بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sebagian orang orang kafir sering mengatakan bahwa ilmu hadis sejatinya baru ada 200 tahun setelah wafatnya Rasulullah.  Sehingga bisa disebut seluruh hadis yang ada, tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Sejatinya ilmu itu sudah dimulai sejak generasi pertama di zaman Rasulullah ﷺ, dan telah mencakup satu bagian besar dari hadits. Apa yang ditemukan oleh orang yang meneliti kitab-kitab yang disusun tentang para perawi hadits dan teks-teks sejarah yang memberitakan biografi mereka, maka kitab-kitab mereka itu akan menetapkan ilmu hadits itu dengan rupa yang sangat luas. Dimana hal ini menunjukkan akan menyebarnya pengkodifikasian hadits, dan banyaknya dalam masa itu.

Di saat kita meneliti secara ilmiah lagi benar, kita akan menemukan bahwa permulaan penulisan hadits telah dilakukan di awal abad kedua, yaitu antara tahun 120 – 130 H. dengan bukti nyata yang menjelaskan kepada kita. Terdapat sejumlah kitab, yang penulisnya telah wafat di tengah abad kedua. Seperti Jami’ Ma’mar bin Rasyid (W. 145 H), Jami’ Sufyan ats-Tsauri (W. 161 H), Hisyam bin Hisan (W. 148 H), Ibnu Juraij (W. 150 H), dan banyak lagi selain mereka.

Para ulama hadits, telah meletakkan syarat-syarat demi menerima hadits, yang syarat itu mampu menjamin penukilannya melalui berbagai generasi dengan amanah dan kepastian. Hingga menjadikan hadits tersebut tersampaikan seperti halnya didengar langsung dari Rasulullah ﷺ. Terdapat syarat-syarat yang mereka tetapkan dalam perawi (orang yang menyampaikan hadits) yang mencakup di dalamnya puncak kejujuran, keadilan, dan amanah, disertai dengan penguasaan sempurna bagi perilaku, dan pengembanan tanggung jawab.

Sebagaimana syarat itu mencakup kekuatan hafalan, mengikat dengan dadanya (hafalan), atau dengan tulisannya, atau dengan keduanya secara bersamaan. Yang memungkinkan baginya untuk menghadirkan hadits tersebut, serta menunaikannya sebagaimana dia mendengarnya. Syarat-syarat yang disyaratkan oleh ahli hadits untuk hadits yang shahih dan hasan itu pun menjadi jelas. Yaitu syarat-syarat yang mencakup terpercayanya perawi hadits, kemudian selamatnya penukilan hadits di antara mata rantai sanad, bersihnya hadits itu dari segala cacad yang tampak maupun yang tersembunyi, serta ketelitian para ahli hadits dalam mempraktekkan syarat-syarat tersebut serta kaidah dalam menghukumi hadits dengan dhai’f hanya karena tidak ada bukti akan keshahihannya, tanpa harus menunggu datangnya dalil yang berseberangan dengannya.

Para ulama ahli hadits tidak mencukupkan diri dengan ini, bahkan mereka meletakkan syarat-syarat dalam periwayatan yang tertulis.  Para ulama ahli hadits telah memberikan syarat periwayatan yang tertulis dengan syarat-syarat hadits shahih. Oleh karena itulah kita menemukan di atas manuskrip hadits rangkaian sanad (transmisi periwayatan) kitab dari satu perawi ke perawi yang lain hingga sampai kepada penulisnya. Kemudian, di atasnya kita menemukan penetapan pendengaran, serta tulisan penulis atau Syaikh yang didengar yang meriwayatkan satu naskah dari naskah penulis atau dari cabangnya. Maka jadilah metode para ahli hadits lebih kuat, lebih hikmah, dan lebih agung dari segala metode dalam menilai periwayatan, dan sanad yang tertulis.

Maka janganlah Anda menyangka bahwa pembahasan sanad menunggu dua ratus tahun sebagaimana ucapan Anda. Akan tetapi para sahabat Rasulullah ﷺ telah meneliti dan mencari-cari sanad sejak zaman pertama saat terjadi fitnah pembunuhan terhadap Khalifah ar-Rasyid Utsman Radhiallahu ‘Anhu tahun 35 H, yang kemudian kaum muslimin membuat satu contoh istimewa di dunia tentang sanad. Dimana mereka melakukan perjalanan ke berbagai negeri demi mencari hadits, menguji para perawi hadits, hingga perjalanan mencari hadits menjadi syarat pokok penentuan hadits.

Para ulama ahli hadits tidak lalai dari apa yang dibuat-buat oleh para pemalsu hadits dari golongan ahlu bid’ah, dan mazdhab-mazdhab politik. Bahkan mereka bersegera untuk memeranginya dengan mengikuti sarana-sarana ilmiah demi membentengi sunnah. Maka mereka pun meletakkan kaidah-kaidah, serta aturan-aturan bagi para perawi ahli bid’ah, serta penjelasan sebab-sebab pemalsuan hadits dan tanda-tanda haditshadits palsu.

Ilmu hadits, dengan berbagai syarat yang ada di dalamnya, tidak pernah ditemukan pada umat mana pun selain umat Islam, satu-satunya umat yang menjaga agamanya. Maka bandingkanlah cara penuh hikmah yang ada pada kaum muslimin dengan kitab-kitab Nasrani yang merupakan dongeng-dongeng yang para peneliti menemukan berbagai kesalahan, kontradiksi dan berbagai perubahan.

Kemudian lihatlah kepada ilmu sanad pada kaum muslimin, yang dengannya mereka menyendiri dari segenap umat manusia, karena mereka telah menjamin keselamatan rangkaian periwayatan hadits hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ dari segala cacad dengan ilmu isnad yang tidak ada di umat mana pun. Ilmu ini tidak ada pada orang-orang Nasrani. Maka tidak heran jika kita menemukan dalam kitab-kitab mereka, ‘Yesus berkata’, ‘Paulus berkata’ tanpa ada sanad (jalur periwayatannya), dan tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana hal itu bisa sampai.*

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ