بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Amru bin Ash adalah salah seorang sahabat Nabi yang awalnya menentang Islam lalu kemudian masuk Islam dan menjadi salah satu kebanggaan Islam karena perannya yang besar dalam peperangan Islam.  Dan pada akhir hidupnya ia terlibat dalam perkara  yang berkaitan dengan fitnah besar di jaman khalifah Ali bin Abu Thalib.

Namun sepanjang hidupnya, ia memang menorehkan banyak peran dalam sejarah Islam.  Mulai dari awal kenabian, hijrah pertama ke Habasyah, hingga beliau masuk Islam, ditunjuk menjadi panglima perang dst.  Bahkan pada masa kekhalifahan Umar, Utsman hingga Muawiyah, nama Amru bin Ash masih terus menghias lembar lembar sejarah Islam.

Namanya dikenang dengan amat baik saat ia dengan gagah berani menaklukkan Mesir pada masa  khalifah Umar bin Khattab  Amru merupakan salah seorang pahlawan bangsa Arab yang sangat terkenal, sekaligus seorang politisi yang cemerlang. Terkenal dengan kecerdasan dan kepintarannya mengatur siasat.

 

Nasab Amru bin Ash

Kunyah Amr bin al Ash adalah Abu Abdullah atau Abu Muhammad.

Nama aslinya adalah Amru bin Ash bin Wa’il bin Hisyam (583-664) (Arab:عمرو بن العاص) atau lebih dikenal dengan nama Amru bin Ash.

 

Tahun Kelahiran Amru bin Ash

Amru bin Ash diperkirakan lahir pada tahun 583 M.

 

Tahun Wafatnya Amru bin Ash

Amru wafat tahun 664 M atau 41 H.  Ia wafat saat masa Muawiyah bin Abu Sufyan.

 

Ia adalah seorang pedagang yang biasa bersafar ke Syam, Yaman, Mesir, dan Habasyah. Amr bin al-Ash memiliki bakat alamiah yang komplit, seorang penunggang kuda yang mahir, termasuk di antara kesatrinya kaum Quraisy, negosiator ulung, dan ia juga seorang penyair yang puitis dan fasih bahasanya. Tidak heran, mengapa orang-orang Quraisy mengirimnya untuk melobi an-Najasyi agar mengembalikan orang-orang Mekah yang hijrah ke Habasyah.

Keislaman Amr bin al-Ash

Amr bin al-Ash masuk Islam pada tahun 8 H setelah kegagalan Quraisy dalam perang Ahzab dan enam bulan sebelum penaklukkan Kota Mekah. Saat itu ia datang bersama Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah ke Kota Madinah. Ketika tiga orang ini menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah menatap ketiganya, lalu bersabda, “Mekah telah memberikan putra terbaiknya untuk kalian (umat Islam).”

Amr bin al-Ash mengatakan, “Pada saat Allah menganugerahkan hidayah Islam di hatiku, aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aku mengatakan, ‘Julurkanlah tangan Anda, aku akan membaiat Anda’. Rasulullah pun menjulurkan tangan kanannya kepadaku. Lalu kutahan tanganku –sebentar-.

Rasulullah bertanya, ‘Ada apa wahai Amr?’

Kujawab, ‘Aku ingin Anda memberikan syarat kepadaku’.

Rasulullah mengatakan, ‘Apa syarat yang kau inginkan?’

Aku menjawab, ‘Agar dosa-dosaku diampuni.’

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidakkah engkau ketauhi, bahwa keislaman menghapuskan dosa-dosa sebelumnya? Demikian juga hijrah menafikan kesalahan-kesalahan yang telah lalu? Dan juga haji menyucikan hilaf dan dosa terdahulu?’ (HR. Muslim).”

Di masa keislamannya, Rasulullah dekat kepadanya dan mendidiknya dengan pendidikan tauhid yang murni. Rasulullah tahu, Amr adalah orang yang istimewa, terkenal dengan keberanian dan bakat-bakat lainnya. Rasulullah mengutus kepadanya seorang utusan yang membawa pesan, “Bawalah pakaian dan senjatamu, lalu temuilah aku.”

Amr mengatakan, “Lalu aku menemui beliau yang saat itu sedang berwudhu. Beliau menatapku lalu menganguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu beliau bersabda,

إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمَكَ اللَّهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً

“Sesungguhnya aku hendak mengutusmu berperang bersama pasukan. Semoga Allah menyelamatkanmu, memberikan ghanimah, dan aku berharap engkau mendapat harta yang baik.”

Amr menanggapi, “Wahai Rasulullah, aku masuk Islam bukan untuk mencari harta, akan tetapi aku berislam karena aku mencintai agama ini. Dan menjadi salah seorang yang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sahabatmu).

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا عَمْرُو؛ نِعْمَ المَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

“Wahai Amr, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki orang yang shaleh.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no.17798 dan Hakim no.2926).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عَمْرَو بْنَ العَاصِ مِنْ صَالحِي قُرَيْشٍ

“Sesungguhnya Amr bin al-Ash adalah di antara orang-orang yang baik dari kalangan Quraisy.” (HR. Tirmidzi dalam Sunan-nya no.3845).

Dalam riwayat Hakim dalam Mustadrak Rasulullah mempersaksikan bahwa Amr bin al-Ash adalah orang yang beriman bukan seorang laki-laki yang munafik.

ابْنَا الْعَاصِ مُؤْمِنَانِ هِشَامٌ وَعَمْرٌو

“Dua orang anak laki-laki al-Ash adalah orang yang beriman, yaitu Hisyam dan Amr.” (HR. Hakim no.5053 dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 8029)

Ini adalah persaksian dari manusia yang paling mulia, yang perkataannya adalah wahyu yang tidak didustakan, atas keimanan Amr bin al-Ash. Rasulullah sangat mencintai dan mengagumi kemampuan Amr bin al-Ash, terbukti dengan beliau mengangkatnya sebagai pimpinan pasukan perang Dzatu Salasil dan mengangkatnya sebagai amir wilayah Oman sampai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.

Penaklukkan oleh Amr bin al-Ash

Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, Amr bin al-Ash turut serta dalam memerangi orang-orang murtad. Setelah itu Abu Bakar mengangkatnya sebagai panglima salah satu pasukan yang diberangkatkan menuju wilayah Syam. Lalu ia bergabung dengan Khalid bin Walid dalam Perang Yarmuk. Kemudian ia merampungkan penaklukkan wilayah Syam. Melalui pemimpin ulung ini, wilayah Gaza, Yafa, Rafah, Nabulus, dll. berhasil dikuasai kaum muslimin.

Pada masa Umar bin Khattab, ia dipercaya memimpin wilayah Palestina. Kemudian Umar memerintahkannya berangkat menuju Mesir untuk menghadapi pasukan Romawi. Umar sangat mengagumi kecerdasan yang dimiliki Amr bin al-Ash, sampai-samapi ia memujinya dengan mengatakan, “Tidak pantas, bagi Abu Abdullah (Amr bin al-Ash) berjalan di muka bumi ini kecuali sebagai seorang pemimpin.” (Riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 46:155).

Tibalah waktu dimana Umar bin Khattab memerintahkan Amr untuk berangkat ke Mesir memerangi orang-orang Romawi. Menyerang negara adidaya ini, Amr hanya diberi bekal 4000 orang pasukan yang berangkat bersamanya. Tanpa perasaan gentar dan takut, pasukan pun bertolak menuju ke tanah para Firaun itu.

Amirul mukminin, Umar bin Khattab tetap memantau pasukan ini, ia senantiasa meneliti kabar-kabar tentang Romawi di Mesir dan juga senantiasa berdiskusi dengan pembesar sahabat. Setelah beberapa diskusi dan mendengar kabar-kabar tentang Romawi, Umar khawatir dengan pasukan Amr, khawatir mereka tidak mampu menghadapi pasukan Romawi yang begitu kuat dan banyak jumlahnya. Akhirnya amirul mukminin menulis surat kepada Amr,

إذا بلغتكَ رسالتي قبل دخولك مصر فارجع، وإلَّا فسِرْ على بركة الله

Apabila suratku sampai kepadamu sebelum engkau memasuki Mesir, maka kembalilah! Tetapi jika engkau sudah memasukinya, lanjutkanlah dengan keberkahan dari Allah.

Akhirnya surat tersebut sampai ke tangan Amr yang kala itu sudah memasuki wilayah Arisy (pinggiran Mesir pen.). Amr bertanya kepada pasukannya, “Apakah kita sudah memasuki Mesir atau masih berada di wilayah Palestina?” Pasukannya menjawab, “Sekarang kita sudah di Mesir.” Lalu Amr mengatakan, “Jika demikian kita lanjutkan perjalanan sebagaimana yang diperintahkan amirul mukminin.”

Pemimpin yang cerdik dan pemberani ini membawa pasukannya menaklukkan kota demi kota di wilayah Mesir. Dimulai dari Kota Farma, kemudian Belbis, dan Ummu Danain. Setelah itu sampailah Amr di kota besar Iskandariyah. Di kota ini terdapat 50.000 orang pasukan Romawi.

4000 pasukan yang tenaganya telah tercurah dalam beberapa peperangan sebelumnya, dengan gagah berani mengepung Kota Iskandariyah yang memiliki pasukan yang besar. Di tengah pengepungan, tersiar kabar bahwa Raja Romawi di Konstantinopel wafat dan digantikan dengan adiknya. Sang adik yang tidak banyak mengetauhi tentang konflik di Mesir ini, memandang tidak ada celah untuk mengalahkan umat Islam. Ia memerintahkan perwakilannya di Mesir, Raja Muqauqis, agar mengikat perjanjian damai dengan umat Islam.

Dalam perjanjian damai itu, tersebutlah beberapa poin berikut ini: (1) Setiap orang menyerahkan dua dinar, kecuali orang tua dan anak-anak, (2) Orang-orang Romawi pergi dengan harta dan barang-barang mereka dari Kota Iskandariyah, (3) Umat Islam menghormati gereja-gereja Kristiani saat memasuki kota, dan syarat lainnya. Setelah itu, Amr mengirimkan kabar gembira ke Madinah bahwa Mesir sudah jatuh ke tangan umat Islam.

Menjadi Gubernur Mesir

Masjid Amr bin al-Ash di Kairo. Masjid ini adalah masjid pertama yang dibangun di benua Afrika, pada tahun 21 H/641 M
Masjid Amr bin al-Ash di Kairo. Masjid ini adalah masjid pertama yang dibangun di benua Afrika, pada tahun 21 H/641 M
Orang-orang Mesir menyambut gembira kedatangan umat Islam, hal itu dikarenakan mereka mengetahui keadilan umat Islam dan mereka bebas dari kezaliman dan sifat kasar orang-orang Romawi. Amr bin al-Ash berkata kepada penduduk Mesir, “Wahai penduduk Mesir, sesungguhnya Nabi kami telah mengabarkan bahwa Allah akan menaklukkan Mesir untuk umat Islam, dan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mewasiatkan kami agar berbuat baik kepada kalian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا افْتَتَحْتُمْ مِصْرَ فَاسْتَوْصُوا بِالْقِبْطِ خَيْرًا؛ فَإِنَّ لهُمْ ذِمَّةً وَرَحِمًا

‘Jika kalian menaklukkan Mesir, maka aku wasiatkan agar kalian berbuat baik kepada orang-orang Qibthi ini. Mereka berhak atas perlindungan dan kasih sayang’.” (HR. Muslim no.2543).

Selama masa-masa memimpin Mesir, Amr sangat mencintai dan dicintai rakyatnya. Ia memperlakukan mereka dengan adil dan penuh hikmah. Pada masanya juga Mesir mengalami kemajuan pembangunan, di antaranya perencanaan pembangunan Kota Fustat (sekarang disebut Kairo).

Wafatnya Amr bin al-Ash

Amr bin al-Ash wafat pada tahun 43 H atau 663 M, saat itu umurnya lebih dari 90 tahun. Ia telah meriwayatkan 39 hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika ia sedang sakit yang mengantarkannya kepada wafat, anaknya Abdullah bin Amr datang menemuianya. Abdullah melihat ayahanda tercinta sedang menangis, lalu ia mengatakan, “Wahai ayahanda, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira kepadamu, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira kepadamu.”

Kemudian Amr menghadapkan wajahnya dan mengatakan, “Aku mengalami tiga fase perjalanan hidup; dahulu aku adalah orang yang sangat membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku sangat senang apabila aku berhasil menangkapnya lalu membunuhnya dengan tanganku. Seandainya aku wafat dalam fase ini, pastilah aku menjadi penduduk neraka.

Ketika Allah menghadirkan kecintaan terhadap Islam di dalam hatiku, aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kukatakana kepada beliau, ‘Julurkanlah tangan Anda, aku akan membaiat Anda’. Rasulullah pun menjulurkan tangan kanannya kepadaku. Lalu kutahan tanganku –sebentar-.

Beliau bertanya, ‘Ada apa wahai Amr?’

Kujawab, ‘Aku ingin Anda memberikan syarat kepadaku’.

Rasulullah mengatakan, ‘Apa syarat yang kau inginkan?’

Aku menjawab, ‘Agar dosa-dosaku diampuni.’

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidakkah engkau ketauhi, bahwa keislaman menghapuskan dosa-dosa sebelumnya? Demikian juga hijrah menafikan kesalahan-kesalahan yang telah lalu? Dan juga haji menyucikan hilaf dan dosa terdahulu?’

Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mataku senantiasa membayangkan dirinya. Aku segan menahan pandanganku –menatap matanya saat matanya menatap mataku- yang demikian, karena aku sangat menghormatinya. Kalau sekiranya aku dipinta untuk menjelaskan fisik beliau, -mungkin- aku tidak mampu, karena aku tidak pernah menyorotkan mataku kepadanya karena rasa hormatku untuknya. Jika aku wafat dalam keadaan demikian, aku berharap aku termasuk penduduk surga.

Kemudian terjadilah suatu perkara, yang aku tidak tahu bagaimana keadaanku kala itu. Tidak bersamaku angin yang berhembus demikian juga api. Saat kalian menguburkanku dan kalian lempari aku dengan tanah pekuburan, kemudian kalian berdiri sesaat di pemakamanku, dan aku menunggu apa yang aku akan jawab dari pertanyaan utusan (malaikat) Rab-ku.” (Riwayat Muslim dalam kitab al-iman, no.121)

Demikianlah Amr bin al-Ash, seorang sahabat yang mulia, seseorang yang memiliki jasa besar terhadap penyebaran dan kekuatan Islam juga terhadap umat Islam. Seorang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifah setelahnya. Semoga Allah meridhai beliau…

Amru bin Ash  bin Wail Sahmi” adalah salah seorang oportunis dan licin. Ia terlahir dari seorang perempuan bernama Nabigha. Ayah Amru bin Ash adalah “Ash bin Wail.” Ash bin Wail Sahmi adalah salah seorang musyrik yang pernah mengejek Rasulullah Saw sebagai abthar (yang terputus keturunannya) pasca wafatnya Qasim putra Rasulullah Saw yang kemudian menjadi sebab turunnya ayat “Inna a’thainaka al-kautsar.”
Amru bin Ash terkenal sebagai orang yang licin dan lihai. Pada masa khilafah (pemerintahan) Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, ia menjabat sebagai penasihat kuat Muawiyah yang meletuskan perang Shiffin melawan Imam Ali As. Dengan kelicikannya, sepanjang peperangan, ia banyak mengecoh kaum Muslimin dan pada peristiwa arbitrase (hakamiyyah), dengan menipu Abu Musa Asy’ari, ia banyak berjasa kepada Muawiyah. Dan setelah itu, ia mendapatkan jabatan sebagai gubernur Mesir. Amr bin Ash tutup usia pada umur 90 tahun pada tahun 43 Hijriah.
Jawaban Detil
Amru bin Ash bin Wail Sahmi merupakan salah satu sosok licik dan opurtunis yang terlahir dari seorang perempuan bernama Nabigha. Akan tetapi lantaran perempuan ternoda ini berkumpul dengan lima pria (Abu Lahab, Umayah bin Khalaf, Hisyam bin Mughirah, Abu Sufyan dan Ash bin Wail), kelima orang ini mengklaim diri sebagai ayah dari Amru Ash hingga Nabigha sendiri yang memutuskan untuk memilih siapa ayah Amru bin Ash. Ia akhirnya memilih Ash bin Wail (meski Abu Sufyan berkata bahwa Amru berasal dari tulang sulbiku dan wajahnya mirip dengan Abu Sufyan), karena Nabigha memandang Abu Sufyan sebagai orang pelit dan berkata bahwa Ash lebih banyak membantunya.[1]
Akhirnya, Ash bin Wail dipilih sebagai ayah Amru. Ash bin Wail adalah salah seorang musyrik yang pernah mengejek Rasulullah Saw sebagai abthar (terputus keturunannya) pasca wafatnya Qasim bin Muhammad Saw dimana sebagai akibat dari ejekan dan cemoohan ini kemudian turun surah al-Kautsar dan ayat terakhir dari surah al-Kautsar adalah ayat yang berisi celaan terhadap rang ini (Ash bin Wail).[2]

Amru bin Ash pada masa Rasulullah
Amru bin Ash pada masa Rasulullah Saw adalah sosok yang dibenci dan berkepribadian licik. Hal itu dikarenakan ia menggubah tujuh puluh bait syair dan anak-anak kota Mekah tatkala melihat Rasulullah Saw mereka membacakan syair-syair tersebut dengan suara lantang yang telah menyebabkan kesedihan dan kegundahan Rasulullah Saw. Oleh itu, Rasulullah Saw berdoa: “Tuhanku! Amru telah mengejekku namun aku bukanlah seorang penyair dan aku tidak memiliki syair untuk menjawab ucapannya dengan syair. Karena itu, laknatlah ia seribu kali sebanding dengan masing-masing huruf syairnya.”[3]
Amru bin Ash adalah kepala rombongan yang diutus oleh sekelompok pembesar Quraisy ke Habasyah (Afrika) dan meminta kepada Najasyi untuk menyerahkan kaum Muslimin yang kabur dari kaum musyrikin ke negeri itu namun permintaan itu ditolak oleh Najasyi dan Amru Ash beserta rombongannya kembali dengan tangan kosong.[4]
Pada akhirnya Amru Ash pada tahun ketujuh Hijriah memeluk Islam dengan syarat bahwa segala keburukan yang pernah dilakukannya dimaafkan kemudian ia memberikan baiat kepada Rasulullah Saw.[5]
Sesuai dengan nukilan dalam sebagian kitab sejarah, setelah Amru Ash memeluk Islam Rasulullah Saw mengangkatnya untuk menjadi komandan Dzat al-Salasil[6] dan setelah itu ditugaskan untuk mengumpulkan zakat warga Oman.[7]

Amru bin Ash pada masa Abu Bakar, Umar dan Utsman
Amru bin Ash pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar tergolong sebagai orang-orang yang dekat kepada keduanya. Pada peristiwa penaklukan Syam (Suriah), Amru bin Ash adalah salah seorang komandan pasukan kaum Muslimin. Pada masa khilafah Umar, selama beberapa waktu ia menjadi penguasa di Palestina ia kemudian mendapat tugas untuk menaklukan Mesir. Setelah penaklukan Mesir Amru bin Ash sendiri yang menjabat sebagai penguasa (gubernur) di tempat itu. Jabatan ini bertahan hingga beberapa waktu pasca wafatnya Umar hingga kemudian Utsman memakzulkannya dan mengembalikannya ke Palestina. Akibat dari pemakzulan ini, Amru bin Ash menjadi orang yang sangat kritis terhadap Utsman dan membuatnya jarang berkunjung ke Madinah.[8]

Amru bin Ash pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib As
Pasca terbunuhnya Utsman dan terpilihnya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, Baginda Ali memakzulkan Muawiyah dari jabatannya sebagai gubernur di Syam (Suriah). Lantaran Muawiyah memandang pemerintahannya dalam bahaya, ia memperkenalkan Baginda Ali As sebagai pembunuh Utsman dan kemudian mengibarkan bendera perlawanan melawan pemerintahan Ali dengan dalih ingin menuntut darah Utsman. Muawiyah ingin bekerja sama dengan Amru bin Ash dalam urusan ini. Karena itu, Muawiyah menulis surat kepada Amru bin Ash dan mengajaknya untuk bekerja sama.
Amru bin Ash dalam menjawab surat Muawiyah menulis, “Aku telah membaca suratmu dan telah memahami isinya. Adapun ajakanmu untuk keluar dari Islam dan bersamamu memasuki kegelapan serta membantumu di jalan kebatilan, menghunus pedang di hadapan Amirul Mukminin, padahal ia adalah saudara, wali, washi dan pewaris Rasulullah Saw. Dialah yang menunaikan utang Rasulullah Saw (pasca hijrah Rasulullah Saw ke Madinah) dan memenuhi segala janjinya. Ia adalah menantu Rasulullah Saw dan suami wanita penghulu alam semesta. Ayah Hasan dan Husain penghulu pemuda surga. Oleh itu, aku menolak ajakanmu. Adapun engkau berkata bahwa aku adalah khalifah Utsman, engkau telah dimakzulkan seiring dengan kematian Utsman dan kekhalifahaanmu telah berakhir. Apakah engkau tidak tahu bahwa Abul Hasan (Imam Ali) telah mengorbankan jiwanya di jalan Allah dan tidur di pembaringan Rasulullah Saw dan Rasulullah Saw bersabda tentangnya, “Man kuntu mawlahu fahadza Aliyyun mawlahu” (Barang siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya maka Ali adalah maulanya).[9]
Meski dengan segala ucapannya ini, tatkala Muawiyah menjanjikan pemerintahan Mesir kepadanya, Amru bin Ash menyerahkan diri kepadanya dan bekerja sama dengannya. Dengan menipu orang-orang Syam (Suriah) dan menjadikan darah Utsman sebagai dalih, Amru bin Ash meletuskan perang Shiffin melawan Baginda Ali As. Ia menipu masyarakat dan menyebarkan isu dan rumor. Dengan isu dan rumor itu, ia mengatur jalannya peperangan. Meski demikian, dengan bimbingan dan strategi Baginda Ali As dan para sahabatnya, Muawiyah dan Amru bin Ash berada di ambang kekalahan telak namun sekali lagi dengan licik, Amru bin Ash berhasil menipu pasukan Baginda Ali As dan dengan mengacungkan al-Qur’an di ujung pedang ia membuat Imam Ali terpaksa menerima arbitrase (hakamiyah). Orang-orang seperti Asy’ats bin Qais yang terkecoh oleh Amru bin Ash. Di samping memaksakan arbitrase kepada Amirul Mukminin As ia juga mendesakkan orang polos dan lugu seperti Abu Musa Asy’ari kepada Amirul Mukminin As sebagai juru runding.
Amru bin Ash dalam proses arbitrase ini, sebagaimana yang telah diprediksikan, dengan mudah mengecoh Abu Musa Asy’ari dan menghantarkan Muawiyah ke singgasana khilafah. Setelah itu, Baginda Ali As terpaksa harus berperang dengan orang-orang yang belakangan disebut sebagai kelompok Khawarij.
Dan sesuai dengan janji Muawiyah kepadanya, Amru bin Ash diutus ke Mesir untuk menjabat posisi sebagai gubernur. Sementara itu, di Mesir gubernur yang berkuasa adalah Muhammad bin Abu Bakar yang diangkat oleh Baginda Ali As. Tidak lama berselang, Amirul Mukminin As mengutus Malik Asytar ke Mesir. Namun, di tengah perjalanan, Malik Asytar mencapai syahadah melalui antek-antek Mua’wiyah dan Amru bin Ash dengan membubuhi racun pada makannnya. Muhammad bin Abu Bakar juga mati syahid dengan kondisi mengerikan dan kemudian Amru bin Ash merampas posisi gubernur Mesir.[10]
Amru bin Ash tatkala menjabat jawatan sebagai Gubernur Mesir, setelah beberapa lama diancam untuk dimakzulkan lantaran tidak menyerahkan upeti kepada Muawiyah. Dalam menjawab ancaman Muawiyah, Amru bin Ash menulis surat dan menggubah syair yang bernama Jaljaliyah untuk Muawiyah. Syair Jaljaliyah adalah sebuah syair yang berisikan ungkapan pengakuan ihwal pelbagai keutamaan Baginda Ali As. Amru bin Ash mengirim surat yang berisi ancaman pemberontakan kepada Muawiyah.
Pada akhirnya, Amru bin Ash wafat di Mesir tatkala ia masih menjabat gubernur pada tahun 43 Hijriah[11] dan pada usia 90 tahun.[12] [IQuest]

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

 

[1]. Syarh Nahj al-Balâghah, Ibnu Abil Hadid, jil. 6, hal. 282 dan jil. 2, hal-hal. 100-101.
[2]. Majma’ al-Bayân, edisi sepuluh jilid, cetakan Beirut, jil. 10, hal. 461.
[3]. Safinat al-Bihâr, edisi empat jilid, Astan-e Quds, jil. 3, hal. 659.
[4]. Dalâil al-Nubuwwah, terjemahan, jil. 2, hal. 51.
[5]. Târikh Thabari, jil. 5, hal. 1494 dan 1525. Usdu al-Ghabah, jil. 3, hal. 742.
[6]. Al-Maghazi, jil. 2, hal. 77.
[7]. Usdu al-Ghabah, jil. 3, hal. 742.
[8]. Usdu al-Ghabah, jil. 4, hal. 244. Thabaqat, jil. 4, hal. 256. Qamus al-Rijal, jil. 8, hal. 11.
[9]. Tadzkirat al-Khawwâsh, hal. 84.
[10]. Târikh Guzideh, hal. 197.
[11]. Târikh Islam, jil. 4, hal. 90. Muruj al-Dzihâb, jil. 3, hal. 23.
[12]. Muruj al-Dzihâb, jil. 3, hal. 23.