بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Al Quran wahyu Allah yang disampaikan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad.

Al Quran adalah mukjizat Nabi Muhammad yang terbesar.

Al Quran berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca berulang ulang.

Secara bahasa [ etimologi ] Al Quran berasal dari bahasa arab, yaitu bentuk jamak dari kata benda (masdar) dari kata kerja qara’a – yaqra’u – qur’anan.

Konsep pemakaian kata tersebut dapat dijumpai pada salah satu surah al Quran yaitu pada surat al Qiyamah ayat 17 – 18 :

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.

 ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya.

 

Secara istilah, al Quran diartikan sebagai kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai mukjizat,  Disampaikan dengan jalan mutawatir dari Allah sendiri dengan perantara malaikat Jibril.

 


Cara Al Quran Diturunkan Kepada Nabi SAW

  • Hati
    Jibril memasukkan ke dalam hati Nabi dalam keadaan Nabi tidak melihat apa-apa. Hanya Nabi merasa bahwa wahyu itu berada dalam hatinya.
  • Pengucapan  
    Malaikat memperlihatkan dirinya sebagai seorang lelaki dengan mengucapkan ayat kepada Nabi sehingga Nabi benar-benar dapat menghafal ayat yang diturunkan itu.
  • Bunyi  
    Wahyu datang kepadanya berserta bunyi loceng. Ini adalah cara yang paling berat dihadapi oleh Nabi sehingga keadaan Nabi sangat panas walaupun ketika itu cuaca sangat sejuk
  • Didatangi Jibril  
    Jibril memperlihatkan dirinya yang sebenarnya seperti yang dialami saat turunnya surat al Muzammil

 

.


Tiga Tingkatan Turunnya Al Quran

 

  1. Luh Mahfuz

Allah menurunkan al Quran ke Luh Mahfuz secara sekaligus, satu kitab utuh.  Dan bukannya secara berangsur angsur.
Firman Allah dalam Surah al Buruuj [85]  Ayat 21 – 22 :

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ 21

 “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur’an yang mulia

فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ 22

yang (tersimpan) dalam Lohmahfuz”

2. Baitul Izzah

Dari Luh Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia juga diturunkan sekaligus, satu kitab utuh.
Firman Allah SWT dalam Surah ad Dukhaan [44] Ayat 3  :

 إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ 3

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.

Firman-Nya lagi dalam Surah al Qadr [97] Ayat 1 :

 إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ 1

Sesungguhnya Kami teلْlah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.

Firman-Nya lagi dalam Surah al Baqarah [2]  Ayat 185 maksudnya :

“Bulan Ramadan yang diturunkan padanya Al Quran.”

 

3. Nabi Muhammad SAW

Turun dari langit dunia kepada Nabi saw adalah melalui perantaraan Jibril yang bermula pada tanggal 17 Ramadan.  Turunnya secara berangsur angsur, sedikit demi sedikit.   TerkadangAyat Ayat  yang turun disesauikan dengan kejadian pada saat itu, tapi  kadang juga turun tanpa ada keterkaitan kejadian.  Proses turunnya wahyu berdasarkan urutan disebut Tartib Nuzuli.  Dan itu berlansung selama 23 tahun, selama masa kenabian.

Allah berfirman dalam surat Asy Syu’araaa [26] Ayat 192 – 195 :

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ 192

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ 193

dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril),

عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ 194

ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,

 بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ 195

dengan bahasa Arab yang jelas.


Nama-nama al Quran

Allah memberi nama KitabNya dengan Al Quran yang berarti “bacaan”.

 

Nama lain Al Quran :

  • Al Kitab (buku)
    merupakan synonim dari perkataan Al Quran, sebagaimana tersebut dalam surat  Al Baqarah [2] ayat 2 yang artinya; “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa ….” Lihat pula surat (6) Al An’aam ayat 114.
  • Al Furqan (pembeda yang benar dan yang batil )
    Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS. Al Furqaan [25]:1)
  • Adz Dzikr (pemberi peringatan)
    Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr [15]:9)
  • Al Mau’idhah (pelajaran/nasihat)
    Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)
  • Asy Syifa’ (obat/penyembuh)
    Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)
  • Al Hukm (peraturan/hukum)
    Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS. Ar Ra’d [13]:37)
  • Al Hikmah (kebijaksanaan)
    Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah). (QS. Al Israa’ [17]:39)
  • Al Huda (petunjuk)
    Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Qur’an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. (QS. Al Jin [72]:13)
  • At Tanzil (yang diturunkan)
    Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, QS. Asy Syu’araa’ [26]:192)
  • Ar Rahmat (karunia)
    Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. An Naml [27]:77)
  • Ar Ruh (ruh)
    Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al- Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy Syuura [42]:52)
  • Al Byan (penerang)
    (Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran [3]:138)
  • Al Kalam [ ucapan/firman ]
    Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS. At Taubah [9]:6)
  • Al Busyra (kabar gembira)
    Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. An Nahl [16]:102)
  • An Nur (cahaya)
    Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. (Al-Qur’an). (QS. An Nisaa’ [4]:174)
  • Al Basha’ir (pedoman)
    Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS. Al Jaatsiyah [45]:20)
  • Al Balagh (penyampaian/kabar)
    (Al Quran) ini adalah kabar yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS. Ibrahim [14]:52)
  • Al Qaul (perkataan/ucapan)
    Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al-Qur’an) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran. (QS. Al Qashash [28]:51)

 


Sistimatika Turunnya Al Quran

Tartib Mushhafi adalah susunan  Al Quran berdasarkan perintah Allah, seperti Al Quran yang kita kenal sekarang ini sebagai mushhaf Utsmani.

Apa yang termaktub dalam mushhaf Utsmani, dimana Al Faatihah menjadi pembuka lalu disusul oleh Al Baqarah. Ali ‘Imran dst sampai Surat An Naas.

Tartib Nuzuli adalah susunan Al Quran berdasarkan urutan turunnya Ayat dari Malaikat Jibril kepada Rasulullah.

Adapun urutan penurunanya, yang dimulai dari Iqra’ kemudian Al Qalam, Al Muzzamil, Al Muddatsir dan seterusnya sampi Surat An Nashr disebut Tartib Nuzuli, artinya tata urutan Al Quran sesuai dengan kronologi penurunanya.

 


 Sejarah Pengumpulan Dan Pembukuan Al Quran

. إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya [ QS Al Hijr ayat 9 ]

Ada tiga periode masa pengumpulan dan pembukuan Al Quran, yakni :

  1. Penulisan Pada Masa Nabi
  2. Penulisan Pada Masa Abu Bakar & Utsman bin Affan
  3. Qira’at Asyrah Dalam Membaca Al Quran

 

Bangsa Arab pada awal Islam, mayoritas buta huruf, tidak mengenal baca tulis, namun memiliki kekuatan hafal/daya ingat tingkat tinggi.
Dengan kekuatan daya ingat tsb, mereka pakai untuk menghafal syair-syair dari para pujangga, silsilah nasab, peperangan yang terjadi antara mereka, dan peristiwa-peristiwa penting lainnya.

Dalam penulisan Al Quran pada masa awal, yaitu dengan batu, pelepah kurma, tulang, kulit binatang, dan apa saja yang dapat digunakan untuk menuliskannya. Penulisan ini dilakukan oleh para sahabat yang dapat menulis.
Dalam tiap wahyu turun, nabi mengajarkan kepada para sahabat dan memerintahkan untuk menuliskannya. Sehingga banyak dari mereka yang hafal Al Quran.
Perintah penulisan Al Quran ini disertai dengan larangan untuk tidak menulis apa-apa kecuali hanya wahyu Al Quran saja, adapun hadits yang merupakan ucapan nabi, maka tidak ditulis pada masa itu. Larangan ini berfungsi supaya Al Qur’an terpelihara dan tidak bercampur dengan yang lain.

Penulis Al Quran dari gol para sahabat diantaranya yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan Mu’awiyah. Dan Zaid bin Tsabit adalah yang paling banyak menulis.
Selain ditulis dan dihafal, terdapat pengulangan bacaan Al Quran oleh Nabi kepada Jibril. Satu kali dalam tiap tahunnya. Nabi memperdengarkan kepada Jibril apa yang Nabi terima. Pada tahun wafat nabi, pengulangan baca al qur’an ini terjadi dua kali.

Ketika nabi wafat, al Quran telah sempurna turun, dan dihafal oleh banyak sahabat, disamping apa2 yang sudah ditulis di batu, kulit, pelepah kurma.

 

Pembukuan/ Penulisan Pada Masa Rasulullah

1. Al jam’u fis shudur:
pembukuan/pengumpulan/penulisan di hati, yakni al Quran dikumpulkan dan dihafal di hati Nabi Muhammad setelah diterima dari Jibril untuk kemudian diajarkan kepada para sahabat, dan merekapun menghafalnya, dengan urutan ayat sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi. Jumlah para sahabat yang menghafal sangat banyak

2. Al Jam’u fis suthur:
Artinya yaitu penulisan Al Quran secara tertulis. Nabi menjadikan beberapa shahabat sebagai penulis,

Di antara huffaz (penghafaz/ penghafal Al-Quran) terkenal adalah empat orang Khulafa Ar-Rasyidin (Abu Bakar al-Siddiq, Umar al-Khattab, Uthman al-Affan dan Ali bin Abi Talib), Talhah, Ibnu Mas’ud, Huzaifah, Abu Hurairah, Ibnu Omar, Ibnu Abbas, (Ai’syah dan Hafsah – isteri Rasullullah). Termasuk daripada orang-orang Ansar (penduduk asal Kota Madinah) seperti Ubai bin Ka’ab, Muaz bin Jabal, Zaid bin Thabit, Abu Darda’ dan Anas bin Malik.

Penulisan dilakukan diatas lempengan batu, kulit, pelepah kurma, tulang, kayu, dll dari bahan-bahan yang tersedia di kala itu.

“Suatu saat kita bersama Rasulullah s.a.w. dan kita menulis Al Quran (mengumpulkan) pada kulit binatang” (HR. Al Hakim dari Anas)

Pada masa ini Nabi melarang penulisan selain Al Quran. “Janganlah kalian menulis sesuatu dariku kecuali Al Quran, barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Al Quran maka hendaklah ia menghapusnya ” (HR. Muslim).

Nabi memerintahkan untuk menuliskan wahyu dan menerangkan tentang tertibnya ayat dan surat. “Jibril datang kepadaku dan memerintahkanku untuk meletakkan ayat ini di tempat ini dari surat ini”. (HR. Bukhori)

Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabatsahabat langsung menghafalkan ayatayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.
Pada masa ini mushaf tidak tertulis dalam satu buku, namun tersebar dalam batu, tulang, pelepah, kulit, dll.
Setelah ditulis, maka mushaf disimpan di rumah Nabi, dan tiap penulis menyalin untuk dirinya sendiri, sehingga banyak para sahabat mempunyai manuskrip yang berisi al quran.

Setiap ayat yang dibawa oleh Jibril dihafaz oleh Nabi SAW kemudian baru dibacakan kepada sahabat. Nabi saw menghafaznya betul-betul bimbang jika tertinggal perkataan tertentu atau huruf tertentu. Baginda mengulangi bacaan ketika Qiamullail (bangun malam) dan solat. Setiap tahun sekali Nabi SAW ditasmi (mendengar dan membetulkan) bacaannya oleh Jibril  dalam bulan Ramadan secara bertadarus.

Pada akhir hayat  Rasulullah, Jibril mentasminya sebanyak dua kali. Sahabat berusaha dan bersungguh-sungguh menghafaz dan mempelajari serta memahaminya dengan menjauhi kenikmatan tidur dan rehat. Sebagaimana Rasulullah saw, sahabat turut memanfaatkan masa malam mereka untuk memantapkan hafalan mereka.

Penulisan ini selama wahyu turun hingga kurun 23 tahun, dimana wahyu turun secara bertahap.

Pada masa  Rasulullah SAW masih hidup, ayat al Quran tidak dihimpunkan dalam satu mashaf (teks lengkap yang berbuku).

Ini disebabkan kepada beberapa faktor yaitu :

 

  1. Tidak ada faktor yang membolehkan untuk dikumpul satu mashaf.  saat itu ada banyak huffaz (penghafal Al Quran) dan qurra’ (pembaca Al Quran).
  2.  Ada di antara ayat yang diturunkan itu nasikh dan mansukh (hukum atau ayat yang bertukar disebabkan perkara tertentu).
  3. Ayat al Quran tidak diturunkan sekaligus tetapi berangsurg angsur.
  4. Setiap ayat yang turun adalah atas  faktor, sebab dan peristiwa yang berbeda,

 

 


Zaman Khalifah

Masa Khalifah  Abu Bakar

 

Pada zaman Sayyidina Abu Bakar menjadi khalifah para  huffaz  dan qurra banyak yang mati dalam peperangan Yamamah yaitu hampir 70 orang. Perang Yamamah terjadi pada thn 12 H, perang antara kaum muslimin melawan kaum murtad dari pengikut Musailamah Al Kadzdzab.

Umar bin Khattab melihat kejadian ini, terasa kaget lalu datang kepada Abu Bakar memberikan ide untuk membukukan Al Qur’an.

Dari Zaid: Suatu ketika Abu bakar menemuiku untuk menceritakan perihal korban pada perang Yamamah , ternyata Umar juga bersamanya.  Abu Bakar berkata :” Umar menghadap kepadaku dan mengatakan bahwa korban yang gugur pada perang Yamamah sangat banyak khususnya dari kalangan para penghafal Al Quran, aku khawatir kejadian serupa akan menimpa para penghafal Al Quran di beberapa tempat sehingga suatu saat tidak akan ada lagi sahabat yang hafal Al Quran, menurutku sudah saatnya engkau wahai khalifah memerintahkan untuk mengumpul-kan Al Quran, lalu aku berkata kepada Umar : ” bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah ?” Umar menjawab: “Demi Allah, ini adalah sebuah kebaikan”. Selanjutnya Umar selalu saja mendesakku untuk melakukannya sehingga Allah melapangkan hatiku, maka aku setuju dengan usul umar untuk mengumpulkan Al Quran.”
Zaid berkata: Abu bakar berkata kepadaku : “engkau adalah seorang pemuda yang cerdas dan pintar, kami tidak meragukan hal itu, dulu engkau menulis wahyu (Al Quran) untuk Rasulullah , maka sekarang periksa dan telitilah Al Quran lalu kumpulkanlah menjadi sebuah mushaf”.

Zaid berkata : “Demi Allah, andaikata mereka memerintahkan aku untuk memindah salah satu gunung tidak akan lebih berat dariku dan pada memerintahkan aku untuk mengumpulkan Al Quran. Kemudian aku teliti Al Quran dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, lempengan batu, dan hafalan para sahabat yang lain.”

Kemudian Mushaf hasil pengumpulan Zaid tersebut disimpan oleh Abu Bakar, Setelah ia wafat disimpan oleh khalifah sesudahnya yaitu Umar, setelah ia pun wafat mushaf tersebut disimpan oleh putrinya dan sekaligus istri Rasulullah s.a.w. yang bernama Hafsah binti Umar r.a.
Dalam metoda penulisan, Zaid tidak kembali menulis/pembukuan kecuali ada dua saksi; tulisan dan hafalan. Begitu hingga selesai semua penulisan hingga terkumpul menjadi satu.
Para sahabat semua mendukung usaha pembukuan dalam masa Abu Bakar ini.
Orang yang paling berjasa terhadap Mushaf adalah Abu bakar, -semoga ia mendapat rahmat Allah karena ialah yang pertama kali mengumpulkan Al Quran-, selain itu juga Abu bakarlah yang pertama kali menyebut Al Quran sebagai Mushaf.

 

Lalu Sayyidina Umar mengusulkan kepada Saidina Abu Bakar agar segera disatukan atau  dihimpunkan helaian ayat ayat Al Quran yang ditulis pada masa Rasulullah.

Pada mulanya Abu Bakar ragu-ragu kerana Nabi SAW tidak pernah melakukannya dan takut seandainya t erjadi perubahan ayat atau pertukaran ayat al Quran dalam proses penyalinan itu.

Setelah dirembukkan lagi dan  atas alasan maslahah dan menyadari bahwa Al Quran adalah satu wasilah yang paling agung sehingga menghimpunnya dalam satu kitab akan  memudahkan menghafaznya serta mengelakkan daripada hilang dan luput.  Maka Saidina Abu Bakar setuju untuk dikumpulkan ayat al Quran itu.

Maka dipanggil beberapa huffaz dan penulis wahyu zaman Nabi saw yang masih hidup antaranya Zaid bin Thabit bagi meneruskan usaha penulisan al Quran. Al Quran kemudian ditulis oleh Zaid hasil pengumpulan daripada lembaran yang ada dan akhirnya diikat kemas, tersusun turutan ayatnya sebagaimana yang ditetapkan oleh Rasulallah SAW. Hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar.

 

Masa Khalifah Umar bin Khaththab

Selepas wafatnya Abu Bakar, mushaf  diserahka kepada Sayyidina Umar al-Khattab. Kemudian di simpan / dipindahkan ke rumah Hafsah, isteri Rasulullah SAW yang juga anak Saidina Umar sehingga ke saat pengumpulan dan penyusunan Al Quran pada zaman Khalifah Ustman.

 

Masa Khalifah Utsman bin Affan

Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Ustman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al Quran ( ilmu Qira’at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda, yang telah diizinkan Nabi Muhammad sebelumnya.

Maka dibentuk satu jawatan kuasa penyelaras dalam usaha membukukannya. Pada peringkat awal, jawatan kuasa penyelaras Al Quran itu telah membukukan sebanyak 6 buah naskah Al Quran yaitu untuk dipegang oleh Khalifah Ustman bin Affan sendiri, naskah dihantar ke Kota Basrah, naskah kepada kota Kufah dan kota Syam serta sebuah naskah ke kota Madinah Al-Munawwarah dan sebuah lagi ke kota Makkah Al-Mukarramah.

 

Mushaf Utsmani

Mashaf Utsmani yang asli yang dipegang oleh Khalifah Ustman sendiri serta 2 buah kitab yang disalin darinya sebenarnya ditulis dan disalin mengikut ejaan dan sebutan Arab Quraisy yang tepat mengikut bacaan Nabi Muhammad selaku seorang yang berbangsa Arab Quraisy. Ini dapat dibuktikan dengan penulisan dan pembarisan ayatayat Al Quran mashaf Uthmani itu sendiri yang diriwayatkan oleh Hafs bin Sulaiman ibn Mughairah Al Asadi Al-Kufi menurut bacaan Asim bin Abi Najud Al-Kufi At-Taabie daripada Abi AbdilRahman Abdillah bin Habibi Sulami daripada Uthman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Sabith dan Ubai bin Kaab dan akhirnya daripada Muhammad bin Abdullah (Nabi SAW).

Manakala cara membarisnya pula adalah diambil daripada apa yang telah diakui kesahihannya oleh para Ulama seperti yang dibandingkan dalam Kitab “At-Tarazu Ala Dhabtil Kharazi” karangan Imam At-Tanassi dengan mengambil tanda-tanda Al-Khalil bin Ahmad dan Para pengikut daripada kalangan (Masyariqah) Masyarakat Al-Quran, gantian daripada tanda-tanda yang disepakati oleh orang Andalusia (di Sepanyol) dan orang-orang Maghribi.

Akhirnya terhasillah apa yang dinamakan Mashaf Uthmani hasil penggemblengan tenaga oleh Zaid bin Thabit sebagai ketua, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash dan Abdul Rahman bin Harith bin Hisyam. Akhirnya mashaf Uthmani itu bertebaran ke seluruh dunia yang menjadi panduan umat Islam yang paling utama hingga hari ini.

 

Mengutip hadist riwayat Ibnu Abi Dawud dalam Al-Mashahif, dengan sanad yang shahih:

“ Suwaid bin Ghaflah berkata, “Ali mengatakan: Katakanlah segala yang baik tentang Ustman. Demi Allah, apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Al Quran sudah atas persetujuan kami. Utsman berkata, ‘Bagaimana pendapatmu tentang isu qira’at ini? Saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qira’atnya lebih baik dari qira’at orang lain. Ini hampir menjadi suatu kekufuran’. Kami berkata, ‘Bagaimana pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Aku berpendapat agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.’ Kami berkata, ‘Pendapatmu sangat baik’.” ”
Menurut Syaikh Manna’ Al-Qaththan dalam Mahabits fi ‘Ulum Al Qur’an, keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat. Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al Qur’an turun dalam dialek bahasa mereka. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah (mushaf al-Imam).

 


Klasifikasi Al Quran  

Berdasarkan Tempat diturunkannya Al Quran

Menurut tempat diturunkannya, setiap surat dapat dibagi atas :

Pembagian berdasar fase sebelum dan sesudah hijrah ini lebih tepat, sebab ada surat Madaniyah yang turun di Mekkah.

Al Quran tidak turun sekaligus, ayatayat al Quran turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

  • Pada periode Mekkah Alquran turun selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah S.A.W
  • Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah dan berlangsung selama 10 tahun

Ilmu Al Quran yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Quran diturunkan disebut Asbabun Nuzul (Sebab-sebab Turunnya (suatu ayat).

 


Pembagian Al Quran

Juz :  Al Quran juga terbagi menjadi 30 bagian dengan panjang sama yang dikenal dengan nama juz. Pembagian ini untuk memudahkan mereka yang ingin menuntaskan bacaan Al Quran dalam 30 hari (satu bulan).

Manzil : pembagian Al Quran dengan cara  memecah Al Quran menjadi 7 bagian dengan tujuan penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu).

Kedua jenis pembagian ini tidak memiliki hubungan dengan pembagian subyek bahasan tertentu.

Surat :  adalah sebutan untuk bagian bagian dalam Al Quran.  Al Quran terbagi menjadi 114 bab yang disebut surat.  Surat surat  itu diatur berdasar panjangnya, dari yang terpanjang sampai yang terpendek, kecuali yang pertama [ Surah Al Fatihah ], yang disebut  Pembukaan.

Ayat: Setiap surat akan terdiri atas beberapa ayat, di mana surat terpanjang terdiri dari  286 ayat yakni surat Al Baqarah dan yang terpendek hanya memiliki 3 ayat yakni surat Al Kautsar, An Nasr dan Al ‘Așr.

Ruku’ : Suratsurat yang panjang terbagi lagi atas sub bagian lagi yang disebut ruku’ yang membahas tema atau topik tertentu.

 


Menurut Panjang Pendeknya Surat

Suratsurat yang ada dalam Al Quran ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian, yaitu:

  1. As Sab’u Ath Thiwal :  tujuh surat yang panjang.  Yaitu: Al Baqarah, Ali ‘Imran, An Nisaa’, Al A’raaf, Al An’aam, Al Maa-idah dan Yunus.
  2. Al Mi’ in :  surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih seperti: Hud, Yusuf, Al Mu’min dsb.
  3. Al Matsani :  surat surat yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat seperti: Al Anfaal. Al Hijr dsb.
  4. Al Mufasshal :  suratsurat pendek. seperti: Adh Dhuhaa, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas. dsb.

 


Al Muqasyiqisyah

Istilah al muqasyqisyah adalah untuk menyebut Surat yang isinya berlepas diri dari setiap kekufuran dan kemunafikan.

Ulama menggunakan istilah al muqasyqisyah untuk menyebut 5 Surat :

  1. At Taubah [9]
  2. Al Kaafiruun [109]
  3. Al Ikhlash [112]
  4. Al Falaq [113]
  5. An Naas [114]

 

 


Fawaatihushshuwar

Fawaatihushshuwar adalah surat surat  dalam Al Quran yang pada awal pembukaannya berupa rangkaian huruf hijaaiyyah yang tidak seorangpun mengetahui  makna sebenarnya kecuali Allah SWT..

Di dalam Al Quran, terdapat 29 surat fawaatihushshuwar dari 114 surat yang ada.

Ke-29 surat itu adalah :

[table “” not found /]

Alif, lam, mim, termasuk huruf huruf hijaaiyyah  yang terletak pada permulaan beberapa surah Alquran. Para mufassir berlainan pendapat mengenai huruf huruf hijaaiyyah itu.

  1. Tidak berani menafsirkan dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.  “Hanya Allah sajalah yang mengetahui maksudnya.” Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayatayat mutasyabihat.
  2. Ada yang menafsirkannya. Mufassirin yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka, yaitu:
    1. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (keringkasan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka “Alif” adalah keringkasan dari “Allah”, “Lam” keringkasan dari “Jibril”, dan “Mim” keringkasan dari Muhammad, yang berarti bahwa Alquran itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra; “Alif” keringkasan dari “Ana”, “Lam” keringkasan dari “Allah” dan “Ra” keringkasan dari “Ar-Rahman”, yang berarti: Saya Allah Yang Maha Pemurah.
    2. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu.
    3. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan “Alif” adalah “Alif”, yang dimaksud dengan “Lam” adalah “Lam”, yang dimaksud dengan “Mim” adalah “Mim”, dan begitu seterusnya.
    4. Huruf huruf abjad itu untuk menarik perhatian.  Menurut para mufassir ini, huruf-huruf abjad itu disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim, hikmahnya adalah untuk “menantang”.

Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Al Quran itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf abjad, seperti Alif Lam Mim Ra, Ka Ha Ya Ain Shad, Qaf, Tha Sin dan lain-lainnya. Maka kalau kamu sekalian tidak percaya bahwa Alquran ini datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayatayat yang seperti ayat Al Quran ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya.”

Maka ada “penantang”, yaitu Allah, dan ada “yang ditantang”, yaitu bahasa Arab, dan ada “alat penantang”, yaitu Alquran. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk-beluk bahasa Arab itu menurut naluri mereka, karena di antara mereka itu adalah pujangga-pujangga, penyair-penyair dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab tantangan Alquran itu dengan membuat ayatayat seperti Alquran. Ada juga di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan Al Quran itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayatayat Alquran itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri.

Para mufassir dari golongan ini, yakni yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu disebut oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquran untuk menantang bangsa Arab itu, mereka sampai kepada pendapat itu adalah dengan  istiqra  artinya menyelidiki masing masing surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu.

Dengan penyelidikan itu mereka mendapat fakta-fakta sebagai berikut:

  1. Surah surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad ini adalah surah surah Makiyah (diturunkan di Mekah), selain dari dua buah surah saja yang Madaniyah (diturunkan di Madinah), yaitu surah Al Baqarah yang dimulai dengan Alif Lam Mim dan surah Ali Imran yang dimulai dengan Alif Lam Mim juga. Sedang penduduk Mekah itulah yang tidak percaya bahwa Alquran itu adalah dari Tuhan, dan mereka mendakwakan bahwa Al Quran itu buatan Muhammad semata-mata.

  2. Sesudah menyebutkan huruf huruf abjad itu ditegaskan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah, atau diwahyukan oleh-Nya. Penegasan itu disebutkan oleh Allah secara langsung atau tidak langsung. Hanya ada 9 surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu yang tidak disebutkan sesudahnya penegasan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah.

  3. Huruf-huruf abjad yang disebutkan itu adalah huruf-huruf abjad yang banyak terpakai dalam bahasa Arab.

Dari ketiga fakta yang didapat dari penyelidikan itu, mereka menyimpulkan bahwa huruf-huruf abjad itu didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu adalah untuk “menantang” bangsa Arab agar membuat ayatayat seperti ayat-ayat Alquran itu, bila mereka tidak percaya bahwa Al Quran itu, datangnya dari Allah dan mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata sebagai yang disebutkan di atas. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa para mufassir yang mengatakan bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan Allah untuk “tahaddi” (menantang) adalah memakai tariqah (metode) ilmiah, yaitu “menyelidiki dari contoh-contoh, lalu menyimpulkan daripadanya yang umum”. Tariqah ini disebut “Ath-Thariqat Al-Istiqra’iyah” (metode induksi).

Ada mufassir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surahsurah Al Qranul Karim untuk menarik perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh bangsa Arab di waktu itu, karena itu maka hal ini menarik perhatian mereka.

Tinjauan terhadap pendapat-pendapat ini:

  1. Pendapat yang pertama yaitu menyerahkan saja kepada Allah karena Allah sajalah yang mengetahui, tidak diterima oleh kebanyakan mufassirin ahli ahli tahqiq (yang menyelidiki secara mendalam). (Lihat Tafsir Al-Qasimi j.2, hal. 32)

Alasan-alasan mereka ialah:
a. Allah sendiri telah berfirman dalam Al Quran surat Asy Syu’ara ayat 195 :

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ

… dengan bahasa Arab yang jelas.

Maksudnya Alquran itu dibawa oleh Jibril kepada Muhammad dalam bahasa Arab yang jelas. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ayatayat dalam Alquran itu adalah “jelas”, tak ada yang tidak jelas, yang tak dapat dipahami atau dipikirkan, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.

b. Di dalam Al Quran ada ayatayat yang menunjukkan bahwa Al Quran itu menjadi petunjuk bagi manusia. Di antaranya firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 2 :

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab Alquran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

Firman-Nya lagi dalam surat Al Baqarah ayat 97 :

وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

….dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Firman-Nya lagi dalam surat Ali ‘Imran ayat 138 :

هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ

(Alquran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

Dan banyak lagi ayatayat yang menerangkan bahwa Alquran itu adalah petunjuk bagi manusia. Sesuatu yang fungsinya menjadi “petunjuk” tentu harus jelas dan dapat dipahami. Hal-hal yang tidak jelas tentu tidak dijadikan petunjuk.

c. Dalam ayat yang lain Allah berfirman dalam surat Al Qamar 17, 22, 32 dan 40.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

  1. Pendapat kedua

a. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad itu adalah keringkasan dari suatu kalimat. Pendapat ini juga banyak para mufassir yang tidak dapat menerimanya.
Keberatan mereka ialah: tidak ada kaidah-kaidah atau patokan-patokan yang tertentu untuk ini, sebab itu para mufassir yang berpendapat demikian berlain-lainan pendapatnya dalam menentukan kalimat-kalimat itu. Maka di samping pendapat mereka bahwa Alif Lam Mim artinya ialah: Allah, Jibril, Muhammad, ada pula yang mengartikan “Allah, Latifun, Maujud” (Allah Maha Halus lagi Ada). (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur’anul Karim, hal. 73)

b. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan beberapa surah ini adalah nama surah, juga banyak pula para mufassir yang tidak dapat menerimanya. Alasan mereka ialah: bahwa surahsurah yang dimulai dengan huruf-huruf itu kebanyakannya adalah mempunyai nama yang lain, dan nama yang lain itulah yang terpakai. Umpamanya surah Al-Baqarah, Ali Imran, Maryam dan lain-lain. Maka kalau betul huruf-huruf itu adalah nama surah, tentu nama-nama itulah yang akan dipakai oleh para sahabat Rasulullah dan kaum muslimin sejak dari dahulu sampai sekarang.
Hanya ada empat buah surah yang sampai sekarang tetap dinamai dengan huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan surahsurah itu, yaitu: Surah Thaha, surah Yasin, surah Shad dan surah Qaf. (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur’anul Karim, hal. 73)

c. Pendapat yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad itu sendiri, dan abjad-abjad ini didatangkan oleh Allah ialah untuk “menantang” (tahaddi). Inilah yang dipegang oleh sebahagian mufassirin ahli tahqiq. (Di antaranya: Az Zamakhsyari, Al Baidawi, Ibnu Taimiah, dan Hafizh Al Mizzi, lihat Rasyid Rida, Tafsir Al Manar jilid 8, hal. 303 dan Dr Shubhi As Salih, Mabahis Ulumi Qur’an, hal 235. Menurut An Nasafi: pendapat bahwa huruf abjad ini adalah untuk menantang patut diterima. Lihat Tafsir An Nasafi, hal. 9)
d.Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad ini adalah untuk “menarik perhatian” (tanbih) pendapat ini juga diterima oleh ahli tahqiq. (Tafsir Al Manar jilid 8 hal. 209-303)

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa “yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad yang disebutkan oleh Allah pada permulaan beberapa surat dari Al Quran hikmahnya adalah untuk “menantang” bangsa Arab serta menghadapkan perhatian manusia kepada ayatayat yang akan dibacakan oleh Nabi Muhammad saw.”

PENJELASAN

Huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari suratsurat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayatayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

.

Susunan Surat Secara Tartib Mushhafi
  1. Al  Faatihah    •  2. Al Baqarah   • 3. Ali ‘Imran  •  4. An Nisaa’  •  5. Al Maa-idah  •  6. Al An’aam   •   7. Al A’raaf   •  8. Al Anfaal •   9. At Taubah   •  10. Yunus [surat]  •  11. Hud   •  12. Yusuf [surat] •  13. Ar Ra’d   •  14. Ibrahim [surat]  •  15. Al Hijr [surat]    •  16. An Nahl •  17. Al Israa’   •  18. Al Kahfi   •  19. Maryam [surat]  •  20. Thaahaa •  21. Al Anbiyaa’ •  22. Al Hajj •  23. Al Mu’minuun   •  24. An Nuur   •   25. Al Furqaan   •  26. Asy Syu’araa   •   27. An Naml  •   28. Al Qashash   •   29. Al ‘Ankabuut   •   30. Ar Ruum   •   31. Luqman  •  32. As Sajdah   •   33. Al Ahzab   •   34. Saba’   •   35. Fathir   •  36. Yassiin •  37. Ash Shaaffaat •  38. Shaad  •  39. Az Zumar   •   40. Al Mu’min  •  41. Al Fushshilat  •  42. Asy Syura   •   43. Az Zukhruf  •  44. Ad Dukhaan  •  45. Al Jaatsiyah   •  46. Al Ahqaaf   •  47. Muhammad [surat]   •  48. Al Fath  •  49. Al Hujuraat  •  50. Qaaf   •  51. Adz Dzaariyaat •  52.  Ath Thuur   •  53.  An Najm  •  54. Al Qamar  •  55. Ar Rahmaan  •  56. Al Waaqi’ah   •  57. Al Hadiid  •  58. Al Mujaadilah  • 59. Al Hasyr  •  60. Al Mumtahanah  •  61. Ash Shaff   •  62. Al Jumu’ah   •   63. Al Munaafiquun  •  64. At Taghaabun   •   65.  Ath Thalaaq   •   66. At Tahriim   •   67. Al Mulk   •  68. Al Qalam   •  69. Al Haaqqah   •  70. Al Ma’aarij  •  71. Nuh   •   72. Al Jin   •   73. Al Muzzammil  •   74. Al Muddatstsir   •   75. Al Qiyaamah  •  76. Al Insaan   •   77. Al Mursalaat   •

Juz Amma

  1. An Naba’   •   79. An Naazi’aat  •   80. ‘Abasa   •   81. At Takwir   •   82.  Al Infithaar  •   83. Al Muthaffifiin  •  84. Al Insyiqaaq   •  85. Al Buruuj   •  86. Ath Thaariq  •  87. Al A’laa   •  88. Al Ghaasyiyah   •   89. Al Fajr   •   90. Al Balad   •   91. Asy Syams   •  92. Al Lail   •   93. Adh Dhuhaa   •   94. Alam Nasyrah   •   95. At Tiin  •  96. Al ‘Alaq   •   97. Al Qadr •  98. Al Bayyinah   •  99. Az Zalzalah •  100. Al ‘Adiyaat   •   101. Al Qaari’ah   •  102. At Takaatsur   •  103. Al ‘Ashr   •   104. Al Humazah   •  105. Al Fiil •  106. Quraisy  •  107. Al Maa’uun   •   108.  Al Kautsar   •  109. Al Kaafiruun  •  110. An Nashr •  111. Al Lahab •  112. Al Ikhlash   •  113. Al Falaq   •  114. An Naas
Susunan Surat Secara Tartib Nuzuli

Al ‘Alaq  • 2. Al Qalam  • 3. Al Muzzammil  • 4. Al Muddatstsir  • 5. Al  Faatihah  •  6. Al Lahab  • 7. At Takwir  • 8. Al A’laa   •  9. Al Lail  • 10.  Al Fajr   • 11. Adh Dhuhaa 11  •  12.  Alam Nasyrah  •  13. Al ‘Ashr   • 14. Al ‘Adiyaat  • 15. Al Kautsar • 16. At Takaatsur   • 17.  Al Maa’uun  • 18. Al Kaafiruun •  19. Al Fiil   •   20. Al Falaq  • 21.  An Naas  • 22.  Al Ikhlash  • 23. An Najm  •  25. ‘Abasa  •  25.  Al Qadr •  26. Asy Syams   •  27. Al Buruuj   •  28. At Tiin •  29. Quraisy  •  30. Al Qaari’ah  •  31. Al Qiyaamah   •  32. Al Humazah   • 33.  Al Mursalaat   •  34. Qaaf  •  35. Al Balad  •  36. Ath Thaariq   •  37. Al Qamar  •  38. Shaad   •  39. Al A’raaf  •  40. Al Jin  •  41. Yassiin   •   42. Al Furqaan   •  43. Fathir   • 44. Maryam  •  45. Thaahaa  •   46. Al Waaqi’ah •  47. Asy Syu’araa   •  48. An Naml  • 49.  Al Qashash   •  50. ,Al Israa’   •    • 51.  Yunus, • 52. Hud  • 53. Yusuf  • 54. Al Hijr  •   55. Al An’aam  •  56. Ash Shaaffaat  •   57. Luqman  •  58. Saba’  •   59.  Az Zumar  •  60. Al Mu’min    • 61. Al Fushshilat   •  62. Asy Syura  •  63.   Az Zukhruf   • 64. Ad Dukhaan    •  65. Al Jaatsiyah   •  66. Al Ahqaaf    •  67.  Adz Dzaariyaat  •   68.  Al Ghaasyiyah  •  69. Al Kahfi  • 70. An Nahl  •  71. Nuh  •  72. Ibrahim  •  73. Al Anbiyaa’   • 74. Al Mu’minuun •   •  75. As Sajdah   •  76. Ath Thuur  •  77. Al Mulk  •   78. Al Haaqqah  •  79. Al Ma’aarij  •  80. An Naba’  •  81. An Naazi’aat   •  82. Al Infithaar  •  83.  Al Insyiqaaq   •  84. Ar Ruum  • 85. Al ‘Ankabuut   •   86. Al Muthaffifiin   • 87. Al Baqarah   •88.  Al Anfaal   • 89. Ali ‘Imran    •  90.  Al Ahzab   •  91.  Al Mumtahanah   •   92. An Nisaa’   • 93. Az Zalzalah   •  94. Al Hadiid   •  95. Muhammad   •  96. Ar Ra’d  •  97. Ar Rahmaan  •  98. Al Insaan   •  99. Ath Thalaaq  • 100.  Al Bayyinah  •  101. Al Hasyr   •  102.  An Nuur    • 103.  Al Hajj • 104. Al Munaafiquun    •  105. Al Mujaadilah   •  106.  Al Hujuraat  •  107. At Tahriim  •   108. At Taghaabun  • 109. Ash Shaff   • 110. Al Jumu’ah  •  111. Al Fath   •  112.  Al Maa-idah  • 113.  At Taubah  •  114.  An Nashr

Keterangan : Makkiyah  •  Madaniyyah

.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
. .