بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Urutan surat dalam Al Quran yang sekarang, berbeda dengan urutan turunnya ayat kepada Rasulullah.  Lalu, bagaimana caranya Al Quran itu disusun hingga susunannya menjadi seperti mushhaf yang kita pegang sekarang ? Siapa yang menyusun dan atas perintah siapa ?

Penyusunan dan pembukuan Al Quran terjadi pada 2 periode.  Periode pertama adalah saat Rasulullah hidup.  Dan periode kedua adalah ketika Rasulullah sudah wafat.  Di periode kedua ini juga terbagi menjadi 3 masa.  Yakni masa Khalifah Abu Bakar, Kahlifah Umar bin Khattab dan Khalifah Utsman bin Affan.

 

Periode Rasulullah

Telah disebutkan dalam hadis hadis sahih, ketika satu atau lebih ayat Al Quran diturunkan kepada Nabi saw, Rasulullah segera memanggil para sahabatnya dan memerintah sahabat sahabat yang ditunjukknya  untuk menuliskan wahyu yang baru turun tersebut.

Rasulullah akan memerintahkan untuk menaruh ayat tersebut di tempat ini, atau setelah ayat yang menyebutkan tentang itu.  Begitulah Rasulullah menyuruh sahabat untuk menuliskan setiap wahyu yang baru turun.  Setelah itu Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menghafalnya.

Kemudian Rasulullah  menyampaikan wahyu tersebut  kepada seluruh umat Islam saat itu, sehingga perkataan mereka menjadi hujjah yang pasti bagi mereka. Hingga akhirnya, orang-orang yang mendengarkan ayatayat Alquran mencapai jumlah yang tawaatur. Mereka pun menghafalkan al Quran, baik satu atau beberapa ayat.

Pada setiap ayat Al Quran terdapat penghafal yang jumlahnya mencapai derajat tawaatur, terlebih pada saat penulisannya. Attawaatur adalah nash yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang mustahil secara adat mereka bersepakat untuk berdusta.

Mengenai pemeliharaan Al Quran [ hifzhul Quran ] pada masa Rasulullah Saw dilakukan dengan dua jalan :

Pertama :  penjagaan Al Quran di dalam dada sejumlah besar sahabat dan umat Islam yang jumlahnya mencapai batas tawaatur. Kedua : penulisan Al Quran oleh para penulis wahyu (kuttaab ul wahyi) yang dipilih Rasulullah.

Di antara mereka terdapat al khulafaa al raasyiduun yang empat, Mu’aawiyah, Zaid bin Tsaabit, Ubay bin Ka’ab, Khaalid bin al Waalid, dan Tsaabit bin Qays. Rasulullah saw memerintahkan mereka untuk menulis setiap ayat Al Quran yang turun, di atas ruqqaa’ [ bentuk jamak dari kata ruq’ah/papan. Kadang-kadang ditulis di atas bebatuan, berupa pelepah kurma, tulang unta, domba, kayu, ataupun kulit ].

Terkait penyusunan ayat dan surat dalam Alquran itu bersifat tauqifiy, yakni merupakan hak prerogatif Allah Swt. Allah memerintahkan Rasul-Nya, melalui jalan wahyu, untuk menempatkan setiap ayat di dalam sebuah surat pada posisinya masing masing.

Rasul Saw bersabda, “Jibril mendatangiku, kemudian memintaku untuk meletakkan ayat ini pada posisi ini di surat ini… Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan berbuat baik, memberi pertolongan kepada kerabat, hingga akhir ayat [ An Nahl [16]: 90 ]. [HR. Ahmad dengan isnad yang sahih].

Dan telah terbukti bahwa beliau Saw membaca sejumlah surat dengan tartib (susunan) ayatnya di dalam shalat atau pada saat beliau Saw berkhuthbah Jumat, dengan disaksikan oleh para sahabat.

Ini merupakan bukti, bahwa penyusunan ayat ayat Alquran bersifat tauqifiy. Selama sahabat menyusun ayat sesuai tartiib (penyusunan) yang mereka dengar dari Nabi Saw yang telah membacakan Al Quran, dan telah mencapai derajat tawaatur, maka penyusunan surat di dalam mushafpun bersifat tauqifiy.

Meskipun demikian ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa sebagian bersifat tauqiifiy dan sebagian lainnya bersifat ijtihaadiy. [Al Itqaan fiy ‘Uluum il Quran, karya Imam Suyuthiy].

Bukti bahwa susunan surat bersifat tauqifiy adalah susunan surat yang disusun oleh Utsman yang tercantum di dalam mushaf mushaf, dilembagakan dengan susunan seperti itu. (lihat Mabaahits fi ‘Uluum al-Quran, Shubhiy al-Shaalih).

Susunan tersebut tidak diingkari oleh seorang sahabatpun, ataupun mereka menyangkal penyusunan seperti itu. Oleh karena itu, pelembagaan Al Quran tersebut termasuk bagian dari ijma’ sahabat.

Sementara ijma’ sahabat merupakan salah satu dalil yang diakui secara syar’i. Ini adalah pengumpulan dan penyusunan Al Quran di masa Rasulullah.

Sementara pembukuan Al Quran sudah dimulai pada masa Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq, lalu diteruskan Umar bin Khattab dan pada masa Utsman bin Affan.

Mengapa Bukan Di Jaman Nabi, Al Quran Dijadikan Satu Mushhaf ?

Mereka yang awam seringkali bertanya, mengapa Al Quran tidak dikumpulkan dan dijadikan satu mushhaf [ dibukukan ] tidak pada jaman Nabi ?  Tetapi malah dilakukan setelah Nabi wafat ?  Mengapa ?

Jawabnya :

Pertama  : Tentu saja Al Quran tidak dilakukan pada saat Rasulullah masih hidup.

Karena ketika Rasulullah hidup, Al Quran belumlah lengkap seluruhnya diturunkan.  Al Quran baru lengkap seluruhnya diturunkan adalah saat 9 hari sebelum wafatnya Rasulullah.

Ingat, Al Quran diturunkan sedikit demi sedikir sepanjang hidup beliau SAW.  Al Quran tidak langsung seluruhnya diturunkan.  Tidak langsung satu ‘bundel Al Quran‘ turun plek diwahyukan seluruhnya kepada Rasululah.  Tidak.

Tapi Al Quran turun sedikit demi sedikit, dan secara kontinyu. Mulai dari awal kenabian hingga pada saat Rasulullah melakukan haji wada.  Dan setelah haji wada, maka tidak ada lagi ayat Al Quran yang turun.  Pada saat itulah Al Quran telah selesai seluruhnya diturunkan.  Sudah tidak ada lagi wahyu yang turun.  Dan tak  berapa lama setelah haji wada, Rasululah wafat.

Jadi bagaimana mungkin Al Quran dibukukan, bila belum selesai diturunkan seluruh ayat ayatnya ?

Yang dilakukan Rasulullah adalah menyuruh para sahabat menuliskan ayat ayat itu di atas ruqqaa’ dan kemudian menghafalkannya.  Sedang pengumpulan nash nash Al Quran dan yang tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa masa, dimana kemudian menjadi suatu mushhaf yang utuh.

Kedua : Sebagian ayat ada yang dimansukh.

Bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin bisa dibukukan datam satu buku ?

Ketiga : Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya wahyu.

Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir tetapi kemudian ditempatkan di awal surat.    Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.

Keempat :  Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat pendek/ dekat.

Sebagaimana pembahasan terdahulu bahwa msa dari ayat Al Quran yang terakhir dengan saat Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut.

Dengan demikian masanya sangat relatip singkat, yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu.

Kelima : Tidak ada motifasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al Quran menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar.

Orang-orang Islam ada dalam keadaan baik, ahli baca Quran begitu banyak, fitnah fitnah dapat diatasi.

Berbeda pada masa Abu Bakar dimana gejala gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga timbul kekhawatiran kalau Al Quran akan lenyap.

Kesimpulan :

Kalau Al-Quran sudah dibukukan dalam satu mushhaf, sedangkan situasi sebagaimana yang tersebut di atas, niscaya Al Quran akan mengalami perubahan dan pergantian selaras dengan terjadinya naskh (ralat) atau munculnya sebab disamping perlengkapan menulis tidak mudah didapat.

Kondisi tidak akan membantu untuk melepaskan mushhaf yang lebih dahulu dan harus berpegang pada mushhaf yang baru karena tidak mungkin setiap bulan ada satu mushhaf yang mencakup tiap ayat Al Quran yang diturunkan.

Namun setelah masalahnya stabil yaitu dengan berakhirnya penurunan, wafatnya Rasul, itu berarti tidak ada lagi ayat yang dinasakh atau dimansukh [ diralat ], dan elah tdiketahui susunan ayat/ surat secara lengkap.  Maka maka saat itulah Al QUran bisa dibukukan menjadi satu mushhaf.

Dan inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. khalifah yang bijaksana, semoga Allah membalas jasanya atas perbuatan beliau dalam mengumpulkan Al-Quran beserta orang orang Islam yang mengikuti jejaknya dengan balasan yang berlipat anda.

Apakah Susunan Al Quran berdasarkanTauqifi atau  Ijtihad ?

Pendapat pertama :

Tauqifi : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang mengurusinya sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Jibril ‘alaihissallaam berdasarkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Al Quran sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tersusun suratsurat dan ayat-ayatnya seperti tertib (urutan) yang ada di zaman kita sekarang.

[ baca : Tiga Tingkatan Turunnya Al Quran ]

Yaitu urutan mushaf Utsmani yang tidak ada satu Shahabatpun yang mempermasalahkannya, dan tidak adanya penentangan dari mereka, adalah dalil yang menujukkan bahwa mereka telah ijma’ dalam masalah itu.

Dan yang menguatkan pendapat ini : Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca sebagian surat al Quran di dalam shalat dengan tertib (urutan).

Ibnu Abi Syaibah rahimahullah neriwayatkan : ”Sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan al-mufashshol (suratsurat pendek) dalam satu raka’at”.

Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata tentang surat Bani Israil (al-Israa’), al-Kahfi, Maryam, Thaha dan Anbiyaa’ : ”semuanya termasuk suratsurat yang turun di Mekah dan yang pertama-tama aku pelajari.”

Maka dia radhiyallahu ‘anhu menyebutkan dengan urut sebagaimana urutan yang ada sekarang. Dari Thariq bin Wahb dari Sulaiman bin Bilal, dia berkata : ”Aku mendengar Rabi’ah ditanya : ”Kenapa al-Baqarah dan Ali ‘Imraan didahulukan padahal telah turun di Mekah 80-an surat sebelum kedua surat itu, padahal keduanya turun di Madinah?”

Maka dia menjawab : ”Keduanya didahulukan, dan al Quran disusun (diurutkan) berdasarkan ilmu/pengetahuan dari yang menyusunnya.”

Lalu ia berkata : ”Dan inilah hasil akhirnya, dan tidak perlu ditanyakan.” (al-Itqaan) Ibnul Hashaar mengatakan : ”Pengurutan suratsurat dan penempatan ayatayat pada tempatnya hanyalah berdasarkan wahyu semata, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ’ Tempatkan ayat ini di tempat ini.’

Dan telah tercapai keyakinan (kepastian) dalam hal ini dengan adanya riwayat mutawatir dengan urutan seperti ini dari bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dari apa yang disepakati (ijma’) oleh para Shahabat radhiyallahu ‘anhum tentang penempatannya (ayat dan surat) seperti itu pada mushaf.”

Pendapat Kedua :

Dengan Ijtihad : Yaitu bahwa tertib surat berdasarkan ijtihad dari para Shahabat radhiyallahu ‘anhum, buktinya adalah berbedanya mushaf-mushaf mereka di dalam pengurutannya.

Sebagai contoh mushaf Ali tertib (urutannya) berdasarkan waktu turunnya, diawali dengan surat al ‘Alaq, kemudian al Muddatstsir, surat al Qalam, kemudian al Muzzammil dan seterusnya sampai akhir surat Makiyyah dan Madaniyyah.

Mushaf Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu diawali dengan surat al Baqarah, kemudian an Nisaa’, kemudian Ali ‘Imran.

Mushaf Ubay radhiyallahu ‘anhu diawali dari surat al-Fatihah, kemudian al-Baqarah, kemudian an-Nisaa’ lalu Ali ‘Imraan. Telah diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata : ”Aku berkata kepada ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu :

“Apa yang mendorongmu untuk mengambil surat al Anfaal yang ia termasuk al Matsani dan surat Bara’ah/at-Taubah, lalu anda menggandengkan antara keduanya, dan kenapa anda tidak menuliskan : بسم الله الرحمن الرحيم lalu engkau menempatkannya ke dalam kelompok as Sab’ul Matsani ?”

Maka Utsman radhiyallahu ‘anhu menjawab :

“Dahulu turun surat yang memiliki sejumlah ayat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka apabila turun kepada beliau sebagian dari surat tersebut, beliau memanggil sebagian penulis wahyu, lalu beliau bersabda : ’Tempatkan surat ini pada surat yang di dalamnya disebutkan ini dan itu. Dan al Anfaal termasuk salah satu surat yang pertama tama turun di Madinah, dan al Bara’ah termasuk salah satu surat yang paling akhir turun dan kisah keduanya mirip, maka aku mengira ia bagian dari al Anfaal.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, dan beliau tidak menjelaskan kepada kami bahwa ia bagian dari al Anfaal. Maka oleh karena itu aku gandengkan keduanya, dan aku tidak menuliskan di antara kedua surat tersebut :  بسم الله الرحمن الرحيم Lalu aku menempatkannya di as-Sab’u ath-Thiwal.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasaai, Ibnu Hibban, dan al-Hakim rahimahumullah)

Pendapat Ketiga :  

Sebagian tauqifi dan sebagian dengan ijtihad para Shahabat :

Yang mana ada riwayat-riwayat yang menunjukkan tertib (pengurutan) sebagian surat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Telah datang riwayat yang menunjukkan bahwa tertib as-Sab’u ath-Thiwal, al-Hawaamiim (surat yang diawali dengan Haamiim), al-Mufashshal (suratsurat pendek), pada masa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.

Telah diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: اقرؤوا الزهراوين البقرة وسورة آل عمران Bacalah Az Zahrawain, yakni Al Baqarah dan surah Ali Imran.” (HR. Muslim)

Dan juga diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak tidur setiap malamnya menggabungkan (menempelkan) kedua telapak tangannya, kemudian meniupnya lalu membaca : al Ikhlash dan al Mu’awwidzatain (al Falaq dan an Naas). (HR. al-Bukhari)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata : ”Tertib sebagian suratsurat atau sebagian besarnya tidak mengahalanginya untuk disebut tauqifi.” dia berdalil dengan hadits dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan : ”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami :

’Telah datang kepadaku waktu untuk pembagian al Quran ke dalam hizb hizb, maka aku tidak ingin keluar sebelum selesai darinya.’ Maka kami tanyakan kepada para Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : ’Bagaimana kalian membuat hizb (1 hizb=1/2 juz) al Quran?’

Mereka menjawabnya : ’Kami memasukan tiga surat dalam satu hizb, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat dan hizb al Mufashal dari surat Qaaf sampai akhir al-Qur’an.’

Ibnu Hajar rahimahullah berkata : ”Ini menunjukkan bahwa tertib (urutan) al Quran sebagaimana yang ada dalam mushaf yang sekarang ini telah dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” dia berkata lagi : ”Dan mungkin saja yang  sudah tertib (urut) pada masa itu hanyalah hizb al-Mufashshal saja, bukan yang lainnya.”

Apabila kita mendebat ketiga pendapat di atas maka akan jelas bagi kita : Bahwa pendapat yang mengatakan bahwa pengurutan surat adalah dengan dasar ijitihad para Shahabat tidak memiliki landasan dalil yang bisa dijadikan pegangan.

Maka ijtihad sebagian Shahabat dalam pengurutan mushaf-mushaf mereka secara khusus adalah atas kehendak mereka sendiri sebelum pengumupulan/ penyusunan al Quran secara tertib.

Ketika al Quran disusun pada zaman Utsman radhiyallahu ‘anhu dengan tertib ayat dan surat di atas satu huruf/bacaan, ummat pun sepakat dengan hal itu dan mereka meninggalkan mushaf mushaf mereka.

Kalau seandinya tertib (pengurutan) adalah berdasarkan ijtihad niscaya mereka akan berpegang teguh dengan mushaf mereka masing masing.

Mengenai hadits tentang surat al Anfaal dan at Taubah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma di atas, isnad/sanadnya dalam setiap riwayat tidak terlepas dari Yazi dal-Farisi yang oleh al Bukhari rahimahullah dikategorikan dalam kelompok dhu’afa(perawi yang lemah).

Di samping itu di dalam hadits ini pun mengandung keraguan mengenai penempatan Bismillah pada permulaan surat, yang mengesankan seolah-olah Utsman radhiyallahu ‘anhu- lah yang menempatkan dan meniadakannya menurut pendapatnya sendiri.

Oleh karena itu, dalam komentarnya terhadap hadits tersebut pada Musnad Imam Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah menyebutkan : ”Hadits ini tidak ada asal muasalnya.”

Paling jauh hadis itu hanya menunjukkan ketidaktertiban (ketidakurutan) kedua surat tersebut.

Sementara itu pendapat ketiga, yang menyatakan sebagian surat itu tertibnya taufiqi dan sebagian surat yang lainnya ijtihadi ; dalil-dalilnya hanya berpusat pada nash-nash yang menunjukkan tertib tauqifi.

Adapun bagian yang ijtihadi tidak bersandar pada dalil yang menujukkan tertib ijtihadi. Sebab, penetapan suratsurat yang tauqifi dengan dalil-dalilnya tidak berarti yang selain itu adalah ijtihadi. Di samping itu, yang bersifat demikian hanya sedikit sekali.

Dengan demikian, jelaslah bahwa tertib suratsurat bersifat tauqifi, seperti halnya tertib ayatayat. Abu Bakar bin al-Anbari rahimahullah menyebutkan :

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan al Quran seluruhnya ke langit dunia. Kemudian, Dia menurunkannya secara berangsur-angsur selama dua puluh sekian tahun. Sebuah surat turun karena ada suatu masalah yang terjadi, ayat pun turun sebagai jawaban bagi orang yang bertanya. Jibril ‘alaihissallaam senantiasa memberitahukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana surat dan ayat tersebut harusnya di tempatkan. Dengan demikian susunan suratsurat, seperti halnya susunan ayatayat dan huruf-huruf al Quran seluruhnya berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, barangsiapa mendahulukan suatu surat atau mengakhirkannya, berarti ia telah merusak tatanan/susunan al Quran.”

Al Kirmani rahimahullah berkata dalam al-Burhan :

”Tertib surat seperti yang kita kenal sekarang sudah menjadi ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam lauhul mahfuzh. Menurut tertib ini pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan di hadapan Jibril ‘alaihissallaam setiap tahun. Demikian juga pada akhir hayatnya beliau membacakan di hadapan Jibril, dangan tertib/urutan ini sebanyak dua kali. Dan ayat yang terakhir turun adalah firman Allah ayat 281 surat Al Baqarah :

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ

”Takutlah dengan (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)”

[ baca : Ayat Apakah Yang Terakhir Turun ]

Lalu Jibril ‘alaihissallaam memerintahkan Rasulullah untuk menempatkannya di antara ayat riba dan ayat tentang utang-piutang.” (al-Itqaan: 1/62)

As Suyuthi rahimahullah mendukung pendapat al Baihaqi rahimahullah yang mengatakan : ”Surat surat dan ayat ayat al Quran pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tersusun menurut tertib (urutan) ini kecuali al Anfaal dan Bara’ah (at Taubah), sesuai dengan hadits  Utsman radhiyallahu ‘anhu.”

[ Sumber: مباحث في علوم القرآن, Syaikh Manna al-Qaththaan, maktabah Ma’arif, Riyadh hal.142-145. ]

Bagaimana Al Quran Disusun ? [ Era Rasulullah -1 ]

Bagaimana Al Quran Disusun [ Era Abu Bakar – 2 ]

 

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ