بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Abu Bakar adalah Khulafaur Rasyidin  Islam yang pertama, sahabat Nabi yang utama, dan termasuk Asratul Kiram  [ عشرة الكرام 10 sahabat yang dijamin masuk surga ] dan juga masuk  As Sabiqunal Al Awwalun.  Beliau juga mertua Rasulullah, karena anaknya Aisyah adalah istri Rasulullah ﷺ.

Sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq yang kuat terpatri dalam memori sebagian besar umat Islam adalah pribadi yang lemah lembut, tenang, rendah hati, zuhud terhadap dunia, tidak senang kemewahan, adil, tidak ambisius dan sebagainya.

Tetapi ketika ia menjadi Khalifah,  ia sangat percaya diri, teguh dan tegas dalam mengambil berbagai sikap dan kebijakan, terkhusus kebijakan luar negeri (foreign policy) nya.

“Memang, Abu Bakar Ash-Shiddiq dikenal oleh umat Islam akan ketaatannya, kedekatannya dengan Rasul, kelembutannya, ketakwaannya kepada Allah, dan ilmunya, Namun, ia juga adalah seorang ahli militer yang brilian, bahkan salah satu yang terbaik dalam sejarah manusia. Pada saat yang menentukan, ia mengambil keputusan dan kebijakan politik yang berani dan tidak populer melawan orang-orang murtad; sebuah keputusan yang pada akhirnya akan mengubah sejarah.” – Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi =

Ketika para sahabat ragu untuk meneruskan ekspedisi pasukan Usamah dan kepemimpinannya sebagai komandan pasukan, ia tetap teguh untuk meneruskannya karena itulah yang dikehendaki oleh Rasulullah saw. Bahkan saat itu tegas untuk memerangi orang yang tidak mau mengeluarkan zakat, Umar bin Khaththab sempat mempertanyakan kebijkan tersebut meski pada akhirnya menyetujuinya.

Tidak hanya itu, Abu Bakar juga membuka jalan bagi penaklukan Persia dan Syam, yang kemudian disempurnakan oleh Umar bin Khaththab saat ia menjabat sebagai khalifah penggantinya. Simak kebijakan-kebijakan luar negeri khalifah pertama umat Islam dalam laporan Syamina berikut ini.

Sebagai Khalifah, Abu Bakar meneruskan  bidang tugas yang sama dengan Rasulullah ﷺ, yakni pemimpin dalam urusan ibadat, sosial, pemerintahan, politik dan semua bidang kemasyarakatan.

Dan sayyidina Abu Bakar lah yang dipilih Allah ﷻ untuk menemani Rasulullah ﷺ, ketika hijrah [ hijrah yang kedua ] ke Madinah.

Ia dan Thalhah bin Ubaidillah  mendapat julukan  Al Qareenayn, “dua diikat bersama-sama” yakni ketika keduanya diikat secara bersamaan oleh si setan Quraish Nawfal bin Khuwailid.

Abu Bakar dijuluki Ash Shidiq, sehingga namanya sering disebut sebagai Abu Bakar Ash Shidiq [ أبو بكر الصديق‎ ].  Ia lahir sekitar tahun 572 M dan  wafat sekitar 23 Agustus 634/21 Jumadil Akhir 13 H.   Menjadi Khalifah Pertama pada tahun 632/ 11 H – tahun 634 M/ 13 H. Lahir dengan nama asli Abdul ka’bah bin Abi Quhafah. ia adalah satu di antara empat khalifah yang diberi gelar Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang diberi petunjuk.

Abu Bakar menjadi Khalifah selama 2 tahun, 2 bulan, dan 14 hari setelah meninggal terkena penyakit.

Abu Bakar Ash Shidiq, Khalifah Pertama

NamaAbdullah bin ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taiym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al Qurasyi At Taimi.
Kunyah Abu Bakar
Lahir - WafatLahir : 572 M atau 2 tahun 6 bulan setelah tahun Gajah.
Wafat : Senin Jumadil Awwal [Akhir?] tahun 13 H atau Agustus 634 M ketika beliau berusia 63 tahun.
MakamDi sebelah kanan makam Rasulullah ﷺ
Julukan1. ‘Atiq (عتيق)
2. Ash Shiddiq (الصدِّيق).
GelarKhulafaur Rasyidin Pertama
Tahun 11-13 H/ atau Tahun 632-634 M
Abu Bakar adalah Khalifah Pertama dari empat Khulafaur Rasyidin.

Nama Lengkap Abu Bakar

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taiym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al Qurasyi At Taimi.

Bertemu nasabnya dengan Rasulullah ﷺ pada kakeknya bernama Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay.

Nama yang sebenarnya adalah Abdul Ka’bah (artinya ‘hamba Ka’bah‘), yang kemudian diubah oleh Nabi menjadi Abdullah (artinya ‘hamba Allah‘). Nabi memberinya gelar yaitu Ash Shiddiq (artinya ‘yang berkata benar’) setelah Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra Mi’raj yang diceritakan Nabi kepada para pengikutnya, sehingga ia lebih dikenal dengan nama “Abu Bakar ash-Shiddiq”

Kunyah

Beliau memiliki kunyah : Abu Bakar.  Tetapi Abu Bakar tidak memiliki anak yang bernama Bakar.  Abu Bakar dikaruniai 6 orang anak, 3 putra dan 3 putri.

Para putranya bernama Abdullah, Abdurrahman, dan Muhammad, sementara yang putri adalah Aisyah ummul mukminin, Asma` si pemilik dua ikat pinggang, dan Ummu Kultsum yang lahir beberapa saat setelah Abu Bakar wafat.  Tidak ada yang bernama Bakar.  Tetapi seseorang boleh dijuluki dengan selain nama anaknya.

Hal ini disebutkan dalam kitab Tuhfah Al-Maulud, yang dikarang oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah :

“Seseorang yang sudah punya anak boleh menjuluki namanya dengan selain nama anaknya.

Lahir-Wafat

Ia lahir sekitar tahun 572 M atau 2 tahun 6 bulan setelah tahun Gajah.  Dan Beliau wafat pada hari Senin di bulan Jumadil Awwal [Akhir?] tahun 13 H atau Agustus 634 M ketika beliau berusia 63 tahun.

 


Nasab Abu Bakar

 

Ibunya adalah Ummul Khair, Salma binti Shakr atau Ummu al-Khair Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim .

Beliau memeluk Islam dan salah satu sahabat Nabi.  Ayahnya adalah  Abu Quhafa yang juga sama-sama dari kabilah Bani Taim.

 

Saudara saudara perempuannya adalah

  1. Ummu Amir,
  2. Ummu Qaribah,
  3. Ummu Farwah, mereka bertiga juga masuk Islam dan masuk sebagai sahabat Nabi.

 

Abu Bakar memiliki beberapa istri :

  1. Ummu Rumman binti Amir bin Uwaimir bin Zuhal bin Dahman dari Kinanah
    1. Abdurrahman [ seorang ksatria dan ahli panah yang andal ]
    2. Aisyah, Ummul Mukminin manikah dengan Rasulllah
  2. Qatilah [ atau Qutailah ] binti Abdul Uzza, dan beliau disebut masuk Islam pada akhir hidup beliau.  Pada beberapa riwayat disebut Qatilah masuk Islam pada saat Fathu Mekah. Dan pada beberapa riwayat disebutkan Qatilah telah ditalak Abu Bakar pada jaman jahiliyah, jadi sebelum Islam datang.
    1. Asma binti Abu Bakar, menikah dengan Zubair bin Awwam
      1. Abdullah bin Zubair
    2. Abdullah
  3. Asma binti Umais bin Ma’add bin Taim al Khats’amiyyah [ janda dari Ja’far bin Abu Thalib ]  Setelah Abu Bakar wafat, Asma dinikahi oleh Ali bin Abu Thalib.    Dari pernikahan Asma dan Abu Bakar lahirlah  :
    1. Muhammad bin Abu bakar [ lahir saat Haji Wada di Dzul Hulaifah ]
  4. Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair dari Bani al Haris bin al Khazraj.  Abu bakar pernah singgah di rumah Kharijah ketika beliau datang ke Madinah dan kemudian mempersunting putrinya, dan beliau masih terus berdiam dengannya di suatu tempat yang disebut dengan as Sunuh hingga Rasulullah صلى الله عليه وسلم wafat dan beliau kemudian diangkat menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah صلى الله عليه وسلم..  Dari pernikahan tersebut lahirlah:
    1. Ummu Kaltsum yang lahir setelah wafatnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

 

[ sumber : Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/169,174 dan Tarikh ath-Thabari 3/426 ]

Laqb (Julukan)

Beliau dijuluki dengan ‘Atiq (عتيق) dan Ash Shiddiq (الصدِّيق).

Sebagian ulama berpendapat bahwa alasan beliau dijuluki ‘Atiq karena beliau tampan. Sebagian mengatakan karena beliau berwajah cerah. Pendapat lain mengatakan karena beliau selalu terdepan dalam kebaikan. Sebagian juga mengatakan bahwa ibu beliau awalnya tidak kunjung hamil, ketika ia hamil maka ibunya berdoa,

اللهم إن هذا عتيقك من الموت ، فهبه لي

“Ya Allah, jika anak ini engkau bebaskan dari maut, maka hadiahkanlah kepadaku”

Dan ada beberapa pendapat lain.

Sedangkan julukan Ash Shiddiq didapatkan karena beliau membenarkan kabar dari Rasulullah ﷺ dengan kepercayaan yang sangat tinggi. Sebagaimana ketika pagi hari setelah malam Isra Mi’raj, orang-orang kafir berkata kepadanya: ‘Teman kamu itu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam’. Beliau menjawab:

إن كان قال فقد صدق

“Jika ia berkata demikian, maka itu benar”

Allah Ta’ala pun menyebut beliau sebagai Ash Shiddiq dalam Al Quran surat Az Zumar [39] ayat 33 :

وَالَّذِي جَاء بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa”

Tafsiran para ulama tentang ayat ini, yang dimaksud ‘orang yang datang membawa kebenaran’ (جَاء بِالصِّدْقِ) adalah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan yang dimaksud ‘orang yang membenarkannya’ (صَدَّقَ بِهِ) adalah Abu Bakar Radhiallahu’anhu.

Beliau juga dijuluki Ash Shiddiq karena beliau adalah lelaki pertama yang membenarkan dan beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Rasulullah ﷺ telah menamai beliau dengan Ash Shiddiq sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari :

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم صعد أُحداً وأبو بكر وعمر وعثمان ، فرجف بهم فقال : اثبت أُحد ، فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان

“Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Nabi ﷺ menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman. Gunung Uhud pun berguncang. Nabi lalu bersabda: ‘Diamlah Uhud, di atasmu ada Nabi, Ash Shiddiq (yaitu Abu Bakr) dan dua orang Syuhada’ (‘Umar dan ‘Utsman)”

 

Ciri Fisik

Beliau berkulit putih, bertubuh kurus, berambut lebat, tampak kurus wajahnya, dahinya muncul, dan ia sering memakai hinaa dan katm.

Kiprah Abu Bakar Dalam Islam

  • Yang paling utama adalah ia laki laki pertam yang masuk Islam mengikuti Rasulullah.
  • Hijrahnya beliau bersama Rasulullah
  • Ketegaran beliau ketika hari wafatnya Rasulullah
  • Sebelum terjadi hijrah, beliau telah membebaskan 70 orang yang disiksa orang kafir karena alasan bertauhid kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal bin Rabbaah, ‘Amir bin Fahirah, Zunairah, Al Hindiyyah dan anaknya, budaknya Bani Mu’ammal, Ummu ‘Ubais
  • Salah satu jasanya yang terbesar ialah ketika menjadi khalifah beliau memerangi orang orang murtad dan nabi palsu.

Abu Bakar adalah lelaki yang lemah lembut, namun dalam hal memerangi orang yang murtad, beliau memiliki pendirian yang kokoh. Bahkan lebih tegas dan keras daripada Umar bin Khattab yang terkenal akan keras dan tegasnya beliau dalam pembelaan terhadap Allah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

لما توفى النبي صلى الله عليه وسلم واستُخلف أبو بكر وكفر من كفر من العرب قال عمر : يا أبا بكر كيف تقاتل الناس وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أمِرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله ، فمن قال لا إله إلا الله عصم مني ماله ونفسه إلا بحقه وحسابه على الله ؟ قال أبو بكر : والله لأقاتلن من فرق بين الصلاة والزكاة ، فإن الزكاة حق المال ، والله لو منعوني عناقا كانوا يؤدونها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم لقاتلتهم على منعها . قال عمر : فو الله ما هو إلا أن رأيت أن قد شرح الله صدر أبي بكر للقتال فعرفت أنه الحق

“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam wafat, dan Abu Bakar menggantikannya, banyak orang yang kafir dari bangsa Arab. Umar berkata: ‘Wahai Abu Bakar, bisa-bisanya engkau memerangi manusia padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah, barangsiapa yang mengucapkannya telah haram darah dan jiwanya, kecuali dengan hak (jalan yang benar). Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah?’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah akan kuperangi orang yang membedakan antara shalat dengan zakat. Karena zakat adalah hak Allah atas harta. Demi Allah jika ada orang yang enggan membayar zakat di masaku, padahal mereka menunaikannya di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, akan ku perangi dia’. Umar berkata: ‘Demi Allah, setelah itu tidaklah aku melihat kecuali Allah telah melapangkan dadanya untuk memerangi orang-orang tersebut, dan aku yakin ia di atas kebenaran‘”

Begitu tegas dan kerasnya sikap beliau sampai-sampai para ulama berkata :

نصر الله الإسلام بأبي بكر يوم الردّة ، وبأحمد يوم الفتنة

Allah menolong Islam melalui Abu Bakar di hari ketika banyak orang murtad, dan melalui Ahmad (bin Hambal) di hari ketika terjadi fitnah (khalqul Qur’an)”

Abu Bakar pun memerangi orang-orang yang murtad dan orang-orang yang enggan membayar zakat ketika itu

  • Musailamah Al Kadzab, si nabi palsu, dibunuh di masa pemerintahan beliau.  Yang membunuh adalah Wahsy, seorang mantan budak yang dulu juga membunuh Hamzah, paman Nabi yang tercinta.
  • Beliau mengerahkan pasukan untuk menaklukan Syam, sebagaimana keinginan Rasulullah ﷺ. Dan akhirnya Syam pun di taklukan, demikian juga Iraq.
  • Di masa pemerintahan beliau, Al Quran dikumpulkan. Beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkannya.

Abu Bakar adalah orang yang bijaksana. Ketika ia tidak ridha dengan dilepaskannya Khalid bin Walid, ia berkata :

والله لا أشيم سيفا سله الله على عدوه حتى يكون الله هو يشيمه

“Demi Allah, aku tidak akan menghunus pedang yang Allah tujukan kepada musuhnya sampai Allah yang menghunusnya” (HR. Ahmad dan lainnya)

Ketika masa pemerintahan beliau, terjadi peperangan. Beliau pun bertekad untuk pergi sendiri memimpin perang, namun Ali bin Abi Thalib memegang tali kekangnya dan berkata: ‘Mau kemana engkau wahai khalifah? Akan kukatakan kepadamu perkataan Rasulullah ﷺ ketika perang Uhud :

شِـمْ سيفك ولا تفجعنا بنفسك . وارجع إلى المدينة ، فو الله لئن فُجعنا بك لا يكون للإسلام نظام أبدا

‘Simpanlah pedangmu dan janganlah bersedih atas keadaan kami. Kembalilah ke Madinah. Demi Allah, jika keadaan kami membuatmu sedih Islam tidak akan tegak selamanya‘. Lalu Abu Bakar Radhiallahu’anhu pun kembali dan mengutus pasukan.

  • Beliau juga sangat mengetahui nasab-nasab bangsa arab

Keutamaan

Tidak ada lelaki yang memiliki keutaman sebanyak keutamaan Abu Bakar Radhiallahu’anhu

1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ dari golongan umat beliau

Ibnu ‘Umar Radhiallahu’anhu berkata :

كنا نخيّر بين الناس في زمن النبي صلى الله عليه وسلم ، فنخيّر أبا بكر ، ثم عمر بن الخطاب ، ثم عثمان بن عفان رضي الله عنهم

“Kami pernah memilih orang terbaik di masa Nabi ﷺ. Kami pun memilih Abu Bakar, setelah itu Umar bin Khattab, lalu ‘Utsman bin Affan Radhiallahu’anhu” (HR. Bukhari)

Dari Abu Darda Radhiallahu’anhu, ia berkata :

كنت جالسا عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ أقبل أبو بكر آخذا بطرف ثوبه حتى أبدى عن ركبته فقال النبي صلى الله عليه وسلم : أما صاحبكم فقد غامر . وقال : إني كان بيني وبين ابن الخطاب شيء ، فأسرعت إليه ثم ندمت فسألته أن يغفر لي فأبى عليّ ، فأقبلت إليك فقال : يغفر الله لك يا أبا بكر – ثلاثا – ثم إن عمر ندم فأتى منزل أبي بكر فسأل : أثَـمّ أبو بكر ؟ فقالوا : لا ، فأتى إلى النبي فجعل وجه النبي صلى الله عليه وسلم يتمعّر ، حتى أشفق أبو بكر فجثا على ركبتيه فقال : يا رسول الله والله أنا كنت أظلم – مرتين – فقال النبي صلى الله عليه وسلم : إن الله بعثني إليكم فقلتم : كذبت ، وقال أبو بكر : صَدَق ، وواساني بنفسه وماله ، فهل أنتم تاركو لي صاحبي – مرتين – فما أوذي بعدها

“Aku pernah duduk di sebelah Nabi ﷺ. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi ﷺ sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi ﷺ berkata : ‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah‘. Lalu Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnul Khattab terjadi perselisihan, aku pun segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar memaafkan aku namun dia enggan memaafkanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang’. Nabi ﷺ lalu berkata : ‘“Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar‘. Sebanyak tiga kali, tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, “Apakah di dalam ada Abu Bakar?” Namun keluarganya menjawab, tidak. Umar segera mendatangi Rasulullah ﷺ. Sementara wajah Rasulullah ﷺ terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan kepada Umar dan memohon sambil duduk di atas kedua lututnya, “Wahai Rasulullah Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah”, sebanyak dua kali. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya ketika aku diutus Allah kepada kalian, ketika itu kalian mengatakan, ”Engkau pendusta wahai Muhammad”, Sementara Abu Bakar berkata, ”Engkau benar wahai Muhammad”. Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku?‘ sebanyak dua kali. Setelah itu Abu Bakar tidak pernah disakiti” (HR. Bukhari)

Beliau juga orang yang paling pertama beriman kepada Rasulullah ﷺ, menemani Rasulullah ﷺ dan membenarkan perkataannya. Hal ini terus berlanjut selama Rasulullah tinggal di Mekkah, walaupun banyak gangguan yang datang. Abu Bakar juga menemani Rasulullah ketika hijrah.

2. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang menemani Rasulullah ﷺ di gua ketika dikejar kaum Quraisy

Allah Ta’ala berfirman dalam Al Quran surat At Taubah [9] ayat 40 :

ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا

“Salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita””

As Suhaili berkata: “Perhatikanlah baik-baik di sini Rasulullah ﷺ berkata ‘janganlah kamu bersedih’ namun tidak berkata ‘janganlah kamu takut’ karena ketika itu rasa sedih Abu Bakar terhadap keselamatan Rasulullah ﷺ sangat mendalam sampai-sampai rasa takutnya terkalahkan”.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari hadits Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, Abu Bakar berkata kepadanya :

نظرت إلى أقدام المشركين على رؤوسنا ونحن في الغار فقلت : يا رسول الله لو أن أحدهم نظر إلى قدميه أبصرنا تحت قدميه . فقال : يا أبا بكر ما ظنك باثنين الله ثالثهما

“Ketika berada di dalam gua, aku melihat kaki orang-orang musyrik berada dekat dengan kepala kami. Aku pun berkata kepada Rasulullah : ‘Wahai Rasulullah, kalau di antara mereka ada yang melihat kakinya, mereka akan melihat kita di bawah kaki mereka’. Rasulullah berkata: ‘Wahai Abu Bakar, engkau tidak tahu bahwa bersama kita berdua yang ketiga adalah Allah’”

Ketika hendak memasuki gua pun, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada hal yang dapat membahayakan Rasulullah ﷺ. Juga ketika dalam perjalanan hijrah, Abu Bakar terkadang berjalan di depan Rasulullah ﷺ, terkadang di belakangnya, terkadang di kanannya, terkadang di kirinya.

Oleh karena itu ketika masa pemerintahan Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu ada sebagian orang yang menganggap Umar lebih utama dari Abu Bakar, maka Umar Radhiallahu’anhu pun berkata :

والله لليلة من أبي بكر خير من آل عمر ، وليوم من أبي بكر خير من آل عمر ، لقد خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم لينطلق إلى الغار ومعه أبو بكر ، فجعل يمشي ساعة بين يديه وساعة خلفه ، حتى فطن له رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا أبا بكر مالك تمشي ساعة بين يدي وساعة خلفي ؟ فقال : يا رسول الله أذكر الطلب فأمشي خلفك ، ثم أذكر الرصد فأمشي بين يديك . فقال :يا أبا بكر لو كان شيء أحببت أن يكون بك دوني ؟ قال : نعم والذي بعثك بالحق ما كانت لتكون من مُلمّة إلا أن تكون بي دونك ، فلما انتهيا إلى الغار قال أبو بكر : مكانك يا رسول الله حتى استبرئ الجحرة ، فدخل واستبرأ ، قم قال : انزل يا رسول الله ، فنزل . فقال عمر : والذي نفسي بيده لتلك الليلة خير من آل عمر

“Demi Allah, satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar, satu harinya Abu Bakar masih lebih baik dari seharinya keluarga Umar. Abu Bakar bersama Rasulullah pergi ke dalam gua. Ketika berjalan, dia terkadang berada di depan Rasulullah dan terkadang di belakangnya. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam heran dan berkata: ‘Wahai Abu Bakar mengapa engkau berjalan terkadang di depan dan terkadang di belakang?’. Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah, ketika saya sadar kita sedang dikejar, saya berjalan di belakang. Ketika saya sadar bahwa kita sedang mengintai, maka saya berjalan di depan’. Rasulullah lalu berkata: ‘Wahai Abu Bakar, kalau ada sesuatu yang aku suka engkau saja yang melakukannya tanpa aku?’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah, tidak ada yang lebih tepat melainkan hal itu aku saja yang melakukan tanpa dirimu’. Ketika mereka berdua sampai di gua, Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah aku akan berada di tempatmu sampai memasuki gua. Kemudian mereka masuk, Abu Bakar berkata: Turunlah wahai Rasulullah. Kemudian mereka turun. Umar berkata: ‘Demi Allah, satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar’‘” (HR. Al Hakim, Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah)

3. Ketika kaum muslimin hendak berhijrah, Abu Bakar Ash Shiddiq menyumbangkan seluruh hartanya. (Dalilnya disebutkan pada poin 8, pent.)

4. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah khalifah pertama

Dan kita diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ untuk meneladani khulafa ar rasyidin, sebagaimana sabda beliau:

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ

“Hendaknya kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin setelahku. Gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan lainnya. Hadits ini shahih dengan seluruh jalannya)

5. Abu Bakar Ash Shiddiq dipilih sebagai khalifah berdasarkan nash

Ketika Rasulullah ﷺ sakit keras, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat berjama’ah. Dalam Shahihain, dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha ia berkata :

لما مَرِضَ النبيّ صلى الله عليه وسلم مرَضَهُ الذي ماتَ فيه أَتاهُ بلالٌ يُؤْذِنهُ بالصلاةِ فقال : مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصَلّ . قلتُ : إنّ أبا بكرٍ رجلٌ أَسِيفٌ [ وفي رواية : رجل رقيق ] إن يَقُمْ مَقامَكَ يبكي فلا يقدِرُ عَلَى القِراءَةِ . قال : مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصلّ . فقلتُ مثلَهُ : فقال في الثالثةِ – أَوِ الرابعةِ – : إِنّكنّ صَواحبُ يوسفَ ! مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصلّ ، فصلّى

“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sakit menjelang wafat, Bilal datang meminta idzin untuk memulai shalat. Rasulullah bersabda : ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah berkata: ‘Abu Bakar itu orang yang terlalu lembut, kalau ia mengimami shalat, ia mudah menangis. Jika ia menggantikan posisimu, ia akan mudah menangis sehingga sulit menyelesaikan bacaan Qur’an. Nabi tetap berkata : ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah lalu berkata hal yang sama, Rasulullah pun mengatakan hal yang sama lagi, sampai ketiga atau keempat kalinya Rasulullah berkata : ‘Sesungguhnya kalian itu (wanita) seperti para wanita pada kisah Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’”

Oleh karena itu Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata :

أفلا نرضى لدنيانا من رضيه رسول الله صلى الله عليه وسلم لديننا

“Apakah kalian tidak ridha kepada Abu Bakar dalam masalah dunia, padahal Rasulullah ﷺ telah ridha kepadanya dalam masalah agama?”

Juga diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata :

قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم في مرضه : ادعي لي أبا بكر وأخاك حتى اكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمنٍّ ويقول قائل : أنا أولى ، ويأبى الله والمؤمنون إلا أبا بكر وجاءت امرأة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فكلمته في شيء فأمرها بأمر ، فقالت : أرأيت يا رسول الله إن لم أجدك ؟ قال : إن لم تجديني فأتي أبا بكر

Rasulullah ﷺ berkata kepadaku ketika beliau sakit, panggilah Abu Bakar dan saudaramu agar aku dapat menulis surat. Karena aku khawatir akan ada orang yang berkeinginan lain (dalam masalah khilafah) sehingga ia berkata: ‘Aku lebih berhak’. Padahal Allah dan kaum mu’minin menginginkan Abu Bakar (yang menjadi khalifah). Kemudian datang seorang perempuan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan sesuatu, lalu Nabi memerintahkan sesuatu kepadanya. Apa pendapatmu wahai Rasulullah kalau aku tidak menemuimu? Nabi menjawab: ‘Kalau kau tidak menemuiku, Abu Bakar akan datang’” (HR. BukhariMuslim)

6. Umat Muhammad diperintahkan untuk meneladani Abu Bakar Ash Shiddiq

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

اقتدوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر

“Ikutilah jalan orang-orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Maajah, hadits ini shahih)

7. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah salah seorang mufti di masa Nabi Muhammad

Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menugasi beliau sebagai Amirul Hajj pada haji sebelum haji Wada’. Diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

بعثني أبو بكر الصديق في الحجة التي أمره عليها رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل حجة الوداع في رهط يؤذنون في الناس يوم النحر : لا يحج بعد العام مشرك ، ولا يطوف بالبيت عريان

Abu Bakar Ash Shiddiq mengutusku untuk dalam sebuah ibadah haji yang terjadi sebelum haji Wada’, dimana beliau ditugaskan oleh Rasulullah ﷺ untuk menjadi Amirul Hajj. Ia mengutusku untuk mengumumkan kepada sekelompok orang di hari raya idul adha bahwa tidak boleh berhaji setelah tahunnya orang musyrik dan tidak boleh ber-thawaf di ka’bah dengan telanjang”

Abu Bakar juga sebagai pemegang bendera Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika perang Tabuk.

8. Abu Bakar Ash Shiddiq menginfaqkan seluruh hartanya ketika Rasulullah ﷺ menganjurkan sedekah

Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata :

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نتصدق ، فوافق ذلك مالاً فقلت : اليوم أسبق أبا بكر إن سبقته يوما . قال : فجئت بنصف مالي ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما أبقيت لأهلك ؟ قلت : مثله ، وأتى أبو بكر بكل ما عنده فقال : يا أبا بكر ما أبقيت لأهلك ؟ فقال : أبقيت لهم الله ورسوله ! قال عمر قلت : والله لا أسبقه إلى شيء أبدا

Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar’. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah ﷺ bertanya : ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Kujawab : ‘Semisal dengan ini’. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah ﷺ lalu bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Abu Bakar menjawab : ‘Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Umar berkata : ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’” (HR. Tirmidzi)

9. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang paling dicintai Nabi Muhammad  ﷺ

‘Amr bin Al Ash Radhiallahu’anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ :

أي الناس أحب إليك ؟ قال : عائشة . قال : قلت : من الرجال ؟ قال : أبوها

“Siapa orang yang kau cintai?. Rasulullah menjawab: ‘Aisyah’. Aku bertanya lagi: ‘Kalau laki-laki?’. Beliau menjawab: ‘Ayahnya Aisyah’ (yaitu Abu Bakar)” (HR. Muslim)

10. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah khalil bagi Nabi Muhammad  ﷺ

Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu’anhu, ia berkata :

خطب رسول الله صلى الله عليه وسلم الناس وقال : إن الله خير عبدا بين الدنيا وبين ما عنده فاختار ذلك العبد ما عند الله . قال : فبكى أبو بكر ، فعجبنا لبكائه أن يخبر رسول الله صلى الله عليه وسلم عن عبد خير ، فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم هو المخير ، وكان أبو بكر أعلمنا . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن مِن أمَنّ الناس عليّ في صحبته وماله أبا بكر ، ولو كنت متخذاً خليلاً غير ربي لاتخذت أبا بكر ، ولكن أخوة الإسلام ومودته ، لا يبقين في المسجد باب إلا سُـدّ إلا باب أبي بكر

Rasulullah ﷺ berkhutbah kepada manusia, beliau berkata : ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala memilih hamba di antara dunia dan apa yang ada di dalamnya. Namun hamba tersebut hanya dapat memilih apa yang Allah tentukan’. Lalu Abu Bakar menangis. Kami pun heran dengan tangisan beliau itu, hanya karena Rasulullah mengabarkan tentang hamba pilihan. Padahal Rasulullah ﷺ lah orangnya, dan Abu Bakar lebih paham dari kami. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam kedekatan dan kerelaan mengeluarkan harta, ialah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seorang kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di masjid selain pintu Abu Bakar saja’”

11. Allah Ta’ala memuji Abu Bakar Ash Shiddiq

Allah Ta’ala berfirman dalam Al Quran surat Al Lail [92] ayat 17 – 21 :

وَسَيُجَنَّبُهَا الأَتْقَى * الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى * وَمَا لأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَى * إِلا ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِ الأَعْلَى * وَلَسَوْفَ يَرْضَى

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”

Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar Ash Shiddiq. Selain itu beliau juga termasuk as sabiquunal awwalun, dan Allah Ta’ala berfirman dalam Al Quran surat At Taubah [9] ayat 100 :

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”

12. Rasulullah ﷺ  memberi tazkiyah kepada Abu Bakar

Ketika Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah ﷺ :

من جرّ ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة . قال أبو بكر : إن أحد شقي ثوبي يسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنك لست تصنع ذلك خيلاء

“Barangsiapa yang membiarkan kainnya terjulur karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar berkata: ‘Sesungguhnya salah satu sisi sarungku melorot kecuali jika aku ikat dengan baik. Rasulullah lalu berkata: ‘Engkau tidak melakukannya karena sombong”” (HR. Bukhari dalam Fadhail Abu Bakar Radhiallahu’anhu)

13. Abu Bakar Ash Shiddiq didoakan oleh Nabi untuk memasuki semua pintu surga

من أنفق زوجين من شيء من الأشياء في سبيل الله دُعي من أبواب الجنة : يا عبد الله هذا خير ؛ فمن كان من أهل الصلاة دعي من باب الصلاة ، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد ، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة ، ومن كان من أهل الصيام دُعي من باب الصيام وباب الريان . فقال أبو بكر : ما على هذا الذي يدعى من تلك الأبواب من ضرورة ، فهل يُدعى منها كلها أحد يا رسول الله ؟ قال : نعم ، وأرجو أن تكون منهم يا أبا بكر

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah” (HR. Al BukhariMuslim)

14. Abu Bakar Ash Shiddiq melakukan banyak perbuatan agung dalam sehari

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

: من أصبح منكم اليوم صائما ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . قال : فمن تبع منكم اليوم جنازة ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . قال : فمن أطعم منكم اليوم مسكينا ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . قال : فمن عاد منكم اليوم مريضا ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما اجتمعن في امرىء إلا دخل الجنة

“Siapa yang hari ini berpuasa? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”

“Siapa yang hari ini ikut mengantar jenazah? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”

“Siapa yang hari ini memberi makan orang miskin? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”

“Siapa yang hari ini menjenguk orang sakit? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”

Rasulullah ﷺ lalu bersabda : ‘Tidaklah semua ini dilakukan oleh seseorang kecuali dia akan masuk surga’”

15. Orang musyrik mensifati Abu Bakar Ash Shiddiq sebagaimana Khadijah mensifati Rasulullah

Mereka berkata tentang Abu Bakar :

أَتُخْرِجُونَ رَجُلًا يُكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَيَصِلُ الرَّحِمَ وَيَحْمِلُ الْكَلَّ وَيَقْرِي الضَّيْفَ وَيُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Apakah kalian mengusir orang yang suka bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran?” (HR. Bukhari)

16. Ali Radhiallahu’anhu mengenal keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq

Muhammad bin Al Hanafiyyah berkata, aku bertanya kepada ayahku, yaitu Ali bin Abi Thalib:

أي الناس خير بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : أبو بكر . قلت : ثم من ؟ قال : ثم عمر ، وخشيت أن يقول عثمان قلت : ثم أنت ؟ قال : ما أنا إلا رجل من المسلمين

“Manusia mana yang terbaik sepeninggal Rasulullah ﷺ? Ali menjawab: Abu Bakar. Aku berkata: ‘Kemudian siapa lagi?’. Ali berkata: ‘Lalu Umar’. Aku lalu khawatir yang selanjutnya adalah Utsman, maka aku berkata: ‘Selanjutnya engkau?’. Ali berkata: ‘Aku ini hanyalah orang muslim biasa’” (HR. Bukhari)

Sikap Zuhud

Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu meninggal tanpa meninggalkan sepeserpun dirham atau dinar. Diriwayatkan dari Al Hasan bin Ali Radhiallahu’anhu:

لما احتضر أبو بكر رضي الله عنه قال : يا عائشة أنظري اللقحة التي كنا نشرب من لبنها والجفنة التي كنا نصطبح فيها والقطيفة التي كنا نلبسها فإنا كنا ننتفع بذلك حين كنا في أمر المسلمين ، فإذا مت فاردديه إلى عمر ، فلما مات أبو بكر رضي الله عنه أرسلت به إلى عمر رضي الله عنه فقال عمر رضي الله عنه : رضي الله عنك يا أبا بكر لقد أتعبت من جاء بعدك

“Ketika Al Hasan sedang bersama Abu Bakar Radhiallahu’anhu, Abu Bakar berkata, wahai ‘Aisyah tolong perhatikan unta perahan yang biasa kita ambil susunya, dan mangkuk besar yang sering kita pakai untuk tempat penerangan, dan kain beludru yang biasa kita pakai. Sesungguhnya kita mengambil manfaat dari itu semua saat aku mengurusi urusan kaum muslimin. Jika aku mati, kembalikanlah semuanya kepada Umar. Maka ketika Abu Bakar wafat, ‘Aisyah mengirim semua itu kepada Umar Radhiallahu’anhu. Umar pun berkata: ‘Semoga Allah meridhaimu wahai Abu Bakar, sungguh lelah orang yang datang setelahmu’”

Sikap Wara’

Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu adalah orang yang wara’ dan zuhud terhadap dunia sampai-sampai ketika ia menjadi khalifah, ia pun tetap pergi bekerja mencari nafkah. Umar bin Khattab pun Radhiallahu’anhu melarangnya dan menganjurkan ia untuk mengambil upah dari baitul maal, menimbang betapa beratnya tugas seorang khalifah.

Dikisahkan pula dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata:

كان لأبي بكر غلام يخرج له الخراج ، وكان أبو بكر يأكل من خراجه ، فجاء يوماً بشيء ، فأكل منه أبو بكر ، فقال له الغلام : تدري ما هذا ؟ فقال أبو بكر : وما هو ؟ قال : كنت تكهّنت لإنسان في الجاهلية وما أحسن الكهانة إلا أني خدعته ، فلقيني فأعطاني بذلك فهذا الذي أكلت منه ، فأدخل أبو بكر يده فقاء كل شيء في بطنه . رواه البخاري

Abu Bakar Ash Shiddiq memiliki budak laki-laki yang senantiasa mengeluarkan kharraj (setoran untuk majikan) padanya. Abu Bakar biasa makan dari kharraj itu. Pada suatu hari ia datang dengan sesuatu, yang akhirnya Abu Bakar makan darinya. Tiba-tiba sang budak berkata: ‘Apakah anda tahu dari mana makanan ini?’. Abu Bakar bertanya : ‘Dari mana?’ Ia menjawab : ‘Dulu pada masa jahiliyah aku pernah menjadi dukun yang menyembuhkan orang. Padahal bukannya aku pandai berdukun, namun aku hanya menipunya. Lalu si pasien itu menemuiku dan memberi imbalan buatku. Nah, yang anda makan saat ini adalah hasil dari upah itu. Akhirnya Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga keluarlah semua yang ia makan” (HR. Bukhari)

 

 


Kisah Hijrah Abu Bakar Bersama Nabi

Ibnu Hisyam mencatat, Abu Bakar adalah salah seorang sahabat yang bersegera memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya untuk berhijrah. Ia meminta izin kepada Rasulullah untuk berhijrah. Namun Rasulullah ﷺ bersabda,

لَا تَعْجَلْ، لَعَلَّ اللهُ يَجْعَلُ لَكَ صَاحِبًا

“Jangan terburu-buru. Semoga Allah menjadikan untukmu teman (hijrah).”

Rasulullah berharap agar Abu Bakar menjadi temannya saat berhijrah menuju Madinah. Kemudian Jibril datang mengabarkan bahwa orang-orang Quraisy telah membulatkan tekad untuk membunuh beliau. Jibril memerintahkan agar tidak lagi menghabiskan malam di Mekah.

Nabi segera mendatangi Abu Bakar dan mengabarkannya bahwa waktu hijrah telah tiba untuk mereka. Aisyah radhiallahu ‘anha yang saat itu berada di rumah Abu Bakar mengatakan, “Saat kami sedang berada di rumah Abu Bakar, ada seorang yang mengabarkan kepada Abu Bakar kedatangan Rasulullah dengan menggunakan cadar (penutup muka). Beliau datang pada waktu yang tidak biasa”.

Kemudian Rasulullah ﷺ meminta izin untuk masuk, dan Abu Bakar mengizinkannya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perintahkan semua keluargamu untuk hijrah”. Abu Bakar menjawab, “Mereka semua adalah keluargamu wahai Rasulullah”.

Rasulullah ﷺ kembali mengatakan, “Sesungguhnya aku sudah diizinkan untuk hijrah”. Abu Bakar menanggapi, “Apakah aku menemanimu (dalam hijrah) wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Iya.”

Lalu Rasulullah ﷺ menunggu malam datang.

Pada malam hari, Rasulullah ﷺ keluar dari rumahnya yang sudah terkepung oleh orang-orang kafir Quraisy. Lalu Allah jadikan mereka tidak bisa melihat Rasulullah ﷺ dan beliau taburkan debu di kepala-kepala mereka namun mereka tidak menyadarinya. Rasulullah ﷺ menjemput Abu Bakar yang tatkala itu sedang tertidur. Abu Bakar pun menangis bahagia, karena menemani Rasulullah ﷺ berhijrah. Aisyah mengatakan, “Demi Allah! Sebelum hari ini, aku tidak pernah sekalipun melihat seseorang menagis karena berbahagia. Aku melihat Abu Bakar menangis pada hari itu”. Subhanallahu! Perjalanan berat yang mempertaruhkan nyawa itu, Abu Bakar sambut dengan tangisan kebahagiaan.

Kepahlawanan Abu Bakar Saat Hijrah

Pertama: Saat berada di Gua Tsur.

Dalam perjalanan hijrah, Rasulullah ﷺ tiba di sebuah gua yang dikenal dengan nama Gua Tsur atau Tsaur. Saat sampai di mulut gua, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, janganlah Anda masuk kedalam gua ini sampai aku yang memasukinya terlebih dahulu. Kalau ada sesuatu (yang jelek), maka akulah yang mendapatkannya bukan Anda”. Abu Bakar pun masuk kemudian membersihkan gua tersebut. Setelah itu, Abu Bakar tutup lubang-lubang di gua dengan kainnya karena ia khawatir jika ada hewan yang membahayakan Rasulullah keluar dari lubang-lubang tersebut; ular, kalajengking, dll. Hingga tersisalah dua lubang, yang nanti bisa ia tutupi dengan kedua kakinya.

Bukit Tsaur, yang puncaknya terdapat Gua Tsaur. Bukit inilah yang dulu didaki Nabi dan Abu Bakar dan guanya menjadi tempat persembunyian keduanya.
Bukit Tsaur, yang puncaknya terdapat Gua Tsaur. Bukit inilah yang dulu didaki Nabi dan Abu Bakar dan guanya menjadi tempat persembunyian keduanya.
Setelah itu, Abu Bakar mempersilahkan Rasulullah masuk ke dalam gua. Rasulullah pun masuk dan tidur di pangkuan Abu Bakar. Ketika Rasulullah telah tertidur, tiba-tiba seekor hewan menggigit kaki Abu Bakar. Ia pun menahan dirinya agar tidak bergerak karena tidak ingin gerakannya menyebabkan Rasulullah terbangun dari istirahatnya. Namun, Abu Bakar adalah manusia biasa. Rasa sakit akibat sengatan hewan itu membuat air matanya terjatuh dan menetes di wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah ﷺ pun terbangun, kemudian bertanya, “Apa yang menimpamu wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Aku disengat sesuatu”. Kemudian Rasulullah mengobatinya.

Kedua: Melindungi Nabi dari teriknya matahari.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Bakar menceritakan hijrahnya bersama Rasulullah ﷺ. Kami berjalan siang dan malam hingga tibalah kami di pertengahan siang. Jalan yang kami lalui sangat sepi, tidak ada seorang pun yang lewat. Kumelemparkan pandangan ke segala penjuru, apakah ada satu sisi yang dapat kami dijadikan tempat berteduh. Akhirnya, pandanganku terhenti pada sebuah batu besar yang memiliki bayangan. Kami putuskan untuk istirahat sejenak disana. Aku ratakan tanah sebagai tempat istirahat Rasulullah ﷺ, lalu kuhamparkan sehelai jubah kulit dan mempersilahkan beliau untuk tidur di atasnya. Istirahatlah wahai Rasulullah ﷺ. Beliau pun beristirahat.

Setelah itu, aku melihat keadaan sekitar. Apakah ada seseorang yang bisa dimintai bantuan. Aku pun bertemu seorang penggembala kambing yang juga mencari tempat untuk berteduh. Aku bertanya kepadanya, “Wahai anak muda, engkau budaknya siapa?” Ia menyebutkan nama tuannya, salah seorang Quraisy yang kukenal. Aku bertanya lagi, “Apakah kambing-kambingmu memiliki susu?” “Iya.” Jawabnya. “Bisakah engkau perahkan untukku?” pintaku. Ia pun mengiyakannya.

Setelah diperah. Aku membawa susu tersebut kepada Nabi dan ternyata beliau masih tertidur. Aku tidak suka jika aku sampai membuatnya terbangun. Saat beliau terbangun aku berkata, “Minumlah wahai Rasulullah”. Beliau pun minum susu tersebut sampai aku merasa puas melihatnya.

Lihatlah! Rasa-rasanya kita tidak terbayang, seorang yang kaya, mau bersusah dan berpeluh, menjadi pelayan tak kenal lelah seperti Abu Bakar. Ia ridha dan puas apabila Rasulullah tercukupi, aman, dan tenang.

Ketiga: perlindungan Abu Bakar terhadap Rasulullah ﷺ selama perjalanan.

Diriwayatkan al-Hakim dalam Mustadrak-nya dari Umar bin al-Khattab, ia menceritakan. Ketika Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar keluar dari gua. Abu Bakar terkadang berjalan di depan Rasulullah dan terkadang berada di belakang beliau. Rasulullah ﷺ pun menanyakan perbuatan Abu Bakar itu. Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, kalau aku teringat orang-orang yang mengejar (kita), aku berjalan di belakang Anda, dan kalau teringat akan pengintai, aku berjalan di depan Anda”.

Apa yang dilakukan Abu Bakar ini menunjukkan kecintaan beliau yang begitu besar kepada Rasulullah ﷺ. Ia tidak ingin ada sedikit pun yang mengancam jiwa Nabi. Jika ada mara bahaya menghadang, ia tidak ridha kalau hal itu lebih dahulu menimpa Nabi.

Demikianlah dua orang sahabat ini. Rasulullah ﷺ ingin bersama Abu Bakar ketika hijrah dan Abu Bakar pun sangat mencintai Rasulullah. Inilah kecocokan ruh sebagaimana disabdakan oleh Nabi

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang berkumpul (berkelompok). Jika mereka saling mengenal maka mereka akan bersatu, dan jika saling tidak mengenal maka akan berpisah (tidak cocok).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan Rasulullah ﷺ sangat mencintai Abu Bakar.

عن عمرو بن العاص أن رسول الله بعثه على جيش ذات السلاسل، يقول: فأتيته فقلت: أي الناس أحب إليك؟ قال: “عَائِشَةُ”. قلت: من الرجال؟ قال: “أَبُوهَا”. قلت: ثم من؟ قال: “عُمَرُ”. فعد رجالاً

Dari Amr bin al-Ash, Rasulullah mengutusnya bergabung dalam pasukan Perang Dzatu Salasil. Amr berkata, “Aku mendatangi Nabi dan bertanya kepadanya, ‘Siapakah orang yang paling Anda cintai?’ Beliau menjawab, ‘Aisyah’. Aku kembali bertanya, ‘Dari kalangan laki-laki?’ Beliau menjawab, ‘Bapaknya (Aisyah)’. Lalu siapa? Umar.  Yang kedua juga dari kalangan laki laki. (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فيِ صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُوْ بَكْرٍ لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيْلاً غَيْرَ رَبِّيْ لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِن أُخُوَّةُ الْإِسْلاَمِ وَمَوَدَّتُهُ، لاَ يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلاَّ سُدَّ إِلاَّ بَابُ أَبِيْ بَكْرٍ

“Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku, pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan seislam dan kecintaan karenanya. Maka tidak tersisa pintu masjid kecuali tertutup selain pintu Abu Bakar saja.” (HR. Bukhari).

Semoga kita dapat meneladani Abu Bakar dalam kecintaan dan pengorbanannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah meridhai beliau dan menempatkannya di surga yang penuh dengan kenikmatan.

Sumber :
– Hisyam, Ibnu. as-Sirah an-Nabawiyah. 2009. Beirut: Dar Ibnu Hazm.
– Mubarakfuri, Shafiyurrahman. ar-Rahiq al-Makhtum. 2007. Qatar: Wizarah al-Awqaf wa-sy Syu-uni al-Islamiyah.

 

Peristiwa Saqifah Bani Sa’idah dan Penunjukkan Abu Bakar Ash Shiddiq

Ketika Rasulullah ﷺ wafat pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 11 Hijriah, orang-orang Anshar berkumpul di Saqifah bani Sa’idah. [  Saqifah bani Sa’idah berada di Madinah. Ia semacam aula atau balai urung yang biasa mereka gunakan untuk mengadakan pertemuan dan bermajlis. Bani Sa’idah sendiri, pemilik Saqifah ini, adalah salah satu kelompok dari kaum Anshar. Lokasi Saqifah bani Sa’idah berdekatan dengan pasar Madinah dan juga berdekatan dengan rumah Sa’ad bin Ubadah ]

Isu pemilihan calon pemegang urusan kekhilafahan sepeninggal beliau beredar di kalangan mereka.
Orang-orang Anshar berkumpul di sekitar pemimpin suku Khazraj, Sa’ad bin Ubadah.  Berita perkumpulan orang-orang Anshar di Saqifah bani Sa’idah ini sampai pada kaum muhajirin yang saat itu sedang berkumpul bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk keperluan yang sama dengan mereka. Kaum Muhajirin yang diwakili Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, dan Abu Ubaidah bin Jarah lalu segera menyusul orang-orang Anshar di Saqifah bani Sa’idah. Ketika perwakilan orang-orang Muhajirin tiba dan bermajlis bersama orang-orang Anshar, kemudian Sa’ad bin Ubadah pun berpidato dan berorasi.

Pidato Sa’ad bin Ubadah tersebut direkam oleh Ath-Thabari sebagai berikut,
“Wahai orang-orang Anshar! Kalian memiliki keunggulan dalam agama dan keutamaan dalam Islam yang tidak dipunyai satu kabilah Arab yang lain. Muhammad ﷺ tinggal belasan tahun di tengah-tengah kaumnya untuk mengajak mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Pemurah, meninggalkan tandingan tandingan dan berhala. Namun, hanya segelintir orang dari kaumnnya yang beriman, mereka tidak sanggup melindungi Rasulullah saw, memuliakan agamanya dan tidak pula mampu melawan kezaliman yang menimpa diri mereka.  Hingga ketika Allah menghendaki keutamaan bagi kalian, Dia menggiring nikmat ini kepada kalian dan secara khusus melimpahkan nikmat ini untuk kalian. Dia mengunegerahi kalian keimanan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, melindungi beliau dan sahabat-sahbat beliau, memuliakan beliau dan agama beliau, serta berjihad melawan musuh-musuh beliau. Kalian adalah orang-orang yang paling tegas terhadap musuh-musuh beliau hingga bangsa Arab menuruti perintah Allah secara sukarela maupun terpaksa dan orang jauh memberikan ketundukan dalam keadaan hina dan rendah.
Hingga Allah menundukkan dunia untuk RasulNya melalui perjuangan kalian dan bangsa Arab bertekuk lutut kepada beliau lantaran pedangpedang kalian. Allah mewafatkan beliau sedang beliau ridha dan bangga kepada kalian.
Kuasailah urusan (kepemimpinan) ini karena kalian yang berhak memegangnya bukan orang lain.” [ Lihat Tarikh Ath-Thabari, jld. 3, hal. 218. Lihat juga Muhammad Ridha, Abu Bakr Ash-Shiddiq, hal. 42-43 ]

Mendengar pidato Sa’ad bin Ubadah, Umar bin Khaththab langsung hendak bicara namun Abu Bakar menyuruhnya untuk diam. Abu Bakar kemudian berpidato ;

“Sungguh Allah telah mengangkat Muhammad sebagai utusan untuk makhluk-Nya dan saksi bagi umatnya agar mereka beribadah kepada-Nya dan mengesakan-Nya, di saat mereka menyembah tuhan-tuhan yang beraneka
macam dan menyakininya mampu memberi syafaat untuk mereka di sisi-Nya serta bermanfaat untuk diri mereka. Padahal tuhantuhan itu hanyalah batu yang dipahat dan kayu yang diukir.”

Beliau lalu membacakan surat Yunus ayat 18 dan Az-Zumar ayat 3. Abu Bakar lalu melanjutkan, “Namun, bangsa Arab enggan meninggalkan agama nenek moyang mereka. Maka Allah memilih kaum Muhajirin pertama dari kaum beliau untuk membenarkan beliau, mengimani, membantu dan bersabar bersama beliau dalam menghadapi
kejamnya gangguan dan pendustaan kaum beliau. Semua orang menyelisihi mereka, mencemooh mereka. Tetapi mereka tidak ciut hanya karena berjumlah sedikit, atau karena kebencian orang-orang pada mereka, maupun
arena persekongkolan kaum yang mengucilkan mereka. Mereka ini orang-orang pertama yang menyembah Allah di muka bumi (dari umat ini), beriman kepada Allah dan Rasulullah. Mereka itu adalah wali Allah, keluarga besar beliau dan orang yang paling berhak memegang estafet kepemimpinan sepeninggal beliau. Tidak ada yang berusaha merebutnya dari mereka selain orang-orang zalim. Dan kalian wahai orang orang Anshar, adalah orang-orang yang
keutamaan dan keunggulannya dalam Islam tidak diingkari. Allah ridha kalian menjadi penolong agama dan Rasul-Nya, hijrah beliau kepada kalian yang diikuti pula oleh istri-istri serta para sahabat beliau menjadikan mereka
tinggal di tengah-tengah kalian. Bagi kami, setelah generasi Muhajirin pertama tidak ada yang setinggi kedudukan kalian. Kami pemimpin dan kalian menteri. Kalian selalu diajak bermusyawarah dan tak akan diputuskan suatu
perkara tanpa persetujuan kalian.” [ Lihat Tarikh Ath-Thabari, jld. 3, hal. 19-20. 8 HR. Ahmad dalam Musnad-nya, no hadits. 19. Lihat juga Ali Ash-Shalabi, Sirah Abu Bakr Ash-Shiddiq, hal. 118-119 ]

Dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa di antara isi pidato Abu Bakar yaitu, “Kalian telah mengetahui bahwa Rasulullah saw telah bersabda. ‘Seandainya manusia meniti suatu lembah, sedangkan orang-orang Anshar
melewati lembah yang lain, aku akan melewati lembah Anshar.’ Dan engkau telah mengetahui wahai Sa’ad, bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda saat engkau sedang duduk, ‘Kaum Quraisy adalah pemegang urusan (kekhilafahan) ini, maka orang yang berbakti dari kalangan manusia akan mengikuti orang yang berkati dari
kalangan Quraisy. Dan orang yang durhaka dari kalangan manusia akan mengikuti orang yang durhaka dari kalangan Quraisy.”

Kemudian Sa’ad berkata kepada Abu Bakar, “Engkau benar. Kami adalah menteri, sedangkan kalian adalah
pemimpin.” [ HR. Ahmad dalam Musnad-nya, no hadits. 19. Lihat juga Ali Ash-Shalabi, Sirah Abu Bakr Ash-Shiddiq, hal. 118-119. ]

Setelah ketegangan sedikit mereda, Basyir bin Sa’ad bin Tsa’labah Al-Khazraji AlAnshari lalu berdiri dan berpidato, “Wahai Anshar! Demi Allah! Sungguh jika kita adalah orang-orang yang menyandang keutamaan dalam berjihad melawan orang-orang musyrik dan memiliki keunggulan dalam agama ini, kita tidak meniatkannya selain untuk meraih ridha Rabb kita, menaati Nabi kita dan sungguh beramal untuk diri kita. Tidak sepantasnya kita mengungkit-ungkit hal tersebut di hadapan manusia. Ketahuilah, Muhammad saw dari Quraisy dan kaumnya lebih berhak dan lebih utama mewarisi kepemimpinannya. Demi Allah! Allah tidak akan melihatku merebut perkara ini
dari mereka selamanya. Bertakwalah kepada Allah. Jangan menyelisihi dan menentang
mereka.” [  Beberapa riwayat menyebutkan perselisihan antara Umar bin Khaththab dengan Hubab bin Al-Mundzir ketika di Saqifah. Menurut Ali Ash-Shalabi, riwayat tersebut tidaklah shahih ]

Lalu dengan bijak Abu Bakar menyudahi perselisihan itu dengan mengajukan dua orang dari Muhajirin untuk memegang kekhilafahan seraya berkata, “Kebaikan yang telah kalian sampaikan, itu memang hak kalian. Namun
permasalahan (kekhilafahan) ini tidak akan dijabat kecuali oleh orang dari kalangan Quraisy. Mereka adalah pemilik nasab dan tempat tinggal paling baik. Aku ridha kalau salah satu dari kedua orang ini (Umar bin Khaththab dan Abu
Ubaidah) menjadi pemimpin kalian. Terserah kalian, manakah di antara keduanya yang akan kalian pilih!”

Tetapi Umar bin Khaththab dan Abu Ubaidah menolaknya. Umar bin Khaththab lalu mengatakan, “Tidak. Demi Allah! Kami tidak pantas memegang kepemimpinan ini membawahi dirimu. Engkau Muhajirin terbaik, salah seorang dari dua orang kala keduanya berada di gua dan pengganti Rasulullah saw dalam memimpin shalat. Sementara shalat
merupakan amal terbaik dalam Islam. Siapakah yang pantas maju di hadapanmu atau memegang perkara ini membawahi dirimu? Ulurkan tanganmu! Kami akan membaiatmu.” [ Muhammad Ridha, Abu Bakar Ash-Shiddiq, hal. 48. ] Abu Bakar pun mengulurkan tangannya dan Umar langsung membaiatnya diikuti oleh Abu Ubaidah orang-orang Muhajirin, dan kemudian oleh orang-orang Anshar. [Ali Ash-Shalabi, Sirah Abu Bakr Ash-Shiddiq, hal. 118. Dalam
riwayat lain disebutkan bahwa manakala orang-orang Muhajirin bergerak membaiat Abu Bakar, Basyir bin Sa’ad
pun segera berbaiat mendahului mereka. Dengan demikian, ia menjadi orang pertama yang berbaiat kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq  ]

Menurut Ash-Shalabi, Sa’ad bin Ubadah telah membaiat Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pasca perdebatan yang terjadi di Saqifah bani Sa’idah. Ia telah mengubah pendapatnya yang pertama untuk menjadi
pemimpin dan memberi persetujuan kepada Abu Bakar sebagai khalifah. Ia juga menilai bahwa tidak ada periwayatan shahih yang menyebutkan adanya kemelut baik yang bersifat sepele maupun serius. Tidak pernah pula
diriwayatkan secara shahih adanya kelompok oposisi yang berambisi terhadap kekhilafahan, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian penulis sejarah. [ Ibid, hal. 121-124. Lihat juga Mahmud Syakir, At-Tarikh AlIslami,
jld. 3, hal. 57 ]

Pembaiatan Umum Terhadap Abu Bakar Sebagai Khalifah

Pasca pembaiatan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang bersifat terbatas di Saqifah Bani Sa’idah, pada hari berikutnya kaum muslimin berkumpul untuk melakukan pembaiatan umum.
Sebelum proses pembaiatan umum, Umar bin Khaththab mengawalinya dengan berpidato,

“Wahai manusia! Kemarin aku sudah mengatakan kepada kalian sesuatu yang tidak aku dapatkan dalam Kitab Allah dan bukan pula wasiat Rasulullah yang disampaikan kepadaku.  Akan tetapi, aku melihat bahwa Rasulullah saw yang akan mengatur urusan kita. Allah swt telah menjaga kitab-Nya di tengah-tengah kalian yang dengannya Allah memberi petunjuk kepada Rasul-Nya. Bila kalian semua berpegang teguh dengannya, niscaya Allah akan memberi
petunjuk kepada kalian sebagaimana yang Dia telah memberi petunjuk kepada Rasul-Nya.  Sesungguhnya Allah swt telah menitipkan semua urusan kalian kepada orang yang terbaik di antara kalian. Dialah sahabat Rasulullah saw dan orang kedua daro dua orang saat berada di gua.  Untuk itu, berdirilah kalian dan berbaiatlah kepadanya.”

Pidato Politik Pertama Abu Bakar Setelah Pembaiatan

Maka orang-orang pun membaiat Abu Bakar setelah pembaiatan di Saqifah.[Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, jld. 6, hal. 301  ] Abu Bakar Ash-Shiddiq, setelah proses pembaiatan umum, lantas menyampaikan pidato perdana kekhilafahan dan politiknya. Dengan suara lantang dan penuh keyakinan ia berkata :

“Wahai manusia! Aku telah diserahi kekuasaan  untuk mengurus kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Itulah sebabnya, jika aku melakukan kebaikan, bantulah aku. Dan jika aku berbuat salah, ingatkanlah aku. Jujur adalah sikap amanah dan dusta merupakan sikap khianat. Orang yang lemah di antara kalian kuanggap kuat di sisiku sebelum aku memberi haknya, insya Allah. Dan orang kuat di antara kalian kuanggap lemah di sisku sebelum aku mengambil hak yang harus ditunaikan olehnya, insya Allah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fi sabilillah, kecuali Allah akan menjadikan hidup mereka hina dan dihinakan. Tidaklah perbuatan keji menyebar di
suatu kaum, kecuali Allah akan menyebarkan malapetaka di tengah-tengah mereka. Karena itu, taatlah kalian kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak ada ketaatan kepadaku bagi kalian. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kalian.”

Dalam pandangan Ash-Shalabi, pidato perdana kekhilafahan dan politik Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan pidato yang substansial meski ringkas. Dalam khutbah tersebut, Abu Bakar menetapkan prinsip keadilan dan kasih sayang dalam hubungan antara penguasa dan rakyat. Ia menekankan bahwa ketaatan kepada penguasa harus selaras dengan kataatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Abu Bakar juga membangkitkan semangat jihad fi sabilillah
sebagai jalan sangat penting untuk memuliakan umat dan mengajak umat Islam meninggalkan perbuatan keji demi melindungi masyarakat dari kehancuran dan kerusakan.[ Ali Ash-Shalabi, Sirah Abi Bakr Ash-Shiddiq, 138-139 ]

Perang Perang Dalam Masa Pemerintahan Abu Bakar As Shidiq 

Manakala bangsa Arab mendengar berita wafatnya Rasulullah saw, banyak dari mereka yang murtad.  Mereka menganggap seluruh perjanjian dengan Muhammad batal, seiring wafatnya Muhammad  Gelombang orang-orang yang murtad ini menimbulkan ancaman besar di Jazirah Arab. Muncul juga orang-orang yang mengaku sebagai nabi. Bahkan mereka memobilisasi pasukan untuk memerangi umat Islam. Selain itu, juga ada gelombang mereka yang enggan mengeluarkan zakat.  Aisyah, Ummul Mukminin menggambarkan keadaan saat itu dengan ungkapan, “Tatkala Rasulullah saw wafat, orang orang Arab kembali murtad secara besar besaran dan kemunafikan pun merajalela. Demi Allah! Aku mendapat beban yang berat, seandainya ia menimpa gunung yang kokoh niscaya ia akan hancur lebur. Para sahabat Muhammad ibarat domba yang diguyur hujan lebat pada malam hari di suatu kebun yang berada di tengah-tengah padang yang dipenuhi binatang buas.” [ As-Suyuthi, Tarikhul Khulafa, hal. 59 ]

Setidaknya ada 5 kebijakan penting yang diletakkan Abu Bakar, di antaranya adalah [1] pemberangkatan pasukan Usamah bin Zaid, [2] memerangi kaum murtadin dan [3] nabi palsu, [4] perluasan wilayah ke Iraq dan [5] Syam. Mari kita simak perjalanannya satu per satu.

I. Melanjutkan Perang Ke Syam : Pemberangkatan Pasukan Usamah bin Zaid

Kebijakan pertama yang diambil oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah memberangkatkan pasukan Usamah bin Zaid. Sebelum itu, pada tahun 11 Hijriah, Rasulullah ﷺ sebenarnya telah mengirimkan satuan perang untuk memerangi Romawi di daerah Balqa’ dan Palestina. Sebagian anggota pasukan itu adalah para senior orang-orang Muhajirin dan Anshar yang dikomandani oleh Usamah bin Zaid.

Mobilisasi pasukan Usamah bin Zaid ini terhitung satuan perang ketiga yang dipersiapkan Rasulullah ﷺ dalam menghadapi Romawi setelah Mu’tah (8 Hijriah) dan Tabuk (9 Hijriah). 

Ketika sakit Rasulullah ﷺ semakin parah, pasukan Usamah bin Zaid masih berjaga-jaga di Jurf. [ Jurf adalah suatu tempat berjarak tiga mil dari Madinah ke arah Syam.  ]. Mereka kembali ke Madinah ketika Rasulullah saw wafat, lalu kembali lagi ke Jurf.  Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq menjabat khalifah, ia memerintahkan salah seorang pada hari ketiga wafatnya Rasulullah untuk mengumumkan di tengah-tengah manusia,

“Pengiriman pasukan Usamah harus segera dilaksanakan, dan ingatlah bahwa tidak seorang pun anggota pasukan Usamah yang boleh tinggal di Madinah. Mereka harus pergi ke markas pasukan Usamah di Jurf.”
Sebagian sahabat mengusulkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq agar membatalkan pemberangkatan pasukan Usamah bin Zaid. Mereka beralasan bahwa orang-orang Arab sedang bersiap-siap menyerang Madinah, sementara yang ikut bersama Usamah bin Zaid adalah mayoritas kaum muslimin. Mereka khawatir terhadap keselamatan khalifah, kehormatan Rasulullah, dan serta seluruh kota dan penduduk Madinah. Usamah bin Zaid pun yang saat itu sedang berada di Jurf mengutus Umar bin Khaththab kepada Abu Bakar agar diizinkan kembali ke Madinah dengan alasan yang sama. Akan tetapi Abu Bakar tidak menyetujuinya dan tetap pada pendiriaannya untuk memberangkatkan pasukan Usamah.

Bahkan ia berkata, “Demi Zat yang jiwa Abu Bakar berada di tangan-Nya! Sekiranya aku yakin ada binatang buas yang akan menerkamku, sungguh aku akan tetap melaksanakan pengiriman pasukan Usamah seperti yang diperintahkan Rasulullah saw. Seandainya tidak tersisa di negeri ini selain diriku, sungguh aku tetap akan melaksanakan perintah itu.”

Sementara itu, orang-orang Anshar menuntut agar pasukan tersebut dipimpin orang yang lebih tua dari Usamah yang disampaikan Umar bin Khaththab kepada Abu Bakar. Menanggapi usulan itu, Abu Bakar lantas berkata kepada Umar, “Celakalah engkau wahai putra Khaththab! Rasulullah telah mengangkat Usamah (sebagai komandan pasukan), tetapi mengapa engkau menyuruhku membatalkannya.” [ Mahmud Syakir, At-Tarikh Al-Islami, jld. 3, hal. 65. ]
Pada saat pemberangkatan pasukan Usamah bin Zaid, Abu Bakar mengantarkan pasukan tersebut dengan berjalan kaki, sementara Usamah mengendarai hewan tunggangannya. Usamah lantas mengusulkan agar Abu Bakar lah yang naik hewan tunggangan dan ia yang berjalan kaki. Tetapi usul itu ditolak Abu Bakar. [ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, jld. 6, hal. 305. ].

Pada kesempatan itu juga Abu Bakar meminta izin kepada Usamah bin Zaid agar mengizinkan Umar bin Khathtthab untuk bisa tinggal di Madinah supaya membantu dan menemaninya menjalankan kekhilafahan. Usamah pun mengizinkannya. Tatkala itu Umar bin Khaththab adalah salah satu pasukan Usamah.

Sebelum mereka berangkat, Abu Bakar memberi wasiat kepada pasukan Usamah bin Zaid, “Wahai manusia, berdirilah! Aku wasiatkan kepada kalian 10 hal, yang hendaknya kalian jaga : Janganlah kalian berkhianat, mengambil ghanimah sebelum dibagi, menipu, memutilasi, dan membunuh anak kecil, orang lanjut usia, maupun perempuan. Janganlah kalian merusak dan membakar pohon kurma.  Janganlah kalian menebang pohon yang sedang berbuah dan janganlah kalian menyembelih domba, sapi, dan juga onta untuk kecuali untuk dimakan. Kalian akan melewati beberapa kaum yang membawakan untuk kalian bejana-bejana yang berisi berbagai macam makanan. Jika kalian memakannya sedikit demi sedikit, sebutlah selalu nama Allah sebelum makan.  Kalian juga akan bertemu dengan beberapa kaum yang mencukur bagian tengah rambut mereka saja dan membiarkan sekelilingnya seperti ikat kepala. Tebaslah mereka dengan pedang dan mulailah dengan menyebut nama
Allah.” [ Mahmud Syakir, op. cit, hal. 66 ].

Dari wasiat Abu Bakar kepada pasukan Usamah tersebut, tampaklah tujuan jihad umat Islam, yaitu mendakwahkan Islam. Ketika suatu bangsa menyaksikan pasukan Islam yang menaati wasiat tersebut, bangsa tersebut pasti memeluk Islam secara sukarela.

Penyebabnya adalah :

  1. Mereka menyaksikan pasukan Islam tidak berkhianat, tetapi menjaga amanah, memenuhi janji, tidak mencuri harta orang lain maupun menguasainya dengan cara yang tidak benar.
  2. Pasukan Islam tidak memutilasi musuh. Mereka membunuh dengan cara yang benar; suka memaafkan; memuliakan dan menyayangi anak kecil; berbuat baik dan menghormati orang yang sudah tua; menjaga dan melindungi kaum wanita.
  3. Pasukan Islam tidak menghamburhamburkan kekayaan negeri yang telah ditaklukkan. Bangsa yang ditaklukkan justru akan melihat pasukan Islam menjaga pohon kurma dan tidak membakarnya; tidak menebang pohon yang sedang berbuah dan tidak menghancurkan perkebunan atau
    merusak ladang.
  4. Pasukan Islam bisa menjaga kekayaan umat manusia, sehingga mereka tidak akan bertindak licik, berkhianat, mengambil ghanimah sebelum dibagikan, memutilasi musuh yang terbunuh, dan membunuh anak kecil, orang yang lanjut usia dan kaum wanita. Pasukan Islam juga menjaga hewan ternak, sehingga tidak akan menyembelih domba, sapi maupun unta kecuali hanya untuk dimakan saja. Apakah pasukan nonmuslim mampu menjaga salah satu dari etika perang tersebut? Atau, mereka justru mengubah negeri yang mereka taklukkan menjadi rusak dan hancur? Kita dapat melihat faktanya dari agresi Komunis atheis di Afghanistan, dan Serbia di Bosnia dan juga Kosovo, di India terhadap Muslim Kashmir, di Chechnya, dan Yahudi di Palestina.
  5. Pasukan Islam menghormati keyakinan dan agama umat terdahulu, sehingga tidak menyerang orang-orang yang sedang beribadah di gereja dan tidak mengganggu mereka.
  6. Setiap poin yang disebutkan dalam wasiat Abu Bakar bukan sekedar kata-kata, melainkan telah dilaksanakan oleh pasukan Islam di masanya dan masa sesudahnya. [ Ali Ash-Shalabi, Sirah Abi Bakar Ash-Shiddiq, hal. 189-190.  ]
  7. Usamah dan pasukannya berangkat ke medan perang. Usamah dan pasukannya meraih kemenangan demi kemenangan dan berhasil mendapatkan ghanimah.

Keberangkatan pasukan Usamah ini sampai pulangnya membutuhkan waktu 40 hari.

II. Perang Riddah [ حروب الردة ]

Juga disebut Perang Melawan Kemurtadan, karena saat itu, banyak suku  Arab menganggap seluruh perjanjian dengan Muhammad batal, seiring wafatnya Muhammad.  Mereka bahkan mereka menolak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, mereka menolak membayar pajak dan menyatakan kembali pada agama nenek moyang mereka.   Mereka menjadi murtad.  Meski gerakan kemurtadan sudah mulai muncul  pasca ‘Amul Wafud (Tahun Delegasi) tetapi gerakan ini seakan mendapatkan momentumnya saat wafatnya Rasulullah.

Berkat kegigihan Abu Bakar, perang melawan kemurtadan itu hanya berlangsung selama 1 tahun.  Yakni tahun 632 dan 633 M.

Inilah daerah konflik pada Perang Riddah dan tokoh tokohnya, sebagaimana yang tertera dalam literatur Islam.  Diklasifikasikan berdasarkan letak geografis adalah :

  1. Buzakhah : berada di bagian utara kota Madinah, pusat suku Asad, Tayyi dan Gaṭafan. Dua tokoh oposisi di daerah ini yang dicatat sejarah adalah (1) Ṭulaihah bin Khuwailid melarikan diri ke Syam, (2) Uyainah bin Hiṣan dikirim ke Madinah dan mendapat Amnesti dari khalifah, (3) Hibal, saudara Ṭulaihah dibunuh oleh pasukan Ukasyah bin Mihsan dan Ṡabit bin Ahkam, serta (4) Ummu Zilm, terbunuh oleh pasukan Khālid bin Walīd.
  2. Buthah : Pusat suku Yarbu dan suku Tamīm, domisili Malik bin Nuwairah. Tokoh oposisi di daerah ini adalah (1) Malik Nuwairah pemimpin suku Yarbu, tewas oleh Khālid bin Walīd. Saudara Malik, (2) Mutammin bin Nuwairah, mendapat amnesti dari Khalifah Abu Bakar di Madinah.
  3. Yamamah : Peristiwa Yamamah mendapat perhatian lebih dalam literatur sejarah, yang merupakan pusat dari suku Hanīfah pengusung Musailimah bin Habīb. Ya’qubi hanya menulis Musailamah sebagai tokoh oposisi. Ibn Kaṡīr dalam sejarahnya secara berurutan menulis (1) pemimpin suku Hanīfah, Muhakkam bin Aṭ-Ṭufail, (2) Ar-Rajal bin Anfawah serta (3) Musailimah terbunuh oleh pasukan khalifah di bawah pimpinan Khālid bin Walīd.
  4. Bahrain : terletak di sebelah selatan Semenanjung Arab, pusat suku Abdul Qais. Tokoh oposisi yang disebutkan sejarah di daerah ini adalah Mundzir bin Nu’man bin Mundzir. Ibnu Kaṡīr mencatat Mundzir kemudian tunduk pada Kekhalifahahan Abu Bakar, tanpa keterangan lebih lanjut.
  5. Oman : Terletak di ujung utara Semenanjung Arab, berpusat di kota Daba. Pihak oposisi khalifah dari Oman, Laqit bin Malik Al-Azdawi terbunuh oleh pasukan Hużaifah dan Arfajah.
  6. Mahrah : Pihak oposisi di Mahrah berasal dari suku Muharrib, Al-Muṣabbah. Ia terbunuh dalam peperangan menghadapi aliansi Ikrimah dan pihak oposisi lainnya, Syikhrit. Ia kemudian di kirim ke Madinah dan mendapat amnesti oleh khalifah.
  7. Yaman : Pusat Aswad Al-Ansi dalam literatur Islam dicatat telah terbunuh pada masa Nabi Muhammad. Pihak oposisi selanjutnya (1) Qais bin Makhsuh dan (2) Amru bin Ma’di ditawan, dan seperti tawanan lainnya, mereka mendapat amnesti dari khalifah.

Setelah kedatangan pasukan Usamah bin Zaid dan sesudah pasukannya telah cukup beristirahat, Abu Bakar lalu membuat planning pengiriman berbagai pasukan guna menumpah orang-orang murtad dan yang enggan membayar
zakat.

Khalifah Abu Bakar dalam perang Riddah ini membentuk pasukan yang terbagi atas 11 infantri. Pimpinan pasukan, tujuan dan tugas masing-masing infantri sebagaimana tercantum dalam sejarah Aṭ Tabari :

  1. Khalid bin Walid, dikirim untuk menghancurkan Thulaihah Al-Asadi. Bila sudah selesai, selanjutnya ia menyerang Malik bin Nuwairah di Buthah, jika orang tersebut melawan dirinya..
  2. Ikrimah bin Abi Jahl menghadapi Musailimah.
  3. Muhajir bin Abi Umayah, diutus untuk menghancurkan pasukan sisa–sisa pasukan Al-Aswad Al-Ansi dan membantu kaum Abna’ menghadapi Qais bin Maksyuh, kemudian menuju Kindah di Hadhramaut.
  4. Khalid bin Sa’id, diutus ke wilayah-wilayah pinggir Syam.
  5. Amru bin Aṣh menuju kabilah Quda’ah, Wadi’ah, dan Al Haris.
  6. Hudzaifah bin Mihshan Al-Ghifari, dikirim kepada penduduk Duba.
  7. Arfajah bin Hurtsumah, dikirim ke Maharah.
  8. Syurahbil bin Hasanah, ditugaskan menyusul Ikrimah bin Abu Jahl. Bila sudah selesai menjalankan tugas di Yamamah, ia dengan pasukannya menuju Qudha’ah.
  9. Ma’n bin Hajiz, ditugaskan ke Bani Salim dan Hawazin yang bergabung dengan mereka.
  10. Suwaid bin Muqarin, ditugaskan ke Tihamah, Yaman.
  11. Ala` bin Hadhrami, ditugaskan ke Bahrain. [ Muhammad Ridha, Abu Bakar Ash-Shiddiq, hal. 76-77.  ]

Peta Perang Riddah

Literatur Islam tidak banyak membahas mengenai latar belakang suku setiap pimpinan pasukan Khalifah Abu Bakar. Catatan detail mengenai dominasi suku Quraisy dalam pasukan perang khalifah hanya ditemukan pada sejarah Al Ya’qubi dalam peristiwa di daerah Żul Qiṣṣah. Al Ya’qubi mencatat, kaum anshar mempertanyakan keputusan Khalifah Abu Bakar yang mendiskreditkan peran penduduk Madinah.

Ṡabit bin Qais dikutip langsung oleh Al Ya’qubi menyatakan bahwa kaum Anshar juga berhak dan mampu untuk menjadi pemimpin pasukan dalam perang Riddah. Jawaban Khalifah Abu Bakar hanya dengan mengangkat Ṡabit bin Qais sebagai pemimpin pasukan kaum anshar di bawah pimpinan umum Khalid bin Walid.  Mayoritas literatur sejarah Islam pada pembahasan mengenai peristiwa di Zul Qiṣsah hanya menitikberatkan pada himbauan Ali bin Abi Thalib kepada Khalifah Abu Bakar untuk menetap di Madinah, tanpa membahas mengenai kecemburuan sosial kaum Anshar. Sejarah Tabari dan Khalifat turut mencatat penunjukkan Ṡabitbin Qais di Dzul Qasshah tanpa mencantumkan masalah intervensi kaum Anshar. Al Balazuri menulis penunjukkan Ṡabit bin Qais sebagai pemimpin pasukan anṣar dalam perang menghadapi Ṭulaihah serta Musailimah, di bawah pimpinan umum Khalid bin Walid. Ibn Aṡir dan Ibn Kaṡir mencatat penunjukkan Ṡabit bin Qais hanya dalam perang di Yamamah.

Menindaklanjuti catatan sejarah Ya’qubi, silsilah garis keturunan para pemimpin pasukan Khalifah Abu Bakar sebagaimana tercatat dalam catatan sejarah :

  1. Khalid bin Walīd bin Mugirah bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Makhzum Al-Qurasyi Al-Makhzumi.
  2. Ikrimah bin Abi Jahl, nama Abu Jahal adalah‘Amru bin Hisyām bin Al-Mughīrah bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Makhzūm Al-Qurasyi Al-Makhzūmi.
  3. Muhajir bin Abi Umayyah bin Mughīrah Al-Qurasyi Al-Makhzūmi.
  4. Khalid bin Sa’id bin Al ‘Ash bin Umayah bin Abd Syams bin Abdi Manf bin Quṣay Al Qurasyi Al Umawi.
  5. Amru bin Ash bin Wa’il bin Hasyim bin Sa’id bin Sahm bin ‘Amru bin Huṣaiṣ bin Ka’ab bin Luay Al Qurasyi As-Sahmi.
  6. ‘Arfajah bin Harṡamah bin Abdul ‘Uzza bin Zuhair bin Ṡa’labah bin ‘Amru.
  7. Syurahbil bin ‘Abdullah bin Muṭa’ bin Abdullah bin Gaṭrif bin Abdul ‘Uzza bin Jaṭamah bin Malik bin Malazim bin Malik bin Ruhm bin Sa’ad bin Yaskur bin Mubasyir Al-Gauṡ bin Murra. Nasab Hasanah berasal dari nama ibu Syurahbil.
  8. Suwaid bin Muqarrin bin Aiż bin Mīja bin Husair bin Nasri bin Hubsyiah bin Ka’ab bin Ṡaur bin Huḍmah bin Laṭim bin ‘Uṡman bin Amru bin Ud Al-Muzaini.
  9. Al ‘Ala bin Abdullah bin ‘Ibad bin Akbar bin Rabi’ah bin Malik bin Akbar bin ‘Uwaif bin Malik bin Al Khazraj bin Ubay bin As Ṣaḍif.

Hudzifah bin Mihshan Al Gilfani dan Ṭuraifah bin Hajiz tidak ditemukan catatan silsilahnya. Catatan mengenai Hużaifah dan Ṭuraifah hanya berkisar pada perannya dalam perang Ridda.
Berdasarkan hubungan garis keturunan, para pemimpin pasukan Khalifah Abu Bakar dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Khalid bin Walid (1) Ikrimah (2) dan Muhajir (3)merupakan garis keturunan Al-Mugirah bin Abdullah dari suku Makhzum, kemudian bertemu Khalid bin Walid (4) dari suku Abd Manaf pada garis keturunan Ka’ab bin Luay, termasuk Amru bin Aṡ (5) dari suku Sahm.

Kabilah Ka’ab bin Luay termasuk golongan suku Quraisy kota Makkah.
Suwaid bin Amru (1) dari suku Muzainah berasal dari garis keturunan Amr bin Ud bin Ṭabikhah. Nasab yang sama pada Syurahbil (2) dari suku Al-Gawṡ, keturunanAl-Gauwṡ bin Murra bin Ud bin Ṭabikhah.
Arfajah berasal dari suku Bariq keturunan ‘Adi Ibn Hariṡah bin Muziqiya, bagian dari suku Amr.
‘Ala bin Hadrami dari suku Iyad, keturunan Ṣaḍif bin Aslam bin Zaid bin Malik bin Zaid bin Hadramaut.

Seluruh pimpinan perang yang dibentuk oleh Khalifah Abu Bakar diserahkan kepada kaum muhajirin, kaum imigran di Madinah. Secara khusus, suku Quraisy mendominasi susunan pimpinan sebelas pasukan tersebut. Dalam perang menghadapi tokoh oposisi yang menonjol dalam sejarah seperti Musailamah, Ṭulaihah, Malik, dan Aswad, Khalifah Abu Bakar lebih mempercayakan pasukannya kepada Khalid bin Walid, Ikrimah, serta Muhajir yang merupakan keturunan suku Quraisy.

Khalifah Abu Bakar mengawali serangan dalam Perang Ridda dengan meminta bantuan Adi bin Hatim untuk membantu Khalid bin Walid menghadapi Ṭulaihah bin Khuwailid. Adi bin Hatim merupakan keturunan suku Tayyi, salah satu suku aliansi pendukung Ṭualaihah.

Haekal dalam biografi Abu Bakar-nya menyebut hal ini sebagai “Politik Abu Bakar untuk mencerai-beraikan suku Tayyi dan sekutunya”. Dalam beberapa catatan sejarah lain, pasukan khalifah turut mendapatkan bantuan pasukan dari daerah sekitar pusat pihak oposisi. Pasukan ini disebutkan secara terpisah dalam literatur sejarah Islam, antara lain:
Pasukan Adi bin Hatim dari suku Tayyi dalam peperangan menghadapi Ṭulaihah. Adi bin Hatim salah satu keturunan suku Tayyi dari suku Al-Gawṡ. Suku Tayyi merupakan salah satu aliansi suku pendukung Ṭulaihah bin Khuwailid.
Pasukan Fairuz Ad-Dilami terhadap perlawanan Qais di Yaman. Fairuz, Dadzweh, serta Qais merupakan loyalis Aswad Al-Ansi. Pasca kematian Aswad, terjadi perpecahan yang menyebabkan Fairuz berpihak kepada Khalifah Abu Bakar.
Pasukan Syikhrit menghadapi pasukan Mushabbah di Mahrah. Syikhrit merupakan pimpinan pasukan oposisi Oman yang terbagi menjadi dua, salah satunya dipimpin oleh Muṣabbah dari suku Muharrab.
Pasukan Jafar dan Abbad bin Al-Jalandi di Oman. Ja’far dan Abbad bin Al-Jalandi bin Al-Mustakbir merupakan anak dari Al-Jalandi, penguasa Oman yang menyatakan tunduk pada Madinah di masa Nabi Muhammad ﷺ.
Muja’ah bin Murrarah dalam peperangan menghadapi Musailamah. Muja’ah bin Murrarah salah satu keturunan suku Hanīfah di Yamamah, suku yang sama dengan Musailimah. Pada awalnya Muja’ah adalah tawanan perang Khalid bin Walid, kemudian ia menjadi negosiator antara pasukan Khālid dan suku Yamamah.
Pasukan bantuan yang didapat oleh Khalifah Abu Bakar berasal dari suku di daerah konflik, baik sebagai utusan yang ditempatkan sejak masa Nabi Muhammad, atau dari pihak oposisi yang kemudian berpihak kepada khalifah. Hal ini mengakibatkan perpecahan di pihak oposisi sehingga memaksa suku-suku oposisi turut menghadapi perang saudara.

Sekutu yang berpihak kepada Kekhalifahan Abu Bakar di sisi lain merupakan pihak minoritas dari suku-suku oposisi. Suku Tayi hanya bagian dari aliansi bersama suku Gatafan dan Asad, Jafar dan Abbad pada awalnya sempat dikalahkan oleh pihak oposisi di Oman, Syikrit hanya memegang pasukan minoritas dibanding Al-Muharrab, sementara Muja’ah merupakan tawanan perang Khālid bin Walīd.

Secara garis besar, pasukan Khalifah Abu Bakar pada perang Ridda dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian besar:

  • Pasukan utama; dikirim secara terpisah dan terbentuk dari jajaran aliansi pendukung Khalifah Abu Bakar di Madinah. Nama-nama pimpinan pasukan didominasi oleh suku Quraisy dan kaum muhajirin pada umumnya.
  • Pasukan bantuan; terbentuk dari kalangan minoritas pihak oposisi karena dampak dari perpecahan suku maupun aliasi suku di masing-masing daerah konflik.

Referensi :
Al-Balāżuri, Abu ‘Abbās Ahmad bin Yahyā bin Jābir. Futūh Buldān. Beirut: Mu’assasah al-Ma’ān, 1987
Abu al-Hajjāj, Jamāludīn. Tahżību al-Kamāl fi Asma’ ar-Rijāl. Bagdad: Mu’asasah ar-Risālah, 1975
Haekal, Muhammad Husain. Abu Bakar As-Shidiq. terj. Ali Audah. Jakarta: Pustaka Utera AntarNusa, 2003
Ibn Aṡīr, ‘Izza ad-dīn Abu Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Jazari. Asad al-Gāyah fi Ma’rifat aṣ-Ṣahābah. Beirut: Dār ibn Hāzim, 2012
Ibn Kaṡīr, ‘Imadudīn Abu al-Fadā’ Ismā’īl ibn ‘Umar. al-Bidāyah wa an-Nihāyah. Hajr, 1998
Ibn Khayāṭ, Khalīfat. Tārikh Khalīfat bin Khayāṭ. Riyadh: Dār aṭ-Ṭaiba, 1975
Riḍā , ‘Umar. Mu’jam Qabāil al-‘Arab. Beirut: al-Resalah, 1997
Aṭ-Ṭabarī, Abu Ja’far Muhammad bin Jarīr. Tārīkh at-Tabarī. Riyadh: Bait al-Afkār ad-Dauliah
Al-Ya’qūbī, Ahmad bin Abu Ya’qub bin Ja’far bin Wahab ibn Wāḍih. Tārīkh al-Ya’qūbī. Beirut: Alaalami, 2010

Dampak Perang Riddah

Dampak perang Ridda menyebabkan suku-suku oposisi seperti suku Gaṭafan, Tayi, Asad, Hanīfah, Yarbu, Muharrib, dan penduduk Yaman kehilangan tokoh sentral. Penguasa lokal yang menjadi korban perang Ridda di antaranya adalah tokoh sentral suku Hanīfah seperti Musailimah dan Muhakkam, Malik bin Nuwairah pemimpin suku Yarbu, Laqit di Oman, serta Al-Mushabbah pemimpin suku Muharrib di Mahrah.

Tokoh oposisi yang selamat dari Perang Ridda mendapat amnesti langsung dari khalifah. Pihak yang mendapat amnesti sebagian besar hanya “orang kedua” dan bukan merupakan tokoh sentral dalam perang Ridda, atau dapat dikatakan tidak lagi memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan Kekhalifahan Abu Bakar. Pihak oposisi ini antara lain Uyainah yang merupakan bagian dari pasukan Ṭulaihah, Syikrit bagian dari pihak Al-Musabbah, Mutammim saudara Malik bin Nuwairah, serta Mundzir dan Qais yang tidak mendapat dukungan penuh dari penduduknya.

Pasca perang Riddah, Khalifah Abu Bakar kemudian menunjuk gubernur di setiap wilayah sebagai wakil kekhalifahannya. Merujuk pada biografi Abu Bakar karya Muhammad Ridha, gubernur Khalifah Abu Bakar antara lain :

  1. Attab bin Asid di Makkah, salah satu keturunan suku Quraisy.
  2. Usman bin Abi Al-Aṣ di Taif, keturunan suku Ṡaqif yang menetap di Ta’if sejak masa Nabi Muhammad.
  3. Al-Muhajir bin Abi Umayah di Shan’a. Salah satu pemimpin pasukan khalifah dari suku Quraisy pada masa perang Ridda.
  4. Ziyad bin Labid Al-Anṣari di Hadramaut, menjabat sebagai gubernur Hadramaut pada masa Nabi Muhammad, keturunan suku Khazraj.
  5. Ya’la bin Abi Umayah di Khulan, menjabat gubernur Yaman hingga masa ‘Umar bin Khaṭāb, khalifah setelah Abu Bakar.
  6. Abu Musa Al-Asy’ari di Zabid, termasuk salah satu utusan di Yaman sejak masa Nabi Muhammad.
  7. Mu’aż bin Jabal di Janad, keturunan suku Khazraj Anshar. Muadz bertempat di Yaman sejak masa Nabi Muhammad.
  8. ‘Alaudin Al-Hadrami di Bahrain, salah satu pemimpin pasukan perang Khalifah Abu Bakar yang di tugaskan ke Bahrain.
  9. Jarir bin Abdullah di Najran, disebutkan berasal dari Yaman sejak masa Rasulullah ﷺ.
  10. Abdullah bin Ṡaub di Jurasy, salah satu utusan Nabi Muhammad ﷺ di Yaman yang berkonfrontasi langsung dengan Aswad Al-Ansi.
  11. ‘Iyad bin Ganm di Dumatul Jandal, ia kemudian menjabat gubernur Syam setelah wafatnya Abu Ubaidah.
  12. Abu Ubaidah bin Jarrah di Syam, salah satu keturunan Quraisy yang di utus Nabi Muhammadﷺ  ke daerah Syam.

Khalifah Abu Bakar mempertahankan mayoritas gubernur yang telah ditunjuk sejak masa Rasulullah ﷺ, khususnya di daerah Yaman. Nama-nama seperti Utsman, Ziyad, Abu Musa, Mu’adz, Jarir, Abdullah, Iyad serta Abu Ubaidah merupakan utusan Rasulullah ﷺ di masing-masing daerah. Khalifah Abu Bakar hanya mengutus Alaudin Al-Hadrami di Bahrain yang sebelumnya dikuasai oleh Mundzir bin Nu’man, Muhajir bin Abi Umayah di Shan’a yang dikuasai oleh Fairuz dalam perang Riddah, serta menambah Syurahbil, Amru bin Ash dan Yazid bin Abi Sufyan di daerah Syam.

Khalifah Abu Bakar tidak memberikan kekuasaan penuh terhadap para penguasa lokal di beberapa daerah konflik. Alaudin ditunjuk untuk mendampingi Mundzir di Bahrain, sebagaimana Muhajir mendampingi Fairuz di daerah San’a. Syurahbil, Amru bin Ash serta Yazid diperbantukan ke daerah Syam yang merupakan daerah konflik antara Arab-Persia. Gubernur baru yang ditunjuk oleh khalifah mayoritas di isi oleh pimpinan pasukan khalifah dalam perang Ridda. Nama-nama di atas (sebagaimana tercatat dalam literatur sejarah Islam) kembali didominasi tokoh dari suku Quraisy, suku asal Khalifah Abu Bakar.
Referensi :
Ibn Aṡīr, ‘Izza ad-dīn Abu Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Jazari. Asad al-Gāyah fi Ma’rifat aṣ-Ṣahābah. Beirut: Dār ibn Hāzim, 2012
Ibn Aṡīr, al-Kāmil fi at-Tārikh, Beirut: Dār al-Kutub
Ibn Kaṡīr, ‘Imadudīn Abu al-Fadā’ Ismā’īl ibn ‘Umar. al-Bidāyah wa an-Nihāyah. Hajr, 1998
Ibn Khayāṭ, Khalīfat. Tārikh Khalīfat bin Khayāṭ. Riyadh: Dār aṭ-Ṭaiba, 1975
Riḍā, Muhammad. Abū Bakr aṣ-Ṣidīq. Beirut: Dār al-Kutub, 1983
Al-Waqidi, Muhammad bin ‘Umar bin Wāqidi. Kitāb ar-Riddah. Beirut: Dār al-‘Arab al-Imlā’i, 1990
Al-Ya’qūbī, Ahmad bin Abu Ya’qub bin Ja’far bin Wahab ibn Wāḍih. Tārīkh al-Ya’qūbī. Beirut: Alaalami, 2010

 

III. Perang Menumpas Nabi Palsu

Ketika Rasulullah masih hidup, ada 3 orang arab yang mengaku sebagai nabi, yakni

1.Aswad al ‘Ansi 

Ia adalah penguasa Yaman sesudah Bad-han meninggal – orang ini mendakwakan sebagai ahli sihir dan mengajak orang dengan sembunyi-sembunyi. Karena sudah merasa dirinya sebagai orang penting di daerah selatan, wakil Rasulullah ﷺ yang di Yaman diusirnya, dan dia pergi lagi ke Najran, anak Bad-han di sana dibunuhnya, isterinya dikawini dan singgasana diwarisinya. Ia hendak menyebarkan pengaruhnya di kawasan itu. Tapi bahaya ini tidak banyak mempengaruhi pikiran Rasulullah ﷺ. Dalam hal ini tidak lebih ia hanya mengutus orang kepada wakilnya, yaitu Mu’adh b. Jabal (A)  di Yaman dengan perintah supaya Aswad dikepung atau dibunuh. Sekali lagi kaum Muslimin di Yaman berhasil mengalahkan Aswad, dan dia sendiri mati dibunuh isterinya sendiri sebagai balasan atas dibunuhnya anak Bad-han suaminya yang dulu.

2.Thulaihah Al Asadi

Nabi palsu pertama yang berusaha menyerang Madinah adalah Thulaihah Al Asadi.  Nama lengkapnya adalah Thulaihah bin Khuwailid Al Asadi, dari Bani Asad bin Khuzaimah. Dulu, ia seorang paranormal lalu memeluk Islam, kemudian murtad dan mengaku nabi di masa hidup Rasulullah saw. Beliau lalu mengutus Dhirar bin Azwar untuk menindak tegas Thulaihah. Ia pun berhasil melemahkan Thulaihah namun belum berhasil membunuhnya. Setelah Rasulullah ﷺ, pengaruh Thulaihah kembali besar bahkan memiliki pengikut yang banyak. [ Ibid, hal. 72 ] Thulaihah mengirim utusannnya kepada Abu Bakar untuk mengajukan dispensasi meninggalkan shalat dan zakat. Namun Abu Bakar menolak mentah-mentah dan berkata, “Demi Allah! Seandainya mereka menahan‘iqal [ ‘Iqal artinya tali. Ini hanya dijadikan perempamaan untuk sekecil apa pun barang yang mungkin tidak mereka tunaikan. Ada yang berpendapat, maksud ‘iqal adalah barang zakat itu sendiri, yaitu anak kambing. ] dariku pasti aku berjihad memerangi mereka karena hal itu.”

Beberapa hari berselang, pengikut dan pasukan Thulaihah kemudian berusaha menyerang Madinah pada malam hari, namun berhasil digagalkan oleh pasukan Islam dan membuat mereka lari kocar-kacir. Bahkan Abu Bakar ikut mengejar mereka hingga sampai di Dzul Qashah.  Perang ini terhitung kecil. akan tetapi kemenangan yang ditorehkan Abu Bakar memiliki efek siksifikan dan dampak yang besar dalam jiwa umat Islam juga pada jiwa musuh musuh Islam. [ Muhammad Ridha, Abu Bakar Ash-Shiddiq, hal. 74  ]
Khalid bin Walid yang ditugaskan untuk menumpas gerakan Thulaihah Al-Asadi pun berhasil menjalankan tugasnya setelah melewati pertempuran yang hebat dengan pasukan Thulaihah di daerah Buzakhah. Thulaihah berhasil lolos pada pertempuran tersebut bersamanya istrinya, Nawar, dan melarikan diri ke Syam. [ Ibid, hal. 82-87 ]

3. Musailamah Al Kazab

Nama lengkap Musailamah adalah Musailamah bin Tsumamah bin Kabir bin Habib Al-Hanafi Abu Syamah. Ia lahir dan tumbuh di Yamamah.  Musailamah tinggal di Yamamah dengan basis pendukung dari Suku Hanifah

Musailamah mengaku sebagai nabi sejak Rasulullah saw masih hidup.  Pada akhir tahun 10 H/631-632 M, Musailimah mencoba untuk membuka hubungan bilateral dengan Nabi Muhammad selaku pemimpin suku Quraisy. Surat yang dikirim oleh Musailimah dalam catatan At-Tabari :

Min Musailimah rasulillah ila Muhammad Rasulillah
Salām ‘alayk, ‘amma ba’ad
Fa innī qad ushriktu fī‘Al-amri ma’aka
wa innā lanā nisf Al-ard, wa li Quraisy nisf Al-ard,
walākin Quraisyan qawm ya’tadūn

Ia mengaku mendapat wahyu dari Jibril bahkan berani meniru dan mengubah Al Quran lalu mengklaimnya sebagai wahyu. Musailamah mendapat banyak pendukung dari bani Hanifah. Apalagi setelah Ar-Rajjal bin Unfuwah Al-Hanafi, salah seorang tokoh bani Hanifah, yang pernah hijrah kepada Rasulullah saw sekaligus menyatakan keislamannya, dan telah menghapal dan mempelajari beberapa surat Al Quran, membelot dan bersaksi di hadapan bani Hanifah bahwa Musailamah telah bersekutu dengan Rasulullah dalam hal kenabian. Padahal Rasulullah saw mengutus Ar-Rajjal bin Unfuwah ke bani Hanifah adalah untuk menjelaskan tentang fitnah Musailmah Al-Kadzdzab. Musailamah berhasil mendapat pengikut sekitar 40.000 orang.

Musailamah menganggap ia adalah juga Rasul utusan Allah, ia adalah seorang penguasa dan seorang pemimpin suku, yang mana dalam konteks ini melibatkan suku Hanīfah di Yamamah dan suku Quraisy di Madinah.

Musailamah juga menganggap bahwa ia adalah nabi untuk suku Hanifah dan Suku Yarbu, sementara Nabi Muhammad untuk penduduk Hazman. Tentu saja konsep itu ditolak mentah mentah.

Sehingga Musailimah menawarkan pembagian kekuasaan. Seperti tawaran Musailimah kepada Sajah, pemimpin suku Yarbu seperti yang ditulis oleh Al-Maqrīzi :

Lanā nisf al ard, wa kāna li Quraisy nisfuhā law ‘adalat
wa-qad raddallah ‘alayki an-nisf aladzī raddat Quraiysy

Ia pun membangun aliansi antara suku Hanīfah, suku Yarbu, suku Tamīm dan suku lainnya.

Penglima perang Abu Bakar yang ditugaskannya untuk melumpuhkan gerakan Musailamah Al-Kadzdzab adalah Khalid bin Walid. Itu ia perintahkan setelah Khalid berhasil menumpas Thulaihah Al-Asadi dan Malik bin Nuwairah. Khalid pun melanjutkan perjalanan untuk memerangi bani Hanifah dan memobilisasi semua kaum Muslimin yang bersamanya. Abu Bakar juga memberangkatkan pasukan besar untuk membantu Khalid bin Walid. Khalid pun bertemu dengan beberapa panglima lainnya seperti Ikrimah bin Abu Jahal dan Syurahbil bin Hasanah di tengah perjalanan menuju Yamamah.  Pasukan Islam yang dikomandani Khalid bin Walid pun bertemu dengan pasukan Musailamah Al-Kadzdzab di Aqraba, suatu daerah di ujung negeri Yamamah.

Pertempuran sengit antara dua pasukan yang berjumlah besar tidak terelakkan. Pertempuran tersebut juga menghabiskan waktu yang relatif panjang. Khalid bin Walid berpikir bahwa pertempuran tersebut tidak akan berakhir kecuali jika Musailamah terbunuh. Benar, setelah Musailamah terbunuh, bani Hanifah pun kocar kacir dan lari tunggang langgang.

Pertempuran tersebut berakhir ketika beberapa petinggi bani Hanifah menawarkan perdamaian kepada Khalid. Khalid lalu menerima tawaran tersebut karena melihat pasukan Islam sudah letih disebabkan peperangan yang panjang. Khalid juga mengajak mereka kembali masuk Islam, dan ternyata
seluruhnya menerima tawaran tersebut. Bahkan Khalid mengembalikan pada mereka sebagian ghanimah dan tawanan perang. [ Ali Ash-Shalabi, Sirah Abi Bakr Ash-Shiddiq, hal. 278 ]

IV.  Penaklukan Irak

Ketika peperangan melawan orang murtad telah berakhir, kebijakan selanjutnya yang ditempuh Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah membuka wilayah di Jazirah Arab. Abu Bakar Ash-Shiddiq mulai melaksanakan rencana penaklukan yang sesungguhnya telah dirancang oleh Rasulullah semasa hidupnya. Ia pun mengirimlan pasukan untuk menaklukkan Irak dan Syam.

Setiap instruksi Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada panglima perang di Irak, yaitu Khalid dan Iyadh, menunjukkan naluri perang dan strategi tingkat tinggi pada diri Abu Bakar Ash-Shiddiq.  Dalam hal ini ia memberikan banyak kebijakan
militer dan strategi untuk memenangkan suatu pertempuran melawan musuh. Ia menentukan batasan-batasan wilayah bagi kedua panglima perang tersebut untuk masuk dan menguasai
Irak. Abu Bakar memberikan instruksi itu layaknya sedang berada di ruang operasi militer di Hijaz dan di dinding ruangan terbentang peta wilayah Irak dengan segala medan dan rutenya.  Khalid bin Walid, sebagai salah satu penglima, terlibat dalam berbagai pertempuran yang terjadi di wilayah Irak, dan itulah di antara sebab negeri Irak dapat dikuasai oleh pasukan Islam. beberapa pertempuran tersebut adalah pertempuran Dzatus Salasil, Madzar, Walujah, Ullais, Herat, Anbar, ‘Ain Tamar, Dumatul Jandal, Al-Hushaid dan Al-Firadh. [ Ibid, hal. 409 ]

V.  Penaklukan Syam

Ketika Abu Bakar Ash Shiddiq hendak menaklukkan Syam, ia meminta saran dan pendapat para sahabat Rasulullah. Ia pun meminta bantuan pada penduduk Yaman untuk melakukan jihad bersama dengan kaum muslimin lainnya. Ia juga membentuk beberapa satuan perang yang dikepalai komandan perang, dan mengirim mereka ke negeri Syam. Ada empat satuan perang yang dikirim ke Syam, masing-masing dipimpin oleh Yazid bin Abi Sufyan, Abu Ubaidah bin Jarrah, Amr bin Ash dan Syurahbil bin Hasanah.  Pasukan perang yang dikirim untuk membebaskan Syam ini menghadapi berbagai macam kesulitan dalam menjalankan misinya.  Mereka harus berhadapan dengan bala tentara Romawi yang terkenal kuat dan tangguh, serta berjumlah sangat besar. Itulah sebabnya, pasukan Islam mengirim surata kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memberitahukan kesulitan yang sedang mereka hadapi. Abu Bakar pun memerintahkan mereka untuk mundur ke wilayah yarmuk dan berkumpul di sana, lalu memerintahkan Khalid untuk berangkat dengan sebagian pasukannya yang sedang berada di Irak menuju Syam dan menjadi komandan pasukan perang di Syam.

Khalid bin Walid mampu mewujudkan keinginan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia berhasil mengalahkan pasukan musuh di Syam, dan memenangkan pertempuran melawan musuh di Ajnadain dan Yarmuk. [ Ibid, hal. 410 ]

•••

Kebijakan Politik Abu Bakar Ash Shiddiq

Di bawah pemerintahannya, Abu Bakar Ash-Shiddiq telah menetapkan beberapa target dalam menerapkan politik luar negerinya, yang terpenting di antaranya ialah :

A. Menanamkan Rasa Kagum dan Takut di Hati Para Pemimpin dan Rakyat Negara Lain

Sebuah negara yang tidak ditakuti oleh negara lain tidak akan pernah bisa mencapai stabilitas atau keamanan; mereka akan terus menerus dipandang oleh negara lain sebagai target yang mudah—sebuah negara yang menjadi sasaran empuk invasi. Abu Bakar memahami realitas ini dengan sangat baik, karenanya salah satu tujuan utama kebijakan luar negeri beliau adalah untuk menanamkan rasa takut di hati musuh.

Pada masa awal kekhilafahannya, ia mencapai tujuan itu dengan dua cara: Pertama, Ia berperang melawan dan mengalahkan para pemberontak murtad. Tujuan utama Abu Bakar adalah membawa stabilitas di wilayah yang ia kuasai. Sedang tujuan keduanya adalah untuk menunjukkan kepada kekuatan asing bahwa umat Islam mampu mengatasi semua rintangan dan ancaman.

Para pemimpin negara asing mencermati dengan sangat serius apa yang terjadi di dunia Arab, terutama para pemimpin Romawi dan Persia. Sebelum berkembangnya Islam, dua negara superpower adalah Romawi dan Persia, sedangkan bangsa Arab, kalaupun mereka memiliki nilai penting dalam panggung dunia, lebih sering dimanfaatkan oleh Romawi dan Persia untuk berperang membela kepentingan mereka. Selain itu, beberapa wilayah Arab juga digunakan sebagai wilayah penyangga (buffer zone) di antara wilayah Romawi dan Persia.

Namun sekarang, umat Islam telah bangkit, bahkan di zaman Rasulullah ﷺ masih hidup beliau mengirimkan pasukan untuk bertempur dan menguji kekuatan pasukan Romawi. Karena itu, bangsa Romawi dan Persia mempunyai kepentingan atas apa yang tejadi di dunia Arab. Mereka sangat kecewa saat mereka menyaksikan pasukan Islam mampu menghancurkan pasukan pemberontak murtad.

Dampaknya, para pemimpin Romawi dan Persia menyadari bahwa umat Islam telah menjadi lebih kuat dan memberikan ancaman yang semakin meningkat. Keberhasilan umat Islam, untuk mengatasi ancaman internal yang tidak remeh tersebut tentunya membuat Romawi dan Persia berpikir berulang kali sebelum berencana menyerang Arab. Kegamangan mereka, sebagai hasil dari rasa takut dan kekhawatiran untuk tidak menderita kekalahan yang berat, kembali menghantui mereka saat justru bangsa Arab yang kemudian menyerang mereka; bukan mereka yang menyerang bangsa Arab.

Kedua, Abu Bakar mengirimkan pasukan Usamah. Menancapkan rasa takut di hati musuh adalah salah tujuan yang terbersit dalam pikiran Abu Bakar saat ia memutuskan untuk mengirim pasukan Usamah. Bangsa Romawi mempunyai alasan untuk takut. Pada awalnya mereka berharap bahwa dengan pemberontakan kaum murtad, semenanjung Arab akan terjerembab dalam situasi chaos, namun mereka justru menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa negara Islam justru mengirimkan pasukan besar untuk menyerang Romawi.

Keberanian untuk melakukan invasi tersebut mencengangkan dan membuat Romawi ketakutan. Dan yang lebih buruk lagi, pasukan Usamah berhasil menjalankan misinya, yaitu mengalahkan pasukan musuh yang loyal pada bangsa Romawi dan membawa pulang ghanimah. Dampaknya, kaisar Romawi Heraklius, mengirimkan puluhan ribu pasukan Romawi untuk menjaga perbatasan antara Syam dan Arab.

Persia juga mempunyai alasan untuk takut, karena berita tentang pasukan Usamah juga sampai kepada para pemimpin Persia, yang mulai mengkhawatirkan keselamatan dan keamanan tanah Persia, terutama Iraq. Para pemimpin Persia, karena ketakutan pada kekuatan umat Islam, mulai melakukan aliansi dengan pemberontak murtad, dengan memberi bantuan material dan moral kepada mereka dalam perang melawan umat Islam. Jadi, dengan menggunakan kekuatan minimal, Abu Bakar berhasil mengirimkan pesan kepada para pemimpin asing: tidak lama lagi pasukan Islam akan melakukan invasi besar-besaran ke tanah mereka, dan mereka akan datang dengan pasukan yang rindu akan kematian sebagaimana mereka rindu akan kehidupan.

B. Meneruskan Jihad yang Diperintahkan Rasulullah

Bahkan sejak awal misi kenabian, Islam adalah pasukan yang ekspansif. Islam bukanlah untuk satu suku, satu kelompok, atau satu bangsa, tapi untuk seluruh umat manusia.

Karena itu umat Islam yang memiliki kewajiban untuk mendakwahkan Islam pada orang lain, harus terus menerus berjuang untuk meruntuhkan segala penghambat yang mencegah pesan Islam dari didengar oleh orang asing; yaitu dengan menyebarkan Islam dari Makkah ke Madinah, kemudian ke seluruh Jazirah Arab, dan kemudian menyebarkannya ke Iraq dan Syam.

Tidak ada yang lebih dekat dengan Rasulullah ﷺ daripada Abu Bakar. Faktanya, setelah shalat Isya, mereka berdua duduk bersama dan mendiskusikan persoalan umat Islam. Abu Bakar banyak menghabiskan waktu dengan Rasulullah, ia paham tidak hanya pentingnya menyebarkan Islam, tapi juga sarana dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan kata lain, Abu Bakar paham bahwa operasi militer adalah sarana utama untuk meruntuhkan penghalang-penghalang yang mencegah Islam sampai ke masyarakat dunia. Karena itu, jika para pemimpin Persia menolak masuk Islam dan jika masyarakat Persia masih tetap musyrik, menjadi tugas Abu Bakar untuk menurunkan pasukan guna menaklukkan imperium Persia.

Dalam mengirimkan pasukan ke luar negeri, Abu Bakar sangat memahami pepatah yang menyatakan bahwa siapa yang ragu akan kalah. Jika Abu Bakar menunda, musuh akan semakin berani, dan bisa jadi Romawi yang akan menginvasi negara Islam, bukan Islam yang akan menginvasi kekaisaran Romawi. Begitu juga, Perang Riddah berakhir seiring dengan pengiriman pasukan Islam ke Iraq dan Syam.

Para komandan Abu Bakar pergi ke luar negeri dengan niat menyebarkan pesan-pesan Islam dan menyingkirkan para pemimpin tiran dan zalim dari singgasananya. Para pemimpin yang pemberani, seperti Khalid, Abu Ubaidah, Amr bin Ash, Syurahbil dan Yazid, dipilih dengan sangat teliti untuk menjalankan tugasnya. Abu Bakar sebagai seorang yang mempunyai pengalaman militer luar biasa memilih para komandannya berdasarkan kemampuan, talenta, dan terutama ketaatan mereka. Mereka kemudian mampu menaklukkan Iraq dan Syam dalam waktu yang sangat singkat.

C. Menegakkan Keadilan di Negeri Asing (Foreign Lands), dan Memperlakukan Rakyat yang Ditaklukkan dengan Murah Hati

Mudah untuk bicara kepada rakyat yang ditaklukkan dengan mengatakan kepada mereka bahwa penaklukkan tersebut demi kebaikan mereka sendiri: untuk membuat mereka lebih beradab, membawa demokrasi pada mereka, menguatkan mereka, membebaskan mereka dari belenggu tirani, dan lain-lain. Banyak penakluk mengatakan hal demikian kepada mereka yang ditaklukkan, padahal realitanya motif mereka sering kali hanya untuk kepentingan mereka sendiri tanpa peduli pada harga diri dan kesejahteraan rakyat yang mereka taklukkan.

Tapi Islam selalu berbeda. Benar bahwa Abu Bakar ingin memenangkan hati dan pikiran rakyat yang ia taklukkan (winning the hearts and minds) tapi ia berbeda dengan penakluk non-muslim lainnya, ia benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Abu Bakar tahu bahwa ia tidak bisa memenangkan hati rakyat asing dengan pedang.

Menaklukkan musuh hanya dengan pedang tidak akan menyelesaikan atau menghasilkan sesuatu. Dengan kata lain, Abu Bakar memahami fakta bahwa perencanaan pasca perang (post-war planning) sama pentingnya dengan perencanaan sebelum perang (pre-war planning). Pre-war planning meliputi mengalahkan musuh di medan tempur, sedangkan pos-war planning meliputi memenuhi kebutuhan dasar rakyat yang ia taklukkan, memberikan keamanan pada mereka dan menyebarkan keadilan di tengah mereka. Rakyat harus diyakinkan hingga mereka tidak berpikir bahwa satu tiran digantikan tiran lain yang lebih keras, kejam, dan jahat dibandingkan yang pertama.

Untuk itu, Abu Bakar memerintahkan kepada komandannya untuk berlemah lembut dan berkasih sayang kepada penduduk yang mereka taklukkan. Mereka yang tangannya telah ditaklukkan perlu diyakinkan dalam semua tindakan bahwa tanah mereka tidak akan dirampas, mereka tidak akan dicegah dari sarana kehidupan mereka, dan bahwa keluarga mereka akan tetap aman dari para penjahat. Para komandan Muslim, sebagaimana perintah Abu Bakar, melindungi infrastruktur-infrastruktur di tanah yang mereka taklukkan dan menghargai kesucian hidup di antara rakyatnya. Sebagai hasilnya, rakyat di Persia dan Syam mencintai umat Islam karena kemuliaan akhlak mereka, kemurahan hati mereka, kebaikan mereka, dan ketulusan hati mereka.

Melalui keagungan akhlak para penakluk Muslim, cahaya Islam masuk ke dalam hati orang-orang asing, sebagaimana saat dan sesudah Fathul Makkah, masyarakat masuk Islam secara berbondong-bondong. Sebagai hasilnya, mereka mendapat keamanan, keselamatan, kestabilan, kemakmuran, dan kesetaraan dengan saudara Muslim mereka di negeri Arab.

Bagi rakyat Persia dan Syam, perbedaan kehidupan yang mereka tahu sebelumnya dengan Islam adalah seperti perbedaan malam dan siang. Ketika pasukan Persia atau Romawi menginvasi sebuah wilayah, mereka menghancurkan segala yang mereka lalui.

Mereka melakukan mutilasi terhadap pasukan musuh, menghancurkan kehidupan orang-orang yang tidak berdosa, memunculkan kerusakan dalam segala hal yang mungkin, dan mendapatkan kutukan dan kebencian dari orang-orang yang mereka invasi selamanya.

Kengerian perang dan kebebesan yang direnggut oleh para pemenang hari itu sudah sangat diketahui oleh masyarakat pada abad itu, maka mereka punya alasan untuk terkejut dengan apa yang dibawa oleh penakluk Muslim, bukan kesengsaraan dan kerusakan, melainkan keadilan, perdamaian, kehormatan, dan kemakmuran.
Mereka telah menghilangkan segala bentuk tirani dan penindasan dari kehidupan orang-orang yang mereka taklukkan.

Abu Bakar menginginkan kesempurnaan dari para komandannya. Ia terus mengawasi mereka dan melarang mereka dari segala bentuk tirani. Dan ia segera mengoreksi kesalahan sekecil apa pun yang dilakukan oleh mereka. Al-
Baihaqi meriwayatkan bahwa ketika pasukan asing memperoleh kemenangan dalam sebuah perang, mereka menganggap bahwa melakukan kekejaman terhadap pasukan musuh adalah tindakan yang legal.

Misalnya, sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk membawa penggalan kepala komandan musuh kepada raja mereka sebagai cara untuk mengumumkan kemenangan. Selama perang di Syam, dua komandan Islam, Amr bin Ash dan Syurahbil bin Hasanah membawa kepala Ban’an, salah satu pendeta tertinggi di Syam kepada Abu Bakar. Ketika utusan Amr bin Ash dan Syurahbil, yaitu Uqbah bin Amir, kembali dengan kepala Ban’an, Abu Bakar sangat marah.

Kemudian Uqbah berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah! Ini yang mereka lakukan terhadap kita.” Kemudian Abu Bakar menjawab, “Haruskah kita mengikuti cara-cara Persia dan Romawi! Jangan lagi membawa kepala kepadaku. Cukup kau kirimkan surat kepadaku atau menginformasikannya secara langsung (tentang kemenangan atau tentang kematian pemimpin musuh).”

D. Memberi Kebebasan Beragama Kepada Rakyat yang Ditaklukkan

Walaupun tujuan utama Abu Bakar adalah menyebarkan pesan Islam kepada rakyat asing, tapi tujuannya bukanlah memaksa orang untuk memeluk Islam. Faktanya, Abu Bakar tidak pernah memaksa bangsa atau kelompok manapun untuk masuk Islam, sebuah kebijakan yang diturunkan dari firman Allah, “Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus: 99).

Tidak disangsikan lagi bahwa umat Islam ingin menghilangkan tirani dan memberikan kesempatan pada rakyat untuk melihat, mengapresiasi, dan merengkuh cahaya Islam. Ketika sebuah bangsa ditaklukkan dan rakyatnya didakwahi dengan pengajaran Islam mereka diizinkan untuk memilih apakah mereka mau masuk Islam ataukah tetap pada agama mereka.

Muslim Di Eropa

Mereka diperbolehkan tetap pada agama mereka selama mereka mematuhi perjanjian mereka dengan umat Islam, yaitu :
1. Mereka membayar jizyah pada umat Islam. Jizyah ini dibayarkan oleh non-Muslim yang tinggal di negara Islam. Pilihan ini memberi hak pada non-Muslim untuk tetap mengikuti agama mereka dan juga menjamin mereka bahwa selama mereka tetap setia pada pemerintahan Islam, umat Islam akan berlaku adil pada mereka dan melindungi mereka dari seluruh musuh. Sebagaimana warga Muslim yang lain, mereka juga mendapatkan keamanan dan keselamatan, dan tidak ada seorang pun yang mempunyai hak untuk mencuri harta benda mereka atau merampasnya.

2. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa mereka ikuti; misalnya, karena loyalitas mereka kepada Islam masih diragukan mereka tidak diizinkan bergabung dengan militer Islam.

3. Mereka tidak boleh memberikan ancaman pada umat Islam dan agama mereka, dan mereka juga tidak diperbolehkan membentuk berbagai pergerakan yang bertujuan untuk menghancurkan, merusak, atau mendistorsi segala aspek tentang Islam.

4. Mereka diperbolehkan untuk tetap memeluk agama mereka, tapi jika mereka ingin pindah agama, mereka hanya boleh memeluk agama Islam. Islam mengakui bahwa keyakinan itu di dalam hati, yaitu bagian dari tubuh manusia yang kebal dari paksaan. Karena itu umat Islam tidak memaksa orang lain untuk memeluk Islam, tapi melalui perilaku dan perkataan, melalui dakwah dan perbuatan, mereka berusaha mempengaruhi non-Muslim dengan harapan bahwa mereka, atas keinginan sendiri, menerima dan memeluk Islam.
Strategi Militer Abu Bakar Ash-Shiddiq Dalam Menaklukkan Romawi dan Persia

Dengan mempelajari penaklukan miter yang terjadi pada masa khilafah Abu Bakar, kita mampu melihat pola strategi kunci yang ia gunakan untuk meraih kemenangan melawan musuh. Di antara strategi penting tersebut adalah sebagai berikut:

• Menaklukkan Wilayah Musuh Satu Kota Satu Waktu

Jelas, bagi kalangan umat Islam, pengambil keputusan dan strategi secara umum dalam perang waktu itu adalah Abu Bakar, bukan para komandannya. Abu Bakar menggunakan layanan dari para utusannya yang terpercaya dan cepat untuk bisa berkomunikasi secara konstan dengan para komandannya.

Dengan mempelajari invasi Irak dan Syam, kita mampu melihat bahwa ada dua macam keputusan yang perlu diambil :

  1. Terkait dengan strategi perang secara umum yang meliputi persoalan antara lain: siapa yang menyerang, kapan menyerang, kapan mundur, kapan bergabung dengan pasukan lain, kapan merasa cukup dengan jumlah tentara dalam satu kesatuan pasukan, dan seterusnya. Seorang komandan Muslim bisa membuat keputusan secara langsung di lapangan hanya ketika aksi tersebut perlu diambil dengan segera—yaitu ketika tidak ada waktu untuk menunggu perintah Abu Bakar. keputusan dan kemudian menginformasikan kepada Abu Bakar keputusan tersebut.
  2. Tentang keputusan tempur, yang harus dilakukan terkait dengan strategi tempur untuk perang tertentu—di mana menempatkan masing-masing batalion, di mana menempatkan pasukan kavaleri, formasi apa yang terbaik untuk mengalahkan musuh, dan seterusnya. Keputusan tersebut hampir selalu diserahkan kepada para komandan.

Di antara keputusan yang masuk kategori pertama adalah pertanyaan tentang seberapa cepat pasukan muslim harus melakukan penetrasi ke dalam teritorial musuh. Satu teori menyatakan bahwa pasukan Islam sebaiknya melakukan penetrasi ke dalam teritorial musuh sedalam dan secepat mungkin. Namun, Abu Bakar menolak teori ini. Ia dengan tegas memerintahkan kepada para komandannya untuk mengamankan wilayah musuh yang paling dekat sebelum melakukan penetrasi ke dalam teritorial musuh yang lebih dalam.

Ketika Abu Bakar memerintahkan Khalid dan Iyad untuk menyerang Iraq dari wilayah utara dan selatan, ia mengirimkan pesan yang sama kepada keduanya: “Siapa pun di antara kalian yang tiba lebih dahulu di Al-Hirah, ia menjadi pemimpin kalian. Jika kalian berdua telah berkumpul di Al-Hirah—insyaallah—dan berhasil menghancurkan pertahanan Persia, sehingga kalian dan kaum muslimin yang bersama kalian merasa aman, hendaknya salah seorang di antara kalian menjadi pelindung kaum muslimin di Al-Hirah. Adapun yang lain hendaknya menyerang tentara Persia dan melucuti semua persenjataan mereka.”

Surat ini menunjukkan bahwa Abu Bakar bukanlah pemula dalam seni perang. Sebaliknya, ia adalah veteran dari banyak perang. Ia sangat tahu bagaimana cara mengalahkan musuh dan bagaimana mematahkan keinginan mereka.

Superioritas wawasan perang Abu Bakar diakui oleh ahli perang terhebat saat itu, yaitu Khalid bin Walid. Khalid tidak hanya melaksanakan perintah Abu Bakar, tetapi ia juga paham bahwa dengan menjalankannya merupakan hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk meraih kemenangan. Ketika Khalid berjalan ke wilayah utara Al-Hirah untuk membantu Iyad menuntaskan misinya, ia berhenti di Karbala. Pasukan Islam banyak yang mengeluh kepadanya tentang banyaknya lalat.

Kemudian Khalid berkata kepada Abdullah bin Watsimah, “Sabarlah, karena aku ingin menghancurkan benteng musuh yang ia diperintahkan untuknya, sehingga kita bisa menduduki wilayah tersebut bersama dengan orang-orang Arab dan melindungi pasukan Islam dari serangan dari garis belakang. Kemudian orang-orang Arab akan mendatangi kita tanpa rasa takut dari sergapan musuh. Demikianlah perintah khalifah untuk kita, dan sungguh, idenya memang benar-benar menyelamatkan umat.”

Di Iraq, Al-Mutsanna bin Haritsah mengadopsi strategi yang sama. Saat itu, Abu Bakar berpesan kepadanya, “Perangilah orang-orang Persia di garis perbatasan tanah mereka, di tempat yang paling dekat dengan tanah Arab. Jangan menyerang di daerah musuh. Jika Allah menampakkan tanda-tanda kemenangan untuk pasukan Islam, bergeraklah maju di belakang mereka. Jika tidak, kembalilah ke dalam barisan, karena musuh lebih mengetahui seluk-beluk negeri mereka, dan lebih berani melakukan serangan dari tempat mereka, sampai Allah membalikkan keadaan mereka.”

Adapun dalam menaklukkan negeri Syam, padang tandus senantiasa berada di belakang pasukan Islam, sebagai upaya perlindungan diri. Meski sudah demikian posisinya, pasukan Islam tetap memastikan sebelumnya bahwa pasukan musuh tidak mungkin menemukan cara untuk menyerang mereka secara tiba-tiba dari arah belakang.
Di samping itu, mereka juga telah lebih dahulu menguasai kota serta daerah yang berada di samping kanan dan kiri mereka. Semua celah yang dapat di masuki musuh juga telah diantisipasi dengan melakukan berbagai serangan. Area yang mereka tempati itu pun senantiasa berada dalam pengawasan dan penjagaan yang sangat ketat.

• Memobilisasi dan Mengonsolidasikan Pasukan

Abu Bakar tidak menyelenggarakan wajib militer pada masa kekhilafahannya, atau dengan kata lain, ia tidak memaksa seorang pun untuk ikut serta dalam berperang. Namun, kemenangan tidak akan tercapai tanpa jumlah pasukan yang cukup. Abu Bakar tidak lah menginvasi kekuatan yang remeh, tapi dua kekuatan super power saat itu, yaitu imperium Romawi dan Persia.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana ia mendapatkan pasukan untuk mencapai tujuannya menaklukkan Iraq dan Syam? Ini adalah pertanyaan yang bagi Abu Bakar tidak dianggap remeh, terutama dengan mempertimbangkan fakta bahwa ia menerapkan aturan yang sangat ketat dalam perekrutan pasukan. Ketika Khalid dan Mutsanna memutuskan untuk meminta pasukan tambahan, karena jumlah pasukan mereka tidak mencukupi kebutuhan perang yang ada, Abu Bakar kemudian membalas surat keduanya dengan berkata, “Ambillah pasukan Islam yang sebelumnya ikut Perang Riddah dan orang-orang yang tetap berada dalam agama Islam setelah Rasulullah wafat. Jangan kalian merekrut pasukan dari kalangan orang yang pernah murtad sekalipun mereka insaf, sebelum saya memutuskan apa yang harus aku lakukan kepada mereka.”

Meski demikian, Abu Bakar mengambil beberapa langkah kunci untuk meyakinkan rakyatnya agar bersedia berjihad: Ia menyampaikan ceramah yang menggerakkan, dengan mengingatkan rakyatnya tentang pahala berjihad di jalan Allah. Selain itu, ia juga meminta bantuan kepada umat Islam di Yaman. Dampaknya, banyak orang yang secara sukarela bergabung untuk berperang di Iraq dan Syam.

Ringkasnya, waktu itu tidak diperlukan wajib militer karena sukarelawan yang bergabung untuk berperang sudah mencukupi, mereka menunggu janji Allah: kemenangan atau mati sebagai syuhada. Dan faktanya, karena tingginya keimanan mereka, banyak orang yang lebih memilih pilihan kedua.

Abu Bakar memfokuskan energinya untuk meyakinkan rakyatnya agar bergabung bersama pasukannya tidak hanya sebelum invasi Irak dan Syam, namun juga saat invasi berlangsung. Ia terus mengirimkan pasukan tambahan untuk para komandannya—beberapa pasukan batalyon yang terdiri dari ratusan orang—hingga akhir hayatnya.

• Memastikan Tujuan Perang

Abu Bakar Ash-Shiddiq tentu saja tahu apa tujuan utamanya dalam menginvasi Irak dan Syam, tapi itu tidak cukup: Ia juga memastikan bahwa seluruh prajuritnya mempunyai pemahaman yang sama. Dalam ceramahnya, dan juga dalam nasihat yang ia berikan kepada para komandan dan prajuritnya, Abu Bakar menegaskan bahwa mereka berperang untuk menyebarkan pesan Islam, untuk menyampaikannya kepada seluruh manusia di dunia, dan mencegah para tiran yang mencegah rakyatnya dari mempelajari agama yang benar.

Para komandannya juga paham tentang tujuan mereka. Hal ini terbukti dari kesamaan pilihan yang diberikan kepada musuh: masuk Islam, membayar jizyah, atau perang.

• Mengirim Pasukan ke Tempat yang Paling Membutuhkan

Abu Bakar Ash-Shiddiq mempunyai kebijakan yang jelas soal pengiriman pasukan ke medan perang: Jika ia berperang di banyak front, ia akan mengonsentrasikan pasukannya di front yang paling penting. Namun, bukan berarti ia mengesampingkan front yang lain. Ia berusaha seimbang, mengonsentrasikan sebagian besar pasukan di tempat yang paling membutuhkan, dan mengirimkan unit dan pasukan lain ke front lainnya.

Contoh, Abu Bakar Ash-Shiddiq mengerahkan sebagian besar pasukannya untuk memerangi orang-orang murtad, karena mereka memberikan ancaman yang dekat dan berbahaya bagi umat Islam, namun ia tidak mengesampingkan medan tempur lainnya, yang dibuktikan dengan fakta bahwa ia tetap mengirimkan pasukan Usamah untuk berperang di perbatasan Romawi.

Dengan kata lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjukkan kemampuan yang brilian dalam menata distribusi pasukannya untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pada pertengahan dan akhir kekhilafahannya, ia juga menyebarkan pasukannya antara Iraq dan Syam.

Lalu, ketika ia memandang bahwa perang di Syam tidak begitu baik hasilnya sebagaimana di Iraq, ia memerintahkan Khalid bin Walid untuk membawa separuh pasukannya dan pindah dari Iraq ke Syam. Dengan kondisi di mana mayoritas pasukannya berada di Syam, Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak berarti mengabaikan Iraq. Ia tetap menyisakan beberapa pasukan yang mencukupi di sana, dan menunjuk seorang pemimpin yang tangguh dan bijaksana, Mutsanna bin Haritsah. Contoh di atas hanyalah salah satu contoh.

Sepanjang kekhalifahannya, Abu Bakar Ash-Shiddiq terus menyebarkan, menyebarkan ulang, menugaskan, dan mentransfer pasukan berdasarkan tingkat kebutuhan di masing-masing medan perang. Dengan melakukannya dalam sebuah cara yang secara strategis sangat brilian, ia telah menanamkan kepercayaan diri kepada para pasukannya, yang memahami bahwa jika jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding musuhnya, mereka bisa meminta kepada sang pemimpin untuk mengirimkan pasukan yang cukup, yang paling tidak bisa memberi kesempatan bagi mereka untuk menang.

• Mengganti Komandan Perang

Tidak ada gubernur, komandan, atau pemimpin pasukan yang dijamin bahwa ia akan menduduki jabatannya seumur hidup; sebaliknya, semua pejabat pemerintah terus dievaluasi berdasarkan performa mereka. Jika seseorang lalai dalam tugasnya, ia akan dipecat. Dan bahkan jika seseorang jujur dan sudah melakukannya semampu yang ia lakukan, namun ternyata gagal untuk mencapai misinya,

Abu Bakar Ash-Shiddiq akan mempertimbangkan untuk memecatnya jika ada yang dirasa mampu mengerjakannya dengan lebih baik. Ini adalah sikap yang adil dan benar, karena dalam kebijakan Abu Bakar Ash-Shiddiq kebaikan bersama yang lebih luas lebih penting dibanding perasaan individu. Ini adalah realita pelayanan publik di masa kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan harusnya menjadi realita dalam pemerintahan manapun.

Misalnya, saat Khalid bin Said gagal dalam menjalankan misinya di Tabuk. Khalid bin Said adalah orang yang jujur dan tulus; ia melakukan yang terbaik untuk menjalankan misinya, namun pada akhirnya gagal. Hal tersebut tidak membuat derajatnya berkurang sebagai seorang Muslim, namun kondisi tersebut memicu pertanyaan apakah ada orang lain yang mampu untuk menggantikan peran yang gagal dijalankan oleh Khalid bin Said tersebut. Abu Bakar Ash-Shiddiq terus memikirkan pertanyaan ini dan akhirnya memutuskan untuk mengganti Khalid dengan Ikrimah.

Pada akhirnya, Ikrimah berhasil menyelesaikan misinya. Selain itu, meski seseorang mempunyai kualifikasi untuk melakukan satu tugas, dan bahkan mempunyai performa yang baik, Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap tidak segan-segan menggantinya jika ada orang yang mempunyai kualifikasi yang lebih baik. Mutsanna menunaikan tugas dengan sangat baik di Irak, namun Khalid mempunyai kualifikasi yang lebih baik dan lebih memiliki kemampuan untuk memenangkan pertempuran di masa depan. Dan di Syam, Abu Ubaidah sangat cocok memimpin pasukan di wilayah tersebut, namun lagi-lagi Abu Bakar Ash-Shiddiq berpikir bahwa lebih baik menggantinya dengan seorang komandan militer yang lebih baik, Khalid bin Walid.

Karenanya, dalam soal urusan penunjukan dan penggantian komandan militer, Abu Bakar Ash-Shiddiq lebih mementingkan kebaikan bersama umat Islam dibanding perasaan perseorangan. Sebagai pemimpin kaum muslimin, Abu Bakar Ash-Shiddiq paham bahwa dalam perang, dan dalam kehidupan secara umum, kepentingan yang sedikit tidak melebihi kepentingan orang banyak.

• Berkomunikasi secara Konstan dengan Para Komandan Perang

Pada masa kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, belum ada kamera, foto satelit, pesawat pengintai, telepon, atau segala bentuk teknologi lain yang memudahkan pemimpin untuk berkomunikasi dengan pasukannya secara real time. Selalu ada masa, selalu ada delay: waktu yang diperlukan oleh utusan untuk berjalan dari medan perang ke Madinah.

Namun, berdasarkan seluruh peristiwa yang terjadi selama perang riddah dan juga invasi ke Irak dan Syam, seolah-olah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak berada di Madinah, namun hadir dalam setiap zona perang. Dia memberi komando dan merencanakan rute perjalanan bagi pasukannya seolah-olah ia bisa melihat semua yang terjadi di zona perang, dan seolah-olah ia memiliki akses peta modern yang menunjukkan topografi setiap wilayah.

Bagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq bisa seolah-olah hadir di setiap medan perang? Tidak dengan sihir tentunya, namun ia melakukannya dengan sistem pengiriman pesan yang rumit yang telah ia kembangkan bersama dengan para komandannya. Sebagaimana pentingnya pasukan di medan tempur, para pembawa pesan yang berjalan di antara Madinah dan medan perang juga sangat penting. Mereka membawa pesan antara Abu Bakar dan para komandannya.

Para utusan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang-orang yang terpercaya, mereka hanya sedikit beristirahat untuk memastikan pesan sampai secepat mungkin. Mereka juga sangat hati-hati dan menjaga rahasia, untuk menghindari informasi tentang rencana Abu Bakar Ash-Shiddiq jatuh ke tangan musuh.

• Mengisolasi Medan Perang

Ketika Abu Bakar mulai menyiapkan pasukan untuk memerangi Romawi dan Persia, ia mengirimkan Khalid bin Sa’id ke Tabuk dengan misi utama menguasai wilayah strategis sebagai titik utama untuk bergerak. Abu Bakar melakukan itu agar pasukannya menjadi pelindung bagi kaum muslimin selanjutnya. Ketika Khalid bin Sa’id tidak berhasil dalam menjalani misinya ini, dan justru melakukan kesalahan, Ikrimah bin Abu Jahal ditugaskan menggantikan posisinya.

• Strategi Perang yang Selalu Berkembang Seiring Perubahan di Lapangan

Saat berita keberangkatan pasukan Romawi yang didukung kekuatan orang-orang Damaskus sampai ke telinga Abu Bakar, ia segera menulis surat kepada Abu Ubaidah yang berbunyi, “Kerahkanlah pasukan berkudamu ke wilayah antara Al-Qura dan As-Sawad. Desaklah pasukan musuh dengan menutup jalan antara Mirah dan Madah, serta janganlah mengepung Madain sebelum aku memerintahkannya.”

Itu adalah perintah pertama, dan setelah Abu Bakar mengirim pasokan tentara yang cukup, ia pun kembali menulis surat, “Jika musuh menyerang pasukanmu, lawanlah mereka dan berdoalah memohon bantuan Allah untuk menghadapi mereka, karena jika setiap kali musuh mendapat bantuan maka kami pun akan mengirim bantuan pasukan seperti mereka.”

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ