بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Cerdas dan licik itu beda beda tipis.  11 12 lah.  Bahkan sangking tipisnya, kebanyakan dari kita tidak paham perbedaannya.  Cerdas itu dasarnya keimanan, sedang licik adalah sifat tamak dan cinta dunia.  Cerdas orientasinya adalah akhirat, sedang licik hanya berkubang di dunia.

Al Quran menjelaskan dengan tegas dan terng tentang perbedaan antara cerdas dan licik.  Dan sungguh, tidak ada keraguan atas apa apa yang diceritakan dalam Al Quran. Diceritakan dalam Al Quran tentang suatu kaum yang tinggal di tepi pantai [ beberapa ahli tafsir menyebutnya sungai ] yang dilarang Allah untuk bekerja pada hari Sabtu, karena Allah menginginkan mereka fokus beribadah saja pada hari Sabtu, dan dilain hari Sabtu mereka boleh bekerja.  Larangan ini disengaja oleh Allah karena Allah ingin menguji mereka.

Semula kaum itu mematuhi larangan Allah, tetapi malang, ternyata ikan ikan yang mereka inginkan, ternyata hanya muncul pada hari Sabtu.  Di enam hari berikutnya, ikan ikan itu seolah lenyap dari laut.  Sedang mereka dilarang bekerja [menangkap ikan] pada hari Sabtu.  Dan tentu saja mereka tidak berani terang terangan menangkap ikan pada hari Sabtu.  Tetapi mereka juga tidak ingin kelaparan dan jatuh miskin. Intinya, mereka tetap ingin menangkapi ikan ikan yang muncul hanya pada hari Sabtu, tetapi tanpa melanggar perintah Allah.  Mungkinkah?  Dan bagaimana caranya ?

Kaum itu memang terkenal memiliki tipu daya yang hebat. Kali ini, tipu daya mereka adalah dengan cara mereka memasang perangkap pada hari Jumat sore menjelang masuknya hari Sabtu. Pada hari Sabtu mereka tetap beribadah. Dan biarkanlah perangkap perangkap itu bekerja ! Lalu jreng ! .. pada hari Minggu, perangkap perangkap itu telah dipenuhi ikan.  Dan kaum itu sungguh merasa bangga atas apa yang mereka lakukan.  Mereka merasa pintar dan mampu ‘mengatasi’ Allah.

Pintar kah mereka? Cerdikkah mereka ?  Sebagian besar mereka yang belum pernah mendengar kisah ini, pasti akan menyebut mereka kaum yang cerdas dan pintar.  Jika anda ingin membuktikan, berceritalah pada teman teman anda dan pastikan sebelumnya, bahwa mereka belum pernah mendengar kisah ini.  Dan diakhir kisah, tanyakan pendapat mereka tentang kaum itu. Pasti kebanyakan dari mereka akan menjawab bahwa kaum itu adalah kaum yang cerdas dan pintar.

Tetapi tentu kita sudah tahu apa balasan Allah terhadap kaum yang ‘cerdas’ ini.  Yup, mereka yang melakukan hal itu, diganjar kutukan : berubah menjadi kera!

Lho, kalau itu sebuah kecerdasan, mengapa Allah marah besar dan malah mengubah kaum laknat itu menjadi kera? Bukankah harusnya dipuji puji? Jawabnya adalah jelas. Bahwa itu bukanlah kecerdasan, tetapi kelicikan.  Kaum itu bukan memecahkan masalah, tetapi sedang ‘mengakali’ sebuah aturan.  Dan itulah yang kerap dilakukan oleh orang orang yang fasiq.

Al Baqarah [2] ayat 65 :

 

 وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ 65

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka : “Jadilah kamu kera yang hina”.

Al Quran surat  Al A’raaf [7] ayat 166 :

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ 166

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya : “Jadilah kamu kera yang hina

 

Kecerdasan itu insting yang diberikan Allah, dan jika itu dari Allah maka kita bisa pastikan itu benar.  Berbeda dengan kelicikan, atau sering kita sebut juga ilmu tipu tipu.  Licik bersumber dari nafsu dan oientasinya adalah dunia.  Orang orang yang licik hanya akan memikirkan kesenangan dunia, dan tidak perduli dengan dosa.  Itulah sebanya yang mereka cari bukanlah solusi dari sebuah masalah.  Tetapi bagaimana ‘mengakali’ sebuah aturan. Orang cerdas akan mencari solusi, dus menjauhi larangan kan ? Sedang orang licik justru berkutat pada larangan dan mencari cara mengakali hukum dus  lolos dari jerat hukum.  Jika anda bergaul dengan politisi atau konglomerat, anda pasti tahu apa yang saya maksud dengan mengakali sebuah aturan.

By the way, saya tidak perlu menyebut nama kaum yang diceritakan dalam Al Qurankan ?

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ