بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Abu Lahab bin Abdul Muththalib  adalah paman Nabi Muhammad.  Ia juga iparnya Abu Sufyan bin Harb.

Abu Lahab adalah satu satunya paman nabi yang menyatakan secara terus terang kebenciannya akan ajaran Islam. Meski demikian ia tidak berani untuk membunuh Muhammad, keponakannya sendiri.  Namun kebenciannya akan Muhammad dan ajarannya diperlihatkan secara terang terangan.  Bukan hanya ia, istrinya Ummu Jamil, juga ikut membenci Muhammad.

Ummu Jamil dan saudara laki lakinya, Abu Sufyan bin Harb, juga sama sama membenci Islam. Dan mereka semua berada dalam satu kelompok yakni kelompok kaum Quraisy yang menentang Islam.

Semua anak anak Abu Lahab diperintahkan juga untuk ikut membenci sang paman,Muhammad SAW. Bahkan anaknya Utbah  dan Utaibah yang beristrikan anak anak Muhammad, diperintahkan untuk menceraikannya.

.


Nasab Abu Lahab

 

Tidak ada yang tahu nama asli Abu Lahab.  Orang hanya tahu bahwa  kunyahnya adalah Abdul Uzza atau  Abu Lahab yang artinya  bapak dari api yang berkobar, karena pipinya selalu merah atau seperti terbakar.

Ayahnya adalah Abdul Muththalib. Abdul Muththalib memiliki beberapa istri.

Dan ibunya Abu Lahab adalah  Lubna binti Hajir bin Abdu Manaf bin Dhathir bin Hubsyiyyah bin Salul bin Ka’ab bin Amr Al-Khuza’i.

Istrinya  adalah Ummu Jamil.

 


Tahun Kelahiran Abu Lahab

?

.


Tahun Wafatnya Abu Lahab

Abu Lahab bin ‘Abdul Muttalib meninggal tahun 624 M.

.


Silsilah Keluarga Abdul Muththalib

 

Abdul Muththalib memiliki beberapa istri :

  1. Samra’ binti Jundab bin _UJair bin Ri’ab bin Habib bin Suwa’ah bin Amir bin Sha’sha’ah bin Muawiyah bm Bakr bin Hawazin bin Mansur bin lkrimah.  Anak :
    1. Haris, anak anaknya nya yakni
  2. Lubna binti Hajir bin Abdu Manaf bin Dhathir bin Hubsyiyyah bin Salul bin Ka’ab bin Amr Al-Khuza’i.  Anak :
    1. Abu Lahab [ Abdul Uzza ], salah satu istrinya Ummu Jamil, anak :
  3. Takhmur binti Abd bin Qushai bin Kilab bin Muwah bm Kaab bin Luai bin Ghaub bin Fihr bm Malik bin An-Nadhr.  Anak :
    1. Shakhrah
  4. Fathimah binti Amr bin Aidz bin Imran bin Makhzum bin Yaqadhah bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Ah-Nahdr. Anak :
    1. Abu Thalib [ Abdu Manaf ], menikah dengan beberapa istri. Yang tercatat dalam sejarah adalah Fatimah binti Asad. Fatimah-lah yang ikut merawat Muhammad ketika beliau tinggal di rumah Abu Thalib.  Dengan Fatimah, Abu Thalib memiliki 6 anak :
    2. Zubair bin Abdul Muththalib.
    3. Abdullah. istri Aminah.  Anak :
    4. Arwah anak :
    5. Atiqah (tentang keislaman keduanya ini ada perselisihan); anaknya
      • Abdullah bin  Abu Umayyah bin’l-Mughira, jelas memusuhi Rasulullah.
    6. Ummu Hakim
    7. Barrah , dua putra Barrah ikut hijrah ke Habasyah, yakni
      • Abu Salamah dan
      • Abu Sabrah
    8. Umaimah  menikah dengan Jahsyi bin Ri`ab.  Anak  :
  5. Haulah binti Wuhaib bin Abdu Manat bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai. Haulah dinikahi bertepatan dengan menikahnya Abdullah dan Aminah.  Anak :
    1. Al Muqawwim,
    2. Hajl -yang digelari dengan gelar Al Ghaidaq karena kebaikannya yang banyak, dan hartanya yang melimpah-.
    3. Hamzah menikah dengan iparnya yakni Salma, saudaranya Ummu Fadhil, istri Abbas bin Abdul Muththalib.
    4. Shafiyyah Suami pertamanya adalah Al Harits bin Harb bin Umayyah. Setelah suaminya meninggal, ia menikah dengan Al Awwam bin Khuwalid bin Asad. Anak  :
      • Zubair bin Awwam [ Shafiyyah dan zubair menyatakan Islamannya dengan terang terangan ]
      • As Saaib bin Awwam
      • Abdul Ka’bah bin Awwam. 
  6. Shakhrah binti Abdun bin Imran bin Makhzum bfn Yaqadhah bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghaiib bin Fihr bin Malik bm An-Nadhr. Anak :
    1. Fathimah
  7. Nutailah binti Janab bin Kulaib bin Malik bin Amr bin Amir bin Zaid bin Manat bin Amir bin Sa’ad bin Al-Khazraj bin’l`aim A1-Lata bin An-Namir bin Qasith bin I-Iinbun bin Afsha bin Jadilah bin Asad bin Rabi’ah bin Nizar.  Anak :
    1. Dirar
    2. Abbas menikah dengan Ummu Fadhil, Anak :
      • Fadhl, dikuburkan di Baqi.
      • Abdullah
      • Qutsam bin Abbas
      • Ma’bad bin Abbas
      • Abdullah [ ? ]
      • Ummu Habibah
      • Ubaidillah bin Abbas

.


Anak anak Abu Lahab

Abu Lahab dikaruniai 5 anak.

Abu Lahab [ Abdul Uzza ], istrinya Ummu Jamil anak :

  1. Jamil
  2. Uzza atau Muattab
  3. Durrah
  4. Utbah menikah dengan  Ruqayyah
  5. Utaibah menikahi dengan Ummu Kultsum yang kemudian diceraikannya.

Semuanya masuk Islam kecuali Utaiba, yang meninggal dalam keadaan kafir. Utbah dan Jamil menyatakan keislaman di hari penaklukan kota Mekah. Sementara itu,

 

 


Kisah Abu Lahab

Sesungguhnya Abu Lahab adalah  orang yang paling gembira dengan kelahiran Rasulullah. Ketika berita tentang adik iparnya Aminah melahirkan bayi yang sehat dan indah, Abu Lahab  serta merta menyebarkan berita  gembira itu.

Sebagai wujud rasa gembiranya, ia memerdekakan budaknya Thuwaibah al Aslamiyyah, wanita dari bani Aslam.  Abdul Uzza  lalu menyuruh Thuwaibah untuk menyusui Nabi,  sementara Aminah mendapat ibu susu dari suku Badui.  Dengan penuh rasa syukur atas kemerdekaan dirinya, Thuwaibah menyusui Nabi dengan kasih sayang yang melimpah.  Dengan begitu,Thuwaibah menjadi ibu susu kedua bagi Rasulullah

Kelak, Thuwaibah kerap disebut ‘ibu’ oleh Rasulullah dan seluruh anak anak Thuwaibah menjadi saudara sesusu Rasulullah.
Tak hanya itu Abu Lahab, juga menyembelih beberapa ekor unta sebagai tanda kegembiraannya.  Tindakan Abu Lahab ini, bisa disebut sebagai aqiqah yang pertama dalam sejarah Islam.

Bahkan, dua  anak Abu Lahab dijodohkan dengan anak anak Muhammad [ sebelum Muhammad menerima wahyu ] . Yakni Utbah bin Abu Lahab menikah dengan Ruqayyah dan Utaibah bin Abu Lahab menikah dengan Ummu Kultsum.

Namun ketika Muhammad menerima wahyu, sirnalah seluruh rasa cinta dan kegembiraan Abu Lahab terhadap keponakannya itu. Abu Lahab tidak bisa menerima kebenaran yang dibawa Muhammad.  Gagasan tentang Islam yang menggantikan agama jahiliyah mereka sama sekali tidak menyenangkan hati Abu Lahab.  Apalagi kemudian sang keponakan memproklamirkan diri menjadi Utusan Allah, Nabi dan Rasul pemimpin umat manusia.

Tidak hanya Abu Lahab, istirnya Ummu Jamil juga menampilkan kedengkian dan kebencian terhadap Muhammad.  Itulah sebabnya, para menantu, anak anak Muhammad, tidak lagi mereka sayangi.  Padahal mereka belum lama melangsungkan pernikahan.  Usia pernikahan mereka masih muda, masih sekitar 3 tahun.

Setelah turunnya surat Al Lahab pada tahun ke 3 Bi’tsah,  Mereka memerintahkan  Utbah dan Utaibah untuk menceraikan Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

“Kepalaku dan kepala kalian haram bersentuhan jika kalian berdua tidak mentalak kedua putri Muhammad

Utbah merasa sangat berat untuk menceraikan isterinya Ruqayyah, karena dia sangat menyayangi isterinya itu.  Dikhabarkan Ruqayyah memiliki wajah yang cantik dan menyenangkan prilakunya.  Begitu juga sang adik Ummu Kultsum.  Namun sikap berbeda ditampilkan Utaibah, dia dengan senang hati menceraikan Ummu Kultsum, karena hatinya juga keras seperti hati ayahnya.

Selepas peristiwa itu, Utaibah menghantar puteri nabi Ummu Kultsum ke rumah sang sepupu yang menjadi mertuanya, Muhammad.   Pada kesempatan itulah konon Utaibah bahkan mengucapkan kata kata yang membuat hati Nabi terluka dan berduka.

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ ﴾ dan ﴿ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ

Kemudian dia mentalak Ummu Kultsum dan meludahi Nabi.

Dalam sebuah riwayat, disebutkan Rasulullah menahan marah mendengar kata kata sepupunya itu.  Lalu orang orang mengaitkan peristiwa itu dengan peristiwa kematian Utaibah .

Abu Lahab mendengar bahwa Nabi menahan amarah mendapat perlakuan dari Utaibah.  Waktu itu Utaibah akan melakukan misi dagang ke Syam. Abu Lahab berkata kepada pemimpin kafila :. “Muhammad itu mendoakan kehancuran anakku, saya takut dan merisaukan keselamatan dirinya dari doa tersebut. Berjanjilah kalian kepadaku untuk melindungi Utaibah dalam keadaan apa pun”

Di Sarqa, tempat yang masyhur di Yordania, mereka merasa letih dan sepakat untuk istirahat. Seperti yang dipesankan Abu Lahab, Utaibah ditempatkan di tengah, dikelilingi oleh mereka. Sementarasemua tidur lelap di tengah malam, seekor singa mendekati kerumunan itu. Sebagian dari mereka terbangun dan memberikan perlawanan, namun tetap saja tidak berhasil mengusirnya, hingga ia mendekati kepala Utaibah. Yakin akan kematiannya, Utaibah pun berkata, “Sesungguhnya Muhammad telah membunuhku, sementara dia di Mekah, dan saya di Syam”.
Kepala Utaibah terpisah dari tubuhnya oleh terkaman singa yang tidak mengenal iba dari seorang manusia bejat yang kehilangan nilai-nilai insani.

MasyaAllah … singa ini tahu misi sucinya. Dia tidak menerkam atau melukai siapapun dari mereka. Dia hanya mengincar target yang ditakdirkan.

Singa ini menjadi bukti ayat dari kebesaran Allah SWT dan keagungan Nabi-Nya Saw.  Bahwa Rasulullah akan  mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allah sendiri, Jibril, orang-orang beriman dan seluruh Malaikat.

Allah berfirman dalam Al Quran surat At Tahriim ayat 4 :

 إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ

……  dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.

Matinya Utaibah membuatkan Abu Lahab dan Ummu Jamil merasa sedih dan semakin meluapkan api kebencian terhadap Muhammad SAW.

 


Ummu Jamil, Istri Abu Lahab

 

Seringkali pada malam hari Ummu Jamil memanggul kayu yang berduri untuk diletakkan di jalan-jalan yang biasa dilalui Nabi. Sehingga bila Nabi lewat pada malam hari atau saat subuh, Nabi akan menginjak kayu yang berduri itu sehingga Nabi terluka. Ummu Jamil senang kalau Nabi  terluka karena menginjak kayu berduri.

Ummu Jamil juga suka mengadu domba dan memfitnah supaya orang-orang Mekah membenci Nabi.   Karena hal ini, ia dijuluki pembawa kayu bakar. Karena ia suka “membakar” emosi, mengadu domba, dan menimbulkan kebencian orang-orang Mekah pada agama baru itu, Islam.

Saat membawa kayu, Ummu Jamil mengikatnya dan melilitkan sebagian talinya pada lehernya. Inilah kebiasaan yang dilakukannya saat membawa kayu berduri untuk mencelakai Nabi. Perilaku buruk inilah yang akhirnya membawanya menemui ajalnya. Ummu Jamil meninggal karena tercekik tali yang digunakannya untuk membawa kayu.

Kelak di akhirat, ia akan disiksa juga dengan tali. Dinyatakan oleh Allah bahwa di neraka, leher Ummu Jamil diikat dengan tali dari api neraka jahannam.

Hal – hal di atas diterangkan oleh Allah dalam Al Quran surat Al Lahab yang terdiri dari 5 ayat.

 تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ 1

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

 مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ 2

Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan

3 سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

 وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ 4

Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.

 فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ 5

Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Surat ini menunjukkan mukjizat Al Quran, karena dengan tepat memprediksi hal hal yang belum terjadi saat surat ini diturunkan. Telah dinyatakan bahwa Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil termasuk seorang yang celaka. Maka memang sampai akhir hayatnya, mereka tidak pernah beriman kepada Allah dan Rasulullah, meskipun Rasulullah, selalu mengajak mereka untuk beriman.

Saat surat Al Lahab diturunkan, Ummu Jamil  amat marah karena merasa terhina. Ia mendatangi Abu Bakar dan menanyakan di manakah Muhammad. Ummu Jamil marah  marah di depan Abu Bakar sambil membawa batu dan mengancam akan melakukan berbagai hal buruk pada Muhammad.

Ummu Jamil menanyakan di manakah Muhammad, padahal saat itu Nabi sedang duduk tepat di samping Abu Bakar. Ummu Jamil tidak dapat melihat Nabi karena penglihatannya ditutup oleh Allah sehingga ia hanya melihat Abu Bakar. Padahal Nabi sedang duduk di samping Abu Bakar.

Abu Bakar heran kenapa Ummu Jamil menanyakan dimana Nabi (padahal berada di sampingnya), maka Abu Bakar bertanya apakah Ummu Jamil hanya melihat Abu Bakar dan tidak melihat orang lain di sampingnya? Maka Ummu Jamil bertambah marah karena merasa diolok-olok oleh Abu Bakar seraya menjawab “Apakah engkau bermaksud menghinaku? Aku tidak melihat siapa – siapa selain kau!” Inilah salah satu mukjizat Nabi.  Adalah mudah sekali bagi  Allah melakukan hal ini.

 


 Kisah Abu Lahab, Undangan Makan dan Bukit Safa

 

Tiga tahun setelah nubuwah, 612 Masehi, akhirnya Rasulullah Saw mendapat izin Allah SWT untuk memperdengarkan dakwah Islam secara terang dan meluas.  Perintah Allah datang supaya ia mengumumkan ajaran yang masih disembunyikan itu, agar disampaikan secara terang terangan.

Ketika itu wahyu datang, Al Quran surat Asy Syu’araa ayat  214 – 216 :

 وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ 214

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat

215 وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.

فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ 216

Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”.

Kemudian, Al Quran surat  Al Hijr  ayat 94 :

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ 94

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.

Muhammad pun mengundang makan keluarga-keluarga itu ke rumahnya, dicobanya bicara dengan mereka dan mengajak mereka kepada Allah. Tetapi Abu Talib, pamannya, menyetop pembicaraan itu. Ia mengajak orang-orang pergi meninggalkan tempat. Keesokan harinya sekali lagi Muhammad mengundang mereka.

Selesai makan, Muhammad berkata kepada mereka: “Saya tidak melihat ada seorang manusia di kalangan Arab ini dapat membawakan sesuatu ke tengah tengah mereka lebih baik dari yang saya bawakan kepada kamu sekalian ini. Kubawakan kepada kamu dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan telah menyuruh aku mengajak kamu sekalian. Siapa di antara kamu ini yang mau mendukungku dalam hal ini?”

Mereka semua menolak, dan sudah bersiap-siap akan meninggalkannya. Tetapi tiba-tiba Ali bangkit – ketika itu usianya 15 tahun. “Rasulullah, saya akan membantumu,” katanya. “Saya akan lawan siapa saja yang kau tentang.”

Banu Hasyim tersenyum, dan ada pula yang tertawa terbahak-bahak. Mata mereka berpindah-pindah dari Abu Talib kepada anaknya. Kemudian mereka semua pergi meninggalkannya dengan ejekan.

♥♥♥

Perjuangan harus berlanjut.  Walau pun tidak mendapat hasil yang diinginkannya dari jamuan makan tersebut, Rasulullah tidak berputus asa.  Ia tahu, peristiwa kemarin hanya sebagian kecil dari ujian yang akan dihadapinya dalam menjalankan misi ini.  Kini ia memikirkan cara lain yang efektif dan efisien.  Karena kali ini sasarannya tidaklagi hanya kaum kerabat dekatnya.  Tetapi jangkauannya harus diperluas lagi.  Yakni seluruh penduduk Mekah.

Dan cara yang paling tepat dan jitu untuk melaksanakan hal itu adalah membicarakannya dari atas sebuah bukit.  Seperti kebiasaan yang terjadi selama ini pada bangsa Arab.  Mereka biasa berteriak diatas sebuah bukit bila ingin memberi pengumuman atau sekedar membaca syair-syair.

Maka, mulailah Rasulullah yang pemalu itu mendaki sebuah bukit kecil yang bernama Safa.  Berteriaklah Rasulullah memanggil-manggil bangsa Arab dengan suara lantang.

“Ya shabahah! Ya Shabahah!”

Inilah teriakan yang sangat dikenal oleh orang Arab dan sangat memberi pengaruh orang-orang yang mendengarnya.  Teriakan yang dikumandangkan bila ada bahaya, misalnya musuh yang datang menyerang, padahal mereka sedang lengah.  Maka, demi mendengar teriakan ini tak ada seorang Quraisy pun yang datang terlambat. Apalagi demi yang dilihatnya berteriak adalah seseorang yang baru saja mengaku sebagai nabi.  Dan ia membawa agama baru yang aneh. Teriakkan Rasulullah , tentu saja mengusik keingin tahuan orang-orang.  Setelah sekian lama informasi tentang agama baru ini Cuma datang sepotong-sepotong, orang jadi ingin tahu apa yang ingin dikatakan Rasulullah. Semua berbondong-bondong menyemut di bawah kaki bukit Safa.

“Hai masyarakat Quraisy.”   Dan orang Quraisy itu lalu membalas: “Muhammad bicara dari atas Safa”  “Ada apa?”

“Bagaimana pendapatmu sekalian kalau kuberitahukan kamu, bahwa pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda. Percayakah kamu?”

Sesungguhnya inilah pertanyaan yang sangat tepat untuk langsung menggiring opini massa bahwa Rasul adalah pembawa berita yang benar.  Karena reputasi Rasulullah begitu kuat sehingga opini itu akan segera terbentuk. Bahwa apa yang akan dikatakan Rasul adalah kebenaran.

“Ya,” jawab mereka. “Engkau tidak pernah disangsikan. Belum pernah kami melihat engkau berdusta.”

Muhammad yang mereka kenal sebagai Al Amin telah teruji kejujuran, amanah dan akhlaknya.  Itu sebabnya secara spontan mereka mengiyakan pertanyaan Rasul.

“Maka ketahuilah, wahai bangsa Quraisy..  Bahwa aku adalah pemberi peringatan kepada kalian, tentang adanya adzab yang teramat pedih”  ucap Muhammad.

Mendengar kata-kata yang cukup mengejutkan itu, orang-orang menjadi terdiam.

“Aku mengingatkan kamu sekalian, sebelum menghadapi siksa yang sungguh berat,” katanya, “Banu Abd’l-Muttalib, Banu Abd Manaf, Banu Zuhra, Banu Taim, Banu Makhzum dan Banu Asad.   Allah memerintahkan aku memberi peringatan kepada keluarga keluargaku terdekat. Baik untuk kehidupan dunia atau akhirat. Tak ada sesuatu bahagian atau keuntungan yang dapat kuberikan kepada kamu, selain kamu ucapkan: Tak ada tuhan selain Allah”.

Kemudian Abu Lahab, sang paman yang berbadan gemuk dan cepat naik darah, datang  berdiri sambil berteriak :

“Celakalah bagimu Muhammad ! Apakah hanya untuk ini saja kamu kumpulkan kami semua!”

Muhammad tak dapat bicara. Dilihatnya pamannya itu.  Muhammad tidak melanjutkan pembicaraan. Karena memang menentang atau memberi nasihat kepada orang yang sedang marah tidaklah akan dapat membuatnya menjadi sadar, bahkan sebaliknya akan bertambah marah. Kemudian Abu Lahab kembali berkata:

“Sama sekali belum pernah aku melihat seorang yang datang pada keturunan orang tuanya dan kaumnya yang lebih keji daripada apa yang engkau datangkan itu”.

Saat itu Rasulullah tetap tenang, tidak terpancing sedikit pun.  Sikap ini malah memancing kemarahan Abu Lahab lebih dasyat. Emosinya telah menutupi akalnya.  Kata-katanya mulai tak terkendali.

Pada saat itulah,  turunlah  wahyu  Allah, kepada Rasulullah seperti yang tertera dalam Al Quran surat Al Lahab yang terdiri dari 5 ayat.

 تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ 1

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. .

Abu Lahab semakin dikuasai amarah dan melanjutkan caci makinya:

“Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar, maka aku akan menebusnya dengan harta bendaku dan anakku”.

 مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ 2

Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan

Abu Lahab terus berteriak-teriak dan menyuruh orang-orang untuk pergi. Abu Lahab, sang paman adalah salah satu penguasa kota Mekah yang terkenal bengis.  Kekayaan dan kekuasaannya cukup membuat orang-orang merasa takut.  Satu persatu orang-orang itu pergi meninggalkan tempat.

Rasulullah pun menghentikan dakwahnya, saat itu juga.  Hatinya sungguh sedih karena yang menghalangi dan menyuruh orang-orang  Quraisy untuk menjauh adalah pamannya sendiri, dari keluarga terdekatnya, Abu Lahab

3 سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

 وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ 4

Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.

 فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ 5

Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Abu Lahab ketika itu tidak sendiri, ada lagi kawan setianya Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahal, Walid bin Mughirah Al-Makhzumi, ‘Ash bin Wail As-Sahmi, Amru bin Hisyam, Abdul Azza, Nadhar bin Harits, Uqbah bin Abi Mui’th, Ubay bin Khalaf, Umayyah bin Khalaf, dan lain-lain.

Namun kemarahan Abu Lahab dan sikap permusuhan kalangan Quraisy yang lain tidak dapat merintangi tersebarnya dakwah Islam di kalangan penduduk Mekah itu. Setiap hari niscaya akan ada saja orang yang Islam – menyerahkan diri kepada Allah. Lebih-lebih mereka yang tidak terpesona oleh pengaruh dunia perdagangan untuk sekedar melepaskan renungan akan apa yang telah diserukan kepada mereka.

Mereka sudah melihat Muhammad yang berkecukupan, baik dari harta Khadijah atau hartanya sendiri. Tidak dipedulikannya harta itu, juga tidak akan memperbanyaknya lagi. Ia mengajak orang hidup dalam kasih-sayang, dengan lemah-lembut, dalam kemesraan dan tasamuh (lapang dada, toleransi). Ya, bahkan dia yang menerima wahyu menyebutkan, bahwa memupuk-mupuk kekayaan adalah suatu kutukan terhadap jiwa

 


Titik-titik kehancuran Abu Lahab:

    • Ringan tangan menyakiti Rasulullah Saw.
    • Bukan hanya dirinya yang memerangi Rasulullah Saw, ia pun melibatkan istri dan anak-anaknya. Satu keluarga telah terlibat.
    • Siap bekerjasama dengan siapapun demi menghabisi Rasulullah Saw, meski itu dengan setan sekalipun.
    • Baginya semua remeh dan enteng selagi itu untuk memerangi Rasulullah Saw, meski semua harta harus terbang melayang pergi.
    • Suara iman yang mengetuk hati diingkari, hanya karena keangkuhan dan kesombongan diri.
    • Karena kesombongan diri, ia melihat hina dirinya jika duduk bersama dengan orang-orang fakir miskin dari kalangan muaallaf sahabat.
    • Sejak beduk perang ditabur, ia tidak pernah insaf dan bertobat hingga mati dalam keadaan mengerikan.
    • Muamalah terburuk yang ditampilkan Abu Lahab terhadap hamba terbaik Allah SWT merupakan biang utama kehancuran dirinya.

Karena ikhtiar sesat Abu Lahab yang lebih memilih kekufuran, apa pun yang disuguhkan dan dinasehatkan tidak akan berguna.

Dengan turunnya Al Quran surat Al Lahab  atau Al Masad, 12 tahun sebelum Abu Lahab meninggal, pintu hidayah telah tertutup baginya. Ia tidak lain kecuali jasad yang kehilangan ruh.

﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ﴿١﴾ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ ﴿٢﴾ سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ ﴿٣﴾ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ ﴿٤﴾ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ ﴿٥﴾

Seperti yang diketahui, tangan salah satu anggota tubuh yang punya peranan besar dari terciptanya peradaban manusia sepanjang sejarah. Tanpa tangan, tidak mungkin ada peradaban, meski manusianya memiliki segudang teori spektakuler.

Di ayat pertama Al Quran surat Al Lahab, Abu Lahab disebut Al Quran sebagai orang yang kehilangan tangan peradaban dengan

 تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ 1

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. .

Sementara itu, kehancuran orang-orang kafir di Al Quran surat Abasa  ayat 17 dilukiskan dengan :

قُتِلَ الإنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ 17

Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?

 Kebinasaan mereka disuarakan dengan kata

«قٌتِلَ»

yang arti harfiahnya, “terbunuhlah.”

.
Kebiadaban pertama tangan Abu Lahab yang tidak manusiawi:

Thariq bin Abdullah al Muharibi menceritakan sebuah kisah menarik sebelum keislamannya, “suatu ketika saya melihat dua orang lelaki di Mekah. Yang pertama berlari dan menggemakan dakwah ketuhanan, “Wahai manusia, katakanlah, “Tiada Tuhan selain Allah!  Keuntungan dan kejayaan memihak Anda.”

Di belakangnya, seorang lelaki sedang mengejar dan berkata,

“Kalian jangan percaya, dia itu pendusta besar.”
“Saya pun bertanya, “siapa yang pertama dan yang kedua.” Tanya Thariq bin Abdullah al Muharibi
“Yang pertama itu Muhammad. Dia menganggap dirinya sebagai nabi yang diutus dari langit.” Jawab mereka.
“Yang kedua itu, siapa”” Tanya Thâriq.
“Itu pamannya, Abu Lahab yang selalu menteror dan menyakitinya.”

.
Tahukah Anda seperti apa pesan kemanusiaan dari kebejatan Abu Lahab di sini?

Dia seperti berpesan, “Wahai manusia, saya saja pamannya, orang terdekat dan paling tahu siapa dia, mendustai dakwahnya. Saya menyikapinya seperti orang yang sedang melempar Jumrah yang merupakan simbol peperangan manusia dengan setan. Olehnya itu, Anda tidak perlu lagi ragu dari sikap saya ini. Jika saya yang lebih banyak tahu tentang dirinya telah mendustai dakwahnya, Anda pun seyogianya melakukan hal yang sama. Seperti itulah logika kebenaran.”
Yah, jika orang asing yang mendustai, itu hal biasa dan wajar. Namun jika orang terdekat yang mendustai, itu hal aneh dan jarang dijumpai. Artinya, Al Quran surat Al Lahab melihat keanehan ini sebagai keanehan yang lahir dari sifat kemanusiaan Abu Lahab yang tidak wajar dan lumrah.

.
Kejahatan kedua tangan Abu Lahab yang biadab

Di setiap ambang fajar, Abu Lahab meletakkan kotoran manusia di pintu Rasulullah Saw. Dia berharap Rasulullah Saw mengurungkan niat dan menutup kembali pintunya untuk tidak menyebarluaskan dakwahnya.  Setelah psikologisnya diusik dengan tingkah laku yang menyebalkan seperti ini.
“Di manakah hak hak tetangga wahai Bani Abdul Muttalib? Seperti inikah Anda memuliakan tetangga?”

Hamzah yang belum juga mengislamkan diri mendengar perkataan ini, menemukan gejolak di hatinya yang mencoreng kehormatan Bani Abdul Muttalib, ia pun mengambil kembali kotoran itu dan meletakkan di atas kepala Abu Lahab

Di riwayat lain, Abu Lahab memukul kepala Hamzah dengan gagang senjata.
“Sesungguhnya saudara saya ini telah gila.” Tegas Abu Lahab yang tidak menerima perlakuan seperti ini dari Hamzah.
“Bagaimana mungkin Hamzah memenangkan Muhammad yang berlawanan keyakinan dengannya atas saya yang seakidah dengannya.” Monolog hati Abu Lahab yang diterpa kejanggalan hebat dari tingkah laku aneh Hamzah.
Yah, meskipun Hamzah belum memeluk Islam pada saat itu, tetapi ia dengan fitrah dan akal sehatnya melihat kebiadaban perbuatan Abu Lahab yang tidak berperadaban telah mencoreng kehormatan Bani Abdul Muttalib.

.
Kebencian dan permusuhan yang sistematis dan berencana dari keluarga Abu Lahab

Bukan hanya Abu Lahab  sendiri yang terlibat di perang ini, namun ia melibatkan juga anak-anak dan istrinya. Satu keluarga telah dilibatkan oleh tangan biadab Abu Lahab, meskipun akhirnya tiga orang dari anak-anaknya mengislamkan diri di kemudian hari.

Anak anak Abu Lahab dan Ummu Jamil :

  1. Jamil
  2. Uzza atau Muattab
  3. Durrah
  4. Utbah menikah dengan  Ruqayyah
  5. Utaibah menikahi dengan Ummu Kultsum yang kemudian diceraikannya.

Semuanya masuk Islam kecuali Utaibah yang mati diterkam singa dalam keadaan kafir.  Utbah dan Muattab menyatakan keislaman di hari penaklukan kota Mekah.

Cara apa pun ditempuhnya, selagi itu dapat menyakiti Muhammad, meski dengan bantuan setan sekalipun

.
Pada hakikatnya, Abu Lahab seorang yang penakut. Di perang Badar, ia tidak melibatkan diri karena takut mati. Namun, di kepalanya “menghabisi Muhammad” tetap menghantui. Karena itu, ia menyewa al Ash bin Hisyam bin al Mugirah untuk membunuh Muhammad Saw dengan 4.000 Dirham. Namun misi itu gagal.
Mendengar kemenangan mujahidin Islam di perang Badar,  Abu Lahab jatuh sakit dan dijangkiti penyakit bisul atau sejenis cacar yang menyebabkan kematiannya.

Di riwayat lain, penyakit anehnya ini disebabkan oleh bekas pukulan Ummu al Fadhl yang melukai bagian kepalanya dengan tiang balok. Dia melampiaskan dendam atas penganiayaan Abu Lahab yang menampar muka Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muttalib setelah kecewa mendengar darinya berita kemenangan Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya.

Kematian Abu Lahab Yang Mengenaskan

Mayat Abu Lahab selama 3 hari 3 malam terlantar. Semua orang jijik dari bau busuk yang menyengat dari jasadnya. Olehnya itu, tidak seorangpun yang berani mengurusnya, apa lagi menguburkannya, termasuk putra-putranya. Ia pun dibungkus dengan kain dan dibawa pergi ke sebuah tempat yang agak terisolir dari perkampungan, kemudian dilempar dengan batu hingga tubuhnya terkubur dan tidak kelihatan oleh tumpukan batu tersebut.
Di samping itu, azab api neraka yang menyiksanya di hari pembalasan merupakan jenis azab yang paling pedih.  Api menyala-nyala yang langsung menyengat kulit dengan derajat panas sangat tinggi, di luar dari hitungan matematika, meski ada periwayatan yang memberikan pendekatan kalkulasi terhadap derajat panas api neraka. Jika ayam bakar saja matang dan siap dicicipi meski tidak disentuh langsung dengan api, bagaimana denganAbu Lahab dan Ummu Jamil yang dilempar di tengah api neraka yang begitu panas? Bukan hanya tubuh kasatnya yang terbakar, abunya pun ikut terbakar sehingga tidak ada yang tersisa, kemudian dikembalikan lagi seperti semula untuk menerima azab yang serupa.

Olehnya itu, api yang menyiksanya disifati dengan api yang punya lidah menyala-nyala yang siap menerkam penghuni neraka, bukan dengan api Jahannam seperti di Q.S. At-Taubah (9): 35.Al Quran surat At Taubah ayat 35 :.

 يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لأنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”

 

Penyiksaan pedih ini dikisahkan dalam Al Quran surat Al Muddatstsir ayat :

 وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ 27

(Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu?

لا تُبْقِي وَلا تَذَ28

Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.

لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ 29

Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia.

30 عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).

Istri yang mesti dijaga dalam bingkai iman, justru diajak mengarungi lautan kekufuran yang sama.
Istri Abu Lahab dipanggil sehari-harinya dengan Ummu Jamil. Dia adalah Arwa binti Harb bin Umayyah, saudari Abu Sufyan. Dia dari kalangan bangsawan wanita-wanita Quraish.

Setelah mendengar surah ini, khususnya ayat keempat dan kelima, dia pun menyakini kehancuran dirinya sehingga keluar tidak sadar diri ke jalan dan berteriak, “oh, binasahlah aku, binasahlah aku. Sesungguhnya aku telah hancur.” Tegasnya.
« يَا وَيْلِيْ، يَا وَيْلِيْ، لَقَدْ هَلَكْتُ ».

.
Mungkin Anda bertanya, “apakah yang menyebabkan Ummu Jamil.menyakini kehancuran dirinya?”
Dengan fitrah bahasa yang kental dimilikinya sebagai orang Arab, ia tahu bahwa ﴿ وَامْرَأَتُهُ ﴾ yang huruf ta’nya (ت) berbaris dammah (ُ) beda dengan «وَامْرَأَتَهُ» yang huruf ta’nya (ت) berbaris fathah (َ).
﴿ وَامْرَأَتُهُ ﴾ menurut kaedah bahasa Arab diatafkan (diikutkan) hukumnya kepada ﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ﴾ baik secara harakat (pengucapan kata dengan baris-baris yang ada sesuai dengan kaedah ilmu nahwu) ataupun secara pemaknaan. Artinya, jika kehancuran Abu Lahab hal yang pasti, istrinya pun demikian, keduanya dalam takdir yang sama.

Lain halnya dengan «وَامْرَأَتَهُ» dengan baris fathah (َ) pada huruf ta’nya. Struktur ini dipola dalam bingkai pemberitaan sehingga hukum nahwunya pun dan pemaknaannya tidak mengikut kepada ﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ﴾. Seandainya ayat keempat ini datang dengan struktur ini, maka kehancuran istri Abu Lahab bukan hal yang pasti. Itu karena sifatnya hanyalah pemberitaan yang boleh saja terjadi ataupun tidak.

Karena itulah, Ummu Jamil. seperti himar yang lari terbirit-birit dari kejaran seekor singa galak. Ia menyakini kehancuran dirinya dari﴿ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ ﴿٤﴾ . Tentunya, keyakinan ini menyuarakan pengakuan tersirat terhadap kebenaran Al Quran dan dakwah Rasulullah Saw. Meskipun, Ummu Jamil tidak menyuarakan ini, tetapi konteks ucapannya setelah mendengar Surah ini dalil yang tidak terbantahkan terhadap pengakuan tersirat ini, meski disangkal dengan lidah kebohongan dan tingkah yang mengecoh.

Yang tidak kalah menarik, istrinya datang dengan kata ﴿ وَامْرَأَتُهُ ﴾ dan bukan «وَزَوْجُهُ ». Istri di masyarakat Arab sering dipanggil dengan kata zawjah « زَوْجَة » atau imraah « امْرَأَة ».

Namun zawjah lebih kental makna keakraban dan pertaliannya dari kata imraah. Karena zawjah sendiri seakar kata dengan zawj « زَوْج »yang artinya “suami”.

Hematnya, struktur﴿ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ ﴿٤﴾ mengisyaratkan keluarga Abu Lahab yang mengantongi seribu satu masalah.

Bukankah memerangi kebenaran Islam yang tidak mungkin terkalahkan sebuah masalah? Bukankah memadamkan api tauhid yang tidak mungkin padam sebuah masalah? Bukankah menggelar panggung kebencian dan dendam kepada penebar rahmat untuk seantero alam merupakan kegilaan semata yang pada dasarnya masalah yang paling besar? Bukankah setiap dari masalah ini merupakan pangkal dari lahirnya masalah-masalah bercabang yang sulit dipecahkan?

Olehnya itu, keluarga Abu Lahab diombang-ambing seribu satu yang pemecahannya hanya dengan berhenti memusuhi Islam dan menyatakan pengakuan terhadap kebenarannya seperti apa yang tersirat di hati kecil mereka.
Yang menguatkan kesimpulan ini istri Nabi Nuh As, Nabi Luth As dan Fir’aun yang datang di Alqur’an dengan kata imraah « امْرَأَة », dan bukan dengan kata zawjah « زَوْجَة ».

Yah, kedua istri Nabi Allah tersebut telah menghianati suami-suami mereka. Tentunya, ini merupakan masalah besar yang menjadi biang dari retaknya sebuah keluarga. Olehnya itu, Allah SWT melepas diri dari kedua istri tersebut dan terekod oleh Alqur’an sebagai salah satu penghuni neraka.

Demikian halnya dengan istri Fir’aun yang mendurhakai Fir’aun dan lebih memilih agama Islam yang disuarakan Nabi Musa As. Akhirnya, keluarga Fir’aun retak dan Fir’aun sendiri berniat menghabisi istrinya dengan melemparnya dari ketinggian gunung. Namun kemenangan berpihak kepada istrinya yang terekod Alqur’an sebagai istri yang dianugerahi rida dan surga Allah SWT dari mujahadah menentang kezaliman dan kekufuran.

Struktur ayat keempat dan kelima Surah ini seperti berpesan kepada semua keluarga muslim, “jika kalian ingin damai, bahagia dan sejahtera, ikutilah petunjuk agama ini dan jangan memeranginya seperti apa yang telah dilakukan keluarga Abu Lahab.”

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .