بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

(اَلْفِتَنُ) adalah bentuk jamak dari kata (فِتْنَةٌ), maknanya adalah cobaan dan ujian. Kemudian banyak digunakan untuk makna ujian yang dibenci, lalu dimutlakkan untuk segala hal yang dibenci atau berakhir dengannya seperti dosa, kekufuran, pembunuhan, pembakaran, dan yang lainnya dari segala hal yang dibenci.[1]

Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah munculnya fitnah besar yang bercampur di dalamnya kebenaran dan kebathilan. Iman menjadi goyah, sehingga seseorang beriman pada pagi hari dan menjadi kafir pada sore hari, beriman pada sore hari dan menjadi kafir pada pagi hari.

Inilah fitnah fitnah yang akan terjadi sebagai persiapan munculnya Dajjal Al Masih.

Setiap kali fitnah itu muncul, maka seorang mukmin berkata, “Inilah yang menghancurkanku,” kemudian terbuka dan muncul (fitnah) yang lainnya, lalu dia berkata, “Inilah, inilah.”

Senantiasa fitnah-fitnah itu datang menimpa manusia sampai terjadinya hari Kiamat.

Dijelaskan dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari رضي الله عنه, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِـي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، اَلْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَالْقَائِِمُ خَيْـرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ وَاضْرِبُوا بِسُيُوفِكُمُ الْحِجَارَةَ، فَإِنْ دُخِلَ عَلَى أَحَدِكُمْ فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَيْ آدَمَ.

‘Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan muncul banyak fitnah besar bagaikan malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore hari, di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari. Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).’” [HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak][2]

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda :

بَادِرُوا بِاْلأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا.

“Bersegeralah kalian melakukan amal shalih (sebelum datangnya) fitnah-fitnah bagaikan malam yang gelap gulita, seseorang dalam keadaan beriman di pagi hari dan menjadi kafir di sore hari, atau di sore hari dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari, dia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” [3]

Diriwayatkan dari Ummu Salamah رضي الله عنه, isteri Nabi ﷺ, ia berkata :

اسْتَيْقَظَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَزِعًا، يَقُوْلُ: سُبْحَانَ اللهِ! مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ؟ وَمَـاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْفِتَنِ؟ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ -يُرِيدُ بِهِ أَزْوَاجَهُ- لِكَيْ يُصَلِّينَ؟ رُبَّ كَاسِيَةٍ فِـي الدُّنْيَـا عَارِيَةٍ فِي اْلآخِرَةِ.

Rasulullah ﷺ terbangun pada suatu malam yang menakutkan, lalu beliau berkata, ‘Subhaanallaah, harta simpanan apakah yang telah diturunkan? Fitnah apakah yang telah diturunkan? Siapakah yang membangunkan pemilik kamar-kamar -yang beliau maksud adalah isteri-isterinya- sehingga mereka melakukan shalat? Banyak sekali wanita yang berpakaian di dunia, di akhirat kelak dia telanjang.’”[4] [HR. Al-Bukhari][5]

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash رضي الله عنه ia berkata :

نَادَى مُنَـادِي رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلصَّلاَةَ جَامِعَةً. فَاجْتَمَعْنَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ: إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَـى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا، وَسَيُصِيْبُ آخِرَهَا بَلاَءٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا، وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ، فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا، وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ، هَذِهِ… فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ.

“Seorang penyeru Rasulullah ﷺ berseru, ‘Shalat berjama’ah!’ Lalu kami berkumpul bersama Rasulullah ﷺ, kemudian beliau berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku melainkan wajib baginya untuk menunjuki umatnya kepada kebaikan yang ia ketahui, dan memberikan peringatan kepada mereka dari kejelekan yang ia ketahui, dan sesungguhnya umat kalian ini, dijadikan keselamatannya di awalnya, dan (orang) yang ada di akhirnya akan tertimpa musibah juga berbagai perkara yang kalian ingkari, dan datanglah fitnah, sebagiannya menjadi lebih ringan (karena besarnya fitnah yang setelahnya,-penj.), dan datanglah fitnah, lalu seorang mukmin berkata, ‘Ini, ini…’ maka barangsiapa ingin diselamatkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka hendaklah kematian mendatanginya dalam keadaan dia beriman kepada Allah dan hari Akhir.’” [HR. Muslim][6]

Dan haditshadits tentang fitnah banyak sekali. Nabi ﷺ telah memberikan peringatan kepada umatnya dari berbagai fitnah, memerintahkan mereka untuk berlindung darinya. Beliau mengabarkan bahwa akhir dari umat ini akan ditimpa musibah juga fitnah yang sangat besar, tidak ada yang bisa melindungi darinya kecuali keimanan kepada Allah dan hari Akhir, tetap bersama jama’ah kaum muslimin, mereka adalah Ahlus Sunnah -walaupun mereka hanya sedikit-, menjauhkan diri dari berbagai fitnah, dan memohon perlindungan darinya. Nabi ﷺ pernah bersabda :

تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari segala fitnah, yang nampak darinya dan yang tersembunyi.”

Diriwayatkan oleh Muslim [7] dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

♥♥♥

Sebagaimana dikisahkan dari Abdullah bin Umar, bahwasannya Rasulullah ﷺ berbicara mengenai berbagai macam fitnah. Salah satunya adalah Fitnah Ahlas. Seorang sahabat pun bertanya, ‘Apakah yang dimaksud dengan fitnah Ahlas itu?’, Rasulullah ﷺ menjawab :

“Fitnah Ahlas, yaitu orang-orang saling memutus hubungan dan saling berperang. Kemudian setelahnya akan terjadi fitnah sara’ (kemakmuran hidup), sumber asapnya berasal dari dua telapak kaki seorang laki-laki dari keturunanku (ahlul bait). Ia mengklaim dirinya sebagai bagian dariku (pelanjut misi ahlul bait), padahal ia sama sekali bukan bagian dariku, karena wali-waliku (orang-orang yang dekat akan bersaudara denganku) hanyalah orang-orang yang bertaqwa.

Kemudian manusia berdamai dengan mengangkat seorang laki-laki sebagai pemimpin mereka seperti pangkalpaha yang menempel di atas tulang rusuk. Setelah itu akan terjadi fitnah Duhaima’, yang tidak membiarkan seorangpun dari umat ini kecuali akan ditamparnya dengan tamparan yang keras. Ketika orang-orang mengatakan, “Fitnah telah selesai”, ternyata fitnah itu masih saja terjadi. Di waktu pagi seseorang dalam keadaan beriman, namun di waktu sore ia telah menjadi orang kafir. Akhirnya manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan berian yang tidak ada kemunafiqan sedikitpun di antara mereka, dan golongan munafiq yang tidak ada keimanan sedikit pun di antara mereka. Jika hal itu telah terjadi, maka tunggulah munculnya Dajjal pada hari itu atau keesokan harinya.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Al-Hakim)
Inilah fitnah yang akan menghantam seluruh kaum muslimin. Seluruh elemen kaum muslimin akan merasakan fitnah ini menyerang semuanya secara total. Meskipun banyak manusia menganggap fitnah tersebut telah berhenti, tetapi pada kenyataannya ia akan terus berlangsung dan bahkan semakin menjadi-jadi hingga mencapai puncaknya.

Di antara sifat-sifat khusus tentang fitnah ini adalah :

Fitnah bersifat umum
Fitnah ini akan menghantam seluruh umat islam, terlebih bangsa Arab. Tidak seorangpun umat islam yang akan terbeba dari dampak fitnah ini. Dalam hadits digambarkan bahwa fitnah ini seperti menghantam atau memukul wajah dengan telapak tangan (menampar). Yang diartikan bahwa fitnah ini adalah sebuah fitnah yang sangat keras dan ganas.

Fitnah terus berlangsung dan memanjang
Proses fitnah ini akan terjadi dalam selang waktu yang lama, dan tidak diketahui oleh manusia kapan ia akan berakhir. Bahkan ketika ada manusia yang berkata bahwa fitnah itu sudah berhenti, yang terjadi justru sebaliknya. Ia akan terus memanjang dan sulit diprediksi kapan berhentinya.

Efek yang ditimbulkan
Ialah munculnya sekelompok manusia yang di waktu pagi ia masih memiliki iman, namun di sore hari ia telah menjadi kafir. Inilah gambaran tentang kedahsyatan fitnah tersebut. Fitnah ini akan mencabut keimanan seseorang dalam selang waktu yang teramat singkat.

Fitnah yang berpusat pada Syubhat dan Syahwat
Fitnah ini hitam dan gelap, dikelilingi oleh SETAN MANUSIA dan setan jin. Mereka bersarang dengan menggunakan semua jerat-jerat syaithoni pada setiap tempat, menyebarkan eksploitasi syahwat dan menebarkan syubhat. Inilah fitnah yang sangat berpengaruh pada hati seseorang, mempengaruhi cara pandangnya terhadap fakta-fakta di balik setiap peristiwa. Pengaruhnya yang demikian dahsyat menjadi bukti yang menguatkan bahwa media informasi memiliki peranan besar dalam penyebaran fitnah ini.

Fitnah yang paling dekat dengan fitnah Dajjal, baik dalam sifatnya maupun waktunya.
Nabi ﷺ mengaitkan antara zaman terjadinya fitnah ini dengan keluarnya Dajjal.
Seperti yang telah diketahui, bahwa fitnah Dajjal ialah dia memiliki kemampuan yang luar biasa, berpengaruh dan menggentarkan, mendominasi seluruh belahan dunia. Ia mendakwahkan bahwa dirinya mempunyai sifat ketuhanan dan parahnya pengakuan ini ditopang fakta bahwa ia memiliki kemampuan yang tiada tertangdingi oleh siapapun pada zaman itu.
Dajjal mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyesatkan hamba-hamba Allah dan mengenyahkan mereka. Dia pun menebarkan syubhat di sekitar mereka serta menyerang dan menghimpit siapapun orang yang berusaha membantu mereka. Karenanya, negara-negara yang tidak mau mengikuti apa perkataan dan perintah mereka akan diboikot dalam segala hal. Sedangkan orang-orang yang mau mengimaninya akan dilimpahi dengan berbagai macam kenikmatan pemberiannya, karena Dajjal tidak memiliki slogan selain : Bersamaku, atau menjadi musuhku!

 

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]


Footnote
[1]. Lihat Lisaanul ‘Arab (XIII/317-321), an-Nihaayah (III/410-411), dan Fat-hul Baari (XIII/3).
[2]. Musnad Imam Ahmad (IV/408 -dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul ‘Ummal), Sunan Abi Dawud (XI/337, ‘Aunul Ma’buud), Sunan Ibni Majah (II/1310), dan Mustadrak al-Hakim (IV/440), beliau berkata, “Ini adalah hadits yang isnadnya shahih, akan tetapi keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Dan adz-Dzahabi tidak mengomentarinya.
[3]. Shahiih Muslim, kitab al-Aimaan, bab al-Hatstsu ‘alal Mubaadarah bil A’maal Qabla Tazhaahuril Fitan (II/133, Syarah an-Nawawi).
[4]. Sebuah isyarat bagi isteri-isteri beliau agar banyak melakukan ibadah, serta tidak malas dengan anggapan mereka isteri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.-ed. (Fat-hul Baari, syarah hadits no. 112).
[5]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Laa Ya-ti Zamaanun illalladzi Ba’dahu Syarrun minhu (XIII/ 20, Syarh an-Nawawi).
[6]. Shahiih Muslim, kitab al-Imaarah, bab Wujuubul Wafaa’ bi Bai’atil Khaliifatil Awwal fal Awwal (XII/232-233, Syarh an-Nawawi).
[7]. Shahiih Muslim, kitab al-Jannah wa Shifatu Na’iimihaa wa Ahluhaa, bab ‘Ardu Maq’adil Mayyit ‘alaih wa Itsbaatu ‘Adzaabil Qabri wat Ta’awwudz minhu (XVII/203, Syarh an-Nawawi).

Wallahu a’lam bishowab Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
. .