<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muhammad SAW, Nabi Muhammad SAW, Cerita Nabi Muhammad, Riwayat Nabi Muhammad, Rasulullah Muhammad SAW,  Dakwah Nabi Muhammad &#187; Nabi &amp; Puisi</title>
	<atom:link href="http://nabimuhammad.info/category/akhlak-dan-ajaran-nabi-muhammad/nabi-puisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nabimuhammad.info</link>
	<description>Nur Muhammad, Muhammad, Nabi Muhammad SAW, Riwayat Nabi Muhammad, Sejarah Muhammad SAW,  Cerita Nabi Muhammad, Surat Muhammad, Maulid Nabi Muhammad, kisah Muhammad, Habib Muhammad, Kelahiran Nabi Muhammad, Cerita Nabi Muhammad, Hadist Nabi Muhammad, Foto Muhammad, Pidato nabi Muhammad</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 12:34:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al-Bushiri</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/04/syarafuddin-abu-abdillah-muhammad-bin-zaid-al-bushiri/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/04/syarafuddin-abu-abdillah-muhammad-bin-zaid-al-bushiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 15:37:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nabi & Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=1008</guid>
		<description><![CDATA[Pengabadi keluhuran Nabi lewat puisi مولاي صل وسلم دائما أبدا ÷ على حبيبك خير الخلق كلهم “wahai Tuanku ! sholawat dan salam sudi Engkau limpahkan selalu kepada kekasih-Mu sebaik-baik mahluk yang Engkau titahkan Pelantun puisi sanjungan atas Nabi ini bernama lengkap Syaikh al-Imam, al-Alim Syarafuddin Abu Abdullah, Muhammad bin Sa&#8217;id bin Hammad bin Muhsin bin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengabadi keluhuran Nabi lewat puisi</strong></p>
<p> مولاي صل وسلم دائما أبدا ÷ على حبيبك خير الخلق كلهم<br />
  “wahai Tuanku !<br />
  sholawat dan salam sudi Engkau limpahkan<br />
  selalu kepada kekasih-Mu<br />
  sebaik-baik mahluk yang Engkau titahkan</p>
<p>            Pelantun puisi sanjungan atas Nabi ini bernama lengkap <strong>Syaikh al-Imam, al-Alim   Syarafuddin Abu Abdullah, Muhammad bin Sa&#8217;id bin Hammad bin Muhsin bin Abdullah   bin Shonhaj bin Hilal al-Shonhaji. </strong>Tentang kapan dan di mana ia dilahirkan,   Imam Suyuthi dalam kitab “Khusnul Muhadloroh”menuturkan : “Syarafuddin   Muhammad bin Sa&#8217;id bin Hammad, yang berasal dari Maghrib, hidup di kota Bushir   ini dilahirkan di kota Dallas pada tahun 608 Hijriyah.<br />
  Penulis burdah yang sangat fenomenal ini kadang-kadang juga disebut al-Dallashiri.   Satu sebutan yang merujuk pada asal kedua orang tuanya, yaitu Dallas dan Bushir   satu daerah di wilayah Shaid (daerah selatan Mesir). Tapi di kemudian hari ia   lebih terkenal dengan Bushiri.</p>
<p>            <strong>Tentang Dallas dan Bushir</strong><br />
            Dallas adalah nama suatu perkampungan yang pada masa Mesir kuno disebut dengan   Habi. Pada masa Kristen Orthodoks namanya berganti menjadi Taa laas, kemudian   diarabkan menjadi Dallas. Ibnu Khaldun berkata: “Dallas tempo dulu terletak   di sepanjang sungai nil &#8220;. Pendapat ini dikukuhkan dengan perkataan Raja   Batlimus yang menyebut Dallas dengan Nilobulis, artinya Madinat al-Nil (kota   di sungai Nil ). Tersebut dalam kitab “Mu&#8217;jamul Buldan “ bahwa Dallas   adalah termasuk salah satu kota di Wilayah Sha&#8217;id, Mesir, yang terdiri dari   beberapa perkampungan yang cukup luas. Ia masuk dalam wilayah Kaurah al-Bahnasi.<br />
  Al-Idrisi berkata: “Dallas adalah suatu kota kecil yang sangat ramai sekali,   sebagai pusat pabrik besi dan bermacam-macam industri yang lain. Di kota Dallas   juga diproduksi kendali kuda al-Dalllashiyyah, di ambil dari nama kota Dallas.   Abu Shalih al-Armini menambahkan, di kota Dallas, ada sebanyak tiga ratus tukang   besi yang semuanya memproduksi kendali kuda. Oleh karena itu pada masa pertengahan   terkenal dengan sebutan Dallas al-Lujum.</p>
<p>            Tentang kota Dallas, lebih lanjut Ibnu Khauqal menuturkan : “Kota Dallas   pada masa Kristen Orthodoks (Mesir kuno) merupakan kota yang sangat ramai dan   padat penduduknya, hanya saja sekarang (di masa Ibnu Khauqal) tidak lagi menjadi   kota besar, setelah bangsa Barbar dari Maroko, dibantu sebagian orang-orang   Arab yang berhati jahat telah menguasainya, memporak-porandakan apartemen–apartemen   yang megah, yang tersebar di seluruh penjuru kota. Akhirnya mayoritas penduduknya   mengungsi, dan tinggal kelompok minoritas yang tetap mempertahankan kota Dallas.<br />
  Ada kemungkinan, sebagaimana tersebut dalam kitab “Al-khuthat al-Taufiqiyyah”,   kakek Syarafuddin datang bersama-sama bangsa Barbar dari Maroko ke kota Dallas.<br />
  Sementara itu, kota Abu Shir yang telah menjadi nisbat Imam Syarafuddin adalah   kampung halaman ibundanya, yaitu suatu perkampungan yang di masa Mesir kuno   bernama Amdu Mahit, yang artinya Abidusy al-Syamaliyyah (Abidusy Utara) untuk   membedakan Abidusy bagian selatan, yang terkenal saat itu dengan sebutan Al-Markaz   al-Balina (Markas Balina). Pada masa Baltimus nama Abu Shir adalah Bus Aris   artinya tempat tinggal Tuhan Aururis. Dan pada masa Kristen Orthodoks adalah   Bushir, sedang dalam bahasa Arab adalah Abu Shir. Pada abad 19 kota ini terkenal   dengan sebutan Abushir Almalaq, karena berlokasi di Wilayah al-Malaq.</p>
<p>            <strong>Imam Bushiri Sang Penyair</strong><br />
            Kepakaran dan ketenaran Imam Bushiri dalam bidang syair bukan hanya diakui masyarakat   pada zaman sekarang. Ketika orang hendak melantunkan sanjungan atas baginda   Nabi maka yang terlintas dalam benak adalah untaian qasidah yang menjelma lewat   tangan dingin Imam syair sepanjang zaman ini.<br />
  Adalah Imam al-Shihab bin Hajar, rupanya ia tidak rela untuk tidak turut menyanjung   Imam Bushiri : “Imam Bushiri telah mendapatkan limpahan dari Allah SWT   berupa keahlian yang cemerlang di bidang syair, sajak dan natsar atau prosa   &#8220;, begitu ia mengungkapkan suatu ketika. Lebih lanjut ia mengatakan : &#8220;Kalau   saja karyanya, hanyalah Qashidah Burdah yang terkenal itu, maka itu sudah cukup   menjadi suatu kebanggaan. Sebab ia juga mempunyai karya Qashidah Hamziyyah yang   indah &#8220;. Dan memang qashidah Burdah ini banyak didendangkan, dikaji di   rumah-rumah, di masjid-masjid dan tempat perayaan. Oleh karena itu tak ayal   lagi keharumanya semakin semerbak.<br />
  Rasanya kurang afdol menuturkan keharuman nama Imam satu ini tanpa menelisik   perjalanan karirnya hingga menjadi sebuah nama yang demikian tenar. Sebelum   menekuni dunia sastra Syarafuddin pernah menjabat sekretaris di bidang perpajakan   di Wilayah Bilbis, propinsi Syarqiyyah yang merupakan awal profesinya. Namun   jiwa kesufiannya memberontak ketika melihat teman sejawatnya mayoritas bermental   korup. Keadaan seperti ini memaksanya menjauhkan diri dari hal-hal yang berbau   keduniaan, termasuk profesinya itu dan dunia sufi menjadi alternatif satu-satunya.   Di &#8216;dunia&#8217; yang baru ini ia menitinya untuk meraih cinta dan kedekatan dengan   Yang Maha Asih. Pengalaman pahit saat menjadi pegawai negeri sipil membuatnya   membuat sajak: “Aku diuji dalam barisan abdi bangsa, namun tak kutemui   seorangpun yang bisa dipercaya”.<br />
  Rupanya &#8216;dunia pengabdian tulus kepada Tuhan&#8217; semakin bulat ia masuki. Kota   Bilbis ia tinggalkan unutk selanjutnya menuju sebuah kota wali kesohor yaitu   Iskandariah untuk menimba ilmu pada Syaikh Abu Abbas al-Mursi. Ali Mubarok dalam   bukunya “Al-khutat al-Taufiqiyyah “ berkata; “Imam Bushiri   dan Ibnu Atho&#8217; al-Sakandari adalah anak didik Syaikh Abu Abbas al-Mursi. Kemahiran   di bidang syair dimiliki Imam Busiri, dan kepakaran di bidang natsar ada di   tangan Imam Ibnu Atho&#8217; al-Sakandari.<br />
  Syarafuddin al-Bushiri adalah murid yang rajin, selau hadir dalam majlis pengajian   sang guru. Berkat ketekunannya itu Allah menganugerahi kematangan dalam beragama,   kedalaman ilmu, kewiraian dan kewalian. Hal ini berpengaruh dalam sajak-sajaknya   yang lebih bercorak sufistik dan lebih khusus lagi bertema tentang penyanjungan   pada Baginda Nabi Muhammad SAW.<br />
  Atasi problem yang menimpamu dengan akal budimu, dan ketika itu tidak memadahimu   pahami dengan himah kebijaksanaanmu. Dan ketika itupun tak terjangkau maka serahkan   segalanya pada Yang Mahaesa. Begitulah petuah bijak dunia sufi. Dan begitulah   yang dirasakan dan dijalani oleh tokoh ini. Sebagai manusia biasa ia pernah   mendapatkan ujian dari Allah berupa penyakit &#8220;falij &#8221; atau lumpuh,   yang mengakibatkan tidak berfungsinya sebagian organ tubuhnya. Ahli medis sudah   angkat tangan tidak bisa mengobatinya. Maka ia berfikir untuk merangkai sajak   dengan segudang harapan semoga dengan sajaknya itu Allah berkenan melimpahkan   kesembuhan penyakitnya. Setelah ia selesai merangkai bait-bait Qasidah-nya,   ia bermimpi bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpinya itu baginda   Nabi mengusapnya dengan kedua tangan beliau yang mulia. Dan ketika terjaga penyalit   yang menimpanya itu telah benar-benar sembuh. Allah telah berkenan menyembuhkannya.<br />
  Dalam kitab “al-Natakhat al-Syaziliyyah fi syarhi al-Burdah , Imam Hasan   al-Nadawi berkata; “Alkisah, setelah kejadian itu Imam Bushiri keluar   dari rumahnya. Di jalan ia bertemu dengan seorang laki-laki shalih yang memintanya   membacakan sajak–sajaknya. Maka terkejutlah ia mendengar permintaan itu.   Karena ia memang belum pernah bercerita pada siapapun, perihal sajaknya yang   baru itu. Dengan nada heran al-Bushiri balik bertanya; “Dari mana Anda   mengetahui sajak-sajak saya?”, Orang itu menjawab: “Aku mendengarnya   tadi malam di kala engkau membacanya di hadapan Baginda Rasul”, mendengar   jawaban lelaki itu Bushiri segera memberikan sajak itu kepadanya. Kemudian Imam   Bushiri berkata: &#8220;Setelah aku membacakan pada laki-laki tersebut, ia segera   meninggalkan aku&#8221;.<br />
  Beberapa hari setelah peristiwa itu, Imam Bushiri dipanggil menghadap Shahib   Bahauddin, seorang menteri Raja Dhahir Bibres al-Bun Daqori, yang memintanya   membacakan Qasidah-nya, yang berisikan sanjungan pada Baginda Rasul. Sang menteri   berjanji akan mendengarnya dengan berdiri, dan tanpa tutup kepala demi menghormat   Nabi. Imam Bushiripun segera membacakannya dan menulisnya dengan tangannya sendiri.   Diceritakan bahwa tulisan tersebut selalu disimpan oleh menteri tersebut untuk   dibaca, kadangkala untuk tabarruk-an , lebih-lebih ketika ada sesuatu yang penting.   Hal itu dilakukan oleh sang menteri, sampai ia meninggal dunia. Setelah sang   menteri tersebut meninggal dunia, tulisan tersebut selalu dijaga rapi oleh putranya.<br />
  Shahib Bahauddin bin Hana adalah orang yang wira&#8217;i. Ia gemar membeli peninggalan–peninggalan   Nabi dari Bani Ibrahim di kota Yanbu&#8217;. Demi menimpan dan menjaga koleksinya   ini ia membangun bangunan khusus yang memanjang dekat sungai Nil. Daerah tersebut   sekarang terkenal dengan sebutan Atsarun Nabi.<br />
  Qasidah Imam Bushiri yang berisikan sanjungan pada Baginda Nabi terkenal dengan   sebutan al-Burdah , tetapi sebetulnya nama yang lebih sesuai adalah al-Baro&#8217;ah,   karena pengarangnya dibebaskan dari penyakit lumpuh. Adapun Burdah adalah sebauh   Qashidah tulisan Ka&#8217;ab bin Zuhair yang berisikan penghinaan kepada Baginda Rasul   sebelum dia masuk Islam. Maka Nabi pun mengurungkan untuk membunuhnya setelah   dia datang bertaubat ke Masjid Nabawi, dan sambil membacakan Qasidah-nya yang   permulaannya berbunyi:</p>
<p>بانت سعاد  فقلبي  اليوم متبول ÷÷÷ متيم أثرها لم يفد مكبول</p>
<p>وقد نبئت أن رسول الله أوعدني ÷÷÷ والعفو عند رسول الله مأمول.</p>
<p>  “Suad telah tega meninggalkanku<br />
  dan kini aku menjadi gila<br />
  tak mampu menahan diri<br />
  namun bayangnya tak jua sirna</p>
<p>aku dengar janji<br />
  dari baginda Nabi<br />
  hanya ada asa<br />
  tuk meraih ampunnya<br />
Maka Nabi pun mengampuninya sambil melepaskan burdah-nya yang mulia. Dari cerita ini Qasidah Ka’ab bin Zuhair terkenal dengan sebutan Burdah. Banyak pula beredar kitab Burdah yang tertera dengan sebutan al-Baro’ah (dibebaskan) sebagaimana yang telah dialami oleh Imam Bushiri sendiri.<br />
  Ada sedikit cerita, ketika Imam Bushiri merangkai Qasidah-nya, ia menemukan   kesulitan setelah sampai pada kalimat</p>
<p>فمبلغ العلم  فيه أنه بشر .</p>
<p>  Pada saat itu baginda Nabi berkata “Bacalah, teruskan !&#8221;. Imam Bushiri   menjawab; “Aku tak mampu menemukan bait setengahnya, maka Nabi bersabda   padanya;</p>
<p>وأنه خير الخلق كلهم.</p>
<p>  Jumlah bait-bait Qasidah ini ada seratus enampuluh. Di dalamnya terdapat beberapa   fasal yang mengandung sanjungan pada Baginda Nabi, perjuangan Nabi, dan tawassul   kepada Nabi. Banyak para penyair yang mengikuti jejak Imam Busiri dalam merangkai   syair, dengan mengikuti lirik lagu Imam Bushiri. Di antaranya adalah al-Syauqi,   (sang pangeran para penyair) dalam Qasidah-nya, “Nahju al-Burdah”.</p>
<p>            Wafatnya Imam Bushiri<br />
            Sebagaimana penuturan Imam Suyuthi, Imam Bushiri meninggal pada tahun 696 hijriyyah.   Makamnya ada dalam komplek masjid Imam Bushiri yang berlokasi di kota Iskandariah   berhadapan dengan Masjid Syaikh Abu al-Abbas al-Mursi. Masjid Imam Bushiri,   dahulunya adalah sekedar zawiyyah (bagian ruangan dari ruangan besar) yang cukup   kecil. Beberapa waktu kemudian diadakan penambahan, perluasan sehingga seperti   sekarang ini. Bentuk bangunan yang ada sekarang merujuk pada seni gaya bangunannya   pada tahun 1274 H.[]</p>
<p><strong>Kasidah Burdah</strong> adalah salah satu karya paling populer dalam khazanah sastra Islam. Isinya, sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan, hingga kini masih sering dibacakan di sebagian pesantren salaf dan pada peringatan Maulid Nabi. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastum, Melayu, Sindi, Inggris, Prancis, Jerman dan Italia.</p>
<p>Pengarang Kasidah Burdah ialah Al-Bushiri (610-695H/ 1213-1296 M). Nama lengkapnya, Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al-Bushiri. Dia keturunan Berber yang lahir di Dallas, Maroko dan dibesarkan di Bushir, Mesir, Dia seorang murid Sufi besar, Imam as-Syadzili dan penerusnya yang bernama Abdul Abbas al-Mursi – anggota Tarekat Syadziliyah. Di bidang ilmu fiqih, Al Bushiri menganut mazhab Syafi’i, yang merupakan mazhab fiqih mayoritas di Mesir.<br />
Di masa kecilnya, ia dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari Al Quran di samping berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Kemudian ia belajar kepada ulama-ulama di zamannya. Untuk memperdalam ilmu agama dan kesusateraan Arab ia pindah ke Kairo. Di sana ia menjadi seorang sastrawan dan penyair yang ulung. Kemahirannya di bidang sastra syair ini melebihi para penyair pada zamannya. Karya-karya kaligrafinya juga terkenal indah.<br />
Sebagian ahli sejarah menyatakan, bahwa ia mulanya bekerja sebagai penyalin naskah-naskah. Louis Ma’luf juga menyatakan demikian di dalam Kamus Munjibnya.<br />
Sajak-sajak pujian untuk Nabi dalam kesusasteraan Arab dimasukkan ke dalam genre al-mada’ih an-nabawiyah, sedangkan dalam kesusasteraan-kesusasteraan Persia dan Urdu dikenal sebagai kesusasteraan na’tiyah (kata jamak dari na’t, yang berarti pujian). Sastrawan Mesir terkenal, Zaki Mubarok, telah menulis buku dengan uraian yang panjang lebar mengenai al-mada’ih an-nabawiyah. Menurutnya, syair semacam itu dikembangkan oleh para sufi sebagai cara untuk mengungkapkan perasaan religius yang Islami.<br />
Kasidah Burdah terdiri atas 160 bait (sajak), ditulis dengan gaya bahasa (usiub) yang menarik, lembut dan elegan, berisi panduan ringkas mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW, cinta kasih, pengendalian hawa nafsu, doa, pujian terhadap Al Quran, Isra’ Mi’raj, jihad dan tawasul.<br />
Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitis, AI-Bushiri bukan saja menanamkan kecintaan umat Islam kepada- Nabinya, tetapi juga mengajarkan sastra, sejarah Islam, dan nilai-nilai moral kepada kaum Muslimin. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika kasidah Burdah senantiasa dibacakan di pesantren-pesantren salaf, dan bahkan diajarkan pada tiap hari Kamis dan Jumat di Universitas AI-Azhar, Kairo.<br />
Al-Bushiri hidup pada suatu masa transisi perpindahan kekuasaan dinasti Ayyubiyah ke tangan dinasri Mamalik Bahriyah. Pergolakan politik terus berlangsung, akhlak masyarakat merosot, para pejabat pemerintahan mengejar kedudukan dan kemewahan. Maka munculnya kasidah Burdah itu merupakan reaksi terhadap situasi politik, sosial, dan kultural pada masa itu, agar mereka senantiasa mencontoh kehidupan Nabi yang bertungsi sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), mengendalikan hawa nafsu, kembali kepada ajaran agama yang murni, Al Quran dan Hadis.<br />
Sejarah Ringkas Kasidah Al-Burdah<br />
Al-Burdah menurut etimologi banyak mengandung arti, antara lain :<br />
1. Baju (jubah) kebesaran khalifah yang menjadi salah satu atribut khalifah. Dengan atribut burdah ini, seorang khalifah bias dibedakan dengan pejabat negara lainnya, teman-teman dan rakyatnya.<br />
2. Nama dari kasidah yang dipersembahkan kepada Rasulullah SAW yang digubah oleh Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma.<br />
Pada mulanya, burdah (dalam pengertian jubah) ini adalah milik Nabi Muhammad SAW yang diberikan kepada Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma, seorang penyair terkenal Muhadramin (penyair dua zaman: Jahiliyah dan Islam). Burdah yang telah menjadi milik keluarga Ka’ab tersebut akhirnya dibeli oleh Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan seharga duapuluh ribu dirham, dan kemudian dibeli lagi. oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur dari dinasti Abbasiyah dengan harga empat puluh ribu dirham. Oleh khalifah, burdah itu hanya dipakai pada setiap shalat fd dan diteruskan secara turun temurun.<br />
Riwayat pemberian burdah oleh Rasulullah SAW kepada Ka’ab bin Zuhair bermula dari Ka’ab yang menggubah syair yang senantiasa menjelek-jelekkan Nabi dan para sahabat. Karena merasa terancam jiwanya, ia lari bersembunyi untuk menghindari luapan amarah para sahabat. Ketika terjadi penaklukan Kota Makkah, saudara Ka’ab yang bernama Bujair bin Zuhair mengirm surat kcpadanya, yang isinya antara lain anjuran agar Ka’ab pulang dan menghadap Rasulullah, karena Rasulullah tidak akan membunuh orang yang kembali (bertobat). Setelah memahami isi surat itu, ia berniat pulang kembali ke rumahnya dan bertobat.<br />
Kemudian Ka’ab berangkat menuju Madinah. Melalui ‘tangan’ Abu Bakar Siddiq, di sana ia menyerahkan diri kepada Rasulullah SAW. Ka’ab memperoleh sambutan penghormatan dari Rasulullah. Begitu besarnya rasa hormat yang diberikan kepada Ka’ab, sampai-sampai Rasulullah melepaskan burdahnya dan memberikannya kepada Ka’ab.<br />
Ka’ab kemudian menggubah kasidah yang terkenal dengan sebutan Banat Su’ad (Putri-putri Su’ad), terdiri atas 59 bait (puisi). Kasidah ini disebut pula dengan Kasidah Burdah. la ditulis dengan indahnya oleh kaligrafer Hasyim Muhammad al-Baghdadi di dalam kitab kaligrafi-nya, Qawaid al-Khat al-Arabi.<br />
Di samping itu, ada sebab-sebab khusus dikarangnya Kasidah Burdah itu, yaitu ketika al-Bushiri menderita sakit lumpuh, sehingga ia tidak dapat bangun dari tempat tidurnya, maka dibuatnya syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi, dengan maksud memohon syafa’afnya. Di dalam tidurnya, ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. di mana Nabi mengusap wajah al-Bushiri, kemudian Nabi melepaskan jubahnya dan mengenakannya ke tubuh al-Bushiri, dan saat ia bangun dari mimpinya, seketika itu juga ia sembuh dari penyakitnya.<br />
Pemikiran-Pemikiran Bushiri dalam Al-Burdah Burdah dimulai dengan nasib, yaitu ungkapan rasa pilu atas dukacita yang dialami penyair dan orang yang dekat dengannya, yaitu tetangganya di Dzu Salam, Sudah menjadi kelaziman bagi para penyair Arab klasik dalam mengawali karya syairnya selalu merujuk pada tempat di mana ia memperoleh kenangan mendalam dalam hidupnya, khususnya kampung halamannya. Inilah nasib yang diungkapkan Bushiri pada awal bait :<br />
Amin tadzakurin jiranin bi Dzi Salami<br />
Mazajta dam ‘an jara min muqlatin bi dami?<br />
Tidakkah kau ingat tetanggamu di Dzu Salam<br />
Yang air matanya tercucur bercampur darah?<br />
Kemudian ide-ide al-Bushiri yang penting dilanjutkan dengan untaian-untaian yang menggambarkan visi yang bertalian dengan ajaran-ajaran tentang pengendalian hawa nafsu. Menurut dia, nafsu itu bagaikan anak kecil, apabila diteruskan menetek, maka ia akan tetap saja suka menetek. Namun jika ia disapih, ia pun akan berhenti dan tidak suka menetek lagi. Pandangan al-Bushiri tentang nafsu tersebut terdapat pada bait ke-18, yang isinya antara lain :<br />
Wa an-nafsu kattifli in tuhmiihu syabba ‘ala<br />
Hubbi ar-radha’i wa in tufhimhu yanfatimi<br />
Nafsu bagaikan anak kecil, yang bila dibiarkan menetek<br />
Ia akan tetap senang menetek. Dan bila disapih ia akan melepaskannya.<br />
Dalam ajaran pengendalian hawa nafsu, al-Bushiri menganjurkan agar kehendak hawa nafsu dibuang jauh-jauh, jangan dimanjakan dan dipertuankan, karena nafsu itu sesat dan menyesatkan. Keadaan lapar dan kenyang, kedua-duanya dapat merusak, maka hendaknya dijaga secara seimbang. Ajakan dan bujukan nafsu dan setan hendaknya dilawan sekuat tenaga, jangan diperturutkan (bait 19-25).<br />
Selanjutnya, ajaran Imam al-Bushiri dalam Burdahnya yang terpenting adalah pujian kepada Nabi Muhammad SAW. la menggambarkan betapa Nabi diutus ke dunia untuk menjadi lampu yang menerangi dua alam : manusia dan Jin, pemimpin dua kaum : Arab dan bukan Arab. Beliau bagaikan permata yang tak ternilai, pribadi yang tertgosok oleh pengalaman kerohanian yang tinggi. Al-Bushiri melukiskan tentang sosok Nabi Muhammad seperti dalam bait 34-59 :<br />
Muhammadun sayyidui kaunain wa tsaqaulai<br />
Ni wal fariqain min urbln wa min ajami<br />
Muhammad adalah raja dua alam : manusia dannjin<br />
Pemimpin dua kaum : Arab dan bukan Arab.<br />
Pujian al-Bushiri pada Nabi tidak terbatas pada sifat dan kualitas pribadi, tetapi mengungkapkan kelebihan Nabi yang paling utama, yaitu mukjizat paling besar dalam bentuk Al Quran, mukjizat yang abadi. Al Quran adalah kitab yang tidak mengandung keraguan, pun tidak lapuk oleh perubahan zaman, apalagi ditafsirkan dan dipahami secara arif dengan berbekal pengetahuan dan makrifat. Hikmah dan kandungan Al Quran memiliki relevansi yang abadi sepanjang masa dan selalu memiliki konteks yang luas dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang bersifat temporal. Kitab Al Quran solamanya hidup dalam ingatan dan jiwa umat Islam.<br />
Selain Kasidah Burdah, al-Bushiri juga menulis beberapa kasidah lain di antaranya a!-Qashidah al-Mudhariyah dan al-Qashldah al-Hamziyah. Sisi lain dari profil al-Bushiri ditandai oleh kehidupannya yang sufistik, tercermin dari kezuhudannya, tekun beribadah, tidak menyukai kemewahan dan kemegahan duniawi.<br />
Di kalangan para sufi, ia termasuk dalam deretan sufi-sufi besar. Sayyid Mahmud Faidh al-Manufi menulis di dalam bukunya, Jamharat al-Aulia. bahwa al-Bushiri tetap konsisten dalam hidupnya sebagai seorang sufi sampai akhir hayatnya. Makamnya yang terletak di Iskandaria, Mesir, sampai sekarang masih dijadikan tempat ziarah. Makam itu berdampingan dengan makam gurunya, Abu Abbas al-Mursi.***</p>
<h4  class="related_post_title">Most Commented Posts</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/about/" title="Buku Tamu"><img src="Array" alt=" Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri"  title="Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri" /></a>December 10, 2009 -- <a href="http://nabimuhammad.info/about/" title="Buku Tamu">Buku Tamu</a> (29)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/nabi-muhammad-2/" title="Muhammad Dalam Titik Temu Islam Kristen"><img src="Array" alt=" Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri"  title="Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri" /></a>May 19, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/nabi-muhammad-2/" title="Muhammad Dalam Titik Temu Islam Kristen">Muhammad Dalam Titik Temu Islam Kristen</a> (4)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/01/surat-rasulullah-kepada-raja-persia-kisra-abrawaiz/" title="Surat Rasulullah kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz"><img src="Array" alt=" Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri"  title="Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri" /></a>January 14, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/01/surat-rasulullah-kepada-raja-persia-kisra-abrawaiz/" title="Surat Rasulullah kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz">Surat Rasulullah kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/09/telaga-kemuliaan-rasulullah-pada-hari-kiamat/" title="Telaga Kemuliaan Rasulullah pada Hari Kiamat"><img src="Array" alt=" Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri"  title="Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri" /></a>September 30, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/09/telaga-kemuliaan-rasulullah-pada-hari-kiamat/" title="Telaga Kemuliaan Rasulullah pada Hari Kiamat">Telaga Kemuliaan Rasulullah pada Hari Kiamat</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/01/dari-pmii-menuju-yahudi/" title="Dari PMII Menuju Yahudi"><img src="Array" alt=" Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri"  title="Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri" /></a>January 26, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/01/dari-pmii-menuju-yahudi/" title="Dari PMII Menuju Yahudi">Dari PMII Menuju Yahudi</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/al-quran/" title="Quran"><img src="Array" alt=" Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri"  title="Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri" /></a>May 29, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/al-quran/" title="Quran">Quran</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/07/kebaikan/" title="Kebaikan"><img src="Array" alt=" Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri"  title="Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri" /></a>July 26, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/07/kebaikan/" title="Kebaikan">Kebaikan</a> (2)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/05/film-epik-nabi-muhammad-segera-di-buat-2011/" title="Film Epik Nabi Muhammad Segera Di Buat 2011"><img src="Array" alt=" Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri"  title="Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al Bushiri" /></a>May 18, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/05/film-epik-nabi-muhammad-segera-di-buat-2011/" title="Film Epik Nabi Muhammad Segera Di Buat 2011">Film Epik Nabi Muhammad Segera Di Buat 2011</a> (2)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/04/syarafuddin-abu-abdillah-muhammad-bin-zaid-al-bushiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

