بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Abdullah bin Zubair bin Awwam adalah salah satu sahabat Rasulullah. Abdullah anak dari sepupu NabiZubair bin Awwam,  Jadi Abdullah bisa dikatakan ‘anak’  Rasulullah, posisinya sama seperti cucu Rasulullah yang lain, seperti Hasan dan Husain.

Dan Abdullah adalah cucu Abu Bakar, karena ibu Abdullah adalah Asma binti Abu Bakar.

Ia adalah bayi Islam pertama yang lahir saat hijrah.

Abdullah adalah pejuang Islam yang luarbiasa keberanian dan kehebatannya. Ia pun dikenal sebagai ahli ibadah ahli jihad.

Abdullah bin Zubair adalah salah satu dari 4 orang yang bernama Abdullah dari kalangansahabat terkemuka, sehingga ia disebut Ibadillah.


Nasab Abdullah bin Zubair

Ayahnya adalah Zubair bin Awwam, beliau termasuk 10 sahabat yang dijanjikan surga oleh Rasulullah. Zubairadalah sepupu Nabi dan keponakan Khadijah.

Ibunya bernama Asma binti Abu Bakar. Jadi,Zubair adalah menantu Abu Bakar sehingga Abdullah adalah selain cucu Rasulullah ia adalah juga cucu Abu Bakar.

 


Tahun Lahirnya Abdullah bin Zubair

Abdullah lahir tepat ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, yakni tahun 623 Masehi atau tahun ke 14 masa kenabian atau bi’tsah atau tahun pertama hijriah.  Jadi, Abdullah bayi pertama pada kalender Islam atau Hijriah.

 


Tahun Wafatnya Abdullah bin Zubair

Abdullah wafat pada usia 73 tahun.  Ia mati dibunuh pada 17 Djumadil Awwal, tahun 73 Hijriah. atau 695 Masehi.

Saat itu Abdullah adalah Khalifah yang menguasai seluruh wilayah Hijaz, Yaman, Iraq dan Khurrazan serta berjasa dalam melakukan rekontruksi Kabah.

Sang ibu, Asma binti Abu Bakar, wafat beberapa hari kemudian pada usia 100 tahun.

 


Kisah Lahirnya Abdullah – Kisah Rombongan Hijrah Terakhir Ke Madinah

Ketika umat muslim diperintahkan untuk  hijrah kedua ke Madinah, Zubair dan Asma ikut hijrah meskipun Asma tengah hamil besar.

Asma ikut dalam rombongan hijrah yang terakhir setelah sang ayah Abu Bakar dan Rasulullah hijrah secara sembunyi sembunyi .  Disini peran Asma sangat besar dalam menyelamatkan ayahnya dan Rasulullah menghindar dari kejaran kafir Quraisy.

Setelah Nabi dan Abu Bakar tiba dengan selamat di Madinah, barulah Rasulullah dan Abu Bakar memikirkan keluarga mereka yang masih bertahan di Mekah.

Untuk itu Nabi mengutus Zaid bin Haritsah menjemput istri Rasulllah Saudah, beserta anak anak mereka yakni Ummu Kultsum  dan Fathimah. Zaid juga ikut membawa sang istri  Umm Aiman dan anaknya Usamah.
Sedang Abu Bakar mengirim pesan kepada anak laki2nya yg masih berada di Mekah, Abdullah untuk hijjrah dengan membawa ibunya Umm Rukman, dan saudari saudarinya Asma dan Aisyah.

Jadi, inilah rombongan terakhir yang hijjrah ke Madinah : Ummi Kultsum, Fathimah, Ummul Mukminim Saudah binti Zam’ah.  Juga keluarga Abu Bakar, seperti Asma, Aisyah dan Ummu Rukman.

Rombongan ini dikawal oleh Zaid binti Haritsah dan Abu Rafi.

Namun perjalanan MekahMadinah yang amat jauh ditempuh dengan sabar dan tawakal oleh Asma.  Panasnya padang pasir di siang hari, dingin yang menusuk tulang ketika malam tiba, tidak menggentarkan nyali Asma sedikitpun.  Asma tidak  mengeluh atau bahkan menyesal ikut dalam rombongan hijrah ini.

Dan atas ijinNya juga, bayi dalam kandungan Asma pun tidak menunjukkan gejala menghawatirkan. Bayi itu tenang saja dalam perut ibunya.

Bisa disebut, bayi dalam kandungan Asma, adalah makhluk termuda yang ikut dalam rombongan hijrah kedua !

Ketabahan Asma, kelak diganjar pahala luar biasa dari Allah SWT dengan menjadikan suami dan anak yang tengah dikandungnya mati syahid.  Sebuah kematian tertinggi yang dicita citakan tiap umat Islam.

Namun karena usia kehamilan Asma memang sudah waktunya, akhrinya, atas ijin Allah SWT, belum lagi rombongan hijrah itu masuk kota Madinah, Asma keburu melahirkan.

Di sebuah desa kecil bernama Quba, diperbatasan Madinah, Asma  melahirkan bayinya. ]anin yang turut menyertai hijrah itu pun lahir. Sang bayi dinamakan Abdullah dan ia menjadi bayi Islam pertama yang lahir pada tahun Hijrah. 

 

Ketika rombongan tiba di Madinah, Rasulullah segera menyambut bayi itu dengan kegembiraan yang nyata.  Wajah Rasulullah berseri seri.

Inilah bayi pertama yang lahir pada tahun hijriah.  Inilah generasi awal dari masyarakat Muslim yang nantinya akan berkembang semakin besar dan kuat.

Nabi menciumnya dan mentahniknya dengan kurma yang sudah dikunyah. Jadi yang pertama-tama masuk ke perut Abdullah bin Zubair ialah air liur Rasulullah yang mulia.

Kaum muslimin berkumpul dan beramai-ramai membawa bayi yang berada dalam gendongan itu mengelilingi kota Madinah sambil membaca tahlil dan takbir. Ini dilakukan kerana semasa Rasulullah saw dan para sahabat berhijrah dan menetap di Madinah, orang-orang Yahudi merasa terhina dan iri hati, mula melakukan perang saraf terhadap kaum muslimin. Mereka menyebarkan berita bahawa orang alim mereka telah menyihir kaum muslimin dan membuat mereka menjadi mandul, sehingga Madinah tidak akan menyaksikan bayi yang lahir dari kalangan mereka. Kelahiran Abdullah bin Zubair ke dunia adalah bukti kukuh pembohongan dan tipu muslihat orang-orang Yahudi di Madinah.

Abdullah masih kecil pada zaman Rasulullah tetapi dewasa dalam lingkungan generasi para sahabat dan hubungannya yang akrab dengan Rasulullah telah membentuk kematangan dan prinsip hidupnya yang pada masa hadapan menggegarkan dunia dan menjadi buah bibir kaum muslimin.

Kanak-kanak itu membesar dengan sangat cepat. Semangat, kecerdasan dan keteguhannya sungguh menakjubkan. Setelah itu, dia menjadi remaja. Dia menjadi seorang pemuda yang suci, terhormat, ahli ibadah, dan sangat berani. Waktu terus berjalan dan Abdullah bin Zupair tetap berpegang teguh pada sifat dan prinsip hidupnya. Dia seorang lelaki yang tahu hala tuju hidupnya, lantas menempuh jalan itu dengan tekad dan keimanan yang kuat serta luar biasa.

Pada peristiwa pembebasan Afrika, Andalusia dan Konstantinopel, dia yang ketika itu baru menjejaki usia 27 tahun, masuk ke dalam barisan pahlawan pembebasan yang namanya dikenang sepanjang zaman. Ketika pembebasan Afrika, kaum muslimin yang berjumlah 20 ribu orang tentera bertempur dengan pasukan musuh yang berjumlah 120 ribu orang tentera.

Pertempuran berlangsung sengit. Kaum muslimin mulai kepenatan. Abdullah bin Zubair memandang sekelilingnya, mencari titik punca kekuatan pasukan musuh. Akhirnya, dia mendapati bahwa kekuatan rnereka bersumberkan dari Raja Barbar yang merupakan panglima mereka.

Raja Barbar tanpa henti bersorak memberikan semangat kepada seluruh pasukannya hingga mereka berani bertempur tanpa ada rasa takut pada kematian. Abdullah berpikir bahwa pertempuran sengit ini tidak akan berakhir kecuali dengan terbunuhnya panglima itu. Namun begitu, bagaimana caranya? Kerana, untuk sampai menuju pada panglima itu harus melewati lautan pasukan musuh yang bertempur bagai angin taufan layaknya.Tetapi, semangat dan keberanian Abdullah bin Zubair akan merungkai segalanya. Dia memanggil beberapa orang sahabatnya dan berkata, “Ikutlah bersama-samaku untuk melakukan penyerangan dan lindungilah bahagian belakangku.”

Bagaikan anak panah yang meluncur kencang, ia membelah lautan pasukan musuh. Kelompok ini meluncur cepat ke arah sang panglima musuh. Ketika sudah sampai,dengan seluruh tenaga dia menyabit Si Panglima. Panglima itu pun tersungkur lalu menghembuskan nafas terakhirnya. Kemudian, Dia dan sahabat-sahabatnya menyerang para pengawa1 panglima. Mereka berjaya menumpaskankan para pengawal itu, la1u berteriak, “Allahu akbar.”

Melihat bendera pasukan Islam berkibar di tempat panglima barbar berdiri untuk mengeluarkan perintah dan mengobarkan semangat, ketika itulah kaum muslimin sedar bahwa kemenangan sudah diraih. Mereka menyerang serentak dengan semangat yang tinggi seakan-akan mendengar seru komando. ‘ Akhirnya, pertempuran ini dimenangi oleh kaum muslimin.

Abdullah Abi Sarakh, panglima pasukan Islam, mengetahui peranan penting yang telah dimainkan oleh Abdullah bin Zubair. Sebagai balasannya, Abdullah diamanahkan menyampaikan berita kemenangan ini kepada Khalifah Utsman bin Affan di Madinah.

Kepahlawanan Abdullah di medan perang sungguh luar biasa dan patut dibanggakan. Namun, ita semua tidak dapat mengatasi keluarbiasaannya ketika beribadah. Lelaki yang punya lebih dari satu kebanggaan ini akan lebih membuatkan kita berasa takjub ketika mana dia berada dikalangan ahli ibadah. Pangkat, masa muda, harta, dan kekuatannya tidak ada yang mampu menghalang Abdullah bin Zubair melakukan ibadah. Berpuasa disiang hari dan melakukan qiyamullail di malam hari.Kekhusyukannya dihadapan Allah swt sangat menakjubkan.

Pada suatu hari, Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Ibnu Abi Mulaikah, “Ceritakan kepada kami tentang keperibadian Abdullah bin Zubair.”

Dia menjawab, “Demi Allah, aku tidak pernah melihat seseorang seperti dia. Ketika sudah berada dalam solat, dia melupakan segala perkara. Ketika dia rukuk atau sujud, burung-burung kecil bertenggek di punggung dan bahunya kerana sangat lama dia bersujud atau rukuk. Burung-burung itu menganggapnya umpama sebongkah dinding atau timbunan kain. Pernah suatu ketika, semasa dia sedang solat, sebuah batu manjaniq meluru tepat di hadapannya, namun dia tidak terpengaruh lansung dengan semua itu. Bahkan, tidak merasakan keberadaan batu itu. Dia tidak memotong bacaannya atau rnempercepat untuk rukuk.”

Kisah yang ditulis sejarah tentang ibadah Abdullah memang seakan-akan dongeng. Puasanya, shalatnya, hajinya, semangatnya, kemuliaannya, qiyamullail yang dilakukannya setiap malam, sepanjang usianya, siang harinya yang diisi dengan puasa dan berjihad, keimanannya yang kukuh, dan rasa takutnya kepada Allah, sungguh luar biasa dan tiada yang dapat menandinginya.

Abdullah bin Abbas pernah ditanya tentang Abdullah bin Zubair, meskipun di antara keduanya ada perbezaan pendapat. Abdullah bin Abbas berkata, “Dia membaca Al,Quran dengan baik, mengikuti sunnah Rasulullah, khusyuk dalam beribadah, puasa di siang hari karena takut kepada Allah, dan putera seorang pembela Rasulullah. Ibunya ialah Asma’ binti Abu Bakar ash,Shiddiq dan ibu saudaranya ialah Aisyah, isteri Rasulullah. Orang yang tidak mengetahui keutamaannya adalah orang yang telah dibutakan’ Allah.”

Akhlak dan sifat baiknya tidak tergoyah umpama gunung. Sikapnya yang terbuka, mulia dan tegar. Itulah keperibadian Abdullah bin Zubair. Ia selalu siap sedia mempertaruhkan nyawanya untuk kebenaran dan lurusnya jalan yang bakal ditempuh. Pada masa perselisihan dan peperangan dengan bani Umayah, dia telah dikunjungi Hushain bin Numair, panglima tentera yang dihantar oleh Yazid untuk menghentikan pertempuran Abdullah bin Zubair. Hushain mengunjunginya beberapa ketika setelah berita kematian Khalifah Yazid sampai ke Mekah. Hushain menawarkan kepadanya untuk pergi bersamanya ke Syam. Dengan pengaruhnya, dia akan mengangkat Abdullah bin Zubair sebagai khalifah.

Abdullah menolak tawaran itu. Kerana menurutnya, orang-orang Syam harus dijatuhkan hukuman mati karena telah menyerang dan menghancurkan Madinah. Mereka hanya terlalu menurutkan keserakahan bani Umayah.

Mungkin dalam hal ini kita tidak sependapat dengan Abdullah. Kita berharap seandainya dia lebih mengutamakan jalan damai dan menerima kesempatan yang ditawarkan oleh Hushain. Akan tetapi, sikap seseorang, walau siapa pun dia, yang berlandaskan keyakinan dan tidak mahu ditipu patut dihormati dan diberi penghormatan.

Ketika dia diserang oleh Hajjaj dan pasukannya, dia dan pengikutnya dikawal dengan rapi. Diantara para pengikutnya itu terdapat segolongan besar dari orang,orang Habsyi yang mahir berperang dan memanah.

Sewaktu itu dia mendengarkan kata-kata mereka mengenai Khalifah Utsman (yang telah syahid) secara tidak sopan dan tidak pada tempatnya. Dia menegur mereka dengan tegas, “Demi Allah, aku tidak sudi meminta bantuan kepada orang-orang yang membenci Utsman untuk memerangi musuhku.” Abdullah berlalu meninggalkan orang-orang itu, walhal saat itu dia sangat memerlukan bantuan.

Kejujurannya dan kesetiaannya terhadap akidah dan prinsipnya, menyebabkannya tidak sedih kehilangan 200 pemanah kerana merasakan tidak berpuas hati dengan akhlak dan tingkah laku mereka. Padahal, ia sedang berada dalam peperangan menentukan nasibnya. Begitupun, mungkin arah peperangan ini berubah jika pemanah itu tetap berada bersama-samanya.

Sikap tegasnya melawan Mu’awiyah dan Yazid bin Mu’awiyah sangat menakjubkan. Menurutnya, Yazid bin Mu’awiyah sama sekali tidak layak menjadi khalifah. Pendapatnya ini sangat beralasan kerana Yazid adalah seorang yang sangat tidak baik dalam semua perkara. Dia tidak memiliki satu kebaikan pun yang dapat meringankannya dari kejahatan dan dosanya yang menggunung tinggi. Jika demikian, tiada sebab Abdullah bin Zubair mahu mengakuinya sebagai khalifah.

Saat Mu’awiyah masih hidup, ia telah menyatakan penbantahannya secara terang,terangan. 1a juga menyatakannya saat Yazid menjawat jawatan sebagai khalifah. Yazid mengirimkan utusan kepada Abdullah bin Zubair membawa perintah yang berat. Abdullah menjawab, ”Aku tidak akan berbaiat kepada seorang pemabuk.”

Lalu dia menggubah sebuah bait syair: “Aku takkan tunduk pada kebatilan meskipun gigi geraham mampu mengunyah batu jadi lembut”

Secara faktanya, Abdullah bin Zubair diangkat menjadi pemimpin kaum muslimin, dengan menjadikan Mekah al-Mukarramah sebagai ibukota pemerintahan. Kekuasaannya meliputi Hijaz, Yaman, Bashrah, Kufah, Khurasan, dan wilayah Syam, kecuali Damaskus. Semua penduduk wilayah tersebut lebih memilih Abdullah bin Zubair sebagai khalifah mereka.

Akan tetapi, orang;orang bani Umayah tidak senang dengan kondisi ini. Mereka secara terus-menerus melancarkan serangan ke wilayah kekuasaan Abdullah meskipun selalu memperolah kegagalan. Hingga pada akhirnya pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, dia telah memilih manusia paling kejam di dunia, yaitu Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi untuk menyerang Abdullah di Mekah.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata tentang Hajjaj, “Seandainya setiap umat membawa kesalahan mereka, sedangkan kita membawa Hajjaj, maka kesalahan kita lebih berat daripada kesalahan mereka semua.”

Hajjaj berangkat dengan pasukannya dan para tentera upahannya untuk menyerbu kota Mekah, ibukota pemerintahan Abdullah bin Zubair. ‘Mereka mengepung kota Mekah selama enam bulan. Penduduk Mekah tidak boleh mendapatkan makanan dan air dari luar Mekah. Hajjaj melakukan tindakan ini untuk memaksa mereka meninggalkan Abdullah bin Zubair bersendirian. Di bawah tekanan kebuluran itu, banyak para penduduk Mekah yang menyerahkan diri. Akhirnya, Abdullah tinggal bersendirian atau hampir bersendirian. Meskipun sebenarnya peluang untuk selamat masih terbuka, tetapi dia memutuskan untuk memikul tanggungjawab ini sampai titis darah terakhir. Dia terus menghadapi serangan tentera Hajjaj dengan keberanian yang tidak dapat digambarkan, padahal ketika itu dia berusia 70 tahun. Kita tidak akan bisa mengetahui gambaran sebenar terhadap sikap luar biasa ini kecuali jika kita mendengar dialog yang berlangsung antara Abdullah dan ibunya.

Dia menemui ibunya dan menjelaskan secara terperinci tentang sikapnya dan kesudahan yang bakal terjadi atas dirinya.

Asma’ (si ibu) berkata,”Anakku, kamu lebih tahu tentang dirimu. Jika kamu yakin berada di pihak yang benar dan menyeru kepada kebenaran, maka tetap berteguhlah meskipun kamu harus membayarnya dengan kematian. Jangan biarkan orang-orang bani Umaiyah itu memperdayaimu. Namun, jika kamu hanya menginginkan dunia, maka kamulah hamba terburuk. Kamu telah mencelakan dirimu dan mencelakakan orang-orang yang mati bersamamu.”

Abdullah berkata, “Ibuku, demi Allah, aku tidak menginginkan dunia. Aku tidak menyelewengkan, menzalimi atau mengkhianati hukum Allah.”

Asma’ berkata, “Jika kamu mendahuluiku menghadap Allah, semoga berkabungnya aku menjadi berkabung yang baik. Atau, aku mendahuluimu menghadap Allah … Ya Allah, berikan rahmat kepadanya, atas ibadahnya di malam hari, puasanya di siang hari, dan baktinya kepada ayah dan ibunya. Ya Allah, aku serahkan dirinya kepadaMu. Aku redha atas takdirMu dan berikan pahala kepadaku atas apa yang telah dilakukan Abdullah bin Zubair seperti pahala yang Engkau berikan kepada orang yang sabar dan orang yang bersyukur.”

Kemudian keduanya berpelukan dan mengucapkan salam perpisahan.

Beberapa ketika kemudian, ‘Abdullah bin Zubair terlibat dalam pertempuran sengit yang tak memihak padanya. Pertempuran yang menjadikannya sebagai syahid mulia. Hajjaj yang sememangnya kejam itu, belum merasa puas sebelum dapat menyalib tubuh yang sudah kaku itu.

Asma’ yang saat itu berusia 97 tahun keluar rumah untuk melihat anaknya yang tersalib. 1a berdiri tidak bergerak bagai gunung kukuh yang menjulang, menatap jasad anaknva. Hajjaj datang menghampirinya dengan lemah lembut dan merendah diri. Dia berkata, “Wahai ibu, Khalifah Abdul Malik bin marwan berpesan agar aku memperlakukanmu dengan baik. Adakah sesuatu yang ibu perlukan?” Asma’ menjawab dengan lantang, “Aku bukan ibumu. Aku adalah ibu orang yang tersalib di tiang ini. Aku sama sekali tidak butuh kepada kalian. Hanya saja aku ingin mengatakan kepadamu sabda Rasulullah yang pernah kudengar langsung dari beliau, “Akan muncul dari Tsaqif seorang pembohong dan seorang durjana”

Adapun si pembohong telah kita ketahui. Manakala si durjana, yang ku ketahui adalah kamu.”

Abdullah bin Umar datang mengucapkan takziah dan memintanya bersabar. Asma’ menjawab, “Tidak ada Alasan bagiku untuk tidak bersabar karena sebelum ini, kepala Nabi Yahya bin Zakariya telah diserahkan kepada si durjana dari bani Israel.”

Sungguh mulia, engkau wahai puteri Abu Bakar ash~Shiddiq. . Adakah kata-kata yang lebih indah dari kata-kata ini yang pantas diucapkan kepada mereka yang telah memenggal kepala Abdullah bin Zubair lalu menyalib tubuhnya?

Jika kepala Abdullah bin Zubair telah diserahkan kepada Hajjaj dan Abdul Malik, maka sebelum itu, kepala Nabi Yahya as. juga telah diserahkan kepada Salome, si durjana dari bani Israel. Sungguh, satu persamaan yang sangat bertepatan.

Jadi, wajar sekali jika Abdullah mencapai darjat kepahlawanan dan kebaikan begitu tinggi, karena ia lahir dari rahim dan menyusu dari seorang ibu yang begitu mulia.

Salam sejahtera untuk Abdullah. Salam sejahtera untuk Asma’. Salam sejahtera untuk mereka berdua yang berada dalam barisan para syuhada mulia. Salam sejahtera untuk mereka berdua yang berada dalam barisan orang orang soleh dan bertakwa.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

.