Abu Zur’ah Ar Razi adalah Ahli Hadis yang menutup hidupnya dengan Laa Ilaaha Illallah.  Nama asli beliau adalah Ubeidillah bin Abdul Karim bin Yazid bin Faryuj (عبيد الله بن عبد الكريم بن يزيد بن فريوخ ) seorang ahli hadits dari kota Roi. Beliau mencari ilmu hadits di saat berusia muda, beliau pergi ke negeri Hijaz, Syam, Mesir, Irak, al-Jazirah, dan Khurasan, dan beliau banyak menulis haditshadits tersebut.

B. Belajar bersama Imam Ahmad dan hafal ratusan ribu hadits
Abdullah bin Ahmad berkata :
“Tatkala Abu Zur’ah datang ke tempat kami, ayahku (Imam Ahmad) berkata padaku : “Wahai anakku, saya mengganti amalan sunnahku dengan saling menghafal hadits dengan syaikh ini (Abu Zur’ah)”.
Shalih bin Muhammad Jazrah berkata :
“Saya mendengar Abu Zur’ah berkata : Aku meriwayatkan hadits dari Ibrahim bin Musa ar-Razi seratus ribu hadits, dan dari Abu Bakar bin Abi Syaibah seratus ribu hadits”. Aku bertanya padanya : “Telah sampai padaku bahwasanya engkau hafal seratus ribu hadits, apakah engkau sanggup mendiktekan untukku seribu hadits yang engkau hafal? Abu Zur’ah menjawab : “Tidak, akan tetapi jika disampaikan kepadaku (hadits) aku hafal riwayatnya”.
Abdurrahman bin Abi Hatim berkata :
“Aku berkata kepada Abu Zur’ah : Apakah boleh aku menulis seratus ribu hadits yang diriwayatkan Ibrahim bin Musa?” ia menjawab : “Seratus ribu itu banyak”. Aku bertanya lagi : “Kalau lima puluh ribu?” ia menjawab : Ya, enam puluh ribu dan tujuh puluh ribu”.

Abu al-Abbas Muhammad bin Ja’far bin Hamkawaih berkata :
Abu Zur’ah pernah ditanya tentang seorang yang bersumpah untuk bercerai bahwa Abu Zur’ah hafal dua ratus ribu hadits, apakah ia boleh melanggar sumpah? Lalu Abu Zur’ah menjawab : “Saya hafal dua ratus ribu hadits, sebagaimana kalian hafal surat al-Ikhlas. Dan setelah mengulangi pelajaran saya mampu hafal tiga ratus ribu hadits”.
Ibnu Abi Hatim berkata :
Abu Zur’ah berkata : “Saya heran terhadap orang yang berfatwa dalam masalah talak dan ia hanya hafal kurang dari seratus ribu hadits.”
Ibnu Abi Syaibah berkata :
“Saya tidak pernah melihat seorang yang lebih hafal daripada Abu Zur’ah”.
Muhammad bin Muslim bin Warah berkata :
Saya pernah berada di kota Naisabur ( ( نيسابور di tempat Ishaq, lalu ada seseorang dari Irak berkata : “Saya mendengar Ahmad bin Hanbal berkata : Hadits yang shahih adalah tujuh ratus ribu dan lebih, dan pemuda ini – yang dimaksud olehnya adalah Abu Zur’ah – telah hafal enam ratus ribu hadits”.

Muhammad bin Ishaq as-Shaghani berkata :
Abu Zur’ah menyerupai Ahmad bin Hanbal.”
Ali bin al-Husein bin al-Junaid berkata :
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mengetahui hadits riwayat Malik bin Anas dari Abu Zur’ah, demikian pula seluruh ilmu.”

Ibnu Jausa berkata :
Saya mendengar Abu Ishak al-Jauzajani berkata : Kami pernah berada di tempat Sulaiman bin Abdurrahman, dan ia tidak mengizinkan kami menemuinya selama beberapa hari, setelah itu kami menemuinya. Kemudia ia berkata : Telah sampai berita kepadaku datangnya pemuda ini yaitu Abu Zur’ah, maka akupun mempelajari tiga ratus ribu hadits untuk bersiap-siap menemuinya”.

ٍC. Seorang ulama yang paling kuat hafalannya

Ditanyakan kepada Abu Bakar bin Abi Syaibah :

“Siapa orang yang paling hafal (hadits) yang pernah engkau lihat?” ia menjawab : “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih hafal (hadits) daripada Abu Zur’ah ar-Razi.

Ibnu Abi Hatim berkata :
Ayahku pernah ditanya tentang Abu Zur’ah. Lalu ia menjawab : “Abu Zur’ah adalah seorang Imam.”
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata :
Saya mendengar ayahku berkata : “Tidak ada seoranpun yang lebih alim dalam masalah fikih daripada Ishak bin Rahawaih, dan tidak ada seorangpun yang lebih hafal dari Abu Zur’ah.”
Abu Ya’la al-Mushili berkata :
“Aku tidak pernah mendengar seorangpun namanya terkenal lantaran hafalannya, melainkan namanya lebih besar dari sosoknya tatkala dilihat, kecuali Abu Zur’ah ar-Razi, sesungguhnya sosoknya lebih agung daripada namanya, ia telah menghafal bab-bab, para periwayat hadits, dan tafsir. Kami telah menulis enam ribu hadits pilihannya.”
Ishaq bin Rahawaih berkata :
“Setiap hadits yang tidak diketahui Abu Zur’ah ar-Razi maka hadits itu tidak berdasar.”

Abu al-Abbas ats-Tsaqafi berkata :
Tatkala Qutaibah bin Said pergi ke kota Roi, penduduknya meminta kepadanya untuk membacakan hadist yang ia hafal (agar mereka dapat meriwayatkan hadits darinya, namun Qutaibah tidak melakukannya), ia berkata : Saya akan mengajarkan hadits kepada kalian setelah kalian belajar hadits dalam majelis Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’in, Ibnu al-Madini, dan Abu Bakar bin Abi Syaibah, (Abu Qaitsamah}? Merekapun berkata padanya : “Sesungguhnya di kota kami ada seorang pemuda yang mampu meriwayatkan hadits dari mereka, (lalu mereka menyuruh Abu Zur’ah untuk membaca hadits yang ia hafal dari para ulama hadits tersebut) : Bangunlah Abu Zur’ah, bacakan hadits yang engkau hafal!”. Kemudian setelah itu Qutaibah mengajarkan kepada mereka hadits.
Abu Ali Jazarah berkata : Abu Zur’ah berkata padaku :
“Mari kita pergi ke Sulaiman asy-Syadzakuuni untuk belajar hadits. Lalu kamipun pergi. Maka Abu Zur’ah belajar kepada asy-Syadzakuuni hingga asy-Syadzakuuni kelelahan dari hafalannya, tatkala Abu Zur’ah memayahkannya, asy-Syadzakuuni menyebutkan hadits yang diriwayatkan para periwayat hadits dari kota ar-Roi, dan Abu Zur’ah tidak mengetahui riwayat hadits ini. Lalu Sulaiman asy-Syadzakuuni berkata padanya : Subhanallah, engkau tidak mengetahui hadits yang diriwayatkan periwayat hadits kotamu, hadits ini diriwayatkan dari kotamu? Abu Zur’ah terdiam {dan asy-Syadzakuuni membuatnya malu} dan memperlihatkan pada yang hadir bahwa Abu Zur’ah tidak mampu meriwayatkan hadits itu. Tatkala kami telah keluar, saya melihat Abu Zur’ah bersedih, dan berkata : “Mengapa saya tidak tahu hadits itu riwayat siapa”. Lalu aku katakan padanya : ” asy-Syadzakuuni menyebutkan hadits itu agar engkau tidak mampu dan malu (setelah melihat hafalan Abu Zur’ah sangat kuat). Abu Zur’ah berkata : “Jadi begitu”. Aku menjawab : Ya. Mendengar hal ini kesedihannya hilang.

D. Nama Abu Zur’ah lebih masyhur dari dunia

Ibnu Adi berkata :
Saya mendengar Muhammad bin Ibrahim al-Muqri, saya mendengar Fadlak as-Shaig berkata : “Saya pernah berkunjung ke kota Madinah lalu saya masuk melalui Abu Mus’ab, lalu keluar seorang syaikh saat aku mengantuk, lalu ia menggoyang-goyang badanku, dan berkata : Wahai penuntut ilmu dari mana engkau? Kenapa engkau tertidur? Aku menjawab : Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, saya dari kota ar-Roi, dari kalangan murid-murid Abu Zur’ah. Ia berkata : “Engkau meninggalkan Abu Zur’ah dan mendatangiku? saya telah bertemu Malik dan lainnya, tidak pernah aku melihat dengan kedua mataku ini orang semisal Abu Zur’ah.”
Ibnu Adi berkata :
Saya pernah datang ke tempat ar-Rabi di Mesir, lalu ia bertanya : Dari mana kamu? Saya jawab : Dari kota ar-Roi. Ia berkata : Engkau meninggalkan Abu Zur’ah dan datang padaku? Sesungguhnya Abu Zur’ah adalah ayat Allah, sesungguhnya apabila Allah menjadikan seorang manusia sebagai ayat-Nya, Dia akan menerangkannya dengan bentuknya, hingga tidak ada yang menyamainya.
Yunus bin Abul A’la berkata :
Aku tidak pernah melihat seorang yang banyak bersikap tawadhu (rendah hati) dari Abu Zur’ah dan Abu Hatim, keduanya adalah imam kota Khurasan.
Yunus bn Abdul A’la berkata pada suatu hari :
Abu Zur’ah bercerita padaku : pernah ditanyakan padanya : “Siapa ini?” Ia menjawab : “Sesungguhnya Abu Zur’ah lebih mashur di dunia daripada dunia itu sendiri”.
Ibnu Abi Hatim :
al-Hasan bin Ahmad bercerita kepada kami, saya mendengar Ahmad bin Hanbal memohon kepada Allah untuk kebaikan Abu Zur’ah. Dan saya mendengar Abdul Wahid bin Ghiyas berkata : Abu Zur’ah tidak pernah melihat orang yang semisal dirinya.”
Said bin Amru al-Bardzali :
Saya mendengar Muhammad bin Yahya berkata : Senantiasa kaum muslimin dalam kebaikan selama Allah menghidupkan bagi mereka orang seperti Abu Zur’ah, seorang yang mengajarkan kebaikan, tidaklah Allah membiarkan bumi kecuali terdapat orang semisal Abu Zur’ah yang mengajarkan hal yang tidak tahu kepada manusia”.

Abu Hatim berkata :
Orang yang paling zuhud yang pernah aku lihat ada empat : Adam bin Abi Iyas , Tsabit bin Muhammad az-Zahid , Abu Zur’ah ar-Razi , dan ia menyebutkan yang lain.

E. Abu Zur’ah ar-Razi periwayat hadits Nabi terpercaya

An-Nasai berkata :
Abu Zur’ah ar-Razi adalah periwayat hadits terpercaya.
Abu al-Husein bin al-Munadi dan Abu Said bin Yunus berkata :
Abu Zur’ah ar-Razi wafat pada tahun 264 H, dan kelahirannya di tahun200 H.
Adapun al-Hakim berkata mengomentari Abu al-Husein Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Mahdi ar-Razi al-Muammar :
Menurutku ia adalah periwayat hadits yang jujur. Sesungguhnya ia berkata : Aku pernah melihat Abu Zur’ah ar-Razi. Lalu akupun bertanya : “Bagaimana dia itu?” ia menjawab : “Ia orang yang memiliki jenggot hitam, kurus, kulitnya coklat. Ia meninggal saat berusia 65 tahun.
Ishak bin Ibrahim bin Abdul Humeid al-Qurasy berkata :
Saya mendengar Abdullah bin Ahmad berkata : Saya bertanya kepada ayahku tentang para imam ahli hadits yang banyak menghafal hadits, lalu ia berkata : Wahai anakku dahulu para ahli hadits yang banyak menghafal hadits ada di kota kita, kemudian sekarang berpindah ke daerah Khuraasan dan mereka itu ada empat orang pemuda”. Aku bertanya : “Siapa mereka itu?” ayahku menjawab : “Abu Zur’ah, yaitu ar-Razi, dan Muhammad bin Ismail, yaitu al-Bukhari, dan Abdullah bin Abdurrahman, yaitu as-Samarkandi, dan al-Hasan bin Suja’ yaitu al-Balkhi”.

F. Seorang yang diberi firasat Allah ta’ala
Al-Hakim berkata :
Abu Hatim ar-Razi bercerita kepadaku : Saya mendengar Abu Muhammad bin Abu Hatim, saya mendengar Abu Zur’ah berkata : ketika saya menunaikan shalat, dan saat itu saya membaca :

” Dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka Ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu”. (QS al-Baqarah : 278-279)
Sesaat saya terkesima dengan ayat ini dan berhenti membacanya, lalu saya ulangi lagi membacanya hingga tiga kali. Di saat ketiga kalinya terdengar suara gemuruh lantaran gempa bumi. Keesokan harinya sampai berita kepada saya jumlah korban gempa mencapai sepuluh ribu jenazah”.

Ahmad bin Muhammad bin Sulaiman berkata : saya mendengar Abu Zur’ah berkata :
Jika saya sakit selama sebulan atau dua bulan, saya tersadar bahwa saya meninggalkan hafalan al-Qur’an, adapun jika engkau meninggalkan hadits maka akan nampak akibatnya bagimu. Lalu Abu Zur’ah berkata : “Kami melihat sahabatsahabat kami, mereka menulis hadits namun meninggalkan hadir dalam majelis pelajaran selama dua puluh tahun, atau kurang, jika mereka duduk pada hari ini bersama orang-orang yang masih baru seolah-olah mereka orang yang tidak mengenal hadits atau tidak dapat menguasai dengan bagus haditshadits itu. Lalu ia berkata : “Hadits nabi itu seperti matahari, jika tertahan di timur selama lima hari, maka perjalanan akan sulit diketahui (karena gelap), dan hadits ini membutuhkan penjagaan kalian selamanya”.
G. Tulislah ilmu !

Ahmad bin Muhammad bin Sulaiman berkata :
Saya mendengar Abu Zur’ah berkata : “Janganlah menulis hadits dariku dengan mengingat, saya khawatir kalian salah, inilah contohnya Ibnu al-Mubarak tidak suka hadits riwayatnya ditulis dengan mengingat, dan Ibrahim bin Musa berkata padaku : janganlah kalian menulis hadits riwayatku dengan ingatan.”

H. Akhir ucapannya adalah “laa ilaaha illallah”
Ibnu Warah berkata :
Saya dan Abu Hatim hadir saat Abu Zur’ah dalam keadaan sakratul maut. Lalu kami berkata : “Bagaimana engkau membimbing orang untuk mengucapkan la ilaha illallah saat akan meninggal dunia kepada orang semisal Abu Zur’ah?”(mereka segan karena sosok Abu Zur’ah ahli hadits yang heba,t, pent). lalu aku membacakan sanad hadits : Telah bercerita kepada kami Abu Ashim, telah bercerita kepada kami Abdul Hamid bin Ja’far. Dan Abu Hatim berkata : Telah bercerita kepada kami Bundar, telah bercerita kepada kami Abu Ashim, telah menceritakan kepada kami Abdul Humaid.

Tiba-tiba Abu Zur’ah membuka kedua matanya dan berkata : Telah bercerita kepada kami Bundar, telah bercerita kepada kami Abu Ashim, telah mengabarkan kepada kami Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Shalih bin Abi Arib dari Katsir bin Murrah, dari Muadz, ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
مَنْ أَخِرُ كَلاَمِهِ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

“Barangsiapa akhir ucapannya laa ilaaha illallah “
Bersamaan akhir ucapan itu ia meninggal dunia.

Abu Ja’far Muhammad bin Ali, juru tulis Abu Zur”ah menceritakan :
Ketika kami hadir saat Abu Zur’ah dalam keadaan sakratul maut, di sisinya ada Abu Hatim, Ibnu Waroh, al-Mundzir bin Syadzan dan lainnya. Lalu mereka yang hadir itu menyebutkan hadits talqin : “Bimbinglah orang yang hendak meninggal dunia dengan ucapan la ilaha illallah”. Namun mereka malu dari Abu Zur’ah untuk mentalqinnya. Kemudian mereka berkata : “Kemarilah mari kita sebutkan haditsnya saja”. Lalu Ibnu Waroh memulai menyebutkan sanad periwayat hadits : “Telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, telah bercerita kepada kami Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih, lalu ia menyebut periwayat hadits : Ibnu Abi namun tidak dapat melanjutkan. Setelah itu ganti Abu Hatim mulai menyebutkan sanadnya : Telah menceritakan kepada kami Bandar, telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, dari Abdul Hamid bin Ja’far (dari Shalih), namun ia tidak dapat melanjutkannya, sedangkan hadirin lainnya hanya diam seribu bahasa.

Tiba-tiba Abu Zur’ah berkata di saat ia dalam keadaan sakratul maut : “Telah menceritakan kepada kami Bandar, telah bercerita kepada kami Abu Ashim, telah bercerita kepada kami Abdul Hamid, dari Shalih bin Abi Arib, dari Katsir bin Murrah, dari Muad bin Jabal ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

مَنْ أَخِرُ كَلاَمِهِ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
“Barangsiapa akhir ucapannya La ilahaillallah pasti masuk surga”.
Setelah mengucapkan kalimat itu Abu Zur’ah meninggal dunia.
Semoga rahmat Allah terlimpahkan kepada Abu Zur’ah ar-Razi …

Ya Allah….. jadikanlah akhir ucapan kami, laa ilaaha illallah.
عَلَيْكَ بِأَصْحَابِ الْحَدِيْثِ فَإِنَّهُمْ

خِيَارُ عِبَادِ اللهِ فِي كُلِّ مَحْفِل

وَلاَ تَعْدُوَن عَيْنَاكَ عَنْهُمْ فَإِنَّهُمْ

نُجُوْمُ الْهُدَى فِي أَعْيُنِ الْمُتَأَمِّل

جَهَابَذَة شَمِّ سُرَاة فَمَنْ أَتَى

إِلَى حَيِّهِمْ يَوْمًا فَبِالنُّوْرِ يَمْتَلِي

لَقَدْ شَرَقَتْ شَمْسُ الْهُدَى فِي وُجُوْهِهِمْ

وَقَدْرُهُمْ فِي النَّاسِ لاَ زَالَ يَعْتَلِي

فَلِلَّهِ مَحْيَاهُمْ مَعًا وَمَمَاتُهُمْ

لَقَدْ ظَفَرُوْا إِدْرَاكَ مَجْدِ مُؤَثَّل

وَقَالَ اْلإِمَامُ الشَّافِعِيُّ مَقَالَةً

غَدَتْ مِنْهُمْ فَخْرًا لِكُلِّ محصل

أَرَى الْمَرْءَ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيْثِ كَأَنَّهُ

رَأَى الْمَرْءَ مِنْ صَحْبِ النَّبِيِّ الفَضْل

عَلَيْهِ صَلاَةُ اللهِ مَا ذَرَّ شَارِق

وَآلِ لَهُ وَالصَّحْبِ أََهْْلِ التَّفَضّل
Hendaknya engkau mengikuti petunjuk ahli hadits

Karena mereka adalah hamba Allah pilihan
Janganlah engkau palingkan kedua matamu dari mereka

Karena mereka laksana bintang-bintang yang memberi petunjuk pada setiap orang yang memperhatikan
Mereka adalah para ahli peneliti

Barangsiapa suatu hari dapat berjumpa dengan mereka, maka ia akan diterangi dengan cahaya
Matahari petunjuk telah menyinari wajah-wajah mereka

Sedangkan kedudukan mereka senantiasa mulia di tengah-tengah masyarakat
Kehidupan dan kematian mereka untuk Allah

Dan mereka telah sukses memperoleh kemuliaan yang sebenarnya
Al-Imam Syafii mengatakan dalam suatu ucapan

Yang menjadi kebanggaan bagi orang yang mencapainya
Jika aku melihat ahli hadits seolah-olah

Melihat sahabat Nabi yang mulia
Shalawat Allah untuk Nabi, keluarga dan sahabat beliau yang mulia

Selama matahari terbit
[1] Disusun oleh Abu Hasan Arif dari kitab Siyar alamun Nubala karya al-Imam adz-Dzahabi hal hal 65-85 jilid 13 cet. kedua Muassasah ar-Risalah Beirut – Lebanon, th1418 H, 1997 M , Tarikh Islam karya al-Imam adz-Dzahabi cet pertama Darul kitab al-Arabi Hal 125 (261-270) th 1414 H/1994 M, Albidayah wan Nihayah karya al-Imam Ibnu Katsir, cet ketiga th 1418 H/1998 M, Daarul Ma’rifah Beirut –Lebanon, hal 44 jilid 11.