Suatu saat, Sa’d bin Hisyam bin ’Amir menemui ’Abdullah bin ’Abbas, seorang pakar tafsir Al Quran saat itu. Dia bertanya tentang shalat witir Rasulullah Saw. Putra Al ’Abbas itu menyarankan kepada Sa’d bin Hisyam untuk bertanya langsung kepada ’A’isyah binti Abu Bakar Al Shiddiq karena istri Rasulullah Saw. tersebut lebih mengetahui tentang hal itu.
Dengan diantar oleh Hakim bin Aflah, Sa’d pun datang ke rumah Ibunda orang orang Beriman itu.
Setelah dipersilakan masuk ke dalam rumah, ’A’isyah binti Abu Bakar Al Shiddiq bertanya,
“Benarkah engkau Hakim bin Aflah?”
“Banar, wahai ibunda orang orang beriman,” jawab Hakim bin Aflah.
“Siapa yang bersamamu itu, wahai Hakim?”
“Cucu ’Amir, seorang syahid dalam Perang Uhud. Namanya Sa’d bin Hisyam bin ’Amir.”
“Semoga Allah melimpahkan rahmatNya dan anugerahNya kepada ’Amir. Ada perlu apa engkau datang ke sini,
wahai Sa’d?” tanya ‘A’lsyah.
“Wahai lbunda Orang Orang Beriman, perkenankanlah saya bertanya tentang akhlak Rasulullah” kata Sa’d bin
Hisyam.
“Bukankah engkau pernah membaca Al Quran?”
”Benar,” jawab Sa’d bin Hisyam malu.
“Akhlak beliau adalah apa yang ada dalam Kitab Suci tersebut” kata ’Aisyah.
“Wahai lbunda orang orang Beriman, perkenankan pula saya bertanya tentang shalat malam Rasulullah Saw.,” kata Sa’d lebih jauh.
“Sa’d, bukankah engkau pernah membaca Surah Al Muzzammil?” tanya ’A’isyah ingin menguji.
“Tentu, lbunda Orang Orang Berlman” jawab Sa’d pelan sambil menundukkan kepala.
“Nah, shalat malam semula diwajibkan Allah Swt. dengan awal surah tersebut. Nabi Saw. dan para sahabat pun, setelah awal Surah itu turun, selalu bangun malam untuk melaksanakan shalat. Hal yang demikian itu berlangsung selama setahun karena Allah menahan akhir surah itu selama dua belas bulan. Namun, temyata. hal itu terasa memberatkan mereka.
Maka, akhirnya, Allah memberikan keringanan lewat akhir surah tersebut. Sehingga shalat malam pun yang semula wajib manjadi sunnah,” papar ’A’lsyah, seraya mengingat ingat kejadian tersebut.
”Wahal lbunda Orang Orang Beriman, perkenankanlah sekall lagi saya bertanya tentang shalat witir Rasulullah Saw.,” kata Sa’d.
“Sa’d, ketika Rasulullah Saw. masih hidup, kami selalu manyiapkan siwak dan air untuk wudhu beliau. Ketika tengah malam telah berlalu, Allah selalu membangunkan beliau. Beliau pun bersiwak dan berwudhu, lantas shalat sembilan rakaat tanpa duduk agak lama, kecuali selepas rakaat kedelapan. Satelah itu beliau kemudian berzikir, bertahmid, dan berdoa kepada Allah. Kemudian beliau mengucapkan salam yang bisa kami dengar. Setelah mengucapkan salam, beliau kemudian shalat lagi dua rakaat dengan duduk. Maka, semuanya sebelas rakaat” jawah ’A’isyah.
lbunda Orang Orang Beriman itu kemudian berhenti sejenak —terkenang masa silarn— dan kemudian ucapnya,
“Wahai Sa’d, setelah Rasulullah Saw, berusia lanjut, dan mulai melemah, baliau mengganjilkan satu rakaat pada rakaat ketujuh. Sehingga, dua rakaat satelah mengucapkan salam pada rakaat ketujuh, beliau lakukan seperti apa yang beliau lakukan sebelumnya. Jadi, semuanya sembilan rakaat, Beliau, apabila melakukan suatu shalat, senang melakukannya secara rutin.
Sedangkan, jika tertidur atau lelah sehingga tidak melakukan shalat malam, baliau lantas shalat dua belas rakaat pada siang hari. Selama bersama beliau, aku tidak pernah tahu beliau membaca Al Quran seluruhnya
dalam satu malam, atau shalat semalam suntuk hingga subuh, atau berpuasa sebulan penuh di luar bulan Ramadhan”
Satelah mendengar penjelasan ’A’isyah, Sa’d bin Hisyam dan Hakim bin Aflah memohon diri. Sebelum pulang ke
rumah, Sa’d bin Hisyam mampir ke rumah ’Abdullah bin ‘Abbas untuk mengucapkan terima kasih dan menyampai
kan hasil kunjungannya.
“Wahai Sa’d, ’Aisyah berkata benar. Seandainya aku dekat dengannya atau bisa bertamu kepadanya, tentu aku akan datang kepadanya sehingga perbincangan tadi bisa kudengar langsung” kata ‘Abdullah bin ’Abbas seraya tersenyum.
“Oh begitu. Kalau saja tadi aku tahu, engkau belum pernah bertamu ke rumahnya, tentu hasil perbincangan tadi tak akan kuceritakan kepadamu,” jawab Sa’d bin Hisyam bercanda seraya bermohon diri.~~

