![matahari15 matahari151 Sarah [2/5]](http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/08/matahari151.jpg)
Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Ibrahim a.s tidak pernah berbohong kecuali tiga kali. Pertama, perkataannya ketika diajak untuk beribadah kepada berhala tuhan mereka dan Ibrahim a.s menjawab, ‘Sesungguhnya aku sakit’. Kedua, perkataannya, ‘Sebenarnya patung besar itutah yang melakukannya’. Ketiga, perkataannya tentang Sarah, ‘Sesungguhnya dia saudariku’.” (HR Bukhari)
Berikut ini adalah kisah pertemuan antara Nabi Ibrahim a.s dan Sarah yang melatarbelakangi Rasulullah mengucapkan sabdanya tersebut.
Suatu hari Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Luth a.s pergi ke wilayah Syam. Mereka bertemu dengan paman Nabi Ibrahim. la memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Sarah. Ibrahim a.s pun berkata, “Belum ada wanita cantik yang memiliki kecantikan seperti Hawa hingga saat ini selain Sarah.”
Perkataan Ibrahim a.s tersebut bukan saja melihat kecantikan Sarah secara lahiriah, melainkan juga kesalehan yang tampak pada diri Sarah. Akhirnya, Ibrahim a.s pun menikahinya dan mereka menjalani kehidupan rumah tangga dengan harmonis.
Ujian pada pernikahan mereka berawal ketika Ibrahim a.s dan Sarah r.a hijrah ke Mesir. Saat itu Mesir dipimpin oleh seorang raja kafir yang suka berfoya-foya dan zalim. Raja itu bernama ‘Amr bin Amru’ Al-Qais bin Mailun.
Setiap mendengar ada wanita cantik, ia selalu ingin memilikinya. Jika wanita itu telah memiliki suami, ia akan memaksa suaminya untuk menceraikan istrinya. Jika wanita itu adalah saudara dari seseorang yang dikenalnya, akan ia tinggalkan.
Kedatangan Ibrahim a.s dan istrinya yang sangat cantik diketahui oleh pengawal kerajaan. Pengawal itu langsung memberitahukan perihal tersebut kepada rajanya. Ia berkata, “Ibrahim datang bersama seorang wanita yang sangat cantik.”
Hasrat sang raja tiba-tiba menggebu dan menyuruh pengawalnya untuk memanggil mereka berdua. Ibrahim pun datang menemui raja yang zalim itu. Di hadapan Ibrahim a.s, raja zalim itu bertanya, “Siapakah wanita yang bersamamu itu?”
Ibrahim a.s menjawab, “Dia adalah saudariku.”
Kemudian Ibrahim berbisik kepada istrinya, “Jangan kaukatakan bahwa kau adalah istriku agar kau selamat. Katakanlah kau adalah saudariku. Demi Allah di bumi ini hanya kita berdua yang mukmin!”
Setelah Ibrahim dan Sarah kembali ke rumah, sang raja mengirim utusannya untuk menjemput Sarah.
Salah satu kebiasaan mereka jika menginginkan seorang wanita adalah dengan menyiksa suaminya, jika wanita tersebut bersuami. Tetapi jika wanita itu lajang, maka mereka tidak akan mengganggu kerabatnya. Oleh karena itu, Ibrahim berkata kepada utusan raja tersebut ketika dia bertanya tentang Sarah, bahwa dia adalah saudara perempuannya, supaya selamat dari siksaannya.
Ibrahim mengirim istrinya kepada laki-laki bejat itu seperti yang dia minta, karena ia percaya dengan penjagaan dan perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah mewasiatkan kepadanya agar tidak membocorkan hubungan sebenarnya antara dia dengan istrinya. Ibrahim juga menjelaskan pandangannya dalam hal ini kepada istrinya, bahwa dia adalah saudara perempuannya dalam agama, karena di muka bumi tidak terdapat orang yang beriman selain keduanya.
Walaupun maksud Ibrahim dari pernyataannya bahwa Sarah adalah saudara perempuannya, yakni saudara dalam iman dan Islam, dia tetap menolak untuk memberi syafaat pada hari Kiamat ketika orang-orang meminta kepadanya untuk bersedia menjadi perantara kepada Tuhan mereka agar Dia memutuskan urusan mereka. Ibrahim beralasan bahwa dirinya telah berdusta sebanyak tiga kali, yaitu ucapan, “Sesungguhnya aku sakit.” (QS. Ash-Shaffat: 89), ketika mereka mengajaknya berpartisipasi dalam hari raya mereka yang syirik dan batil.
Yang kedua adalah ucapannya, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya.” (QS. Al-Anbiya: 63), ketika dia menghancurkan berhala dan membiarkan patung terbesar dengan mengalungkan kapak di lehernya, dan dia menyatakan bahwa patung besar inilah penghancur patung-patung kecil. Dan yang ketiga adalah ucapan Ibrahim dalam kisah ini kepada raja dzalim tersebut, bahwa Sarah adalah saudara perempuannya demi melindungi diri dari ancaman siksa raja zhalim tersebut.
Ibrahim mengirim istrinya kepada raja dzalim itu, dan dia bersegera melakukan shalat untuk berdoa kepada Allah dan berlindung kepada-Nya. Allah telah menjaga Sarah, istri Ibrahim, untuk Ibrahim, sebagaimana Dia menjaga diri Sarah.
Ketika Sarah melihat raja hendak mendekatinya, ia berdoa, “Ya Allah. Sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan rasul-Mu serta aku selalu memelihara kehormatanku. Janganlah Engkau biarkan orang itu merusak kesucianku!” pintanya kepada Allah SWT.
Tiba-tiba raja itu merasa tercekik dan menghentak-hentakkan kakinya.
Sarah terkejut dan kembali berdoa, “Ya Allah. Andaikan raja ini mati, tentu orang-orang akan menuduh bahwa aku yang membunuhnya!”
Setelah berdoa, raja itu kembali sehat seperti biasa. Namun, raja itu tetap berjalan mendekatinya. Sarah kembali berdoa, “Ya Allah. Sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan rasul-Mu serta aku selalu memelihara kehormatanku. Janganlah Engkau biarkan orang itu merusak kesucianku!”
Kejadian tadi terulang lagi. Raja merasa tercekik dan menghentak-hentakkan kakinya.
Sarah berdoa lagi, “Ya Allah. Andaikan raja ini mati, tentu orang-orang akan menuduh bahwa aku yang membunuhnya!”
Raja itu kembali sembuh, tetapi kali ini ia merasa ketakutan. Kemudian ia berkata kepada pengawalnya, “Demi Tuhan, pasti setan yang kaukirim kepadaku. Kembalikanlah ia kepada Ibrahim dan beri dia seorang hamba sahaya!”
Hamba sahaya itu adalah Siti Hajar, seorang budak hitam, tetapi kecantikannya tampak terpancar di wajahnya. Ia cerdas, beraklak mulia, dan bermental kuat. Kelak ia akan dinikahi oleh Ibrahim a.s dan melahirkan seorang nabi mulia bernama Ismail a.s.
Dalam sebuah hadits dalam Mustadrak Al-Hakim dan Musykilil Atsar At-Thahawi, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Jika kalian menaklukkan Mesir, maka hendaknya kalian saling menasihatkan agar berbuat baik kepada orang-orang Qibti, karena mereka mempunyai hubungan perjanjian dan rahim.” (Silsilah Ahadis Shahihah, Nasiruddin Al-Albani, 3/362.)
Dalam Shahih Muslim tertulis, “Sesungguhnya kalian akan menaklukkan kota Mesir. Ia adalah bumi yang diberi nama Qirath. Jika kalian menaklukkannya, maka berbuat baiklah kepada penduduknya, karena mereka memiliki hak dan hubungan rahim” atau beliau bersabda, ”hak dan hubungan pernikahan.” (Muslim, no. 2543.)
Yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dengan hak perjanjian, hubungan rahim atau hubungan pernikahan yang dimiliki orang-orang Mesir adalah, karena Hajar, ibu Ismail, berasal dari kalangan mereka dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah salah seorang keturunannya.
Kelahiran Ishaq
Ibrahim alaihis salam pulang dari Mesir ke Palestina ditemani istri beliau Sarah, dan juga Hajar, Budak wanita Mesir yg akan membantu Sarah dan suaminya.
Mereka bertiga menetap di Baitul Maqdis, sebuah daerah yg sekelilingnya di berkahi Allah. Hari demi hari dan tahun demi tahun berjalan, sekarang Sarah sudah tua, rambutnya beruban dan tulang2nya telah lemah, begitupun suami Sarah, Nabi Ibrahim alaihis salam, malah lebih tua beberapa tahun daripada Sarah.
Sarah memandang dirinya dan suaminya dgn pandangan iba, Sarah brkata dlm hati “ah seandainya kami mempunyai anak yg membuat mata kami terhibur”
Kelihatannya, Sarah pada saat2 kejernihan spiritual lebih mementingkan suaminya daripada dirinya sendiri dan menginginkan suaminya mempunyai anak, karena ia tahu bhw dirinya wanita mandul yg tdk bisa melahirkan.
Dlm do`a2 spiritualnya dgn penciptanya, Sarah teringat kpd Hajar. Ya, Hajar, budak wanita hadiah dari raja Mesir yg hidup bersama keduanya, bahkan sekarang ia beriman kpd dakwah Ibrahim. Ya, wanita ini sekarang yg betul2 beriman.
Sarah memantau Hajar, ternyata ia sedang meneruskan ibadah dgn shalat, amal perbuatan dgn kesalihan, dan mengerjakan pekerjaannya dgn sangat baik.
Hari2 itu terasa amat sederhana, Hajar tdk tahu persis apa yg sedang berkecamuk di pikiran Sarah majikannya, Hajar hanya meneruskan ibadah dan pekerjaannya hingga ia menjadi wanita suci dan hatinya menyatu dgn Allah Azza wa Jalla.
Di saat2 kejernihan iman Sarah, yg di dadanya telah dibukakan Allah utk menawarkan Hajar kpd suaminya (Ibrahim), lalu ia berkata kpd suaminya “Hai suamiku, hai kekasih Allah, inilah Hajar, aku berikan kepadamu, mudah2an Allah memberi kita anak keturunan darinya”
Serentak Ibrahim pun teringat akan janji Allah, bhw Dia akan memberi beliau anak keturunan yg baik dan janji Allah itu pasti terjadi.
Ibrahim setuju utk menikah dgn Hajar. Janji ilahi pun terealisir dan tdk lama kemudian Hajar hamil. Waktu demi waktu terus berlalu, dan saat2 kelahiran anak Hajar semakin dekat, tdk lama berselang, Hajar melahirkan anak yg sempurna dan suci yg diberi nama Ismail.
Sarah sangat berbahagia dgn kelahiran anak yg tampan ini, Allah memasukan cinta kpd Ismail kedalam hati Sarah, karena Ismail adlh anak suaminya, Ibrahim, dan anak mantan budak wanitanya, Hajar yg kini bertakwa dan beriman.
Sarah menghadap kpd Allah dgn bersyukur dan memujiNya, Sarah bersujud kpd Allah tuhan semesta alam, atas sgl karuniaNya, ketentraman, keamanan dan kedamaian benar2 turun kepada Sarah.
Jiwa Sarah larut kpd Allah, ia lupa akan alam raya di sekitarnya, karena ia tdk henti2nya bersama Allah dlm syukur dan dzikir. Sarah amat bahagia melihat si bayi mungil, Ismail, ia segera pergi ke kamar Hajar, yg ketika itu ia mendengar suaminya sdg berkata dlm do`anya “Tuhanku, aku meminta perlindungan utk anak ini dan anak keturunannya kpd-Mu dari setan yg terkutuk”
Lalu Sarah menggendong ismail dan mendekapnya dgn penuh kasih sayang, ia teringat akan do`a suaminya, Ibrahim “Tuhanku, anugrahkanlah kpd-ku (seorang anak) yg termasuk org2 saleh” (Ash-Saaffat: 100). Ya, Allah mengabulkan do`a Ibrahim dan Dia menganugrahkan anak yg sabar, Ismail, kpd Ibrahim yg telah lanjut usia.
Subhanallah, sungguh kesabaran dan kesucian hati yg benar2 murni, yg dilandasi penuh keimanan, sehingga tdk ada sedikitpun rasa kebencian dan kecemburuan di hati Sarah kpd Suaminya, Ibrahim dan istri mudanya alias madunya, Hajar. Semua itu Sarah lakukan demi tecapai keridhaan Allah dan suaminya semata. Subhanallah.
Namun, Allah juga lah yang membalik balik hati manusia. Begitu pula Sarah. Kebahagian melihat lahirnya Ismail, tidak mampu menutupi kepedihan hatinya yang terdalam. Bahwa ia seorang perempuan tua yang tidak bisa memberikan seorang anak kepada suami tercinta.
Kepedihan ini makin lama makin membawa kekeruhan hatinya. Akhirnya Sarah sungguh tidak bisa menanggungnya. Dengan berat hati, untuk menjaga keimanan dirinya, ia meminta Ibrahim untuk memindahkan Hajar dan Ismail pergi. Pindah dari rumah mereka. Menjauh dari pandangan Sarah. Dan Ibrahim, sangat memahami perasaan Sarah. Dengan berdoa kepada Allah, meminta segenap perlindungan, Ibrahim membawa Hajar dan Ismail pergi jauh, ke sebuah daerah tandus yang kelak bernama Mekkah.
KABAR GEMBIRA YG AGUNG.
Kepergian Hajar dan Ismail, akhirnya juga memberi penderitaan baru kepada Sarah. Ia menyadari, rumahnya akan benar2 sepi setelah kepergian mereka. Tapi Sarah adalah permpuan dengan hati yang lemah namun indah. Ia hanya kuatir kelemahan hatinya, dengan timbulnya rasa cemburu terhadap Hajar dan Ismail, bisa menutupi keindahan hatinya. Itulah sebabnya ia memilih untuk berjauhan dengan Hajar.
Dan kini ia memperkuat hatinya dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pada suatu hari, matahari membentangkan cahaya2nya ke bumi yg suci, kemudian berjabat tangan dgn segala hal. Separoh siang telah berlalu, ternyata ada beberapa orang laki2 berjalan menuju kemah dan hendak bertamu kpd Ibrahim alaihis salam.
Para tamu semakin dekat dgn kemah Ibrahim, mereka berjumlah tiga org, ketika mereka tiba, mereka berkata “salam” dan Ibrahim pun menjawab “salam”
Kata tsb ringan, lembut dan bersahabat, kata tsb dpt menanamkan ketenangan dlm jiwa setiap org yg mengucapkannya, betapa indahnya kata “salam” tsb
Hati Ibrahim senang bukan kepalang, kebahagiaan terpancar dgn jelas diwajahnya. Ya, beliau memang sangat gembira dgn kedatangan tamu, sehingga dia dijuluki bapak tamu, begitu juga istri beliau, Sarah, ia turut larut dlm bahagia karena kedatangan tamu2 tsb.
Ibrahim melihat para tamu, ternyata beliau tdk pernah melihat tamu setampan dan semenawan mereka sebelum ini, wajah mrk bersinar dgn cahaya, tubuh mrk sangat indah dan aroma mrk sangat harum mewangi. Ya , tempat tsb dipenuhi aroma yg sangat wangi.
Ibrahim mempersilahkan tamu utk masuk, beliau menyiapkan sandaran utk mereka dan masuk menemui istri beliau utk menyiapkan makanan, kemudian muncul lagi dgn membawa makanan penuh berkah yg cukup dimakan sepuluh orang.
Di sudut kemah, istri Ibrahim yg tua, Sarah, melayani para tamu, ia berdiri di depan para tamu seperti kebiasaan org2 arab dan org selain arab.
Ketika itulah para tamu menjelaskan jati diri dan identitas mereka, mereka berkata “Kami para malaikat yg berjalan melewatimu” dan mereka menjelaskn kpd Ibrahim bhw mereka diutus utk pergi kpd kaum Luth yg brdosa, dan mereka menenangkan Ibrahim serta memberi kabar gembira kpd beliau. Allah Ta`ala berfirman “
“Mereka berkata “Janganlah kamu takut” dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dgn (kelahiran) anak yg alim (Ishaq)”. (Adz-Dzaariyat:28)
Kabar gembira tsb ialah kelahiran Ishaq dari istri Ibrahim yg selama ini mandul, yaitu Sarah.
Ketika Sarah mendengar kabar gembira dari para malaikat itu, Sarah pun kaget dan nyaris berteriak heran dan merobek2 baju seperti kebiasaan para wanita, Sarah berkata dengan nada heran, “Aku wanita tua yg mandul.?” “Apakah aku akan hamil, melahirkan dan menyusui.? Padahal umurku hampir mendekati sembilan puluh tahun dan aku sejak usia remaja mandul tdk bisa melahirkan?”
Sarah merasa heran dgn kabar gembira yg aneh tsb, karena ia sekarang wanita tua, bahkan sejak awal ia wanita mandul, Sarah bertanya2 dgn berkata “Sungguh aneh, apakah aku akan melahirkan, padahal aku sdh tua? Suamiku juga sdh tua? Ah, ini sesuatu yg aneh”
Ya, karena ia mandul dan ia semakin tua, jadi ia memandang mustahil kalau dirinya seperti itu bisa hamil, sepertinya Sarah berkata “Ah, seandainya kalian berdo`a dgn do`a yg tdk lama lagi akan dikabulkan” Sarah berkata demikian, karena ia menduga bhw kabar gembira tsb hanya berasal dari para tamu tsb sebagaimana biasanya do`a diucapkan oleh seorang tamu kpd tuan rumah.
Namun, tamu dari para malaikat itu berkata “Ini bukan do`a dari kami, namun hal ini merupakan firman Allah Ta`ala, dan para malaikat tsb segera menghapus kesan kemustahilan dari Sarah dgn berkata “Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui”
Akhirnya Sarah tahu bhw ternyata para tamunya adlh para malaikat, ia mengetahui tugas yg diberikan kpd mereka, bhw mereka ditugaskan membawa dua kabar gembira, yaitu utk menghancurkan kaum Luth yg telah kafir, dan memberi kabar gembira kpd Sarah tentang kelahiran Ishaq, dan akhirnya Sarah berlega hati setelah mendapatkan kabar yg sangat mengembirakan tsb.
Syaikh Al Qurthubi rahimahullah berkata “Jarak antara kabar gembira dgn kelahiran Ishaq adlh setahun. Adapun sebelum itu Sarah tdk pernah melahirkan, kemudian ia melahirkan ketika berusia 99 tahun, sedang Ibrahim berusia 100 tahun” Subhanallah..
Nikmat Allah amat banyak pada Sarah, Ibrahim dan rumah tangga Ibrahim.
Rahmat tsb betul2 rahmat agung, sebab Allah menganugerahkan Ismail dan Ishaq kpd Ibrahim dan Sarah di masa tua, Allah memberi karunia kpd rumah tangga Ibrahim dgn memberikan kenabian, kitab dan hikmah kpd sebagian anak keturunan beliau. Ya, Allah memilih rumah tsb sebagai cahaya bagi seluruh alam semesta.
Sekarang Sarah telah tua, sedang Ishaq berada di dekat ibunya guna membahagiakan hatinya, Sarah tdk menjalani waktu sedetikpun melainkan ia menggunakannya utk menyanjung Allah, tuhan semesta alam, slogan Sarah ialah “Alhamdulillahi robbil`alamin” segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Subhanallah.

![Sarah [2/5] more Sarah [2/5]](http://nabimuhammad.info/wp-content/plugins/sociable/images/more.png)