بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Abdullah bin Mas’ud  (bahasa Arab: عبدالله بن مسعود, wafat 652)  adalah satu dari 4 Sahabat Pemegang Kunci Al Quran yang disebut Rasulullah ﷺ.  Abdullah masuk dalam kelompok As Sabiqun Al Awwalun.  Seperti Anas bin Malik Abdullah juga  pelayan [ dialah penjaga sandal Nabi! ] sekaligus orang kepercayaan Rasulullah ﷺ sehingga dijuluki  “Shahibus Sirri Rasulullah (pemegang rahasia Rasulullah).  Ia juga yang disebut sebut memiliki akhlak yang paling mirip dengan Rasulullah ﷺ.

Abdullah mempunyai perawakan tubuh yang  pendek dan kurus, tidak seperti umumnya orang orang Arab di masanya. Tetapi dalam hal ilmu ilmu keislaman, khususnya dalam hal Al Quran, ia jauh melampaui para sahabat pada umumnya.

Kisah keislamannya cukup unik, karena ia melihat dan mengalami secara langsung banyak mukjizat Rasulullah ﷺ.

Karena ketekunan dan kecerdasannya dalam ilmu dan daya hafal Al Quran yang amat baik, serta menuliskan Al Quran dalam lembaran lembaran kayu dan kulit, maka Rasulullah bersabda :

“Pelajarilah Al Quran dari empat orang ini yaitu Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal

Penggembala Kambing Yang Jujur

Ketika masih remaja, Abdullah bin Mas’ud bekerja mengembalakan kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith, salah seorang tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Nabi SAW. Suatu ketika saat sedang bekerja di suatu padang, dia didatangi oleh Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar yang sedang kehausan dan meminta susu.

Tetapi karena hanya melaksanakan amanah mengembalakan, Abdullah bin Mas’ud pun tidak bisa memenuhi permintaan itu. Karena memang sedang kehausan, Rasulullah ﷺ meminta/meminjam anak kambing betina yang belum digauli pejantan, yang tentunya tidak mungkin mengeluarkan air susu.

Ibnu Mas’ud remaja memenuhi permintaan beliau tersebut. Setelah anak kambing itu diletakkan di depan Rasulullah ﷺ, beliau mengikat dan mengusap susunya dan berdoa dengan kata-kata yang tidak difahami Ibnu Mas’ud. Sungguh ajaib, kantung susunya jadi penuh dengan air susu.

Lalu Abu Bakar datang dengan membawa batu cekung, dan memerah air susunya, Abu Bakar meminum susu tersebut sampai kenyang, kemudian memerah lagi dan memberikan kepada Ibnu Mas’ud. Dan terakhir Abu Bakar memerah lagi untuk Rasulullah ﷺ. Setelah selesai minum, beliau berkata, “Mengempislah!!”
Seketika kantung susu anak kambing itu mengempis kembali seperti semula, dan ia berlari kembali ke kumpulannya.

Ibnu Mas’ud sangat takjub melihat pemandangan tersebut, ia mendekati Rasulullah ﷺ dan minta diajarkan kata-kata yang diucapkan Rasulullah ﷺ tersebut. Maka beliau menyampaikan tentang risalah Islamiah yang beliau bawa, dan seketika itu Abdullah bin Mas’ud memeluk Islam.

Menjadi Pelayan Dan Pemegang Rahasia Rasulullah

Tak berapa lama setelah memeluk Islam, Abdullah bin Mas’ud mendatangi Rasulullah dan memohon kepada beliau agar diterima menjadi pelayan beliau. Rasulullah pun menyetujuinya.

Sejak hari itu, Abdullah bin Mas’ud tinggal di rumah Rasulullah. Dia beralih pekerjaan dari penggembala domba menjadi pelayan utusan Allah dan pemimpin umat. Abdullah bin Mas’ud senantiasa mendampingi Rasulullah bagaikan layang-layang dan benangnya. Dia selalu menyertai kemana pun beliau pergi.

Dia membangunkan Rasulullah untuk shalat bila beliau tertidur, menyediakan air untuk mandi, mengambilkan terompah apabila beliau hendak pergi dan membenahinya apabila beliau pulang. Dia membawakan tongkat dan siwak Rasulullah, menutupkan pintu kamar apabila beliau hendak tidur.

Bahkan Rasulullah mengizinkan Abdullah memasuki kamar beliau jika perlu. Beliau memercayakan kepadanya hal-hal yang rahasia, tanpa khawatir rahasia tersebut akan terbuka. Karenanya, Abdullah bin Mas’ud dijuluki orang dengan sebutan “Shahibus Sirri Rasulullah (pemegang rahasia Rasulullah).

Abdullah bin Mas’ud dibesarkan dan dididik dengan sempurna dalam rumah tangga Rasulullah. Karena itu tidak kalau dia menjadi seorang yang terpelajar, berakhlak tinggi, sesuai dengan karakter dan sifat-sifat yang dicontohkan Rasulullah kepadanya. Sampai-sampai orang mengatakan, karakter dan akhlak Abdullah bin Mas’ud paling mirip dengan akhlak Rasulullah

Abdullah amat tekun belajar.   Dan Rasulullah ﷺ memperhatikan ketekunannya, kemudian bersabda, “Engkau akan menjadi seorang yang terpelajar..!!”

Tentu saja Ibnu Mas’ud tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rasulullah ﷺ, apalagi saat itu ia hanyalah seorang miskin yang mencari upah dengan menggembala kambing milik orang lain.

Tetapi di sela-sela waktu senggangnya, ia selalu mendatangi majelis pengajaran Rasulullah ﷺ yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sejak sebelum beliau menggunakan rumah Arqam bin Abi Arqam. Sedikit demi sedikit pengetahuannya makin bertambah, bahkan dengan cepat ia mampu menghafal dan menguasai wahyuwahyu, yakni Al Quran.

Bacaan Al Quran Abdullah Disukai Rasulullah

Suatu hari Rasulullah ﷺ meminta Abdullah untuk membacakan Al Quran untuk beliau ﷺ.  Inilah bunyi hadisnya :
Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata :

قَالَ لِى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « اقْرَأْ عَلَىَّ » .قُلْتُ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ « فَإِنِّى أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِى » . فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى بَلَغْتُ
( فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا )
قَالَ « أَمْسِكْ » . فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

Rasulullah ﷺ berkata kepadaku,
“Bacalah Al Qur’an untukku.”

Maka aku menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakan Al Quran untukmu, bukankah Al Quran diturunkan kepadamu?”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku suka mendengarnya dari selainku.”

Lalu aku membacakan untuknya surat An Nisaa’ [4] hingga sampai pada ayat ke 41 :

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاءِ شَهِيدًا 41

Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)

Beliau berkata, “Cukup, cukup ya Abdullah!”
Maka aku menoleh kepada Rasulullah ﷺ, ternyata kedua mata Rasulullah ﷺ dalam keadaan bercucur air mata.” (HR. Bukhari no. 4582 dan Muslim no. 800).

Dipukuli Quraisy

Suatu ketika Rasulullah ﷺ ingin ada seseorang yang membacakan Al Quran kepada orang-orang Quraisy karena mereka belum pernah mendengarnya, dan ternyata Abdullah bin Mas’ud yang mengajukan dirinya.

Tetapi Nabi SAW mengkhawatirkan keselamatannya, beliau ingin orang lain saja, yang mempunyai kerabat kaum Quraisy, yang bisa memberikan perlindungan jika ia disiksa. Tetapi Ibnu Mas’ud tetap mengajukan diri, bahkan setengah memaksa, sambil berkata, “Biarkanlah saya, ya Rasulullah, Allah pasti akan membela saya…!!”

Sungguh suatu semangat besar yang didorong jiwa muda yang berapi-api, sehingga kurang mempertimbangkan keselamatan dirinya. Dan tanpa menunggu lagi, ia berjalan ke majelis pertemuan kaum Quraisy di dekat Ka’bah, dan Rasulullah ﷺ membiarkannya. Sampai di sana, ia berdiri di panggung atau mimbar di mana orang-orang Quraisy biasanya melantunkan syair-syair mereka, dan mulai membaca ayatayat Quran dengan mengeraskan suaranya.

Yang dibacanya adalah Surah ar Rahman. Orang-orang kafir itu memperhatikan dirinya sambil bertanya, “Apa yang dibaca oleh Ibnu Ummi Abdin itu?”

Saat itu mereka belum mengetahui kalau Ibnu Mas’ud telah memeluk Islam, jadi mereka membiarkannya saja untuk beberapa saat lamanya.
Salah satu dari orang Quraisy itu tiba-tiba berkata, “Sungguh, yang dibacanya itu adalah apa yang dibaca oleh Muhammad…!!”

Merekapun bangkit menghampiri, dan memukulinya hingga babak belur. Namun selama dipukuli, ia tidak segera menghentikan bacaannya sebatas ia masih mampu melantunkannya. Ketika mereka berhenti memukulinya, ia segera kembali ke tempat Rasulullah ﷺ dan para sahabat berkumpul. Melihat keadaan tubuhnya yang tidak karuan akibat pukulan-pukulan tersebut, salah seorang sahabat berkata, “Inilah yang kami khawatirkan akan terjadi pada dirimu!!”

Tetapi dengan tegar Ibnu Mas’ud berkata, “Sekarang ini tak ada lagi yang lebih mudah bagiku daripada menghadapi musuh-musuh Allah tersebut. Jika tuan-tuan menghendaki, esok saya akan mendatangi mereka lagi dan membacakan lagi surah lainnya…”
Mereka berkata, “Cukuplah sudah, engkau telah membacakan hal yang tabu atas mereka…!!”

Nabi  ﷺ hanya tersenyum melihat perbincangan di antara sahabatsahabat beliau, tanpa banyak memberikan komentar apa-apa.
Peristiwa tersebut menjadi pertanda awal dari apa yang diramalkan oleh Rasulullah  ﷺ , ia akan menjadi seorang yang terpelajar, yakni dalam bidang Al Quran dan ilmu keislaman lainnya. Sungguh suatu lompatan besar, dari seorang buruh upahan penggembala kambing, miskin dan terlunta-lunta, tiba-tiba menjadi seseorang yang ilmunya dibutuhkan banyak orang, khususnya dalam bidang Al Quran.

Kepandaian Abdullah Dalam Menghafal Al Quran

Abdullah bin Mas’ud pernah berkata tentang pengetahuannya mengenai Kitabullah (Al-Quran) sebagai berikut, “Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Tidak ada satu ayat pun dalam Al Quran, melainkan aku tahu di mana dan dalam situasi bagaimana diturunkan. Seandainya ada orang yang lebih tahu daripada aku, niscaya aku datang belajar kepadanya.”

Abdullah bin Mas’ud tidak berlebihan dengan ucapannya itu. Kisah Umar bin Al-Khathab berikut memperkuat ucapannya. Pada suatu malam, Khalifah Umar sedang dalam perjalanan, ia bertemu dengan sebuah kabilah. Malam sangat gelap bagai tertutup tenda, menutupi pandangan setiap pengendara. Abdullah bin Mas’ud berada dalam kabilah tersebut. Khalifah Umar memerintahkan seorang pengawal agar menanyai kabilah.

“Hai kabilah, dari mana kalian?” teriak pengawal.

“Min fajjil ‘amiq (dari lembah nan dalam),” jawab Abdullah.

“Hendak kemana kalian?”

“Ke Baitu Atiq (rumah tua, Ka’bah),” jawab Abdullah.

“Di antara mereka pasti ada orang alim,” kata Umar.

Kemudian diperintahkannya pula menanyakan, “Ayat Al Quran manakah yang paling ampuh?”

Abdullah menjawab, “Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak pula tidur…” (QS Al-Baqarah: 255).

“Tanyakan pula kepada mereka, ayat Al-Quran manakah yang lebih kuat hukumnya?” kata Umar memerintah.

Abdullah menjawab, “Sesungguhnya Allah memerintah kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang kamu dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahl: 9).

“Tanyakan kepada mereka, ayat Al-Quran manakah yang mencakup semuanya!” perintah Umar.

Abdullah menjawab, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan walaupun seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan walaupun sebesar dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” (QS Al-Zalzalah: 8).

Demikian seterusnya, ketika Umar memerintahkan pengawal untuk bertanya tentang Al-Quran, Abdullah bin Mas’ud langsung menjawabnya dengan tegas dan tepat. Hingga pada akhirnya Khalifah Umar bertanya, “Adakah dalam kabilah kalian Abdullah bin Mas’ud?”

Jawab mereka, “Ya, ada!”

Ahli Ilmu

Ia memang hampir tidak pernah terpisah dengan Rasulullah  ﷺ, pengetahuannya terus tumbuh dan berkembang dalam bimbingan beliau. Ia mendengar 70 surah Al Quran langsung dari mulut Rasulullah  ﷺ , dan tidak ada sahabat lainnya yang sebanyak itu mendengar langsung dari Nabi  ﷺ.

Ia juga selalu merekam (mengingat) peristiwa demi peristiwa yang berhubungan dengan surahsurah Al Quran. Jika ia mendengar kabar tentang seseorang yang mengetahui suatu peristiwa yang berhubungan dengan Al Quran, yang ia belum mengetahuinya, segera saja ia memacu untanya untuk menemui orang tersebut demi melengkapi pemahamannya.

Tentang kemampuannya di bidang Al Quran, Nabi  ﷺ bersabda, “Barang siapa yang ingin mendengar Al Quran tepat seperti ketika diturunkannya, hendaknya ia mendengar bacaan Al Quran Ibnu Ummi Abdin (yakni, Abdullah bin Mas’ud). Barang siapa ingin membaca Al Quran tepat seperti saat diturunkan, hendaklah ia membaca seperti bacaan Ibnu Ummi Abdin…”

Beliau juga pernah bersabda, “Berpegang teguhlah kalian kepada ilmu yang diberikan oleh Ibnu Ummi Abdin…”
Bahkan tak jarang Nabi  ﷺ memerintahkan Abdullah bin Mas’ud untuk membacakan suatu surah untuk beliau, dan beliau akan memerintahkannya berhenti setelah beliau tak dapat menahan tangis karena mendengar bacaannya.

Beliau seolah dibawa “bernostalgia” dengan suasana ketika ayat tersebut diturunkan, karena bacaannya memang tepat seperti ketika Jibril membacakan saat ayatayat Al Quran itu diturunkan.

Secara penampilan fisik, mungkin Abdullah bin Mas’ud tidak meyakinkan. Perawakan tubuhnya kurus dan kecil, tidak terlalu tinggi, kedua betisnya kecil dan kempes sehingga pernah menjadi bahan tertawaan beberapa sahabat. Hal itu terjadi ketika ia sedang memanjat dan memetik dahan pohon arak untuk digunakan sikat gigi (siwak) oleh Nabi SAW. Melihat sikap mereka ini, beliau bersabda, “Tuan-tuan mentertawakan kedua betis Ibnu Mas’ud, padahal di sisi Allah, timbangan (kebaikan) keduanya lebih berat daripada gunung Uhud….”

Selalu Ikut Jihad

Abdullah bin Mas’ud tidak pernah tertinggal mengikuti pertempuran bersama Rasulullah  ﷺ, begitu juga beberapa pertempuran pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar.

Ketika perang Badar usai, Rasulullah ﷺ ingin mengetahui keadaan Abu Jahal, maka Abdullah bin Mas’ud pun beranjak pergi mencarinya, begitu juga beberapa sahabat lainnya. Sebenarnya saat pertempuran berlangsung, beliau telah didatangi dua pemuda Anshar, Mu’adz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra. Mereka berdua mengaku telah membunuh Abu Jahal.

Setelah memeriksa pedang kedua pemuda tersebut, beliau pun membenarkan pengakuan mereka. Hanya saja beliau ingin memperoleh kejelasan informasinya dan kepastian kematiannya.
Ibnu Mas’ud bergerak di antara mayat yang bergelimpangan, dan akhirnya menemukan tubuh Abu Jahal, yang masih sekarat, nafasnya tinggal satu-satu. Tubuh Ibnu Mas’ud yang kecil berdiri di atas tubuh Abu Jahal yang kokoh kekar terkapar.

Ia menginjak leher Abu Jahal dan memegang jenggotnya untuk mendongakkan kepalanya, dan berkata, “Apakah Allah telah menghinakanmu, wahai musuh Allah!!”
“Dengan apa ia menghinakan aku? Apakah aku menjadi hina karena menjadi orang yang kalian bunuh? Atau justru orang yang kalian bunuh itu lebih terhormat? Andai saja bukan pembajak tanah yang telah membunuhku…”

Memang, dua pemuda Anshar yang membunuhnya adalah para pekerja kebun kurma. Mungkin ia merasa lebih berharga jika saja yang membunuhnya adalah seorang pahlawan perang seperti Hamzah atau Umar. Kemudian ia berkata kepada Ibnu Mas’ud yang masih menginjak lehernya, “Aku sudah naik tangga yang sulit, wahai penggembala kambing….”
Ibnu Mas’ud mengerti maksud Abu Jahal, ia melepaskan injakan pada lehernya. Tak berapa lama kemudian Abu Jahal tewas, ia memenggal kepala Abu Jahal dan membawanya kepada Rasulullah ﷺ.

Sampai di hadapan beliau, ia berkata, “Wahai Rasulullah, ini kepala musuh Allah, Abu Jahal…!”
“Demi Allah yang tiada Ilah selain Dia,” Beliau mengucap tiga kali, kemudian bersabda lagi, “Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janjiNya, menolong hambaNya dan mengalahkan pasukan musuhNya…”

Ada suatu peristiwa berkesan pada Perang Tabuk yang selalu menjadi keinginan dan angan-angan Abdullah bin Mas’ud. Suatu malam ia terbangun dan ia melihat ada nyala api di arah pinggir perkemahan. Ia berjalan ke perapian tersebut, dan ia melihat tiga orang bersahabat, Rasulullah ﷺ, Abu Bakar dan Umar bin Khaththab sedang memakamkan jenazah salah seorang sahabat, Abdullah Dzulbijadain al Muzanni. Rasulullah ﷺ berada di lubang kuburan, Abu Bakar dan Umar berada di atas. Ia mendengar beliau bersabda, “Ulurkanlah kepadaku lebih dekat…!!”

Rasulullah ﷺ menerima jenazah Abdullah tersebut dan meletakkan di liang lahat, kemudian beliau berdo’a, “Ya Allah, aku telah ridha padanya, maka ridhai pula ia olehMu..!!”
Melihat pemandangan tersebut, Ibnu Mas’ud berkata, “Alangkah baiknya jika akulah pemilik liang kubur itu….”
Namun ternyata keinginannya tidak terpenuhi karena tiga orang mulia yang terbaik tersebut mendahuluinya menghadap Allah. Ia wafat pada zaman khalifah Utsman, dan dalam satu riwayat disebutkan, yang memimpin (mengimami) shalat jenazahnya adalah sahabat Ammar bin Yasir.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ