بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Abu Thalib bin Abdul Muththalib adalah paman Nabi Muhammad. Nama aslinya adalah Abdul Manaf  tetapi ia lebih dikenal dengan kunyahnya  Abu Thalib, yang artinya bapaknya Thalib.  Setelah meninggalnya Abdul Muththalib, Abu Thalib [ beserta istrinya Fatimah binti Asad ] lah yang memelihara Muhammad SAW, mendidik dan mencintainya layaknya anak anaknya sendiri.

Abu Thalib usianya sudah uzur dan meskipun ia pemimpin Bani Hasyim, ia tidaklah kaya.  Ketika Mekah dilanda kekeringan dan krisis ekonomi, Abu Thalib jatuh miskin, ia  faqir.  Hal ini seakan akan   memberi kesempatan bagi Nabi SAW bersama istri beliau Khadijah untuk mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat. Hal sekaligus untuk membalas jasa kepada Abu Thalib yang telah mengasuh Nabi sejak beliau kecil hingga dewasa, sehingga sedari kecil Ali sudah bersama dengan Muhammad.

Nabi juga menyarankan kepada kedua pamannya: Hamzah dan Abbas untuk turut membantu meringankan beban saudara mereka, Abu Thalib, dengan menanggung biaya hidup anaknya.

Maka keduanya pun memenuhi permintaan tersebut. Mengetahui hal itu, Abu Thalib berkata kepada kedua saudaranya tersebut :  ‘Ambillah siapa yang kalian ingini, namun tinggalkanlah Uqail, untuk tetap aku didik.’

Uqail adalah anak bungsu yang  disayangi oleh Abu Thalib. Maka Abbas mengambil Thalib, Hamzah mengambil Ja’far dan Rasulullah saw mengambil Ali.

 


Nasabnya  Abu Thalib

Abu Thalib adalah anak ke dua dari Abdul Muththalib. Anak pertama adalah Harist. Namun, Abu Thalib-lah yang dipilih Abdul Muththalib sebagai pemimpin bani Hasyim.

Ibunya adalah Fathimah binti Amr.

Nama lengkap Abu Thalib adalah Abdul Manaf bin Syaibah bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan bin Udad bin al-Muqawwam bin Nahur bin Tayrah bin Ya’rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim bin Tarih (Azar) bin Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin Falikh bin Aybir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lamikh bin Mutusyalikh bin Akhnukh bin Yarda bin Mahlil bin Qinan bin Yanish bin Syits bin Adam

Sebagai pemimpin Bani Hasyim setelah kematian ayahnya, Abdul-Muththalib, ia menjadi pengasuh Nabi Muhammad dan kemudian pendukung utama dalam berdakwah. Ia adalah anak dari Abdul Muthalib dan Fatimah bin Amr dan memiliki sembilan saudara yang salah satunya adalah Abdullah bin Abdul Muthalib yang merupakan ayah dari Nabi Muhammad

Ia menikah dengan Fatimah binti Asad

.


Tahun Kelahiran Abdul Manaf atau Abu Thalib

?

.


Tahun Wafatnya Abdul Manaf atau Abu Thalib

Ia meninggal pada tahun yang sama dengan meninggalnya Khadijah binti Khuwailid, yaitu pada tahun 618/619 M dalam usia 80 tahun. Saat itu Muhammad berusia 50 tahun artinya sudah 10 tahun menjadi Rasul. Dan selama 10 tahun itu pula Abu Thalib telah melindungi sekuat tenaga keponakan yang dikasihinya. Sebagai pemimpin Bani Hasyim, Abu Thalib menunjukkan dukungan tegasnya terhadap Muhammad. Meskipun hingga akhir, Abu Thalib tetap tidak mengakui keimanan Muhammad.

Sepeninggal Abu Thalib, maka istri beliau yakni Fathimah binti Asad berperan penting menjadi pengganti orangtua bagi Rasulullah.

.


Anak anak Abu Thalib

  1. Thalib bin Abu Thalib
  2. Ja’far bin Abu Thalib
  3. Ali bin Abu Thalib
  4. Aqil bin Abu Thalib
  5. Fakhtihah binti Abu Thalib [ Ummu Hani ]
  6. Jumanah binti Abu Thalib

.


Saudara saudara Abu Thalib bin Abdul Muththalib

Riwayat Keluarga Abdul Muththalib

Abdul Muththalib memiliki beberapa istri.  Dari istri yang bernama Fathimah binti Amr, Abdul Muththalib memiliki 10 anak lelaki, yakni :

  1. Harist, anak anaknya nya yakni
    1. Nawfal bin Harits,
    2. Rabiah bin Harits
    3. Thufail bin Harits, menikah dengan Zainab binti Khuzaimah kemudian diceraikannya.
    4. Ubaidillah bin Harits, Zainab setelah dicerai Thufail, lalu dinikahi Ubaidillah untuk memuliakan Zainab. Namun Ubaidillah mati syahid dalam perang Badar. Akhirnya Zainab dipinang Rasulullah.
    5. Abdullah bin Harits, semua menerima Islam sedang
    6. Abu Sufyan bin Harits, si penyair Quraishy ini adalah musuh Islam yang cukup kejam terhadap sepupunya sendiri, yakni Muhammad SAW.
  2. Abu Thalib [ Abdu Manaf ], anak anak Abu Thalib
    1. Thalib bin Abu Thalib
    2. Ja’far bin Abu Thalib, menikah dengan Asma binti Harits [ saudaranya Ummu Fadhil, istrinya Abbas ]
    3. Ali bin Abu Thalib
    4. Aqil bin Abu Thalib
    5. Fakhtihah binti Abu Thalib
    6. Jumanah binti Abu Thalib (Ummu Hani)
  3. Abu Lahab [ Abdul Uzza ], istrinya Ummu Jamil, anak :
    1. Utbah menikah dengan  Ruqayyah
    2. Utaibah menikahi dengan Ummu Kultsum yang kemudian diceraikannya.
  4. Zubair,
  5. Jahl [ Mughirah ],
  6. Abdul Kabah,
  7. Qutsam,
  8. Dhirar, Ghaidaq [ merupakan gelar ] sedangkan namanya adalah Mush’ab dan ada juga yang mengatakan Nofel,
  9. Abbas menikah dengan Ummu Fadhil, nama aslinya adalah Lubabah binti al Harits bin Hazn. Anak anak mereka adalah :
    1. Fadhl, dikuburkan di Baqi.
    2. Abdullah
    3. Qutsam bin Abbas
    4. Ma’bad bin Abbas
    5. Abdullah [ ? ]
    6. Ummu Habibah
    7. Ubaidillah bin Abbas
  10. Abdullah. anak :
    1. Muhammad SAW. salah satu istri Muhammad adalah Maimunah binti Harits [ saudaranya Ummu Fadhl, istrinya Abbas ]

Ada sebagian orang yang mengatakan  bahwa Abdul Ka’bah dan Muqawim itu orangnya sama, dan Jahl serta Ghaidaq itu juga sama.

Dan 4 Anak perempuan Abdul Muthalib :

  1. Arwa anak :
    1.  Thulayb, putranya yang ikut hijrah ke Habasyah
  2. Atikah (tentang keislaman keduanya ini ada perselisihan); anaknya
    1. Abdullah bin  Abu Umayyah bin’l-Mughira, jelas memusuhi Rasulullah.
  3. Ummu Hakim
  4. Barrah , dua putra Barrah ikut hijrah ke Habasyah, yakni
    1. Abu Salamah dan
    2. Abu Sabrah
  5. Aminah
  6. Umaimah  menikah dengan Jahsyi bin Ri`ab.  Anak anak :
    1.  Zainab binti Jahsy yang menjadi istri ke tujuh Rasulullah setelah sebelumnya menikah dengan Zaid bin Haritsah kemudian dicerai.
    2. Kemudian Abd Allah
    3. dan Ubaydillah ibn Jahsy  yang menikah dengan Ummu Habibah [ anak Abu Sufyan bin Harb ] namun kemudian  Ummu Habibah minta cerai karena Ubaydillah di negri Habsyah murtad dari Islam dan masuk Kristen dan kemudian mati di sana. Setelah didengar khabar itu oleh Rasulullah, maka Rasulullah meminang Ummu Habibah.

Abdul Muththalib juga menikah dengan Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah yang dinikahinya bersamaan dengan menikahnya anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab.

Dari pernikahannya dengan Haulah,  lahirlah

  1. Hamzah menikah dengan iparnya yakni Salma binti Harits, saudaranya Ummu Fadhil, istri Abbas bin Abdul Muththalib.
  2. Shafiyyah Suami pertamanya adalah Al Harits bin Harb bin Umayyah. Setelah suaminya meninggal, ia menikah dengan Al Awwam bin Khuwalid bin Asad. Anak anak mereka adalah :
    1. Zubair bin Awwam [ Shafiyyah dan zubair menyatakan Islamannya dengan terang terangan ]
    2. As-Saaib bin Awwam
    3. dan Abdul Ka’bah bin Awwam

 


Kisah Abu Thalib bin Abdul Muttalib*
Oleh A. Fatih Syuhud

Tidak ada sosok yang memiliki jasa paling besar dalam masa-masa awal kehidupan Nabi selain Abu Thalib bin Abdul Muttalib, paman Nabi. Nama asalnya adalah Abdu Manaf, sedangkan Abu Thalib adalah nama kinayah atau nama julukan berdasarkan nama anak pertama yang bernama Thalib.

Kiprah Abu Thalib dimulai sejak Nabi berusia 8 tahun saat kakek Nabi dan ayah Abu Thalib yang bernama Abdul Muttalib meninggal dunia pada tahun 578 masehi atau tahun 45 sebelum hijriah. Sebenarnya Abu Thalib adalah putra kedua dari Abdul Muttalib. Putra pertama Abdul Muttalib bernama Al Harits, namun entah mengapa Abu Thalib-lah yang mendapat amanah meneruskan tugas ayahnya dalam mengasuh Muhammad kecil yang saat itu sudah yatim piatu. Bagi Abu Thalib, Muhammad bukan hanya keponakan. Ia sudah dianggap layaknya sebagai putra sendiri walaupun Abu Thalib sudah memiliki enam putra kandung yang bernama Thalib, Uqail, Ja’far, Ali, Fakhitah, dan Jamanah.

Walaupun bukan termasuk orang kaya dibanding paman-paman Nabi yang lain, namun Abu Talib dikenal sebagai sosok yang dermawan dan baik hati. Mungkin itulah sebabnya mengapa kepengasuhan Muhammad jatuh ke tangan Abu Thalib. Dalam kitab Tarikh Thabari dikisahkan suatu hari Abu Thalib hendak pergi dalam rangka perjalanan bisnis ke Syam (sekarang Suriah). Waktu itu usia Muhammad masih 12 tahun. Tidak ada niat Abu Thalib untuk mengajak Muhammad yang masih terlalu kecil untuk perjalanan yang begitu berat. Namun Muhammad menangis dan tidak mau berpisah dengan pamannya yang begitu disayanginya yang sudah dianggap ayah sendiri. Abu Thalib begitu tersentuh hatinya dan mengatakan, “Demi Tuhan aku akan membawanya ikut serta denganku, dan kita tidak akan pernah berpisah selamanya.”

Kebersamaan ayah-anak itu terjalin harmonis dan abadi. Dari usia Muhammad 8 tahun sampai Abu Thalib wafat pada 618 masehi dalam usia 80 tahun. Saat itu Nabi Muhammadi berusia 50 tahun dan sudah 10 tahun berstatus sebagai Nabi dan Rasul. Dengan demikian, selama 42 tahun Nabi telah melewatkan hidupnya bersama Abu Thalib. Begitu banyak suka dan duka yang mereka lalui bersama. Itulah sebabnya, bagi Nabi, Abu Thalib bukan hanya menjadi sosok ayah, tapi juga figur sahabat, guru dan pelindung baik sebelum maupun sesudah kenabiannya. Abu Thalib tetap dalam keadaan kafir sampai akhir hayatnya walaupun ia menjadi pembela dakwah Islam dan pelindung Nabi yang paling gigih selama 10 tahun akhir hidupnya di saat mayoritas kaum Quraish memushinya.

Di satu sisi adalah ironis bahwa sosok yang menjadi pembela Islam wafat dalam keadaan kafir. Tapi di sisi lain, ada hikmah yang besar dalam perspektif syariah terkait hubungan sosial antara muslim dan non-muslim.

Pertama, bahwa hubungan kekerabatan tidak harus putus karena perbedaan agama. Hubungan ayah dengan anak, anak dengan paman, atau antar kerabat dekat lain tidak harus terhenti karena perbedaan agama. Hubungan silaturrahim tetap bisa berlanjut dan sebaiknya berlanjut. Termasuk hubungan dengan tetangga atau kolega bisnis yang berbeda agama. Dengan syarat, asalkan orang kafir tersebut tidak mengganggu kita. Dalam QS Al-Mumtahanah 60:8 Allah berfirman: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (non-muslim) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Kedua, Rasulullah juga membina hubungan sosial yang baik dengan non-muslim Madinah. Baik Nasrani, Yahudi maupun kafir pagan. Isi perjanjian yang terdapat dalam Piagam Madinah berisi antara lain komitmen antarsuku dan antaragama yang berbeda untuk saling menghormati dan melindungi dari serangan luar.

Ketiga, dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim dikisahkan bahwa Rasulullah masih punya hutang pada orang Yahudi Madinah saat wafatnya. Ini menunjukkan adanya hubungan baik antara Nabi dengan Yahudi tersebut secara khusus dan non-muslim Madinah secara umum. Dari hadits ini ulama fikih mengambil kesimpulan hukum (istinbat) atas bolehnya melakukan hubungan bisnis dengan non-muslim asal dengan cara yang dibolehkan baik dalam bentuk jual beli, sewa menyewa, gadai, dan lain-lain tanpa harus mempertimbangkan tidak absahnya transaksi yang dilakukan di antara mereka. Juga bolehnya melakukan hubungan bisnis dengan orang yang mayoritas hartanya berasal dari harta haram asalkan muamalah yang dilakukan dengan mereka dilakukan dengan cara yang sesuai syariah.

Keempat, apabil seorang wanita non-muslim Ahli Kitab yang hendak menikah dengan pria muslim, maka yang menjadi wali nikah tetap ayah kandung yang sama-sama non-muslim. Ini berbeda kasusnya dengan wanita muslimah yang ayahnya non-muslim, maka wali nikahnya harus memakai wali hakim.

Intinya, seorang muslim tidak dilarang melakukan hubungan bisnis dan sosial dengan non-muslim selagi saling menghormati dan tidak berpotensi mengganggu keimanan.

.


Abu Thalib Mati Kafir*

[ * Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com ]

 

Pembahasan tentang status islam dan tidaknya Abu Thalib, bukan dalam rangka main vonis takfir atau kapling-kapling neraka untuk orang lain. Apalagi jika dianggap membenci ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jelas ini tuduhan yang sangat jauh.

Kita beriman bahwa Abu Lahab mati kafir, karena Allah mencela habis di surat al-Lahab, meskipun Abu Lahab adalah paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan jelas kita tidak boleh mengatakan, mengkafirkan Abu Lahab berarti membenci ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita membahas status kekafiran Abu Thalib, dalam rangka meluruskan pemahaman, agar sesuai dengan dalil hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan mengikuti klaim kelompok tertentu yang tidak bertanggung jawab.

Terkait status Abu Thalib, terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa dia mati kafir.

.

Pertama, peristiwa kematian Abu Thalib,

Dari Musayib bin Hazn, beliau menceritakan,

أَنَّهُ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ المُغِيرَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَالِبٍ: ” يَا عَمِّ، قُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ ” فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ؟ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ المَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ» فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ: {مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ} [التوبة: 113] الآيَةَ

Ketika Abu Thalib hendak meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Di dekat Abu Thalib, beliau melihat ada Abu Jahal bin Hisyam, dan Abdullah bin Abi Umayah bin Mughirah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada pamannya, ”Wahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallah, kalimat yang aku jadikan saksi utk membela paman di hadapan Allah.” Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah menimpali, ’Hai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengajak pamannya untuk mengucapkan kalimat tauhid, namun dua orang itu selalu mengulang-ulang ucapannya. Hingga Abu Thalib memilih ucapan terakhir, dia mengikuti agama Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad, ”Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang.”

Lalu Allah menurunkan firman-Nya di surat at-Taubah: 113. dan al-Qashsas: 56. (HR. Bukhari 1360 dan Muslim 24)

Firman Allah di surat at-Taubah:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

Firman Allah di surat al-Qashsas:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashsas: 56)

.

Kedua, kesedihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kematian Abu Thalib yang tidak masuk islam.

Terkait sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap kematian Abu Thalib, turun dua ayat di atas.

  1. Firman Allah di surat at-Taubah:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

  1. Firman Allah di surat al-Qashas:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashsas: 56)

Ibnu Katsir mengutip keterangan beberapa ulama tafsir sahabat dan Tabiin,

قال ابن عباس، وابن عمر، ومجاهد، والشعبي، وقتادة: إنها نزلت في أبي طالب حين عَرَضَ عليه رسولُ الله صلى الله عليه وسلم أن يقول: “لا إله إلا الله” فأبى عليه ذلك. وكان آخر ما قال: هو على ملة عبد المطلب.

Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Mujahid, as-Sya’bi, dan Qatadah mengatakan, ayat ini turun berkaitan dengan Abu Thalib, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak dia untuk mengucapkan laa ilaaha illallah, namun dia enggan untuk mengucapkannya. Dan terakhir yang dia ucapkan, bahwa dia mengikuti agama Abdul Muthalib. (Tafsir Ibn Katsir, 6/247).

Adanya dua ayat di atas, merupakan bukti sangat nyata bahwa Abu Thalib mati dalam kondisi tidak islam.

.

Ketiga, beberapa hadis yang menegaskan Abu Thalib mati kafir

  1. Hadis dari Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟

“Apakah anda tidak bisa menolong paman anda?, karena dia selalu melindungi anda dan marah karena anda.”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

”Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka.” (HR. Ahmad 1774 dan Bukhari 3883).

  1. Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذُكِرَ عِنْدَهُ عَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ، فَقَالَ: «لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ، يَغْلِي مِنْهُ أُمُّ دِمَاغِهِ»

Suatu ketika ada orang yang menyebut tentang paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abu Thalib di samping beliau. Lalu beliau bersabda,

“Semoga dia mendapat syafaatku pada hari kiamat, sehingga beliau diletakkan di permukaan neraka yang membakar mata kakinya, namun otaknya mendidih.” (HR. Bukhari 6564, Muslim 210, dan yang lainnya).

  1. Hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَبِي طَالِبٍ هَلْ تَنْفَعُهُ نُبُوَّتُكَ؟

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang Abu Thalib, apakah status kenabian anda bisa bermanfaat baginya?

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَعَمْ، أَخْرَجْتُهُ مِنْ غَمْرَةِ جَهَنَّمَ إِلَى ضَحْضَاحٍ مِنْهَا

”Bisa bermanfaat, aku keluarkan dia dari kerak jahanam ke permukaan neraka” (HR. Abu Ya’la al-Mushili dalam Musnadnya no. 2047).

  1. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ، وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

”Penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib. Dia diberi dua sandal yang menyebabkan otaknya mendidih.” (HR. Ahmad 2636, Muslim 212, dan yang lainnya).

.

Mengapa Abu Thalib malah disiksa?

Jika Abu Thalib mati muslim, berhasil mengucapkan laa ilaaha illallah, maka status Abu Thalib adalah sahabat yang husnul khotimah. Namun Mengapa Abu Thalib malah disiksa?

Jika dia muslim, tentu beliau tidak akan mendapatkan hukuman dengan kondisi mengerikan seperti itu. Karena ketika orang masuk islam, semua dosa kekufuran di masa silam akan menjadi diampuni Allah. Sehingga jawabannya, dia disiksa karena dia meninggal dalam kondisi kafir.

.

Dia Penolong Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kita sepakat hal ini. Abu Thalib memiliki jasa besar, membantu dan melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama dakwah di Mekah. Inipun diakui para sahabat. Dan karena jasa besar Abu Thalib, para sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah beliau bisa menyelamatkan Abu Thalib?.

Ini menunjukkan bahwa para sahabat telah memahami bahwa Abu Thalib mati kafir. Karena jika Abu Thalib mati muslim, tentu para sahabat tidak akan menanyakan hal itu. Kita tidak jumpai, sahabat bertanya, apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi syafaat kepada Khadijah, Hamzah, Ruqayah atau Ummu Kultsum?, para keluarga beliau yang meninggal mendahului beliau.

Karena mereka semua mati muslim. Berbeda dengan Abu Thalib, para sahabat mempertanyakan apakah posisi beliau bisa memberikan pertolongan kepada Abu Thalib yang membantu sewaktu dakwah di Mekah.

.

Kesaksian Abbas?

Anda bisa perhatikan hadis dari Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟

“Apakah anda tidak bisa menolong paman anda?, karena dia selalu melindungi anda dan marah karena anda.”

Kita bisa memahami, Abbas bertanya demikian, karena Abbas juga meyakini bahwa Abu Thalib mati kafir.

Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

”Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka.” (HR. Ahmad 1774 dan Bukhari 3883).

Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad, Bukhari, dan yang lainnya. Inilah keterangan yang lebih meyakinkan tentang sikap Abbas terhadap kematian Abu Thalib. Lalu dimana riwayat yang menyebutkan keterangan Abbas bahwa Abu Thalib telah mengucapkan laa ilaaha illallaahdi detik kematiannya?

Tidak lain, keterangan ini adalah kedustaan Syiah, untuk menguatkan klaim mereka tentang keislaman Abu Thalib.

.

Keempat, tentang kitab Nahjul Balaghah

Penulis kitab ini Muhamad bin Husain as-Syarif ar-Ridha, tokoh syiah abad 5 H. Kitab ini berisi khutbah, nasehat, dan pesan-pesan sahabat Ali bin Abi Thalib. Namun uniknya, semuanya disampaikan tanpa sanad. Bahkan banyak ulama yang menegaskan bahwa isi buku Nahjul Balaghah adalah kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Berikut beberapa keterangan mereka,

  1. Keterangan Imam ad-Dzahabi dalam al-Mizan,

ومن طالع كتابه ” نهج البلاغة ” ؛ جزم بأنه مكذوب على أمير المؤمنين علي (ع)، ففيه السب الصراح والحطُّ على أبي بكر وعمر، وفيه من التناقض والأشياء الركيكة والعبارات التي من له معرفة بنفس القرشيين الصحابة، وبنفس غيرهم ممن بعدهم من المتأخرىن، جزم بأن الكتاب أكثره باطل

Orang yang membaca kitab ‘Nahjul Balaghah’ dia bisa memastikan bahwa itu kedustaan atas nama Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dalam kitab ini terdapat celaan dan penghinaan terang-terangan kepada Abu Bakr dan Umar. Kemudian terdapat pertentangan dan berbagai macam pendapat sangat lemah, serta ungkapan yang jika dinilai oleh orang yang memahami karakter sahabat Quraisy, karakter ulama lainnya setelah mereka, maka dia bisa menyimpulkan bahwa kitab ini umumnya adalah kebatilan. (Mizan al-I’tidal, 3/124).

  1. Keterangan Syaikhul Islam,

فأكثر الخطب التي ينقلها صاحب “نهج البلاغة “كذب على علي، الإمام علي (ع) أجلُّ وأعلى قدرا من أن يتكلم بذلك الكلام، ولكن هؤلاء وضعوا أكاذيب وظنوا أنها مدح، فلا هي صدق ولا هي مدح

Umumnya khutbah yang disebutkan penulis ‘Nahjul Balaghah’ adalah kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib. Imam Ali terlalu mulia untuk menyampaikan khutbah demikian. Namun mereka (syiah) membuat kedustaan dan mereka yakini sebagai bentuk pujian. Khutbah ini tidak jujur dan bukan pujian. (Minhajus Sunah, 8/28).

  1. Keterangan dalam kitab Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna Asyarah,

ومن مكائدهم – أي الرافضة – أنهم ينسبون إلى الأمير من الروايات ما هو بريء منه ويحرفون عنه، فمن ذلك “نهج البلاغة” الذي ألفه الرضي وقيل أخوه المرتضى، فقد وقع فيه تحريف كثير وأسقط كثيرا من العبارات حتى لا يكون به مستمسك لأهل السنة

Termasuk penipuan mereka – orang syiah –, mereka mengklaim berbagai riwayat atas nama Amirul Mukminin Ali, yang beliau sendiri berlepas diri darinya, sementara mereka menyimpangkannya. Diantaranya kitab ‘Nahjul Balaghah’ yang ditulis oleh ar-Ridha, ada yang mengatakan saudaranya, yaitu al-Murtadha. Dalam buku ini terdapat banyak penyimpangan riwayat dan banyak ungkapan yang tidak layak, sehingga kitab ini tidak dijadikan rujukan dalam ahlus sunah. (Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna Asyarah, hlm 36).

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
. .

.