بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

1. Harus segera belajar dan bersunguh sungguh belajar sampai benar bacaannya.
Imam Al Qurtubi berkata : Dia harus segera memulai belajar surat al Faatihah, dengan sungguh-sungguh tidak lebih dari itu, sampai meninggal.

Jika tidak mampu dan dia telah bersungguh sungguh maka Allah ﷻ memberikan udzur padanya. [ Lihat Jami’ ahkam Al-Qur’an juz 1 hal 136.]

Bahkan sebagian ulama mengatakan : Jika dia bermalas malasan untuk belajar maka dia berkewajiban mengganti shalat shalat yang dia tidak membaca Al Faatihah didalamnya karena telah meninggalkan yang wajib padahal dia mampu. [2]

2. Saat sedang dalam proses belajar atau tidak mampu belajar, maka wajib baginya menjaga shalat jamaah sehingga bermakmum kepada imam yang bacaannya benar. [ Al Muhadzdzab juz 3 hal 347, Al Majmu’ juz 3 hal 374, Al Mughni juz 1 hal 289 ]

3. Jika tidak menemukan shalat jamaah maka ada perinciaannya, yaitu :

    • Jika tidak bisa sama sekali membaca surat Al Faatihah ataupun surat lain dalam Al Quran dan yang mampu hanya dzikir, maka dianjurakan baginya membaca dzikir kepada Allah semampunya. [ Al Muhadzdzab jus 3 hal 347, Al Majmu’ juz 3 hal 377, hilyatul ulama juz 2 hal 91 dan Kasyful Qina’ juz 1 hal 341 ]
    • Jika yang dia mampu cuma sebagian dari surat Al fatihah dan sedikit ayat dari Al Quran selain Al Faatihah maka dia dibolehkan baginya membaca sebagian dari surat Al faatihah yang dia mampu kemudian membaca ayat lain yang dia mampu atau dzikir kepada Allah ﷻ, dibolehkan membaca dzikir saja
    • Jika dia tidak hafal satu ayatpun dari Al Quran. [ Lihat Fathul Aziz juz 3 hal 344 dan Al majmu’ juz 3 hal 376 ]
    • Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Al Hakim : Ada seorang sahabat datang kepada Rasulullah shalalahu’alaihiwasalam dan bertanya: Wahai Rasulullah ajari aku sesuatu yang mencukupkan bagiku dari Al Qur’an karena sesungguhnya aku tidak bisa membaca. Kemudian beliau bersabda: Bacalah Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallah wallahu akbar walaa haula walaa quwwata illa billah. [ Lihat Al Mustadrak karya Al Hakim juz 1 hal 367, hadits shahih menurut syarat imam Al Bukhari ]
    • Dalam konteks shalat, ulama fuqaha (ahli syariah) menyikapi orang yang tidak mampu membaca bacaan wajib, seperti bacaan Al Faatihah dan tahiyat, dalam shalat sebagai berikut :Al-Syairazi dalam Al-Muhadzab, hlm. 2/140, menyatakan :
      ( فإن لم يحسن الفاتحة وأحسن غيرها ، قرأ سبع آيات ، وهل يعتبر أن يكون فيها بقدر حروف الفاتحة ؟ فيه قولان . ( أحدهما ) : لا يعتبر ، كما إذا فاته صوم يوم طويل لم يعتبر أن يكون القضاء في يوم بقدر ساعات الأداء ، ( والثاني ) : يعتبر وهو الأصح ; لأنه لما اعتبر عدد آي الفاتحة اعتبر قدر حروفها ، ويخالف الصوم ، فإنه لا يمكن اعتبار المقدار في الساعات إلا بمشقة ، فإن لم يحسن شيئا من القرآن لزمه أن يأتي بذكر ، لما روى عبد الله بن أبي أوفى : رضي الله عنه { أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : إني لا أستطيع أن أحفظ شيئا من القرآن فعلمني ما يجزيني في الصلاة ، فقال : سبحان الله والحمد لله ، ولا إله إلا الله ، والله أكبر ، ولا حول ولا قوة إلا بالله } ; ولأنه ركن من أركان الصلاة ، فجاز أن ينتقل فيه عند العجز إلى بدل كالقيام . .. فإن لم يحسن شيئا من القرآن ولا من الذكر قام بقدر سبع آيات ، وعليه أن يتعلم

      Apabila tidak bagus bacaan Al Faatihah-nya dan bisa bacaan Quran yang lain, maka dia boleh membaca 7 ayat… Apabila tidak bisa Quran sama sekali maka dia harus bacaan dzikir berdasarkan hadits dari Abdullah bin Abu Aufa, “Bahwa seorang lelaki bertanya pada Rasulullah ‘Saya tidak bisa menghafal Quran sedikitpun, maka ajarkan aku bacaan yang membuat shalatku sah.’ Nabi menjawab, ‘Subhanallah walhamdulillah wa lailaha illallah wallahu akbar wala hawla wala quwwata illa billah'” Karena membaca itu kewajiban dalam shalat maka boleh berpindah pada bacaan lain apabila tidak mampu (membaca Al Faatihah) sebagaimana berdiri… Apabila tidak membaca apapun baik Al-Quran atau dzikir maka hendaknya ia berdiri selama yang lamanya sama dengan bacaan 7 ayat Al Faatihah dan wajib baginya untuk belajar.

    • Dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang tidak hafal Al-Fatihah diperintahkan membaca :

       سبحان الله والحمد لله ، ولا إله إلا الله ، والله أكبر ، ولا حول ولا قوة إلا بالله

      “Maha Suci Allah, segala puji milik Allah, tidak ada tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah.”

      HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Hakim, Thabarani, dan Ibnu Hibban. Disahkan oleh Hakim dan disetujui Dzahabi. Baca Al-Irwa’ Hadits no. 303

    • Lihat Al Muhadzdzab Juz 3 hal 374

4.  Hukum Membawa Kertas atau Quran Saat Shalat Untuk Dibaca

Cara terbaik apabila sulit menghafal bacaan shalat seperti A Fatihah dan tahiyat adalah membawa kertas yang berisi bacaan tersebut sehingga tetap dapat membaca Al-Fatihah walaupun belum hafal. Ini diperbolehkan asalkan saat mengambil kertas dan menaruhnya kembali tidak terlalu banyak membuat gerakan.

Imam Bukhari dalam Sahih Bukhari menyatakan :

باب إمامة العبد والمولى وكانت عائشة يؤمها عبدها ذكوان من المصحف

Artinya : Jadi imamnya budak dan Aisyah bermakmum pada budaknya Dzakwan yang (membaca) dari mushaf Al Quran.

Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 2/569, menjelaskan maksud hadits di atas :

قوله : ( في المصحف ) استدل به على جواز قراءة المصلي من المصحف

Artinya : Kata “dalam mushaf” Imam Syafi’i menjadikan ini sebagai dalil atas bolehnya bacaan orang shalat dari mushaf (maksudnya: dengan membawa Al-Quran).

5. Jika tidak menemukan shalat jamaah dan tidak bisa membaca satu ayatpun dari Al Qur’an serta tidak mampu berdzikir, maka tetap diperintahkan shalat. Hendaknya dia tetap shalat dengan diam tanpa membaca apapun tetapi diajurkan untuk khusu’ walaupun dalam keadaan shalat seperti itu.[ Lihat Hilyatul Ulama juz 2 hal 91 dan Al Majmu’ juz 3 hal 3 ]

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
. .