بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Suatu ketika Ibn ‘Asakir dari Abu Sa’d Isma’il bin Muthanna al-Astrabadhi bercerita. Tatkala ia sedang berkhutbah di Damsyik, salah seorang yang hadir bertanya tentang hadis Rasulullah ﷺ yang berbunyi : “Saya gudang ilmu dan Ali pintunya”

Ismail menekur sebentar, lalu diangkatnya kepalanya seraya katanya : “Ya, tak ada yang mengetahui hadis ini dari Nabi, kecuali yang hidup pada masa permulaan Islam. Akan tetapi Nabi berkata :
“Saya gudang ilmu, Abu Bakar fondasinya, Umar dindingnya, Ustman atapnya dan Ali pintunya.”

Dengan demikian para hadirin puas rasanya. Tetapi ketika diminta kepadanya supaya menerangkan sanadnya, ia merasa gusar sekali karena memang tidak mampu.

Begitulah hadishadis itu dipalsukan orang karena memang ada maksud politik atau kemauan-kemauan insidentil lainnya.

Demikian banyaknya hadis hadis palsu itu sehingga kaum Muslimin kemudian terkejut sekali, karena ternyata banyak pula yang tidak cocok dengan yang ada dalam Kitabullah. Usaha hendak menghentikannyapun sudah banyak pula dikerahkan pada zaman Umayya, tapi tidak juga berhasil.

Bagaimanapun juga pada masa dinasti Abbasia, dan Ma’mun yang berkuasa dua abad kemudian sesudah Nabi wafat, puluhan atau ratusan ribu hadishadis maudzu’ (buatan) itu sudah tersebar – diantaranya terdapat banyak yang lemah dan kontradiksi sekali, yang tidak diduga semula. Pada waktu itulah para penghimpun hadis dan penulis-penulis biografi Rasulullah ﷺ juga menuliskan biografinya.

Al-Waqidi, ‘Ibn Hisyam dan Al-Mada’ini hidup dan menuliskan buku-buku itu pada masa Ma’mun. Baik mereka ini atau yang lain pada waktu itu, karena takut akibatnya, tidak ada yang berani menentang pendapat Khalifah. Oleh karena itu, sesuai dengan apa yang harus mendapat penelitian mana kriterium yang menurut suatu sumber berasal dari Rasulullah ﷺ, yakni dengan mencocokkannya kepada Quran sebagaimana mestinya, tidak mereka pakai lagi, yaitu : mana-mana yang cocok dengan Quran, adalah dari Rasul dan yang tidak, bukan dari Rasul.

Sekiranya kriteria itu dipakai dengan penelitian sebagaimana mestinya, segala yang sudah ditulis oleh tokoh-tokoh itu niscaya akan berubah.

Kritik ilmiah menurut metoda modern sama sekali tidak berbeda dari kriterium ini. Akan tetapi situasi masa itu mengharuskan tokoh-tokoh tersebut menyesuaikan kriterium mereka itu untuk sesuatu golongan, sedang untuk golongan lain tidak pula demikian.

Cara-cara ini dalam penulisan sejarah hidup Nabi oleh penulis-penulis kemudian telah diwarisi juga dari orang-orang dahulu, dengan pertimbangan-pertimbangan yang lain dari pertimbangan mereka itu. Kalau orang mau berlaku jujur terhadap sejarah, tentu mereka menyesuaikan hadis itu dengan sejarah hidup Rasulullah ﷺ, baik dalam garis besar, maupun dalam perinciannya, tanpa mengecualikan sumber lain, yang tidak cocok dengan yang ada dalam Quran. Mana yang tidak sejalan dengan hukum alam dan tidak tersebut pula dalam Kitabullah tidak perlu mereka catat. Yang tidak sejalan dengan hukum alam itu diteliti dulu dengan saksama, sesudah itu baru diperkuat dengan yang ada pada mereka, disertai pembuktian yang positif, dan mana-mana yang tak dapat dibuktikan seharusnya ditinggalkan.

Pendapat cara ini telah dijadikan pegangan oleh imamimam terkemuka dari kalangan Muslimin dahulu, dan beberapa imam lainpun mengikuti mereka sampai sekarang. Syaikh Muhammad Mustafa al-Maraghi dalam kata perkenalan buku ini menyebutkan : “Kekuatan mujizat Rasulullah ﷺ hanyalah dalam Quran, dan mujizat ini sungguh rasional adanya. Sajak Bushiri berikut ini memang indah sekali :

“Tidak juga sampai kita dicoba Yang akan meletihkan akal karenanya Karena sayangnya kepada kita Kitapun tak ragu, kitapun tak sangsi.”

Almarhum Sayid Muhammad Rasyid Ridza, Redaktur majalah Al-Manar dalam menjawab kritik orang yang menentang buku kita ini, menulis : “Kalangan Al Azhar dan pengikut pengikut tarekat yang paling keberatan terhadap Haekal sebagian besar mengenai mujizat mujizat dan hal-hal yang ajaib-ajaib di luar kebiasaan. Pada pasal dua bahagian dua dan pasal lima dalam buku Al-Wahy’l-Muhammadi, dari segala segi dan persoalannya mengenai hal ini, ada saya tulis, bahwa hanya Quranlah satu-satunya pembuktian Tuhan yang positif khusus tentang kenabian Muhammad ﷺ dan kenabian para nabi yang lain. Ciri-ciri mereka zaman kita sekarang ini tak dapat dibuktikan tanpa kenyataan tersebut.
“Masalah-masalah alam gaib (supernatural) adalah masalah-masalah yang diragukan, bukan suatu pembuktian yang meyakinkan menurut para ahli. Hal tersebut terdapat juga pada zaman kita ini, dan terdapat juga pada setiap zaman. Mereka yang masih terpesona oleh masalah semacam itu, adalah orang-orang yang suka pada takhayul yang memang terdapat pada setiap aliran kepercayaan. Saya terangkan juga sebab timbulnya daya tarik itu serta perbedaan-perbedaan mana yang umumnya termasuk hukum alam, hukum rohani dan lain-lain.” [ Majalah Al-Manar, 3 Mei 1935 ].
Syaikh Muhammad Abduh pada bahagian pertama buku Al-Islam wan-Nashrania (“Islam dan Kristen”) menyebutkan : “Dengan adanya ajaran dan tuntutan terhadap keimanan kepada Allah dan keesaanNya, Islam tidak memerlukan apa-apa lagi selain pembuktian rasional dan pemikiran insani yang sejalan dengan ketentuan yang wajar. Orang tidak perlu bingung terhadap hal yang gaib, tidak perlu menutup mata terhadap kejadian-kejadian yang tidak biasa, tidak perlu membisu karena ada ledakan dari langit; dan pikiran kitapun jangan terputus karena pekikan yang membawa suara suci. Kaum Muslimin sudah sepakat – kecuali sejumlah kecil dengan pendapat yang tidak berarti – bahwa kepercayaan kepada Allah adalah mendahului kepercayaan kepada nabinabi. Tidak mungkin orang percaya kepada rasulrasul, sebelum ia beriman kepada Allah; sedang beriman kepada Allah melalui ucapan para rasul atau melalui kitab-kitab suci, tidak dibenarkan. Sungguh tidak masuk akal orang akan percaya kepada adanya kitab yang diturunkan Allah, jika sebelum itu kita tidak percaya akan adanya Allah. Maka Dialah yang harus menurunkan kitab dan mengutus rasul.”

Saya kira mereka yang pernah menulis sejarah hidup Nabi akan lebih condong pada pandangan semacam ini, kalau tidak karena situasi pada masa mereka dahulu dan kalau tidak karena dugaan mereka yang datang kemudian bahwa dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa gaib dan mujizat-mujizat yang tidak terdapat dalam Quran itu akan menanamkan rasa keimanan dalam hati orang lebih dalam lagi.

Oleh karena itu mereka menduga pula, bahwa dengan menyebutkan mujizat mujizat itu akan berguna sekali, dan tidak akan merugikan. Sekiranya mereka hidup pada masa kita sekarang ini dan menyaksikan betapa musuh-musuh Islam itu mempergunakan apa yang mereka sebutkan itu sebagai argumen mereka menghantam Islam dan umat Islam, niscaya mereka akan berpegang pada apa yang ada dalam Quran, mereka akan berkata seperti Imam Ghazali, Muhammad ‘Abduh, Maraghi dan pemuka-pemuka lain yang cukup teliti. Sekiranya mereka hidup pada masa kita sekarang ini, dan menyaksikan betapa cerita-cerita demikian itu menyesatkan hati dan kepercayaan orang – bukan sebaliknya, menanamkan dan menguatkan iman – niscaya cukuplah mereka menyebutkan saja ayat ayat Quran yang begitu jelas dengan dalil-dalil yang memang sudah tak dapat dibantah lagi.

Adapun dari segi yang merugikan cerita-cerita yang tidak diterima oleh akal dan tidak pula ilmiah itu sudah jadi jelas sekali: bagi setiap orang yang mau menggarap masalah-masalah serupa ini hendaknya selalu berpegang pada segi ketelitian ilmiah dalam mengadakan pengujian, demi pengabdiannya kepada kebenaran, kepada Islam dan kepada sejarah Nabi. Kebenaran-kebenaran yang diungkapkan oleh hasil penyelidikan dalam sejarah yang besar ini, adalah sebagai penyuluh yang akan membawa umat manusia kepada peradaban yang sebenarnya.

QURAN DAN MUJIZAT

Kalau beberapa masalah yang terdapat dalam buku-buku sejarah hidup Nabi dan kitab-kitab hadis kita perbandingkan dengan apa yang terdapat dalam Quran, tentu tak bisa lain kita akan menerima pendapat-pendapat para imam yang sangat teliti itu. Pada waktu itu penduduk Mekah minta kepada Nabi ﷺ  berbangsa Arab itu supaya Tuhan menurunkan mujizat mujizat kepadanya, kalau ia ingin supaya mereka mempercayainya. Maka Quran datang menyebutkan apa yang mereka minta itu dan menolaknya dengan beberapa argumen :

Al Quran surat Al Israa [17] ayat 90 – 93 :

 وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الأرْضِ يَنْبُوعًا 90

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami,

 أَوْ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الأنْهَارَ خِلالَهَا تَفْجِيرًا 91

atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya,

أَوْ تُسْقِطَ السَّمَاءَ كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفًا أَوْ تَأْتِيَ بِاللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ قَبِيلا 92

atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami.

 أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلا بَشَرًا رَسُولا 93

Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca” Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”

Al Quran surat Al An’aam [6] ayat 109 – 111 :

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَتْهُمْ آيَةٌ لَيُؤْمِنُنَّ بِهَا قُلْ إِنَّمَا الآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُشْعِرُكُمْ أَنَّهَا إِذَا جَاءَتْ لا يُؤْمِنُونَ 109

Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: “Sesungguhnya mukjizatmukjizat itu hanya berada di sisi Allah“. Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman.

 وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ 110

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.

وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ 111

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Di dalam Quran tidak ada disebutkan sesuatu mujizat yang oleh Allah dimaksudkan supaya segenap manusia – menurut zamannya masing-masing – mempercayai kerasulan Muhammad, selain daripada Quran. Padahal, beberapa mujizat disebutkan dengan ijin Allah terhadap para rasul yang datang sebelum Muhammad sama halnya seperti apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada Muhammad serta dari percakapan yang ditujukan kepadanya. Apa yang tersebut dalam Qur’an tentang Muhammad, samasekali tidak bertentangan dengan hukum alam.

Kalau memang sudah itu yang digariskan oleh Quran dan begitu pula yang terjadi terhadap diri Rasulullah, apa lagi yang mendorong setengah kaum Muslimin – baik pada masa dahulu ataupun sekarang – menerapkan mujizat-mujizat kepada Nabi? Mereka terdorong demikian, karena mereka membaca dalam Qur’an adanya mujizat-mujizat pada para rasul sebelum Muhammad. Lalu mereka berkeyakinan, bahwa keajaibankeajaiban materi (mujizat-mujizat) semacam itu perlu juga melengkapi kerasulan Muhammad. Mereka lalu percaya tentang itu sekalipun dalam Qur’an tidak disebutkan. Merekapun menduga, bahwa makin banyak jumlah mujizat-mujizat itu, akan makin kuat membuktikan kedudukan Nabi, akan makin besar pula merangsang orang beriman kepada kerasulan itu. Memperbandingkan Nabi dengan para rasul yang sebelumnya, ada perbedaannya. Muhammad adalah Nabi dan Rasul terakhir. Sekalipun begitu dia adalah Rasul pertama diutus Allah kepada seluruh umat manusia- bukan diutus hanya kepada bangsanya saja – supaya memberi penerangan.

MUJIZAT TERBESAR

Oleh karena itu Allah menghendaki supaya mujizat Muhammad itu adalah mujizat insani yang rasional, yang masuk akal, yang takkan dapat ditiru, baik oleh manusia maupun jin, sekalipun mereka satu sama lain saling membantu. Mujizat itu ialah Quran.

Ini adalah mujizat terbesar yang pernah diberikan Allah. Dengan itu Tuhan menghendaki akan memperkuat kerasulan NabiNya itu dengan argumen yang jelas dan dalil yang tak dapat dibantah. Ia menghendaki – dengan itu – agar agama ini mendapat kemenangan pada masa hidup Rasul, supaya dalam kemenangan itu orang melihat kemahakuasaanNya. Kalau Tuhan menghendaki adanya mujizat yang akan membuat mereka yang hidup pada masa Nabi merasa puas, tentu itu akan disebutkan dalam Quran. Tapi ada orang yang tidak mau percaya kalau tidak dibuktikan dengan akal. Karena itu maka ayat yang akan meyakinkan seluruh umat manusia akan kerasulan Muhammad itu ialah yang dekat sekali hubungannya dengan jantung dan pikiran mereka.

Maka Allah telah memperlihatkan itu dalam bentuk Quran, sebagai argumen yang paling nyata dan sebagai mujizat kepada mereka dari Nabi yang ummi itu. Ia memperlihatkan kemenangan agama dan kekuatan iman kepadanya itu dengan melalui dalil dan keyakinan yang positif. Agama yang dibangun atas dasar inilah yang lebih kuat menanamkan iman ke dalam hati umat manusia sepanjang zaman, kepada pelbagai bangsa dan aneka macam bahasa.

Sekiranya ada segolongan masyarakat yang bukan Islam beriman kepada agama ini sekarsng, dan sebagai argumennya supaya ia yakin dan percaya, tidak ada sesuatu mujizat lain daripada Quran, niscaya itu tidak akan mengurangi imannya, juga tidak akan pula kurang Islamnya. Selama wahyu itu memang bukan bertugas membawa mujizat-mujizat semacam itu, tak ada salahnya apabila orang yang sudah beriman kepada Allah dan kepada RasulNya itu rnau menguji lagi segala yang mengenai mujizat, yang ada hubungannya dengan wahyu itu. Mana yang dapat dibuktikan dengan alasan positif dapat saja diterima; dan mana yang tak dapat.dibuktikan, terserah pada pendapatnya sendiri. Iapun tidak salah.

Beriman kepada Allah yang tunggal tiada bersekutu memang memerlukan suatu mujizat, dan untuk itu cukup dengan merenungkan alam semesta yang telah diciptakan Allah. Begitu juga, sebagai bukti kerasulan Muhammad, yang dengan perintah Tuhan mengajak manusia beriman serta menyelamatkan mereka agar jangan berpaling hati, juga tidak memerlukan sesuatu mujizat selain Quran : tidak diperlukan lebih daripada membacakan Kitab Suci yang telah diwahyukan Allah kepadanya itu.

Sekiranya ada segolongan masyarakat yang bukan Islam beriman kepada agama ini sekarang, dan untuk meyakinkan itu tidak diperlukan sesuatu mujizat lain daripada Quran, niscaya orang yang pernah beriman itu akan terdiri dari dua macam: pertama orang yang sudah tidak tergoyahkan lagi hatinya; sejak pertama kali ia mendapat ajakan, hatinya sudah terbuka menerima iman, seperti halnya yang terjadi dengan Abu Bakr. Ia berimam dan percaya tanpa ragu-ragu lagi. Yang kedua, orang yang untuk imannya itu sudah tidak perlu lagi mencari mujizat-mujizat lain dari balik hukum alam, melainkan dicarinya di dalam penciptaan alam yang luas ini. Jangkauan persepsi kita terbatas sekali. Perbatasan alam dalam arti ruang dan waktu, tak dapat kita tangkap. Sungguhpun demikian ketentuan-ketentuan itu berjalan menurut hukum yang tidak berubah-ubah dan tidak pula bertukar-tukar. Melalui undang-undang Tuhan yang ada dalam alam itu ia akan terbimbing sampai kepada Penciptanya.

Buat dua macam golongan ini sama saja: baik dengan mujizat atau tidak. Bahkan keduanya tak pernah memikirkan tentang mujizat-mujizat itu selain daripada, bahwa itu adalah bukti karunia Tuhan. Iman yang semacam inilah yang menurut pendapat bilangan besar pemuka-pemuka Muslimin sebagai bentuk iman yang tertinggi. Yang sebagian lagi berpendapat, bahwa sumber iman yang sejati seharusnya jangan karena takut kepada siksa Allah atau karena mengharapkan pahalaNya, melainkan harus iman itu semata-mata karena Allah serta fana total ke dalam Ego Tuhan. KepadaNyalah semua persoalan itu akan kembali. Kita adalah kepunyaan Allah dan kepadaNya pula kita kembali.

ORANG-ORANG MUKMIN PADA MASA NABI

Orang-orang sekarang yang sudah beriman, mereka beriman kepada Allah dan Rasul tanpa didorong oleh adanya mujizat-mujizat, sama halnya seperti mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul itu pada masa hidup Nabi. Sejarah tidak menyebutkan, bahwa mujizat-mujizat itu pernah membuat orang jadi beriman Malah bukti mujizat Tuhan terbesar ialah wahyu yang diturunkan melalui NabiNya, dan peri hidup Nabi sendiri dengan akhlaknya yang begitu tinggi, itulah yang mengajak orang jadi beriman. Semua buku sejarah hidupnya menyebutkan bahwa ada segolongan orang yang sudah beriman kepada kerasulan Muhammad sebelum Isra, telah jadi murtad dari imannya tatkala Nabi menyebutkan, bahwa Tuhan telah memperjalankannya pada malam haji dari Mesjid Suci ke Mesjid Aqsha.

Tatkala mengejar Muhammad yang sedang hijrah ke Medinah, dengan maksud supaya membawanya kembali ke Mekah, hidup atau mati, dengan harapan akan mendapat hadiah uang, Suraqa b. Ju’syum tidak juga beriman meskipun buku-buku riwayat hidup Nabi menceritakan adanya mujizat Tuhan sehubungan dengan peristiwa Suraqa dan kudanya itu. Juga sejarah tidak pernah menyebutkan bahwa ada orang musyrik yang beriman kepada kerasulan Muhammad hanya karena salah satu mujizat, seperti tukang-tukang sihir Firaun yang beriman setelah melihat tongkat Musa menelan semua yang telah mereka buat itu.

Muhammad Husain Haekal

Wallahu a’lam bil showab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

..