بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pada jaman penuh fitnah seperti sekarang ini, kita tentu sering berhadapan dengan orang orang yang menolak pada kebenaran. Kita sering berselisih dengan musuh musuh Islam.  Dan mereka ada banyak jenisnya.  Ada yang sok pinter padahal ilmunya cetek, ada yang teriak soal syariat tetapi tidak pernah belajar agama, ada yang ngeyel meski sudah dibantah dengan dalil dalil yang kuat.  Dan sebagainya.

Dari berbagai model musuh yang kita hadapi, yang paling menjengkelkan tentu kalau kita berhadapan dengan mereka yang tidak punya ilmu tapi terus ngeyel jika diberitahu kebenaran.  Malah akhirnya membully, menghina dan menista.  Itulah yang disebut kaum bebal.  Kaum yang menolak kebenaran dan bangga pada kebodohannya.

Rasulullah sangat sering bertemu dengan kaum bebal seperti itu.  Orang orang bebal memang menjadi hiasan dunia yang utama.  Dan ketika bertemu dengan kaum bebal, Rasulullah tidak pernah berpanjang panjang berbicara.  Allah perintahkan kepada Rasulullah untuk langsung berbicara secara tegas, to the point, dan mengingatkan pada inti semua ini, inti masalah, inti topik.  Rasulullah tidak bicara soal filsafat, soal proses atau bicara soal : bagaimana memecahkan masalah.  Tidak.  Rasulullah tidak berpanjang panjang berbicara kepada kaum bebal.  Karena mereka adalah kaum yang sudah sejak awal memiliki pandangan sendiri, pendapat sendiri, keyakinan sendiri.  Dan mereka loyal dan bersikukuh dengan keyakinannnya itu.

Rasulullah tidak pernah melayani debat, karena tujuan debat adalah untuk menang, bukan untuk mencari kebenaran.  Dan itu hanya akan dilakukan oleh kelompok bebal.  Tetapi Rasulullah terbuka pada diskusi, dan musyawarah.   hampir seluruh peristiwa dalam tarikh Islam, misalnya perang, selalu didahului dengan musyawarah Rasulullah dengan para sahabat.

Ketika Rasulullah petama kali diperintahkan Allah Ta’ala untuk berdakwah secara terbuka, apa yang pertama kali Rasulullah lakukan?

Karena bayangkanlah, saat itu Quraisy diliputi oleh orang orang bebal [ jahil ].  Yang mereka pasti menolak dan berpaling atas apapun yang akan dikatakan Rasulullah.  Sungguh, hati mereka diliputi kekerasan yang menakutkan.

Tapi perintah Allah adalah kepastian yang tidak bisa dihindari.  Maka, apapun resikonya, Rasulullah harus berdakwah secara terbuka atau terang terangan.  Pada tahun ke 3 atau 4 Kenabian, berdirilah Rasulullah diatas atas bukit Shafa.  Lalu dengan tenang Rasulullah berkata :

‘Ya Quraisy, jika aku katakan ada musuh di balik bukit ini, mereka berkumpul dan akan menyerang kalian.  Apakah kalian akan mempercayaiku?’

Maka orang orang Quraisy itu serempak menjawab.  ‘Tentu ya Muhammad.  Engkau adalah orang terpercaya’

Izan [kalau begitu], dengarkan apa yang akan aku katakan :   Allah itu satu. Tidak ada pencipta selain Dia. Dan aku, Muhammad,  adalah utusan-Nya. kalau kalian percaya dengan apa yang aku katakan, kalian akan masuk surga’

Simpel.  To the point. Gak pake ribet, tentunya.  Kelanjutan dari kisah diatas, tentu kita semua sudah tahu.  Kerumunan Quraisy itu langsung marah, merasa dibodohi dan langsung menentang kata kata Rasulullah.

Kepada orang bebal, memang kita tidak perlu mengeluarkan dalil dalil, tetapi ikuti saja langkah langkah Rasulullah.  Rasulullah dan para sahabat hanya akan mengutip ayat ayat yang simple, to the point, dan gak pake ribet. Ayat yang seperti apakah itu?

Simpel

Itulah ayat ayat Makkiyah.  Ayat ayat yang pendek dan argumentatif [pendalilannya kuat].  Dan kalimatnya adalah  kalimat yang tegas dan lugas. Serta gaya bahasanya kuat dan kalimatnya keras.

  • Ayatayat dan surat-suratnya pendek-pendek (ijaz)
  • nada perkataanya keras dan agak bersajak
  • Mengandung seruan untuk beriman kepada Allah [Tauhid] dan hari qiyamat dan menggambarkan keadaan surga dan neraka, siksaan, alam kubur, hari pembalasan dst
  • Mengajak manusia untuk berakhlak yang mulia dan berjalan diatas jalan yang baik/benar
  • Membantah orang-orang musyrik dan menerangkan kesalahan kesalahan kepercayaannya dan perbuatannya
  • Terdapat banyak lafadz sumpah.

Hal ini karena yang dihadapi adalah jenis kaum yang suka menentang Islam dan orang-orang yang sombong. Contoh nya adalah surat Al Mudatstsir dan Al Qomar.

Itulah sebabnya ayat ayat yang turun pada periode Makkah, adalah ayat ayat yang simple dan to the point.  Ayat ayat Makkiyah memiliki uslub (gaya bahasa) yang kuat, kalimatnya keras.

Ingat, ayat ayat Al Quran selalu tepat sasaran.  Sehingga tiap kaum yang diajak berdialog akan disesuaikan dengan obyek yang didakwahi ; dari ketegasan, kelugasan, kelunakan dan kemudahan.

Sehingga, ketika kita berbicara dengan kaum bebal, tak perlu berpanjang panjang.  Karena mereka pasti akan menolak segala aturan atau syariat dalam Ibadah.  Bagaimanapun kita sebutkan dalil dalilnya, mereka hanya akan mencemooh.

Yang paling mudah adalah ingatkan mereka akan alam kubur, tentang siksaan yang pedih, tentang neraka jahanam.

Misalnya Al Quran surat Thahaa ayat 124 :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta“.

 Kalau mereka tidak mau sadar juga, bagaimana?  Tinggalkan saja.  Kita sudah berusaha, tapi jika Allah sudah tutup hati mereka, apa yang bisa kita lakukan?

Ketika seruan Rasulullah diatas bukit Shafa tidak diindahkan, Rasulullah malah dicemooh dan dinista.  Sesudahnya, Rasulullah hanya pergi dengan hati sedih dan penuh kepiluan.   Perintah Allah sudah Rasulullah tunaikan.  Sekarang, tinggal bagaimana Allah menyelesaikannya.

Dan salah satu penyelesaian Allah Ta’ala kepada kaum pembangkang dan pencemooh Rasulullah di bukit Shafa itu adalah :  dilaknatnya seorang diantara mereka.  Dan jika orang itu mati, maka Allah telah sediakan neraka jahanam dengna siksa yang pedih.  Siapakah orang itu?  Dialah Abu Lahab.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .