بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Talaqqi adalah kata kata arab yang berasal dari kalimah laqia ; yang maknanya berjumpa. Yang dimaksudkan berjumpa adalah antara murid dengan guru.

Jadi talaqqi dari segi bahasa diambil daripada perkataan yaitu belajar secara berhadapan dengan guru. Sering pula disebut Musyafahah, yang bermakna dari mulut ke mulut (pelajar belajar Al Quran dengan memperhatikan gerak bibir guru untuk mendapatkan pengucapan makhraj yang benar).

Secara lebih khusus, Talaqqi artinya belajar ilmu agama secara langsung kepada guru yang mempunyai kompetensi ilmu, tsiqah, dhabit dan mempunyai sanad keilmuan yang muttashil sampai ke Rasulullah Shallaahu ‘Alaihi Wa Sallam melalui para ‘Ulama ‘Aalimin ‘Aarifin.

Nah sekarang, apakah dalam belajar membaca ataupun belajar ilmu ilmu yang terkait dengan Al Quran, harus dilakukan dengan proses atau metode talaqi ?

Jadi kita harus berguru pada seseorang, dan tidak bisa belajar seorang diri.  Apalagi sekarang adalah jaman internet, tentu proses belajar jauh lebih mudah dibanding jaman dahulu.  Tanpa harus bertemu dengan guru, seseorang bisa belajar banyak hal.

Al Quran Adalah Bacaan

Sebelum kita bahas pertanyaan diatas, kita harus pahami dulu bahwa pada prinsipnya Al-Quran bukanlah “tulisan” (rasm), tetapi “bacaan” (qira’ah), dalam arti ucapan dan sebutan.

Baik proses turun-(pewahyuan)-nya maupun penyampaian, pengajaran dan periwayatan-(transmisi)-nya dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan tulisan. Karena itu, dari dahulu yang dimaksud dengan “membaca” Al Qu’an adalah membaca dari ingatan (qara’a ‘an zhahri qalbin). Sedangkan tulisan berfungsi sebagai penunjang semata. Sebab sumber semua tulisan itu sendiri adalah hafalan, atau apa yang sebelumnya telah tertera dalam ingatan sang qari’

Selain itu, sebagaimana diketahui, karakter huruf arab sangat jauh berbeda dengan huruf latin. Malah kalau boleh dibilang, semua huruf arab itu tidak ada padanannya dalam huruf latin.

Tidak ada orang yang bisa menyebutkan huruf “syin” seperti dalam kata “Syajarah”, kecuali dia belajar dulu membunyikannya di depan seorang yang ahli membaca Al-Quran. Sebab huruf ‘syin’ itu punya karakter, sifat dan cara membunyikan yang spesifik, unik dan tidak ada padananya dalam bahasa lain.

Demikian juga tidak ada orang yang bisa menyebutkan huruf ‘ain seperti dalam kata ‘ibadah. Huruf ‘ain itu tidak bisa diwakili oleh koma, atau apostrop atau apapun. Karena huruf ‘ain itu punya karakter, sifat dan cara melafazkan yang teramat unik. Hanya orang yang belajar Al-Quran dengan talaqqi saja yang bisa melafazkan dengan benar.

Karena itulah, Al Quran tidak pernah diajarkan lewat tulisan dan huruf. Al-Quran diajarkan lewat mendengarkan dan mengucapkan/mengulang apa yang didengarkan, untuk mengetahui, apakah sudah benar pengucapan kalimat yang ada dalam Al Quran.

Bagaimana Rasulullah Belajar Al Quran

Berikut ada sebuah cerita dan latar belakang kenapa Al Quran harus dipelajari dan dibaca secara benar.

Nabi Muhammad ﷺ, lahir dan dibesarkan di tengah kabilah bangsa Arab yang dikenal sangat menjunjung sastra dan kefasihan, kabilah quraisy. Tak seorang mukmin pun meragukan kecakapan tutur kata dan kefasihan Rasulullah ﷺ.

Kejadian ini terjadi pada saat Rasulullah ﷺ menerima wahyu al Quran yang disampaikan melalui Jibril عليه السلام.  Rasul ﷺ sebagai seorang yang ummi (tidak mengenal tulisan dan tidak bisa membaca) memiliki semangat belajar yang tinggi.

Saat menerima wahyu, Rasul menggerak-gerakkan lidah, pertanda ingin segera mampu menghafal dan menguasai cara baca al Quran. Kejadian inilah yang melatarbelakangi turunnya surat al Qiyaamah [75] ayat 16 -18.  Sebagai satu teguran bagi Rasulullah ﷺ dan merupakan etika serta metode mempelajari cara membaca Al Quran.

 لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ 16

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya.

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ 17

Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.

 فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ 18

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.

 

Subhanallah.., betapa bacaan al Quran telah dikhususkan oleh Allah ﷻ sehingga cara bacanya pun tidak dapat disamakan dengan bacaan bahasa Arab pada umumnya. Sedangkan Muhammad bin Abdillah adalah putra Arab yang sangat fasih dalam berbicara.

Pada ayat ke-18 Allah ﷻ, menegaskan suatu metode pembelajaran yang kemudian terwarisi turun temurun oleh para sahabat, tabi’in, tabi’ittabi’in hingga zaman ini.

Metode inilah yang dikenal dengan sebutan talaqqi. Kalau saja seorang yang fasih berbahasa Arab harus ditalaqqi bacaan al Quran.  Maka tidak ada alasan yang membenarkan seorang mukmin mempelajari bacaan al Quran secara otodidak.  Tanpa seorang pembimbing yang dapat mempertanggung jawabkan kebenaran apa yang diajarkan.

Dari ulasan ini timbul suatu pertanyaan, seperti apakah cara baca yang harus diikuti oleh Rasulullah ﷺ dalam membaca Al-Quran ?

Allah ﷻ  mempertegas cara baca Al Quran yang diperintahkan kepada Rasul-Nya dalam surat al Furqaan [25] ayat  32 :

 وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا 32

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).

Tafsir :  Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah [Maksudnya: Al Quran itu tidak diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur agar dengan cara demikian hati nabi Muhammad ﷺ menjadi Kuat dan tetap ] supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).

Pada ayat tersebut Allah-lah yang membacakan al Quran dengan tartil, sehingga para ulama menegaskan “bahwa tartil merupakan sifat atau cara Allah berbicara dalam Al Quran, maka barang siapa yang tidak mentartilkan bacaan Al Quran sesungguhnya dia telah menafikan salah satu sifat berbicara Allah

Bacaan tartil inilah yang diperintahkan Allah kepada Rasulullah ﷺ dan semua pengikutnya dalam Tilawah al Quran. Allah ﷻ menegaskan dalam surah Al Muzzammil [73] ayat  4 :

ورتل القرءان ترتيلا

4. Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan lahan.

Makna ayat ini pernah didiskusikan oleh para sahabat, dan Ali bin Abi thalib menjawab berdasarkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ : bahwa yang dimaksud dengan tartil adalah membaguskan cara mengucapkan huruf dan mengetahui tempat berhenti (pemenggalan kata/waqof).

Hal ini dikarenakan jika terjadi kesalahan dalam mengucapkan huruf atau memenggal kata dapat berakibat pada rusaknya susunan Al-Quran atau merubah makna yang diinginkan Allah

Ibnu mas’ud, seorang sahabat yang bacaannya dikenal sangat mirip dengan bacaan Rasulullah ﷺ, suatu hari pernah mendengarkan bacaan seorang pemuda yang sedang beliau bimbing membaca al Quran. Ketika sampai pada ayat :

انما الصدقات للفقراء والمساكين

Pemuda tersebut memendekkan mad pada kata fuqoroo’ , maka dengan segera Ibnu Mas’ud menghentikan bacaannya seraya berkata : “Rasulullah ﷺ tidak membacakan ayat ini seperti ini kepadaku.” Lalu pemuda itupun bertanya tentang bacaan Rasulullah ﷺ pada ayat tersebut. Ibnu Mas’ud mengulang kalimat tersebut dengan memanjangkan mad. Ibnu Mas’ud tak sedikit pun menjawab dengan teori tajwid yang kita kenal sekarang ini. Tidak lain hal ini merupakan suatu penegasan bahwa al Quran harus dipelajari dengan TALAQQI. Sebuah metode yang pada kenyataannya mulai terlupakan di jaman ini. Astaghfirullah…

Demikianlah dituntut, mengapa kita wajib mempelajari Quran secara Talaqqi, semata mata agar ayatayat yang kita ucapkan, sama sesuai dengan yang Rasulullah ﷺ ajarkan  atau yang beliau ﷺ terima dari Jibril عليه السلام . Dan bagaimana kita bisa mengetahui apakah apa yang kita ucapkan sama seperti dengan yang Rasulullah ﷺ ajarkan, yaitu dengan bimbingan seorang guru Quran (Qari’) yang memiliki kompetensi untuk itu.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ