Abu Musa Al Asy’ari atau Abdullah bin Qais adalah sahabat Rasulullah yang dikaruniai suara yang indah bila membaca Al Quran.  Ia termasuk golongan As Sabiqun Al Awwalun.

Abu Musa Al Asy’ari adalah satu satunya sahabat yang ikut hijrah pertama ke Abessina namun bertolak tidak dari Mekah, melainkan dari Yaman.  Tempat kelahiran beliau.

Dan pulang  setelah perang Khaibar, langsung hijrah [ kedua ] menetap di Madinah.

Ia-lah yang dijuluki “Tuan para kesatria’ oleh Rasulullah karena keberanian dalam mengambil beban dan tanggungjawab pasukan saat perang.

Khalifah Ustman bin Affan mengangkatnya sebagai penguasa di Kufah. Beliau ini termasuk arbitrator dalam peristiwa arbitrasi perang Shiffin.

Beliau adalah seorang zahid, ahli fiqih, imam besar dan ahli ibadah. Tubuhnya tidak gemuk dan tidak terlalu pendek.   Hingga akhir hidupnya, Abu Musa telah meriwayatkan sekitar 355 hadits.

 


Nasabnya Abu Musa Al Asy’ari

 

Nama aslinya adalah Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhar bin Harb bin Aamir.   Terus sampai nasabnya pada Asy’ari bin Adad.

Rasulullah memanggilnya dengan  Abdullah bin Qais.  Sedang Abu Musa adlaah nama kunyah beliau, yang diambil dari anak pertamanya,  Musa bin Abdullah bin Qais.

Tubuhnya tidak gemuk dan tidak terlalu pendek.  Beliau memiliki saudara : Abu Ruhm dan Abu Burdah.

Kunyahnya juga  Al Asy’ari yang dinisbatkan kepada bani al Asy’ar di Qohthan, Yaman.  Bani al Asy’ar inilah yang  disebut Rasulullah sebagai adalah kaum yang lemah lembut.

 


Tahun Lahirnya Abu Musa Al Asy’ari

Abu Musa Al Asy’ari dilahirkan di Zabin, Yaman, 21 tahun sebelum Hijriah [ BH ] atau tahun 602 Masehi.  Sama seperti tahun kelahiran Ruqayyah binti Muhammad.

 


Tahun Wafatnya Abu Musa Al Asy’ari

Abu Musa Al Asy’ari wafat  di Kuffah pada tahun 44 H atau 666 Masehi pada masa Mu’awiyah.

 


Kisah Abu Musa atau Abdullah bin Qais

 

Hati Abu Musa Al Asy’ari dekat dengan hati Rasulullah.  Bahkan Rasulullah berdoa kepada Allah agar Allah mengampunkan dosa dosa Abu Musa dan agar di hari kiamat dimasukkan kedalam tempat yang mulia.

”Allahumaghfir li-’Abdillah bin Qais zanbahu, wa adkhilhu yauma al-qiyamati madkhalan kariimaa”.

Suatu kali, Rasulullah pernah bersabda :  ”Ya Abdullah bin Qais, inginkah kamu aku ajarkan satu kalimat dari perbendaharaan surga?  Yaitu la hawla wala quwwata illa billah”.

Kemudian Nabi juga bersabda :

“Wahai Abu Musa, kamu telah diberi seruling dari serulingnya (bagus suaranya) keluarga (Nabi) Daud.” [ HR. Bukhari Muslim ].

Abu Musa termasuk diantara para sahabat yang mempunyai suara bagus ketika membaca Al Quran. Kelembutan dan kehalusan suaranya membuat orang yang mendengarkan terharu dan tersentuh hatinya. Suaranya mampu menembus ke relung hati.

Tentang Abu Musa, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa suatu malam, Abu Musa melakukan shalat malam. Bacaan Al Quran dalam shalatnya itu terdengar oleh istri istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka pun bangun dan mendengarkan dengan baik. Ketika pagi pagi beliau diberitahu bahwa istri istri Rasulullah mendengar bacaannya.

Biasanya, jika Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertemu dengannya, beliau pasti diperintah untuk membaca Al Quran.

“Wahai Abu Musa, kami rindu dengan lantunan ayat ayat suci Al Quran,” kata Umar.

 

Sahabat yang Berhijrah Dua Kali

Tarikh Abu Musa dimulai dari Yaman, tempat dimana beliau dilahirkan.  Masa itu penduduk Qohthan banyak yang menyembah berhala. Meskipun beliau masih berusia amat muda, saat Muhammad mendapat Nubuwwah, usianya baru 8 tahun !  Tapi beliau berani bersikap menolak dan menginkari penyembahan berhala yang berlaku di masyarakatnya.

Abu Musa tahu bahwa berhala yang disembah tidak memberikan manfaat dan juga bahaya. Beliau selalu berharap agar segera datang kebenaran hakiki, sebuah ‘pertolongan langit’ untuk menyelamatkan manusia dari penyembahan berhala. Keinginannya itu terwujud ketika beliau mendengar bahwa Muhammad bin Abdullah adalah utusan Allah mengajarkan agama tauhid (mengesakan Allah dalam beribadah), mengajak kepada amar ma’ruf (urusan yang baik) dan budi pekerti yang mulia.

Maka dengan niat ikhlas Abu Musa meninggalkan tanah kelahirannya pergi menuju Makkah, tempat di mana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus. Sesampainya di Makkah, beliau duduk di sekeliling Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan belajar darinya. Selama mengikuti ajaran Rasulullah,  beliau sangat rajin dan tekun.

Akhirnya setelah merasa cukup, Abu Musa pulang ke Yaman untuk mengajarkan agama tauhid yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sedikit banyak beliau membawa perubahan pada kaumnya.

Mengenai kisah hijrahnya, Abu Musa menceritakan, “Kami keluar dari Yaman bersama 53 orang lebih dari kaumku. Suadaraku Abu Ruhm dan Abu Burdah juga ikut. Kami berlayar dengan perahu ke Najashy, Ethopia.

Ternyata di sana sudah ada Ja’far dan sahabat-sahabat lain. Kami di Habasyah sampai tahun 7 Hijriah atau 629 Masehi.  Pada tahun itu terjadilah perang Khaibar.  Dan seusai perang Khaibar, Abu Musa, suadaranya Abu Ruhm dan Abu Burdah beserta 53 kaumnya pulang namun tidak kembali ke Yaman, melainkan ke Madinah untuk menyusul Rasulullah.

Mengenai hal ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Kamu berhijrah dua kali. Pertama ke Najashy dan kedua hijrah kepadaku’.”( HR. Bukhari Muslim ).

Sejak itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat cinta kepada Abu Musa dan juga kaumnya. Sebelum kedatangan Abu Musa, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepada para sahabat bahwa besok akan datang kepada mereka suatu kaum yang hatinya sangat lembut.

Besok harinya, kedatangan Abu Musa dan kaumnya, yakni bani Asy’ari disambut meriah dengan saling berjabat tangan. Inilah sejarah pertama berjabat tangan dalam Islam.

Orang-orang yang datang bersama Abu Musa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam disebut “al-Asy’ariun” (orang-orang Asy’ari).

“Orang-orang Asy’ari ini bila mereka kekurangan makanan dalam peperangan atau ditimpa paceklik, maka mereka kumpulkan semua makanan yang mereka miliki pada selembar kain, lalu mereka bagi rata ….
Maka mereka termasuk golonganku, dan aku termasuk golongan mereka… !”

Sekembalinya para sahabat dari Habasyah (Ethopia) bersama Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu setelah perang Khaibar., Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan penerangan tentang ajaran Islam kepada semua yang datang.

 

Penguasa dan Ksatria yang Ahli Fiqih

Abu Musa adalah seorang faqih (ahli fiqih ) dan sangat cerdas sehingga dapat memahami setiap persoalan yang muncul.

Disebutkan bahwa beliau termasuk empat orang ahli hukum umat Islam, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam As Sya’bi :”Qodhotu hazihi al-ummah arba’atun : 

  1. Umar bin Khaththab,
  2. Ali bin Abi Thalib,
  3. Abu Musa al-Asy’ari wa
  4. Zaid bin Tsabit.

Abu Musa juga seorang prajurit yang sangat berani. Di medan perang, dengan beraninya beliau sanggup memikul beban dan tanggungjawab pasukan umat Islam.   Ia berani mempertaruhkan nyawanya. Hingga suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Saidu al-fawarisi, Abu Musa”.  Tuan  adalah pemimpin prajurit  berkuda,  Abu Musa.

Abu Musa melukiskan gambaran hidupnya sebagai berikut: “Kami pernah pergi menghadapi suatu peperangan bersama Rasulullah, hingga sepatu kami pecah berlobang-lobang, tidak ketinggalan sepatuku, bahkan kuku jariku habis terkelupas, sampai-sampai kami terpaksa membalut telapak kaki kami dengan sobekan kain… !”

Selama berjuang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Abu Musa telah meriwayatkan kurang lebih dari 355 hadits.

Diantara hadits riwayatnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan tangannya di malam hari untuk memberi ampunan bagi orang yang berbuat jahat di siang hari. Dan Allah bentangkan tangannya di siang hari untuk memberi ampunan bagi orang yang berbuat jahat di malam hari hingga matahari terbenam.”( HR.Muslim )

Suatu hari Abu Musa Al Asy’ari  berkata, “Ada dua hal yang dapat memutus dariku kenikmatan dunia, mengingat mati dan mengingat dosa dihadapan Allah.”

 

Budi Pekerti Dan Sifat-Sifatnya Yang Mulia

Beliau amat terkenal dengan kedalaman ilmu agama, seorang ahli ibadah yang wara’, memiliki sifat pemalu, ahli zuhud di dunia, kuat dalam pendirian dan sifat-sifat mulia yang lain yang disandangnya.

Adz Dzahabiy mengatakan, ”Abu Musa Al Asy’ari adalah seorang qari’ yang memiliki suara yang indah dan seorang terkemuka di Bashrah didalam membaca dan memahami Al Quran”.

Disamping sebagai seorang yang memiliki ‘izzah yang besar dalam menuntut ilmu, baik dari Rasulullah maupun dari sahabat-sahabat, beliau juga mengajarkan ilmu yang telah diperolehnya itu kepada orang lain, mengamalkan sabda Rasulullah , ”Khairukum man ta’allama Al Qurana wa ‘allamahu” (H.R. Bukhari).

Dengan segala kemampuannya beliau mengajarkan Al Quran dan memberikan penjelasan kepada ummat di setiap daerah yang didatanginya, dibantu dengan bacaan dan suaranya yang indah ketika membaca Al Quran, dapat menarik perhatian masyarakat sekitarnya hingga berkumpul mengelilinginya. Dikarenakan banyaknya penuntut ilmu yang hadir, maka ia membagi mereka menjadi beberapa kelompok halaqah pengajian ilmu pengetahuan agama, seperti yang pernah ia lakukan di masjid Bashrah.

Abu Musa juga memiliki perhatian yang besar dalam pengajian sunnah dan riwayat-riwayatnya, serta sangat berpegang teguh terhadap sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana ia telah sampaikan nasehat kepada anak-anak dan keluarganya ketika ajal mendatanginya.

 

Beliau pun telah mengikuti beberapa peperangan bersama Rasulullah dalam menghadapi orang-orang musyrik, diantaranya perang Tabuk [ 630 M atau 8 H ] .

  •  Setelah 630 M atau 8 H

Dan setelah perang Tabuk,  datanglah utusan raja Hamir dari Yaman (Sepertinya Himyar; Aman).   Lalu beliau memilih dari sahabat sahabatnya yang dapat dipercaya dan memiliki pengetahuan agama yang matang untuk ditunjuk s ebagai da’i dan mu’allim serta wali, juga diutus untuk mengajarkan Al Qran

Maka diutuslah Abu Musa,  Mu’adz bin Jabal  dan Malik bin ‘Ubadah dan beberapa sahabat lainnya. Ini merupakan suatu perhatian yang besar dari Rasulullah terhadap negeri Yaman.  Meski mereka ditempatkan pada daerah yang berbeda, namun jaraknya tidak jauh sehingga antara keduanya [ Abu Musa,  Mu’adz bin Jabal ]  tetap terjalin hubungan komunikasi.

Ibnu Hajar Al ’Asqalani  mengatakan bahwa diutusnya Abu Musa ke Yaman dikarenakan kepintaran dan pemahamannya yang dalam terhadap Islam.

  • Tahun 10 H / 632 M

Pada tahun ke 10 hijriyah, Abu Musa kembali dari Yaman menemui Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam untuk melaksanakan haji, yang disebut dengan haji wada’ (haji perpisahan).

Rasulullah telah memberikan wewenang kepadanya untuk memberikan fatwa hingga wafatnya beliau bahkan hingga masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Ini semua menunjukkan akan kedalaman ilmu pengetahuannya dan ketaatannya kepada khalifah.

  • Tahun 11 H /  633 M, wafatnya nabi

Ketika Rasulullah meninggal, yaitu bertepatan setelah tiga hari dibunuhnya “Al-Kadzdzab” ‘Abhalah ibnu Ka’ab Al-’Ansiy, seorang dukun yang mengaku sebagai nabi di Yaman.  Wafatnya Rasulullah merupakan cobaan yang besar bagi Abu Musa yang ketika itu berada di sana [ Mekah ], setelah pulangnya dari haji wada’.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menugaskan beliau menjadi penguasa atau wali di kota Zabid dan Adnan.

 

  • Tahun 11 H / 633 M  –  Tahun 13 H /  635 M, masa kekhalifahan Abu Bakar

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ia ditetapkan untuk menjadi wali di Yaman.

 

  • Tahun 13 H / 635 M  –  Tahun 23 H / 645 M, masa kekhalifan Umar bin Khattab

Dan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Abu Musa telah berhasil :

  1. mengatur administrasi wilayah Bashrah,
  2. juga berhasil didalam memimpin pasukan militernya. Merupakan suatu rahmat yang besar dari Allah terhadapnya dengan pertolongan-pertolongan-Nya melalui tangannya, sehingga ia mampu menaklukkan beberapa kota dan negeri, dan telah dimenangkan Allah dalam memerangi pemimpin-pemimpin “daulah Al-Farisiyah” dengan kecerdikkan dan ketajaman pemikirannya.

Kota Asbahan dan Ahwaz ditaklukan pada masa Khalifah Umar bin Khaththab.

Pada waktu Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengutus Abu Musa untuk menjadi wali dan amir di Basrah pada tahun 17 Hijriah, Abu Musa mengumpulkan penduduk Basrah lalu berkhutbah, “Amirul mukminin mengutusku untuk mengajarkan kepada kalian kitab Allah dan sunnah Rasul. Dan juga untuk membersihkan jalan kesesatan kalian.

Keramahan, kedamaian dan ketenangannya, jangan harap menguntungkan pihak musuh dalam sesuatu peperangan Karena dalam suasana seperti ini, ia akan meninjau sesuatu dengan sejelas-jelasnya, dan akan menyelesaikannya dengan tekad yang tak kenal menyerah.

Pernah terjadi ketika Kaum Muslimin membebaskan negeri Persia,  Abu Musa Al Asy’ari dengan tentaranya menduduki kota Isfahan, Persia

Penduduknya minta berdamai dengan perjanjian bahwa mereka akan membayar upeti. Tetapi dalam perjanjian itu mereka tidak jujur, tujuan mereka hanyalah untuk mengulur waktu untuk mempersiapkan diri dan akan memukul Kaum Muslimin secara curang… !

Hanya kearifan  Abu Musa yang tak pernah lenyap di saat-saat yang diperlukan, mencium kebusukan niat yang mereka sembunyikan …. Maka tatkala mereka bermaksud hendak melancarkan pukulan mereka itu,  Abu Musa tidaklah terkejut, bahkan telah lebih dulu siap untuk melayani dan menghadapi mereka. Terjadiiah pertempuran, dan belum lagi sampai tengah hari,  Abu Musa telah beroleh kemenangan yang gemilang…. !

Dalam medan tempur melawan imperium Persi,Abu Musa Al Asy’ari mempunyai saham dan jasa besar. Bahkan dalam pertempuran di Tustar, yang dijadikan oleh Hurmuzan sebagai benteng pertahanan terakhir dan tempat ia bersama tentaranya mengundurkan diri, Abu Musa menjadi pahlawan dan bintang lapangannya … !

Pada saat itu Amirul Mu’minin Umar ibnul Khatthab mengirimkan sejumlah tentara yang tidak sedikit, yang dipimpin oleh ‘Ammar bin Yasir, Barra’ bin Malik, Anas bin Malik, Majzaah al-Bakri dan Salamah bin Raja’.

Dan kedua tentara itu pun, yakni tentara Islam di bawah pimpinan Abu Musa, dan tentara Persi di bawah pimpinan Hurmuzan, bertemulah dalam suatu pertempuran dahsyat.

Tentara Persi menarik diri ke dalam kota Tustar yang mereka perkuat menjadi benteng. Kota itu dikepung oleh Kaum Muslimin berhari-hari lamanya, hingga akhirnya Abu Musa mempergunakan akal muslihatnya ….

Dikirimnya beberapa orang menyamar sebagai pedagang Persi membawa dua ratus ekor kuda disertai beberapa prajurit perintis menyamar sebagai pengembala.

Pintu gerbang kota pun dibuka untuk mempersilakan para pedagang masuk. Secepat pintu benteng itu dibuka, prajurit-prajurit pun berloncatan menerkam para penjaga dan pertempuran kecil pun terjadi.

Abu Musa beserta pasukannya tidak membuang waktu lagi menyerbu memasuki kota, pertempuran dahsyat terjadi, tapi tak berapa lama seluruh kota diduduki dan panglima beserta seluruh pasukannya menyerah kalah, Panglima musuh beserta para komandan pasukan oleh Abu Musa dikirim ke Madinah, menyerahkan nasib mereka pada Amirul Mu’minin Umar ibnul Khatthab.

Pada akhir tahun 23 hijrah Amirul mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu meninggal terbunuh sebagai syahid, dan Abu Musa ketika itu sedang berada di Bashrah mengajar dan berjuang menyampaikan dakwah Allah , namun walaupun demikian beliau telah mengetahuinya melalui ru’yah yang merupakan karamah yang telah Allah berikan kepadanya, sebagaimana yang telah dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad di Thabaqat dengan sanadnya dari Abu musa (lih. Hayatu As- Shohabah juz; 3 hal; 666).

 

  • Tahun 23 H / 645 M  –  Tahun  35 H / 657 M, masa kekhalifahan Ustman

Setelah dibai’atnya khalifah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, beliau mennetapkan Abu Musa sebagai wali di Bashrah selama 6 tahun, setelah lepas dari amanat  beliau mengundurkan diri dan dipindah ke Kuffah.

 

Di masa kahlifah Ali ini banyak sekali cobaan-cobaan fitnah dan tantangan yang ia hadapi dalam menyampaikan syariat dan risalah Ilahi hingga masa kekhalifahan Ali radhiyallahu ‘anhu dan berakhir pada akhir hayatnya yaitu pada masa pemerintahan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu.

Pada waktu terjadi fitnah dan perselisihan antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan sahabat Muawwiyah, Abu Musa memiliki sejumlah pandangan.

Dan mungkin pokok pembicaraan kita sekarang ini akan dapat mengungkapkan prinsip hidupnya yang paling terkenal yaitu pendiriannya dalam tahkim, pengadilan atau penyelesaian sengketa antara Khalifah Ali bin Abi Thalib. dengan sahabat Muawwiyah,

Tahkim

Pendiriannya ini sering dikemukakan sebagai saksi dan bukti atas kebaikan hatinya yang berlebihan, hingga menjadi makanan empuk bagi orang yang menipudayakannya. Tetapi sebagaimana akan kita lihat kelak, pendirian ini walaupun mungkin agak tergesa-gesa dan terdapat padanya kecerobohan, hanyalah mengungkapkan kebesaran sahabat yang mulia ini, baik kebesaran jiwa dan kebesaran keimanannya kepada yang haq serta kepercayaannya terhadap sesama kawan ….

Pendapat Abu Musa mengenai soal tahkim ini dapat kita  simpulkan sebagai berikut: —

  • memperhatikan adanya peperangan sesama Kaum Muslimin, dan
  • adanya gejala masing-masing mempertahankan pemimpin dan kepala pemerintahannya,
  • suasana antara kedua belah pihak sudah melantur sedemikian jauh serta teramat gawat menyebabkan nasib seluruh ummat Islam telah berada di tepi jurang yang amat dalam,
  • maka menurut Abu Musa , suasana ini dapat  diubah dan dirombak secara keseluruhan… !

Sesungguhnya perang saudara yang terjadi ketika itu, hanya berkisar pada pribadi kepala negara atau khalifah yang diperebutkan oleh dua golongan Kaum Muslimin. Maka pemecahannya ialah hendaklah Khalifah Ali bin Abi Thalib meletakkan jabatannya untuk sementara waktu, begitu pula sahabat Muawwiyah juga harus turun, kemudian urusan diserahkan lagi  kepada Kaum Muslimin yang dengan jalan musyawarat akan memilih khalifah yang mereka kehendaki.

Demikianlah analisa Abu Musa ini mengenai kasus tersebut, dan demikian pula cara pemecahannya … ! Benar bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu telah diangkat menjadi khalifah secara sah. Dan benar pula bahwa pembangkangan yang tidak beralasan, tidak dapat dibiarkan mencapai maksudnya untuk menggugurkan yang haq yang diakui syari’at … ! Hanya menurut Abu Musa, pertikaian sekarang ini telah menjadi pertikaian antara penduduk Irak dan penduduk Syria, yang memerlukan pemikiran dan pemecahan dengan cara baru ,karena pengkhianatan Muawwiyah sekarang ini telah menjadi pembangkangan penduduk Syria, sehingga semua pertikaian itu tidaklah hanya pertikaian dalam pendapat dan pilihan saja.

Tetapi kesemuanya itu telah berlarut-larut menjadi perang saudara dahsyat yang telah meminta ribuan korban dari kedua belah pihak, dan masih mengancam Islam dan Kaum Muslimin dengan akibat yang lebih parah!

Maka melenyapkan sebab-sebab pertikaian dan peperangan serta menghindarkan benih-benih dan biang keladinya, bagi Abu Musa merupakan titik tolak untuk mencapai penyelesaian … !

Pada mulanya, sesudah menerima rencana tahkim, Ali bin Abi Thalib bermaksud akan mengangkat  Abdullah bin Abbas atau shahabat lainnya sebagai wakil dari pihaknya. Tetapi golongan besar yang berpengaruh dari shahabat dan tentaranya memaksanya untuk memilih Abu Musa Al Asy’ari.

Alasan mereka karena Abu Musa tidak sedikit pun ikut campur dalam pertikaian antara Ali dan Muawwiyah sejak semula. Bahkan setelah ia putus asa membawa kedua belah pihak kepada saling pengertian, kepada perdamaian dan menghentikan peperangan, ia menjauhkan diri dari pihak-pihak yang bersengketa itu. Maka ditinjau dari segi ini, ia adalah orang yang paling tepat untuk melaksanakan tahkim.

Mengenai keimanan Abu Musa , begitupun tentang kejujuran dan ketulusannya, tak sedikit pun diragukan oleh Ali..
Hanya ia tahu betul maksud-maksud tertentu pihak lain dan pengandalan mereka kepada anggar lidah dan tipu muslihat.
Sedang Abu Musa , walaupun ia seorang yang ahli dan berilmu, tidak menyukai siasat anggar lidah dan tipu muslihat ini, serta ia ingin memperlakukan orang dengan kejujurannya dan bukan dengan kepintarannya. Karena itu Ali khawatir Abu Musa akan tertipu oleh orang-orang itu, dan tahkim hanya akan beralih rupa menjadi anggar lidah dari sebelah pihak yang akan tambah merusak keadaan … !

Dan tahkim antara kedua belah pihak itu pun mulailah ….

Abu Musa bertindak sebagai wakil dari pihak Imam Ali sedang Amru bin Ash sebagai wakil dari pihak Muawwiyah . Dan sesungguhnya ‘Amru bin Ash mengandalkan ketajaman otak dan kelihaiannya yang luar biasa untuk memenangkan pihak Mu’awiyah.

Pertemuan antara kedua orang wakil itu, yakni Abu Musa dan ‘Amr, didahului dengan diajukannya suatu usul yang dilontarkan oleh Abu Musa, yang maksudnya agar kedua hakim menyetujui dicalonkannya, bahkan dimaklumkannya Abdullah bin Umar sebagai khalifah Kaum Muslimin, karena tidak seorang pun di antara umumnya Kaum Muslimin yang tidak mencintai, menghormati dan memuliakannya.

Mendengar arah pembicaraan Abu Musa ini, Amru bin Ash pun melihat suatu kesempatan emas yang tak akan dibiarkannya berlalu begitu saja. Dan maksud usul dari Abu Musa ialah bahwa ia sudah tidak terikat lagi dengan pihak yang diwakilinya, yakni Khalifah Ali.  Artinya pula bahwa ia bersedia menyerahkan Khalifah kepada pihak lain dari kalangan shahabat-shahabat Rasul, dengan alasan bahwa ia telah mengusulkan Abdullah bin Umar ….

Demikianlah dengan kelicinannya,Amru bin Ashmenemukan pintu yang lebar untuk mencapai tujuannya, hingga ia tetap mengusulkan Mu’awiyah. Kemudian diusulkannya pula puteranya sendiri Abdullah bin ‘Amr yang memang mempunyai kedudukan tinggi di kalangan para shahabat Rasulullah saw.

Kecerdikan Amru bin Ash ini, terbaca oleh keahlian Abu Musa. Karena demi dilihatnya Amru bin Ash mengambil prinsip pencalonan itu sebagai dasar bagi perundingan dan tahkim, ia pun memutar kendali ke arah yang lebih aman. Secara tak terduga dinyatakannya kepada Amru bin Ash bahwa pemilihan khalifah itu adalah haq seluruh Kaum Muslimin, sedang Allah telah menetapkan bahwa segala urusan mereka hendaklah diperundingkan di antara mereka. Maka hendaklah soal pemilihan itu diserahkan hanya kepada mereka bersama.

Dan akan kita lihat nanti bagaimana Amru bin Ash menggunakan prinsip yang mulia ini untuk keuntungan pihak Mu’awiyah

Tetapi sebelum itu marilah kita dengar soal jawab yang bersejarah itu yang berlangsung antara Abu Musa dan Amru bin Ash di awal pertemuan mereka, yang kita nukil dari buku “Al-Akhbaruth Thiwal” buah tangan Abu Hanifah ad Dainawari sebagai berikut: — Abu Musa :

  • Hai ‘Amr! Apakah anda menginginkan kemaslahatan ummat dan ridla Allah …? Ujar ‘Amr: –
    — Apakah itu ?

  • Kita angkat Abdullah bin Umar. Ia tidak ikut campur sedikit pun dalam peperangan ini.
    — Dan anda, bagaimana pandangan anda terhadap Mu’awiyah…?

  • Tak ada tempat Mu’awiyah di sini …, dan tak ada haknya
    –Apakah anda tidak mengakui bahwa Utsman dibunuh secara aniaya…?

  • Benar!
    –Maka Mu’awiyah adalah wail dan penuntut darahnya, sedang kedudukan atau asal-usulnya di kalangan bangsa Quraisy sebagai telah anda ketahui pula. Jika ada yang mengatakan nanti kenapa ia diangkat untuk jabatan itu, padahal tak ada sangkut pautnya dulu, maka anda dapat memberikan alasan bahwa ia adalah wail darah Utsman, sedang Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa yang dibunuh secara aniaya, make Kami berikan kekuasaan kepada walinya I” Di samping itu ia adalah saudara Ummu Habibah, istri Nabi shallallahu alaihi wasalam juga salah seorang dari shahabatnya.

  • Takutilah Allah hai ‘Amr! Mengenai kemuliaan Mu’awiyah yang kamu katakan itu, seandainya khilafat dapat diperoleh dengan kemuliaan, maka orang yang paling berhaq terhadapnya ialah Abrahah bin Shabah, karena ia adalah keturunan raja-raja Yaman Attababiah yang menguasai bagian timur dan barat bumi. Kemudian, apa artinya kemuliaan Mu’awiyah dibanding dengan Ali bin Abi Thalib …? Adapun katamu bahwa Mu’awiyah wail Utsman, maka lebih utamalah daripadanya putera Utsman sendiri ‘Amr bin Utsman… ! Tetapi seandainya kamu bersedia mengikuti anjuranku, kita hidupkan kembali Sunnah dan kenangan Umar bin Khatthab dengan mengangkat puteranya Abdullah si Kyahi itu…!
    –Kalau begitu apa halangannya bila anda mengangkat puteraku Abdullah yang memiliki keutamaan dan keshalehan, begitupun lebih dulu hijrah dan bergaul dengan Nabi?

  • Puteramu memang seorang yang benar! Tetapi kamu telah menyeretnya ke lumpur peperangan ini! Maka baiklah kita serahkan saja kepada orang baik, putra dari orang baik ,yaitu Abdullah bin Umar … !
    — Wahai Abu Musa! Urusan ini tidak cocok baginya, karena pekerjaan ini hanya layak bagi laki-laki yang memiliki dua pasang geraham, yang satu untuk makan, sedang lainnya untuk memberi makan … !

  • Keterlaluan engkau wahai ‘Amr! Kaum Muslimin telah menyerahkan penyelesaian masalah ini kepada kita, setelah mereka berpanahan dan bertetakan pedang. Maka janganlah kita jerumuskan mereka itu kepada fitnah …!
    — Jadi bagaimana pendapat anda … ?

  • Pendapatku, kita tanggalkan jabatan khalifah itu dari kedua mereka — Ali dan Mu’awiyah — dan kita serahkan kepada permusyawaratan Kaum NIuslimin yang akan memilih siapa yang mereka sukai.
    — Ya, saya setuju dengan pendapat ini, karena di sanalah terletak keselamatan jiwa manusia .. !

Percakapan ini merubah sama sekali akan bentuk gambaranyang biasa kita bayangkan mengenai Abu Musa al-Asy’ari, setiap kita teringat akan peristiwa tahkim ini. Ternyata bahwa Abu Musa jauh sekali akan dapat dikatakan lengah atau lalai. Bahkan dalam soal jawab ini kepintarannya lebih menonjol dari kecerdikan ‘Amr bin ‘Ash yang terkenal licin dan lihai itu Maka tatkala ‘Amr hendak memaksa Abu Musa untuk menerima Mu’awiyah sebagai khalifah dengan alasan kebangsawanannya dalam suku Quraisy dan kedudukannya sebagai wall dari Utsman, datanglah jawaban dari Abu Musa, suatu jawaban gemilang dan tajam laksana mata pedang: — Seandainya khilafat itu berdasarkan kebangsawanan, maka Abrahah bin Shabbah seorang keturunan raja-raja, lebih utama dari Mu’awiyah….!

Dan jika berdasarkan sebagai wali dari darah Utsman dan pembela haknya, maka putera Utsman radhiallahu anhu . sendiri lebih utama menjadi wali dari Mu’awiyah …!

Setelah perundingan ini, kasus tahkim berlangsung menempuh jalan sepenuhnya menjadi tanggung jawab ‘Amr bin ‘Ash seorang diri …. Abu Musa telah melaksanakan tugasnya dengan mengembalikan urusan kepada ummat, yang akan memutuskan dan memilih khalifah mereka. Dan ‘Amr telah menyetujui dan mengakui tarikatnya dengan pendapat ini ….

Bagi Abu Musa tidak terpikir bahwa dalam suasana genting yang mengancam Islam dan Kaum Muslimin dengan mala petaka besar ini, ‘Amr masih akan bsrsiasat anggar lidah, bagaimana juga fanatiknya kepada Mu’awiyah … ! Ibnu Abbas telah memperingatkannya ketika ia kembalikepada mereka menyampaikan apa yang telah disetujui, jangan-jangan ‘Amr akan bersilat lidah, katanya: –

“Demi Allah, saya khawatir ‘Amr akan menipu anda! Jika telah tercapai persetujuan mengenai sesuatu antara anda berdua, maka silakanlah dulu ia berbicara, kemudian baru anda di belakangnya…. !”

Tetapi sebagai dikatakan tadi, melihat suasana demikian gawat dan penting, Abu Musa tak menduga ‘Amr akan main-main, hingga ia merasa yakin bahwa ‘Amr akan memenuhi apa yang telah mereka setujui bersama.

Keesokan harinya, kedua mereka pun bertemu mukalah …, Abu Musa mewakili pihak Imam Ali dan ‘Amr bin ‘Ash mewakili pihak Mu’awiyah.

Abu Musa mempersilakan ‘Amr untuk bicara, ia menolak, katanya: –
“Tak mungkin aku akan berbicara lebih dulu dari anda… ! Anda lebih utama daripadaku, lebih dulu hijrah dan lebih tua ‘”

Maka tampillah Abu Musa, lalu menghadap ke arah khalayak dari kedua belah pihak yang sedang duduk menunggu dengan berdebar, seraya katanya: –

“Wahai saudara sekalian! Kami telah meninjau sedalam-dalamnya mengenai hal ini yang akan dapat mengikat tail kasih sayang dan memperbaiki keadaan ummat ini, kami tidak melihat jalan yang lebih tepat daripada menanggalkan jabatan kedua tokoh ini, Ali dan Mu’awiyah, dan menyerahkannya kepada permusyawaratan ummat yang akan memilih siapa yang mereka kehendaki menjadi khalifah…. Dan sekarang, sesungguhnya saya telah menanggalkan Ali dan Mu’awiyah dari jabatan mereka …. Maka hadapilah urusan kalian ini dan angkatlah orang yang kalian sukai untuk menjadi khalifah kalian … !’

Sekarang tiba giliran ‘Amr untuk memaklumkan penurunan Mu’awiyah sebagaimana telah dilakukan Abu Musa terhadap Ail, untuk melaksanakan persetujuan yang telah dilakukannya kemarin.’Amr menaiki mimbar, lain katanya: “Wahai saudara sekalian! Abu Musa telah mengatakan apa yang telah sama kalian dengar, dan ia telah menanggalkan shahabatnya dari jabatannya Ketahuilah, bahwa saya juga telah menanggaIkan shahabatnya itu dari jabatannya sebagaimana dilakukannya, dan saya mengukuhkan shahabatku Mu’awiyah, karena ia adalah wali dari Amirul Mu’minin Utsman dan penuntut darahnya serta manusia yang lebih berhak dengan jabatannya ini … !”

Abu Musa tak tahan menghadapi kejadian yang tidak disangka-sangka itu. Ia mengeluarkan kata-kata sengit dan keras sebagai tamparan kepada ‘Amr. Kemudian ia kembali kepada sikap mengasingkan diri… , diayunnya langkah menuju Mekah . . , di dekat Baitul Haram, menghabiskan usia dan hari-harinya di sana.

Abu Musa radhiallahu anhu . adalah orang kepercayaan dan kesayangan Rasulullah shallallahu alaihi wasalam juga menjadi kepercayaan dan kesayangan para khalifah dan shahabat-shahabatnya . · · ·

Sewaktu Rasulullah shallallahu alaihi wasalam masih hidup, ia diangkatnya bersama Mu’adz bin Jabal sebagai penguasa di Yaman. Dan setelah Rasul wafat, ia kembali ke Madinah untuk memikul tanggung jawabnya dalam jihad besar yang sedang diterjuni oleh tentara Islam terhadap Persi dan Romawi.

Di masa Umar, Amirul Mu’minin mengangkatnya sebagai gubernur di Bashrah, sedang khalifah Utsman mengangkatnya menjadi gubernur di Kufah.

Abu Musa termasuk ahli al-Quran menghafalnya, mendalami dan mengamalkannya. Di antara ucapan-ucapannya yang memberikan bimbingan mengenai al-Quran itu ialah:

“Ikutilah al-Quran … dan jangan kalian berharap akan diikuti oleh al-Quran…!”

Ia juga termasuk ahli ibadah yang tabah. Waktu-waktu siang di musim panas, yang panasnya menyesak nafas, amat dirindukan kedatangannya oleh Abu Musa, dengan tujuan akan shaum padanya, katanya: –

“Semoga rasa haus di panas terik ini akan menjadi pelepas dahaga bagi kita di hari qiamat nanti … !”

Dan pada suatu hari yang lembut, ajal pun datang menyambut …. Wajah menyinarkan cahaya cemerlang, wajah seorang yang mengharapkan rahmat serta pahala Allah ar-Rahman.

Kalimat yang selalu diulang-ulang, dan menjadi buah bibimya, sepanjang hayatnya yang diliputi keimanan itu, diulang dan menjadi buah bibirnya pula di saat ia hendak pergi berlalu ….

Kalimat-kalimat itu ialah: –
“Ya Allah, Engkaulah Maha Penyelamat, dan dari-Mu-lah kumohon Keselamatan’.

 

Wafatnya

Para ulama berbeda pendapat terhadap tahun wafatnya Abu Musa radhiyallahu ‘anhu. Kebanyakan dari perkataan mereka, tidak lebih dari tahun empat puluhan dari tahun hijrah, diantaranya pendapat Ibnu Al Atsir mengatakan, ”Abu Musa meninggal di Kufah, dan dikatakan di Makkah pada tahun 42 hijrah, dan dikatakan pada tahun 44 hijrah, pada waktu itu beliau berumur 63 tahun.” Sebagaimana Adz Dzahaby juga membenarkan bahwa beliau wafat pada bulan Dzulhijjah tahun 44 hijrah, Allahu A’lam.

Sebelum wafatnya beliau masih sempat memberikan peringatan dan nasehat buat anak-anak dan keluarganya agar selalu beriltizam terhadap sunnah Nabi . Dan merupakan suatu kemuliaan dari Allah terhadap keluarganya dengan menjadikan banyak dari anak-anak, cucu-cucu sampai pada keturunan-keturunannya menjadi ulama, qadhi dan perawi hadist, yang merupakan berkah dari do’a Rasulullah yang diterimanya dan berkah keikhlasannya.

 

 

Sahabat yang suaranya adalah seruling keluarga Nabi Daud ‘Alahissalam itu, wafat di Kuffah pada tahun 44 Hijriah.