بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Abu Sufyan bin Haris adalah sepupu Rasulullah ﷺ. Ia kaya dan terkemuka, ia juga salah satu penyair Quraisy yang cukup disegani serta penunggang kuda yang hebat. Semula Abu Sufyan bin Haris membenci Islam, bersama Abu Lahab, sang paman, ia menjadi penentang Muhammad yang keras, namun saat Fathu Makkah, 8 H, Abu Sufyan masuk Islam.

Disamping itu, Abu Sufyan bin Haris juga saudara sesusuan Rasululah. Keduanya disusui oleh Halimah binti Abi Dua’ib as  Sa’diyah secara bersama-sama. Setelah itu keduanya menjadi kawan bermain yang saling mengasihi dan sahabat terdekat bagi Rasulullah sebelum kenabian dan sesudah fathu Makkah.

Secara perawakan, Abu Sufyan termasuk 5 orang keturunan Bani Hasyim yang mirip dengan Rasulullah.  Selain Ja’far bin Abu Thalib, Hasan bin Ali, Qusm bin Abbas.  Satu orang lagi tidak diketahui siapa.

Dan ini adalah Abu Sufyan bin Haris, bukan Abu Sufyan bin Harb, kepala suku Quraisy yang kuat yang istrinya Hindun telah menyuruh budaknya untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muththalib.

 


Ada Dua Abu Sufyan di Mekah Saat Itu

 

Orang sering tidak menyadari bahwa ada dua orang di Mekah yang bernama Abu Sufyan. Yang satu adalah Abu Sufyan bin Harb yang salah seorang tokoh pembesar Mekah.  Tidak ada hubungan darah dengan Muhammad. Kecuali salah satu putri Abu Sufyan bin Harb yakni Ummu Habibah atau  Ramlah binti Abu Sufyan bin Harb menjadi salah satu istri Rasulullah. Abu Sufyan bin Harb pula yang anaknya Muawiyah menjadi pendiri dinasti Umayah.

Sedang yang satu lagi adalah Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muththalib. Ini adalah sepupu Rasulullah, bahkan juga saudara sesusuan karena sama sama disusui oleh Halimah. Abu Sufyan bin Harits adalah salah satu dari tiga penyair kawakan Quraisy. Ia lah yang bertugas menangkal semua seruan Muhammad. Abu Sufyan pula yang bertugas untuk selalu menyebarkan khabar pembangkit semangat bagi kaum Quraisy agar selalu waspada akan bahaya ‘agama baru’ itu.

Dan baik Abu Sufyan bin Harb maupun Abu Sufyan bin Harits, dua duanya amat membenci Rasulullah dan selalu ikut dalam setiap peperangan melawan umat Islam yang semuanya telah hijrah ke Madinah.

 


Nasab Abu Sufyan bin Harits

Ayah Abu Sufyan adalah Haris bin Abdul Muththalib.

Ibunya bernama Gaziyah binti Qais bin Tarif dari keturunan Fihr bin Malik.

Nama lengkapnya adalah Abu Sufyan bin Haris bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdul Manaf  al Qurasyi al Hasyimi.

Ada yang menyebut namanya Al Mugirah, tetapi ada pula yang menyebut Al Mugirah itu nama saudaranya. Nama aslinya memang tidak diketahui dengan pasti.

Tidak diketahui siapa nama istrinya dan siapa anak anaknya. Hanya satu anak Sufyan yang tercatat sejarah, yakni Ja’far bin Abu Sufyan bin Haris, yang ikut menemaninya ketika perintiwa fathu makkah.

 


Tahun Kelahiran Abu Sufyan

Diperkirakan sama dengan Rasulullah, yakni Tahun 570 M atau dikenal dengan Tahun Gajah.

 


Tahun Wafatnya Abu Sufyan bin Harits

Pada zaman pemerintahan Umar al Faruq [ Umar bin Khattab ]  , Abu Sufyan merasa ajalnya sudah dekat. Lalu, digalinya kuburan untuk dirinya sendiri. Tidak lebih tiga hari setelah itu, maut datang menjemputnya, seakan sudah berjanji sebelumnya.  Abu Sufyan wafat sekitar tahun 20 H di Madinah.

Dia berpesan kepada istri dan anak-anaknya, “Kalian sekali-kali jangan menangisiku. Demi Allah! Aku tidak berdosa sedikit pun sejak aku masuk Islam.” Lalu, ruhnya yang suci pergi ke hadirat Allah.

Khalifah Umar bin Khattab turut menyalatkan jenazahnya. Beliau menangis kehilangan Abu Sufyan bin Harits, sahabat yang mulia.

 


Riwayat Keluarga Abdul Muththalib

Abdul Muththalib memiliki beberapa istri.  Dari istri yang bernama Fathimah binti Amr, Abdul Muththalib memiliki 10 anak lelaki, yakni :

  1. Harist, anak anaknya nya yakni
    1. Nawfal bin Harits,
    2. Rabiah bin Harits
    3. Thufail bin Harits, menikah dengan Zainab binti Khuzaimah kemudian diceraikannya.
    4. Ubaidillah bin Harits, Zainab setelah dicerai Thufail, lalu dinikahi Ubaidillah untuk memuliakan Zainab. Namun Ubaidillah mati syahid dalam perang Badar. Akhirnya Zainab dipinang Rasulullah.
    5. Abdullah bin Harits, semua menerima Islam sedang
    6. Abu Sufyan bin Harits, si penyair Quraishy ini adalah musuh Islam yang cukup kejam terhadap sepupunya sendiri, yakni Muhammad SAW.
  2. Abu Thalib [ Abdu Manaf ], anak anak Abu Thalib
    1. Thalib bin Abu Thalib
    2. Ja’far bin Abu Thalib, menikah dengan Asma binti Harits [ saudaranya Ummu Fadhil, istrinya Abbas ]
    3. Ali bin Abu Thalib
    4. Aqil bin Abu Thalib
    5. Fakhtihah binti Abu Thalib
    6. Jumanah binti Abu Thalib (Ummu Hani)
  3. Abu Lahab [ Abdul Uzza ], istrinya Ummu Jamil, anak :
    1. Jamil
    2. Uzza
    3. Durrah
    4. Utbah menikah dengan  Ruqayyah
    5. Utaibah menikahi dengan Ummu Kultsum yang kemudian diceraikannya.
  4. Zubair,
  5. Jahl [ Mughirah ],
  6. Abdul Kabah,
  7. Qutsam,
  8. Dhirar, Ghaidaq [ merupakan gelar ] sedangkan namanya adalah Mush’ab dan ada juga yang mengatakan Nofel,
  9. Abbas menikah dengan Ummu Fadhil, nama aslinya adalah Lubabah binti al Harits bin Hazn. Anak anak mereka adalah :
    1. Fadhl, dikuburkan di Baqi.
    2. Abdullah
    3. Qutsam bin Abbas
    4. Ma’bad bin Abbas
    5. Abdullah [ ? ]
    6. Ummu Habibah
    7. Ubaidillah bin Abbas
  10. Abdullah. anak :
    1. Muhammad SAW. salah satu istri Muhammad adalah Maimunah binti Harits [ saudaranya Ummu Fadhl, istrinya Abbas ]

Ada sebagian orang yang mengatakan  bahwa Abdul Ka’bah dan Muqawim itu orangnya sama, dan Jahl serta Ghaidaq itu juga sama.

Dan 4 Anak perempuan Abdul Muthalib :

  1. Arwa binti Abdul Muththalib anak :
    1.  Thulayb, putranya yang ikut hijrah ke Habasyah
  2. Atikah binti Abdul Muththalib (tentang keislaman keduanya ini ada perselisihan); anaknya
    1. Abdullah bin  Abu Umayyah bin’l-Mughira, jelas memusuhi Rasulullah.
  3. Ummu Hakim
  4. Barrah binti Abdul Muththalib , dua putra Barrah ikut hijrah ke Habasyah, yakni
    1. Abu Salamah dan
    2. Abu Sabrah
  5. Aminah binti Abdul Muththalib
  6. Umaimah binti Abdul Muththtalib menikah dengan Jahsyi bin Ri`ab.  Anak anak : menikah dengan Jahsyi bin Ri`ab.  Anak anak :
    1.  Zainab binti Jahsy yang menikah dengan Zaid bin Haritsah. Kemudian dicerai lalu zainab menikah dengan Rasulullah menjadi istri yang ke tujuh.
    2. Abd Allah ibn Jahsy
    3. Ubaydillah ibn Jahsy  yang menikah dengan Ummu Habibah [ anak Abu Sufyan bin Harb ] namun kemudian  Ummu Habibah minta cerai karena Ubaydillah di negri Habsyah murtad dari Islam dan masuk Kristen dan kemudian mati di sana. Setelah didengar khabar itu oleh Rasulullah, maka Rasulullah meminang Ummu Habibah.
    1.  Zainab binti Jahsy yang menjadi istri ke tujuh Rasulullah setelah sebelumnya menikah dengan Zaid bin Haritsah kemudian dicerai.
    2. Kemudian Abd Allah
    3. dan Ubaydillah

Abdul Muththalib juga menikah dengan Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah yang dinikahinya bersamaan dengan menikahnya anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab.

Dari pernikahannya dengan Haulah,  lahirlah

  1. Hamzah menikah dengan iparnya yakni Salma binti Harits, saudaranya Ummu Fadhil, istri Abbas bin Abdul Muththalib.
  2. Shafiyyah [ anaknya Zubair bin Awwam ]. Keislaman keduanya tidak diragukan karena mereka menyatakannya secara terang terangan.

 


Abu Sufyan bin Haris dan Islam

Semula Abu Sufyan amat dekat dengan Muhammad SAW. Namun ketika Nabi mulai menyebarkan Islam, Abu Sufyan tidak mempercayai bahkan memusuhinya.  Ia mengobarkan permusuhan terhadap Nabi dan pengikutnya, mulai awal kenabian tahun 610 M hingga saatnya ia mendapat hidayah Allah ketika Fathu Makkah tahun 630 M.  Jadi selama 20 tahun Abu Sufyan berada di posisi menentang, memusuhi hingga bernafsu untuk membunuh Rasulullah.

 


Kisah Abu Sufyan bin Harits

Jarang bisa menemukan satu ikatan yang lebih erat antara dua orang seperti  Muhammad bin Abdullah dan Abu Sufyan bin al Harits.
Abu Sufyan bin al-Harits dan Rasulullah ﷺ  mereka mirip satu sama lain. Mereka tumbuh bersama dan untuk waktu yang lama tinggal di rumah yang sama. Yakni rumah kakek mereka, Abdul Muththalib. DI rumah inilah mereka sama sama disusui  oleh Halimah.

Karena kedekatan mereka, banyak yang menganggap Abu Sufyan akan serta merta menerima misi kenabian Rasulullah ﷺ. Namun nyatanya tidak. Memang, hidayah adalah hak mutlak Allah. Dia akan memberikan pada siapapun yang Dia sukai.

Pada saat pertama Nabi  mengeluarkan peringatan kepada anggota klannya tentang bahaya bila terus dalam keadaan  ketidakpercayaan, ketidakadilan dan amoralitas, api kecemburuan dan kebencian meletus di dada Abu Sufyan .
Abu Sufyan saat ini terkenal sebagai salah satu pejuang terbaik dan penunggang kuda dari Quraisy  yang handal. Abu Sufyan bin Harits juga dikenal sebagai penyair yang mumpumi.  Bersama  Amr bin Al Ash dan Abdullah bin Az Ziba’ra,  mereka bertiga terus menerus membuat syair perlawanan terhadap Rasulullah ﷺ dan ajarannya.

Ia dikenal sebagai penyair yang menggubah syair syair berisi caci maki terhadap Nabi dan agama Islam.  Karena itu penyair Islam Hasan bin Sabit ditugaskan nabi untuk menjawab syair itu dengan menggubah syair balasan untuk membela nabi dan mengutuk kaum musyrik.

Abu Sufyan menggunakan pedang dan lidah dalam pertempuran melawan Nabi.  Semua energinya dikerahkan untuk mencela Islam dan menganiaya umat Islam. Dalam pertempuran apa pun serta penyiksaan dan penganiayaan apa pun yang mereka dijatuhkan kepada Muslim, bisa dipastikan Abu Sufyan memiliki peran disana. .

Dalam perang Badar Abu Sufyan ikut memerangi pasukan Islam. Dalam perang ini sang paman Abu Lahab tidak ikut serta  dan digantikan oleh seseorang yang bernama As bin Hisyam.  Sekembalinya dari peperangan, Abu Sufyan mendatangi pamannya itu dan bercerita soal jalannya peperangan , kekalahan kaum Quraisy serta betapa gagah beraninya pasukan Islam.  Abu sufyan juga mengakui bahwa dalam pertempuran itu ia melihat pasukan malaikat berpakaian putih putih ikut terjun ke tengah medan peperangan membantu Rasulullah ﷺ.

Pada tahun 8 H,  tak lama sebelum pembebasan kota Makkah, posisi Abu Sufyan mulai bergeser, saat itu ia menjelaskan : “Ketika gerakan Islam menjadi kuat dan mapan, dan berita terdengar bahwa dari Muhammad akan membebaskan Makkah.  Saat itu seakan akan dunia menyerah pada Islam. Dan aku merasa terjebak antara kaumku, Quraisy dan takluknya dunia. “Di mana saya akan pergi? ‘ Aku bertanya pada diriku sendiri. “Dan dengan siapa?”

Kepada istri dan anak-anak, saya mengatakan :
‘Saya siap meninggalkan Makkah. Serasa wajah Muhammad telah dekat.  Jika ia melihatku, aku pasti akan dibunuh. Tidak ada jalan lain, kecuali aku menjadi Muslim“.
“Tidak mungkin,” jawab keluarga saya, ‘Anda harus menyadari bahwa orang orang Arab dan non Arab telah berjanji setia kepada Muhammad.  Dan anda adalah target pertama mereka untuk dibunuh, apapun alasan anda”

Mereka terus mencoba untuk mempengaruhi saya agar mempertimbangkan sikap saya untuk masuk ke agama Muhammad. Akhirnya Tuhan membuka dan memantapkan hati saya untuk Islam. Aku bangkit dan berkata kepada hamba-Ku, Madhkur : ‘Bersiaplah wahai unta dan kuda! Kita menuju Madinah!’ Aku mengambilku saya Jafar dan kami berlari dengan kecepatan tinggi ke arah al Abwa antara Makkah dan Madinah.

Saya telah mendapatkan kabar bahwa Muhammad telah berkemah di sana. Saat aku mendekati Al Abwa, saya menutupi wajah saya sehingga tidak ada yang bisa mengenali dan membunuh saya sebelum saya bisa mencapai kemah Nabi dan mengumumkan ke-Islaman saya langsung kepadanya.

Perlahan-lahan, saya melanjutkan dengan berjalan kaki, sementara kulihat sekelompok pasukanMuslim menuju Makkah. Aku menghindari jalan mereka, tentu saja, karena takut salah satu sahabat Nabi akan mengenali saya. Aku terus dalam situasi ini hingga aku melihat Nabi dengan mataku sendiri.   Saat itu juga aku langsung menghampirinya dan memperlihatkan wajahku. Dia menatapku dan menganggukkan kepala. Tapi kemudian, ia memalingkan wajahnya!   Bergegas aku pindah mengikuti arah wajahnya.  Dan berdiri dihadapannya sekali lagi. Dia tetap menghindari ku dan memalingkan wajahnya ke arah lain.  Dan kembali aku bergeser dan berdiri di hdapannya.  Hal ini terjadi berulang kali.
Meski begitu, saya tidak ragu sama sekali, bahwa saya merasakan sesungguhnya Nabi senang dengan ke-islamanku.

Tetapi bagaimanapun, para sahabat yang menyaksikan sikap Nabi menghindari saya, mereka segera menjauhi saya. Abu Bakar yang semula melihat saya, ikut berbalik. Aku kini memandang Umar ibn al-Khattab, mata saya memohon belas kasihan, tapi saya menemukan dia bahkan lebih keras dari Abu Bakar.  Bahkan, Umar melanjutkan dengan kalimatnya yang menusuk :
‘O musuh Allah.  Anda adalah orang yang menganiaya Rasulullah ﷺ dan menyiksa teman-temannya. Anda melakukan permusuhan Anda terhadap Nabi, sampai ke ujung bumi’

Umar melanjutkan mencela saya dengan suara keras, sementara Muslim lainnya menatapku marah. Pada saat itu, aku melihat pamanku, al Abbas, dan pergi kepadanya mencari perlindungan.

‘O paman, kataku. ‘Saya berharap bahwa Rasulullah ﷺ, akan senang dan terbuka menerima ke-Islaman saya karena hubungan kekerabatan saya dengannya dan karena posisi saya diantara orang orang saya.  Jadilah penghubung antara saya dan Rasulullah
“Tidak, demi Allah” jawab paman saya. “Saya tidak melakukannya setelah saya melihat dia berpaling dari Anda.  Saya mentaati perintah Nabi, damai dan berkat Allah atas dirinya”
‘O paman, kepada siapa, aku anda tinggalkan? ” Saya memohon.
“Saya tidak punya apa-apa untuk Anda, kecuali apa yang telah kamu dengar,” katanya.

Saat itu kecemasan dan kesedihan menyelimuti saya. Kemudian aku melihat Ali bin Thalib dan segera aku sampaikan masalahku. Jawabannya adalah sama dengan paman saya. Aku kembali ke paman saya dan berkata kepadanya : “Hai paman, jika Anda tidak dapat melunakkan hati Nabi terhadap saya, maka setidaknya tahanlah orang orang itu dari mencela saya dan menghasut orang lain terhadap saya”
“Siapa dia? Jelaskanlah dia untuk saya” kata paman saya. Saya dijelaskan pria kepadanya dan ia berkata : “Itu Nuayman ibn al-Harits an-Najjari’

Dia dikirim untuk Nuayman dan berkata kepadanya : ‘O Nuayman! Abu Sufyan adalah sepupu Nabi dan keponakan saya. Jika Nabi marah dengan dia hari ini, dia akan senang dengan dia di hari lain. Jadi tinggalkan dia … ‘

Paman saya terus berusaha untuk menenangkan Nuayman sampai akhirnya Nuayman berkata : “. Saya tidak akan ganggu dia lagi’
Ketika Nabi mencapai al Jahfah (sekitar empat hari perjalanan dari Makkah), aku duduk di depan pintu kemahnya. Anakku Jafar berdiri di sampingku. Saat ia meninggalkan tendanya, Nabi melihatku dan mengalihkan wajahnya. Namun, aku tidak putus asa mencari keridhoan-Nya. Setiap kali ia berkemah di suatu tempat, aku akan duduk di pintu dan anak aku Jafar akan berdiri di depan saya … aku terus lakukan dengan cara ini untuk beberapa waktu. Tapi situasi kemudian membuatku tertekan. Aku berkata pada diri sendiri :
‘Demi Allah, sampai Rasulullah menunjukkan dia senang denganku atau aku akan mengambil anakku dan pergi mengembara kemana saja,  sampai aku mati kelaparan dan kehausan. ”
Ketika Nabi datang untuk mendengar ini, dia mengalah dan, meninggalkan tendanya, ia tampak lebih lembut dari sebelumnya. Aku begitu banyak berharap bahwa ia akan tersenyum. ”

Akhirnya Nabi mengalah dan mengatakan kepadaku : Sekarang tidak ada lagi dosa bagi kamu.” Lalu Nabi berkata kepada  Ali bin Abi Thalib : “Ajarkan sepupu Anda bagaimana melakukan wudhu dan tentang Sunnah. Dan beritahu semua orang bahwa Rasulullah senang dengan Abu Sufyan dan bahwa mereka harus senang dengan dia.”
Abu Sufyan melanjutkan : “Nabi kemudian memasuki Makkah dan aku juga masuk dalam rombongan.  Dan aku mencoba yang terbaik untuk tetap di hadapannya dan tidak terpisah dari dia di setiap waktu …

Kemudian, pada Pertempuran Hunain, orang orang Arab yang tetap menolak Islam, mereka berkumpul  dan bertekad untuk memberikan pukulan mematikan bagi Islam dan Muslim.

Nabi keluar untuk menghadapi mereka dengan sejumlah besar teman-temannya. Jumlah yang amat besar, yang bahkan belum pernah terjadi sebelumnya.  Aku melihat kerumunan besar musrikin, lalu aku berkata : ‘Demi Tuhan.  Hari ini, aku akan menebus semua permusuhan masa laluku terhadap Rasulullah, dan dia pasti akan melihat pertempuranku, semoga itu menyenangkan Tuhan dan menyenangkan dia. ‘
Ketika dua kekuatan bertemu, tekanan dari musrikin pada Muslim sungguh berat dan Muslim mulai kehilangan kesabaran. Beberapa bahkan mulai meninggalkan medan perang dan kekalahan mengerikan mulai menganga. Namun, Nabi berdiri kokoh di tengah tengah pertempuran dengan menunggangi bigalnya  “Ash-Shahba” seperti gunung yang menjulang tinggi, menghunus pedangnya dan berjuang untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekelilingnya … aku melompat dari kuda dan berjuang di sampingnya. Tuhan tahu bahwa aku inginkan syahid di samping Rasulullah.

Pamanku, al Abbas, mengambil kendali dari bigal Nabi dan berdiri di sampingnya. Aku mengambil posisi saya di sisi lain. Dengan tangan kananku, aku menangkis serangan terhadap Nabi dan dengan kiriku memegang pedang.
Ketika Nabi melihat pukulanku yang menghancurkan musuh.  Nabi bertanya pada Abbas : ‘Siapa ini?’  ‘Dia adalah saudara dan sepupupu,  Abu Sufyan bin al-Haris’  Dan demi Allah, kulihat wajah Nabi yang berseri seri.

‘Ya Rasulullah. Aku telah melakukannya!’
Hatiku melonjak dengan kebahagiaan. Aku mencium tangannya dan menangis. Dia berbalik ke arahku dan berkata : ‘Saudaraku! Maju dan menyeranglah! ‘
Kata-kata Nabi mendorongku dan kami terjun ke posisi kaum kafir sampai mereka tertekan dari segala sudut dan akhirnya melarikan diri ke segala arah. ”

Setelah Hunayn, Abu Sufyan bin Al Harits terus menikmati kesenangan yang baik dari Nabi dan kepuasan berada di samping Rasulullah yang mulia. Tapi dia tidak pernah melihat Nabi secara langsung dengan matanya,  karena malu dan malu akan permusuhan masa lalunya.
Abu Sufyan terus merasakan penyesalan yang intens setelahnya dan pada gelap hari ia menghabiskan waktunya mencoba untuk meraih cahaya Allah dan menaati semua perintahNya.

Selanjutnya, hari dan malam ia akan menghabiskan membaca ayatayat Al Quran. berusaha untuk memahami dan mengikuti hukum dan keuntungan dengan peringatan tersebut. Dia dijauhi dunia dan perhiasan dan berbalik kepada Allah dengan segenap keberadaannya. Setelah Rasulullah ﷺ melihat dia memasuki masjid dan meminta istrinya: “Apakah Anda tahu siapa ini, Aishah?” “Tidak, ya Rasulullah” jawabnya.. Ini adalah sepupu saya. Abu Sufyan bin al-Harits. Lihat, dia adalah yang pertama untuk memasuki masjid dan yang terakhir untuk meninggalkan. Matanya tidak meninggalkan tali sepatu nya. ”
Ketika Rasulullah ﷺ wafat. Abu Sufyan merasa kesedihan yang mendalam dan menangis dengan sedihnya.
Selama kekhalifahan Umar, semoga Allah senang dengan dia, Abu Sufyan merasa ajalnya sudah dekat. Suatu hari orang melihat dia di al Baqi, pemakaman tidak jauh dari masjid Nabawi di mana banyak sahabat dimakamkan. Ia menggali dan membuat lubang kubur.  Orang orang terkejut. Tiga hari kemudian, Abu Sufyan terbaring lemah diranjangnya,  Dan seluruh keluarganya  berdiri di sekitar menangis.  Tapi ia mengatakan : “Jangan menangis untuk aku. Demi Allah, aku tidak melakukan apapun yang salah karena aku menerima Islam

Kemudian Abu Sufyan meninggal.  Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ