بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah dan turun ayat yang mewajibkan Haji, Rasulullah ﷺ hanya sempat berhaji sebanyak satu kali yaitu Haji Wada’ pada tahun 10 H dan berumroh sebanyak empat kali.

Adapun sebelum Hijrah, Rasulullah ﷺ berhaji berkali-kali dan hanya Allah yang tahu berapa banyak persisnya.

Haji baru diwajibkan setelah Rasulullah ﷺ berhijrah ke Madinah, yaitu pada tahun 6 Hijriyah (pendapat lain tahun 9 Hijriyyah).

Ketika itu, turun Firman Allah ﷻ dalam Al Quran surat Ali ‘Imran [3] ayat 97 :

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ 97

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

 

Namun, situasi dan kondisi perjuangan dakwah Rasulullah ﷺ membuat beliau ﷺ  baru sanggup melaksanakan kewajiban Haji ini pada tahun 10 H bersama 100.000 lebih kaum Muslimin yang dikenal dalam sejarah dengan nama Haji Wada’

Haji Wada’

Dinamakan Haji Wada’  atau Haji perpisahan karena Nabi ﷺ dalam Haji tersebut mengucapkan Khutbah yang mengandung pesan perpisahan, seakan-akan itu adalah Haji yang terakhir.

Dinamakan Haji Balagh (Haji penyampaian), karena pada waktu Haji tersebut Rasulullah ﷺ berkhutbah dengan banyak nasihat, dan setiap kali menyampaikan satu nasihat beliau bertanya kepada hadirin : apakah aku telah menyampaikan? Dan hadirin menjawab ; ya. Lalu beliau bersabda ; Ya Allah saksikanlah.

Dinamakan Haji Islam , karena Haji tersebut adalah satu-satunya Haji yang ditunaikan Rasulullah ﷺ setelah diwajibkan.

Jadi, Haji Wada’ adalah satu-satunya Haji yang ditunaikan Rasulullah ﷺ setelah diwajibkan. Haji Wada’ memiliki sejumlah nama lain sebagaimana yang telah dijelaskan, namun semuanya menunjuk satu peristiwa Haji Nabi, yaitu Haji Wada’ yang beliau lakukan pada tahun 10 H.

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ hanya berhaji satu kali setelah Hijrah adalah Hadis berikut :

حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، قَالَ: قُلْتُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: كَمْ حَجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: ” حَجَّةً وَاحِدَةً، وَاعْتَمَرَ أَرْبَعَ عُمَرٍ: عُمْرَةٌ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةُ الحُدَيْبِيَةِ، وَعُمْرَةٌ مَعَ حَجَّتِهِ، وَعُمْرَةُ الجِعِرَّانَةِ، إِذْ قَسَّمَ غَنِيمَةَ حُنَيْن

Qatadah bercerita : “Aku bertanya kepada Anas bin Malik : ‘Berapa kali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan haji? ‘ Dia menjawab :  ‘1kali dan berumrah 4 kali umrah’; satu kali di bulan Dzul Qa’dah, umrah Hudaibiyah, umrah bersama haji dan umrah Ji’ronah tatkala membagi harta rampasan perang Hunain. [ HR. Tirmidzi no.815. Dishahihkan oleh Al Albani ]

 

Hadits Bukhari No.1652 Secara Lengkap

 

Hadits Bukhari 1652

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ دَخَلْتُ أَنَا وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ الْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا جَالِسٌ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَةَ وَإِذَا نَاسٌ يُصَلُّونَ فِي الْمَسْجِدِ صَلَاةَ الضُّحَى قَالَ فَسَأَلْنَاهُ عَنْ صَلَاتِهِمْ فَقَالَ بِدْعَةٌ ثُمَّ قَالَ لَهُ كَمْ اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعًا إِحْدَاهُنَّ فِي رَجَبٍ فَكَرِهْنَا أَنْ نَرُدَّ عَلَيْهِ قَالَ وَسَمِعْنَا اسْتِنَانَ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فِي الْحُجْرَةِ فَقَالَ عُرْوَةُ يَا أُمَّاهُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَلَا تَسْمَعِينَ مَا يَقُولُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَتْ مَا يَقُولُ قَالَ يَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ أَرْبَعَ عُمَرَاتٍ إِحْدَاهُنَّ فِي رَجَبٍ قَالَتْ يَرْحَمُ اللَّهُ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا اعْتَمَرَ عُمْرَةً إِلَّا وَهُوَ شَاهِدُهُ وَمَا اعْتَمَرَ فِي رَجَبٍ قَطُّ

Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Manshur] dari [Mujahid] berkata; Ketika aku dan ‘Urwah bin Az Zubair masuk kedalam masjid disana ada [‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu] sedang duduk di bilik rumah ‘Aisyah رضي الله عنه‎‎, sedang orang-orang melaksanakan shalat Dhuha dalam masjid”.

Dia (Mujahid) berkata : “Maka kami bertanya kepadanya tentang shalat yang mereka kerjakan, maka dia berkata: “Itu adalah bid’ah”.

Kemudian dia berkata lagi kepadanya: “Berapa kali Rasulullah ﷺ  pernah melaksanakan ‘umrah?” Dia menjawab: “4 kali, satu diantaranya pada bulan Rajab”. Maka kami pun enggan untuk membantahnya.

Mujahid melanjutkan : Kemudian kami mendengar suara [ Aisyah radliallahu ‘anha] Ummul Mu’minin sedang menggosok gigi dari balik rumahnya, maka ‘Urwah bertanya : “Wahai ibunda, wahai Ummul Mu’minin, apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Abu ‘Abdurrahman?

Aisyah رضي الله عنه‎‎ berkata : “Apa yang telah dikatakannya? ‘Urwah menjawab ; Dia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ melaksanakan ‘umrah sebanyak empat kali satu diantaranya pada bulan Rajab”.

Aisyah رضي الله عنه‎‎ berkata: “Semoga Allah merahmati Abu ‘Abdurrahman, tidaklah Beliau melaksanakan ‘umrah sekalipun melainkan aku selalu mengikutinya dan Rasulullah ﷺ tidak pernah melaksanakan ‘umrah pada bulan Rajab sekalipun”.

Hadits Bukhari 1653

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَجَبٍ

Rasulullah tak pernah melaksanakan ‘umrah pada bulan Rajab. [HR. Bukhari No.1653].

 

Hadits Bukhari No.1653 Secara Lengkap

Telah menceritakan kepada kami [Abu ‘Ashim] telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Juraij] berkata, telah mengabarkan kepada saya [‘Atho’] dari [‘Urwah bin Az Zubair] berkata : Aku bertanya kepada [ Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

] : Maka dia menjawab : Rasulullah ﷺ tidak pernah melaksanakan ‘umrah pada bulan Rajab”.

Hadits Bukhari 1654

حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ حَسَّانٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ سَأَلْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَمْ اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ عُمْرَةُ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ حَيْثُ صَدَّهُ الْمُشْرِكُونَ وَعُمْرَةٌ مِنْ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ حَيْثُ صَالَحَهُمْ وَعُمْرَةُ الْجِعِرَّانَةِ إِذْ قَسَمَ غَنِيمَةَ أُرَاهُ حُنَيْنٍ قُلْتُ كَمْ حَجَّ قَالَ وَاحِدَةً

Hassan bin Hassan mengatakan kepada kami,  Qatada bertanya kepada Anas رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :  berapa banyak Umrah Nabi ﷺ.  Annas mengatakan 4 kali.  Umrah saat Hudaybiyah pada bulan Dzul Qa’dah saat Kaum Musyrikin menghalangi Beliau, umrah pada tahun berikutnya pada bulan Dzul Qa’dah setelah melakukan perjanjian damai dgn mereka & ‘umrah Al Ji’ranah ketika Beliau membagi-bagikan ghanimah (harta rampasan perang). Aku menduga yg dimaksudnya adl ghanimah perang Hunain. Aku tanyakan lagi: Berapa kali Beliau menunaikan haji?. Dia menjawab: Satu kali. [HR. Bukhari No.1654].

Hadits Bukhari No.1654 Secara Lengkap

Telah menceritakan kepada kami [Hassan bin Hassan] telah menceritakan kepada kami [Hammam] dari [Qatadah] ; Aku bertanya kepada [Anas radliallahu ‘anhu]: Berapa kali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan ‘umrah?”. Dia menjawab : “4 kali. Diantaranya, ‘umrah Al Hudaibiyah pada bulan Dzul Qa’dah saat Kaum Musyrikin menghalangi Beliau, ‘umrah pada tahun berikutnya pada bulan Dzul Qa’dah setelah melakukan perjanjian damai dengan mereka dan ‘umrah Al Ji’ranah ketika Beliau membagi-bagikan ghanimah (harta rampasan perang). Aku menduga yang dimaksudnya adalah ghanimah perang Hunain. Aku tanyakan lagi: “Berapa kali Beliau menunaikan haji?”. Dia menjawab : “Satu kali”.]]]

Hadits Bukhari 1655

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ رَدُّوهُ وَمِنْ الْقَابِلِ عُمْرَةَ الْحُدَيْبِيَةِ وَعُمْرَةً فِي ذِي الْقَعْدَةِ وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ حَدَّثَنَا هُدْبَةُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ وَقَالَ اعْتَمَرَ أَرْبَعَ عُمَرٍ فِي ذِي الْقَعْدَةِ إِلَّا الَّتِي اعْتَمَرَ مَعَ حَجَّتِهِ عُمْرَتَهُ مِنْ الْحُدَيْبِيَةِ وَمِنْ الْعَامِ الْمُقْبِلِ وَمِنْ الْجِعْرَانَةِ حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ

Nabi melaksanakan ‘umrah sebanyak 4 kali. Yaitu ‘umrah ketika mereka (Kaum Musyrikin) menghalangi Beliau, ‘umrah pada tahun berikutnya yaitu ‘umrah Al Hudaibiyah, ‘umrah pada bulan Dzul Qa’dah & ‘umrah saat Beliau menunaikan haji. Telah menceritakan kepada kami Hudbah telah menceritakan kepada kami Hammam & dia berkata :
Beliau melaksanakan ‘umrah sebanyak 3 kali yg kesemuanya pada bulan Dzul Qa’dah kecuali ‘umrah yg Beliau laksanakan bersama hajinya. Yaitu ‘umrah Beliau dari Al Hudaibiyah, ‘umrah pada tahun berikutnya, ‘umrah Al Ji’ranah saat Beliau membagi-bagikan ghanimah (harta rampasan perang) Hunain & ‘umrah dalam ‘ibadah haji Beliau. [HR. Bukhari No.1655].

Hadits Bukhari No.1655 Secara Lengkap

[[[Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Walid Hisyam bin ‘Abdul Malik] telah menceritakan kepada kami [Hammam] dari [Qatadah] berkata; Aku bertanya kepada [Anas radliallahu ‘anhu] tentang sesuatu, lalu dia berkata : “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan ‘umrah sebanyak empat kali. Yaitu ‘umrah ketika mereka (Kaum Musyrikin) menghalangi Beliau, ‘umrah pada tahun berikutnya yaitu ‘umrah Al Hudaibiyah, ‘umrah pada bulan Dzul Qa’dah dan ‘umrah saat Beliau menunaikan haji”. Telah menceritakan kepada kami [Hudbah] telah menceritakan kepada kami [Hammam] dan dia berkata : “Rasulullah ﷺ  melaksanakan ‘umrah sebanyak 4 kali yang kesemuanya pada bulan Dzul Qa’dah kecuali ‘umrah yang Beliau laksanakan bersama hajinya. Yaitu ‘umrah Beliau dari Al Hudaibiyah, ‘umrah pada tahun berikutnya, ‘umrah Al Ji’ranah saat Beliau membagi-bagikan ghanimah (harta rampasan perang) Hunain dan ‘umrah dalam ‘ibadah haji Beliau”.]]]

Hadits Bukhari 1656

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا شُرَيْحُ بْنُ مَسْلَمَةَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ سَأَلْتُ مَسْرُوقًا وَعَطَاءً وَمُجَاهِدًا فَقَالُوا اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذِي الْقَعْدَةِ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ وَقَالَ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذِي الْقَعْدَةِ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ مَرَّتَيْنِ

Rasulullah ﷺ  melaksanakan ‘umrah pada bulan Dzul Qa’dah sebelum Beliau menunaikan haji sebanyak dua kali. [HR. Bukhari No.1656].

Hadits Bukhari No.1656 Secara Lengkap

[[[Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin ‘Utsman] telah menceritakan kepada kami [Syuraih bin Maslamah] telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Yusuf] dari [bapaknya] dari [Abu Ishaq] berkata: Aku bertanya kepada [Masruq]. [‘Atho’] dan [Mujahid]. Mereka menjawab : “Rasulullah ﷺ  melaksanakan ‘umrah pada bulan Dzul Qa’dah sebelum Beliau menunaikan haji”. Dan dia (Abu Ishaq) berkata : Aku mendengar [Al Bara’ bin ‘Azib radliallahu ‘anhuma] berkata: “Rasulullah ﷺ  melaksanakan ‘umrah pada bulan Dzul Qa’dah sebelum Beliau menunaikan haji sebanyak dua kali”.]

Riwayat Bukhari berbunyi :

Dari Zaid bin Arqam bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berperang sebanyak sembilan belas peperangan. Dan beliau melaksanakan Haji setelah Hijrah sebanyak satu kali, dan tidak melaksanakan Haji setelah itu. Haji itu adalah Haji Wada’ . (H.R. Bukhari)

Riwayat Muslim berbunyi :

dari Abu Ishaq ia berkata; saya bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Berapa kali Anda berperang bersama dengan Rasulullah ﷺ ?” Ia menjawab, “17 kali.” Abu Ishaq berkata ; Dan telah menceritakan kepadaku Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah ﷺ  telah berperang sebanyak 19 kali, dan setelah Hijrah beliau mengerjakan Haji hanya sekali, yaitu Haji Wada’ (H.R. Muslim)

Adapun sebelum Hijrah, Rasulullah ﷺ  juga berhaji sebagaimana tampak dalam riwayat berikut :

Dari ‘Amr dia mendangar Muhammad bin Jubair dari bapaknya, Jubair bin Muth’im berkata : “Aku kehilangan seekor unta milikku, maka aku keluar mencarinya pada hari ‘Arafah. Disana aku melihat Rasulullah ﷺ sedang wuquf di ‘Arafah. Aku berkata : “Demi Allah, dia dari Al Humus (Quraisy), apa yang dilakukannya disini?”. (H.R. Bukhari)

Jubair bin Muth’im pada saat peristiwa kehilangan untanya ini masih kafir dan baru masuk Islam saat Fathu Mekah (pendapat lain; saat perang Khoibar). Karena itu para ulama sepakat bahawa Jubair bin Muth’im ketika melihat Rasulullah ﷺ  Wukuf di Arofah dalam riwayat ini adalah pada saat beliau masih di Mekah, artinya belum berhijrah. Karena itu, riwayat ini bermakna Rasulullah ﷺ  juga berhaji saat beliau masih di Mekah.

Namun jumlah persis berapa kali Rasulullah ﷺ  berhaji saat masih di Mekah sebelum Hijrah tidak diketahui, karena tidak ada riwayat shahih yang menunjukkan hal tersebut. Adapun Hadis riwayat At-Tirmidzi yang menunjukkan bahwa Nabi berhaji dua kali sebelum Hijrah, yakni riwayat yang berbunyi :

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu Ziyad Al Kufi telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab dari Sufyan dari Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah ﷺ telah melaksanakan Haji sebanyak tiga kali; dua kali beliau lakukan sebelum Hijrah dan satu kali setelah Hijrah beserta umrah dengan membawa enam puluh tiga ekor badanah (unta). Lalu Ali tiba dari Yaman dengan membawa sisanya, di antaranya terdapat unta Abu Jahal pada hidungnya terdapat lingkaran dari perak.

Kemudian Rasulullah ﷺ  menyembelihnya. Beliau juga memerintahkan (untuk mengambil) sebagian dari tiap-tiap unta untuk dimasak. Lalu beliau meminum kuahnya. Abu ‘Isa berkata ; “Ini merupakan hadits gharib dari hadits Sufyan, yang tidak kami ketahui kecuali dari hadits Zaid bin Hubab. Saya melihat Abdullah bin Abdurrahman meriwayatkan hadits ini dalam buku-bukunya, dari Abdullah bin Abu Ziyad. (Abu Isa At Tirmidzi) berkata ; “Saya bertanya kepada Muhammad tentang hadits ini, namun dia tidak mengetahuinya dari hadits Ats Tsauri dari Ja’far dari ayahnya dari Jabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya melihat (Muhammad) tidak memasukannya dalam hadits yang mahfuzh, dia berkata ; ‘Akan tetapi diriwayatkan dari Ats Tsauri dari Abu Ishaq dari Mujahid secara mursal’.” (H.R. At-Tirmidzi)

Maka, riwayat ini adalah riwayat Syadz sehingga terkategori Hadis Dhoif yang tidak bisa dijadikan pegangan. At-Tirmidzi sendiri yang meriwayatkan Hadis ini menggolongkannya sebagai Hadis Ghorib. Ketika At-Tirmidzi menanyakan kepada Bukhari kualitas Hadis ini, At-Tirmidzi memahami dari penjelasan Bukhari bahwa Hadis ini tergolong Hadis Syadz.

Ibnu Hajar Al-‘Asqolani dalam kitabnya Fathul Bari, syarah Shahih Bukhari menegaskan bahwa Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam berhaji berkali-kali saat berada di Mekah, namun tidak menjelaskan angka persisnya. Beliau berkata;

Rasulullah ﷺ berhaji sebelum Hijrah berkali-kali. Bahkan, yang tidak ada keraguan lagi adalah beliau tidak pernah meninggalkan Haji sama sekali pada saat di Mekah” (Fathu Al-Bari, vol. 12 hlm 222)

Jadi, Rasulullah ﷺ  hanya berhaji satu kali selama hidup di Madinah (setelah Hijrah), dan berhaji berkali-kali (dengan jumlah yang diketahui Allah) ketika berada di Mekah. Wallahua’lam.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ