Abdullah adalah ayah Nabi Muhammad.  Nama lengkapnya Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim (Amr) bin Abdu Manaf (Al-Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Kab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Maad bin Adnan.

Beliau adalah putra bungsu [saat terjadi peristiwa nazar yang berujung akan dikorbankannya Abdullah ]  Abdul Muthalib atau Syaibah bin Hasyim. Secara keseluruhan Abdullah  bersaudara sekitar  18 orang.  Beberapa berasal dari ibu yang sama, beberapa tidak.

 


Nasab Abdullah bin Abdul Muththalib

Ayahnya adalah Abdul Muththalib

Ibu Abdullah bernama Fathimah binti Amr bin Aidz bin Imran bin Makhzum bin Yaqadhah bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Ah-Nahdr.

 


Tahun Kelahiran Abdullah

Lahir di Mekah tahun 545 M,

 


Tahun Wafatnya Abdullah

Sekitar 569 M.  Pada tahun kematian Abdullah, beberapa waktu kemudian Kabah diserang pasukan bergajah Abrahah. Jadi kematian Abdullah bisa jadi terjadi di tahun 570 M.

 


Riwayat Keluarga Abdullah bin Abdul Muththalib

Abdullah menikah dengan Aminah binti Wahab dan lahirlah Muhammad. Ketika Muhammad masih dalam kandungan, Abdullah meninggal dunia saat Abdullah melakukan perjalanan dagang ke Syam. Saat itu usianya  baru 25 tahun.

 


Saudara saudara Abdullah bin Abdul Muththalib

Riwayat Keluarga Abdul Muththalib

Abdul Muththalib memiliki beberapa istri.  Dari istri yang bernama Fathimah binti Amr, Abdul Muththalib memiliki 10 anak lelaki, yakni :

  1. Harist, anak anaknya nya yakni
    1. Nawfal bin Harits,
    2. Rabiah bin Harits
    3. Thufail bin Harits, menikah dengan Zainab binti Khuzaimah kemudian diceraikannya.
    4. Ubaidillah bin Harits, Zainab setelah dicerai Thufail, lalu dinikahi Ubaidillah untuk memuliakan Zainab. Namun Ubaidillah mati syahid dalam perang Badar. Akhirnya Zainab dipinang Rasulullah.
    5. Abdullah bin Harits, semua menerima Islam sedang
    6. Abu Sufyan bin Harits, si penyair Quraishy ini adalah musuh Islam yang cukup kejam terhadap sepupunya sendiri, yakni Muhammad SAW.
  2. Abu Thalib [ Abdu Manaf ], anak anak Abu Thalib
    1. Thalib bin Abu Thalib
    2. Ja’far bin Abu Thalib, menikah dengan Asma binti Harits [ saudaranya Ummu Fadhil, istrinya Abbas ]
    3. Ali bin Abu Thalib
    4. Aqil bin Abu Thalib
    5. Fakhtihah binti Abu Thalib
    6. Jumanah binti Abu Thalib (Ummu Hani)
  3. Abu Lahab [ Abdul Uzza ], istrinya Ummu Jamil, anak :
    1. Jamil
    2. Uzza
    3. Durrah
    4. Utbah menikah dengan  Ruqayyah
    5. Utaibah menikahi dengan Ummu Kultsum yang kemudian diceraikannya.
  4. Zubair,
  5. Jahl [ Mughirah ],
  6. Abdul Kabah,
  7. Qutsam,
  8. Dhirar, Ghaidaq [ merupakan gelar ] sedangkan namanya adalah Mush’ab dan ada juga yang mengatakan Nofel,
  9. Abbas menikah dengan Ummu Fadhil, nama aslinya adalah Lubabah binti al Harits bin Hazn. Anak anak mereka adalah :
    1. Fadhl, dikuburkan di Baqi.
    2. Abdullah
    3. Qutsam bin Abbas
    4. Ma’bad bin Abbas
    5. Abdullah [ ? ]
    6. Ummu Habibah
    7. Ubaidillah bin Abbas
  10. Abdullah. anak :
    1. Muhammad SAW. salah satu istri Muhammad adalah Maimunah binti Harits [ saudaranya Ummu Fadhl, istrinya Abbas ]

Ada sebagian orang yang mengatakan  bahwa Abdul Ka’bah dan Muqawim itu orangnya sama, dan Jahl serta Ghaidaq itu juga sama.

Dan 4 Anak perempuan Abdul Muthalib :

  1. Arwa anak :
    1.  Thulayb, putranya yang ikut hijrah ke Habasyah
  2. Atikah (tentang keislaman keduanya ini ada perselisihan); anaknya
    1. Abdullah bin  Abu Umayyah bin’l-Mughira, jelas memusuhi Rasulullah.
  3. Ummu Hakim
  4. Barrah , dua putra Barrah ikut hijrah ke Habasyah, yakni
    1. Abu Salamah dan
    2. Abu Sabrah
  5. Aminah
  6. Umaimah  menikah dengan Jahsyi bin Ri`ab.  Anak anak :
    1.  Zainab binti Jahsy yang menjadi istri ke tujuh Rasulullah setelah sebelumnya menikah dengan Zaid bin Haritsah kemudian dicerai.
    2. Kemudian Abd Allah
    3. dan Ubaydillah ibn Jahsy  yang menikah dengan Ummu Habibah [ anak Abu Sufyan bin Harb ] namun kemudian  Ummu Habibah minta cerai karena Ubaydillah di negri Habsyah murtad dari Islam dan masuk Kristen dan kemudian mati di sana. Setelah didengar khabar itu oleh Rasulullah, maka Rasulullah meminang Ummu Habibah.

Abdul Muththalib juga menikah dengan Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah yang dinikahinya bersamaan dengan menikahnya anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab.

Dari pernikahannya dengan Haulah,  lahirlah

  1. Hamzah menikah dengan iparnya yakni Salma binti Harits, saudaranya Ummu Fadhil, istri Abbas bin Abdul Muththalib.
  2. Shafiyyah Suami pertamanya adalah Al Harits bin Harb bin Umayyah. Setelah suaminya meninggal, ia menikah dengan Al Awwam bin Khuwalid bin Asad. Anak anak mereka adalah :
    1. Zubair bin Awwam [ Shafiyyah dan zubair menyatakan Islamannya dengan terang terangan ]
    2. As-Saaib bin Awwam
    3. dan Abdul Ka’bah bin Awwam

.


Kisah Abdullah

Pada mulanya Muttalib ingin sekali mengembalikan harta Hasyim untuk kemenakannya. Tetapi Naufal menolak, lalu menguasainya. Sesudah Abd’l-Muttalib mempunyai kekuatan ia meminta bantuan kepada saudara-saudara ibunya di Jathrib terhadap tindakan saudara ayahnya itu dengan maksud supaya miliknya dikembalikan kepadanya. Untuk memberikan bantuan itu pihak Khazraj di Jathrib mengirimkan delapan puluh orang pasukan perang. Dengan demikian Naufal terpaksa mengembalikan harta itu.

Sekarang Abd’l-Muttalib sudah menempati kedudukan Hasyim. Sesudah pamannya Muttalib, dialah yang mengurus pembagian air dan persediaan makanan. Dalam mengurus dua jabatan ini terutama urusan air – ia menemui kesulitan yang tidak sedikit.
Sampai saat itu anaknya hanyalah seorang, yaitu Harith. Sedang persediaan air untuk tamu – sejak terserapnya sumur Zamzam didatangkan dari beberapa sumur yang terpencar-pencar sekitar Mekah, yang kemudian diletakkan di sebuah kolam di dekat Ka’bah. Anak yang banyak itu akan merupakan bantuan besar dan memudahkan pekerjaan serupa ini serta pengawasannya sekaligus. Sebaliknya, kalau Abd’l-Muttalib harus memikul jabatan penyediaan air dan makanan sedang anak hanya Harith satu-satunya, tentu hal ini akan terasa berat sekali. Ini jugalah yang lama menjadi pikiran.

Orang-orang Arab masih selalu ingat kepada sumur Zamzam yang telah dicetuskan oleh Mudzadz bin Amr beberapa abad yang lalu. Menjadi harapan mereka selalu andaikata sumur itu masih tetap ada. Dan sesuai dengan kedudukannya Abd’l-Muttalib pun tentu lebih banyak lagi memikirkan dam mengharapkan hal itu. Demikian kerasnya keinginan itu hingga terbawa dalam tidurnya seolah ada suara gaib menyuruhnya menggali kembali sumur yang pernah menyembur di kaki Ismail neneknya dulu itu. Demikian mendesaknya suara itu dengan menunjukkan sekali letak sumur itu. Dan diapun memang gigih sekali ingin mencari letak Zamzam tersebut, sampai achirnya diketemukannya juga, yaitu terletak antara dua patung: Isaf dan Na’ila.

Ia terus mengadakan penggalian, dibantu oleh anaknya, Harith. Waktu itu tiba-tiba air membersit dan dua pangkal pelana emas dan pedang Mudzadz mulai tampak. Sementara itu orang-orang lalu mau mencampuri Abd’l-Muttalib dalam urusan sumur itu serta apa yang terdapat di dalamnya. Akan tetapi Abd’l-Muttalib berkata:

“Tidak! Tetapi marilah kita mengadakan pembagian, antara aku dengan kamu sekalian. Kita mengadu nasib dengan permainan qid-h (anak panah). Dua anak panah buat Ka’bah, dua buat aku dan dua buat kamu. Kalau anak panah itu keluar, ia mendapat bagian, kalau tidak, dia tidak mendapat apa-apa.”

Usul ini disetujui. Lalu anak-anak panah itu diberikan kepada juru qid-h yang biasa melakukan itu di tempat Hubal di
tengah-tengah Ka’bah. Anak panah Quraisy ternyata tidak keluar. Sekarang pedang-pedang itu buat Abd’l-Muttalib dan dua buah pangkal pelana emas buat Ka’bah. Pedang-pedang itu oleh Abd’l-Muttalib dipasang di pintu Ka’bah, sedang kedua pelana emas dijadikan perhiasan dalam Rumah Suci itu. Abd’l Muttalib meneruskan tugasnya mengurus air untuk keperluan tamu, sesudah sumur Zamzam dapat berjalan lancar.

Karena tidak banyak anak, Abd’l-Muttalib di tengah-tengah masyarakatnya sendiri itu merasa kekurangan tenaga yang akan dapat membantunya. Ia bernadar; kalau sampai beroleh sepuluh anak laki-laki kemudian sesudah besar-besar tidak beroleh anak lagi seperti ketika ia menggali sumur Zamzam dulu, salah seorang di antaranya akan disembelih di Ka’bah sebagai kurban untuk Tuhan. Tepat juga anaknya yang laki-laki akhirnya mencapai sepuluh orang dan takdirpun menentukan pula sesudah itu tidak beroleh anak lagi.

Dipanggilnya semua anak-anaknya dengan maksud supaya dapat memenuhi nadarnya. Semua patuh. Sebagai konsekwensi kepatuhannya itu setiap anak menuliskan namanya masing-masing di atas qid-h (anak panah). Kemudian semua itu diambilnya oleh Abd’l-Muttalib dan dibawanya kepada juru qid-h di tempat berhala Hubal di tengah-tengah Ka’bah.

Apabila sedang menghadapi kebingungan yang luarbiasa, orang-orang Arab masa itu lalu minta pertolongan juru qid-h
supaya memintakan kepada Maha Dewa Patung itu dengan jalan (mengadu nasib) melalui qid-h. Abdullah bin Abd’l-Muttalib
adalah anaknya yang bungsu dan yang sangat dicintai.

Setelah juru qid-h mengocok anak panah yang sudah dicantumi nama-nama semua anak-anak yang akan menjadi pilihan dewa Hubal untuk kemudian disembelih oleh sang ayah, maka yang keluar adalah nama Abdullah. Dituntunnya anak muda itu oleh Abd’l-Muttalib dan dibawanya untuk disembelih ditempat yang biasa orang-orang Arab melakukan itu di dekat Zamzam yang terletak antara berhala Isaf dengan Na’ila.

Tetapi saat itu juga orang-orang Quraisy serentak sepakatmelarangnya supaya jangan berbuat, dan atas pembatalan itusupaya memohon ampun kepada Hubal. Sekalipun mereka begitumendesak, namun Abd’l-Muttalib masih ragu-ragu juga. Ditanyakannya kepada mereka apa yang harus diperbuat supayasang berhala itu berkenan. Mughira bin Abdullah dari suku Makhzum berkata: “Kalau penebusannya dapat dilakukan dengan harta kita, kita tebuslah.”

Setelah antara mereka diadakan perundingan, mereka sepakat akan pergi menemui seorang dukun di Jathrib yang sudah biasa memberikan pendapat dalam hal semacam ini. Dalam pertemuan
mereka dengan dukun wanita itu kepada mereka dimintanya supaya menangguhkan sampai besok.

“Berapa tebusan yang ada pada kalian?” tanya sang dukun.

“Sepuluh ekor unta.”

“Kembalilah ke negeri kamu sekalian,” kata dukun itu.
“Sediakanlah tebusan sepuluh ekor unta. Kemudian keduanya itu diundi dengan anak panah. Kalau yang keluar itu atas nama anak kamu, ditambahlah jumlah unta itu sampai dewa berkenan.”

Merekapun menyetujui.

Setelah yang demikian ini dilakukan ternyata anak panah itu keluar atas nama Abdullah juga. Ditambahnya jumlah unta itu sampai mencapai jumlah seratus ekor. Ketika itulah anak panah keluar atas nama unta itu. Sementara itu orang-orang Quraisy berkata kepada Abd’l-Muttalib – yang sedang berdoa kepada
tuhannya: “Tuhan sudah berkenan.”

“Tidak,” kata Abd’l-Muttalib. “Harus kulakukan sampai tiga kali.” Tetapi sampai tiga kali dikocok anak panah itupun tetap keluar atas nama unta itu juga. Barulah Abdul Muthalib merasa puas setelah ternyata sang dewa berkenan. Disembelihnya unta itu dan dibiarkannya begitu tanpa dijamah manusia atau binatang.

.