بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kota Suci Makkah, sesungguhnya memiliki depalan nama yang disebut Allah dalam Al Quran.  Yakni : Makkkah, Bakkah, Ummul Quro, Al Balad Al Amiin, Harom Aamin, Ma-‘aad, Qoryah dan Masjidil Harom.  Sedang Nabi Ibrahim  menyebut Makkah dengan Al Balad [surat Ibrahim [14] ayat 35] dan Waadin Ghairu Dzi Zar’in [surat Ibrahim [14] ayat 37].  Rosululullah sendiri menyebut Makkah dengan sebutan Al Baldah [surat An Naml [27] ayat 91]

  1. Makkah

Allah ﷻ berfirman dalam surat Al Fath [48] ayat 24 :

 وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا 24

Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Dalam bahasa Arab, Makkahu [مَكَّةَ] artinya adalah menghancurkan dan mengurangi.  Kota ini disebut Mekah karena ia akan mengurangi dosa dosa dan membersihkannya atau akan membinasakan orang yang melakukan kezaliman di dalamnya.  Atau karena dia akan menghancurkan para diktator dan menghapuskan kekejamannya.  Juga karena dia bisa menarik manusia ke tempat itu.  Sebagaimana yang disebut dalam ungkapan Arab : ‘Bayi menyusu pada susu ibunya [makkahu]’*

*Al Qamuus al Muhith, dalam entry kata Makkahu, Al Jami’ al Lathiif, hal 99

2. Bakkah

Allah ﷻ berfirman dalam surat Ali ‘Imran [3] ayat 96 :

 إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ 96

Sesungguhnya rumah yang mula mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Bakkahu [بَكَّةَ] artinya menyobeknya, memisahkannya, menjauhkannya, membalas kekejamannya, menghinakan dan memelintir lehernya.  Dari sini diambil kata Bakkah untuk Mekkah karena sesaknya manusia atau karena akan memelintir leher leher orang yang kejam.  Tidak seorang zalimpun yang bermaksud jelek terhadapnya kecuali dia akan dibinasakan.  Atau, bisa pula bermakna merendahkan kesombongan  orang yang sombong.

Ada 4 pendapat tentang maksud dari Bakkah :

  1. Ia adalah tanah dimana Kabah berada di dalamnya
  2. Ia adalah semua daerah yang berada di sekitar Baitullah.  Sedangkan Mekkah adalah apa yang berada di belakang itu.
  3. Ia adalah Masjidil Haram dan Baitullah.
  4. Ia adalah Al Haram secara keseluruhan.*

* Zaad al Muyassar fi ‘Ilm al Tafsir [2/6] dan Al Qamus al Muhith dalam entry Bakkahu.

3. Ummul Quro

Allah ﷻ berfirman dalam surat Al An’aam [6] ayat 92 :

 وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَهُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ يُحَافِظُونَ 92

Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummulqura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur’an), dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.

Ayat serupa juga terdapat pada surah Asy Syura [42] ayat 7.

 وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لا رَيْبَ فِيهِ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ 7

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummulqura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.

Yang dimaksud dengan Ummul Qura dalam ayat itu adalah Mekkah.  Kata أُمَّ الْقُرَى terdiri dari 2, أُمَّ dan الْقُرَى.  Ummu artinya ibu.  Qura artinya negri negri, [jamak dari قَرْيَةٍ qoryah].  Jadi Ummul Qura artinya induknya semua negri.  Pusatnya seluruh negri atau kota di muka bumi.

Ada 4 pendapat mengapa Mekkah dinamakan Ummul Qura.

  1. Sebab bumi dibentangkan dari bawahnya.  Dengan demikian, dia menjadi pusar bumi dan merupakan pusat dunia.  Artinya, tanah yang berada di muka bumi ini dibagi disekitar Mekkah dengan cara yang sangat bertaut dan Mekkah menjadi pusat dari tanah daratan.  Juga menjadi arah yang benar untuk tempat menghadap ketika shalat dikota manapun seseorang berada.  Ia adalah busur terpendek yang menghubungkan antara kota itu dengan Mekah.  Dalam penelitian ilmiah, secara falaqi, ditemukan bahwa Kabah adalah pusat bumi dan dia dibangun di jantung Mekah al Mukarramah.
  2. Sebab, Mekkah merupakah kota terlama.
  3. Sebab, dia merupakan kiblat semua manusia yang mereka menghadap ke arah yang sana.
  4. Sebab, ia merupakan kota yang sangat agung kedudukannya. rrrrrrrrrr

4. Al Balad al Amiin

Allah ﷻ berfirman dalam surat At Tiin [95] ayat 3 :

 وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ 3

dan demi kota [Mekah] ini yang aman,

Dalam Zaad al Muyassar fi Ilm al Tafsir  [8/250], Ibnu al Jauzi berkata : ‘Maksudnya adalah Mekkah dimana dia memberikan ketenangan kepada orang yang dilanda rasa takut di jaman jahiliyah dan di masa Islam.  Orang Arab mengatakan untuk memberikan rasa aman [kata Aami]’.

5. Haroma Aamina

Allah ﷻ berfirman dalam surat Al Qashash [28] ayat 57 :

 وَقَالُوا إِنْ نَتَّبِعِ الْهُدَى مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَا أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ 57

Dan mereka berkata : “Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami”. Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah harom (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Ayat serupa juga terdapat pada surat Al ‘Ankabuut [29] ayat 67 :

 أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ 67

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?.

Mekkah selalu berada dalam keadaan aman sepanjang sejarah walaupun penduduknya berbeda agama [dulu] dan mazhab.  Tidak seorangpun memasukinya kecuali mereka dalam keadaan berihram.  Jika dilanda rasa takut, maka mereka datang berlindung kesana.  Rasa aman ini bukan saja terjadi pada manusia.  Namun juga pada tumbuh tumbuhan dan hewan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ pada saat penaklukkan kota Mekkah :

‘Sesungguhnya kota ini Allah haramkan pada saat Dia ciptakan langit dan bumi.  Maka dia haram atas pengharaman Allah hingga hari kiamat, durinya tidak dicabut dan hewannya tidak diusir’. [HR Bukhari]

6. Ma-‘aad

Allah ﷻ berfirman dalam surat Al Qashash [28] ayat 85 :

 إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَى وَمَنْ هُوَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ 85

Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah : “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata”.

Dalam kitab Zaad al Muyassar fi Ilm al Tafsir [6/117], Ibnu Abbas berkata : ‘yakni, Dia akan mengembalikan kamu ke Mekkah’.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, lebih lengkap disebutkan bahwa arti kata : tempat kembali, para ulama berbeda pendapat.

  • Tempat kembali artinya : hari kiamat.

Allah ﷻ berfirman seraya memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk menyampaikan risalah dan membacakan Al-Quran kepada manusia, yang di dalamnya terkandung berita yang menyatakan bahwa Allah ﷻ akan mengembalikannya ke tempat kembali, yaitu hari kiamat.  Lalu akan menanyainya tentang tugas tugas kenabian yang telah diembankan kepadanya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya :

{إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ}
Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (A -Qashash : 85) Yakni Tuhan yang mewajibkanmu menyampaikan Al Quran kepada manusia.

{لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ}
benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (Al Qashash : 85)

Yaitu pada hari kiamat nanti, lalu Dia akan menanyaimu tentang hal tersebut. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya dalam surat Al A’raaf [7] ayat 6 :

{فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ}

Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasulrasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasulrasul (Kami).

Surat Al Maa-idah [5] ayat 109 :

{يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ}

(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka), “Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?”

Surat Az Zumar [49] ayat 69 :

{وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ}

dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi.

As Saddi mengatakan bahwa hal yang sama telah dikatakan oleh Abu Sa’id.
Al Hakam ibnu Aban telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya : benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (Al-Qashash: 85) Maksudnya, ke hari kiamat; hal yang sama diriwayatkan oleh Malik, dari Az-Zuhri.

  • Tempat kembali artinya : surga

As Saddi telah meriwayatkan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya : ‘Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melakukan hukum hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (Al Qashash [28] ayat 85) Yakni benar benar akan mengembalikan kamu ke surga, kemudian Dia akan menanyaimu tentang Al Quran.

  • Tempat kembali artinya : kematian

As Sauri telah meriwayatkan dari Al-A’masy, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (Al-Qashash: 85) Yakni kepada kematian.
Hal yang sama telah disebutkan melalui berbagai jalur yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a., tetapi pada sebagiannya disebutkan bahwa Dia benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat asalmu di dalam surga.

Menurut Mujahid, makna yang dimaksud ialah bahwa Dia benar-benar akan menghidupkan kamu pada hari kiamat nanti. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ikrimah, Ata, Sa’id ibnu Jubair, Abu Quza’ah, Abu Malik, dan Abu Saleh.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan, “Memang benar, demi Allah, sesungguhnya dia (Nabi Muhammad Saw.) benar-benar mempunyai tempat kembali, lalu Allah membangkitkannya pada hari kiamat dan memasukkannya ke dalam surga.”

  • Tempat kembali artinya : Makkah

Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas hal yang selain dari itu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Bukhari di dalam kitab tafsir bagian dari kitab sahihnya, bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Muqatil, telah menceritakan kepada kami Ya’la, telah menceritakan kepada kami Sufyan Al-Usfuri, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (Al-Qashash: 85) Yaitu ke Mekah.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai di dalam kitab tafsir dari kitab sunannya, juga oleh Ibnu Jarir melalui hadis Ya’la ibnu Ubaid At-Tanafisi dengan sanad yang sama.
Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (Al-Qashash: 85) Yakni benar-benar akan mengembalikanmu ke Mekah, sebagaimana Dia telah mengeluarkanmu darinya.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (Al-Qashash: 85) Artinya, benar-benar akan mengembalikan kamu ke Mekah tempat kelahiranmu.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Yahya ibnul Jazzar, Sa’id ibnu Jubair, Atiyyah, dan Ad-Dahhak hal yang semisal dengan pendapat di atas. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar yang mengatakan bahwa Sufyan pernah berkata, “Kami telah mendengar hadis berikut dari Muqatil sejak tujuh tahun yang silam, dari Ad Dahhak yang telah menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ. keluar dari Mekah dan sampai di Juhfah, beliau merasa rindu ke Mekah, maka Allah menurunkan kepadanya ayat berikut, yaitu firman-Nya : ‘Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melakukan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.’ (Al Qashash: 85).” Yakni Mekah.
Ini merupakan perkataan Ad Dahhak, yang menunjukkan bahwa ayat ini Madaniyyah, sekalipun secara keseluruhan surat ini adalah Makkiyyah, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya : benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (Al Qashash: 85) bahwa ini merupakan salah satu dari apa yang disembunyikan oleh Ibnu Abbas, yakni tentang makna yang sebenarnya.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan berikut sanadnya dari Na’im Al-Qari’, bahwa ia pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya : benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (Al-Qashash: 85) Yaitu ke Baitul Maqdis.

Pendapat ini —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— merujuk ke pendapat orang yang menafsirkannya dengan pengertian hari kiamat. Karena Baitul Maqdis adalah tanah mahsyar dan tempat dibangkitkannya semua makhluk, hanya Allah-lah yang memberi taufik kepada pendapat yang benar.

Kesimpulan dari semua pendapat menunjukkan bahwa Ibnu Abbas adakalanya menafsirkannya dengan pengertian kembalinya Nabi Saw. ke Mekah, yaitu hari jatuhnya kota Mekah, yang menurut interpretasi Ibnu Abbas merupakan pertanda dekatnya akhir usia Nabi Saw., sebagaimana penafsiran yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya :

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1), hingga akhir surat.
Bahwa makna ayat menunjukkan dekatnya masa kewafatan Rasulullah ﷺ. sebagai belasungkawa yang ditujukan kepadanya.

Hal ini dikemukakan oleh Ibnu Abbas di hadapan Khalifah Umar ibnul Khattab yang menyetujui pendapatnya itu, dan Umar mengatakan, “Aku tidak mengetahui selain dari apa yang kamu ketahui.” Karena itulah adakalanya Ibnu Abbas menafsirkan firman-Nya : benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (Al Qashash: 85) dengan pengertian kematian, adakalanya pula dengan pengertian hari kiamat yang kejadiannya adalah sesudah kematian. Adakalanya pula, menafsirkannya dengan pengertian surga yang merupakan pahala dan tempat kembalinya sebagai imbalan dari tugas menunaikan risalah dan menyampaikannya kepada dua makhluk, yaitu jin dan manusia. Juga karena beliau adalah makhluk Allah yang paling sempurna dan paling fasih secara mutlak.

7. Qoryah

Allah ﷻ berfirman dalam surat Muhammad [47] ayat 13 :

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ أَهْلَكْنَاهُمْ فَلا نَاصِرَ لَهُمْ 13

Dan betapa banyaknya negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka; maka tidak ada seorang penolong pun bagi mereka.

Qaryah [قَرْيَةٍ] artinya negri, jamaknya Qura [الْقُرَى].  Menurut Ibnu Al Jauzi dalam kitab Zaad al Muyassar fi Ilm al Tafsir  [7/149] berkata : ‘Yang dimaksud dengan negri Rasulullah adalah Mekkah’.

8. Masjidil Harom

Nama ini dipakai untuk 4 hal. rr

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ