
Hal lain yang merupakan penyambutan terhadap bayi yang baru lahir adalah pemberian nama. Nama adalah doa, sehingga nama yang baik diharapkan sebagai doa yang selalu melekat pada diri yang punya sampai akhir hayatnya. Makanya Rasulullah SAW bersabda, ”Yang namanya Aslam (selamat) akan diselamatkan oleh Allah, yang namanya Ghifar (pengampunan) akan diampuni oleh Allah dan yang namanya ’Ushayyah (kemaksiatan) akan bermaksiat kepada Allah.” (HR. Al-Bukhari, no. 961, Muslim, no. 679).
Nama-nama yang baik:
Nabi SAW mengajarkan pemberian nama yang baik, antara lain beliau bersabda, ”Nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim, no. 2132).
Di antara nama yang dianjurkan adalah Muhammad atau Ahmad sebagai nama Nabi kita SAW yang tercinta. Dalam hadits dari Jabir bin Abdullah ra, Rasulullah SAW bersabda, ”Hendaklah kalian bernama seperti namaku…..” (HR. Muslim, no. 2133).
Selain itu, disunnahkan pula memberi nama sesuai dengan nama-nama Nabi, seperti Ibrahim, Musa, Isa dan lain-lain. Nabi SAW sendiri memberi nama anaknya dengan nama Ibrahim.
Khusus untuk wanita ada baiknya memberi nama yang diabadikan dalam Al-Qur`an yaitu Maryam. Ini adalah satu-satunya nama wanita yang disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur`an. Selain itu, bagus pula nama Asiyah, Fathimah, Khadijah dan Aisyah karena mereka adalah para wanita yang disebutkan keutamaannya dalam hadits. Dalam sebuah hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah SAW bersabda, ”Tak ada wanita yang sempurna melainkan Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun dan Maryam binti Imran. Keutamaan Aisyah (istri beliau SAW -pen) dibanding wanita-wanita lain adalah bagaikana keutamaan Tsarid (roti kualitas istimewa kala itu – pen) dibanding makanan lain.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits lain dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya para wanita yang paling utama dari kalangan penghuni surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun dan Maryam binti Imran, semoga Allah meridhai mereka semua.” (HR. Ahmad dalam musnadnya, no. 2536).
Diantara nama-nama yang baik adalah nama para tokoh muslim dan para pahlawan agama yang terkenal kebaikannya. Misalnya, nama-nama para sahabat Nabi SAW, para istri beliau, para tabi’in dan para ulama yang terkenal berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan sunnah di akhir hayatnya.
Adapun nama-nama malaikat, maka ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Sebagian ada yang menganggapnya sunnah, ada pula yang menganggapnya mubah, bahkan ada yang menganggapnya makruh. Syekh Al-Utsaimin menganggapnya makruh tanpa menjelaskan alasan yang kuat.
Nama-nama yang buruk:
Dalam beberapa hadits Rasulullah SAW melarang penamaan dengan nama yang menunjukkan sesuatu yang sangat optimis tapi memalukan bila tak terjangkau. Dari Samurah bin Jundab ra, Rasulullah SAW bersabda, ”Jangan memberi nama anakmu Yasar (gampang menyelesaikan urusan), Rabah (selalu untung), Najah (selalu berhasil) dan Aflah (paling beruntung). Sebab, bila nanti dia ditanya apakah itu benar terjadi (nama sesuai dengan nasib)? Akan dijawab, “tidak”.” (HR. Muslim).
Maksud hadits ini bila ternyata nama tidak sesuai dengan orang dikhawatirkan akan menjadi ejekan. Wallahu a’alam.
Hendaklah dihindari pemberian nama anak dengan nama-nama yang diagungkan orang-orang kafir, apalagi nama berhala atau dewa. Misalnya, Krisna, Brahma, Wisnu, Dewa, Dewi, Sri, dan lain sebagainya. Akan lebih baik buruk lagi memberi nama anak Sun go Kong atau Hanuman, karena selain berhala juga orangnya buruk rupa.
Juga dilarang memberi nama yang mengingatkan tokoh yang terkenal dengan kemaksiatan, misalnya nama artis, politisi dan lain-lain yang dari segi makna tidak baik juga mengningatkan ketokohan orang-orang yang durhaka kepada Allah.
Dibenci pula memberi nama dengan nama khas orang kafir, misalnya Theresa guna mengenang Bunda Theresa. Sebab, meskipun dia orang yang terkenal baik, tapi tetap sebagai tokoh agama selain Islam yang tidak boleh dijadikan contoh dalam agama ini. Atau nama Mahatma Gandhi yang alasannya sama dengan nama Theresa di atas.
Selain itu tak boleh memberi nama anak dengan nama yang hanya boleh disandang oleh Allah, misalnya, Malakul Amlak atau Syahansyah yang kalau diterjemahkan adalah Rajadiraja. Juga nama Ar-Rahman, Al-Quddus, Al-Mutakabbir, Al-Jabbar dan lain sebagainya karena itu adalah nama dan sifat yang hanya bisa dimiliki oleh Allah Ta’ala.
Nama-nama yang mubah
:
Diantara nama yang disunnahkan dan yang dimakruhkan ada pula nama yang diperbolehkan. Ukurannya adalah sebuah nama yang tidak mengandung dosa, atau makna seperti yang dikandung dalam nama-nama yang dimakruhkan.
Nama itu bisa berasal dari kata bahasa Arab, bisa pula bahasa setempat. Misalnya nama Budi. Nama ini netral dan tidak bermasalah bila seorang muslim memiliki nama itu.
Boleh pula nama yang merupakan ciri khas suatu daerah, misalnya nama Endang atau Asep untuk Sunda, Selamet atau Bambang untuk orang Jawa dan lain sebagainya, asalkan nama itu tidak menjadi ciri khas dari sebuah kayakinan di luar Islam.
[http://alponti.multiply.com/journal/item/38/MENYAMBUT_KEHADIRAN_BUAH_HATI]

