بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hukum Maula 
Hukum kemaulaan merupakan hubungan langsung seorang hamba sahaya dengan tuannya. Adanya perbudakan di dalam Islam dimulai dari peperangan. Saat terjadi kancah peperangan, pasukan yang kalah akan menjadi tawanan perang dan dijadikan budak.

Sebelum Islam hadir pada zaman itu, perbudakan sudah ada dimana-mana. Namun, budak diperlakukan dengan kasar. Ada yang dibunuh, diperkosa, ditindas, bahkan ada yang dipotong bagian tubuhnya sebagai bentuk kedzaliman.

Rasulullah ﷺ melarang manusia mendzalimi budaknya.

Dalil tentang perbudakan ada pada Surat Muhammad [47] ayat 4 yang berbunyi :

فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّىٰ إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّىٰ تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ۚ ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ ۗ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka”.

Perbudakan tidak hanya terjadi pada kaum Muslimin, tetapi juga terjadi pada kaum yang lain. Jika mereka (para tirani) menguasai suatu wilayah, maka seluruh orang yang ada di wilayah itu menjadi budak. Setelah Islam ada, para budak diperlakukan dengan baik

Hukum Hukum Syar’i Dalam Peperangan 

Husnul Muamalah ( berbuat baik)
Yang dimaksud adalah berbuat baik kepada tawanan perang. Firman Allah subhana wa ta’ala dalam Surat An Nisaa’ [4] ayat 36 :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا 36

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

Namun apabila tawanan perang memiliki hubungan rahim (kerabat) maka tawanan itu harus dibebaskan. Sebagai contoh, sebuah pasukan menyerang tanah kelahirannya, dan disana terdapat kerabatnya, maka kerabatnya itu harus dibebaskan. Seperti saat kaum Muslimin mendatangi Mekkah.

Hadits Bukhari menjelaskan tentang pembebasan hamba sahayanya.

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَكُّوا الْعَانِي وَ أَطْعِمُوا الْجَائِعَ وَعَوِّدُوا الْمَرِيْضَ.

Dari Abu Musa ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda : Bebaskan tawanan, beri makan orang yang lapar dan jenguklah orang yang sakit”.

Pembebasan Setengah Hak Hamba Sahaya

Sebagai contoh, jika si A dan B membeli budak dengan harga 10 juta rupiah, si A membayar 5 juta dan si B membayar setengahnya juga, maka dengan perjanjian budak tersebut akan bekerja kepada kedua tuannya dengan adil. Saat si A memilih untuk membebaskan budaknya, dia hanya bisa membebaskan setengah hak budaknya untuk bebas, setengahnya lagi ada pada tuannya yang satu lagi. Namun, jika si A mempunyai kelebihan harta untuk membebaskan setengah hak nya lagi, maka kebebasan budak itu menjadi sepenuhnya.

Menjadikannya sebagai pahala karena membebaskan budaknya
Firman Allah ﷻ :

Surat Al Balad [90] ayat 10 – 17 :

…وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ {10} فَلاَ اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ {11} وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ {12} فَكُّ رَقَبَةٍ {13} أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ {14} ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ {17}

10) Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan
11) Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar
12) Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?
13) (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan
14) Atau memberi makan pada hari kelaparan
17) Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang

Budak mempunyai hak untuk bebas, dalam istilah disebut dengan Mukatabah
Mukatabah adalah hak budak meminta kebebasan kepada tuannya. Tuannya tidak boleh menolak permintaan budaknya selama sang budak mempunyai kebaikan dan tidak membawa mudharat

Firman Allah ﷻ dalam Al Quran Surat At Taubah [9] Ayat 60 :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”

Budak yang beriman pun mempunyai hak untuk bebas. Budak yang beriman adalah budak yang sebelumnya didakwahkan dan mengenal Islam sebelum dia bebas. Siapa yang membebaskan budak yang beriman, akan dapat pahala.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam Hadits riwayat Ahmad yang berbunyi :

Dari al-Barra bin Azib, dia berkata : Seseorang datang lalu bertanya, “Wahai Rosululloh, tunjukkanlah aku suatu perbuatan yang dapat mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka!” Maka Nabi saw bersabda: “Bebaskanlah raga dan lepaskanlah budak.” Kemudian orang itu berkata: “Wahai Rosululloh, bukankah kalimat itu menunjukkan satu perbuatan?” Beliau menjawab: “Tidak. Membebaskan raga berarti kamu memerdekakannya (budak). Melepaskan budak berarti kamu sendiri menentukan harga pembeliannya (dari penjual budak, untuk dimerdekakan).” (HR Ahmad). [Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 2. Muhammad Nasib Ar Rifa’i. Jakarta: Gema Insani, 1999. hal. 623.].

Mengangkat Budak Menjadi Anak Angkatnya 

Istri dari Abu Hudzaifah membeli Salim saat masih kecil di pasar perdagangan budak. Lalu Abu Hudzaifah رضي الله عنه
menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Kemudian setelah Salim baligh, Abu Hudzaifah رضي الله عنه
mengangkatnya sebagai anak angkatnya. Namanya berubah menjadi Salim Maula Abu Hudzaifah

Rasulullah ﷺ pernah mempunyai budak bernama Zaid bin Haritsah رضي الله عنه. Lalu dibebaskan oleh Rasulullah ﷺ. Suatu ketika, ayahnya Zaid datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta anaknya Zaid kembali kepadanya. Kemudian Rasulullah ﷺ meminta Zaid untuk memilih. Dan pilihan Zaid jatuh kepada Rasulullah ﷺ untuk menjadi ayah angkatnya. Kemudian Rasulullah ﷺ mengubah namanya menjadi Zaid Ibn Muhammad

Turun Firman Allahsurat Al Ahzab [33] ayat 40 :

مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا {40}

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabinabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ibn Katsir berkata, “Setelah turun ayat ini, Allah melarang ada panggilan Zaid bin Muhammad, yakni beliau bukanlah ayahnya sekali pun telah mengangkatnya sebagai anak (adopsi).

Firman Allah subhana wa ta’ala juga turun saat Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu mengangkat Salim sebagai anaknya :

”……. Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu”.(QS.AlAhzab(33):5).

Jika budak yang diangkat menjadi anak tuannya adalah budak perempuan, maka akan menjadi mahram tuan laki-lakinya. Begitu juga sebaliknya. Jika budak yang diangkat adalah budak laki-laki, maka akan menjadi mahram tuan perempuannya

Boleh Menikahi Mantan Pasangan Anak Angkatnya

Kisah Zainab binti Jahsy yang menikah dengan Zaid bin Haritsah رضي الله عنه. Zainab datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta pendapat siapa yang pantas untuk menikah dengannya. Rasulullah ﷺ menunjuk Zaid bin Haritsah رضي الله عنه untuk menikahi Zainab. Namun, di hati Zainab agak sedikit keberatan karena Zaid bin Haritsah رضي الله عنه adalah mantan budak, sedangkan Zainab adalah anak dari kepala suku.

Setelah menikah, mereka mengalami ketidak cocokan. Ringkas cerita, mereka bercerai atas kehendak Allah ﷻ . Lalu Allah ﷻ dengan kehendak-Nya menikahkan Rasulullah ﷺ dengan Zainab tanpa akad.

Firman Allah ﷻ dalm Al Quran surat Al Ahzab [33] ayat 37  :

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَااللهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.”

Jikalau seorang ibu tidak bisa menyusui anak kandungnya karena ASInya tidak keluar, maka boleh disusui oleh wanita lain. Tapi harus jelas siapa yang menyusuinya baik dari namanya atau identitasnya

Kisah Sahlah radhiyallahu ‘anha ( istri Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu). Semenjak ia membeli Salim radhiyallahu ‘anhu, ia tidak pernah menyusuinya sampai ia baligh. Sahlah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana hukumnya, karena tidak ada ikatan rahim tinggal di tempat tinggal yang sama.

Rasulullah ﷺ bersabda :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: جَاءَتْ سَهْلَةُ بِنْتُ سُهَيْلٍ اِلَى النَّبِيِّ ص فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنِّى اَرَى فِى وَجْهِ اَبِى حُذَيْفَةَ مِنْ دُخُوْلِ سَالِمٍ (وَ هُوَ حَلِيْفُهُ). فَقَالَ النَّبيُّ ص: اَرْضِعِيْهِ. قَالَتْ: وَ كَيْفَ اُرْضِعُهُ وَ هُوَ رَجُلٌ كَبِيْرٌ؟ فَتَبَسَّمَ رَسُوْلُ اللهِ ص وَ قَالَ: قَدْ عَلِمْتُ اَنَّهُ رَجُلٌ كَبِيْرٌ. مسلم

Dari ‘Aisyah, ia berkata : Sahlah binti Suhail (istri Abu Hudzaifah) datang kepada Nabi ﷺ lalu bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku melihat perubahan wajah Abu Hudzaifah berkenaan dengan keberadaan Salim di rumah kami, bagaimanakah yang demikian itu ?”. (Salim adalah anak angkatnya). Nabi ﷺ bersabda, “Susuilah dia !”. Sahlah berkata, “Bagaimana aku menyusuinya sedangkan dia adalah seorang laki-laki yang sudah besar ?”. Maka Rasulullah SAW tersenyum lalu bersabda, “Aku tahu dia itu seorang laki-laki yang sudah besar”. [HR. Muslim]

Maksud dari hadits ini adalah Sahlah radhiyallahu ‘anha mengeluarkan susunya dan ditampung di sebuah wadah untuk diminum oleh Salim رضي الله عنه. Jika sampai dia kenyang, maka akan menjadi mahramnya

Kisah Salim Maula Abu Hudzaifah 

Salim Maula Abu Hudzaifah رضي الله عنه  menikah dengan sepupu dari Abu Hudzaifah رضي الله عنه sendiri, yaitu Fatimah binti Walid bin Utbah. Salim Maula Abu Hudzaifah رضي الله عنه termasuk ke dalam As Sabiqunal Al Awwalun minal Muhajirin.

Salim selalu hadir dalam setiap peperangan bersama Rasulullah ﷺ. Termasuk saat perang Badr. Allah ﷻ telah menjanjikan siapapun yang ikut dalam Perang Badr, maka segala dosa-dosanya akan terampuni dan masuk Surga

Salim Maula Abu Hudzaifah adalah guru Al Quran dari semua sahabat Rasulullah ﷺ. Saat Abu Hudzaifah radiyallahu ‘anhu hijrah ke Habasyah, Salim tidak ikut bersamanya. Salim memutuskan untuk menetap di Mekkah untuk duduk bersama Rasulullah ﷺ belajar AlQuran.

Banyak orang yang cemburu jika tetangganya mempunyai kekayaan yang melimpah, mobil mewah, rumah megah, dan lain-lain. Padahal yang harusnya dicemburui itu adalah dua hal saja
* Seseorang yang dikaruniai Al Quran lalu dia membacanya setiap malam dan siang
* Seseorang yang dikaruniai harta yang dihabiskan di jalan Allah subhana wa taala setiap malam dan siang

Saat Rasulullahhijrah ke Madinah, beliau memberi perintah untuk membangun Masjid Quba. Lalu beliau meminta Salim radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi Imam shalat disana. Padahal dibelakangnya ada Abu Bakr dan Umar bin Khattab رضي الله عنه yang sekiranya lebih pantas menjadi Imam.

Rasulullah ﷺ bersabda :

dari Abdullah bin Amru ia berkata: aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :

“Pelajarilah Al Quran dari empat orang: dari Abdullah bin Mas`ud, Salim (maula Abi Huzaifah), Mu`adz, dan Ubay bin Ka`b.” Dua yang pertama adalah dari kalangan muhajirin.”

Dari hadits tersebut, membuktikan betapa mulianya kedudukan Salim رضي الله عنه di mata Rasulullah ﷺ.

Hukum menjadi Imam :

Yang pertama yang pantas menjadi Imam adalah :
* Yang paling alim
* Yang paling fasih bacaan Al Qurannya dan tajwidnya serta hafalannya
* Yang lebih paham sunnah

Ada sebuah riwayat yang menceritakan tentang Aisyah radhiyallahu ‘anha yang mendengar bacaan Al Quran Salim  رضي الله عنه :

Suatu malam, ketika Aisyah  رضي الله عنه terlambat pulang, Rasulullah  ﷺ. menegurnya dengan lembut tapi tegas. ”Maaf ya Rasulallah,” kata Aisyah dengan nada hormat, ”aku terlambat pulang karena menyimak seseorang membaca Quran di masjid. Bacaannya bagus, suaranya merdu. Aku belum pernah mendengar suara semerdu itu.”
Penasaran, Rasulullah ﷺ.  lalu pergi ke masjid dan mendengarkan bacaan Quran yang diceritakan istrinya. Tak lama Nabi kembali dengan wajah senang. ”Dia Salim, budak Abu Huzaifah,” kata Rasulullah kepada Aisyah. ”Segala puji bagi Allah yang telah menjadilan orang yang suaranya merdu seperti suara Salim itu sebagai umatku.”

Rasulullah  ﷺ. memastikan keimanan Salim رضي الله عنه. Suatu ketika di Madinah terdengar suara gemuruh seperti suara pasukan akan menyerang Madinah. Seluruh masyarakat Madinah ketakutan.

Lalu Amr bin Ash رضي الله عنه melihat Salim sedang duduk di depan pintu gerbang Madinah sambil memeluk lututnya dan memegang sarung pedangnya yang sudah siap menghunuskan pedangnya. Amr bin Ash رضي الله عنه  pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Salim رضي الله عنه. Kemudian Rasulullah ﷺ melihat pemandangan itu. Dan beliau meyakini akan keimanan mereka yang pemberani dan tidak takut mati karena Allah

Salim رضي الله عنه mati dalam keadaan syahid saat Perang Yamamah yang dipimpin oleh Musailamah Al Kadzab. Salim adalah pemegang bendera, panji panji untuk kaum Muslimin. Saat Abu Hudzaifah رضي الله عنه  tertusuk oleh musuh, lalu beliau berkata, “dimana saudaraku Salim?.” Begitu juga Salim رضي الله عنه  saat tertusuk oleh musuh, ia berkata, ”dimana saudaraku Abu Hudzaifah?”

Kemudian pasukan Muslimin yang lain menopang Salim menuju jasad Abu Hudzaifah رضي الله عنه  yang sudah tergeletak dan bersimbah darah. Mereka saling berhadapan dan meninggal dunia karena syahid.

Semoga kisah ini bermanfaat untuk kita semua, agar kita selalu bisa memuliakan Al Quran dalam kehidupan kita di dunia sampai di akhirat kelak
Ust. Dr. Khalid Basalamah, MA

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ