Jalan atau pasar adalah tempat berkumpulnya banyak orang dari berbagai strata, status dan gender.  Disanalah banyak orang berkumpul.  Sebagai umat muslim, penting bagi kita untuk memahami adab adab di jalan atau di pasar.  Bagaimana adab kita, tentu akan dilihat oleh masyarakat umum.  Rasulullah telah memberi contoh real bagaimana seharusnya adab seorang muslim di jalan atau di pasar.  Kita tinggal mencontoh teladan Rasulullah ini.

  • Hak Jalan
    • Diriwayatkan dari Umar bin Khattab r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. mendatangi kami pada saat kami duduk-duduk di pinggir jalan. Lalu beliau bersabda, ‘Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan ini sebab ini adalah majelisnya syaitan. Jika kalian enggan meninggalkannya maka tunaikanlah hak jalan.’ Lantas Rasulullah saw. pergi. Aku berkata, ‘Rasululllah saw. bersabda, ‘Tunaikanlah hak jalan dan aku belum bertanya apa hak jalan itu.’ Maka akupun mengejarkan dan bertanya, ‘Ya Rasulullah, anda katakan begini dan begitu, lalu apa hak jalan itu?’ beliau menjawab, ‘Hak jalan adalah menjawab salam, menundukkan pandangan, tidak mengganggu orang lewat, menunjuki orang yang tersesat, dan menolong orang yang teraniaya’,” (Hasan lighairihi, HR ath-Thahawi dalam kitab Musykilul Atsar [165]).
    • وعن ابي سعيد الخدر رضي الله عنه عن النبي ص.م قال : ايّاكم والجلوس في الطرقات, قالوا : يا رسول الله ما لنا من مجالسنا بدّ نتحدّث فيها, ققال رسول الله ص.م : فاذا ابيتم الاّ المجلس فاعطوا الطّريق حقّه, قالوا : وما حقّ الطّريق يا رسول الله ؟ قال : غضّ البصر, وكفّ الاذي, وردّ السّلام, والامر بالمعروف, والنّهي عن المنكر, (رواه البخاري و مسلم)
      • Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri r.a, bahwasanya Nabi saw. pernah bersabda, “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.” Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, kami duduk di situ untuk mengobrol, kami tidak bisa meninggalkannya.” Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan tempat itu maka kalian harus menunaikan hak jalan.” Para sahabat bertanya, “Apa hak jalan itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, membuang hal-hal yang mengganggu di jalan, menjawab salam, memerintahkan perkara ma’ruf, dan melarang perbuatan mungkar,” [ Muttafaq’alaih ]
    • Diriwayatkan dari al Barra’ bin Azb r.a, ia berkata, “Nabi saw. melintas di majelis orang-orang Anshar, lalu beliau bersabda, “Jika kalian enggan meninggalkan tempat tersebut maka tunjukilah si penanya jalan, jawablah salam dan tolonglah orang yang teraniaya’,” (Shahih, HR Abu Dawud ath-Thayalisi [710] dan at Tirmidzi [2726])
    • Dalam riwayat lain dinyatakan : Jauhilah tempat tempat duduk di jalanan.  Lalu kami berkata : ‘sesungguhnya kami duduk untuk sesuatu yang tidak buruk.  Kami duduk untuk berdiskusi dan  bercengkerama’.  Lantas beliau bersabda : ‘Jika tidak, maka berikanlah haknya : menundukkan pandangan, menjawab salam dan ucapan yang baik’. [ HR Muslim ]
    • Penjelasan
      • Ungkapan beliau: “mâ lanâ min majâlisinâ buddun” [kami tidak punya (pilihan) tempat duduk-duduk” maksudnya adalah kami membutuhkan untuk duduk-duduk di tempat-tempat seperti ini, karena adanya faedah yang kami dapatkan.
      • Ungkapan beliau : “fa a’thû ath-tharîqa haqqahu” [berilah jalan tersebut haknya] maksudnya adalah bila kalian memang harus duduk di jalan tersebut, maka hendaklah kalian memperhatikan etika yang berkaitan dengan duduk-duduk di jalan dan kode etiknya yang wajib dipatuhi oleh kalian. ·
      • Ungkapan beliau : “ghadl-dlul bashar” [memicingkan pandangan] maksudnya adalah mencegahnya dari hal yang tidak halal dilihat olehnya. · Ungkapan beliau : “kufful adza” [mencegah (adanya) gangguan] maksudnya adalah mencegah adanya gangguan terhadap pejalan atau orang-orang yang lewat disana, baik berupa perkataan ataupun perbuatan seperti mempersempit jalan mereka, mengejek mereka dan sebagainya.
      • Asal hukum terhadap hal yang berkenaan dengan “jalan” dan tempat-tempat umum adalah bukan untuk dijadikan tempat duduk-duduk, karena implikasinya besar, diantaranya:
        • 1) Menimbulkan fitnah,
        • 2) Mengganggu orang lain baik dengan cacian, kerlingan ataupun julukan,
        • 3) Mengintip urusan pribadi orang lain,
        • 4) Membuang-buang waktu dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.
      • Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam hadits diatas memaparkan sebagian dari kode etik yang wajib diketahui dan dipatuhi oleh para pengguna jalan, yaitu:
        • 1) Memicingkan mata dan mengekangnya dari melihat hal yang haram; sebab “jalan” juga digunakan oleh kaum wanita untuk lewat dan memenuhi kebutuhan mereka. Jadi, memicingkan mata dari hal-hal yang diharamkan termasuk kewajiban yang patut diindahkan dalam setiap situasi dan kondisi. Allah berfirman:“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (Q.S. An Nur : 30).
        • 2) Mencegah adanya gangguan terhadap orang-orang yang berlalu lalang dalam segala bentuknya, baik skalanya besar ataupun kecil seperti menyakitinya dengan ucapan yang tak layak; cacian, makian, ghibah, ejekan dan sindiran. Bentuk lainnya adalah gangguan yang berupa pandangan ke arah bagian dalam rumah orang lain tanpa seizinnya. Termasuk juga dalam kategori gangguan tersebut; bermain bola di halaman rumah orang, sebab dapat menjadi biang pengganggu bagi tuannya, dan lainnya.
  • Menyingkirkan gangguan dari jalan
    • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

      لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِي الجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهاَ مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ

      “Sungguh aku telah melihat seorang lelaki mondar-mandir di dalam surga dikarenakan sebuah pohon yang dia tebang dari tengah jalan yang selalu mengganggu manusia” (HR. Muslim)

    • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

      مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَي ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ وَاللهِ لأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنْ المُسْلِمِينَ لَا يُؤذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الجَنَّةَ

      “Ada seorang lelaki berjalan melewati ranting pohon yang ada di tengah jalan, lalu dia berkata, ‘Demi Allah, sungguh aku akan singkirkan ranting ini dari kaum muslimin agar tidak menganggu mereka.’ Maka dia pun dimasukkan ke dalam surga.” (HR Muslim)

  • Tidak boleh meludah ke arah kiblat di jalan maupun di tempat lain. 
    • Riwayat sunan Abu Daud dan yang lainnya dari Hudzaifah bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang meludah ke arah kiblat maka ludahnya itu akan datang dihadapannya pada hari kiamat.”
    • Riwayat Ibnu Khuzaimah dari hadis Ibnu Umar—marfu— “Akan dibangkitkan orang yang meludah ke arah kiblat pada hari kiamat dan dia mendapati ludahnya itu di wajahnya.”