi pandangan hidup Islam terutama dalam hubungannya dengan ibadah-ibadah, penggunaan bahasa, dan kebiasaan hidup kemasyarakatan.   </p>
<p>Menurut Hamid Fahmy Zarkasyi &#8221;Substansi peradaban Islam itu ibarat pohon (syajarah) yang akarnya tertanam kuat di bumi, sedangkan dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit dan memberi rahmat bagi alam semesta. Akar itu adalah teologi Islam (tauhid) yang berdimensi epistemologis, lalu, berkembang menjadi tradisi pemahaman terhadap Alquran sehingga lahir intelektual Islam. Dari tradisi ini, kemudian terbentuklah komunitas sehingga melahirkan konsep keilmuan dan disiplin keilmuan Islam. Dari sini, lalu lahir sistem sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan Islam,&#8221;. </p>
<p><strong>Gerakan Penerjemahan</strong></p>
<p>Berbicara mengenai peradaban Islam yang telah melahirkan konsep keilmuan dan disiplin keilmuan Islam dengan teologi Islam (tauhid). Hingga akhirnya tumbuh sistem sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan Islam, maka hal ini tidak dapat terlepas dari usaha penerjemahan yang dilakukan intelektual Muslim pada abad keemasan Islam (Islamic Golden Age) yaitu permulaan Islam (622) hingga serangan terhadap Bagdad (1258) tepatnya pada abad ke 13.</p>
<blockquote><p>Upaya penerjemahan besar-besaran dilakukan pada masa daulah Al-Abbasiyah. Para ilmuwan abbasiyah diutus ke daerah bizantium untuk mencari naskah-naskah yunani dalam berbagai bidang ilmu meliputi ilmu kedokteran, mantiq (logika), filsafat, aljabar, ilmu ukur, ilmu alam, ilmu kimia. ilmu hewan, dan ilmu falak. Sedangkan perburuan manuskrip di daerah timur seperti persia dalam bidang tatanegara dan sastra. para penerjemah tidak hanya terdiri orang-orang muslim saja tetapi juga dari nasrani syria dan majusi dari persia.</p></blockquote>
<p>Pelopor penerjemahan adalah khalifah al-mansur (Abu Jafar Abdullah bin Muhammad Al Mansur (712 –775). Ia  merupakan Khalifah kedua Bani Abbasiyah  yang juga membangun ibukota baghdad. Al-Mansur mempekerjakan orang-orang persia yang baru masuk islam seperti Nawbaht, ibrahim al-Fazari, dan Ali ibn Isa untuk menerjemahkan karya-karya berbahasa persi dalam bidang astrologi (ilmu perbintangan) yang sangat berguna bagi kafilah dagang baik melalui darat maupun laut.</p>
<p>Buku tentang ketatanegaraan dan politik serta moral dalam bahasa persia diterjemahkan ke dalam bahasa arab. manuskrip Yunani, seperti karya Plato, Logika Aristoteles, Almagest karya Prolemy, Arithmetic karya Nicomachus dari Gerassa, Geometri karya Euclid juga diterjemahkan. Selain itu penerjemahkan buku Euclid yang berjudul Elements dan buku Ptolemy yang berjudul Geograpia oleh Abu&#8217;l Hasan Tsabit bin Qurra&#8217; bin Marwan al-Sabi al-Harrani, (826 – 18 Februari 901) yang biasa disebut Tsabit bin Qurrah.</p>
<p>Sejak upaya penerjemahan meluas kaum muslim dapat mempelajari ilmu-ilmu itu langsung dalam bahasa arab, sehingga muncul sarjana-sarjana muslim yang turut memperluas peyelidikan ilmiah, memperbaiki atas kekeliruan pemahaman kesalahan pada masa lampau, dan menciptakan pendapat-pendapat atau ide-ide baru. Tokoh-tokohnya antara lain sebagai berikut :</p>
<p>·          Al Kindi (Abu Yusu Ya’kub bin Ishak Al Kindi).</p>
<p>·          Al Farabi (Abu Nashar Muhammad bin muhammad bin ‘Uzlaq bin twirkhan Al Farabi).</p>
<p>·          Ibnu Sina (Abdullah bin Sina).</p>
<p>·          Al Ghazali ( Abu Hamid Muhammad Al Gazali).</p>
<p>·          Ibnu Bajah ( Abu Bakar Muhammad bln Yahya).</p>
<p>·          Ibnu Rusyd ( Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd)</p>
<p>·          Ibnu Khaldun, Ibnu Haltum, Al Hazen, Ibnu Zuhr.</p>
<p>Selain itu, bermunculan pula pusat-pusat utama belajar, dengan perpustakaan-perpustakaan besar, yaitu di Kordova,  Palermo,  Nisyapur,  Kairo, Baghdad,  Damaskus,  dan Bukhara, mengungguli Eropa yang tenggelam dalam abad-abad  kegelapan, </p>
<p><strong>Baitul hikmah: Perpustakaan dan observatoriom<br />
</strong><br />
Baitul Hikmah merupakan salah satu perpustakaan yang sekaligus berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Institusi ini merupakan kelanjutan dari institusi serupa di masa imperium saana Persia yang bernama jundishapur, institusi ini diperluas penggunaannya. pada masa khalifah Harun al-rasyid, institusi ini bernama khazanah al-hikmah (khazanah kebijasanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. sejak 815 M, Al-ma`mun mengembangkan lembaga ini dengan mengubah namanya menjadi Bait al-hikmah, sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantium, dan bahkan ethiopa dan india.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Berdasarkan pemaparan di atas dapat dipahami bahwa proses penerjemahan merupakan salah satu upaya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Yang pada akhirnya membangun sebuah peradaban yang Islami, yang dapat berdiri tegak selama berabad-abad lamanya.</p>
<p>Dari kajian ini, diharapkan mampu menyadarkan kita akan pentingnya proses penerjemahan literatur-literatur keilmuan. Baik dari barat maupun dari Islam, Guna meningkatkan kualitas intelektual umat saat ini, dan umat yang akan datang.~~</p>
<p>Written By: <strong>Iskandar Zulkarnaen</strong></p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/sejarah-singkat-imam-bukhari-2/" title="Bukhari"><img src="Array" alt=" Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam "  title="Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam " /></a>June 3, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/sejarah-singkat-imam-bukhari-2/" title="Bukhari">Bukhari</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2009/06/sejarah-singkat-imam-muslim-2/" title=" Muslim"><img src="Array" alt=" Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam "  title="Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam " /></a>June 2, 2009 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2009/06/sejarah-singkat-imam-muslim-2/" title=" Muslim"> Muslim</a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/07/musibah-norwegia-sampai-kapan-kita-di-jajah-persepsi/" title="Musibah Norwegia: Sampai Kapan Kita Di Jajah &#8216;Persepsi&#8217;?"><img src="Array" alt=" Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam "  title="Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam " /></a>July 25, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/07/musibah-norwegia-sampai-kapan-kita-di-jajah-persepsi/" title="Musibah Norwegia: Sampai Kapan Kita Di Jajah &#8216;Persepsi&#8217;?">Musibah Norwegia: Sampai Kapan Kita Di Jajah &#8216;Persepsi&#8217;?</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/07/ledakan-bom-tewaskan-40-di-irak/" title="Ledakan bom tewaskan 40 di Irak"><img src="Array" alt=" Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam "  title="Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam " /></a>July 8, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/07/ledakan-bom-tewaskan-40-di-irak/" title="Ledakan bom tewaskan 40 di Irak">Ledakan bom tewaskan 40 di Irak</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/abbas-bin-abdul-muthalib/" title="Abbas "><img src="Array" alt=" Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam "  title="Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam " /></a>June 19, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/abbas-bin-abdul-muthalib/" title="Abbas ">Abbas </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-muhammad-alaihish-shalatu-wassalam/" title="Prakata: Muhammad, &#8216;alaihi&#8217;sh-shalatu wassalam"><img src="Array" alt=" Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam "  title="Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam " /></a>April 7, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-muhammad-alaihish-shalatu-wassalam/" title="Prakata: Muhammad, &#8216;alaihi&#8217;sh-shalatu wassalam">Prakata: Muhammad, &#8216;alaihi&#8217;sh-shalatu wassalam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/02/sejarah-singkat-syeikh-muhammad-nashiruddin-al-albani/" title=" Albani"><img src="Array" alt=" Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam "  title="Terjemah: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam " /></a>February 19, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/02/sejarah-singkat-syeikh-muhammad-nashiruddin-al-albani/" title=" Albani"> Albani</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/terjemah-sebuah-upaya-dalam-membangun-peradaban-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/hati-hati-terhadap-jargon-pendidikan-karakter/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/hati-hati-terhadap-jargon-pendidikan-karakter/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 11:07:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saqafah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[budi pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Doni Kusuma]]></category>
		<category><![CDATA[F.W.Foerster]]></category>
		<category><![CDATA[humanisme]]></category>
		<category><![CDATA[integral]]></category>
		<category><![CDATA[moralitas]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad SAW]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan agama]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Karakter]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=7125</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info _ Sejak pertam kali dicanangkan oleh Menteri Pendidikan Nasional pada peringatan hari pendidikan Nasional pada 2010 lalu, model pendidikan karakter marak dipraktikkan di sekolah-sekolah. Lantas, seperti apa efektifitas aplikasi pendidikan karakter tersebut? KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, pimpinan Pondok Modern Gontor Ponorogo, dalam wawancara dengan majalah Gontor (Juli 2011) berpendapat, bahwa pendidikan karakter itu sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/10/images3.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/10/images3.jpg" alt="images3 Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter" title="nabimuhammad.info" width="240" height="210" class="alignnone size-full wp-image-6952" /></a><strong>nabimuhammad.info _</strong> Sejak pertam kali dicanangkan oleh Menteri Pendidikan Nasional pada peringatan hari pendidikan Nasional pada 2010 lalu, model pendidikan karakter marak dipraktikkan di sekolah-sekolah. Lantas, seperti apa efektifitas aplikasi pendidikan karakter tersebut?</p>
<p>KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, pimpinan Pondok Modern Gontor Ponorogo, dalam wawancara dengan majalah Gontor (Juli 2011) berpendapat, bahwa pendidikan karakter itu sangat efektif di dalam pesantren. Karena di pesantrenlah pendidikan integral tercipta.</p>
<p>Dalam pandangan Kyai Sukri, pendidikan integral itu menciptakan orang yang berakter. Karakter dibangun bukan sekedar dengan pembelajaran, akan tetapi juga pengajaran, pelatihan, pembiasaan, dan pembinaan. Di sini artinya, pendidikan agama dan moralitas diintegrasikan.</p>
<p>Usulan model pesantren, sebagai basis pendidikan karakter patut direspon. Sebab selama ini harus diakui bahwa arah pendidikan karakter di Indonesia belum jelas. Model pendidikan karakter apa yang akan diaplikasikan Pendidikan Nasional. </p>
<blockquote><p>Standar apa yang digunakan untuk menentukan karakter itu baik dan tidak baik, tampaknya Depdiknas belum memiliki acuan yang jelas.</p></blockquote>
<p><em>Jika karakter yang dimaksud adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara, juga masih umum. Bisa ditafsirkan apa saja. Belum menunjukkan suatu karakter manusia ideal, setidaknya untuk bangsa Indonesia yang religius.</em></p>
<p><strong>Paham Humanisme</strong></p>
<p>Pemahaman umum yang diyakini kebanyakan pendidik, pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan, perasaan, dan tindakan. Definisi ini masih belum menjelaskan di mana peran pendidikan agamanya.</p>
<blockquote><p>Selama ini pendidikan karakter yang akan dan sedang diaplikasikan di sekolah umumnya mengacu kepada konsep yang ditulis oleh Doni Kusuma. Doni Kusuma menyatakan bahwa konsep pendidikan karakter yang ia usung minus pendidikan agama.</p></blockquote>
<p>Doni Kusuma, yang mengenyam pendidikan di jurusan Pedagogi Sekolah dan Pengembangan Profesional pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Kepausan Salesian, Roma, Italia tersebut ternyata mengadopsi pendidikan karakter model pedagog asal, Jerman F.W.Foerster.</p>
<p><strong>Tujuan pendidikan, menurut Foerster, adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial antara si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi, yang memberikan kesatuan dan kekuatan atas keputusan diambilnya.</strong></p>
<p>Diakui Doni bahwa pendidikan ala Foerster tersebut memang bukanlah pendidikan agama. Memang, pemikiran tersebut tidak  menunjukkan peran norma agama dalam pembentukan karakter. Jika seperti itu maka artinya, tanpa agama pun bisa saja orang jadi berkarakter baik.</p>
<p>Dengan demikian, maka model pendidikan seperti itu bermuatan humanisme. Humanisme merupakan ideologi sekular yang pernah dipopulerkan oleh Protagoras, filsuf Yunani kuno. Ideologi ini meyakini bahwa setiap manusia adalah standar dan ukuran segala sesuatu.</p>
<p>Ideologi ini sekular sebab menafikan agama sebagai standar tertinggi dalam menilai setiap aspek kehidupan. Para pengusung paham ini meyakini bahwa nilai-nilai kemanusiaan itu digali dari manusia itu sendiri bukan dari doktrin agama.</p>
<p><strong>Jika mengacu kepada konsep tersebut, seorang ateis pun bisa dikatakan berkarakter baik. Sebab tidak bersyarakat harus bertuhan apalagi bertauhid. Inilah yang disebut pragmatisme konsep pendidikan.<br />
</strong><br />
Kebaikan itu hanya dinilai pada satu sisi saja, sedangkan sisi lain yang lebih esensial justru dibuang. Karakter yang baik itu bukan sekedar berdisiplin, tidak korup, jujur dan lain sebagainya. Seorang ateispun bisa memiliki karakter-karakter tersebut.</p>
<p>Doni rupanya terlalu sialu dengan keberhasilan dan kemajuan Barat. Barat maju karena disiplin dan tidak korup. Tapi ia tidak melihat sisi lain, yaitu nilai sekularismenya. Konsep Foerster tersebut konsep pendidikan karakter yang bebas nilai (free value).</p>
<p>Karakter yang bebas nilai itu lah yang berbahaya. Tidak ada nilai-nilai ketauhidan. Seorang yang jujur, tidak korup dan berdisiplin tapi tidak percaya Tuhan tetap saja ia dinilai manusia maju dan berkarater. Dalam pandangan Foerster, spiritualitas itu dapat dicapai tanpa taat beragama.</p>
<p>Di sinilah kerancuannya, bagaiman mungkin Negara Indonesia yang berpenduduk masyoritas muslim dan dikenal sebagai masyarakat religius dikenalkan pendidikan karakter yang sekular tersebut.</p>
<p>Jika karakter model Foerster yang dipakai, maka pendidikan kita bisa saja mencetak individu-individu cerdas, unggul dan berprestasi, akan tetapi berpaham sekular-pluralis.</p>
<p><strong>Pendidikan Beradab</strong></p>
<p>Maka seyogyanya pemerintah tidak malu-malu mengadopsi pendidikan karakter ala pesantren. Konsepnya jelas dan penerapannya telah dipraktikkan ratusan tahun yang lalu.</p>
<blockquote><p>Di pesantren, apalagi pesantren yang menerpakan pendidikan integral, dikenalkan konsep adab. Dalam konsep adab, pertama-tama yang dibentuk adalah siswa yang <strong>berkarakter tauhid</strong>. Ini adalah elemen yang paling mendasar.</p></blockquote>
<p>Siswa diajari bagaimana mengenal Sang Pencipta, bersyukur dan cara beribadah yang benar sesuai yang diperintah Allah.  Karakter ini pun tidak serta merta berarti tidak humanis atau anti-sosial.</p>
<p>Justru dengan karakter tauhid itu, adab kepada masyarakat, kepada sesame terbentuk. Tauhid adalah landasannya. Karakter tauhidi dikanlkan bersosialisasi, berorganisasi dan bertoleransi.</p>
<p>Pembentukan karakter di pesantren benar-benar serius. Sebab dilakukan selama dua puluh empat jam. Menurut KH Abdullah Syukri yang dicapai dari pendidikan karakter di pesantren itu adalah orang-orang yang berkarakter kuat, yang tidak cengeng dalam menjalani hidup, dan siap untuk menjalankan kehidupan</p>
<p>Sebab pada hakikatnya kehidupan itu adalah dari Allah dan untuk Allah, maka seorang siswa itu haru siap dengan segala konsekuensi kehidupan. Maka disinilah peran integralisasi pendidikan tidak bisa diabaikan. Seorang siswa cakap dalam ilmu umum sekaligus fasih mengamalkan ajaran agama.</p>
<p>Tujuannya memang membentuk manusia beradab. Seorang beradab pasti berkarakter baik. Sebab ia mengamalkan adab dalam setiap aspek kehidupan dan keilmuan. Setiap ilmu baik itu ilmu sosial atau eksakta dimasuki konsep adab, agar kelak ia menjadi ilmuan yang beradab, ulama yang intelektual bukan intelektual yang tahu tentang agama.~~</p>
<p><strong>Written By: Kholili Hasib</strong><br />
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor Jurusan Ilmu Akidah</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-dasar-dasar-sederhana-dalam-kedua-agama/" title="Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama"><img src="Array" alt=" Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter"  title="Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter" /></a>April 7, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-dasar-dasar-sederhana-dalam-kedua-agama/" title="Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama">Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam"><img src="Array" alt=" Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter"  title="Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam">Hukum Menggambar Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/harits-bin-abdul-muthalib/" title="Harits "><img src="Array" alt=" Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter"  title="Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/harits-bin-abdul-muthalib/" title="Harits ">Harits </a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/abu-lahab/" title="Abu Lahab "><img src="Array" alt=" Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter"  title="Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/abu-lahab/" title="Abu Lahab ">Abu Lahab </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/penulis-zionis-revolusi-arab-terhimpun-dalam-slogan-anti-israel/" title="Penulis Zionis: Revolusi Arab Terhimpun dalam Slogan &#8220;Anti Israel&#8221;"><img src="Array" alt=" Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter"  title="Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter" /></a>December 20, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/penulis-zionis-revolusi-arab-terhimpun-dalam-slogan-anti-israel/" title="Penulis Zionis: Revolusi Arab Terhimpun dalam Slogan &#8220;Anti Israel&#8221;">Penulis Zionis: Revolusi Arab Terhimpun dalam Slogan &#8220;Anti Israel&#8221;</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/boleh-jadi-kiamat-sudah-dekat/" title="Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat"><img src="Array" alt=" Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter"  title="Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter" /></a>December 17, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/boleh-jadi-kiamat-sudah-dekat/" title="Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat">Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/7090/" title="PERENIALISME: Kajian Kritis"><img src="Array" alt=" Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter"  title="Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter" /></a>December 17, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/7090/" title="PERENIALISME: Kajian Kritis">PERENIALISME: Kajian Kritis</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/6936/" title="25 Rasul"><img src="Array" alt=" Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter"  title="Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter" /></a>October 27, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/6936/" title="25 Rasul">25 Rasul</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/hati-hati-terhadap-jargon-pendidikan-karakter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/boleh-jadi-kiamat-sudah-dekat/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/boleh-jadi-kiamat-sudah-dekat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 14:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saqafah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam]]></category>
		<category><![CDATA[radhiyallahu ’anhum]]></category>
		<category><![CDATA[rahmatullah]]></category>
		<category><![CDATA[Raja]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=7100</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info _ Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallamsedemikian kuatnya mengkondisikan ummatnya untuk menghayati betapa hari Kiamat telah dekat. Sehingga dalam suatu khutbah beliau digambarkan ibarat seorang komandan perang yang memperingatkan pasukannya agar selalu dalam keadaan full alert alias waspada siaga satu. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ’anhu: “Adalah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bila menyampaikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/ay-01.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/06/ay-01.jpg" alt="ay 01 Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat" title="ay-01" width="1024" height="768" class="alignleft size-full wp-image-6474" /></a><strong>nabimuhammad.info _</strong> Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallamsedemikian kuatnya mengkondisikan ummatnya untuk menghayati betapa hari Kiamat telah dekat. Sehingga dalam suatu khutbah beliau digambarkan ibarat seorang komandan perang yang memperingatkan pasukannya agar selalu dalam keadaan full alert alias waspada siaga satu.</p>
<p>Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ’anhu: “Adalah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bila menyampaikan khotbah mata beliau memerah, suara meninggi dan sangat marah, seakan-akan panglima perang yang sedang memperingatkan pasukannya dengan aba-aba: “Awas! Berjaga-jagalah kalian pada pagi hari dan petang harimu!” dan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Aku dan hari kiamat diutus (berdampingan) seperti ini.” Dan beliau menghimpun jari telunjuk dengan jari tengahnya.”(HR Muslim 4/359)</p>
<p>Bayangkan..! Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam diriwayatkan sebagai memerah matanya, meninggi suaranya dan berkhutbah dalam keadaan sangat marah&#8230;! Sungguh persis seperti seorang komandan di tengah medan jihad yang sedang memberi arahan kepada pasukannya. Beliau samasekali tidak ingin seorangpun pasukannya lengah dalam mengantisipasi gerak musuh. Sebab kelengahan pasukan bisa menyebabkan musuh berhasil menjebol benteng ummat dan itu berarti seluruh ummat Islam bakal terancam nyawanya. Sungguh, Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallamsangat mematuhi arahan Allah subhaanahu wa ta’aala di dalam ayat di bawah ini:</p>
<blockquote><p>“Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari itu (kiamat) sudah dekat waktunya.” (QS Al-Ahzab ayat 63)</p></blockquote>
<p>Memang sudah sepantasnya kita ummat Islam yang hidup di zaman ini menghayati bahwa hari Kiamat sudah dekat. Mengapa? Karena bila kita ingat bahwa Nabi Muhammadshollallahu ’alaih wa sallam merupakan penutup rangkaian nabi-nabi Allah subhaanahu wa ta’aala berarti kita merupakan penutup berbagai ummat. Bila beliau dijuluki Nabi Akhir Zaman berarti kita merupakan Ummat Akhir Zaman. Dan berdasarkan hadits Ringkasan Perjalanan Sejarah Ummat Islam, kita dewasa ini sedang menjalani kehidupan di babak keempat dari lima babak yang bakal dilalui ummat Islam hingga menjelang dekatnya kedatangan hari Kiamat.</p>
<li>”Masa kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masakekhalifahan mengikuti manhaj kenabian, selama beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masaraja-raja yang menggigit selama beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa raja-raja yang memaksakan kehendak dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian. Kemudian beliau terdiam.” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad 37/361)</li>
<p><strong>Babak pertama</strong>, yaitu babak Kenabian telah berlalu. Ia merupakan masa di mana ummat Islam –yakni para sahabat radhiyallahu ’anhum- hidup bersama Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sejak awal beliau diutus hingga berpulang ke rahmatullah.</p>
<p><strong>Babak kedua</strong>, yaitu babak Kekhalifahan yang mengikuti manhaj Kenabian juga telah berlalu. Ia ditandai dengan munculnya para khulafa ar-rasyidin, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhum.</p>
<p><strong>Babak ketiga</strong>, yaitu babak raja-raja yang menggigit juga telah berlalu. Ia ditandai dengan masa di mana ummat memiliki para pimpinan yang dijuluki khalifah-khalifah namun pola suksesinya menerapkan pola kerajaan alias pola oligarkhi atau sistem waris-mewarisi tahta kerajaan. Mereka dijuluki raja-raja yang menggigit karena mereka masih ”menggigit” Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Babak ini berlangsung sangat lama sekitar 13 abad&#8230;! Sejak Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah dan Kesultanan Ustmani Turki. Ia berakhir pada tahun 1924 atau 1342 Hijriyyah.</p>
<p>Semenjak babak ketiga berlalu, maka ummat Islam memasuki babak keempat, yakni babak raja-raja yang memaksakan kehendak. Babak ini belum berlalu. Kita sedang menjalani babak ini. Suatu babak yang sering disebut sebagai the darkest ages of the Islamic History. Tanda bahwa babak ini belum berakhir ialah fakta bahwababak kelima, yakni babak kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian belum muncul kembali. Padahal Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menginformasikan kepada kita bahwa babak penuh keadilan dan kejayaan Islam tersebut pasti bakal muncul. Kapankah ia akan muncul? Wallahu a’lam bish-showwab.</p>
<p>Suatu hal yang pasti, kalau kita umpamakan perjalanan kelima babak perjalanan sejarah ummat Islam ini sebagai sebuah skenario film, maka ia sangat layak disebut sebagai film berjudul Akhir Zaman. Dan kalau kita mengikuti sebuah cerita yang mengandung lima babak dan kita tahu bahwa kita sudah sampai ke babak keempat, saya kira sudah sepantasnya kita beranggapan bahwa ini bukanlah masih di awal cerita, atau di bagian pertengahannya. Namun lebih wajar dikatakan bahwa ini sudah menjelang akhir dari rangkaian cerita.</p>
<p>Berarti, saudaraku, tidakkah pantas kitapun mengucapkan apa yang Allah subhaanahu wa ta’aala telah firmankan di dalam Kitab-Nya: BOLEH JADI KIAMAT SUDAH DEKAT WAKTUNYA&#8230;!</p>
<p>Marilah kita jauhi sikap santai dan acuh tak acuh terhadap fenomena hidup di Akhir Zaman menjelang datangnya Kiamat. Marilah kita tingkatkan pengetahuan dan keyakinan kita akan tanda-tanda menjelang datangnya Kiamat agar kita dapat mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan skenario ilahi yang bakal –insyaAllah- pasti terjadi.Semoga Allah subhaanahu wa ta’aala memasukkan kita ke dalam golongan yang tidak salah mensikapi segenap tanda demi tanda Akhir Zaman yang kian membenarkan kenabian Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.</p>
<p>http://bolehjadikiamatsudahdekat.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=48:boleh-jadi-kiamat-sudah-dekat&#038;catid=1:latest-news&#038;Itemid=55</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hati-hati-terhadap-jargon-pendidikan-karakter/" title="Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter"><img src="Array" alt=" Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat"  title="Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat" /></a>December 20, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hati-hati-terhadap-jargon-pendidikan-karakter/" title="Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter">Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/07/6679/" title="Tanda Akhir Jaman"><img src="Array" alt=" Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat"  title="Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat" /></a>July 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/07/6679/" title="Tanda Akhir Jaman">Tanda Akhir Jaman</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-1/" title="Kemuliaan Rasulullah (1)"><img src="Array" alt=" Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat"  title="Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat" /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-1/" title="Kemuliaan Rasulullah (1)">Kemuliaan Rasulullah (1)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/mutawatir/" title="Mutawatir"><img src="Array" alt=" Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat"  title="Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat" /></a>January 6, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/mutawatir/" title="Mutawatir">Mutawatir</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/cara-turunnya-wahyu-kepada-nabi-muhammad/" title="Cara Turunnya Wahyu Kepada Nabi Muhammad"><img src="Array" alt=" Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat"  title="Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/cara-turunnya-wahyu-kepada-nabi-muhammad/" title="Cara Turunnya Wahyu Kepada Nabi Muhammad">Cara Turunnya Wahyu Kepada Nabi Muhammad</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam"><img src="Array" alt=" Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat"  title="Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam">Hukum Menggambar Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam"><img src="Array" alt=" Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat"  title="Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam">Hukum Membuat Patung Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/harits-bin-abdul-muthalib/" title="Harits "><img src="Array" alt=" Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat"  title="Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/harits-bin-abdul-muthalib/" title="Harits ">Harits </a> (1)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/boleh-jadi-kiamat-sudah-dekat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/tanda-tanda-kemunculan-imam-mahdi/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/tanda-tanda-kemunculan-imam-mahdi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 13:54:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saqafah Islamiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=7097</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info _ Para ulama membagi Tanda-tanda Akhir Zaman menjadi dua. Ada Tanda-tanda Kecil dan ada Tanda-tanda Besar Akhir Zaman. Tanda-tanda Kecil jumlahnya sangat banyak dan datang terlebih dahulu. Sedangkan Tanda-tanda Besar datang kemudian jumlahnya ada sepuluh. Alhamdulillah, Allah sayang sama umat manusia. Sehingga Allah datangkan tanda-tanda kecil dalam jumlah banyak sebelum datangnya tanda-tanda besar. Dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/05/images23.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/05/images23.jpg" alt="images23 Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi" title="images23" width="194" height="259" class="alignleft size-full wp-image-6716" /></a><strong>nabimuhammad.info _</strong> Para ulama membagi Tanda-tanda Akhir Zaman menjadi dua. Ada Tanda-tanda Kecil dan ada Tanda-tanda Besar Akhir Zaman. </p>
<blockquote><p>Tanda-tanda Kecil jumlahnya sangat banyak dan datang terlebih dahulu.<br />
Sedangkan Tanda-tanda Besar datang kemudian jumlahnya ada sepuluh.</p></blockquote>
<p>Alhamdulillah, Allah sayang sama umat manusia. Sehingga Allah datangkan tanda-tanda kecil dalam jumlah banyak sebelum datangnya tanda-tanda besar. Dengan demikian manusia diberi kesempatan cukup lama untuk merenung dan bertaubat sebelum tanda-tanda besar berdatangan.</p>
<p>Banyak pendapat mengatakan bahwa kondisi dunia dewasa ini berada di ambang datangnya <a href="http://bolehjadikiamatsudahdekat.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=68:tanda-tanda-kemunculan-imam-mahdi&#038;catid=1:latest-news&#038;Itemid=55">tanda-tanda besar Kiamat.</a> Karena di masa kita hidup dewasa ini sudah sedemikian banyak tanda-tanda kecil yang bermunculan. Praktis hampir seluruh tanda-tanda kecil kiamat yang disebutkan oleh Nabishollallahu ’alaih wa sallamsudah muncul semua di zaman kita. Maka kedatangan tanda-tanda besar tersebut hanya masalah waktu. Tanda besar pertama yang bakal datang ialah keluarnya Dajjal. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa sebelum munculnya Dajjal harus datang terlebih dahulu Tanda Penghubung antara tanda-tanda kecil kiamat dengan tanda-tanda besarnya. </p>
<blockquote><p>Tanda Penghubung dimaksud ialah diutusny Al-Mahdi ke muka bumi.</p></blockquote>
<p>Dalam sebuah hadits Nabishollallahu ’alaih wa sallammengisyaratkan bahwa Al-Mahdi pasti datang di akhir zaman. Ia akan memimpin ummat Islam keluar dari kegelapan kezaliman dan kesewenang-wenangan menuju cahaya keadilan dan kejujuran yang menerangi dunia seluruhnya. Ia akan menghantarkan kita meninggalkan babak keempat era para penguasa diktator yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya dewasa ini menuju babak kelima yaitu tegaknya kembali kekhalifahan Islam yang mengikuti manhaj, sistem atau metode Kenabian.</p>
<p>Lelaki keturunan Nabi Muhammadshollallahu ’alaih wa sallamtersebut adalah Al-Mahdi. Ia akan diizinkan Allah untuk merubah keadaan dunia yang penuh kezaliman dan penganiayaan menjadi penuh kejujuran dan keadilan. Subhanallah&#8230;! Beliau tentunya tidak akan mengajak ummat Islam berpindah babak melalui perjalanan tenang dan senang laksana melewati taman-taman bunga indah atau melalui meja perundingan dengan penguasa zalim dewasa ini apalagi dengan mengandalkan sekedar ”permainan kotak suara”..! Al-Mahdi akan mengantarkan ummat Islam menuju <strong>babak Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah</strong> melalui jalan yang telah ditempuh Nabi Muhammadshollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabatnya, yaitu melalui al-jihad fi sabilillah.</p>
<blockquote><p>Al-Mahdi akan berperan sebagai panglima perang ummat Islam di akhir zaman.</p></blockquote>
<p> Beliau akan mengajak ummat Islam untuk memerangi para Mulkan Jabriyyan (Para Penguasa Diktator) yang telah lama bercokol di berbagai negeri-negeri di dunia menjalankan kekuasaan dengan ideologi penghambaan manusia kepada sesama manusia. Bila Allah mengizinkan Al-Mahdi untuk menang dalam berbagai perang yang dipimpinnya, maka pada akhirnya ia akan memimpin dengan pola kepemimpinan berideologi aqidah Tauhid, yaitu penghambaan manusia kepada Allah semata. Banyak ghazawat (perang) akan dipimpin Al-Mahdi. Dan –subhaanallah- Allah akan senantiasa menjanjikan kemenangan baginya.</p>
<p>Lalu apa sajakah indikasi kedatangan Al-Mahdi? Dalam sebuah hadits Nabishollallahu ’alaih wa sallam memberikan gambaran umum indikasi kedatangan Al-Mahdi. </p>
<blockquote><p>Ia akan diutus ke muka bumi bilamana perselisihan antar-manusia telah menggejala hebat dan banyak gempa-gempa terjadi</p></blockquote>
<p>. Dan kedua fenomena sosial dan fenomena alam ini telah menjadi semarak di berbagai negeri dewasa ini.</p>
<p>Hadits berikut ini bahkan memberikan kita gambaran bahwa kedatangan Al-Mahdi akan disertai tiga peristiwa penting. Pertama, perselisihan berkepanjangan sesudah kematian seorang pemimpin. Kedua, dibai’atnya seorang lelaki (Al-Mahdi) secara paksa di depan Ka’bah. Ketiga, terbenamnya pasukan yang ditugaskan untuk menangkap Al-Mahdi dan orang-orang yang berbai’at kepadanya. Allah benamkan seluruh pasukan itu kecuali disisakan satu atau dua orang untuk melaporkan kepada penguasa zalim yang memberikan mereka perintah untuk menangkap Al-Mahdi.</p>
<p>Saudaraku, sebagian pengamat tanda-tanda akhir zaman beranggapan bahwa indikasi yang pertama telah terjadi, yaitu perselisihan dan kekacauan yang timbul sesudah wafatnya seorang pemimpin. Siapakah pemimpin yang telah wafat itu? Sebagian berspekulasi bahwa yang dimaksud adalah Saddam Husein. Karena semenjak kematiannya, negeri Irak berada dalam kekacauan berkepanjangan. Wallahua’lam bish-showwab. Bila analisa ini benar berarti dewasa ini kita sudah harus bersiap-siap untuk berlangsungnya pembai’atan paksa Al-Mahdi di depan Ka’bah.</p>
<p>Saudaraku, bila ketiga peristiwa di atas telah terjadi, berarti Ummat Islam di seluruh penjuru dunia menjadi tahu bahwa Al-Mahdi telah datang diutus ke muka bumi. Panglima ummat Islam di Akhir Zaman telah hadir.. . Dan bila ini telah menjadi jelas kitapun terikat dengan pesan Nabishollallahu ’alaih wa sallam sebagai berikut:</p>
<p>Ya Allah, izinkanlah kami bergabung dengan pasukan Al-Mahdi. Ya Allah anugerahkanlah kami rezeki untuk berjihad di jalanMu bersama Al-Mahdi lalu memperoleh salah satu dari dua kebaikan: ’isy kariman (hidup mulia di bawah naungan syariat Allah) atau mut syahidan (mati syahid). Amin&#8230; </p>
<h4  class="related_post_title">Most Commented Posts</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/about/" title="Buku Tamu"><img src="Array" alt=" Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi"  title="Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi" /></a>December 10, 2009 -- <a href="http://nabimuhammad.info/about/" title="Buku Tamu">Buku Tamu</a> (29)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/nabi-muhammad-2/" title="Muhammad Dalam Titik Temu Islam Kristen"><img src="Array" alt=" Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi"  title="Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi" /></a>May 19, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/nabi-muhammad-2/" title="Muhammad Dalam Titik Temu Islam Kristen">Muhammad Dalam Titik Temu Islam Kristen</a> (4)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/01/surat-rasulullah-kepada-raja-persia-kisra-abrawaiz/" title="Surat Rasulullah kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz"><img src="Array" alt=" Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi"  title="Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi" /></a>January 14, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/01/surat-rasulullah-kepada-raja-persia-kisra-abrawaiz/" title="Surat Rasulullah kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz">Surat Rasulullah kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/09/telaga-kemuliaan-rasulullah-pada-hari-kiamat/" title="Telaga Kemuliaan Rasulullah pada Hari Kiamat"><img src="Array" alt=" Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi"  title="Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi" /></a>September 30, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/09/telaga-kemuliaan-rasulullah-pada-hari-kiamat/" title="Telaga Kemuliaan Rasulullah pada Hari Kiamat">Telaga Kemuliaan Rasulullah pada Hari Kiamat</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/01/dari-pmii-menuju-yahudi/" title="Dari PMII Menuju Yahudi"><img src="Array" alt=" Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi"  title="Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi" /></a>January 26, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/01/dari-pmii-menuju-yahudi/" title="Dari PMII Menuju Yahudi">Dari PMII Menuju Yahudi</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/al-quran/" title="Quran"><img src="Array" alt=" Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi"  title="Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi" /></a>May 29, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/al-quran/" title="Quran">Quran</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/07/kebaikan/" title="Kebaikan"><img src="Array" alt=" Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi"  title="Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi" /></a>July 26, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/07/kebaikan/" title="Kebaikan">Kebaikan</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/05/film-epik-nabi-muhammad-segera-di-buat-2011/" title="Film Epik Nabi Muhammad Segera Di Buat 2011"><img src="Array" alt=" Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi"  title="Tanda Tanda Kemunculan Imam Mahdi" /></a>May 18, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/05/film-epik-nabi-muhammad-segera-di-buat-2011/" title="Film Epik Nabi Muhammad Segera Di Buat 2011">Film Epik Nabi Muhammad Segera Di Buat 2011</a> (2)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/tanda-tanda-kemunculan-imam-mahdi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya Ilmu</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/budaya-ilmu/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/budaya-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 10:18:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saqafah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=7095</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info _ Jakarta. Istilah ‘budaya ilmu’ dipopulerkan oleh Professor Dr Wan Mohd Nor Wan Daud lewat buku-buku maupun ceramah-ceramahnya selama hampir dua dasawarsa terakhir ini. Menurutnya, ‘budaya ilmu’ ialah (i) kondisi dimana setiap anggota dan lapisan masyarakat melibatkan diri secara langsung maupun tidak langsung dalam pelbagai kegiatan ilmiah pada setiap kesempatan: gemar membaca, mempelajari, meneliti, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/08/cherry-blossom.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/08/cherry-blossom.jpg" alt="cherry blossom Budaya Ilmu" title="cherry-blossom" width="319" height="432" class="alignleft size-full wp-image-6783" /></a><strong>nabimuhammad.info _ <em>Jakarta</em>.</strong> Istilah ‘budaya ilmu’ dipopulerkan oleh Professor Dr Wan Mohd Nor Wan Daud lewat buku-buku maupun ceramah-ceramahnya selama hampir dua dasawarsa terakhir ini.</p>
<p>Menurutnya, ‘budaya ilmu’ ialah (i) kondisi dimana setiap anggota dan lapisan masyarakat melibatkan diri secara langsung maupun tidak langsung dalam pelbagai kegiatan ilmiah pada setiap kesempatan: gemar membaca, mempelajari, meneliti, mendiskusikan aneka persoalan keilmuan. ‘Budaya ilmu’ terwujud (ii) apabila setiap orang sebagai individu maupun sebagai entitas kolektif (masyarakat, bangsa, umat) membuat segala pilihan, keputusan dan tindakan yang diambilnya atas dasar ilmu, melalui proses investigasi, riset, dan konsultasi. Ciri lain dari ‘budaya ilmu’ adalah (iii) sikap menjunjung tinggi ilmu, situasi dimana ilmu menempati kedudukan tertinggi dalam tata nilai setiap pribadi dan masyarakat pada semua lapisan, yang diejawantahkan dengan penghargaan tinggi kepada setiap individu maupun lembaga yang aktif mencari, meneliti, mengembangkan dan menyebarkan ilmu.1 Inilah yang yang disebut sebagai ‘the learning society’ yang memancarkan ‘the culture of knowledge and learning’.</p>
<p>Asas-asas budaya ilmu dalam pengertian di atas sesungguhnya terperi dalam ajaran Nabi Muhammad saw. “Wahai Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu” (QS 20:114) adalah doa yang difirmankan Allah SWT kepada beliau. “Apakah sama, mereka yang berilmu dan tak berilmu?” (QS 39:9) dan “Hanya mereka yang berilmu dari kalangan hamba Allah yang gentar kepadaNya” (QS 35:28) merupakan petikan beberapa ayat kitab suci al-Qur’an yang menekankan betapa pentingnya ilmu. Demikian pula banyaknya pesan-pesan Rasulullah saw berkenaan ilmu dan keilmuan. “Ilmu tidak akan dicabut dari manusia, tetapi orang-orang berilmu akan diambil Allah, maka dengan kepergian mereka hilanglah ilmu. Akibatnya muncul orang-orang jahil tak berilmu yang tampil sebagai tokoh panutan, mereka sesat dan menyesatkan manusia lain pula,” adalah satu dari sejumlah sabda baginda mengenai ilmu.</p>
<p>Maka tak menghairankan jika ilmu menjadi tema sentral peradaban Islam. Hal ini bukannya impian atau khayalan, akan tetapi fakta sejarah yang sangat gamblang. Dalam studinya yang cukup mendalam, seorang pakar filologi dari Yale University menyimpulkan bahwa rahasia kegemilangan peradaban Islam itu terletak pada ilmu. Ilmu merupakan konsep yang sangat menonjol dan paling hebat perannya dalam melahirkan dan membentuk corak dan watak peradaban Islam: ‘one of those concepts that have dominated Islam and given Muslim civilization its distinctive shape and complexion’, tulis Franz Rosenthal. Satu ciri yang tak ditemukan pada peradaban bangsa-bangsa lain di dunia adalah posisi ilmu di dalam Islam sebagai ‘dominant concept’, ‘a unique cultural term’, ‘a powerful and, perhaps, the most effective rallying force’, tegasnya.</p>
<p>Menariknya, beliau menyebutnya sebagai ‘peradaban Islam’ dan bukan peradaban Arab, Persia, Turki, Berber, atau Timur, sebab menurutnya, peradaban tersebut melibatkan dan menaungi pelbagai suku bangsa, etnik maupun agama. Kontributornya tidak hanya Arab dan Muslim, tetapi juga Persia (seperti Ibn Sina dan Imam al-Ghazali), Turki (seperti Imam al-Bukhari dan al Farabi), Nasrani (seperti &#8230;.. ), juga Yahudi (semisal Ibn Kammunah dan Musa ibn Maymun).</p>
<p>Pembudayaan Ilmu</p>
<p>Dalam sejarah Islam, pembudayaan ilmu telah dirintis oleh Nabi Muhammad saw. Beliau memberantas buta-huruf dengan menganjurkan para Sahabat belajar baca-tulis, menyuruh Zayd bin Tsabit belajar bahasa Ibrani (Hebrew) dan Suryani (Syriac) kepada ulama Bani Isra’il (Ahlul Kitab). Beliau juga melantik sejumlah Sahabatnya menjadi juru tulis pencatat wahyu al-Qur’an dan Ĥadis, penulis surat-surat diplomatik dan sebagainya. Beliau sendiri aktif mengajarkan al-Qur’an, memberikan ceramah, nasihat, fatwa dan pengadilan (qadha’).</p>
<p>Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa giap seminggu sekali Rasulullah menyediakan waktu satu hari khusus bagi kaum ibu termasuk istri dan putri-putrinya untuk belajar dan bertanya tentang pelbagai persoalan agama. Bimbingan khas diberikan kepada beberapa orang dewasa (semisal Abu Hurayrah ra) maupun kanak-kanak (sepertil ‘Abdullah bin ‘Abbas ra) dan ahli keluarganya (‘A’isyah binti Abi Bakr ra). Pendek kata, pendidikan, pengajaran, pembahasan dan penyebaran ilmu telah dimulai sejak abad pertama Hijriah. Di satu sisi, ini disebabkan sentuhan ayat-ayat suci al-Qur’an yang menggugah jiwa dan mengobarkan semangat. Di sisi lain, situasi itu memacu perkembangan budaya ilmu di dunia Islam secara pesat luar biasa. Proyek pengumpulan dan pembukuan al-Qur’an pada masa Khalifah Abu Bakr dan Khalifah ‘Utsman mustahil terlaksana sekiranya tradisi ilmu di kalangan Sahabat Nabi saw.</p>
<p>belum terwujud. Khalifah Umar ibn al-Khattab yang dikenal sebagai ahli strategi perang dan negarawan ulung sangat menghargai ahli ilmu, sedang Khalifah Ali dikagumi ketajaman nalar dan kedalaman ilmunya, disamping kepahlawanannya. Ada banyak riwayat yang bisa kita simak tentang kegiatan ilmiah para tokoh generasi awal umat Islam. Abu’l-Aswad ad-Du’ali, misalnya, merumuskan ilmu linguistik (tata bahasa, morfologi dan orthografi) atas petunjuk Khalifah ‘Ali ra. Ilmu tafsir diletakkan dasar-dasarnya oleh ‘Abdullah ibn ‘Abbas.</p>
<p>Kegiatan mencatat dan mengumpulkan hadis-hadis Nabi saw dalam bentuk skroll dilakukan oleh ‘Abdullah ibn ‘Amr (dinamakan as-Shahifah as-Shadiqah). Upaya mendokumentasi dan mengoleksi hadits dilanjutkan oleh generasi sesudah mereka semisal, ‘Urwah ibn az-Zubayr (w. 94 H), Muhammad ibn Syihab az-Zuhri (w. 124 H), Hammam ibn Munabbih (w. 132 H) dan banyak lagi. Kurun kedua hijriah pun menyaksikan lahirnya tokoh-tokoh ilmuwan dengan kepakaran masing-masing. Imam Abu Hanifah (w. 150 H) di Kufah menulis kitab al-Fiqh al-Akbar (mengenai teologi), Imam al-Awza‘i (w. 157 H) di Damaskus mengarang kitab as-Siyar (prinsip-prinsip hubungan internasional), Imam Malik (w. 179 H) di Madinah menyusun kitab al-Muwatta’ (kompilasi hukum Islam), dan Imam as-Syafi‘i (w. 204 H) di Baghdad merumuskan ilmu ushul fiqh (jurisprudensi Islam) dalam kitabnya yang masyhur: al-Risalah. Jika pakar linguistik al-Khalil ibn Ahmad (w. 175 H) menerbitkan kitab al-‘Ayn, kamus pertama di dunia, maka muridnya Sibawayh (w. 177 H) menyusun ilmu tata bahasa dalam al-Kitab.</p>
<p>Di abad berikutnya kita saksikan gerakan penerjemahan buku-buku ilmiah mengenai pelbagai cabang ilmu dari bahasa Yunani (Greek), Suryani (Syriac), Parsi dan Sansekerta ke dalam bahasa Arab.</p>
<p>Tak lama kemudian sampailah umat Islam ke puncak tertinggi peradaban manusia: mereka menjadi penunjuk dan penerang jalan bagi umat lain dalam pendakian ilmiah. Segala pelosok ilmu pengetahuan mereka telusuri, segala persoalan keilmuan mereka tangani, ‘dari persoalan gajah hingga persoalan semut’, dengan pendekatan rasional, empiris, detil, kritis lagi kreatif. Ada yang mempelajari seluk-beluk bahasa seperti, &#8230;. , mengupas &#8230;. seperti &#8230;<br />
Saintis al-Biruni tidak hanya berhasil mengukur lingkaran bola bumi dan memberikan koordinat wilayah-wilayah penting saat . Studi empirisnya mengenai tradisi agama dan budaya bangsa India yang direkamnya dalam kitab ‘Aja’ib al-Hind ~~</p>
<p><a href="http://inpasonline.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=828:budaya-ilmu&#038;catid=62:pemikiran-islam&#038;Itemid=99" target="_blank">Written By: Dr Syamsuddin Arif</a></p>
<h4  class="related_post_title">Most Commented Posts</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/about/" title="Buku Tamu"><img src="Array" alt=" Budaya Ilmu"  title="Budaya Ilmu" /></a>December 10, 2009 -- <a href="http://nabimuhammad.info/about/" title="Buku Tamu">Buku Tamu</a> (29)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/nabi-muhammad-2/" title="Muhammad Dalam Titik Temu Islam Kristen"><img src="Array" alt=" Budaya Ilmu"  title="Budaya Ilmu" /></a>May 19, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/nabi-muhammad-2/" title="Muhammad Dalam Titik Temu Islam Kristen">Muhammad Dalam Titik Temu Islam Kristen</a> (4)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/01/surat-rasulullah-kepada-raja-persia-kisra-abrawaiz/" title="Surat Rasulullah kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz"><img src="Array" alt=" Budaya Ilmu"  title="Budaya Ilmu" /></a>January 14, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/01/surat-rasulullah-kepada-raja-persia-kisra-abrawaiz/" title="Surat Rasulullah kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz">Surat Rasulullah kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/09/telaga-kemuliaan-rasulullah-pada-hari-kiamat/" title="Telaga Kemuliaan Rasulullah pada Hari Kiamat"><img src="Array" alt=" Budaya Ilmu"  title="Budaya Ilmu" /></a>September 30, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/09/telaga-kemuliaan-rasulullah-pada-hari-kiamat/" title="Telaga Kemuliaan Rasulullah pada Hari Kiamat">Telaga Kemuliaan Rasulullah pada Hari Kiamat</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/01/dari-pmii-menuju-yahudi/" title="Dari PMII Menuju Yahudi"><img src="Array" alt=" Budaya Ilmu"  title="Budaya Ilmu" /></a>January 26, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/01/dari-pmii-menuju-yahudi/" title="Dari PMII Menuju Yahudi">Dari PMII Menuju Yahudi</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/al-quran/" title="Quran"><img src="Array" alt=" Budaya Ilmu"  title="Budaya Ilmu" /></a>May 29, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/al-quran/" title="Quran">Quran</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/07/kebaikan/" title="Kebaikan"><img src="Array" alt=" Budaya Ilmu"  title="Budaya Ilmu" /></a>July 26, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/07/kebaikan/" title="Kebaikan">Kebaikan</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/05/film-epik-nabi-muhammad-segera-di-buat-2011/" title="Film Epik Nabi Muhammad Segera Di Buat 2011"><img src="Array" alt=" Budaya Ilmu"  title="Budaya Ilmu" /></a>May 18, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/05/film-epik-nabi-muhammad-segera-di-buat-2011/" title="Film Epik Nabi Muhammad Segera Di Buat 2011">Film Epik Nabi Muhammad Segera Di Buat 2011</a> (2)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/budaya-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

