Istri Istri Nabi

Diriwayatkan oleh Abdul Malik bin Muhammad Al-Naisaburi dengan sanad sahabat Abu Sa’id Al Khudri, bahwa ia berkata:

“Rasulullah bersabda: ‘Tidaklah ku nikahi isteri-isteriku dan tidaklah kunikahkan putri putriku kecuali dengan wahyu yang disampaikan oleh Jibril a.s. kepadaku dari Allah Azza wa Jalla”

1. Khadijah Binti Khuwailid

Wanita pertama yang Nabi nikahi ialah Siti Khadijah r.a. Telah diberitakan bahwa Rasulullah pernah menyuruh seseorang untuk memberitahukan kabar gembira kepada Khadijah tentang sebuah rumah di surga yang bertahtakan permata intan berlian, yang tidak mengandung suara gaduh dan kepayahan.
Pada suatu hari, Siti Aisyah pernah berkata kepada Rasulullah yang sebelumnya telah memuji muji Siti Khadijah: “Buat apa mengingat-ingat perempuan tua yang merah kedua sudut mulutnya itu. Bukanlah Allah telah memberi ganti buatmu, seorang wanita yang lebih balk daripadanya?“
Dengan marah Rasulullah menjawab: “Allah tidak menggantikan buatku yang lebih baik daripadanya. Ia beriman kepadaku tatkala orang-orang mendustakan aku, dan ia pun telah me-
ngorbankan harta bendanya buatku tatkala orang-orang memboikotku, dan aku telah dikaruniai anak dari rahimnya, sedang darl isteri isteriku yang lain tidak.”

2. Saudah binti Zam’ah

Saudah binti Zam’ah dinikahi nabi pada tahun kesepuluh kenabian, setelah wafatnya Khadijah. Sebelum itu ia adalah isteri dari saudara sepupunya yang bernama Sakran bin Amru. Ia sudah cukup berumur/ tua. Suaminya ini masuk Islam bersamanya dan hijrah ke negeri Habasyah pada hijrah yang kedua. Ketika suaminya meninggal dunia, dan Rasul memberi penghargaan yang tinggi kepadanya, maka Nabi lantas menikahinya.
Tatkala usianya telah lanjut, beliau bermaksud akan menceraikannya, tetapi ia memohon agar tidak diceraikan dengan memberikan gilirannya bagi Aisyah. Akhirnya beliau tldak jadi menceraikannya. Ia meninggal dunia pada masa kekhalifahan Umar.

Acara pernikahan dilakukan oleh Salit bin Amr. Riwayat lain menyatakan upacara dilakukan oleh Abu Hatib bin Amr. Maskawinnya ialah 400 dirham.

3. Aisyah

Setelah itu Nabi menikahi Aisyah binti Abubakar Al-Shiddiq r.a., pada bulan Syawwal tahun keduabelas kenabian menurut salah satu qaul. Ketika itu Aisyah baru berusia tujuh tahun —- menurut suatu qaul -— dan baru pada bulan kedelapan hijriah beliau membina rumah tangga dengannya, (saat itu Aisyah berusia sembilan tahun) meninggal dunia pada saat Aisyahrberusia delapan belas tahun dan beliau tidak menikahi dengan seorang gadis perawan pun kecuali Aisyah.
Manaqibnya sangat banyak sekali. Ia mendapat julukan sama dengan nama putra saudarinya Asma yang bernama Abdullah bin Zubair.
Siti Aisyah meninggal dunia pada tahun lima puluh enam atau lima puluh tujuh atau lima puluh delapan hijriah, dan dishalati oleh Abu Hurairah serta dikebumikan di waktu malam di pekuburan Baqi’. Pada saat itu umurnya mendekati enam puluh tujuh tahun,.
Ada sebagian erang yang mengatakan bahwa Nabi menikah dengan Aisyah sebelum dengan Saudah. Yang lain mengatakan bahwa Nabi mengadakan akad nikah dulu dengan Aisyah sebelum resmi dengan Saudah. J adi tidak ada pertentangan antara kedua pendapat tersebut.


4. Hafshah

Kemudian Hafshah binti Umar binti Khatthab radliyallaahu ta’ala anhuma, yang dinikahi pada bulan Sya’ban setelah lewat tiga puluh bulan dari hijrah Nabi. Ia dilahirkan lima tahun sebelum masa kenabian, dan meninggal dunia pada bulan Sya’ban tahun empat puluh lima hijriah serta dishalati oleh Marwan bin Hakam, Gubernur Madinah saat itu.

Hafsah seorang janda. Suami pertamanya Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy yang meninggal dunia saat Perang Badar. Ayahnya Umar meminta Abu Bakar menikah dengan Hafsah, tetapi Abu Bakar tidak menyatakan persetujuan apapun dan Umar mengadu kepada nabi Muhammad. Kemudian rasulullah mengambil Hafsah sebagai isteri. Hafsah Binti Umar (wafat 45 H)

Hafshah binti Umar bin Khaththab adalah putri seorang laki-laki yang terbaik dan mengetahui hak-hak Allah dan kaum muslimin. Umar bin Khaththab adalah seorang penguasa yang adil dan memiliki hati yang sangat khusyuk. Pernikahan Rasulullah . dengan Hafshah merupakan bukti cinta kasih beliau kepada mukminah yang telah menjanda setelah ditinggalkan suaminya, Khunais bin Hudzafah as-Sahami, yang berjihad di jalan Allah, pernah berhijrah ke Habasyah, kemudian ke Madinah, dan gugur dalam Perang Badar. Setelah suami anaknya meninggal, dengan perasaan sedih, Urnar menghadap Rasulullah untuk mengabarkan nasib anaknya yang menjanda. Ketika itu Hafshah berusia delapan belas tahun. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah memberinya kabar gembira dengan mengatakan bahwa beliau bersedia menikahi Hafshah.

Jika kita menyebut nama Hafshah, ingatan kita akan tertuju pada jasa-jasanya yang besar terhadap kaum muslimin saat itu. Dialah istri Nabi yang pertama kali menyimpan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan pada kulit, tulang, dan pelepah kurma, hingga kemudian menjadi sebuah kitab yang sangat agung.

Nabi menceraikannya, karena ia membocorkan suatu rahasia kepada Aisyah yang dipercayakan Nabi kepadanya. Memang antara keduanya itu terjalin suatu ikatan persahabatan yang erat.

Lalu turunlah Jibril a.s. seraya berkata: “Rujuklah kembali kepada Hafshah, karena ia banyak berpuasa
dan banyak beribadat di waktu malam. Selain itu dia pun adalah isterimu di surga.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa tatkala Nabi telah menceraikan Hafshah, berita itu sampai kepada Umar, maka Umar menaburkan tanah ke atas kepalanya seraya berkata. “Allah sudah tidak lagi mempedulikan Umar dan putri-
nya!”
Keesokan harinya turunlah Jibril a.s. menjumpai Nabi dengan membawa pesan dari Allah, katanya: “Sesungguhnya Allah menyuruhmu agar rujuk dengan Hafshah, karena kasihan terhadap Umar.” Dan Umar mengatakan bahwa sebenarnya Nabi tidaklah menceraikannya tetapi hanya “bermaksud” menceraikannya sa-
ja, sedangkan yang dimaksud rujuk itu adalah merukuni dan menyenangkannya kembali.


5. Zainab binti Khuzaimah

Istri beliau kemudian adalah Zainab binti Khuzaimah, yang dinikahi pada tahun ketiga hijriah. Pada masa jahiliah dahulu ia dipanggil dengan sebutan Ummul Masakin, karena ia suka memberikan makanan kepada orang orang miskin. Ia mendampingi Nabi tidak lama, hanya dua atau tiga bulan saja, kemudian meninggal dunia. Ia dishalati sendiri oleh Rasulullah dan dikebumikan di pekuburan Baqi’. Pada saat meninggalnya itu, usianya telah mencapai tigapuluh tahun.

Ia termasuk salah seorang di antara tiga isteri Nabi — yaitu Khadijah, Zainab dan Raihanah — yang meninggal dunia semasa hidup Nabi.


6. Ummu Salamah

Ummu Salamah Hindun binti Abi Umayyah bin Mughirah, seorang janda tua mempunyai 4 anak dengan suami pertama yang bernama Abdullah bin Abd al-Asad. Suaminya syahid dalam Perang Uhud dan saudara sepupunya turut syahid pula dalam perang itu lalu nabi Muhammad melamarnya. Mulanya lamaran ditolak karena menyadari usia tuanya. Alasan umur turut digunakannya ketika menolak lamaran Abu Bakar dan Umar al Khattab.

Lamaran kali kedua nabi Muhammad diterimanya dengan maskawin sebuah tilam, mangkuk dari sebuah pengisar tepung.

Ia dinikahi pada akhir Syawal tahun keempat hijriah. Ketika itu Rasulullah mengutus seseorang untuk menemuinya guna membicarakan lamaran beliau kepadanya.
Ummu Salamah pun berkata “Marhaban ya Rasulillah, sesungguhnya saya seorang wanita yang memiliki tiga cela, yaitu sangat pencemburu, sudah mempunyai anak dan tidak mempunyai seorang wali.”
Lantas Rasulullah mendatanginya seraya berkata: “Sesungguhnya apa yang kaukatakan tentang sifat pencemburumu itu, maka aku harapkan semoga Allah SWT menghapuskannya dari dalam hatimu. Dan tentang anak-anakmu itu, maka Allah akan mencukupi mereka. Dan tentang walimu, tidak ada seorang pun di antara wali walimu yang tidak suka kepadaku.”

Akhirnya ia berkata kepada putranya: “Nikahkanlah Rasulullah s.a.w.!”
Ia meninggal dunla pada masa pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah, tepatnya pada tahun enam puluh hijriyah dalam usia delapan puluh empat tahun. Dishalati oleh Abu Hurairah dengan dikubur di pekuburan Baqi’. ‘


7. Zainab binti Jahsi

Zainab binti Jahsi adalah puteri Amimah, bibi Nabi. Dahulu bemama Barrah, lalu diganti oleh Nabi dengan nama baru: Zainab. Sebelum menikah dengan Nabi, ia adalah isteri Zaid bin Haritsah yang diceraikannya. Kemudian Allah menikahkan beliau dengannya, pada tahun keempat hijriah, menurut salah satu qauL ketika itu ia berumur tiga puluh lima tahun. Peristiwa pernikahannya sesuai dengan fnrman Allah SWT di dalam surah al-Ahzab ayat 37:
‘Makal tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia. . .’

Dengan adanya ayat ini, ia sering membangga banggakan dirinya di hadapan isteri isteri Nabi yang lain, katanya: “Kalian semua dinikahkan oleh bapak kalian masing-masing, tetapi saya, Allah-lah yang menikahkan saya dengan beliau dari atas tujuh petala langit-Nya.”

Mengenai dlrinya pulalah turun ayat hijab, dan ia termasuk isteri pertama di antara isteri isteri Nabi yang menyusul beliau ke alam baka, sebagaimana sebelumnya telah diisyaratkan oleh Nabi. Di dalam kitab Shahih Muslim disebutkan sebuah hadis yang bersumber dari Siti Aisyah r.a.; “Sebagian isteri Nabi bertanya
kepada beliau: ’Siapakah di antara kami yang paling cepat menyusulmu?’ Beliau menjawab: ‘paling dermawan di antara kalian.’”
Dan ternyata Zainab yang paling dahulu menyusul beliau. Ia meninggal dunia pada tahun duapuluh atau duapuluh satu hijriyah dalam usia lima puluh tiga tahun. Dan dikebumikan di pekuburan Baqi’. Yang menshalatinya ialah Umar bin Khaththab r.a.
Siti Aisyah menggambarkan pribadi Zainab sebagai berikut: ‘*Dia menyamai kedudukanku di sisi Rasulullah. Tidak pemah kulihat seorang wanita yang lebih balk dalam urusan agamanya, lebih takwa kepada Allah, paling jujur ucapannya, lebih menghubungkan tali kekeluargaan dan lebih banyak sedekahnya daripada Zainab”


8. Juwariyah binti Harits

Ia termasuk salah seorang tawanan perang Mursasi’ (ghazwah Bani Mushthaliq), jatuh ke tangan Tsabit bin Qals Al-Anshari. Tsabit menetapkan tebusannya sebesar sembilan pound emas, lantas ditebus Nabi dan dimerdekakannya, kemudian dinikahinya. Sebelum itu namanya adalah Barrah, tetapi kemudian diganti Nabi dengan nama baru: Juwariyah. Ia termasuk seorang wanita yang sangat cantik. Tatkala oran orang mengetahui bahwa Nabi menikahinya, mereka pun membebaskan tawanan-tawanan Bani Mushthaliq lainnya.

Mengenai hal ini, Siti Aisyah memberikan komentar, ”Tidaklah kami ketahui seorang wanita yang lebih
banyak berkat bagi kaumnya melebihi dirinya.”
Ia meninggal dunia di Madinah pada bulan Rabi’ul Awwal tahun lima puluh enam hijriyah, dalam usia tujuh puluh tahun. Dan yang menshalatinya ialah Marwan bin Hakam.


9. Raihanah binti Yazid

Raihanah binti Yazid berasal dari Bani Nadhir. Sebelumnya ia adalah isteri dari salah seorang lelaki Bani Quraidhah, tetapi akhirnya termasuk salah seorang tawanan dari Bani Quraidhah. Lalu Nabi memilihnya. Beliau menyuruh Raihanah untuk memilih antara masuk Islam atau tetap dalam agamanya. Ia memilih masuk
Islam, maka Nabi pun membebaskannya dan kemudian menikahinya. Beliau memberikan mas kawin kepadanya dan menyelenggarakan pesta perkawinannya pada bulan Muharram tahun keenam hijriah. Nabi pernah menceraikannya karena sifat cemburunya yang berlebihan.

Setelah diceraikan Nabi, ia menangis terus hingga akhirnya Nabi melakukan rujuk kembali, Ia meninggal dunia pada saat kembali dari Hajjatul Wadai dan dikebumikan di pekuburan Baqi’.

10. Ummu Habibah Ramlah

Kemudian Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan Shakhar bin Harb. Ia berangkat hijrah bersama suaminya Ubaidillah bin Jahsyin al-Asadiy ke negeri Habasyah (Ethiopia), hijrah kedua. Ia melahirkan anak dari suaminya, Ubaidillah, yang diberi nama Habibah. Kemudian suaminya beralih ke agama Nashrani, sedang ia tetap dalam Islam. Tak berapa lama kemudian suaminya meninggal.

Ia kemudian bercerai dari suaminya, jadi status Ramlah binti Abu Sufyan saat itu adalah seorang janda. Ia lah janda pertama dari kalangan Islam yang sedang dalam keadaan berhijrah (di Habasyah), jauh dari sanak keluarganya, ia hanya beserta beberapa keluarga mukmin yang hijrah ke sana.

Maka Nabi s.a.w. mengutus Amru bin Umayah Al-Dhamiri kepada Negus, untuk membicarakan lamarannya pada Ummu Habibah tersebut, Negus lalu menikahkan beliau dengannya, dengan mas kawin sebesar empat ratus dinar. Sedangkan yang bertindak sebagai walinya ialah Khalid bin Sa’id bin ’Ash, karena ia adalah saudara sepupu ayahnya. Kemudian Negus mengembalikannya kepada beliau pada tahun tujuh Hijriyah (dikawal oleh Syarahbil bin Hasanah).

Dan ia meninggal dunia pada tahun empat puluh empat Hijriyah.


11. Shafiyah

Shafiyah binti Huyai bin Akhthab adalah seorang wanita keturunan Nabi Harun bin Imran a.s. Ayahnya adalah penghulu Bani Nadhir, yang berperang dipihak Bani Quraidhah. Nabi s.a.w. memilihnya di antara para tawanan perang Khaibar. Lalu beliau merdekakan dan kemudian beliau menikahinya. Maharnya adalah kemerdekaan dirinya itu. Ia merupakan wanita yang eantik, yang usianya
ketika itu belum lagi meneapai tujuh belas tahun. Ia meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun lima puluh atau lima puluh dua Hijriyah, dan dikebumikan di pekuburan Baqi’.


12. Maimunah

Maimunah binti Harits dinikahi Nabi s.a.w. pada bulan Syawal tahun ketujuh Hijriyah, ketika beliau sedang dalam keadaan ihram pada umrah qadiza, seperti yang dikatakan oleh jumhun. Namanya dahulu adalah Barrah, kemudian diganti oleh Nabi dengan nama Maimunah. la meninggal dunia pada tahun lima puluh
satu Hijriyah dalam usia delapan puluh tahun. Ia merupakan wanita terakhir yang dinikahi oleh Nabi s.a.w. dan isteri beliau yang terakhir wafatnya. Ibnu Syihab ‘ mengatakan bahwa Maimunah inilah yang telah menyerahkan dirinya kepada Nabi s.a.w.
* * *
Mereka semua adalah isteri—isteri beliau yang dinikahi beliau dan tidak diceraikannya. Semuanya berjumlah dua belas orang dan yang meninggal dunia semasa beliau hidup ada tiga orang.

About the Author

admin has written 1012 stories on this site.

-

Copyright © 2010 Muhammad SAW Teladanku. All rights reserved.
Powered by WordPress.org, Custom Theme.