بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Abbad bin Bisyr adalah sahabat Anshar yang terkenal gagah berani dalam setiap peperangan yang diikutinya.  Ia masuk Islam dalam usia 15 tahun melalui dakwah yang dilakukan oleh Mus’ab bin Umair. Abbad bin Bisyr dipersaudarakan dengan Ammar bin Yasir, ketika kaum Muhajirin berhijrah ke Madinah.

Tidak hanya gagah berani, Abbas juga cerdas dalam berperang.

Karena itulah akhirnya Rasulullah ﷺ memilihnya menjadi salah satu pengawal Rasulullah dalam perang perang Islam.  Sebuah ‘jabatan’ keren yang seluruh sahabat bermimpi menjadi pengawal Rasulullah dalam perang.  Sebuah jabatan yang bukan main main, karena didalamnya terkandung amanah yang amat berat.  Ditangan para pengawal, para bodygourd inilah, keselamatan Rasulullah ‘dipertaruhkan’.

Hingga turunlah Surat Al Maa’idah [5] ayat 67 :

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Sesudah Rasulullah ﷺ menerima ayat tersebut dari Allah, segera ayat tersebut disampaikan pula kepada para sahabat. Dengan adanya ayat : ‘Allah memelihara kamu dari gangguan manusia … ‘ maka Rasulullah tidak lagi menunjuk pengawal pengawal.

Karena kehebatannya dalam berperang, maka Abbad diangkat menjadi  kepala dari segenap pengawal Rasulullah ﷺ.  Dan dialah yang menemani setiap orang yang sedang mengawal Rasulullah ﷺ. Ubbad menjadi lapis pertama, kemudian sang bodyguard, barulah Rasulullah ﷺ.

Utusan Yang Mengurus Sedekah [ Mushaddiqin ]

Paska pembebasan Mekah [ fathu Mekah ] pada bulan Muharram 9 H, Rasulullah membentuk sebuah tim yang berperan sebagai utusan Nabi untuk mengurusi sedekah di berbagai Kabilah.  Dan Abbad diutus Rasulullah ke kabilah Sulaim dan kabilah Muzainah

Terpanah 3 Kali, Tapi Tetap Shalat

Dalam perjalanan pulang dari Perang Dzatur Riqa’, Rasulullah ﷺ memutuskan untuk bermalam di lereng sebuah bukit,  sambil beristirahat.

Kemudian Rasulullah bertanya, “Siapa yang ingin bertugas jaga malam ini?”

Abbad bin Bisyr [ Anshar ] dan Ammar bin Yasir [ Muhajirin ] berdiri, “Kami, ya Rasulullah!” kata keduanya serentak. Rasulullah telah menjadikan keduanya bersaudara ketika kaum Muhajirin baru tiba di Madinah.

Rasulullah ﷺ menyuruh mereka berdua untuk berjaga di suatu tempat yang disebut pintu syi’b. Mereka berduapun berangkat ke sana.
Sampai di pintu syi’b tersebut, Abbad bertanya kepada Ammar, “Pada bagian malam manakah engkau inginkan aku berjaga, awal malam atau akhir malam?”
“Biarlah aku berjaga di akhir malam,” Kata Ammar, kemudian ia tidur.

Sambil berjaga, Abbad mengerjakan shalat malam. Ternyata malam itu ada seorang musyrik yang mengikuti mereka dengan diam-diam. Tetapi lelaki musyrik dari Nakhl ini lebih ke masalah pribadi, bukan permusuhannya kepada Islam. Dia ingin membalas dendam, karena istrinya telah disakiti oleh salah seorang anggota pasukan muslim.

Begitu melihat dua orang yang berjaga, dimana salah satunya sedang tidur, Lelaki musyrik itu melepas anak panahnya dan mengenai Abbad yang sedang shalat. Walau terpanah, Abbad tidak menghentikan shalatnya. Ia mencabut panah tersebut dan terus shalat.

Lelaki musyrik itu memanah lagi dan mengenainya, tetapi itupun belum menghentikan Abbad bin Bisyr dari shalatnya. Pada kali ketiga ketika panah mengenainya, Abbad ruku dan sujud, kemudian membangunkan Ammar dan berkata, “Bangun dan duduklah, aku telah terpanah dan tertahan di tempatku!”

Lelaki musyrik tersebut telah melompat keluar dari persembunyiannya untuk menyerang, tetapi begitu melihat dua orang yang bersiap dan mengetahui kehadirannya, ia segera melarikan diri. Melihat keadaan Abbad yang berlumuran darah, Ammar berteriak kaget, “Subkhanallah, mengapa engkau tidak membangunkan aku saat pertama ia memanahmu?”

“Saat itu aku sedang membaca satu surat,” Kata Abbad menjelaskan, “Aku tidak suka menghentikan membacanya kecuali telah tamat satu surat tersebut. Demi Allah, jika tidak karena khawatir melalaikan tugas Nabi SAW untuk berjaga, aku lebih suka mati daripada menghentikan bacaan qur’anku tersebut.”
Dalam suatu riwayat dijelaskan, saat itu Abbad sedang membaca surat al Kahfi.

Mimpi Abbad

Hari hari menjelang perang Yamamah di masa kekhalifahan Abu Bakar, Abbad bin Bisyr menemui Abu Sa’id al Khudri, salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ lainnya yang kelak banyak meriwayatkan hadis.

Kemudian Abbad berkata, “Hai Abu Sa’id, semalam aku bermimpi seolah langit terbelah, kemudian mengatup (menelan) diriku. Insya Allah, itu adalah tanda kesyahidan.”
“Demi Allah, engkau bermimpi yang baik…” Kata Abu Sa’id al Khudri.

Bertiga dengan Abu Dujanah dan Barra bin Malik, ia memimpin sekitar 400 orang-orang Anshar dalam perang Yamamah tersebut. Mereka bertiga dianggap yang paling pemberani, sehingga bisa memberi teladan dan menguatkan hati anggota pasukan lainnya.

Abbad berseru, “Pecahkan sarung pedang kalian, dan jadilah kalian orang orang istimewa yang berbeda dengan kebanyakan orang…!”

Merekapun berperang dengan perkasa, dan terus maju hingga berhenti di kebun Musailamah, di Qana Hajar, pertahanan terakhir dimana akhirnya Musailamah terbunuh oleh tombaknya Wahsyi, dan akhirnya pasukan nabi palsu dan pendusta besar tersebut dikalahkan.

Abbad sendiri akhirnya menemui syahidnya dengan luka-luka yang begitu banyak, termasuk di wajahnya, sehingga ia sulit dikenali, kecuali dengan tanda yang ada di tubuhnya.

Ia mati syahid dalam pertempuran menumpas Nabi palsu Musailamah al-Khazzab.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

..