بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bagi Yahudi, Baitul Maqdis adalah negri tujuan Nabi Musa ketika mengarahkan mereka setelah menyelamatkan diri dari Fir’aun. Bagi Nashoro/ Kristen, Baitul Maqdis [Yerusalem] dan sekitarnya adalah tempat Yesus dilahirkan, lokasi Yesus memikul salib dan meninggal. Dan bagi kita kaum Muslim, Baitul Maqdis adalah wilayah suci dan diberkahi dimana didalamnya terdapat Masjidil Aqsho sebagai kiblat pertama.  Disana juga merupakan tempat Rasulullah SAW isra dan mi’raj, mesjid suci yang kedua dibangun.

Sebelum kita berbicara tentang siapa yang paling mungkin mengelola tanah suci tiga agama samawi, kite perlu melihat sejarah dan ideologi tiga agama terkait tanah suci.

 

♥ Yahudi tentang Ruang Sakral

Visi tempat suci berasal dari Perjanjian Lama, “Dan kamu akan menjadi kepadaku kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Eksodus 19: 6)Ini menempatkan Israel sebagai bangsa terpilih. ‘Kerajaan imam‘ Israel adalah untuk memberikan layanan universal. ‘Bangsa yang kudus’ Israel harus mengikuti cara hidup tertentu, hidup kudus, yang akan menetapkan mereka sebagai yang berbeda dan orang yang berbeda di antara bangsa dunia (7).

Kata Ibrani untuk kudus adalah kaddosh. Kaddosh berarti ‘terpisah’. Yahudi menghormati kesucian dengan memisahkannya dari yang lain. Konsep ini adalah dasar pandangan Yahudi tentang Yerusalem.
Yahudi hanya boleh memasuki sinagog setelah melakukan sekian ritual pembersihan. Pembersihan ini melepaskan dia dari kematian dan kontaminasi dari kehidupan sehari-hari.

Sinagog itu sendiri dibangun dalam bentuk rangkaian ruang dalam ruang. Bagian dalam lebih suci dari yang luarnya. Yang boleh masuk bagian tertentu hanya orang tertentu. Non-Yahudi hanya boleh masuk bagian terluar sinagog, yang bernama Gentiles (8).

Visi Israel sebagai bangsa juga dibentuk oleh Exodus 4: 22, “Beginilah TUHAN bersabda: anak sulung saya adalah Israel.”

Fundamentalis Yahudi menafsirkannya sebagai: ” Penduduk dunia dapat dibedakan sebagai: Israel dan bangsa selain Israel”. Ini dogma utama ( 9).

Bentuknya dari sekian banyak eksekusi massal yang dilakukan Yahudi di Palestina. Pada 9 April 1948 Menachem Begin dan pasukan ‘Irgun’ nya membunuh 254 penduduk desa Deir Yassin; laki-laki, perempuan dan anak-anak.
Pembantaian Israel di Jenin pada 2002. Operasi militer di tahun-tahun setelahnya. Terakhir terbesar 2014 (10).
Perilaku bengis Yahudi ini sebenarnya bisa jadi bentukan dari dari Perjanjian Lama. Ada banyak peristiwa pertumpahan darah.

“And from Lachish Joshua passed unto Eglon, and all Israel with him…And they took it on that day, and smote it with the edge of the sword, and all the souls that were therein he utterly destroyed that day…And Joshua went up from Eglon, and all Israel with him, unto Hebron.” (Joshua 10: 34)
Pada Book of Numbers (XXXI, 7-18) ada kisah tentang “sons of Israel” saat mereka mengalahkan Madianites, “killed all the men as the Lord had ordered Moses to do”, “took all the women into bondage”, “burned all the cities.” When they returned to Moses, “Moses was wrathful. What! He told them, you have suffered all the women to live…! Now, go forth and slay all youths, and slay all the women who have known a man in wedlock… But all the virgins…keep them for yourselves.” (14-18)11.
“On that day, Joshua seized Maqqeda and slew them all, including the king with the edge of his sword, and all the souls that were therein; he let none remain in it; but did unto the king thereof as he did unto the king of Jericho And Joshua passed from the Libnah and all Israel with him, onto Lachish into the hand of Israel which took it on the second day and smote it with the edge of the sword, and all the souls that were therein, according to all that he had done to Libnah.” (Joshua 10: 36).

Bagi Muslim, sulit mempercayai seorang Nabi seperti Musa as akan membantai para perempuan dengan demikian mengerikan dan tanpa dasar apapun. Sejarawan mencari bukti arkeologis dan melihat peristiwa yang dimaksud di atas tidak mungkin terjadi (12).
Namun demikian, Yahudi taat yang membaca Alkitab bisa saja meniru penggambaran Alkitab tentang sosok penting seperti Musa dan Yosua.

Yoram Ben Porath blak-blakan mengatakan, “Tidak mungkin Zionisme ada, dalam bentuk kolonisasi oleh Negara Yahudi, tanpa penggusuran orang Arab dan perampasan tanah mereka.”
Menahem Begin menyuruh orang-orang Yahudi, “tidak hanya mengusir orang-orang Arab, tetapi juga merebut semua tanah Palestina.” (11)

 

♥ Kristen tentang Ruang Sakral

Kristen, tentu saja bukan yang pertama untuk menempatkan Yerusalem sebagai pusat bumi. Sentralitas Israel, Yerusalem, telah ditegaskan dalam setidaknya nampak dari beberapa pemikiran Ibrani. Tanah Israel adalah pusat bumi (Yeh 38,12), Yerusalem adalah pusat bangsa-bangsa (Yeh 5,5), Gunung Sion, ‘pusat pusar (titik pusat) bumi’ (Jub 8.19) 13

Tanah Suci ini sangat suci bagi orang Kristen karena Yesus hidup di sana, berjalan di sana. Daerah itu, kata Gregory of Nyssa, ‘signs of the Lord’s sojourn in the flesh’. Menurut Uskup Paulinus of Nola, ‘Tidak ada sentimen lain yang menarik orang ke Yerusalem selain dari keinginan untuk melihat dan menyentuh tempat-tempat di mana Kristus hadir, dan untuk dapat mengatakan dari pengalaman mereka sendiri, “Kami telah pergi ke ‘tabernacle’-Nya, dan menyembah di tempat kakinya pernah berdiri “’14

 

♥ Ziarah Kristen di Yerusalem dimulai sejak abad kedua Masehi (15).

Seperti Yahudi, Kristen juga menganut visi eksklusif Yerusalem. Bizantium Kristen yang memerintah Yerusalem sejak abad awal Masehi sampai abad keempat tidak mengizinkan orang Yahudi untuk hidup secara permanen di Aelia Capitolina (kota tua) (16). Orang-orang Yahudi hanya diizinkan untuk datang ke kota setahun sekali pada ‘The Ninth of ‘Ab’ untuk meratapi kehancuran Kuil di Gunung Zaitun (17).

Saat Tentara Salib merebut Yerusalem dari Muslim pada 15 Juli 1099 Masehi, mereka membunuh 30.000 Muslim dan Yahudi selama dua hari (19). Sumber Muslim memberi jumlah penduduk dibantai sebanyak 70.000. Orang-orang Kristen Arab diperintahkan untuk membersihkan kota itu (21).

 

♥ Pengalaman Muslim dari Ruang Sakral

Dari awal sejarah mereka, Muslim menunjukkan cara yang berbeda terhadap ruang suci dari Kristen dan Yahudi. Ini doktrin Quran 2: 191, “Dan janganlah kamu memerangi mereka di Al Masjid Al Haram, kecuali jika mereka (pertama) memerangi kamu di sana. Tetapi jika mereka menyerang kamu, kemudian bunuhlah mereka (22) .

 

Haram berarti ‘terlarang’, dilarang menumpahkan darah di kota suci.

Pada penaklukan Makkah, Nabi ditanya orang-orang tentang kesucian Makkah. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, “kata Nabi,” Allah telah membuat Makkah, tempat perlindungan, maka Mekkah adalah tempat perlindungan sebelum saya dan setelah saya. Dijadiikan boleh untuk saya (yaitu diizinkan untuk berperang di tempat itu) selama beberapa jam saja. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan mencabut semak atau memotong pohon, atau berburu, atau memungut yang jatuh kecuali oleh yang akan mengumumkan (apa yang telah ditemukan) pada publik. “Al-Abbas mengatakan, “Rasulullah O Allah! Kecuali serai (untuk digunakan) oleh tukang emas kami, rumah kami. “Nabi kemudian berkata,” kecuali serai. ” (23)

Ketika umat Islam menaklukkan Makkah pada hari Selasa, 17 Ramadhan, 8 H, dengan 10.000 tentara, Muslim memasuki kota dari seluruh arah. Nabi memerintahkan untuk tidak membunuh kecuali untuk membela diri (24). Dalam konteks amnesti umum kepada orang-orang dari Makkah, Nabi menyatakan, siapa pun yang mengungsi ke rumah Abu Sufyan aman, siapa mengunci dirinya di rumahnya aman, dan siapa pun yang memasuki Masjidil haram itu aman (25).

Demikian pula, selama penaklukan Yerusalem, ‘Umar, khalifah kedua, menghindari pertumpahan darah. Oleh karena itu, pada Juli 637 tentara Muslim memblokade Yerusalem untuk memaksanya menyerah (27). Setelah pengepungan panjang, empat bulan menurut Waqidi, dan 2 tahun sesuai dengan Theophanes (28), penduduk Yerusalem menyatakan kalah.

‘Umar memimpin penaklukan paling damai sepanjang sejarah kota suci itu. Setelah orang-orang Kristen menyerah, tidak ada pembantaian, tidak ada pembongkaran bangunan, tidak ada pembakaran simbol spiritual lawan, dan tidak ada usaha untuk memaksa penduduk untuk memeluk Islam (29).

Ketika ‘Umar datang, penduduk Yerusalem mayoritas Kristen. Bagi mereka, Yerusalem juga asuci. ‘Umar kemudian mengambil beberapa tindakan. Sebelum dia datang, dia memberikan jaminan keamanan bagi warga Yerusalem (30), selanjutnya, ia menempatkan tentara Muslim di daerah kosong sehingga umat Islam tidak mengambil tanah penduduk asli (31). Dia membersihkan kesucian Masjid Aqsha (32). Sebelum ia pergi, ia memilih ‘Ubadah bin al-Samit sebagai hakim untuk Yerusalem dan Umaymir ibn Sa’ad sebagai gubernur Jund Filastin. Yerusalem adalah bagian dari Jund Filastin (33). Mereka berdua adalah sahabat utama.

 

♥ Yahudi Berada Kembali di Yerusalem

Ada indikasi Umar mengizinkan Yahudi untuk menetap kembali di Yerusalem. Sebuah ‘cronicle’ atau tulisan sejarah Yahudi, fragmen yang diawetkan di Kairo Geniza menunjukkan bahwa ‘Umar memberi izin untuk tujuh puluh keluarga Yahudi dari Tiberias untuk menetap di Yerusalem. Shimon Bar Yohai, seorang penulis Yahudi, menegaskan hal yang sama. Karaite komentator memberikan fakta serupa (36).

Di bawah pemerintahan Muslim, kemudian, akhirnya, tiga agama monoteistik yang memiliki akar yang sama hidup damai di kota suci mereka, Yerusalem. Oleh karena itu, mengamati situasi saat ini hari ini di Yerusalem,kita perlu melihat sejarah kembali.

Ajaran Islam yang mensucikan Yerusalem, memberikan tempat bagi penganut tiga agama samawi untuk menikmati kebebasan beragama dan perlindungan bagi hidupnya, agamanya dan hartanya seperti yang pernah diberikan ‘Umar dahulu, seperti yang dibuktikan oleh Sholahudin Al Ayubi.

Penulis : Maimon Herawati

Dosen Senior di Fakiltas Ilmu Komunikasi, Unpad

Footnote :

  1. Norton Mezvinsky, The Jewish Faith and the Problem of Israel and Jerusalem, in Jerusalem the Key to World Peace, (Islamic Council of Europe, London, 1980) p. 25
  2. Michael Prior, Pilgrimage to Holy Land, Yesterday and Today, in Christians in the Holy Land, ed. Michael Prior and William Taylor, (World of Islam Festival Trust, London, 1994) p. 175
  3. Ibn Kathir, Tafsir of Qur’an, Vol.2 p. 24
  4. Sahih Muslim Book 023, Number 4985
  5. Sahih Muslim Book 4, Number 1056
  6. Norton Mezvinsky. p.25
  7. Karen Amstrong, Sacred Space: The Holiness of Islamic Jerusalem, Journal of Islamic Jerusalem Studies, Winter 1997, Vol I, No. 1 p. 8; also see Israel Shahak, Jerusalem and the Jews, in Jerusalem Today: What Future for the Peace Process, ed. Ghada Karmi (Ithaca Press, Reading 1997) p. 124
  8. Rabbin Cohen, The Talmud, ed. Payot (Paris 1986) p.104
  9. www.jerusalem.indymedia.org, www.guardian.co.uk, www.independent.co.uk on recent Israel army’s adventures in Jenin, Ramallah, Betlehem.
  10. Roger Garaudy, The Theological Myths, in www.codoh.com
  11. Here, we come into conflict with archeology. Excavations have apparently revealed that the Israelites arriving at the end of the XIIIth century B.C. could not have taken Jericho because the city was already deserted. The mid-Bronze Age city was destroyed towards 1550 B.C. and subsequently abandoned. It was sparsely resettled in the XIVth century B.C.: pottery dating from this period has been found in Mid-Bronze Age tombs that were re-utilized, and a house containing a small pitcher dating from the mid-XIVth century B.C. Nothing can be attributed to the XIIIth century. There are no traces of New Bronze Age fortifications. The conclusion of K.M. Kenyon is that it is impossible to associate a destruction of Jericho with an entrance of the Israelites at the end of the XIIIth century B.C (K.M. Kenyon, Digging up Jericho, London 1957, pp. 256-265)
    The same holds true of the “taking of Ay”. “Of all the tales of conquest, this one is the most detailed: it contains no miraculous element and appears to be the most likely. Unfortunately, archaeology gives it the lie.
    “The site was searched by two different expeditions. The results tally: at the time of the Early Bronze Age, Et-Tell was a large city whose name is unknown to us, and which was destroyed during the Early Bronze Age, around 2,400 B.C. It remained deserted until after 1,200 B.C., when a poor, unfortified village grew up upon a portion of the ruins. This village subsisted only until the beginning of the Xth century B.C. at the latest; after which the site was definitively abandoned. At the time of the arrival of the Israelites, there was no city of Ay, there was no king of Ay, there was nothing but a 1,200 year-old ruin.” (Père de Vaux (O.P.), Histoire ancienne d’Israel ed. Lecoffre et Gabalda. Paris 1971 TI, p.565) As written on Roger Garaudy, The Theological Myths, in www.codoh.com.
  12. Michael Prior, Pilgrimage in the Holy land, p. 174
  13. Ibid. p. 175
  14. John Wilkinson, Jerusalem Under Rome and Byzantium, in Jerusalem in History, ed. K.J. Asali (Olive Branch Press, New York, 2000), p. 84-85
  15. John Wilkinson, Jerusalem Under Rome and Byzantium, p. 94-95
  16. Karen Amstrong, Sacred Space, p. 9.
  17. Moshe Gil, A History of Palestine, (Cambridge, 1997) p. 828
  18. Mustafa A. Hiyari, Crusader Jerusalem, in Jerusalem in History, p. 139-140
  19. The Noble Qur’an, Trans by Muhammad Taqi-ud-Din al-Hilali (King Fahd Complex for Printing the Holy Qur’an)
  20. The number of hadith is not known. Writer tried hard to find it but failed. Writer believe this hadith is sahih. See also Sahih Bukhari, Vol. 2 no. 797: narrated by Abu Bakrah, The Prophet delivered to us a Khutbah (religious talk) on the day of Nahr (10th of Dhul Hijjah). He said, “Do you know what is the day today?” We said, “Allah and His Messenger know better.” He remained silent till we thought that he might give that day another name. He said, “Isn’t it the day of Nahr?” We said, “It is.” He further asked, “Which month is this?” We said, “Allah and His Messenger know better.” He remained silent till we thought that he might give it another name. He the said, “Isn’t it the month Dhul Hijjah?” We replied, “Yes it is.” He further asked, “What town is this?” We replied, ““Allah and His Messenger know it better.” He remained silent till we thought that he might give it another name. He then said, “Isn’t it the forbidden (haram) town (of Makkah)? We said, “Yes it is.” He said, “No doubt, your blood and your properties are ‘haram’ to one another like the sanctity of this day of yours, in this month of yours, in this town of yours, till the day you meet your Lord…Beware! Do not renegate (as) disbelievers after me by striking the necks (cutting the throats) of one another.”
  21. Safiurrahman Mubarakpuri, Sealed Nectar, p. 392.
  22. Karen Amstrong, A History of Jerusalem: One City, Tree Faith, (Harper Colin, London, 1997) p. 228.
  23. Moshe Gil, p. 52.
  24. Karen Amstrong, A History of Jerusalem, p. 228,
  25. Tabari p. 191-192, Karen Amstrong, A History of Jerusalem, p. 231, Moshe Gil, p. 54, Abdul Aziz Duri, Jerusalem in the Early Islamic Period, in Jerusalem in History, p. 107.
  26. Karen Amstrong, A History of Jerusalem, p. 232. p. 234
  27. Tabari, p. 195, Karen Amstrong, p. 230, Abdul Aziz Duri, p. 108, Moshe Gil, p. 66.
  28. Ibid. p 234, Abdul Aziz Duri p. 108.
  29. Moshe Gil, p. 69-70

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

.