بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Yang utama,  kita tidak boleh membedakan salah seorangpun dari rasulrasul itu dalam hal mengimaninya ; masing-masing benar dan dibenarkan serta risalah yang dibawa adalah haq.  Akan tetapi kita boleh membedakan dalam dua hal :

Pertama : Dalam hal keutamaan.

Kita mengutamakan sebagian dari para rasul atas sebagian yang lain sebagaimana Allah juga mengutamakan sebagian atas sebagian yang lain serta mengangkat sebagian dari mereka beberapa derajat. Akan tetapi kita tidak menyatakannya dengan nada membanggakan atau menyatakannya dengan nada membanggakan atau meremehkan yang diungguli.

Dalam hadits yang terdapat dalam kitab Shahih Al Bukhari disebutkan bahwa seorang Yahudi telah bersumpah :”Tidak ! Demi yang memilih Musa atas sekalian manusia”.

Maka seorang laki-laki dari Anshar menempeleng muka laki-laki Yahudi itu ketika mendengar ucapannya seraya mengatakan :”Jangan kau katakan demikian sedangkan Rosulullah ﷺ berada di tengah-tengah kami !”. Maka si Yahudi itu datang menghadap Rosulullah ﷺ, dan mengadu kepada beliau. “Aku punya dzimmah (jaminan perlindungan) dan perjanjian. Lalu apa gerangan yang membuat si fulan menempeleng mukaku ?”

Rosulullah ﷺ kemudian bertanya kepada laki-laki Anshar tadi :”Kenapa kamu menempeleng mukanya ?”. Maka ia pun mengutarakan permasalahannya, dan Rosulullah ﷺ akhirnya murka sampai terlihat sesuatu di muka beliau. Rosulullah ﷺ kemudian bersabda, “Janganlah engkau melebihkan di antara nabinabi Allah!”.

Dalam hadits Shahih Al Bukhari dan yang lain juga disebutkan riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rosulullah ﷺ telah bersabda : ”Tidak layak bagi seorang hamba untuk mengatakan : Aku lebih baik daripada Yunus bin Mata!”.

Kedua : Dalam hal ittiba’.

Kita tidak boleh mengikuti rosul kecuali yang memang diutus untuk kita, yaitu Muhammad Rosulullah ﷺ karena syari’at Rosulullah ﷺ telah menasakh seluruh syari’at yang sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu ; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan (syari’at) dan jalan yang terang (minhaj)” [Al-Maidah/5 : 48]

[Disalin dari kitab Fatawa Anil Iman wa Arkaniha, yang di susun oleh Abu Muhammad Asyraf bin Abdul Maqshud, edisi Indonesia Soal-Jawab Masalah Iman dan Tauhid, Pustaka At-Tibyan]

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ