Telah dijelaskan sebelumnya keadaan Ibnu Shayyad dan pertanyaan Nabi kepadanya yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan jati diri Ibnu Shayyad secara detail, karena beliau sama sekali tidak mendapatkan wahyu bahwa dia adalah Dajjal atau yang lainnya.

Sementara Umar pernah bersumpah di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkarinya.

Sebagian Sahabat berpendapat dengan apa yang diungkapkan oleh Umar, dan bersumpah bahwasanya Ibnu Shayyad adalah Dajjal, sebagaimana diriwayatkan dari Jabir, Ibnu Umar, dan Abu Dzar Radhiyallahu anhum.

Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Muhammad bin al Munkadir,[1] dia berkata, “Aku melihat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhuma bersumpah atas Nama Allah bahwasanya Ibnu Shayyad adalah Dajjal.” Aku berkata, “Engkau bersumpah atas Nama Allah?!” Dia berkata, “Sesungguhnya aku mendengar ‘Umar bersumpah terhadap hal itu di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm tidak mengingkarinya.”[2]

Diriwayatkan dari Nafi’ rahimahullah [3] , dia berkata, “Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma pernah berkata, ‘Demi Allah aku tidak meragukan bahwa al-Masihud Dajjal adalah Ibnu Shayyad.’” [4]

Diriwayatkan dari Zaid bin Wahb[5], beliau berkata, “Abu Dzarr Radhiyallahu anhu berkata, ‘Bersumpah sepuluh kali dengan menyatakan sesungguhnya Ibnu Shayyad adalah Dajjal lebih aku sukai daripada bersumpah hanya satu kali dengan menyatakan sesungguhnya dia bukan Dajjal.’” [6]

Diriwayatkan dari Nafi’, Ibnu ‘Umar berjumpa dengan Ibnu Sha-id pada salah satu jalan di Madinah, lalu dia mengatakan suatu perkataan yang menjadikannya marah dan naik pitam, sehingga membuat keributan di jalan. Kemudian Ibnu ‘Umar datang kepada Hafshah dan menceritakan kepada, lalu dia (Hafshah) berkata kepadanya, “Semoga Allah merahmatimu! Apa yang engkau inginkan dari Ibnu Sha-id?! Apakah engkau tidak mengetahui bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya ia hanya keluar karena kemarahan yang dibencinya?!’” [7]

Dan pada satu riwayat dari Nafi, dia berkata, Ibnu ‘Umar berkata, “Aku telah menemuinya sebanyak dua kali (pada pertemuan pertama) aku menemuinya, lalu aku berkata kepada sebagian mereka (sahabat Ibnu Shayyad), “Apakah kalian mengatakan bahwa dia Dajjal?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah.” Nafi berkata, Ibnu Umar mengatakan, “Engkau telah berbohong padaku, demi Allah sebagian dari kalian telah mengabarkan kepadaku sesungguhnya dia tidak akan mati hingga dia menjadi orang yang paling banyak harta dan anaknya di antara kalian, demikianlah anggapan tentangnya sampai hari ini.” Dia berkata, “Lalu kami pun berbincang-bincang, kemudian meninggalkannya.”

Dia berkata, “Aku berjumpa dengannya pada kesempatan yang lain sementara matanya telah membengkak.” Aku bertanya, “Sejak kapan matamu seperti yang aku lihat sekarang ini?” Dia menjawab, “Tidak tahu.” Aku menyanggah, “Engkau tidak tahu sementara ia berada di kepalamu sendiri?” Dia berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan hal ini pada tongkatmu ini.” Beliau berkata, “Lalu dia mendengus seperti dengusan keledai yang paling keras yang pernah aku dengar.”

Beliau berkata, “Lalu sebagian sahabatnya mengira bahwa aku telah memukulnya dengan tongkatku hingga matanya cidera, demi Allah, padahal aku sama sekali tidak merasakan (berbuat seperti itu).” Dia (Nafi) berkata, “Dan dia datang kepada Ummul Mukminin (Hafshah), lalu menceritakannya, beliau bertanya, ‘Apa yang engkau inginkan darinya?! Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau (Nabi) pernah bersabda, ‘Sesungguhnya penyebab awal yang mendorongnya keluar kepada manusia adalah kemarahan yang menyebabkan dia marah.’”[8]

Ibnu Shayyad mendengarkan apa-apa yang dibicarakan manusia tentang-nya, lalu dia merasa sangat terluka karenanya. Dia membela diri bahwa dia bukanlah Dajjal, dan berhujjah bahwa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sifat-sifat Dajjal tidak sesuai dengan keadaannya.

Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Kami pernah keluar untuk melakukan haji atau umrah dan Ibnu Sha-id ikut bersama kami, kemudian kami singgah. Selanjutnya orang-orang berpisah sementara aku bersamanya. Aku merasa sangat takut karena apa yang dikatakan manusia tentangnya.” (Abu Sa’id) berkata, “Dia datang dengan perbekalannya, lalu dia meletakkannya bersama perbekalanku.” Aku berkata kepadanya, “Udara sangat panas, sebaiknya engkau meletakkannya di bawah pohon itu,” (Abu Sa’id) berkata, “Akhirnya dia melakukannya.” Kemudian kami diberikan satu ekor kambing, lalu dia pergi dan kembali dengan membawa satu wadah besar, dia berkata, “Minumlah wahai Abu Sa’id!”

Aku berkata, “Sesungguhnya udara sekarang ini panas sekali, dan susu itu juga panas,” sebenarnya tidak ada masalah bagiku, hanya saja aku tidak ingin meminum sesuatu yang berasal dari tangannya, (atau dia berkata) mengambil dari tangannya,” lalu dia berkata, “Wahai Abu Sa’id, sebelumnya aku hendak mengambil tali, lalu menggantung-kannya di pohon, kemudian aku ikat leherku karena (merasa sakit hati) terhadap segala hal yang dikatakan oleh manusia. Wahai Abu Sa’id, siapakah yang tidak mengetahui hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari kalian wahai orang-orang Anshar. Bukankah engkau orang yang paling mengetahui hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Dia (Dajjal) adalah orang kafir,’ sementara aku adalah seorang muslim? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) adalah orang yang tidak memiliki anak, sementara aku telah meninggalkan anak-anakku di Madinah? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) tidak akan pernah memasuki Madinah dan Makkah, sementara aku datang dari Madinah menuju Makkah?”

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Hampir saja aku menerima alasannya,” kemudian dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengenalnya dan mengetahui tempat kelahirannya, dan di mana dia sekarang.” Abu Sa’id berkata, “Aku berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau pada hari-harimu.’”[9]

Dalam satu riwayat lain, Ibnu Shayyad berkata, “Demi Allah, sesungguh-nya aku mengetahui di mana dia (Dajjal) sekarang, dan mengenal bapak juga ibunya.” (Perawi berkata) dikatakan kepadanya, “Apakah engkau senang jika engkau adalah dia?” Dia menjawab, “Jika ditawarkan kepadaku, maka aku tidak akan membencinya.” [10]

Sebenarnya masih ada beberapa riwayat yang menjelaskan keadaan Ibnu Shayyad. Kami sengaja tidak mengungkapkan agar tidak memperpanjang pem-bahasan, karena sebagian peneliti seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan yang lainnya menolak riwayat-riwayat tersebut karena kelemahan sanadnya.[11]

Masalah Ibnu Shayyad terasa rancu bagi sebagian ulama dan masalahnya menjadi sulit bagi mereka. Sebagian mereka mengatakan bahwa dia adalah Dajjal dan berhujjah dengan dalil sebelumnya, yaitu sumpah sebagian Sahabat yang menyatakan bahwa dia adalah Dajjal, dan dengan peristiwa yang terjadi antara dia dengan Ibnu ‘Umar juga Abu Sa’id Radhiyallahu anhum.

Sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa dia bukanlah Dajjal, mereka berhujjah dengan hadits Tamim ad Dari Radhiyallahu anhu.

Artikel terkait :

Ad Dajjal Al Masih

Apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal ? [1]

Apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal ? [2]

Hadits Tamim ad Dari Tentang Dajjal

 

Footnote:

[1]. Beliau adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin al-Munkadir bin ‘Abdillah bin al-Hadir bin ‘Abdil ‘Uzza at-Taimi. Seorang Tabi’in, salah seorang imam, meriwayatkan dari sebagian para Sahabat dan wafat pada tahun 131 H rahimahullah. Lihat Tahdziibut Tahdziib (IX/473-475).
[2]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-I’tishaam bil Kitaabi was Sunnah, bab Man Ra’-a Tarkan Nakiir minan Nabiyyi Hujjatun li man Ghairir Rasuul (XIII/223, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/52-53, Syarh an-Nawawi).
[3]. Beliau adalah Abu ‘Abdillah, ahli fiqih Madinah, budak Ibni ‘Umar, yang didapatkannya pada sebuah peperangan yang beliau lakukan. Dia meriwayatkan dari banyak para Sahabat, dia adalah seorang yang tsiqah dan banyak meriwayatkan hadits. Wafat pada tahun 119 H rahimahullah. Lihat biografinya dalam Tahdziibut Tahdziib (X/412-414).
[4]. Sunan Abi Dawud (XI/483). Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya shahih,” Fat-hul Baari (XIII/325).
[5]. Beliau adalah Abu Sulaiman Zaid bin Wahb al-Juhani al-Kufi, pergi menjumpai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia ditangkap ketika sedang di dalam perjalanan. Beliau meriwayatkan hadits dari banyak Sahabat seperti ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Abu Dzarr dan yang lainnya g. Dia adalah seorang yang tsiqah lagi banyak meriwayatkan hadits. Wafat pada tahun 96 H rahimahullah.
Lihat biografinya dalam Tahdziibut Tahdziib (III/427).
[6]. HR. Imam Ahmad, telah terdahulu takhrijnya.
[7]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/57, Syarh an-Nawawi).
[8]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/57, Syarh an-Nawawi).
[9]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/51-52, Syarh an-Nawawi).
[10]. Shahiih Muslim (XVIII/51, Syarh an-Nawawi).
[11]. Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/127) tahqiq Dr. Thaha Zaini dan Fat-hul Baari (XIII/ 326).