Abu Jahal adalah salah seorang pemimpin QuraisMekkah yang terkenal sadis dan bengis terhadap kaum muslim.

Nama asli  Abu Jahal adalah Amr bin Hisyam al Makhzuniy . Sedang nama  Abu Jahal artinya Bapak Kebodohan.   Nama Abu Jahal diberikan kepadanya karena ia tidak bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk dan antara yang benar dan yang bathil. Abu Jahal termasuk orang yang divonis masuk neraka jahanam.

Kunyahnya adalah Abu Hakam.

Permusuhannya yang amat keras terhadap kaum Muslim membuat banyak kaum muslim saat itu menjadi takut tak berdaya dan berharap segera diijinkan untuk hijrah ke Madinah.  Ia banyak menganiaia dan menyiksa kaum muslim.

Abu jahal termauk kelompok orang yang paling kejam dalam  mengolok-olok dan mengganggu Nabi Muhammad SAW, di kalangan kaum musrik Quraisy.

Ia memiliki anak yang memeluk agama Islam dan diyakini oleh umat Islam sebagai salah seorang syuhada, ia bernama Ikrimah.

 


Tahun Lahirnya Abu Jahal

Amr bin Hisyam diperkirakan lahir pada tahun 570 Masehi.  Sama dengan tahun kelahiran Rasulullah. Atau disebut juga Tahun Gajah.

 


Tahun Wafatnya Abu Jahal

 

Amr bin Hisyam mati terbunuh dalam Perang Badar, yang terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah atau 624 Masehi.  Abu Jahal telah di catat dalam Al Quran sebagai salah satu ahli Neraka Jahannam.

 


Kejahatan Abu Jahal

Diantara kejahatan Abu Jahal terhadap kaum islam adalah menyiksa Ibu  Ammar bin Yasir  [ Sumayyah binti Khayyath ]  hingga wafat.

Hal tersebut dilakukan karena Sumayyah tetap berpegang teguh kepada agama islam. Berbagai cara telah dilakukan oleh Abu Jahal untuk mencelakai bahkan mambunuh Nabi Muhammad SAW.

Abu Jahal pernah memerintahkan pengiku -pengikutnya untuk membuat sebuah lubang yang dalam. Di dalam lubang tersebut diisi benda-benda tajam seperti kayu yang runcing, kaca, besi baja dan sebagainya. Kemudian lubang itu ditutup untuk menjebak Nabi Muhammad SAW. Abu jahal berpura-pura sakit dan memerintahkan pengikutnya supaya memberi tahukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjenguknya. Nabi Muhammad SAW menjelang sampai di rumah Abu Jahal, Nabi SAW mendapat ilham dari Allah tentang kebohongan Abu Jahal kemudian berhenti dan berpaling untuk kembali kerumah. Abu Jahal terjatuh kedalam lubang tersebut dan merasa kesakitan karena menginjak benda-benda tajam yang ada didalamnya.

 


Orang Yang Dijamin Masuk Neraka: Amr bin Hisyam atau Abu Jahal

 

Saat Perang Badar

Abu Jahal terjebak dalam kebingungan yang sangat buruk dari apa yang dia lihat, dia berusaha membendung badai kekalahan yang menenggelamkan kaumnya. Maka dia berdiri sambil berteriak dalam keadaan geram dan sombong, “Demi Laata dan Uzza, kami tidak akan kembali hingga kami mengikat Muhammad beserta para sahabatnya dengan tali, dan janganlah seorang dari kalian merasa iba hanya dengan membunuh satu orang dari mereka. Berilah mereka pelajaran yang sebenarnya, hingga mereka tahu akibat perbuatan mereka menyelisihi agama kalin, dan membenci apa yang disembah oleh nenek moyang mereka.”

Lenyaplah teriakan itu ditelan lembah Badr, hanya saja penentangan dan kesengsaraannya menggambarkan kesombongan dan kecongkakan paling keji hingga nafas yang terakhir. Karena itu dia berperang membabi buta membabat apa yang di depannya. Kemudian dia terjun ke dalam kecamuk perang seraya berkata:

“Apa yang dilakukan oleh peperangan yang sengit ini terhadapku… Aku ibarat anak dua tahun, yang baru keluar giginya… Seperti inilah ibuku melahirkanku…”

Kaum musyrikin mengelilingi si jahat Abu Jahal seraya berkata, “Abul Hakam tidak bisa mengatasi keadaan.”

Mereka mengelilinginya hingga ia persis di tengah-tengah bagaikan pepohonan yang mengelilingi hutan, padahal alangkah cepatnya hutan itu lenyap seperti batang kurma yang lapuk, dan terkaparlah Abu Jahal pingsan nafasnya terengah-engah karena tusukan panah para pahlawan serta pedang-pedang mereka yang menebasnya. Kematian menunggu untuk meminum darahnya, dengan perantara tangan dua orang anak kecil dari Anshar, juga tangan orang-orang lemah yang merasakan seburuk-buruk penyiksaan dari Abu Jahal di Mekah.

INILAH FIRAUN-NYA UMMAT INI

Tatkala peperangan telah reda, kaum musyrikin lari dengan kekalahan. Kaum muslimin bergembira dengan apa yang dibukakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka, berupa kemenangan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau memperlihatkan pada kami apa yang diperbuat Abu Jahal?”

Maka Ibnu Mas’ud bergegas pergi, lalu dia mendapati Abu Jahal telah dipukuli oleh dua putra Afraa –Mu’awwidz dan Mu’adz– hingga, ia menjadi dingin. Ibnu Mas’ud mengambil jenggotnya seraya berkata, “Engkau Abu Jahal?”

Dia berkata, “Giliran siapa hari ini?’

Ibnu Mas’ud menjawab, “Allah dan Rasul-Nya, bukankah Allah telah menghinakanmu wahai musuh Allah?”

Abu Jahal berkata, “Apakah ada yang lebih hebat dari lelaki yang dibunuh kaumnya?”

Maka Abdullah membunuhnya, kemudian dia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Aku telah membunuhnya.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah yang tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia.” Beliau pun mengulang-ulang kalimat ini tiga kali. Kemudian bersabda, “Allahu Akbar segala puji bagi Allah, Maha benar janji-Nya, menolong hamba-Nya dan memporak-porandakan pasukan, pergi dan perlihatkanlah padaku.”

Maka kami bergegas pergi, lantas kuperlihatkan kepada Beliau, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Inilah Fir’aunnya umat ini.”

 

HIKMAH YANG AMAT BAIK

Allah telah menghendaki agar tidak mematikan Abu Jahal seketika, Allah menjadikannya terkapar dalam keadaan sadar dan paham, agar memperlihatkan pada kedua matanya apa yang membuat dia sampai ke derajat yang hina dan rendah, serta dipecundangi oleh orang yang dahulu ditindas dan dipecundangi oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Dia beridri di atas dada Abu Jahal menginjaknya dengan kedua kakinya serta menjambak jenggotnya, sebagai bentuk penghinaan, menghajarnya dengan pukulan, hingga sekuat tenaganya. Dia bersungguh-sungguh dalam membangkitkan amarah Abu Jahal, seraya mengabarkan bahwa kemenangan telah ditetapkan untuk pihak Islam, dan kekalahan serta aib juga kehinaan telah ditulis untuk orang yang berpihak kepada kaum musyrikin.

Demikianlah posisi orang yang terbuai lagi dungu, diterbangkan oleh kebodohannya, kesombongan, dosa, dan kekufurannya. Maka dia menjadi tumbal pasukan kafir. Mati dalam keadaan ditawan mengenaskan, menyedihkan dan menyayat hati serta tersiksa. Dia dibunuh oleh kedengkian yang hina sebelum dibunuh oleh pedang-pedang perkasa dari para pahlawan madrasah (sekolah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu indahnya bait Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu tatkala menggambarkan kelalaian Abu Jahal, akhir hidupnya, kedengkian, kebejatan dan pesimisnya dalam syair:

Allah telah melaknat kelompok yang menggiring mereka, seorang pembual dari golongan Bani Syij’i untuk memerangi Muhammad. Kesialan orang yang dilaknat, sejak dahulu dia membuat orang marah. Dengan keras dan jelas mencerca orang yang mendapat petunjuk. Dia menjuluki mereka pada kesesatan hingga menjadikannya runtuh. Dan sungguh, perkaranya menyesatkan tidak memberi petunjuk. Maka Rabb-ku menurunkan untuk Nabi pasukan-Nya dan menguatkannya dengan kemenangan di setiap peperangan.”

MUSUH YANG DIJELASKAN DENGAN NASH ALQURAN

Abu Jahal –semoga dilaknat Allah– semenjak kedatangan Islam merupakan orang yang dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-Nya, Rasu-Nya dan kaum muslimin. Dia dikenal sebagai orang yang paling benci dan musuh paling buruk bagi Nabi yang mulia.

Hal ini menjadi bukti kebenaran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Quran surat Al Furqan ayat 31:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong

 

Dengan demikian, orang yang berdosa lagi jelek ini berhak mendapat neraka sebagai balasan baginya dan orang yang semisalnya, karena dia orang yang tercela kepribadiannya, buruk gangguannya terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Referensi menyebutkan –sebagaimana kami jelaskan sebelumnya- bahwa ia orang berdosa pembunuh Sumayyah Ummu Ammar radhiyallahu ‘anhu, dialah pemilik tangan pengecut yang mematahkan anting-anting dari telinga Asma binti ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Tindakan ini menjadikan tercemar dari segi kejantanannya di tengah kaumnya dan dalam sejarah.

 

Menganiaia Wanita Yang Sedang Hamil Besar

Abu Jahal juga pernah menmapar dengan keras wanita yang sedang hamil besar.  Wanita yang pemberani itu adalah Asma binti Abu Bakar.

Ketika mengetahui bahwa Muhammad SAW dan Abu bakar telah pergi meninggalkan Mekah, maka seluruh kafir Quraisy menjadi berang dan berausaha mencari dimana mana.    Tak terkecuali Abu Jahal yang langsung mendatangi rumah Abu Bakar.  Dan di rumah itu, Abu Jahal bertemu dengan Asma.

Berkatalah Abu Jahal dengan suara membentak.  “Di mana Muhammad dan ayahmu?”
“Mengapa kau bertanya kepadaku?” balas Asma dengan suara tak kalah keras.  Ia sama sekali tidak menunjukkkan ketakutan atau gentar menghadapi Abu Jahal yang bengis itu.  Padahal saat itu ia sedang hamil besar.

“Sejak kapan seorang laki-laki Arab memberitahu kepada anaknya ke mana ia pergi. Bukankah Abu Bakar biasa berdagang ke banyak tempat tanpa memberitahuku?”

Mendengar jawaban ini Abu Jahal naik pitam.
“Di mana Muhammad dan ayahmu sekarang?”
“Bukankah sudah kujawab bahwa Abu Bakar bisa pergi ke mana saja. Apalagi Muhammad yang bukan ayahku,” jawab Asma membuat Abu Jahal tak tahan lagi.
“Plakkk!” pukulan keras mendarat di kepala Asma binti Abu Bakar.

Darah mengalir dari kepala wanita mulia itu. Anting-antingnya lepas. Asma mengaduh. Entah bagaimana rasa sakit seorang wanita hamil yang menderita seperti itu. Tetapi ia berhasil menjaga sebuah rahasia besar, menjaga amniyah, menjaga keselamatan Rasulullah dan keberlangsungan dakwah. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Asma terkait keberadaan Rasulullah dan Abu Bakar.

 

Gagal mengorek keterangan, Abu Jahal pun pergi dengan kemarahan yang tak kunjung reda. Dan sejarah mendatatnya sebagai orang yang hina. Sebab sebengis-bengisnya orang Arab, belum pernah ada yang memukul kepala seorang wanita merdeka. Tetapi kali ini Abu Jahal menghinakan dirinya sendiri.

 

Kafir Paling Bengis

Di antara sifat menjijikan, yang membuat Abu Jahal layak dinobatkan menjadi musuh bebuyutan dari musuh-musuh yang ada, adalah dia orang kafir paling keras kepala, paling menentang, dengki dengan kedengkian yang mencapai batas durhaka, kepribadian yang jelek, hati yang membatu, kasar, dengki, memusuhi Islam dan kaum muslimin.

Menodai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya dari Bani Abdi Manaf, semenjak Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih mereka sebagai pohon yang baik untuk tumbuhnya junjugan dan kekasih kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari asal mereka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya untuk mengemban risalah-Nya.

Dan diriwayatkan bahwa Abu Jahal –semoga dilaknat Allah– pernah berkata mengenai Nabi, “demi Allah, sesungguhnya aku tahu bahwa dia Nabi, akan tetapi sejak kapan kita tunduk mengikuti Abdi Manaf?”

“Kelak kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah.” (QS. Al Alaq: 18)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ayat ayat yang diturunkan berkenaan dengan Abu Jahal, sebanyak 84 ayat.”

Ayatayat ini merupakan peringatan dan ancaman bagi Abu Jahal berupa Neraka, ialah seburuk-buruk tempat kembali. Dan telah kita lalui sebagian ayat di lembaran yang telah lalu.

Berbagai referensi dan tafsir telah sepakat, buku kontemporer dan sejarah nabi, kitab Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), sejarah secara umum dan fiqih dan yang lainnya, semuanya menyebutkan Abu Jahal mendapat vonis masuk Neraka, berdasarkan Alquran al-Karim dan al-Hadis yang mulia.

Dan beragam riwayat yang terpercaya menyebutkan kabar-kabar tersebut, kami hanya penyambung lidah dalam salah satu riwayat yang memberitakan Abu Jahal akan disiksa di kerak Neraka yang paling bawah.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, lantas datanglah Abu Jahal seraya berkata, ‘Bukankah engkau telah kucegah dari melakukan hal ini?’ Kemudian ia menggertak Nabi, menghardik dan mengata-ngatai dengan keras serta mengancamnya.

Abu Jahal berkata, ‘Sesungguhnya engkau mengetahui, tidak ada yang lebih banyak pengikutnya dariku.’ –Dalam riwayat lain- ‘Akankah engkau menakut-nakutiku padahal akulah orang yang paling banyak pengikut di lembah ini?’

Dan Quran surat Al Alaq ayat 9 sampai 19 turun sebagai balasannya :

 أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى 9
عَبْدًا إِذَا صَلَّى 10
أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى 11
أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى 12
أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى 13
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى 14
كَلا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ 15
نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ 16
فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ 17
سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ 18
كَلا لا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ 19

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang
seorang hamba ketika dia mengerjakan salat, إِ
bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,
atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?
Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?
Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,
(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),
kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah,
sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan),

 

Yang dimaksud dengan orang yang hendak melarang itu ialah Abu Jahal, yang dilarang itu ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, akan tetapi usaha ini tidak berhasil. Karena Abu Jahal melihat sesuatu yang menakutkannya. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, disampaikan oleh seseorang tentang berita itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau Abu Jahal berbuat demikian pasti dia akan dibinasakan oleh Malaikat.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sekiranya dia menyeru golongannya, niscaya Malaikat akan menyiksanya saat itu juga.”

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan, bahwa Abu Jahal –semoga dilaknat Allah– termasuk penghuni Neraka. Dari Asy-Sya’bi rahimahullah bahwasanya seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya aku melewati Badr, lantas aku melihat seseorang keluar, muncul dari bumi, kemudian dia dipukul oleh orang lain dengan cambuk/tongkat besi, yang dipukulkan ke kepalanya hingga dia menghilang ditelan bumi. Kemudian dia keluar lagi dan dipukul seperti semula dan hal ini berulang-ulang.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah Abu Jahal bin Hisyam diadzab hingga hari kiamat.”

Demikianlah Abu Jahal –semoga dilaknat Allah– berhak mendapat gelar paling buruk dalam Islam, yang diungkapkan Kaum muslimin, disebabkan banyak gangguan yang mereka terima, serta kejelekan hal yang dirasakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, buruknya perkataan, juga buruknya gangguan. Dan inilah hasil buah tangannya, ia menjadi penghuni Neraka.

Itulah Abu Jahal dan itulah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa yang dikehendakin-Nya pasti terjadi, tanpa penghalang. Alangkah tepatnya perkataan:

“Wahai orang yang berpaling dari kami, karena sikapmu yang berpaling. Jika kami menghendaki niscaya kami jadikan setiap yang ada padamu kembali kepada kami.”

Setelah itu, apakah sejarah kemanusiaan mengenal orang yang lebih buruk dari Abu Jahal?!

Tergolong orang-orang yang berbuat dosa di Mekah adalah Umayyah bin Khalaf bin Wahab al-Jumahi al-Qurasyi, menonjol sebagai orang yang melampaui batas dalam sejarah, yaitu orang-orang yang perbuatannya merupakan kesengsaraan bagi mereka di dunia dan akhirat.

Umayyah bergabung dengan Quraisy, agar ikut andil dalam menghadang jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Subhanahu wa Ta’ala yang mulia. Dia tidak mendapati suatu jalan kekerasan melainkan ditempuhnya.

Tatkala Islam mulai menyebar di Mekah, orang-orang yang memiliki akal cerdas menerima kebenaran yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sementara Umayyah bin Khalaf tidak masuk Islam. Hatinya tidak terbuka, oleh cahaya yang menerangi Mekah, dia terjangkiti penyakit sebagaimana jiwa yang lalai. Bahkan dia berusaha ikut andil dalam menyiksa para sahabat Nabi yang mulia radhiyallahu ‘anhu, yaitu orang-orang yang berat cobannya lagi besar ujiannya.

Umayyah dan orang-orang Quraisy mengadzab dan memfitnah agama yang baru (Islam), memenjarakan orang-orangnya, memukul mereka, membuat mereka kelaparan dan kehausan, serta menimpakan penyiksaan yang dilihatnya dapat memalingkan dari agama mereka (tauhid), memurtadkan dari keyakinan tersebut kepada pengkultusan patung dan berbuat kufur sebagaimana para penyambah patung.

Di antara gambaran penyiksaan tersebut, adalah yang diriwayatkan Ibnu Ishaq rahimahullah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dari jalan Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Saya berkata kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Apakah orang-orang musyrikin mengadzab para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai pada derajat yang diberi tolerir jika mereka meninggalkan agamanya?”

Dia berkata, “Ya, mereka menyiksa salah seorang dari sahabat, membuatnya lapar dan dahaga, sehingga dia tidak mampu duduk sempurna disebabkan keadaan buruk yang menimpanya. Dia memberikan kepada mereka apa yang diminta, berupa fitnah sebagai tebusan pembebas siksa.”

Umayyah bin Khalaf –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyengsarakannya- termasuk salah seorang di antara orang-orang kafir yang berdosa, yang memiliki berbagai macam bentuk penyiksaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhu. Di antara orang yang sabar yang mencapai puncak keyakinan dalam tangga teratas Islam, tuan kita Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu petugas adzan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bilal radhiyallahu ‘anhu menampakkan pembelaan –terhadap agama dan keimanannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala– yang menjadikan Umayyah dan orang-orang yang bersamanya berdiri tercengang, seraya saling melaknat di antara sesama mereka. Umayyah ditimpa keputusasaan. Dia tidak mampu mengeluarkan dari mulut Bilal satu huruf pun yang sebanding dengan tindakan dan kekafirannya, atau Bilal melemah sedikit, meskipun hanya dengan isyarat, maka apa yang diperbuatnya? Apakah dia berhenti sebatas ini? Dan kedengkian serta kejahatannya. Mereka sangat bersemangat mencari sebab yang dapat membenarkan (menjustifikasi) mereka, untuk bertindak melampaui batas dan permusuhannya. Sebab-sebab kekerasan itu di antaranya, loyalitas mereka terhadap agama nenek moyang dengan cara kesetiaan yang buta, ketakutan mereka akan martabat mereka dan martabat suku Quraisy, yang percaya terhadap patung. Sebab ketiga –barangkali yang terpenting- yaitu kedengkian yang mengakar terhadap Bani Hasyim, khususnya terhadap Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkannya dengan kenabian tanpa menyertakan pemimpin siapa pun dari Quraisy yang terkenal di Ummul Qura dan sekitarnya.

Dengan hati yang bersih, jiwa yang bersinar dan tekad yang benar, Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu masuk Islam, untuk Sang Pencipta, dia beriman dengan seruan agama yang baru itu, dan pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia masuk Islam serta menyerahkan segala perkaranya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tak lama kemudian, tuannya Umayyah bin Khalaf mengetahui budaknya yang bernama Bilal, telah beriman keapda Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, para setan berkerumun di sekitar Umayyah, mengelus di atas dadanya, membisikkan kecongkakan dan angan. Umayyah bertanya-tanya, “Akankah masuk Islam seorang budak di antara budak-budak yang ada, tanpa sepengetahuan tuannya, sedangkan tuannya Bilal dan Umayyah?”

Umayyah melihat dengan kebodohan dan sikap terpedayanya, bahwa keislaman Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu sebagai budaknya mencoreng kemuliaannya dengan aib dan kehinaan di depan kelompok kaum Quraisy. Karena itu, jiwanya yang jelek membisikkan bahwa ia akan memaksa budaknya kembali dan meninggalkan Islam, apalagi ia mendengar Bilal telah meludahi patung-patung tersebut dan mencelanya dengan berkata, “Telah sengsara dan merugi orang-orang yang menyembah kalian.”

 


Abu Jahal dan Abu Dzar

Pada suatu kesempatan, Nabi bertemu dengan  Abu Jahal, di sebuah lorong kota Mekah. Pertemuan ini tidak disia-siakan oleh Rasulullah saw untuk mengajaknya menauhidkan Allah SWT. Beliau bersabda, “Wahai, Abu Hakam, marilah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku mengajakmu kepada Allah!”

Dengan ketus Abu Jahal menjawab, “Hai, Muhammad! Tidakkah kamu berhenti mencela tuhan-tuhan kami? Jika engkau melakukan ini agar kami bersaksi di hadapan Allah bahwa kamu adalah penyampai risalah, akan kami lakukan jika kamu memang benar! Karena itu, biarkanlah kami mengurus diri kami sendiri!”

Mendengar pernyataan Abu Jahal, Rasulullah saw berlalu meninggalkannya. Mughirah bin Shu’bah yang saat itu sedang bersama Abu Jahal bertanya tentang kerasulan Nabi Muhammad.

Abu Jahal menjawab, “Aku tahu bahwa dia adalah seorang nabi dan apa yang dikatakannya adalah kebenaran. Akan tetapi, kami bersaing dengan Bani Hasyim (keluarga Rasulullah saw) di segala sesuatu. Mereka membanggakan diri karena menyediakan makanan dan minuman bagi para peziarah. Jika di antara mereka ada yang menjadi nabi, mereka pasti akan membangga-banggakannya di hadapan kami. Jika demikian, tentu saja kami tidak mampu menyainginya.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Jahal pernah berkata, “Kami tidak pernah mendustakan engkau dan engkau bukanlah seorang pendusta. Namun, kami mendustakan apa yang engkau bawa.”

Pengakuan Abu Jahal terhadap kerasulan Muhammad pun diungkapkan Abu Dzar Al-Ghifari. Saat itu Abu Dzar belum memeluk Islam dan ia pun menjadi sahabat dekat Abu Jahal.

Keduanya dipersatukan dalam kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Setiap kali Abu Dzar datang ke kota Mekah, ia selalu membawa barang-barang dagangan yang akan ia jual melalui perantaraan Abu Jahal.

Alkisah diceritakan bahwa terjadi sesuatu di luar kebiasaan. Suatu ketika Abu Dzar datang ke Mekah tanpa membawa barang dagangan satu pun, termasuk uang perniagaan. Hal ini tentu saja membuat Abu Jahal heran. la pun bertanya kepada Abu Dzar, “Apakah kau membawa barang dagangan, hai sahabatku?”

Abu Dzar menjawab, “Seperti yang kaulihat, aku tidak membawa apa pun.”

“Apakah engkau membawa uang?” tanya Abu Jahal kembali.

“Tidak juga,” jawab Abu Dzar singkat.

Melihat ada sesuatu yang tidak biasa pada sahabatnya, Abu Jahal kembali bertanya, “Ada apa denganmu? Apa yang membuatmu datang jauh-jauh ke Mekah tanpa membawa barang dagangan atau uang? Adakah tujuanmu yang lain?”

Melihat kerisauan sahabatnya, Abu Dzar mencoba menenangkannya dengan menjawab, “Sahabatku Abu Jahal, kali ini kedatanganku bukan untuk mengadu untung dalam perdagangan.”

“Lantas untuk apa?” tanya Abu Jahal yang makin penasaran.

“Aku ingin bertemu dengan kemenakanmu.”

Jawaban Abu Dzar makin membingungkan Abu Jahal. Abu Jahal pun kembali bertanya, “Kemenakanku? Siapakah yang kaumaksud?”

Muhammad,” jawab Abu Dzar singkat.

Muhammad?” ulang Abu Jahal untuk meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.

“Ya. Kudengar dari beberapa sahabatku bahwa Muhammad, kemenakanmu itu telah diangkat menjadi seorang rasul. Engkau harus bangga mempunyai kemenakan semulia itu, sahabatku!” jelas Abu Dzar panjang lebar. Ia tidak tahu bahwa sang paman tidak menyukai risalah yang dibawa kemenakannya, Muhammad.

Abu Jahal yang tidak ingin Islam memengaruhi sahabatnya segera mencegah Abu Dzar untuk bertemu Rasulullah saw dan berkata, “Sahabatku, dengarkanlah aku jika kau ingin selamat, jangan kautemui dia! Sekali-kali jangan pernah kau menemui kemenakanku itu!”

“Mengapa kau berkata seperti itu?” tanya Abu Dzar Al-Ghifari heran.

Abu Jahal menjelaskan, “Kautahu, Muhammad itu sangat menarik. Ia sangat memesona. Sekali berjumpa dengannya, aku jamin kaupasti akan benar-benar terpikat dengannya. Wajahnya bersih, perkataannya berisi mutiara indah dan selalu benar. Perilakunya sangat lembut dan sopan membacakan wahyu. Semua kalimatnya menyentuh jiwa.”

Tentu saja jawaban Abu Jahal sangat berlawanan dengan sarannya untuk tidak menemui Rasulullah saw. Di satu sisi ia melarang Abu Dzar untuk bertemu kemenakannya, tetapi di sisi lain ia memberikan alasan yang baik-baik tentang Rasulullah saw.

Abu Dzar mengungkap keheranannya seraya berkata, “Aku tidak mengerti, tetapi apa itu berarti kau yakin dia seorang rasul?”

Abu Jahal langsung mengiyakan. Katanya, “Jelas. Mustahil rasanya jika ia bukan seorang rasul. Ia baik kepada semua orang tua dan muda, begitu pula budi pekerti dan akhlaknya sangat mulia. Satu hal lagi yang perlu kauketahui, ia sangat tabah menghadapi apa pun yang terjadi padanya. Ia mempunyai daya tarik yang hebat sekali.”

“Aku tidak habis mengerti terhadapmu, Abu Jahal sahabatku,” tandas Abu Dzar, “kaubilang bahwa kauyakin kemenakanmu itu adalah seorang rasul.”

“Yakin betul. Aku tidak pernah meragukannya sedikit pun,” tegas Abu Jahal.

“Apakah kaupercaya bahwa ia benar?” tanya Abu Dzar kembali.

“Lebih dari sekadar percaya,” Jawab Abu Jahal.

“Tapi engkau melarangku untuk menemuinya …,” tanya Abu Dzar masih dengan keheranan.

Abu Jahal menjawab “Begitulah ….”

“Lalu, apakah engkau mengikuti ajaran agamanya?”

Abu Jahal tersentak dengan pertanyaan sang sahabat. “Ulangi sekali lagi pertanyaanmu …,” pinta Abu Jahal.

“Apakah engkau mengikuti agamanya menjadi pemeluk Islam?” Abu Dzar kembali mengulangi pertanyaannya seperti permintaan Abu Jahal.

Tidak bisa mengelak, Abu Jahal berkilah, “Sahabatku, sampai kapan pun aku tetap Abu Jahal. Aku bukanlah orang gila. Aku masih waras. Berapa pun kaubayar aku, aku tidak akan menjadi pengikut Muhammad!”

Abu Jahal melanjutkan, “Meskipun aku yakin bahwa Muhammad itu benar, aku tetap akan melawan Muhammad sampai kapan pun. Sampai titik darah penghabisanku.”

“Apa sebabnya?” tanya Abu Dzar.

“Kautahu sahabatku, jika aku menjadi pengikut kemenakanku sendiri, kedudukan dan wibawaku akan hancur. Akan kuletakan di mana mukaku di hadapan bangsa Quraisy?”

Abu Dzar menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tidak percaya akan pemikiran sahabatnya, ” Pendirianmu keliru, sahabatku.”

“Aku tahu aku memang keliru,” ujar Abu Jahal.

Abu Dzar mengingatkan sahabatnya, “Kelak, engkau akan dikalahkan oleh kekeliruanmu.”

“Baik, biar saja aku kalah. Bahkan, aku tahu diakhirat kelak akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam. Namun, aku tidak mau dikalahkan Muhammad di dunia walaupun di akhirat sana aku pasti dikalahkan,” jawab Abu Jahal sambil berlalu meninggalkan Abu Dzar yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Abu Jahal tetap dalam pendiriannya. Ketika Perang Badar berlangsung, ia ditanya oleh Akhnas bin Syariq, “Hai, Abu Jahal! Di sini hanya kita berdua dan tidak ada orang lain, ceritakanlah tentang diri Muhammad, apakah benar dia itu orang yang jujur atau pendusta?”

“Demi Tuhan! Sesungguhnya Muhammad itu adalah orang yang benar dan tidak pernah berdusta!”