بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

Ad Dukhaan adalah nama surat ke 44 dalam al Quran dan terdiri dari 59 ayat.   Surat ini tergolong surat Makkiyah dan Fawaatihushshuwar karena surat Ad Dukhaan diawali dengan rangkaian huruf hijaaiyyah yang tidak seorangpun mengetahui  makna sebenarnya kecuali Allah SWT.

Dinamakan Ad Dukhan yang berarti Kabut diambil dari kata Ad Dukhaan yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ 10

Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata,

Kabut Asap Itu adalah Azab

  • Para mufasirin (ahli tafsir) berpendapat bahwa “Dukhaan” tersebut adalah kabut asap yang meliputi manusia ketika neraka mendekat kepada orang orang yang berdosa pada hari Kiamat.  Dan munculnya asap pada akhir zaman merupakan salah satu tanda kiamat besar yang ditunjukkan oleh dalil Al Kitab dan As Sunnah. Dalil-dalil tentang hal ini dari Al Quran adalah:
    “Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah adzab yang pedih.” (Ad-Dukhan: 10-11) Maknanya, tunggulah orang-orang kafir itu –wahai Muhammad – pada hari di mana langit mendatangkan asap yang nyata lagi jelas, yang menutupi serta meliputi manusia. Ketika itu, dikatakan kepada mereka: “Inilah adzab yang pedih”, sebagai celaan dan cercaan keras terhadap mereka. Atau sebagian mereka mengucapkan kalimat ini kepada yang lain. [ Tafsir Al-Qurthubi (16/130), Tafsir Ibnu Katsir (7/235-236) ]

Tentang apa yang dimaksud dengan ad dukhan ini, apakah sudah terjadi  atau merupakan tanda yang masih ditunggu terjadinya, ada dua pendapat ulama:

  1. Ad dukhan ini telah terjadi : adalah apa yang menimpa kaum Quraisy berupa kesempitan hidup dan kelaparan yang terjadi ketika Nabi sallallahu’alaihiwassallam mendoakan kejelekan bagi mereka karena tidak mau memenuhi dakwah beliau. Mereka melihat sesuatu seperti asap di langit.  Pendapat inilah yang dipegang Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, dan diikuti sekelompok salaf. Beliau radhiallahu’anhu berkata: “Ada lima perkara yang telah berlalu : Al lizam* , Romawi, albathsyah, bulan, dan asap.” *Yaitu yang disebutkan dalam surat Al Furqan ayat 77:

“Padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian).”
Yakni akan terjadi adzab yang pasti, yang membinasakan mereka sebagai buah dari pendustaan mereka. Yang dimaksud di
sini adalah pembunuhan dan penawanan terhadap kaum kafir Quraisy ketika perang Badr. Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/143
dan 305), Syarh Shahih Muslim karya An-Nawawi (17/143).

Ketika seorang lelaki dari Kindah berbicara tentang ad dukhan: “Sesungguhnya ad dukhan akan datang (menjelang) hari kiamat, mengambil pendengaran dan penglihatan orang orang munafiq,”

Marahlah Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu. Beliau berkata: “Barangsiapa yang berilmu, berbicaralah. Dan barangsiapa yang tidak berilmu, ucapkanlah: ‘Allah lebih tahu.’ Karena mengucapkan ‘Aku tidak tahu’ ketika memang tidak tahu merupakan bagian ilmu. Allah subhanahuwata’ala berkata kepada Nabi-Nya :

 قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ 86

Katakanlah (hai Muhammad) : ‘Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan’[ Shaad [38] ayat 86 ]

Sesungguhnya Quraisy senantiasa mengulur-ulur waktu untuk masuk Islam, maka Nabi Sallallahu’alaihiwassallam mendoakan kejelekan bagi mereka. Beliau Sallallahu’alaihiwassallam berkata:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَيْهِمْ بِسَبْعٍ كَسَبْعِ يُوسُفَ

“Ya Allah, tolonglah aku atas mereka dengan tujuh (tahun) sebagaimana tujuh (tahun paceklik) Yusuf.”

Maka kaum kafir Quraisy itu dihukum satu tahun hingga binasa, memakan bangkai dan tulang, dan seseorang bisa melihat sesuatu seperti asap di antara langit dan bumi.”

[ Shahih Al-Bukhari, Kitabut Tafsir, Surat Ar-Rum (8/511, bersama Al-Fath) dan Bab Yaghsyan Nas Hadza Yaumun ‘Azhim (8/571, bersama Al-Fath), Shahih Muslim, Kitab Shifatul Qiyamah wal Jannah wan Nar, Bab Ad-dukhan (17/140-141,bersama Syarh An-Nawawi ].

Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thabari, kemudian beliau mengatakan: “Karena Allah –yang Maha Mulia pujian- Nya– mengancam musyrikin Quraisy dengan asap, dan bahwa firman-Nya kepada Nabi– Nya Muhammad sallahu’alahiwassallam :
“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan:10).

Dan ad dukhaan itu berada pada konteks pembicaraan Allah subhanahuwata’ala terhadap orang orang kafir Quraisy, dan cercaan-Nya terhadap kesyirikan mereka terhadap-Nya, dengan firman-Nya :
“Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu. Tetapi mereka bermain-main dalam keraguraguan.” (Ad Dukhaan : 8-9)

Kemudian Allah l meneruskannya dengan firman-Nya kepada Nabi-Nya sallallahu’alaihiwassallam:
“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan:10) yang merupakan perintah kepada beliau Sallallahu’alaihiwassallam untuk bersabar, hingga datang adzab-Nya kepada mereka. Hal ini juga merupakan ancaman bagi kaum musyrikin. Hal itu merupakan ancaman bagi mereka, maka Allah subhanahuwaa’ala timpakan kepada mereka. Ini lebih dekat (kepada kebenaran) daripada Allah subhanahuwata’ala tunda lalu Dia timpakan kepada selain mereka. [ Tafsir Ath-Thabari (25/114) ]

2. Ad Dhukhaan belum terjadi.  Asap ini merupakan salah satu tanda yang masih ditunggu, dan belum terjadi. Hal ini akan terjadi mendekati datangnya hari kiamat. Pendapat inilah yang dipegang Ibnu ‘Abbas dan sebagian sahabat dan tabi’in. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Mulaikah**, dia berkata: “Suatu hari, aku bersama Ibnu Abbas di waktu pagi. Dia berkata: ‘Aku tidak tidur tadi malam hingga subuh.’

**Dia adalah Abdullah bin Ubaidullah bin Abi Mulaikah Zuhair bin Abdillah bin Jad’an At-Taimi Al-Makki, salah seorang hakim dan muadzin pada pemerintahan Ibnuz Zubair. Dia meriwayatkan dari Abdullah yang empat. Dia seorang yang tsiqah dan banyak haditsnya, meninggal tahun 117 H. Lihat Tahdzibut Tahdzib (5/306-307).

Aku bertanya: ‘Mengapa?’

Dia berkata: ‘Mereka mengatakan, bintang Dzu Dzanbin telah terbit. Aku khawatir ad dukhaan telah muncul, maka aku tidak tidur hingga subuh’.”

Ibnu Katsir berkata: “Ini adalah sanad yang shahih sampai kepada Ibnu Abbas habrul ummah, penerjemah Al Quran. Dan begitu pula pendapat orang yang menyepakatinya dari kalangan sahabat dan tabi’in seluruhnya, bersamaan dengan adanya hadits hadits yang shahih maupun hasan dan selainnya… yang mengandung kecukupan dan dalil yang jelas bahwa addukhan adalah salah satu tanda yang belum terjadi, dan sekaligus juga itulah dzhahir Al Quran. Allah subhanahuwata’ala berfirman: “Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan:10)

Maksudnya, yang nyata dan jelas, bisa dilihat semua orang. Adapun yang ditafsirkan Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu itu adalah bayangan yang dilihat mata mereka karena lapar dan kesengsaraan yang sangat. Begitu pula firman-Nya:“Yang meliputi manusia.” (Ad-Dukhan: 11) Maksudnya, menutupi dan mencakup mereka. Kalaulah hal itu suatu bayangan yang hanya dilihat penduduk musyrikin Makkah, tentu Allah subhanahuwata’ala tidak akan berfirman “yang meliputi manusia.” Dan disebutkan dalam Ash-Shahihain bahwa Rasulullah sallallahu’alaihi wassallam berkata kepada Ibnu Shayyad: “Aku menyembunyikan sesuatu untukmu.” Dia berkata: “Ad-Dukh.” Beliau sallallahu’alaihi wassallam bersabda: “Tetaplah di tempatmu. Engkau tidak akan melampaui batasmu.” Nabi sallallahu’alaihi wassallam menyembunyikan terhadapnya:“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan:10)

Dalam hadits ini ada dalil ad-dukhan adalah sesuatu yang belum terjadi dan masih ditunggu, karena Ibnu Shayyad adalah seorang Yahudi Madinah. Padahal kisah ini tidaklah terjadi kecuali setelah beliau hijrah ke Madinah. Selain itu, haditshadits shahih menyebutkan bahwa ad-dukhan merupakan tanda-tanda kiamat yang besar, sebagaimana akan dijelaskan. Adapun penafsiran Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu, itu merupakan ucapan beliau saja. Dan sesuatu yang marfu’ (diriwayatkan sampai kepada Nabi sallallahu’alaihi wassallam) didahulukan atas setiap yang mauquf (diriwayatkan sampai kepada sahabat)….

Sebagian ulama mengompromikan riwayat-riwayat ini dengan menyatakan bahwa itu adalah dua asap. Salah satunya sudah terjadi, sedangkan yang kedua –yang muncul menjelang hari kiamat– belum. Yang sudah muncul adalah yang dilihat oleh bangsa Quraisy layaknya asap, namun bukan asap hakiki, yang terjadi ketika munculnya tanda-tanda hari kiamat.

Al-Qurthubi t berkata: “Mujahid rahimahullahu berkata: ‘Ibnu Mas’ud radhiallahuanhu dahulu berkata: Itu adalah dua asap. Salah satunya telah terjadi. Adapun yang belum terjadi, asapnya akan memenuhi antara langit dan bumi. Asap itu akan menyebabkan seorang yang beriman akan terkena semacam selesma (flu), sedangkan orang kafir akan tembus pendengarannya’.”
(Diambil dari Asyrathus Sa’ah, hal.383-388)

[table “” not found /]

[table “” not found /]

 

Tafsir surat Ad Dukhaan ayat 1 – 15

حم 1  Haa Miim.
وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ 2  Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ 3   Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ 4  Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,
أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ 5  (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasulrasul,
رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ 6  sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,
رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ 7  Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.
لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الأوَّلِينَ 8 Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu.

بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ يَلْعَبُونَ 9  Tetapi mereka bermain-main dalam keragu-raguan
فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ 10  Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata,
يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ 11   yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.
رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ 12  (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami azab itu. Sesungguhnya kami akan beriman.”
أَنَّى لَهُمُ الذِّكْرَى وَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مُبِينٌ 13  Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan,
ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَالُوا مُعَلَّمٌ مَجْنُونٌ 14  kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata: “Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang gila.
إِنَّا كَاشِفُوا الْعَذَابِ قَلِيلا إِنَّكُمْ عَائِدُونَ 15  Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar).

 

Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Masruq, ia berkata : Abdullah [ Ibnu Mas’ud ] berkata,

“Sesungguhnya hal ini adalah karena orang orang kafir Mekkah dalam menghalang halangi agama Islam dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muhammad s.a.w. sudah melewati batas.

Maka Beliau mendoakan mereka agar ditimpakan kemarau panjang seperti kemarau [ pada zaman ] Nabi Yusuf.

Menurut sejarah, kemarau panjang (hingga 7 tahun) terjadi zaman Nabi Yusuf. Kisahnya tertuang dalam al Quran. “Yusuf berkata: Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang Amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.” [ QS Yusuf [12] 47-48 ]

Dan Allah mengabulkan doa Nabi sehingga orang orang kafir Quraisy itu ditimpa kemarau yang panjang,  Mereka merasakan kelaparan dan kesusahan sampai mereka memakan tulang.   Seorang diantara mereka adayang melihat ke langit dan ia lihat antara dirinya dengan langit ada seperti kabut asap.

Hal itu karena penderitaan yang menimpanya, maka Allah Taala menurunkan ayat, “Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas,– yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.” (Ad Dukhan: 10-11)

Kemudian mereka menghadap Nabi saw. untuk meminta bantuan. Mereka berkata: “Ya Rasulullah. Mohonkanlah hujan bagi kami (kaum Mudlar), karena kami sudah sangat menderita.” Beliau menjawab, “(Apa) untuk Mudhar? Sesungguhnya engkau benar-benar lantang.”

Maka Rasulullah saw. berdoa agar diturunkan hujan. Akhirnya hujanpun turun. Maka turunlah ayat selanjutnya (ad Dukhaan: 15) yang menegaskan bahwa mereka akan kembali sesat. Setelah mereka memperoleh kemewahan, merekapun kembali pada keadaan semula.

 

Tafsir ayat 16 :

يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى إِنَّا مُنْتَقِمُونَ 16  (Ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan.

Kaum Quraisy itu akan mendapat siksa Allah yang keras. Dalam riwayat tersebut dikemukakan bahwa siksaan itu akan turun di waktu perang Badar.

Ia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Yaitu pada perang Badar.”

Hantaman yang keras yang terjadi di perang Badar di mana orang-orang musyrik dipukul dengan sehebat-hebatnya sehingga menderita kekalahan dan banyak di antara pemimpin-pemimpin mereka yang tewas.

 

Tafsir ayat 43 – 50

إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ 43   Sesungguhnya pohon **zaqqum itu,
طَعَامُ الأثِيمِ 44   makanan orang yang banyak berdosa.
كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ 45  (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut,
كَغَلْيِ الْحَمِيمِ 46  seperti mendidihnya air yang sangat panas.
خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ 47   Peganglah dia kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka.
ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ 48   Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas.
ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ 49   Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.
إِنَّ هَذَا مَا كُنْتُمْ بِهِ تَمْتَرُونَ 50  Sesungguhnya ini adalah azab yang dahulu selalu kamu meragu-ragukannya.

 

**Zaqqum adalah jenis pohon yang tumbuh di neraka.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur yang bersumber dari Abu Malik bahwa Abu Jahl membawa kurma dan mentega dan berkata pada kaumnya : “Makanlah az Zaqqum ini, yang dijanjikan Muhammad kepadamu.”

Maka turunlah ayat ini ( 43-44) yang menegaskan bahwa pohon zaqqum yang sesungguhnya ialah makanan bagi orang yang banyak berdosa.

Diriwayatkan oleh al Umawi di dalam Kitab Maghaazi-nya yang bersumber dari ‘Ikrimah. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa Rasulullah saw bertemu dengan Abu Jahl seraya bersabda : “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk menyatakan kepadamu : [ Al Qiyaamah [75] ayat 34 35 ]

 أَوْلَى لَكَ فَأَوْلَى 34

Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu,

ثُمَّ أَوْلَى لَكَ فَأَوْلَى 35

kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu.

 

Abu Jahl menyingsingkan baju sambil berkata: “Engkau dan teman-temanmu tidak akan mampu berbuat apa pun terhadapku. Engkaupun mengetahui bahwa aku yang paling berkuasa di tanah air ini. Akulah yang maha gagah dan maha mulia.”
Maka terbunuhlah Abu Jahl dalam Peperangan Badr dalam keadaan terhina. Namanya pun menjadi tercemar karena ucapan-ucapannya sendiri. Ayat  49 turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Ayat 49 : Rasakanlah, Sesungguhnya kamu orang yang Perkasa lagi mulia****.
* Ucapan Ini sejatinya merupakan ejekan baginya.

 

Surat Surat Dalam Al Quran
  1. Al  Faatihah    •  2. Al Baqarah   • 3. Ali ‘Imran  •  4. An Nisaa’  •  5. Al Maa-idah  •  6. Al An’aam   •   7. Al A’raaf   •  8. Al Anfaal •   9. At Taubah   •  10. Yunus [surat]  •  11. Hud   •  12. Yusuf [surat] •  13. Ar Ra’d   •  14. Ibrahim [surat]  •  15. Al Hijr [surat]    •  16. An Nahl •  17. Al Israa’   •  18. Al Kahfi   •  19. Maryam [surat]  •  20. Thaahaa •  21. Al Anbiyaa’ •  22. Al Hajj •  23. Al Mu’minuun   •  24. An Nuur   •   25. Al Furqaan   •  26. Asy Syu’araa’   •   27. An Naml  •   28. Al Qashash   •   29. Al ‘Ankabuut   •   30. Ar Ruum   •   31. Luqman  •  32. As Sajdah   •   33. Al Ahzab   •   34. Saba’   •   35. Fathir   •  36. Yassiin •  37. Ash Shaaffaat •  38. Shaad  •  39. Az Zumar   •   40. Al Mu’min  •  41. Al Fushshilat  •  42. Asy Syura   •   43. Az Zukhruf  •  44. Ad Dukhaan  •  45. Al Jaatsiyah   •  46. Al Ahqaaf   •  47. Muhammad [surat]   •  48. Al Fath  •  49. Al Hujuraat  •  50. Qaaf   •  51. Adz Dzaariyaat •  52.  Ath Thuur   •  53.  An Najm  •  54. Al Qamar  •  55. Ar Rahmaan  •  56. Al Waaqi’ah   •  57. Al Hadiid  •  58. Al Mujaadilah  • 59. Al Hasyr  •  60. Al Mumtahanah  •  61. Ash Shaff   •  62. Al Jumu’ah   •   63. Al Munaafiquun  •  64. At Taghaabun   •   65.  Ath Thalaaq   •   66. At Tahriim   •   67. Al Mulk   •  68. Al Qalam   •  69. Al Haaqqah   •  70. Al Ma’aarij  •  71. Nuh   •   72. Al Jin   •   73. Al Muzzammil  •   74. Al Muddatstsir   •   75. Al Qiyaamah  •  76. Al Insaan   •   77. Al Mursalaat   •

Juz Amma

  1. An Naba’   •   79. An Naazi’aat  •   80. ‘Abasa   •   81. At Takwir   •   82.  Al Infithaar  •   83. Al Muthaffifiin  •  84. Al Insyiqaaq   •  85. Al Buruuj   •  86. Ath Thaariq  •  87. Al A’laa   •  88. Al Ghaasyiyah   •   89. Al Fajr   •   90. Al Balad   •   91. Asy Syams   •  92. Al Lail   •   93. Adh Dhuhaa   •   94. Alam Nasyrah   •   95. At Tiin  •  96. Al ‘Alaq   •   97. Al Qadr •  98. Al Bayyinah   •  99. Az Zalzalah •  100. Al ‘Adiyaat   •   101. Al Qaari’ah   •  102. At Takaatsur   •  103. Al ‘Ashr   •   104. Al Humazah   •  105. Al Fiil •  106. Quraisy  •  107. Al Maa’uun   •   108.  Al Kautsar   •  109. Al Kaafiruun  •  110. An Nashr •  111. Al Lahab •  112. Al Ikhlash   •  113. Al Falaq   •  114. An Naas

Keterangan : Makkiyah  •  Madaniyyah

.