بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

At Tiin adalah nama surat ke 95 dalam Al Quran secara tartib Mushhafi dan surat ke 28 secara tartib Nuzuli.

Klasifikasi surat At Tiin :

Nama At Tiin diambil dari kata At Tiin yang terdapat pada ayat pertama surah ini yang artinya buah Tin.

Tafsir surat At Tiin :

 وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ 1

Demi (buah) Tin [1] dan (buah) Zaitun,

 وَطُورِ سِينِينَ 2

dan demi bukit Sinai, [2]

 وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ 3

dan demi kota (Mekah) ini yang aman, [3]

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ 4

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya [4]

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ 5

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) [5]

 إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ 6

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. [6]

 فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ 7

Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? [7]

 أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ 8

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? [8]

 

[1] Yang dimaksud dengan Tin menurut sebagian mufassir ialah : tempat tinggal Nabi Nuh, yaitu Damaskus yang banyak pohon Tin.

Qurthubi menyatakan bahwa At Tiin adalah nama mesjid Ash habul Kaffi.  Dari Ibnu Abbas oleh Al Aufi nama mesjid Nabi Nuh, yang ada di puncak Bukit Al Judi

Dan Zaitun ialah Baitul Maqdis yang banyak tumbuh pohon Zaitun. Allah Subhaanahu wa Ta’aala bersumpah dengan kedua pohon itu karena banyaknya manfaat pada pohon dan buahnya, dan karena biasa tumbuh di negeri Syam ; negeri tempat kenabian Isa putera Maryam’alaihis salam.

[2] Bukit Sinai adalah tempat Nabi Musa ‘alaihis salam diajak bicara oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan menerima wahyu dari-Nya. Sinin artinya yang diberkahi atau indah karena pohon-pohon yang berbuah.

[3] Yang merupakan negeri tempat kenabian Muhamad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala bersumpah dengan tempat-tempat yang mulia tersebut yang dari sana dibangkitkan nabinabi yang utama dan mulia. Isi sumpahnya adalah apa yang disebutkan dalam ayat selanjutnya.

[4] Yakni sempurna dan seimbang fisiknya serta sesuai letak anggota badannya. Namun sayang, nikmat yang besar ini tidak disyukuri oleh kebanyakan manusia. Kebanyakan mereka berpaling dari sikap syukur, sibuk dengan permainan dan yang melalaikan, dan lebih senang dengan perkara yang hina dan rendah, sehingga Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengembalikan mereka ke tempat yang paling rendah, yaitu neraka yang merupakan tempat para pelaku maksiat yang durhaka.

[5] Ada pula yang menafsirkan dengan masa tua, pikun dan lemah.

[6] Mereka memperoleh kenikmatan yang penuh, kegembiraan yang berturut-turut, kesenangan yang banyak selama-lamanya.

[7] Yakni setelah mereka tahu bahwa manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya, lalu dikembalikan-Nya kepada keadaan yang paling rendah dimana pada semua itu terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala berkuasa membangkitkan.

[8] Yakni bukankah hikmah (kebijaksanaan)-Nya menghendaki untuk tidak membiarkan makhluk ciptaan-Nya begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang serta tanpa diberikan balasan? Bukankah Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang menciptakan manusia secara bertahap dan mengirimkan berbagai kenikmatan yang tidak dapat mereka jumlahkan serta mengurus mereka dengan pengurusan yang sebaik-baiknya pasti akan mengembalikan mereka ke tempat terakhir mereka menetap? Dan bukankah Allah Subhaanahu wa Ta’aala hakim yang paling adil dan tidak pernah berbuat zalim kepada seorang pun? Ya, benar kami menjadi saksi terhadap hal itu.

Selesai tafsir surah At Tiin dengan pertolongan Allah, taufiq-Nya dan kemudahan-Nya, wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.

Keutamaan Nabi Ulul ‘Azmi

Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi Ulul ‘Azmi yaitu

  • Tempat adanya buah tiin dan zaitun, yaitu Baitul Maqdis, tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam.
  • Bukit Sinai yaitu tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa bin ‘Imran ‘alaihis salam.
  • Negeri Mekah yang penuh rasa aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601)

Sumpah dengan tiga hal di atas menunjukkan kemuliaan Nabi Ulul ‘Azmi –semoga bagi mereka shalawat dan salam-.

Dari Sempurna Lalu Masuk Neraka

Setelah bersumpah dengan tiga tempat tersebut, lalu disebutkan al muqsam ‘alaih yaitu isi sumpah :

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ 4

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ 5

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)

 إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ 6

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

 

Tafsiran pertama dari ayat di atas, manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya yang sempurna. Kemudian ia akan masuk dalam neraka.

Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, Abul ‘Aliyah, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Zaid dan selainnya. Ia masuk neraka dikarenakan ia tidak mau taat pada Allah Ta’ala dan enggan mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang selamat dari neraka adalah orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601)

Tafsiran kedua dari ayat di atas, manusia diciptakan dalam keadaan kuat ketika muda lalu dikembalikan di usia tua dalam keadaan lemah. Tafsiran kedua ini disebutkan dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Ikrimah. Pendapat ini juga dianut oleh Ibnu Jarir.

Namun menurut Ibnu Katsir, ayat di atas sama seperti maksud surat Al Ashr ayat 1 – 3 :

 وَالْعَصْرِ 1

Demi masa.

 إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ 2

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian

 إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 3

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Maksudnya, yang dikembalikan ke tempat yang rendah adalah dijadikan orang yang merugi. Yang tidak merugi hanyalah orang yang beriman dan beramal shalih.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

فَحَكَمَ عَلَى النَّوْعِ كُلِّهِ وَالْأُمَّةِ الْإِنْسَانِيَّةِ جَمِيعِهَا بِالْخَسَارَةِ وَالسُّفُولِ إلَى الْغَايَةِ إلَّا الْمُؤْمِنِينَ الصَّالِحِينَ

“Seluruh manusia dan umat berada dalam kerugian dan keadaan yang serendah-rendahnya kecuali orang beriman dan beramal shalih.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 2: 5)

Karena kalau diartikan keadaan yang rendah (jelek) dalam surat At-Tiin adalah keadaan di waktu harom (waktu tua), sebenarnya orang beriman pun ada yang merasakan sulit beramal di waktu tuanya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601)

Sedari Muda Hingga Tua

Penjelasan dari ulama tafsir yang lain ….
Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ada empat pendapat.

Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya seperti di waktu mudanya yaitu dalam keadaan kuat dan semangat untuk beramal.”

Pendapat ini dipilih oleh ‘Ikrimah.
“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qatadah, juga Adh-Dhahak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal.”

Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda, yaitu masa emas untuk beramal shalih.

Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka dia akan dicatat sebagaimana dahulu (di waktu muda) dia pernah beramal. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah yang artinya “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka.

Walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, maka mereka tidak akan berhenti dari beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaad Al-Masiir, 9: 172-174 dan Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7: 72)

Jika seseorang sulit beramal di waktu tua padahal waktu mudanya gemar beramal, maka ia tetap dicatat seperti keadaannya di waktu muda. Sama halnya keadaannya seperti orang yang sakit dan bersafar. Dalam hadits Abu Musa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya semisal keadaan ketika ia beramal saat mukim atau sehat.” (HR. Bukhari no. 2996)

Berlindung dari Keadaan Jelek di Waktu Tua

Jadi, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan. Mintalah juga perlindungan kepada Allah dari usia tua yang jelek sebagaimana do’a yang Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan dengan do’a,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَرَمِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ

artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari rasa malas, aku meminta perlindungan pada-Mu dari lemahnya hati, aku meminta perlindungan pada-Mu dari usia tua (yang sulit untuk beramal) dan aku meminta perlindungan pada-Mu dari sifat kikir (pelit)].” (HR. Bukhari no. 6371)

Ada empat hal yang diminta dilindungi dalam doa di atas:

1- Sifat al kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Inilah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah.
Bedanya dengan kasal dan ‘ajz, ‘ajz itu tidak ada kemampuan sama sekali, sedangkan kasal itu masih ada kemampuan namun tidak ada dorongan untuk melakukan kebaikan.

2- Sifat al jubn, artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani), yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Juga do’a ini bisa berarti meminta perlindungan dari hati yang lemah.

3- Sifat al harom, artinya berlindung dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Ada apa dengan masa tua? Karena pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ketaatan.

4- Sifat al bukhl, artinya berlindung dari sifat pelit (kikir). Yaitu do’a ini berisi permintaan agar seseorang bisa menunaikan hak pada harta dengan benar, sehingga memotivasinya untuk rajin berinfak (yang wajib atau yang sunnah), bersikap dermawan dan berakhlak mulia. Juga do’a ini memaksudkan agar seseorang tidak tamak dengan harta yang tidak ada padanya. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 17: 28-30)

Allah adalah Hakim Seadil-Adilnya

Di akhir ayat, Allah sebut,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ 8

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?

 

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata,

“Apa yang menyebabkan manusia sampai mengingkari hari pembalasan terhadap amalan. Padahal telah banyak bukti dari berbagai ayat Allah dengan bukti yang yakin. Juga sudah ada bukti dengan berbagai nikmat yang telah Allah beri yang kita jangan sampai mengingkarinya.
Bukankah Allah adalah Hakim yang seadil-adilnya? Maksudnya, Allah tidak akan membiarkan manusia begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Tak mungkin pula Allah membiarkan mereka tanpa diberi pahala dan tanpa diberi hukuman.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 976)

 

Faedah Surat At Tiin

Terakhir, faedah penting yang bisa kita ambil :

  • Keutamaan Nabi Ulul ‘Azmi yang disebut dalam surat ini yaitu Nabi ‘Isa, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad ‘alaihimush sholaatu was salaam.
  • Buah tiin dan zaitun punya banyak manfaat, dianjurkan untuk menanamnya.
  • Kota Makkah adalah kota yang mulia dan penuh rasa aman.
  • Allah memuliakan manusia dengan menciptakannya dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
  • Allah memuliakan seorang muslim, ketika ia dipanjangkan umurnya, ketika ia berada di usia senja, tetap amalannya dicatat seperti ia muda. Allah terus memberikannya kebaikan dan menjauhkan darinya kejelekan.
    Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi :

Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar.
Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Iyad bin ‘Abdul Lathif bin Ibrahim Al-Qaisi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
Sumber : https://rumaysho.com/12210-tafsir-surat-at-tiin-pahala-yang-tidak-terputus-hingga-tua.html

 

[table “” not found /]

.

[table “” not found /]
[table “” not found /]
 Susunan Surat Secara Tartib Mushhafi
  1. Al  Faatihah    •  2. Al Baqarah   • 3. Ali ‘Imran  •  4. An Nisaa’  •  5. Al Maa-idah  •  6. Al An’aam   •   7. Al A’raaf   •  8. Al Anfaal •   9. At Taubah   •  10. Yunus [surat]  •  11. Hud   •  12. Yusuf [surat] •  13. Ar Ra’d   •  14. Ibrahim [surat]  •  15. Al Hijr [surat]    •  16. An Nahl •  17. Al Israa’   •  18. Al Kahfi   •  19. Maryam [surat]  •  20. Thaahaa •  21. Al Anbiyaa’ •  22. Al Hajj •  23. Al Mu’minuun   •  24. An Nuur   •   25. Al Furqaan   •  26. Asy Syu’araa   •   27. An Naml  •   28. Al Qashash   •   29. Al ‘Ankabuut   •   30. Ar Ruum   •   31. Luqman  •  32. As Sajdah   •   33. Al Ahzab   •   34. Saba’   •   35. Fathir   •  36. Yassiin •  37. Ash Shaaffaat •  38. Shaad  •  39. Az Zumar   •   40. Al Mu’min  •  41. Al Fushshilat  •  42. Asy Syura   •   43. Az Zukhruf  •  44. Ad Dukhaan  •  45. Al Jaatsiyah   •  46. Al Ahqaaf   •  47. Muhammad [surat]   •  48. Al Fath  •  49. Al Hujuraat  •  50. Qaaf   •  51. Adz Dzaariyaat •  52.  Ath Thuur   •  53.  An Najm  •  54. Al Qamar  •  55. Ar Rahmaan  •  56. Al Waaqi’ah   •  57. Al Hadiid  •  58. Al Mujaadilah  • 59. Al Hasyr  •  60. Al Mumtahanah  •  61. Ash Shaff   •  62. Al Jumu’ah   •   63. Al Munaafiquun  •  64. At Taghaabun   •   65.  Ath Thalaaq   •   66. At Tahriim   •   67. Al Mulk   •  68. Al Qalam   •  69. Al Haaqqah   •  70. Al Ma’aarij  •  71. Nuh   •   72. Al Jin   •   73. Al Muzzammil  •   74. Al Muddatstsir   •   75. Al Qiyaamah  •  76. Al Insaan   •   77. Al Mursalaat   •

Juz Amma

  1. An Naba’   •   79. An Naazi’aat  •   80. ‘Abasa   •   81. At Takwir   •   82.  Al Infithaar  •   83. Al Muthaffifiin  •  84. Al Insyiqaaq   •  85. Al Buruuj   •  86. Ath Thaariq  •  87. Al A’laa   •  88. Al Ghaasyiyah   •   89. Al Fajr   •   90. Al Balad   •   91. Asy Syams   •  92. Al Lail   •   93. Adh Dhuhaa   •   94. Alam Nasyrah   •   95. At Tiin  •  96. Al ‘Alaq   •   97. Al Qadr •  98. Al Bayyinah   •  99. Az Zalzalah •  100. Al ‘Adiyaat   •   101. Al Qaari’ah   •  102. At Takaatsur   •  103. Al ‘Ashr   •   104. Al Humazah   •  105. Al Fiil •  106. Quraisy  •  107. Al Maa’uun   •   108.  Al Kautsar   •  109. Al Kaafiruun  •  110. An Nashr •  111. Al Lahab •  112. Al Ikhlash   •  113. Al Falaq   •  114. An Naas
Susunan Surat Secara Tartib Nuzuli

Al ‘Alaq  • 2. Al Qalam  • 3. Al Muzzammil  • 4. Al Muddatstsir  • 5. Al  Faatihah  •  6. Al Lahab  • 7. At Takwir  • 8. Al A’laa   •  9. Al Lail  • 10.  Al Fajr   • 11. Adh Dhuhaa 11  •  12.  Alam Nasyrah  •  13. Al ‘Ashr   • 14. Al ‘Adiyaat  • 15. Al Kautsar • 16. At Takaatsur   • 17.  Al Maa’uun  • 18. Al Kaafiruun •  19. Al Fiil   •   20. Al Falaq  • 21.  An Naas  • 22.  Al Ikhlash  • 23. An Najm  •  25. ‘Abasa  •  25.  Al Qadr •  26. Asy Syams   •  27. Al Buruuj   •  28. At Tiin •  29. Quraisy  •  30. Al Qaari’ah  •  31. Al Qiyaamah   •  32. Al Humazah   • 33.  Al Mursalaat   •  34. Qaaf  •  35. Al Balad  •  36. Ath Thaariq   •  37. Al Qamar  •  38. Shaad   •  39. Al A’raaf  •  40. Al Jin  •  41. Yassiin   •   42. Al Furqaan   •  43. Fathir   • 44. Maryam  •  45. Thaahaa  •   46. Al Waaqi’ah •  47. Asy Syu’araa   •  48. An Naml  • 49.  Al Qashash   •  50. ,Al Israa’   •    • 51.  Yunus, • 52. Hud  • 53. Yusuf  • 54. Al Hijr  •   55. Al An’aam  •  56. Ash Shaaffaat  •   57. Luqman  •  58. Saba’  •   59.  Az Zumar  •  60. Al Mu’min    • 61. Al Fushshilat   •  62. Asy Syura  •  63.   Az Zukhruf   • 64. Ad Dukhaan    •  65. Al Jaatsiyah   •  66. Al Ahqaaf    •  67.  Adz Dzaariyaat  •   68.  Al Ghaasyiyah  •  69. Al Kahfi  • 70. An Nahl  •  71. Nuh  •  72. Ibrahim  •  73. Al Anbiyaa’   • 74. Al Mu’minuun •   •  75. As Sajdah   •  76. Ath Thuur  •  77. Al Mulk  •   78. Al Haaqqah  •  79. Al Ma’aarij  •  80. An Naba’  •  81. An Naazi’aat   •  82. Al Infithaar  •  83.  Al Insyiqaaq   •  84. Ar Ruum  • 85. Al ‘Ankabuut   •   86. Al Muthaffifiin   • 87. Al Baqarah   •88.  Al Anfaal   • 89. Ali ‘Imran    •  90.  Al Ahzab   •  91.  Al Mumtahanah   •   92. An Nisaa’   • 93. Az Zalzalah   •  94. Al Hadiid   •  95. Muhammad   •  96. Ar Ra’d  •  97. Ar Rahmaan  •  98. Al Insaan   •  99. Ath Thalaaq  • 100.  Al Bayyinah  •  101. Al Hasyr   •  102.  An Nuur    • 103.  Al Hajj • 104. Al Munaafiquun    •  105. Al Mujaadilah   •  106.  Al Hujuraat  •  107. At Tahriim  •   108. At Taghaabun  • 109. Ash Shaff   • 110. Al Jumu’ah  •  111. Al Fath   •  112.  Al Maa-idah  • 113.  At Taubah  •  114.  An Nashr

Keterangan : Makkiyah  •  Madaniyyah

.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
. .