بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Abu Sufyan bin Haris adalah sepupu Rasulullah. Ia kaya dan terkemuka, ia juga salah satu penyair Quraisy yang cukup disegani serta penunggang kuda yang hebat. Semula Abu Sufyan bin Haris membenci Islam, bersama Abu Lahab, sang paman, ia menjadi penentang Muhammad yang keras, namun saat Fathu Makkah, Abu Sufyan masuk Islam.

Disamping itu, Abu Sufyan bin Haris juga saudara sesusuan Rasululah. Keduanya disusui oleh Halimah binti Abi Dua’ib as  Sa’diyah secara bersama-sama. Setelah itu keduanya menjadi kawan bermain yang saling mengasihi dan sahabat terdekat bagi Rasulullah sebelum kenabian dan sesudah fathu Makkah.

Secara perawakan, Abu Sufyan termasuk 5 orang keturunan Bani Hasyim yang mirip dengan Rasulullah.  Selain Ja’far bin Abu Thalib, Hasan bin Ali, Qusm bin Abbas.  Satu orang lagi tidak diketahui siapa.

Dan ini adalah Abu Sufyan bin Haris, bukan Abu Sufyan bin Harb, kepala suku Quraisy yang kuat yang istrinya Hindun telah menyuruh budaknya untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muththalib.

 


Ada Dua Abu Sufyan di Mekah Saat Itu

 

Orang sering tidak menyadari bahwa ada dua orang di Mekah yang bernama Abu Sufyan. Yang satu adalah Abu Sufyan bin Harb yang salah seorang tokoh pembesar Mekah.  Tidak ada hubungan darah dengan Muhammad. Kecuali salah satu putri Abu Sufyan bin Harb yakni Ummu Habibah atau  Ramlah binti Abu Sufyan bin Harb menjadi salah satu istri Rasulullah. Abu Sufyan bin Harb pula yang anaknya Muawiyah menjadi pendiri dinasti Umayah.

Sedang yang satu lagi adalah Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muththalib. Ini adalah sepupu Rasulullah, bahkan juga saudara sesusuan karena sama sama disusui oleh Halimah. Abu Sufyan bin Harits adalah salah satu dari tiga penyair kawakan Quraisy. Ia lah yang bertugas menangkal semua seruan Muhammad. Abu Sufyan pula yang bertugas untuk selalu menyebarkan khabar pembangkit semangat bagi kaum Quraisy agar selalu waspada akan bahaya ‘agama baru’ itu.

Dan baik Abu Sufyan bin Harb maupun Abu Sufyan bin Harits, dua duanya amat membenci Rasulullah dan selalu ikut dalam setiap peperangan melawan umat Islam yang semuanya telah hijrah ke Madinah.

 


Nasab Abu Sufyan bin Harits

Ayah Abu Sufyan adalah Haris bin Abdul Muththalib.

Ibunya bernama Gaziyah binti Qais bin Tarif dari keturunan Fihr bin Malik.

Nama lengkapnya adalah Abu Sufyan bin Haris bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdul Manaf  al Qurasyi al Hasyimi.

Ada yang menyebut namanya Al Mugirah, tetapi ada pula yang menyebut Al Mugirah itu nama saudaranya. Nama aslinya memang tidak diketahui dengan pasti.

Tidak diketahui siapa nama istrinya dan siapa anak anaknya. Hanya satu anak Sufyan yang tercatat sejarah, yakni Ja’far bin Abu Sufyan bin Haris, yang ikut menemaninya ketika perintiwa fathu makkah.

 


Tahun Kelahiran Abu Sufyan

Diperkirakan sama dengan Rasulullah, yakni Tahun 570 M atau dikenal dengan Tahun Gajah.

 


Tahun Wafatnya Abu Sufyan bin Harits

Pada zaman pemerintahan Umar al Faruq [ Umar bin Khattab ]  , Abu Sufyan merasa ajalnya sudah dekat. Lalu, digalinya kuburan untuk dirinya sendiri. Tidak lebih tiga hari setelah itu, maut datang menjemputnya, seakan sudah berjanji sebelumnya.  Abu Sufyan wafat sekitar tahun 20 H di Madinah.

Dia berpesan kepada istri dan anak-anaknya, “Kalian sekali-kali jangan menangisiku. Demi Allah! Aku tidak berdosa sedikit pun sejak aku masuk Islam.” Lalu, ruhnya yang suci pergi ke hadirat Allah.

Khalifah Umar bin Khattab turut menyalatkan jenazahnya. Beliau menangis kehilangan Abu Sufyan bin Harits, sahabat yang mulia.

 


Riwayat Keluarga Abdul Muththalib

Abdul Muththalib memiliki beberapa istri.  Dari istri yang bernama Fathimah binti Amr, Abdul Muththalib memiliki 10 anak lelaki, yakni :

  1. Harist, anak anaknya nya yakni
    1. Nawfal bin Harits,
    2. Rabiah bin Harits
    3. Thufail bin Harits, menikah dengan Zainab binti Khuzaimah kemudian diceraikannya.
    4. Ubaidillah bin Harits, Zainab setelah dicerai Thufail, lalu dinikahi Ubaidillah untuk memuliakan Zainab. Namun Ubaidillah mati syahid dalam perang Badar. Akhirnya Zainab dipinang Rasulullah.
    5. Abdullah bin Harits, semua menerima Islam sedang
    6. Abu Sufyan bin Harits, si penyair Quraishy ini adalah musuh Islam yang cukup kejam terhadap sepupunya sendiri, yakni Muhammad SAW.
  2. Abu Thalib [ Abdu Manaf ], anak anak Abu Thalib
    1. Thalib bin Abu Thalib
    2. Ja’far bin Abu Thalib, menikah dengan Asma binti Harits [ saudaranya Ummu Fadhil, istrinya Abbas ]
    3. Ali bin Abu Thalib
    4. Aqil bin Abu Thalib
    5. Fakhtihah binti Abu Thalib
    6. Jumanah binti Abu Thalib (Ummu Hani)
  3. Abu Lahab [ Abdul Uzza ], istrinya Ummu Jamil, anak :
    1. Jamil
    2. Uzza
    3. Durrah
    4. Utbah menikah dengan  Ruqayyah
    5. Utaibah menikahi dengan Ummu Kultsum yang kemudian diceraikannya.
  4. Zubair,
  5. Jahl [ Mughirah ],
  6. Abdul Kabah,
  7. Qutsam,
  8. Dhirar, Ghaidaq [ merupakan gelar ] sedangkan namanya adalah Mush’ab dan ada juga yang mengatakan Nofel,
  9. Abbas menikah dengan Ummu Fadhil, nama aslinya adalah Lubabah binti al Harits bin Hazn. Anak anak mereka adalah :
    1. Fadhl, dikuburkan di Baqi.
    2. Abdullah
    3. Qutsam bin Abbas
    4. Ma’bad bin Abbas
    5. Abdullah [ ? ]
    6. Ummu Habibah
    7. Ubaidillah bin Abbas
  10. Abdullah. anak :
    1. Muhammad SAW. salah satu istri Muhammad adalah Maimunah binti Harits [ saudaranya Ummu Fadhl, istrinya Abbas ]

Ada sebagian orang yang mengatakan  bahwa Abdul Ka’bah dan Muqawim itu orangnya sama, dan Jahl serta Ghaidaq itu juga sama.

Dan 4 Anak perempuan Abdul Muthalib :

  1. Arwa binti Abdul Muththalib anak :
    1.  Thulayb, putranya yang ikut hijrah ke Habasyah
  2. Atikah binti Abdul Muththalib (tentang keislaman keduanya ini ada perselisihan); anaknya
    1. Abdullah bin  Abu Umayyah bin’l-Mughira, jelas memusuhi Rasulullah.
  3. Ummu Hakim
  4. Barrah binti Abdul Muththalib , dua putra Barrah ikut hijrah ke Habasyah, yakni
    1. Abu Salamah dan
    2. Abu Sabrah
  5. Aminah binti Abdul Muththalib
  6. Umaimah binti Abdul Muththtalib menikah dengan Jahsyi bin Ri`ab.  Anak anak : menikah dengan Jahsyi bin Ri`ab.  Anak anak :
    1.  Zainab binti Jahsy yang menikah dengan Zaid bin Haritsah. Kemudian dicerai lalu zainab menikah dengan Rasulullah menjadi istri yang ke tujuh.
    2. Abd Allah ibn Jahsy
    3. Ubaydillah ibn Jahsy  yang menikah dengan Ummu Habibah [ anak Abu Sufyan bin Harb ] namun kemudian  Ummu Habibah minta cerai karena Ubaydillah di negri Habsyah murtad dari Islam dan masuk Kristen dan kemudian mati di sana. Setelah didengar khabar itu oleh Rasulullah, maka Rasulullah meminang Ummu Habibah.
    1.  Zainab binti Jahsy yang menjadi istri ke tujuh Rasulullah setelah sebelumnya menikah dengan Zaid bin Haritsah kemudian dicerai.
    2. Kemudian Abd Allah
    3. dan Ubaydillah

Abdul Muththalib juga menikah dengan Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah yang dinikahinya bersamaan dengan menikahnya anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab.

Dari pernikahannya dengan Haulah,  lahirlah

  1. Hamzah menikah dengan iparnya yakni Salma binti Harits, saudaranya Ummu Fadhil, istri Abbas bin Abdul Muththalib.
  2. Shafiyyah [ anaknya Zubair bin Awwam ]. Keislaman keduanya tidak diragukan karena mereka menyatakannya secara terang terangan.

 


Abu Sufyan bin Haris dan Islam

Semula Abu Sufyan amat dekat dengan Muhammad SAW. Namun ketika Nabi mulai menyebarkan Islam, Abu Sufyan tidak mempercayai bahkan memusuhinya.  Ia mengobarkan permusuhan terhadap Nabi dan pengikutnya, mulai awal kenabian tahun 610 M hingga saatnya ia mendapat hidayah Allah ketika Fathu Makkah tahun 630 M.  Jadi selama 20 tahun Abu Sufyan berada di posisi menentang, memusuhi hingga bernafsu untuk membunuh Rasulullah.

 


Kisah Abu Sufyan bin Harits

Jarang bisa menemukan satu ikatan yang lebih erat antara dua orang seperti ada antara Muhammad bin Abdullah dan Abu Sufyan bin al-Harits.
Abu Sufyan bin al-Harith dan Rasulullah  mereka mirip satu sama lain. Mereka tumbuh bersama dan untuk waktu yang lama tinggal di rumah yang sama. Yakni rumah kakek mereka, Abdul Muththalib. DI rumah inilah mereka sama sama disusui  oleh Halimah.

Karena kedekatan mereka, banyak yang menganggap Abu Sufyan akan serta merta menerima misi kenabian Rasulullah. Namun nyatanya tidak. Memang, hidayah adalah hak mutlah Allah. Dia akan memberikan pada siapapun yang Dia sukai.

Pada saat pertama Nabi  mengeluarkan peringatan kepada anggota klannya tentang bahaya bila terus dalam keadaan  ketidakpercayaan, ketidakadilan dan amoralitas, api kecemburuan dan kebencian meletus di dada Abu Sufyan .
Abu Sufyan saat ini terkenal sebagai salah satu pejuang terbaik dan penunggang kuda dari Quraisy  yang handal. Abu Sufyan bin Harits juga dikenal sebagai penyair yang mumpumi.  Bersama  Amr
bin Al Ash dan Abdullah bin Az Ziba’ra,  mereka bertiga terus menerus membuat syair perlawanan terhadap Muhammad dan ajarannya.

Ia dikenal sebagai penyair yang menggubah syair syair berisi caci maki terhadap Nabi dan agama Islam.  Karena itu penyair Islam Hasan bin Sabit ditugaskan nabi untuk menjawab syair itu dengan menggubah syair balasan untuk membela nabi dan mengutuk kaum musyrik.

Abu Sufyan rasanya menggunakan pedang dan lidah dalam pertempuran melawan Nabi.  Semua energinya dikerahkan untuk mencela Islam dan menganiaya umat Islam. Dalam pertempuran apa pun serta penyiksaan dan penganiayaan apa pun yang mereka dijatuhkan kepada Muslim, bisa dipastikan Abu Sufyan memiliki peran disana. mengambil bagian .

Dalam perang Badar Abu Sufyan ikut memerangi pasukan Islam. Dalam perang ini sang paman Abu Lahab tidak ikut serta  dan digantikan oleh seseorang yang bernama As bin Hisyam.  Sekembalinya dari peperangan, Abu Sufyan mendatangi pamannya itu dan bercerita soal jalannya peperangan , kekalahan kaum Quraisy serta betapa gagah beraninya pasukan Islam.  Abu sufyan juga mengakui bahwa dalam pertempuran itu ia melihat pasukan malaikat berpakaian putih putih ikut terjun ke tengah medan peperangan membantu Rasulullah.
Pada tahun 8 H, namun, tak lama sebelum pembebasan Islam Makkah, posisi Abu Sufyan mulai bergeser, saat ia menjelaskan: “Ketika gerakan Islam menjadi penyebaran kuat dan mapan dan berita dari muka Nabi untuk membebaskan Makkah, dunia menyerah pada saya. Aku merasa terjebak. “Di mana saya akan pergi? ‘ Aku bertanya pada diriku sendiri. “Dan dengan siapa?” Untuk istri dan anak-anak, saya mengatakan:
‘Dapatkan siap untuk meninggalkan Makkah. Muka Muhammad sudah dekat. Aku akan pasti akan dibunuh. Aku akan diberi kuartal harus Muslim mengenali saya. ”
“Sekarang,” jawab keluarga saya, ‘Anda harus menyadari bahwa orang-orang Arab dan non-Arab telah berjanji ketaatan mereka kepada Muhammad dan diterima agamanya. Anda masih bertekad menentang dia sedangkan Anda mungkin telah pertama untuk mendukung dan membantunya. ”
Mereka terus mencoba untuk mempengaruhi saya untuk kembali mempertimbangkan sikap saya ke agama Muhammad dan kembali terbangun di saya sayang terhadap dirinya. Akhirnya Tuhan membuka hati saya untuk Islam. Aku bangkit dan berkata kepada hamba-Ku, Madhkur: ‘. Bersiaplah unta dan kuda untuk kita’ Aku mengambil anak saya Jafar dengan saya dan kami berlari dengan kecepatan tinggi ke arah al-Abwa antara Makkah dan Madinah. Saya telah belajar bahwa Muhammad telah berkemah di sana. Saat aku mendekati tempat, saya menutupi wajah saya sehingga tidak ada yang bisa mengenali dan membunuh saya sebelum saya bisa mencapai Nabi dan mengumumkan penerimaan saya Islam langsung kepadanya.
Perlahan-lahan, saya melanjutkan dengan berjalan kaki, sementara kelompok muka Muslim menuju Makkah. Aku menghindari jalan mereka takut bahwa salah satu sahabat Nabi akan mengenali saya. Aku terus dalam mode ini sampai Nabi di gunung-Nya ke pandangan saya. Keluar ke tempat terbuka, aku langsung menghampirinya dan menemukan wajahku. Dia menatapku dan diakui saya. Tapi, ia memalingkan wajahnya. Aku pindah untuk menghadapi dia sekali lagi. Dia dihindari menatapku dan lagi berpaling wajahnya. Hal ini terjadi berulang kali.
Saya tidak ragu – karena saya berdiri di sana menghadap Nabi bahwa ia akan telah senang dengan penerimaan saya Islam dan teman-temannya akan bersukacita di kebahagiaannya. Ketika, bagaimanapun, Muslim melihat Nabi, SAW, menghindari saya, mereka juga memandang saya dan dijauhi saya. Abu Bakar bertemu saya dan keras berbalik. Aku memandang Umar ibn al-Khattab, mata saya memohon belas kasihan, tapi saya menemukan dia bahkan lebih keras dari Abu Bakar. Bahkan, Umar melanjutkan untuk menghasut salah satu Ansar terhadap saya.
‘O musuh Allah,’ mengecam para Ansari, ‘Anda adalah orang yang menganiaya Rasulullah, SAW, dan disiksa teman-temannya. Anda dilakukan permusuhan Anda terhadap Nabi sampai ke ujung bumi.
The Ansari melanjutkan mencela saya dengan suara keras sementara Muslim lainnya menatapku marah. Pada saat itu, aku melihat pamanku, al-Abbas, dan pergi kepadanya mencari perlindungan.
‘O paman, “kataku. “Saya berharap bahwa Nabi, SAW, akan senang menerima saya Islam karena kekerabatan saya kepadanya dan karena posisi saya kehormatan antara orang-orang saya. Anda tahu apa reaksinya telah. Berbicara dengan dia kemudian atas nama saya bahwa ia mungkin akan senang dengan saya. ”
‘Tidak, demi Allah, “jawab paman saya. “Saya tidak akan berbicara dengan dia sama sekali setelah saya telah melihat dia berpaling dari Anda, kecuali jika kesempatan hadiah itu sendiri. Saya lakukan menghormati Nabi, damai dan berkat Allah atas dirinya, dan aku berdiri kagum padanya. ”
‘O paman, kepada siapa akan Anda meninggalkan aku? ” Saya memohon.
“Saya tidak punya apa-apa untuk Anda, kecuali apa yang telah kamu dengar,” katanya.
Kecemasan dan kesedihan memegang saya. Aku melihat Ali bin Thalib segera setelah dan berbicara dengannya tentang kasus saya. Jawabannya adalah sama dengan paman saya. Aku kembali ke paman saya dan berkata kepadanya: “Hai paman, jika Anda tidak dapat melunakkan hati Nabi terhadap saya, maka setidaknya menahan orang itu dari mencela saya dan menghasut orang lain terhadap saya.”
‘Jelaskan dia untuk saya, “kata paman saya. Saya dijelaskan pria kepadanya dan ia berkata: “. Itu Nuayman ibn al-Harits an-NAJJARI ‘ Dia dikirim untuk Nuayman dan berkata kepadanya: ‘O Nuayman! Abu Sufyan adalah sepupu Nabi dan keponakan saya. Jika Nabi marah dengan dia hari ini, dia akan senang dengan dia hari lain. Jadi tinggalkan dia … ‘Paman saya terus berusaha untuk menenangkan Nuayman sampai yang terakhir mengalah dan berkata: “. Saya tidak akan sepakan dia lagi’

.
“Ketika Nabi mencapai al-Jahfah (sekitar empat hari perjalanan dari Makkah), aku duduk di depan pintu kemahnya. Anakku Jafar berdiri di sampingku. Saat ia meninggalkan tendanya, Nabi melihat saya dan mengalihkan wajahnya. Namun, saya tidak putus asa mencari kesenangan-Nya. Setiap kali ia berkemah di suatu tempat, saya akan duduk di pintu dan anak saya Jafar akan berdiri di depan saya … saya terus dengan cara ini untuk beberapa waktu. Tapi situasi menjadi terlalu banyak bagi saya dan saya menjadi tertekan. Saya berkata pada diri sendiri:
‘Demi Allah, baik Nabi, SAW, menunjukkan dia senang dengan saya atau saya akan mengambil anak saya dan pergi mengembara melalui tanah sampai kita mati kelaparan dan kehausan. ”
Ketika Nabi datang untuk mendengar ini, dia mengalah dan, meninggalkan tendanya, ia tampak lebih lembut ke arahku maka sebelum. Aku begitu banyak berharap bahwa ia akan tersenyum. ”
Akhirnya Nabi mengalah dan mengatakan kepada Abu Sufyan, “sekarang tidak ada dosa bagi kamu.” Dia mempercayakan pendatang baru untuk Islam Ali bin Abi Thalib berkata: “Ajarkan sepupu Anda bagaimana melakukan wudhu dan tentang Sunnah. . Kemudian membawanya kembali ke saya “Ketika Ali kembali, Nabi berkata:
“Beritahu semua orang bahwa Rasulullah senang dengan Abu Sufyan dan bahwa mereka harus senang dengan dia.”
Abu Sufyan melanjutkan: “Nabi kemudian memasuki Makkah dan saya juga masuk dalam rombongan. Ia pergi ke Masjidilharam dan saya juga pergi, mencoba yang terbaik untuk tetap di hadapannya dan tidak terpisah dari dia di akun setiap …
Kemudian, pada Pertempuran Hunain. Arab mengumpulkan kekuatan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Nabi, SAW … Mereka bertekad untuk menghadapi pukulan mematikan bagi Islam dan Muslim.
Nabi keluar untuk menghadapi mereka dengan sejumlah besar teman-temannya. Aku pergi dengan dia dan ketika aku melihat kerumunan besar mushrikin, aku berkata: ‘Demi Tuhan. hari ini, saya akan menebus semua permusuhan masa lalu saya terhadap Nabi. SAW, dan dia pasti akan melihat di bagian saya yang menyenangkan Tuhan dan apa yang menyenangkan dia. ‘
Ketika dua kekuatan bertemu, tekanan dari mushrikin pada Muslim adalah berat dan Muslim mulai kehilangan hati. Beberapa bahkan mulai meninggalkan dan kekalahan mengerikan menatap wajah kita. Namun, Nabi berdiri kokoh di tengah-tengah pertempuran mengangkang keledainya “Ash-Shahba” seperti gunung yang menjulang tinggi, menghunus pedangnya dan berjuang untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekelilingnya … aku melompat dari kuda dan berjuang di sampingnya. Tuhan tahu bahwa saya inginkan syahid di samping Rasulullah.

Paman saya, al Abbas, mengambil kendali dari keledai Nabi dan berdiri di sampingnya. Aku mengambil posisi saya di sisi lain. Dengan tangan kanan saya, saya menangkis serangan terhadap Nabi dan dengan kiri saya memegang gunung saya.
Ketika Nabi melihat pukulan yang menghancurkan saya di musuh, ia meminta paman saya: ‘Siapa ini?’ “Ini adalah saudaramu dan sepupu. Abu Sufyan bin al-Haris. Senang dengan dia. Ya Rasulullah. ‘
“Aku telah melakukannya dan Allah telah memberikan pengampunan kepadanya untuk semua permusuhan ia telah diarahkan terhadap saya.”
Hatiku melonjak dengan kebahagiaan. Aku mencium kakinya di sanggurdi dan menangis. Dia berbalik ke arah saya dan berkata: ‘Saudaraku! Setelah hidup saya! Maju dan menyerang! ‘
Kata-kata Nabi mendorong saya dan kami terjun ke posisi mushrikin sampai mereka diarahkan dan melarikan diri ke segala arah. ”
Setelah Hunayn, Abu Sufyan bin Al Harits terus menikmati kesenangan yang baik dari Nabi dan kepuasan berada di perusahaan yang mulia. Tapi dia tidak pernah melihat Nabi langsung di mata atau difokuskan tatapannya di wajahnya karena malu dan malu untuk permusuhan masa lalunya ke arahnya.
Abu Sufyan terus merasakan penyesalan yang intens untuk banyak dan gelap hari ia menghabiskan mencoba untuk memadamkan cahaya Allah dan menolak untuk mengikuti pesan-Nya. Selanjutnya, hari dan malam ia akan menghabiskan membaca ayatayat Al-Quran. berusaha untuk memahami dan mengikuti hukum dan keuntungan dengan peringatan tersebut. Dia dijauhi dunia dan perhiasan dan berbalik kepada Allah dengan segenap keberadaannya. Setelah Nabi. SAW, melihat dia memasuki masjid dan meminta istrinya: “Apakah Anda tahu siapa ini, Aishah?” “Tidak, ya Rasulullah” jawabnya.. Ini adalah sepupu saya. Abu Sufyan bin al-Harits. Lihat, dia adalah yang pertama untuk memasuki masjid dan yang terakhir untuk meninggalkan. Matanya tidak meninggalkan tali sepatu nya. ”
Ketika Nabi, SAW, meninggal, Abu Sufyan merasa kesedihan yang intens dan menangis dengan sedihnya.
Selama kekhalifahan Umar, semoga Allah senang dengan dia, Abu Sufyan merasa ajalnya sudah dekat. Suatu hari orang melihat dia di al-Baqi, pemakaman tidak jauh dari masjid Nabawi di mana banyak sahabat dimakamkan. Ia menggali dan Penciptaan kuburan. Mereka terkejut. Tiga hari kemudian, Abu Sufyan terbaring berbaring di rumah keluarganya berdiri di sekitar menangis tapi ia mengatakan: “Jangan menangis untuk saya. Demi Allah, saya tidak melakukan apapun yang salah karena saya menerima Islam. “Dengan itu, ia meninggal.
Perdamaian dan Berkah pada Nabi, nya Keluarga, dan sahabat.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ