
Hasan al-Basri adalah ulama besar. Beliau tabiin (generasi sesudah sahabat) yang luas ilmunya. Bahkan Wasil bin Atha’ tokoh Mu’tazilah mengaku dirinya murid Hasan. Suatu hari seseorang datang kepada beliau mengeluhkan tentang musim paceklik yang panjang dan penghasilannya yang menyusut. “Minta ampunlah (istighfar) kepada Allah agar masa paceklik itu segera berlalu”, kata Hasan memberi nasehat. Para murid Hasan yang ikut mendengar pesan itu memperhatikan dengan seksama.
Datang lagi seseorang mengadukan keadaan dirinya kepada Hasan. “Guru, saya ingin punya keturunan. Doakanlah kepada Tuhan agar aku dikaruniai anak”, katanya. Hasan menjawab: “Istighfarlah kepada Allah agar kamu dikaruniai anak”. Para murid Hasan yang mendengar nasehat itu mulai heran. Dua permintaan yang berbeda diberi jawaban sama.
Datang lagi orang ketiga pada Hasan. Orang ini mengeluh tentang tanamannya yang tidak kunjung berbuah. Hasan lalu berkata: “ Istigfarlah. Mohon ampunlah kepada Allah agar tanamanmu cepat berbuah”. Para murid yang mendengar jawaban gurunya makin heran bahkan mengira ada yang salah dengan jawaban itu. Tiga pertanyaan berbeda dijawab dengan jawaban yang sama: “Istighfar atau minta ampun”. Tapi diperlukan keberanian bagi seorang murid menegur gurunya, apalagi guru sekelas Hasan al-Basri.
Salah seorang memberanikan diri. “Wahai guru kami. Ada tiga orang berbeda datang kepada guru dengan keluhan berbeda pula. Tetapi mengapa guru memberi jawaban yang sama atas tiga keluhan berbeda?” kata murid itu. Hasan dengan senyum ramah mengatakan: “ jawabanku itu bukan atas kemauanku sendiri melainkan berdasarkan firman Allah”. Hasan lalu membacakan surat Nuh ayat 10-13:
“Maka aku katakan: mohon ampun lah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat dari langit untukmu. Dia akan memberimu banyak harta dan anak-anak dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan (mengadakan pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak meletakkan harapan kepada Allah”.(Q.S.Nuh (71): 10-13)
Cara ulama besar Hasan al-Basri menjawab keluhan umatnya sungguh menarik. Ia memfokuskan pada satu kata kunci yaitu istighfar. Al-Qurtubi dan Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini merupakan bukti bahwa beristighfar dan bertaubat akan meneyebabkan bertambahnya rezeki dan keturunan serta hujan turun membasahi bumi yang gersang. Hamka dalam tafsir Al-Azhar memberi komentar tentang ayat ini bahwa ampunan Tuhan adalah cahaya hidup. Jika Tuhan memberi ampunan, segala pekerjaan menjadi mudah, dada pun lapang dan hidup terang benderang.
Zaman kita ini adalah sebuah zaman yang padat dengan keluhan dan amat sedikit beristighfar. Suka mencari kambing hitam tetapi enggan evaluasi diri. Suka menuding-nuding orang tetapi enggan menerima koreksi. Suka tergesa-gesa dikejar waktu, sehingga tak sempat berhenti sejanak untuk merenung. Bertanya, apa yang aku cari dalam hidup ini?
Ketika ada puluhan ribu calon legislative yang kecewa karena gagal meraih kursi, saya teringat nasehat Hasan al-Basri ini. Ketika angka pengangguran terus merambat naik, saya teringat pesan beliau. Kita tidak tahu apakah kita sempat beristighfar, merenungi kesalahan diri, mengakui dosa-dosa kita pribadi maupun dosa kolektif ketika gagal mencapai keinginan?
Tetapi istighfar bukanlah mantera yang sekali ucap bisa menyulap keinginan menjadi kenyataan. Bukan berapa kali kita lafalkan kemudian semua keadaan berubah. Istighfar adalah kesadaran bahwa telah terjadi kesalahan langkah, kesalahan strategi bahkan mungkin kesalahan niat sejak awal. Istighfar adalah pintu taubat. Ketika seorang caleg gagal meraih kursi, maka istighfar berarti juga melakukan evaluasi dengan penuh kerendahan hati. Mungkin kesalahan pada strateginya, pilihan partai yang menjadi kendaraan, atau bahkan pilihan menjadi caleg itu sendiri yang salah karena ia kurang mengukur diri atau niat jauh dari bersih atau menganggap kursi adalah segala-galanya sehingga putus asa ketika gagal meraatau.
Ketika pimpinan organisasi Islam mengeluhkan tentang dakwah yang banyak rintangan di daerahnya, pimpinan itu harus istighfar, menemukan kesalahannya dan bertaubat dalam arti tekad mengubah langkahnya, cara dan pendekatan dakwahnya. Istighfar adalah kesadaran mengakui salah dan kesediaan untuk berubah. Misalnya dari pendekatan fiqih berubah pendekatan kesejahteraan dan ekonomi sehingga “penolakan” bisa berkurang secara signifikan. Tentu ketulusan nawaitu tetap menjadi kunci utama karena niat itu sumber motivasi dan militansi.
Kita harus tetap teguh berpegang pada al-Quran dan Sunnah. Harus tetap melakukan keseimbangan antara zikir dan fikir, doa dan usaha. Jangan ada orang di antara kita yang hanya getol berikhtiar, tetapi mengabaikan zikir atau istighfar. Atau sebaliknya hanya tekun berdoa tetapi usaha tidak maksimal, malas-malasan. Dalam alquran beberapa ayat menyerukan agar kita beristighfar pada ujung malam. (wabil asha-ri hum yastaghfirun). Tetapi beberapa ayat juga memerintahkan kita berusaha. Dalam surat al-Jumah ditegaskan jika salat sudah usai bersegaralah bertebaran untuk mencari karunia Allah. Karena itu jangan hanya zikir merenungi nasib tanpa usaha maksimal. Yang terjelek dan tidak boleh terjadi pada seorang muslim adalah lemah dalam zikir sekaligus lemah dalam usaha. Ini tipe manusia benalu.
Isrtigfar selain meminta ampun juga sebagai permohonan agar kita tidak ditimpa malapetakan atau keburukan hidup sebagai akibat dari perbuatan dosa atau kesalahan yang kita lakukan. Istigfar berasal dari kata dasar gafara artinya menutup. Kemudian kata dasar (mujarrad) itu diubah menajdi kata jadian dengan penambahan alif, sin dan ta’ bermakna permohonan. Jadi istigfar itu kita mohon kepada Allah agar kita dilindungi dari keadaan buruk akibat dosa atau kesalahan yang kita lakukan. Perbuatan dosa memang akan selalu membawa akibat buruk dalam kehidupan kita. Mungkin bisa segera kita rasakan di dunia ini atau nanti di akherat.
Dengan istigfar kita berarti minta ampun sekaligus minta perlindungan agar terhindar dari dampak buruk sebagai akibat kesalahan kita sendiri. Di ayat akhir surat al-Baqarah yang banyak dihafal oleh kaum muslimin Allah mengajarkan doa kepada kita agar Allah tidak menghukum kita atas kesalahan yang kita lakukan. Ayat itu menyatkan:
”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari (kebajikan) yang diusahakannya dan dia mendapat siksa dari (kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): ”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika lupa atau salah. Ya Tuhan kami janganlah Engkau bebankan kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami maka tolonglah kami terhadap kaum kafir” (QS.2: 286)
Written by: Nur Cholis Huda

