بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ada empat bulan [ arba’atun haram ]  dalam satu tahun kalender Hijriah yang Allah berikan kemuliaan yang keistimewaan , yang tidak ada pada 8 bulan lainnya. Empat bulan itu disebut bulan haram, [ al- Asyhur al- Hurum ], yakni bulan Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Disebut bulan haram karena memang kata haram sendiri, dalam bahasa Arab berarti sesuatu yang dimuliakan atau yang mendapat kemulian.  Sebagaimana ulama menyebut Makkah sebagai al Haram al Makkiy, karena banyak kemuliaan yang diberikan Allah untuk daerah tersebut dibanding yang lain.

Ibnu Jarir ath Thabari ra meriwayatkan melalui sanadnya, dari Ibnu Abbas ra , beliau berkata, “Allah Ta’ala telah menjadikan bulan bulan ini sebagai ( bulan bulan yang ) suci, mengagungkan kehormatannya dan menjadikan dosa yang dilakukan pada bulanb ulan ini menjadi lebih besar dan menjadikan amal shalih serta pahala pada bulan ini juga lebih besar.” ( Tafsir ath Thabari )

Empat bulan tersebut adalah tertuang dalam firman Allah Ta’ala  dalam Al Quran surat At Taubah ayat 36 :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak  Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan bulan haram

Dan hadis  Nabi SAW  :

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ : ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ، ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ . وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Dari Abu Bakrah r.a., Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah  menciptakan langit & bumi.  Setahun itu ada 12 bulan, dan di antaranya ada 4 bulan mulia, 3 berurutan : Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang ia itu berada antara Jumadil Tsani dan Sya’ban”. [ Muttafaq ‘alaih ]

Jadi bulan bulan haram adalah; Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Dalam disebutkan Rajab Mudhar, bukan berarti Rajab ada banyak jenisnya. Rajab hanya satu.

Disebutkan demikian, karena dahulu ada 2 suku; Mudhar dan Rabi’ah, yang masing-masing sangat memuliakan beberapa bulan hujriyah. Kaum Rabi’ah sangat menyukai dan mengagungkan bulan Ramadhan, sedangkan kaum mudhar sangat menaruh cinta yang dalam kepada Rajab, sehingga Rajab menjadi bulan yang sangat dimuliakan oleh kaum ini. Karena itulah, orang-orang dahulu, menyebut Rajab dengan sebutan rajab Mudhar. [ Syarhu Muslim li an-Nawawi 11/168 ]

Sebab Dinamakan  Bulan Haram

Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram [ suci ] karena dua makna :

  • Pada bulan tersebut diharamkan [ dilarang keras ] berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
  • Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” [ Lihat Zaadul Masiir, tafsir surat At Taubah ayat 36 ]

Orang-orang arab pada masa Jahilyah mengharamkan ( mensucikan ) bulan ini, mengagungkannya serta melarang peperangan pada bulan-bulan ini.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Bulan-bulan yang diharamkan (disucikan) itu hanya ada 4.  Tiga bulan secara berururtan dan satu bulannya berdiri sendiri (tidak berurutan) lantaran adanya manasik Haji dan Umrah. Maka , ada satu bulan yang telah diharamkan (disucikan) yang letaknya sebelum bulan-bulan Haji.  Bulan bulan haram itu adalah :

  • bulan Dzulkaidah, karena ketika itu mereka menahan diri dari perang.
  • bulan Dzulhijah diharamkan (disucikan) karena pada bulan ini mereka pergi menunaikan ibadah Haji, dan pada bulan ini mereka menyibukkan diri dengan berbagai ritual manasik Haji. sebulan setelahnya, yaitu
  • bulan Muharram juga disucikan karena pada bulan ini mereka kembali dari Haji ke negeri asal mereka dengan aman dan damai.
  • Adapun bulan Rajab yang terletak di tengah-tengah tahun diharamkan (disucikan) karena orang yang berada di pelosok Jazirah Arabia berziarah ke Baitul Haram. Mereka datang berkunjung ke Baitul Haram dan kembali ke negeri mereka dengan keadaan aman.” (Tafsir Ibni Katsir)

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram.

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya”. Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya. [ Lihat Latho-if Al Ma’arif, 214 ]  Ulama Hambali memakruhkan berpuasa pada bulan Rajab saja, tidak pada bulan haram lainya. [ Lihat Latho-if Al Ma’arif, 215 ]

Namun sekali lagi, jika dianjurkan, bukan berarti mesti mengkhususkan puasa atau amalan lainnya di hari-hari tertentu dari bulan Rajab karena menganjurkan seperti ini butuh dalil. Sedangkan tidak ada dalil yang mendukungnya.


Keistimewaan Bulan Bulan Haram

Allah SWT. menciptakan manusia dan memberikan keistimewaan kepada salah seorang di antara mereka yakni para Rasul dan Nabi-Nya. allah s.w.t. juga memberikan satu hari di antara hari-hari yang ada, yakni hari jumat. Dan Allah s.w.t. memberikan keistimewaan satu malam di antara malam-malam yang ada, yakni malam lailtul-Qadr.

Sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 197, Allah s.w.t juga mengistimewakan shalat al Wustha di antara shalat fardhu yang lain, yang mana beberapa ulama menafsirkan bahwa shalat al  Wustha itu adalah shalat Ashar. Begitu juga pada perihal bulan-bulan yang ada, bahwa Allah s.w.t. memberikan keistimewaan pada bulan-bulan haram di antara bulan-bulan lainnya.

Imam al-Thabari dalam tafsirnya menukil perkataan sahabat Ibnu Abbas r.a., perihal kemuliaan yang Allah s.w.t. berikan untuk bulan-bulan haram ini:

خَصَّ اللَّهُ مِنْ شُهُورِ الْعَامِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حُرُمًا ، وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِنَّ ، وَجَعَل الذَّنْبَ فِيهِنَّ وَالْعَمَل الصَّالِحَ وَالأَْجْرَ أَعْظَمَ

Allah s.w.t. memberika keistimewaan untuk 4 bulan haram di antara bulan-bulan yang ada, dan diagungkan kemuliaannya bulan itu, dan menjadikan dosa yang terbuat serta amal ibadah yang dilaksanakan menjadi lebih besar ganjaran dosa dan pahalanya”. (Tafsir al Thabari 14/238)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir surat yang sama, beliau menukil perkataan Imam Qatadah, ahli tafsir dari kalangan Tabi’in:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى اصْطَفَى صَفَايَا مِنْ خَلْقِهِ ، اصْطَفَى مِنَ الْمَلاَئِكَةِ رُسُلاً ، وَمِنَ النَّاسِ رُسُلاً ، وَاصْطَفَى مِنَ الْكَلاَمِ ذِكْرَهُ ، وَاصْطَفَى مِنَ الأَْرْضِ الْمَسَاجِدَ ، وَاصْطَفَى مِنَ الشُّهُورِ رَمَضَانَ وَالأَْشْهُرَ الْحُرُمَ ، وَاصْطَفَى مِنَ الأَْيَّامِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَاصْطَفَى مِنَ اللَّيَالِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ. فَعَظِّمُوا مَا عَظَّمَ اللَّهُ ، فَإِنَّمَا تُعَظَّمُ الأْمُورُ بِمَا عَظَّمَهَا اللَّهُ عِنْدَ أَهْل الْفَهْمِ وَأَهْل الْعَقْل

Allah s.w.t. mensucikan makhluk-Nya di antaranya makhluk-makhluk ciptaany-Nya, mencusikan para rasul dari kalangan malaikat, mensucikan para Rasul di antara manusia yang lain, mensucikan dzikir dari perkataan makhluk-Nya, mensucikan masjid dari tanah-tanah lain, mensucikan bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram di antara bulan-bulan lain, mensucikan hari jumat di antara hari-hari lain, mensucikan malam lailatul-qadr di antara malam-malam lain. Maka muliakanlah apa yang Allah s.w.t. telah muliakan. Sesungguhnya memuliakan apa yang Allah s.w.t. muliakan adalah yang dilakukan para ahli ilmu dan orang-orang berakal.” [ tafsir Ibnu Katsir 4/149 ]

Sunnah Puasa di Bulan-Bulan Haram

Ini adalah salah satu bentuk pemuliaan atau pernghormatan kepada bulan-bulan haram, yakni berpuasa di dalamnya. Selain untuk memuliakan apa yang Allah s.w.t. muliakan, berpuasa dan memperbanyak amal di bulan Haram adalah upaya memanfaatkan waktu yang Allah s.w.t. sediakan banyak pahala di dalamnya.

Selain karena memang bulan bulan haram adalah bulan mulia, puasa di dalamnya juga disyariatkan karena memang ada riwayat yang secara eksplisit mensyaratkan itu. Imam Ahmad dalam musnad-nya, serta imam Abu Dawud dan juga Imam Ibnu Majah dalam kitab sunan mereka meriwayatkan hadits dari salah seorang dari suku al-Bahilah:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَنَا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا لِي أَرَى جِسْمَكَ نَاحِلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا بِالنَّهَارِ مَا أَكَلْتُهُ إِلَّا بِاللَّيْلِ قَالَ مَنْ أَمَرَكَ أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمَيْنِ بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ أَشْهُرَ الْحُرُمِ

“aku mendatangi Nabi s.a.w. lalu aku berkata kepada beliau: “wahai Nabi, aku adalah orang yang pernah datang kepadamu di tahun pertama”, Nabi kemudian bertanya: “kenapa badan kamu menjadi kurus?”, ia menjawab: “aku –selama ini- tidak makan dalam sehari kecuali malam saja”, Nabi bertanya: “siapa yang menyuruhmu menyiksa tubuhmu seperti ini?”, aku –al-Bahiliy- menjawab: “wahai Nabi, aku ini orang yang kuat bahkan lebih kuat”, Nabi mengatakan: “Puasalah bulan sabar –bulan Ramadhan– saja, dan sehari setelahnya!”, lalu aku menjawab: “aku lebih kuat dari itu ya Nabi!”, Nabi menjawab: “kalau begitu, puasa ramadhan dan 2 hari setelahnya!”, aku menjawab lagi: “aku lebih kuat dari itu wahai Nabi!”, Nabi berkata: “Kalau begitu, puasa Ramadhan, kemudian 3 hari setelahnya, dan puasalah pada bulan bulan haram!”.

Puasa yang disebutkan adalah puasa secara mutlak, artinya puasa dengan waktu yang tidak tertentu, maka puasa di hari ke berapapun dalam bulan-bulan haram itu tidak masalah, karena memang itu disunnahkan. Jadi kalau ada yang melarang orang lain untuk puasa di bulan-bulan haram, bisa jadi ia tidak tahu kemuliaan bulan atau –ini yang buruk- bisa jadi ia mengingkari kemuliaan bulan yang Allah s.w.t. sudah muliakan. Naudzu Billah.

Haram Berperang di Bulan Haram

Awalnya, sebelum datang Islam, orang-orang Arab ketika itu sudah punya aturan tak tertulis yang dijalankan oleh seluruhnya bahwa dilarang melakukan peperang pada bulan-bulan haram. Dan ketika Islam masuk, aturan itu semakin diperkuat dengan turunnya surat al Baqarah ayat 217 :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّه

mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah

 

Ayat inilah yang menginformasikan kepada seluruh umat Islam bahwa bulan-bulan haram itu adalah bulan mulia yang diharamkan di dalamnya untuk menumpahkan darah, siapapun itu, baik muslim atau non-muslim.

Hanya saja kemudian ulama berbeda pendapat, beberapa dari mereka mengatakan bahwa kandungan hukum pada ayat ini, bahwa haram berperang pada bulan haram telah dihapus (mansukh) oleh ayat 36 surat al Taubah. Beberapa lainnya tetap berpendapat bahwa ayat ini tetap dan tidak dihapus oleh apapun.

Larangan Perang Telah Dihapus

Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama yang menyatakan bahwa ayat larangan berperang pada bulan haram telah dihapus, dan ini banyak disebutkan oleh para ahli tafsir, seperti Imam al Thabari, Imam Ibnu Katsir, Imam al Thabrani juga Imam al Syaukani dan yang lainnya.

Allah SWT berfirman dalam surat At Taubah ayat 36 :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً [ سورة التوبة:  ].

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (al taubah, 36)

Imam Ibnu Katsi menjelaskan perihal perintah memerangi kaum musyrik dalam ayat tersebut setelah melarang menganiaya:

وظاهر السياق مشعر بأنه أمر بذلك أمرًا عاما، فلو كان محرما ما في الشهر الحرام لأوشك أن يقيده بانسلاخها؛ ولأن رسول الله صلى الله عليه وسلم حاصر أهل الطائف في شهر حرام -وهو ذو القعدة –

“secara zahir, teks tersebut mempunyai arti bahwa perinta memerangi kaum musyrik itu adalah perintah umum (padahal sebelumnya melarang aniaya di bulan haram), kalau seandainya itu diharamkan, pastilah perintah memerangi musyrik itu diikat perintahnya dengan perintah menunggu berakhirnya bulan haram. Dan juga Nabi s.a.w. mengepung kaum Thaif pada bulan haram dan itu adalah dzulqa’dah.” (tafsir ibn Katsir 4/149)

Imam al-Thabari menguatkan pendapat tersebut, dalam kitabnya beliau mengatakan:

وإنما قلنا ذلك ناسخٌ لقوله:” يسألونك عن الشهر الحرام قتالٍ فيه قل قتالٌ فيه كبيرٌ” ، لتظاهر الأخبار عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه غزَا هوازن بحُنين وثقيفًا بالطائف، وأرسل أبا عامر إلى أوْطاس لحرب من بها من المشركين، في الأشهر الحرُم، وذلك في شوال وبعض ذي القعدة، وهو من الأشهر الحرم. فكان معلومًا بذلك أنه لو كان القتالُ فيهن حرامًا وفيه معصية، كان أبعد الناس من فعله صلى الله عليه وسلم.

“kami mengatakan bahw ayat itu (al-taubah, 36) sebagai penghapus ayat ‘ yasalunaka ‘an…..’ karena banyaknya zahir riwayat dari Nabi s.a.w., diriwayatkan bahwa beliau memerangi kaum Hawazan di Hunain dan kaum Tsaqif di Thaif, dan mengirim Abu ‘Amir ke Authas untuk memerangi kamu musyrik di situ, dan itu semua terjadi pada bulan haram, itu terjadi pada syawal dan masuk ke bulan dzulqa’dah. Dan sudah diketahui bahwasanya kalau perang di bulan haram dilarang berarti itu maksiat, dan Nabi s.a.w. adalah orang yang paling jauh dari maksiat.” (tafsir al-Thabari 4/314)

Beliau menambahkan:

وذلك أن هذه الآية – أعني قوله:” يسألونك عن الشهر الحرام قتال فيه” – في أمر عبد الله بن جحش وأصحابه، وما كان من أمرهم وأمر القتيل الذي قتلوه، فأنزل الله في أمره هذه الآية في آخر جمادى الآخرة من السنة الثانية من مَقْدَم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينةَ وهجرته إليها، وكانت وقعةُ حُنين والطائف في شوال من سنة ثمان من مقدمه المدينة وهجرته إليها

“dan ayat ini ‘yasalunaka ‘an…’ turun pada perkara Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawannya serta perihal orang yang mereka bunuh (dari kaum musyrik), Allah s.w.t. menurunkan ayat ini pada akhir bulan Jumadil Akhir di tahun ke-2 setelah hijrah Nabi s.a.w., sedangkan kejadian perang di Hunain dan Thaif itu terjadi di bulan syawwal pada tahun ke-8 setelah hijrah Nabi s.a.w. ke madinah”. (Tafsir al-Thabari 4/314)

Larangan Perang Bulan Haram Tidak Dihapus

Ini adalah pendapat sebagian ulama yang sebegaimana disebutkan oleh para ahli tafsir, salah satu tokoh kepalanya adalah Atha’ bin Aslam bin Abi Rabbah (114 H) pakar ilmu tafsir dari kalangan Tabi’in asal Yaman yang wafat di Mekah. Imam al Qurthubiy menukil pendapat tersebut dan menyatakan:

وَكَانَ عَطَاءٌ يَقُولُ: الْآيَةُ مُحْكَمَةٌ، وَلَا يَجُوزُ الْقِتَالُ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَيَحْلِفُ عَلَى ذَلِكَ، لِأَنَّ الْآيَاتِ الَّتِي وردت بعدها عامة في الأزمنة، وهذا خَاصٌّ وَالْعَامُّ لَا يَنْسَخُ الْخَاصَّ بِاتِّفَاقٍ. وَرَوَى أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُقَاتِلُ فِي الشَّهْرِ الْحَرَامِ إِلَّا أَنْ يُغْزَى

“Atho’ berkata: ayat ini muhkam (tidak dihapus). Tetap dilarang berperang pada bulan-bulan haram, dan beliau bersumpah atas pendapatnya ini, karena ayat larangannya umum untuk semua zaman, dan perintah memerangi kaum musyrik itu khusus, dan yang umum tidak dihapus dengan yang khusus, ini sudah disepakati. Dan diriwayatkan dari Abu Zubair r.a., beliau berkata: Rasul s.a.w. tidak berperang pada bulan haram kecuali jika diserang lebih dulu”. ( tafsir al-Qurthubiy 3/44 )

Selain itu, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan pendapat Atha’ ini dengan beberapa ayat di antaranya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلا الشَّهْرَ الْحَرَامَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan bulan haram” ( Al Maidah 2)

الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُم

“bulan Haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, Berlaku hukum qishaash. oleh sebab itu Barangsiapa yang menyerang kamu, Maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. [  al Baqarah: 194 ]

فَإِذَا انْسَلَخَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al Taubah: 5)

Dan –ditambahkan- adapun pengepunga tentara rasul s.a.w terhadap kaum Thaif itu yang terjadi pada bulan Dzulkaidah tidak bisa dikatakan sebagai nasikh, karena itu terjadi sejak syawal dan sampai memasuki bulan Dzulkaidah. Jadi keharaman perang bulan haram tetap terlarang, akan tetapi kalau perangnya sudah mulai sejak sebelumnya tidak ada masalah. ( Tafsir Ibn Katsir 4/150, Fathul-Qadir Imam al-Syaukani 2/239 )

Artinya memulai perang di bulan haram yang diharamkan, akan tetapi jika perangnya mulai bukan dibulan haram, tapi kemudian berlanjut sampai bulan haram itu tidak mengapa.

Mana yang Lebih Utama?

Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun An Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini.

Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh An Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh Ibnu Rajab dalam Latho-if Al Ma’arif (hal. 203).

Hati-Hati dengan Maksiat di Bulan Haram

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” ( Latho-if Al Ma’arif, 207 )

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

.