Alam Nasyrah adalah nama surat ke 94 dalam Al Quran  dan terdiri dari 8 ayat dan wahyu yang ke 12.   Surah Alam Nasyah disebut juga Al Insyirah atau Asy Syarh .

Nama surat Alam Nasyarh diambil dari kata pertama dalam surat ini.   Sedang Al Insyirah [ الانشراح, ] artinya Kelapangan.  seperti yang disebutkan Imam Jalaluddin as Suyuthi dan Ibnu al Jauzy dalam tafsirnya [1].

Atau Asy Syarh seperti yang terdapat dibanyak cetakan mushaf sekarang dan buku buku tafsir. [2]

Surat Alam Nasyarh termasuk golongan surat Al Makkiyah.  Surat ini turun pada tahun tahun awal Bi’tsah dan berkaitan erat dengan  surat Adh Dhuhaa yang turun sebelumnya.

 


Isi Surat Alam Nasyrah

 أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ 1

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,

 وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ 2

Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu,

 الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ 3

yang memberatkan punggungmu?

 وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ 4

Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.

 فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 5

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 6

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

 فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ 7

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,

8 وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap


Kandungan Isi

 

Surat Alam Nasyarh merupakan tasliyah atau penghibur bagi Rasulullah.  Dan merupakan kelanjutan surat Adh Dhuhaa , karena sama-sama membahas soal  kondisi psikologis yang dihadapi belia saat wahyu terhenti pada awal tahun kenabian.

Keduanya juga menyebutkan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah . Jika di surat sebelumnya Allah menyebutkan tiga nikmatnya: Allahlah yang memberikan ‘inayah (perlindungan) saat kondisi beliau yatim, fakir dan kebingungan.

Maka pada surat ini, Allah tambahkan tiga nikmat-Nya yang lain :

  1. nikmat kelapangan dada [3],
  2. meringankan beban beliau saat berhadapan dengan kaumnya ketika menyampaikan risalah kenabian yang tak ringan,
  3. juga Allah tinggikan kedudukan dan derajat beliau baik di bumi maupun di langit melebihi segala ciptaan-Nya yang pernah dan yang akan ada.

Hal ini hanya diperuntukkan kepada beliau demi menghibur sekaligus menguatkan azamnya. Di tengah teror yang tak henti-hentinya dari musyrikin Makkah. Di akhir surat ini, Allah memerintahkan untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, juga untuk beribadah setelah menyampaikan risalah. Perpindahan-perpindahan aktivitas tersebut merupakan refleksi rasa syukur [4] kepada Allah swt atas karunia nikmat-nikmat-Nya yang sangat banyak yang tak memungkinkan untuk dihitung-hitung apalagi untuk dibalas.

 

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

  1. “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu.”
    Makna ayat
    Bukankah kami telah mengembirakan hatimu wahai Muhammad ??, dengan mengangkatmu menjadi seorang Nabi, kau mendapat petunjuk setelah sebelumnya hatimu penuh nestapa. Sekarang hatimu telah dipenuhi oleh kasih sayang, dan penuh kelembutan. Bukankah kau sekarang kau telah menjelma menjadi manusia yang paling bahagia, paling ridha, paling senang setelah sebelumnya kau mendapat banyak kesedihan, nestapa dan duka?

وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ

2. “Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu.”
Makna ayat
Kami pun telah menghilangkan semua duka, kami pun telah mengampunimu semua dosamu baik yang lalu maupun yang akan datang. Kami telah ridha kepadamu sekaligus ampunan dan kasih sayang tercurah padamu.

الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ

  1. “Yang memberatkan punggungmu.”
    Makna ayat
    Yaitu kebimbangan yang kau alami sebelumnya, ketika kau risau mencari jawaban sebelum kau ditunjuk menjadi seorang Nabi. Saat itu kau belum diperintah untuk melakukan ibadah dan meninggalkan semua larangan-Ku. Karena kau saat itu belum tahu apapun.

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

  1. “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.”
    Makna ayat
    Aku tinggikan derajatmu, dan kau bersamaKu saat ini sama-sama dipuji semua orang, baik dalam Azan, shalat maupun ketika dalam tasyahud dalam shalat.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

  1. ”Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
    Makna ayat
    Karena dalam kesulitan pasti ada kemudahan, setelah nestapa mucul kebahagiaan, setelah duka pasti datang kegembiraan. Seperti halnya setelah malam munculah cahaya siang. Karena kesulitan pastilah sirna dan tidak mungkin selamanya menetap pada diri seseorang begitu pula nestapa tidak akan bertahan selamanya.

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

  1. “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
    Makna ayat
    Semua jenis kesulitan pastilah hanya satu rasa saja (yaitu sakit), sedangkan kemudahan itu akan dirasakan dua macam (yaitu kegembiraan ketika terlepas dari kesulitan itu, dan kedua adanya kegembiraan dalam hati). Dengan demikian kesulitan itu pastilah akan dikalahkan oleh kemudahan. Maka berilah kegembiraan bagai orang-orang yang dalam kesulitan, bahwa kemudahan itu pasti akan datang.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

  1. “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”                                                                                                                                                  Makna ayat
    A.Ketika kau selesai dalam urusan dunia, bersungguhlah kemudian dalam ibadah dan kataatan lainnya. Perbanyaklah shalat sunnat, berbuat kebajikan dan tambahlah dengan amal soleh lainnya.
    B. Setelah kau selesai melaksanakan shalat, berdoalah dengan penuh kesungguhan sesudahnya.

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

  1. “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”
    Makna ayat
    Hanya kepada Allah saja kau berharap dan buka pada selain-Nya. Banyaklah melakukan kebaikan yang dilandasi rasa senang dan cinta kepada Allah Swt.

Kesimpulan :

  • Ayat ini menjelaskan kemuliaan yang diberikan Allah Swt kepada Nabi Saw, yang antara lain berupa kebahagiaan setelah sebelumnya penuh nestapa, ampunan Allah kepada Nabi Saw dari semua dosa baik yang lalu atau yg akan datang, dan diangkatnya derajat Nabi.
  • Kegembiraan bagi seorang mukmin ketika terlepas dari duka nestapa dalam rangka memperjuangkan kemuliaan agama Islam.
  • Setelah kesulitan pastilah ada kegembiraan dan ini menjadi sunatullah selamanya. Tidak ada seseorang yang terus menerus dirundung malang tanpa berkesudahan.
  • Kehidupan seorang muslim bukan untuk bermain-main, hidup tanpa arti, atau hanya berbuat keburukan saja. Hendaknya terus berbuat yang terbaik, selalu berbuat yang berarti, bermanfaat, dan selalu memberi kualitas pada hidup atau memberi manfaat dan kualitas bagi dirinya, bagi masyarakatnya dan bagi agama Islam umumnya.

 


Sebab Sebab Turunnya Surat Alam Nasyrah

Menjelang turunnya surah ad Dhuha, Rasulullah Saw sangat gelisah dan bimbang, karena lama tidak mendapatkan wahyu lagi dari Allah. Sedangkan ketika turunnya surahini, kegelisahan dan kekhawatiran tersebut telah hilang. Beliau merasakan kelapangan dada dan jiwa yang tenang. Oleh karena itu pada awal surat ini Allah mengingatkan beliau tentang anugerah tersebut.
Isi kandungan surat ini berkaitan dengan akhir surat sebelumnya, ad-Duha. Yaitu perintah untuk menyampaikan dan menunjukkan nikmat-nikmat Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Diantara nikmat itu adalah wahyu yang selama ini telah beliau terima. Dalam surat ini beliau diingatkan agar terus menyampaikan dakwahnya, walaupun penyampaian itu berat dan mendapat penolakan oleh banyak manusia. Beliau tidak perlu khawatir dan berkecil hati, karena Allah akan selalu bersama beliau.
Allah tidak akan pernah meninggalkan nabi-Nya. Buktinya adalah Dia telah melapangkan dada (hati) beliau sehingga mendapatkan ketenangan. Kelapangan dada inilah yang menyebabkan Nabi saw mampu menerima dan menemukan kebenaran, hikmah dan kebijaksanaan. Serta dapat memberikan maaf atas kesalahan dan gangguan dari orang lain.
Bukti kedua, Allah telah menghilangkan beban berat yang harus beliau pikul. Diantaranya adalah :
a. wafatnya istri beliau, Khadijah ra. dan paman beliau, Abu Thalib
b. beban berat saat menerima wahyu
c. beban psikologis (mental) akibat keadaan umat yang beliau yakini berada dalam jurang kebinasaan, tapi belum tahu jalan keluar yang tepat.

 

Catatan Kaki :

[1] lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Dur al-Mantsur fi at-Tafsir bi al-Ma`tsur, Beirut: Dar al-Fikr, Cet.I, 1983 M-1403 H,, Vol.VIII, hlm. 547, Abdurrahman Ibnu al-Jauzy, Zad al-Masir fi Ilmi at-Tafsir, Beirut: al-Maktab al-Islami, Cet.III, 1404 H, Vol.IX, hlm. 162

[2] lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm.20-21; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.816/ 817\

[3] ada banyak pendapat tentang pembelahan dada Nabi Muhammad saw yang insya Allah akan kita bicarakan saat menadabburi ayatnya nanti.
[4 Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 302
S

 

Surah surah Al Quran

1.Al Fatihah • 2.Al Baqarah • 3.Al Imran • 4.An Nisaa‘ • 5.Al Ma’idah • 6.Al An’am • 7.Al A’raf • 8.Al Anfal • 9.At-Taubah • 10.Yunus • 11.Hud • 12.Yusuf • 13.Ar-Ra’d • 14.Ibrahim • 15.Al-Hijr • 16.An-Nahl • 17.Al-Isra’ • 18.Al-Kahf • 19.Maryam • 20.Ta Ha • 21.Al-Anbiya’ • 22.Al-Hajj • 23.Al-Mu’minun • 24.An-Nur • 25.Al-Furqan • 26.Asy-Syu’ara’ • 27.An-Naml • 28.Al-Qasas • 29.Al-‘Ankabut • 30.Ar-Rum • 31.Luqman • 32.As-Sajdah • 33.Al-Ahzab • 34.Saba’ • 35.Fatir • 36.Ya Sin • 37.As-Saffat • 38.Sad • 39.Az-Zumar • 40.Al-Mu’min • 41.Fussilat • 42.Asy-Syura • 43.Az-Zukhruf • 44.Ad-Dukhan • 45.Al-Jasiyah • 46.Al-Ahqaf • 47.Muhammad • 48.Al-Fath • 49.Al-Hujurat • 50.Qaf • 51.Az-Zariyat • 52.At-Tur • 53.An-Najm • 54.Al-Qamar • 55.Ar-Rahman • 56.Al-Waqi’ah • 57.Al-Hadid • 58.Al-Mujadilah • 59.Al-Hasyr • 60.Al-Mumtahanah • 61.As-Saff • 62.Al-Jumu’ah • 63.Al-Munafiqun • 64.At-Tagabun • 65.At-Talaq • 66.At-Tahrim • 67.Al-Mulk • 68.Al-Qalam • 69.Al-Haqqah • 70.Al-Ma’arij • 71.Nuh • 72.Al-Jinn • 73.Al-Muzzammil • 74.Al-Muddassir • 75.Al-Qiyamah • 76.Al-Insan • 77.Al-Mursalat • 78.An-Naba’ • 79.An-Nazi’at • 80.’Abasa • 81.At-Takwir • 82.Al-Infitar • 83.Al-Tatfif • 84.Al-Insyiqaq • 85.Al-Buruj • 86.At-Tariq • 87.Al-A’la • 88.Al-Gasyiyah • 89.Al-Fajr • 90.Al-Balad • 91.Asy-Syams • 92.Al-Lail • 93.Ad-Duha • 94.Alam Nasyrah • 95.At-Tin • 96.Al-‘Alaq • 97.Al-Qadr • 98.Al-Bayyinah • 99.Az-Zalzalah • 100.Al-‘Adiyat • 101.Al-Qari’ah • 102.At-Takasur • 103.Al-‘Asr • 104.Al-Humazah • 105.Al-Fil • 106.Quraisy • 107.Al-Ma’un • 108.Al-Kausar • 109.Al-Kafirun • 110.An-Nasr • 111.Al-Lahab • 112.Al-Ikhlas • 113.Al-Falaq • 114.An-Nas