بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Al Mughirah bin Syu’bah bin Abi Amir ats Tsaqafi [ Arab: المغيرة بن شعبة بن أبي عامر الثقفي‎ ] juga dijuluki Mughirah ar Ra’yi [ Mughirah yang cerdik ], adalah salah seorang Sahabat Nabi yang berasal dari Bani Tsaqif di Thaif.

Pada masa jahiliyah ia pernah menjadi perampok, tetapi tidak seperti kebanyakan kaumnya yang dengan gencar memusuhi Rasulullah ﷺ dan Islam, bahkan ketika Makkah telah ditaklukkan, ia justru meninggalkan kota kelahirannya tersebut menuju Madinah untuk memeluk Islam.  Itu terjadi tidak lama setelah  Perang Uhud/ 3 H [ pada beberapa riwayat disebut perang Khandaq ]

Meski masa lalunya kelam, tetapi Rasulullah membuka tangan Beliau lebar lebar ketika Mughirah menyatakan keislamannya.  Bahkan, karena keberanian, ketangguhan serta kecerdasannya dalam berperang, Mughirah dipercaya menjadi salah satu pengawal Rasulullah dalam perang perang Islam.  Terutama dalam perang Hudaibiyah. [ Sesudah Nabi wafat, perannya amat penting dalam Perang Qadisiah ]  Sebuah ‘jabatan’ keren yang seluruh sahabat bermimpi menjadi pengawal Rasulullah dalam perang.  Sebuah jabatan yang bukan main main, karena didalamnya terkandung amanah yang amat berat.  Ditangan para pengawal, para bodygourd inilah, keselamatan Rasulullah ‘dipertaruhkan’.

Hingga turunlah Surat Al Maa’idah [5] ayat 67 :

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Sesudah Rasulullah ﷺ menerima ayat tersebut dari Allah, segera ayat tersebut disampaikan pula kepada para sahabat. Dengan adanya ayat : ‘Allah memelihara kamu dari gangguan’.
Mughirah bin Syu’bah juga dipercaya Nabi SAW untuk menulis wahyuwahyu yang turun. Ia juga menjadi juru tulis Rasulullah dan pernah diperintahkan untuk menulis surat balasan yang dikirimkan beliau ke Uskup Najran, untuk mengajaknya untuk memeluk Islam.  Ia juga meriwayatkan beberapa hadis.

Mughirah menyertai Rasulullah ﷺ dalam beberapa peristiwa, antara lain Baiat ar Ridhwan dan Hudaibiyah, serta penaklukkan Bani Tsaqif.

Walaupun selama masa jahiliahnya ia memiliki sikap yang kurang terpuji, tetapi pergaulannya dengan Rasulullah ﷺ dan para sahabat lainnya membentuk dirinya menjadi sosok berkepribadian baik dan sangat mencintai Rasulullah ﷺ.

 

Dituduh Pengkhianat

Mughirah waktu itu ikut serta dalam rombongan umrah Nabi ﷺ yang gagal, yakni yang berakhir dengan Perjanjian Hudaibiyah/ 6 H. Ketika itu utusan kaum kafir Quraisy, Urwah bin Mas’ud ats Tsaqafi, sedang berbincang dengan Rasulullah ﷺ tentang maksud kunjungan beliau ke Makkah. Seperti kebiasaan kaum Arab, sambil berbicara tersebut Urwah berusaha untuk memegang jenggot Rasulullah ﷺ.

Tetapi saat itu Mughirah berdiri di dekat beliau, setiap kali Urwah mengulurkan tangan untuk memegang janggut Rasulullah ﷺ, Mughirah memukulkan sarung pedangnya ke tangan Urwah sambil berkata, “Undurkan tanganmu dari jenggot Rasulullah ﷺ!”
“Siapakah orang ini?” Tanya Urwah.

Saat itu Mughirah memang mengenakan baju besinya sehingga hanya tampak dua bola matanya saja. Ketika dijawab sahabat lainnya bahwa ia adalah Mughirah bin Syu’bah, Urwah segera berkata, “Hai pengkhianat, bukankah aku telah berusaha untuk membelamu atas pengkhianatanmu itu?”

Di masa jahiliahnya, Mughirah memang pernah dipercaya untuk mengawal suatu kaum, tetapi ia malah membunuh mereka semua dan mengambil harta mereka. Dan saat itu Urwah bin Mas’ud memang berpihak pada Mughirah, dan membela sikapnya tersebut dengan berbagai macam argumerntasi.

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda, “Aku telah menerima keislamannya. Sedang urusan harta yang engkau bicarakan itu, aku tidak ikut campur tangan sedikitpun.”
Urwah pun tidak bisa berkutik dengan pembelaan Rasulullah ﷺ tersebut.

Mughirah Menghancurkan Berhala di Kampungnya Sendiri, Thaif

Beberapa bulan berlalu setelah Perang Hunain/ 8 H dan perang Thaif/ 9 H, ketika itu ia sedang menggembalakan unta tunggangan Nabi ﷺ dan para sahabat lainnya di luar Kota Madinah.  Dari kejauhan, tampak rombongan bani Tsaqif dari daerah Thaif, yang sebagian dari mereka adalah kerabatnya, berjalan menuju kota Madinah.

Mughirah bergegas menuju masjid untuk memberitahukan Nabi  ﷺ akan kedatangan mereka, tetapi ia bertemu Abu Bakar, dan Abu Bakar memintanya untuk tidak mengatakan kepada Nabi  ﷺ sebelum dirinya, dan ia menerima saran Abu Bakar tersebut.
Kedatangan mereka ini karena dibayang-bayangi ketakutan akan diperangi Nabi  ﷺ setelah mereka melakukan pembunuhan kepada Urwah bin Mas’ud, salah satu tokohnya yang telah memeluk Islam.

Setelah diterima Nabi  ﷺ, orang-orang bani Tsaqif yang dipimpin oleh Abd Yalil ini menyatakan bersedia masuk Islam, tetapi mereka minta pada beliau untuk diperbolehkan melakukan beberapa hal, seperti zina, minum khamr dan menarik/memakan riba, serta dibebaskan dari kewajiban shalat. Tentu saja semua persyaratan ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah ﷺ.

Mereka juga sempat meminta agar diijinkan tetap menyembah berhala dalam beberapa tahun, tetapi sekali Rasulullah ﷺ menolaknya. Begitu juga ketika mereka memintanya hanya untuk beberapa bulan, minggu dan hari, Rasulullah ﷺ tetap menolaknya. Pada akhirnya mereka meminta agar tidak disuruh menghancurkan berhala-berhala sembahan mereka dengan tangan mereka sendiri.

Maka Rasulullah ﷺ menerima persyaratan ini, dan beliau mengirimkan Mughirah dan Abu Sufyan bin Harb (dalam riwayat lain, sekelompok sahabat yang dipimpin Khalid bin Walid, Mughirah salah satu di antaranya), untuk menghancurkan patung-patung sembahan bani Tsaqif di Thaif.

Mughirah yang memang “putra daerah” dari Bani Tsaqif di Thaif itu, yang paling gencar dan bersemangat menghancurkan berhala-berhala tersebut. Ia berkata kepada sahabat lainnya, “Demi Allah, aku benar benar akan membuat kalian tertawa karena sikap orang orang Tsaqif..!!”

Setelah itu ia mengambil dua cangkul dan mendatangi berhala Lata yang selama ini menjadi sesembahan utama Bani Tsaqif, sangat dihargai dan ditinggikan sekaligus ditakuti. Dengan dua cangkul tersebut, Mughirah merobohkan berhala Lata, dan tampak penduduk Thaif bergetar penuh ketakutan, seolah-olah dunia akan runtuh menimpa mereka.

Bahkan ada yang berkata, “Semoga Allah mengutuk al Mughirah, dia tentu akan dicekik penjaga berhala…!!”
Mendengar perkataan tersebut, Mughirah melompat ke hadapan mereka dan berkata, “Semoga Allah memburukkan rupa-rupa kalian, berhala ini tidak lain hanyalah tumpukan batu dan lumpur yang hina…!!”
Kemudian Mughirah mengajak para sahabat untuk menghancurkan pintu penyimpanan barang dan merobohkan pagar-pagarnya. Tidak sekedar menghancurkan bangunan-bangunannya, bahkan ia menggali dan menghancurkan pondasinya, dan mengeluarkan harta dan barang simpanan di dalamnya, untuk diserahkan kepada Rasulullah ﷺ di Madinah.

Orang-orang Tsaqif hanya terpaku tak percaya dengan apa yang dilihatnya tersebut. Dengan atribut dan “kebesaran” berhala Lata itulah selama ini mereka merasa bangga dan berkuasa. Begitu semua itu rata dengan tanah, seolah-olah segala kebesaran dan kebanggaannya selama ini ikut tercerabut dari akar-akarnya.

Sesudah Rasulullah Wafat

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Mughirah terlibat dalam Perang Yamamah, ekspedisi ke Syam dan Irak, serta sebagai utusan ke penduduk An-Nuja’ir.

Selanjutnya pada masa pemerintahan Umar ia terlibat dalam Perang Yarmuk, serta sebagai utusan kepada pasukan Kekaisaran Persia. Umar mengangkatnya menjadi gubernur Basra, dan kemudian Kufah.

Perang Qadisiah

Pada masa khalifah Umar bin Khaththab, tepatnya pada tahun 15 hijriah, pasukan muslim yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash menuju Qadisiah untuk memerangi pasukan Persia yang dipimpin oleh Rustum. Umar juga mengirim pasukan tambahan dari Madinah yang dipimpin oleh Mughirah bin Syu’bah untuk mendukung Sa’ad.

Pasukan Abu Ubaidah sejumlah seribu orang yang berada di daerah Syam, juga diminta Umar untuk bergabung dengan Sa’ad.
Ketika kedua pasukan, Muslimin dan Persia telah berhadapan, Rustum mengirim utusan menemui Sa’ad agar ia mengirim seseorang yang alim dan bijaksana kepadanya untuk melakukan pembicaraan. Sa’adpun mengirim Rib’i bin Amir.

Pada hari berikutnya Rustum meminta dikirim lagi orang lainnya, Sa’ad mengirim Huzaifah bin Mihsan. Ketika pada hari berikutnya Rustum masih meminta lagi orang lainnya, Sa’ad mengirim Mughirah bin Syu’bah.
Mughirah segera memacu tunggangannya membelah kumpulan pasukan Persia tanpa sedikitpun rasa gentar. Ketika memasuki ruang pertemuan yang dipersiapkan, Rustum telah menyediakan tempat duduk yang beralaskan kain sutera, tetapi Mughirah tidak mau duduk di situ. Ia meminta seseorang di sebelah Rustum untuk melemparkan perisainya, dan ia menduduki perisai tersebut.
Pada mulanya pembicaraan berlangsung tenang, dan dalam beberapa hal Rustum mengakui kebenaran yang disampaikan oleh Mughirah. Tetapi pada akhirnya, Rustum menawarkan makanan, uang dan harta lainnya yang sangat banyak, dengan syarat pasukan muslim ditarik dari Qadisiah. Atas penawaran ini, tegas sekali Mughirah berkata, “Akankah itu terjadi jika kami memusnahkan kerajaanmu dan melemahkan kekuatanmu? Kami tidak mempunyai waktu yang banyak, kami hanya akan mengambil jizyah darimu dan kamu akan berada di bawah taklukan Madinah dan menjadi hamba kami, akibat dari kekerasan hatimu…”

Pembicaraan menjadi panas, terjadi saling mengancam dan perang mental. Rustum mengancam akan membantai habis pasukan muslim yang hanya sekitar 30.000 orang, dengan 120.000 tentaranya. Mendengar ancaman ini, dengan tegar Mughirah berkata, “Jika kalian membunuh kami, maka kami akan memasuki jannah, tetapi jika kami membunuh kalian, tempat kalian adalah neraka yang menyala-nyala….”

Inilah yang terjadi sebelum pecahnya perang Qadisiah, dan dalam peperangan itu tentara Persia yang dipimpin Rustum, yang jauh lebih besar berhasil dicerai-beraikan oleh pasukan muslimin

Diakali Rakyat Bahrain

Zaid bin Aslam menceritakan dari ayahnya, bahwa Umar bin Al-Khattab pernah menugaskan Al-Mughirah bin Syu’bah untuk menjadi gubernur di Bahrain. Namun masyarakat di sana tidak menyukainya, tapi justru membencinya. Akhirnya ia dikucilkan.

Mereka takut kalau Al Mughirah akan kembali menjadi pemimpin mereka. Salah seorang dedengkot mereka berkata, ‘Kalau kalian menuruti perintahku, aku jamin ia tidak akan kembali memimpin kita: “Baiklah, kami akan turuti perintahmu,” ujar mereka.

Ia berkata, “Kumpulkan saja uang seratus ribu dirham, untuk kubawa menghadap Umar, lalu akan kukatakan kepadanya,’Ini uang yang dikumpulkan Al-Mughirah dari harta rakyat, dan dititipkan kepadaku!’

Mereka pun mengumpulkan uang sebanyak seratus ribu dirham. Lelaki itu membawanya menghadap Umar, dan berkata kepada beliau, ‘Ini uang yang dikumpulkan Al-Mughirah dari harta rakyat, dan dititipkan kepadaku!’

Umar pun memanggil Al Mughirah, lalu bertanya, ‘Bagaimana menurutmu, apa yang dikatakannya itu?’

“Ia bohong! Semoga Allah memperbaiki Anda. Yang kutitipkan kepadanya, dua ratus ribu dirham!’

Kontan, Umar bertambah terperanjat mendengarnya. ‘Lho, untuk apa uang sebanyak itu bagimu?’ Tanya Umar.

“Untuk menghidupi keluargaku dan memenuhi banyak kebutuhanku.”

Umar segera memanggil lelaki tadi, dan bertanya kepadanya, ‘Bagaimana ini? Mana yang benar?’

Si lelaki berkata, “Sudahlah, aku berkata jujur kepadamu, wahai Amirul Mukminin. Sungguh, ia tidak pernah menitipkan uang sepeser pun kepadaku,’ dengan terpaksa, ia membuka kedoknya.

Umar tersenyum, dan bertanya kepada Al Mughirah,’Kenapa engkau justru mengatakan seperti itu. Apa yang engkau kehendaki?’

“Ia jahat dan berusaha berbohong untuk menjebakku, maka aku memang sengaja membuatnya terduduk.” [Lihat Kitab al Adzkiyaa, Ibnul Jauzi Rahimahullah, Hal.21-23

 

Abu Lu’lu’ah Membunuh Umar

Seorang budak Persia milik Mughirah, yaitu Abu Lu’lu’ah Fairuz al Majusi, pergi ke Madinah dan membunuh Umar karena dendam atas kekalahan Persia; namun Mughirah tidak turut disalahkan.

Pada masa pemerintahan Utsman, Mughirah tetap menjabat gubernur Kufah selama beberapa waktu, sebelum akhirnya diganti.

Ketika terjadi perpecahan antara Ali dan Muawiyah sehingga terjadinya Perang Shiffin/ 657 M, Mughirah memilih menjauhkan diri. Di belakangan hari ia baru membaiat Muawiyah setelah sebagian besar umat Islam melakukannya.  Muawiyah kemudian mengangkatnya menjadi gubernur Kufah kembali, hingga ia wafat tahun 50 Hijriah (670/671 M).

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

..