* Oleh: Annemarie Schimmel
(Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam)
Baris-baris semacam itu dapat membantu kita memahami mengapa para tokoh sufi dari masa selanjutnya biasanya berusaha untuk menyatu dengan haqiqah Muhammadiyyah, yang kini dianggap sebagai tahap
terakhir di jalan itu. Dalam perjalanan ke sana mereka naik, dan akhirnya mélampaui tahap-tahap semua nabi lainnya.
Dengan demikian, sufi itu mungkin merasa di satu waktu bahwa dia telah mencapai tahap Nuh dan mengalami banjir itu, dan ada kemungkinan bahwa dia atau yang lain lainnya akan tetap berada di salah satu tahap ini; sebab hanya sedikit, barangkali, yang dikaruniai penyatuan dengan prinsip pertama penciptaan, yaitu Pola Dasar Muhammad.
Kami mendapatkan catatan catatan dari para pemimpin sufi yang menceritakan tentang jalan yang mendaki menuju haqiqah Muhammadiyyah ini, dan puisi sufi, terutama yang ditulis oleh para pemimpin tarikat-tarikat sufi, penuh dengan perujukan perujukan ke kemajuan dalam tahap tahap itu.
*Menurut Aflaki, Manaqib Al-‘Arifin, hal. 614, bab 4, para. 3, bahkan Rumi mengatakan: “Para sarjana luar mengenal kisah kisah, akhbar, tentang Nabi; Maulana Syamsuddin tahu tentang misteri misteri, asrar, Nabi, dan aku adalah tempat perwujudan dari cahaya cahaya, anwar, Nabi”.*
Yah, kecintaahku tumbuh sebelum Adam,
Aku bersama dengan cahaya Ahmad di ketinggian
demikian dilantunkan oleh Ibrahim Al Dasuqi, pendiri sebuah persaudaraan di Mesir pada abad ketiga belas. Di bawah pengaruh Ibn ‘Arabi, yang menyatakan dirinya sebagai “pewaris sifat menyeluruh Nabi,” al-thabi‘ah al-jam‘iyyah, dan “pewaris Tahap Muhammad, al—maqam al-muhammadiy, puisi semacam itu menjadi semakin popular.
Ibn ‘Arabi sendiri telah mewarisi, pada umur tiga puluh tiga (pada 1197-98), maqam muhammadiy melalui suatu pentahbisan di hadapan Kawan Tertinggi, al mal’a al a‘la, dan telah menjadi “penutup orang orang suci,” orang suci terakhir di hati Muhammad, ‘ala qalb Muhammad. Pernyataan ini mendorongnya untuk mengutarakan gagasan gagasannya dengan cara yang sangat berani. Tetapi adalah
menarik untuk dicatat bahwa rekan sezamannya yang lebih muda, Syams-i Tabrizi, pemberi ilham yang kuat kepada Maulana Rumi, mengatakan bahwa meskipun Ibn ‘Arabi pernah menyatakan, “Muhammad adalah penjaga tirai kita,” ternyata “dia tidak (benar-benar) mengikutinya” — suatu tuduhan yang telah banyak diulang sampai masa kita sekarang ini oleh banyak golongan Muslim anti-sufi.
Dalam sistem Ibn ‘Arabi, Muhammad tampil sebagai tokoh yang berpengaruh luas, “dijaga oleh aliran karunia yang paling suci dan paling tinggi,” al faidh al aqdas al a‘la. Dia adalah Manusia Sempurna, yang
pada dirinya pleroma atribut-atribut dan nama nama Ilahi tercermin. Maka timbullah pernyataan dari orang orang yang telah mencapai penyatuan dengan haqiqah Muhammadiyyah bahwa mereka dikaruniai
”sifat menyeluruh” atau dibedakan oleh julukan al-jami, Yang Komprehensif (seperti ditulis oleh Mir Dard dalam penjelasannya tentang upayanya untuk naik melalui tahap-tahap para nabi).
Dalam teori teori ini, Muhammad menempati kedudukan mikrokosmos yang mewakili, atau mencerminkan, dalam dirinya makrokosmos — dia adalah benar benar cermin yang diciptakan Allah untuk mengagumi Diri-Nya Sendiri. Hatinya, seperti dikatakan oleh murid Ibn ‘Arabi, Kasyani, dalam ulasannya mengenai surah 7:54, setara dengan Tahta llahi: kalimat dalam Al-Quran “Siapa yang ada di Tahta” mengandung arti
“di atas Tahta hati Muhammad, dengan mewujudkan Diri-Nya sepenuhnya dengan seluruh atribut-Nya ke dalam sosoknya.
Sebagai insan kamil, Manusia Sempurna, Muhammad menjadi penghubung antara Allah dan dunia ciptaan; dia, bisa dikatakan sebagai barzakh, penengah di antara Yang Pasti dan eksistensi yang bergantung.
Peranan Nabi sebagai prinsip penengah ini terungkap, menurut ajaran Ibn ‘Arabi, dalam kata-kata pengakuan iman itu sendiri, Muhammad rasul Allah: Muhammad adalah “prinsip yang mewujud,” rasul, utusan, adalah “perwujudan prinsip,” dan Allah adalah “Prinsip itu Sendiri.”
Unsur rasul itulah yang menghubungkan Prinsip itu Sendiri dengan prinsip yang mewujud. Dalam kedudukan ini Nabi menunjukkan suatu sifat ganda: kontemplatif dan reseptif, sebab dia merupakan sarana bagi wahyu Ilahi, tetapi juga tetap aktif dalam pengertian bahwa dia melaksanakan kehendak Ilahi di dalam dunia ini. Dia dapat
dipandang sebagai prinsip pertama penciptaan, dan karenanya disamakan, oleh beberapa tokoh sufi yang lebih cenderung kepada filsafat, dengan Akal Universal; kadang kadang, dalam lagu lagu pujian yang
puitikal, Akal Universal itu bahkan digambarkan sebagai bayi jika dibandingkan dengannya.
*Rumi, Diwan, no. 1793. Bandingkan juga. dengan baris yang terkenal dari karya Nizami dalam “Makhzan Al Asrar” (Kulliyat-i Khamsah, hal. 2):
Ahmad sang Utusan, yang di hadapannya akal menjadi debu
Kedua dunia terikat oleh tali pelananya (fitrak).*
Dan karena dia adalah yang pertama tama diciptakan, maka dia merupakan nabi terakhir yang muncul dalam wujud sebagai manusia. Dalam peranan ganda ini dia menyandang seluruh Nama Ilahi dalam dirinya. Sedangkan seorang manusia biasa merupakan sarana perwujudan hanya untuk satu nama saja. Dengan
demikian kalimat Al Quran dalam surah 5:5, yang diwahyukan pada waktu Muhammad melakukan ibadah haji terakhir, ditafsirkan sebagai mengungkapkan peringkat tertinggi Nabi ini:
“Hari ini telah Kusempurnakan agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku bagimu,
dan telah Kurelakan Islam menjadi agamamu.”
Sebab Muhammad, Penutup para Nabi, adalah penyempurna risalah para nabi, dan pada dirinya, sebagai penutup, seluruh kesempurnaan para pendahulunya disatukan sebagaimana jumlah suatu rangkaian aritrnatik mewakili seluruh angka . . . Pada hakikatnya mereka menyatu dengannya dan sama sama menerima kehormatan yang diberikan kepadanya.
Lukisan lukisan tentang Muhammad yang abadi yang diciptakan oleh para sufi dalam bentuk karya prosa, dan kemudian juga puisi penuh dengan gaya bahasa yang berlebih lebihan dan memancarkan keindahan puitikal: mereka jauh sekali dari pernyataan Nabi yang sederhana, yang menganggap dirinya hanyalah sebagai “seorang manusia yang memberi wahyu”
Sebuah contoh yang sangat bagus terdapat dalam tulisan-tulisan ‘Abdul Qadir Jailani, pendiri Qadiriyah, yaitu tarikat sufi dengan jumlah pengikut terbesar, pada abad kedua belas (dia meninggal satu tahun setelah Ibn ‘Arabi dilahirkan):
Dia telah dipuja karena seluruh sifatnya yang agung;
dia diberi persembahan segala kata.
Karena sifatnya yang mulia, tiang tiang penyangga tenda seluruh eksistensi tetap tegak dl tempatnya;
dia adalah rahasia kata-kata kitab malaikat,
makna huruf huruf “penciptaan bumi dan langit;”
dia adalah pena Penulis yang telah menuliskan tumbuhnya benda benda ciptaan;
dia adalah murid di mata dunia,
guru yang telah menetapkan penutup eksistensi.
Dia adalah yang menyusu kepada putihg wahyu, dan membawa misteri abadi itu;
dia adalah penerjemah bahasa keabadian,
Dia membawa bendera kehormatan dan menjaga kendali pujian;
dia adalah mutiara utama pada kalung kenabian, dan permata pada mahkota para rasul.
Dia adalah yang pertama sebagai penyebab, dan yang terakhir dalam eksistensi.
Dia diutus dengan namus terbesar untuk membuka tabir kesedlihan, untuk membuat yang sulit menjadi mudah, mengesampingkan godaan hati, melipur kesedihan jiwa, memoles cermin batin, menerangi kegelapan hati, membuat kaya mereka yang miskin hatinya, dan melonggarkan ikatan ikatan jiwa
*Andrae, Die person Muhammads, hal. 338-39, mengutip karya Syattanaufi, Bahjat Al-Asrar, hal. 36. Namus adalah nomes dalam bahasa Yunani, tetapi di sini digunakan sebagai kekuatan malaikat atau spiritual. Lihat EI, edisi pertama, jil. 5, s.v. namus*
Muhammad dengan demikian menjadi satu satunya cita cita penciptaan, sebagaimana dilukiskan oleh hadits laulaka; tetapi lebih lebih lagi, melalui dia sajalah dunia mendapatkan eksistensinya, dan melalui dia sajalah karunia Ilahi disarnpaikan.
S.H. Nashr telah mengemukakan bahwa bahkan lukisan lukisan semacam itu, yang tampaknya begitu asing dengan gambaran sejarah Muhammad, telah berkembang secara sangat logis dari pemujaan yang ditujukan kepada Nabi. Meskipun Muhammad telah diingatkan dalam Al Quran agar mengatakan, “Aku hanyalah manusia seperti kalian juga,” kaum Muslim yang saleh segera menambahkan, “Memang benar, tetapi dia bagaikan mirah delima di tengah berbagai batuan”.
Secara lahiriah dia sama dengan mereka, tetapi secara batiniah dia membawa Cahaya Ilahi, yang sinarnya menjadi semakin tampak jelas sejalan dengan berlalunya waktu. S.H. Nashr di sini setuju dengan banyak sufi
dan penyair Muslim yang telah berdebat dengan nada yang serupa. Ketika Ghalib, yang menulis di Delhi pada abad kesembilan belas, menyebut Nabi sebagai imam, yaitu permata panjang dalam tasbih Muslim yang ditempatkan terpisah dari yang lain lainnya tetapi tetap menjadi bagian integral dari tasbih itu, dia mengungkapkan perasaan yang sama yang tampak dalam pemhandingan Nabi dengan “mirah delima di tengah berbagai batuan.”
Untuk membuat perbandingan ini lebih dekat dengan pemahaman para pembaca Barat, kita harus menambahkan bahwa mirah delima, menurut cerita rakyat timur, berasal dari batu biasa yang terus menerus menerima sinar matahari: karena itu mirah delima adalah sinar matahari yang berubah menjadi batu. Dengan
demikian padanannya dengan Nabi sebagai manusia yang dibuat mampu menerima Cahaya Ilahi menjadi lebih bermakna.
Kita juga tidak boleh lupa bahwa Hallaj — sepanjang pengetahuan kita, untuk pertama kalinya — mengungkapkan gagasan tentang sifat ganda Nabi: sebagai siraj, sebagai lampu kenabian (nubuwwah), dia pra-abadi; tetapi peranannya sebagai utusan (rlsalah) dimulai dengan kemunculannya di atas bumi”.
Dalam teori beberapa sufi, Muhammad kadang kadang tampil sebagai mutha‘, “0rang yang dipatuhi.” julukan ini dapat dengan mudah diketahui asalnya dari ketentuan Al Quran untuk mematuhinya,
dan dari surah 81:21. Bagi Sa‘di, dia adalah rasuluh mutha‘un, “nabi yang dipatuhi,” dan Jami‘ menamakannya “mutha‘ (yang dipatuhi) bagi manusia, dan muthz” (orang yang patuh bagi Tuhan)“.
Dalam karya esoterik Al Ghazali, Mlsykat Al Anwar (Ceruk untuk Cahaya) lagi lagi suatu kiasan mengenai kedudukan Nabi menurut ayat. Cahaya dari Al-Quran mutha‘ itu tampaknya adalah semacam Akal Pertama, sebagai pihak yang kepadanya tuntunan di dunia ini dipercayakan “suatu kekuatan kosmik, kepada siapa aturan dan gerakan alam raya ini bergantung.”
Hubungan antara Allah dan matha‘ diperbandingkan dengan hubungan antara esensi cahaya yang tak tertembus dan sinar matahari yang dapat dlihat. Teori teori Ghazali telah membingungkan para penafsir pertama karyanya, karena tampaknya mereka membayangkan suatu penafsiran Islam — penafsiran
“makrifat” atau “teos0fikal” — yang dia perangi dengan gigih. Bagaimanapun juga, dalam konteks sejarah pemuliaan kepada Nabi, penafsirannya sangat sesuai dengan penafsiran yang menjadi semakin luas di-
terima di kalangan para sufi.
Muhammad, purwa rupa dari alam raya dan juga individu, “murid di mata umat manusia,” Manusia Sempurna yang diperlukan oleh Allah sebagai perantara, yang melaluinya Dia dapat mewujudkan diri-Nya agar
dikenal dan dicintai —-{ semua gagasan ini télah diuraikan seeara teologikal setelah Ibn ‘Arabi oleh para pengikutnya, yang di antara mereka ‘Abdul Karim Al Jili pada akhir abad keempat belas menempati
kedudukan yang panting dikarenakan teori teorinya mengenai Manusia Sempurna. Syair puji pujiannya untuk Nabi mermuat teori teori yang relevan secara ringkas:
Wahai Pusat kompas! Wahai lahan terdalam kebenaran!
Wahai poros kepastian dan kemungklnan!
Wahal mata seluruh daur eksistensi.’ Wahal titlk Al-Quran dan Al—Furqan!
Wahal orang yang sempurna, dan penyempurna dari yang paling sempurna, yang telah diperindah oleh keagungan Allah Yang Maha Pemurah!
Engkau adlalah Kutub (quthb) dari segala hal yang menakjubkan
Lingkaran kesempurnaan dalam kesendirianan berpaling kepadamu.
Engkau transenden, engkau kekal, milikmu adalah semua yang diketahui dan yang tldak diketahui, abadi dan takkan musnah
Millkmu dalam realilas adalah Maujud dan bukan maujud: nadir dan zenit adalah dua bajumu. -
Engkau sekaligus cahaya dan kebalikannya, tetapl engkau menjadi
kegelapan hanya bagi suatu makrifat yang kacau
Kepercayaan kepada peranan Muhammad sebagai prinsip penggerak dunia ini menjadi dasar bagi hampir semua lagu lagu pujian untuk menghormati Nabi, sebagaimana itu dilagukan dalam bahasa Arab dan bahkan Persia, Turki, dan Urdu. Hal itu juga tercermin dalam gambaran gambaran populer tentang kelahiran Nabi dan perjalanannya ke langit.
Tampaknya seolah olah para penyair telah mendahului para ahli teologi dengan memberikan kepada Muhammad nama nama dan julukan julukan yang lebih cemerlang, dan dengan memuji mujinya dengan berbagai kata pujian yang berlebih lebihan. Syair Sana’i dan ‘Attar, yang ditulis jauh sebelum Ibn ‘Arabi melakukan sistemisasi terhadap “Muhammadologi” mistikal, membuktikan bahwa gagasan gagasan ini telah ada jauh sebelumnya. Setelah Ibn ‘Arabi, yang ajaran ajarannya biasanya diterima dan disebarkan ke seluruh tarikat sufi yang berkembang pesat, mereka menyaringnya pada semua tingkat tasawuf, dan tampil secara lebih lantang lagi dalam lagu lagu pujian yang dinyanyikan untuk menghormati Nabi, mulai dari Maroko hingga India.
Di mata para sufi masa sesudahnya, Nabi tampak sebagi fajar yang berada di antara malam dari kehidupan makhluk dan siang dari cahaya Ilahi; melalui dialah orang bisa mengalami siang hari, dan dialah yang
merupakan awal dari Hari Ilahi. Seperti dikatakan oleh seorang sufi Naqsybandi di Sindh pada abad kedelapan belas:
Menakjubkan sekali realitas kawan itu
(yaitu, haqiqah Muhammadiyyah):
Orang tidak dapat menyebutnya Tuhan,
tetapi juga bukan makhluk. ’
Sebagaimana fajar
dia menyatukan malam dan siang.
Orang boleh menafsirkan peranan Nabi ini dalam citra citra yang berlainan: sebagai Penutup para Nabi, Muhammad bagi dunia ini adalah seperti batu untuk cincin, sebab pada batu itu tertulis sesuatu yang
dipakai raja untuk menyegel peti peti hartanya. Banyaknya perujukan tak langsung kepada hati sebagai ciri pengenal dalam literatur Islam pada abad-abad setelah Ibn ‘Arabi menulis karyanya mengenai profetolegi, yaitu Fushush Al Hikam (Permata Kebijakan), mungkin karena terilhami oleh karya ini, yang pada judulnya simbolisme ciri pengenal itu tampak nyata.
Dalam penafsiran mistikal mengenai peranan Muhammad, perujukan perujukan tak langsung Al Quran kepada dirinya selalu dipenuhi dengan makna baru, dan isi perujukan perujukan tak langsung itu sering terungkap dalam citra citra yang sangat berani — entah itu surah 54:1, “Telah dekat terjadinya kiamat, di mana bulan akan belah” atau surah 93, “Demi cahaya Pagi!” atau surah 17:1 dengan perujukan perujukan tak langsungnya kepada perjalanan malam, atau surah 53, “Bintang”.
Satu surah pendek Al Quran, surah 108, surah Al Kautsar, adalah yang paling disukai oleh kaum sufi, yang kebanyakan di antaranya telah menganggapnya sebagai ungkapan yang paling indah tentang kesempurnaan karunia yang diberikan oleh Allah kepada Nabi-Nya. Kata kautsar, dari akar k-ts-r, “banyak,” telah ditafsirkan sebagai nama sebuah air mancur yang diberkahi di surga; tetapi sekaligus ia juga menjadi lambang karunia sangat besar yang membedakan Nabi yang menerimanya, sedangkan musuh dan pemfitnahnya dihukum dan menjadi abtar, “yang putus”. Sebuah contoh khas penafsiran dari masa selanjutnya atas surah ini adalah yang ditulis oleh seorang sufi Naqsyabandi di Sindh pada abad kedelapan belas, ‘Abdur Rahim Girhori.
Ulasan puitikalnya yang panjang atas surah 108, dalam bahasa Sindh, jelas dipengaruhi oleh syair besar Jami‘, yang, seperti juga dia, menjadi anggota tarikat Naqsyabandiyah”. Tetapi dia melangkah lebih jauh dari
gurunya di Herat dan membuat Allah berkata, di antara kata-kata pujian yang melambung lainnya untuk Nabi:
Begitu banyak karunia yang tidak Ku berikan kepada siapa pun kecuali engkau.
Engkau adalah pemegang cangkir di depan air mancur itu
teruskan kini penyebarannya, wahai orang yang berani!
Kunci kunci menuju kekuasaan telah kuserahkan ke tanganmu, wahai kawan;
Pengetahuan tentang langit dan bumi adalah karunia untuk Ahmad.
Batu filosof itu telah kuberikan kepadamu, obat ajaib Adam,
wahai kawan.
Untuk Isa, sebagian tertentu dari karunia itu telah (diberikan) dari 0bat ajaib ini,
Yang dengan itu orang yang mati dibangkitkan, orang yang tuli bisa mendengar
Untuk orang buta: mata jadi bisa melihat; dan orang lepra lepaslah penyakit itu
Apa pun yang tertulis dalam Taurat adalah bagaikan sesesap air dari samudera luas,
Seluruh ketampanan Yusuf adalah tanda karunia itu.
Hanya sedikit dari cinta kasihmu, wahai Ahmad, telah sampai kepada Zulaikha
Surga adalah bagian dari samudera itu, seolah olah ia merupakan es samudera itu.
Neraka berada di depan pintumu, memohon bagaikan peminta minta,
Tanpa izinmu ia tak memiliki kekuatan untuk membakar orang orang kafir
Surga adalah perwujudanmu yang sangat indah, suatu pandangan penuh cinta
Rupa kemarahanmu, wahai orang yang suci, adalah api neraka.
Langit, bumi, surga tertinggi, Tahta Tuhan, manusia, jin, dan para malaikat
Hidup, Kekasihku, dengan selalu bergantung kepadamu.
Sayang, umat manusia menjadi berharga karena cahayamu,
Karena cerminanmu, Cintaku, kuncup dan bunga bermekaran. . ..
* Semua gagasan ini tentu saja tidak baru; yang baru adalah penggunaannya dalam bahasa Sindh. Lihat misalnya Jami‘, Diwan, h. 195, ghazal no. 157:
Wahal engkau yang cemerlang! “Demi cahaya pagi” (surah 93: 1) adalah dahimu, “Demi malam!” (surah 92: 1) adalah selubungmu yang berwama batu ambar;
Thaha (surah 20) adalah lembar dari kisahmu,
Yasin (surah 36) adalah batas lengan bajumu;
Surga adalah hasil karuniamu yang berlimpah;
Neraka adalah percikan bara kemarahanmu.
Dalam tradisi Sindh, sebuah Siharfi modern oleh Kamal Faqir (wafat 1927) mengungkapkan gagasan gagasan yang sama dengan sangat jelas: bukan hanya para nabi itu tampil sebagai muird murid Muhammad, tetapi Taurat dan Injil pun merupakan ulasannya; dalam Baloch, Tih Akharyun, 1: 294-303.*
Tentu saja mungkin bahwa gagasan-gagasan yang begitu tinggi mengenai peringkat primordial Muhammad dan kedudukan utamanya dalam sejarah alam raya akan merosot menjadi citra citra dongeng yang aneh, terutama pada tingkat rakyat, dan ungkapan yang tepat dalam bahasa Persia hama ust, “Segala sesuatu adalah Dia,” benar-benar menuntun para penyair yang bodoh ke arah apa yang dapat dikatakan sebagai pernyataan pernyataan “bid‘ah” karena keinginan mereka untuk memuji muji Muhammad setinggi mungkin.
Tetapi, para ahli teologi dan pakar yang lebih waras selalu sadar akan adanya bahaya ini. Sesungguhnyalah, bagaimana mereka tidak begitu, sedangkan seorang penyair Urdu pun berani berlantun: (*admin: puisi di bawah hanya sebagai contoh betapa pemujaan terhadap Nabi Muhammad yang Agung, kadang melampaui batas keimanan, untuk itulah diperlukan kontrol kesadaran iman yang tinggi)
Bagaimana orang tahu peringkat Pemimpin dunia kita itu?
Jika engkau ingin mencapai Tuhan, kenali Muhammad sebagai Tuhan!
*Enamul Haqq, Sufism in Bengal, h. 94, catatan 2. Pada bulan Desember 1982 seorang wanita Turki yang sering mengunjungi seorang guru sufi di Istanbul mengatakan kepada saya, dengan penuh ketakutan, bahwa para murldnya menganggap bahwa Muhammad itu benar benar sama dengan Allah — bagaimana dia sebagai Muslim yang berpegang-teguh kepada syari‘ah dapat bergaul dengan orang orang semacam itu?
Bahkan para pengikut paling setia Ibn ‘Arabi mungkin akan ngeri dengan perkataan semacam itu, “Tuhan tetap Tuhan, dan hamba tetap hamba”
Tampaknya penambahan dongengan kepada kisah penciptaan yang menyangkut Muhammad itu bukannya tidak diketahui, terutama di lingkungan India, Syaikh Chand, penyair Bengal dari Abad Pertengahan yang kata katanya mengenai Cahaya Muhammad kita kutip sebelumnya, melukiskan penciptaan dunia dari tubuh Muhammad primordial dalam istilah istilah yang begitu konkret dan mengingatkan kita kepada dongengan Vedic:
Tujuh langit itu diciptakan dari tujuh bagian tubuh Muhammad:
Langit pertama adalah langit langit mulut, yang kedua dari dahi,
Yang ketiga adalah dalam lubang hidung, yang keempat adalah dasar bibir atas.
Yang kelima, engkau tahu, adalah tenggorokan,
Yang keenam ada di dalam dada,
Yang ketujuh ada di dalam pusar
* Qazi Abdal Mannan, “Sufi Literature in Bengal,” h, ll. Gagasan itu mengingatkan kepada Purusa sakta dalam tradisi Veda, meskipun sebagian orang mungkin lebih suka melihat pengaruh pengaruh dongeng dongeng Qadmon Adam Makrifat. Tetapi di Bengal, pengaruh India lebih besar daripada pengaruh mitologi Timur Dekat.
Dalam sistem klasikalnya Jili para malaikat diciptakan dari kekuatan spiritual Muhammad (Israil dari jantungnya, Izra‘il dari penilaiannya, dan sebagainya).Tetapi Syaikh Chand mengatakan kepada para pen-
dengarnya bahwa mereka muncul dari tubuh primordial Nabi:
F arista (malaikat: bahasa Persia firisyta) Israfil diciptakan dari hidung
Dan Izra‘il dari telinga,
Dari mulut hkeluar Zibril (Jibril)
Dari mata munecul Mika ‘il.
Bersama setiap farista datanglah 70.000 lagi
Dari setiap helai rambut masing-masing farista terlahir farista lain,
Dari 300 juta rambut di badan muneul 300 juta farista.
Dengan demikian dari nur Muhammad terjadilah penciptaan.
Dan, lanjut pengarang, atas perintah Tuhan ciptaan ini menjadi murid Muhammad.
Mengingat kedudukan Muhammad yang unik maka tidaklah mengherankan bahwa namanya dilantunkan dalam doa doa yang tak terbilang banyaknya, dan bahkan dalam mantra-mantra sihir, untuk memastikan keberhasilan dan meminta bantuan. Sebuah contoh yang bagus adalah doa panjang berbahasa Persia, yang dinamakan Munajat-i kun fa yakun (Doa “]adi, dan Jadilah”) di mana bukan hanya nama nama semua nabi, para sahabat, imam, dan orang-orang suci disebutkan, tetapi juga empat puluh kali permohonan “Demi kehormatan . . .Muhammad,” biasanya dilantunkan dalam pasangan irama atau aliterasi; misalnya:
Demi kehormatan sifat, khu, Muhammad dan ikal, gesu,
Muhammad, _
Demi kehormatan hati, dil, Muhammad, dan lempung, gil,
/ Muhammad,
Demi keharmatan ketampanan, jamal, Muhammad dan kesempurnaan, kamal, Muhammad,
Demi kehormatan selera, dzauq, Muhammad dan kerinduah, syauq, Muhammad,
Demi kehormatan jalan, thariqat, Muhammad dan hukum, syariat, Muhammad,
Demi kehormatan mahkota, taj, Muhammad dan perjalanan ke langit, mi‘raj, Muhammad,
Demi kehaormatan perjalanan, safar, Muhammad dan kemenangan, zhafar, Muhammad, -
Demi kehormatan penengahah, syaf`at, Muhammad dan keberanian, syaja‘at, Muhammad. . .
Puji-pujian lain, yang dikatakan dapat “menyembuhkan penyakit,” menggunakan rumusan rumusan yang sama: setelah pengakuan imam diikuti dengan rumusan
Tidak ada penyakit dan luka yang tidak ada obat atau penyembuhannya
Demi kehormatan Muhammad Rasul Allah
Lalu diikuti dengan nama seorang Sahabat Nabi, lalu pengulangan yang sama atas rumusan pertama, dan seterusnya sampai semua Sahabat dan semua khalifah (atau, dalam puji pujian yang berkaitan, semua
anggota tarikat tarikat sufi dari Nabi hingga orang orang suci terkemuka abad pertengahan) disebutkan satu demi satu. Tetapi, puji-pujian untuk Muhammad merupakan titik utama semua puji-pujian ini. Mereka juga menjadi bukti bagi kepercayaan yang tak tergoyahkan dari kaum beriman kepada kekuatan Nabi, dan keyakinan mereka kepadanya, yang pertama dan terakhir dalam rangkaian para nabi.
Adalah mengherankan bahwa meskipun Nabi menempati kedudukan terpenting dalam tradisi sufi, dan terutama dalam ajaran sufi populer pasca abad ketiga belas, banyak kritikus dari luar tetap sadar akan peranan mulia yang dimainkannya dalam kehidupan beragama para pengikutnya. Ini tampak jelas dari contoh mengenai beberapa penafsir Hindu atas puisi Muslim di India. Meskipun sejumlah orang Hindu adalah pengikut setia orang orang suci Muslim, dan bahkan melantunkan lagu-lagu pujian untuk Nabi dalam bahasa Urdu dan Sindh, tampaknya banyak di antara mereka yang tidak dapat mengukur kedalaman pemujaan mistikal kepada Nabi.
Sebuah contoh bagus adalah Lilaram Watanmal, yang pada 1889 menerbitkan buku pertama yang bercakupan luas mengenai penyair sufi Sindh, Shah ‘Abdul Latif. Dia menulis dengan cara yang rendah hati:
Shah Latif pun, dalam karyanya Risalo, di beberapa tempat, telah mengesankan pendengarnya tentang perlunya kepercayaan kepada Muhammad sebagai seorang nabi dan sesuatu lainnya. Memang benar bahwa sebagian dari puisinya yang memuji-muji nabi, yang agak kasar bahasanya, bukan milik penyair kita . . . Tetapi tidak dapat diragukan lagi bahwa ada beberapa puisi asli di mana penyair kita telah mengungkapkan kepercayaan penuhnya kepada nabi . . . Kaum Mahommad (sic) mungkin mempercayainya sebagai nabi
utama dari Tuhan. Tetapi kaum sufi tidak dapat, sesuai dengan doktrin doktrin panteistik mereka, mengatakan bahwa Mahommad adalah satu satunya sarana penyelamatan . . . Ada kemungkinan bahwa Shah Latif ingin
menuntun pikiran para pengikutnya secara pelan pelan dan lambat laun menuju ajaran sufi yang lebih tinggi dengan membiarkan mereka untuk pertama tama mempercayai nabi mereka, dan kemudian setahap demi setahap naik lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.
Watanmal, yang, seperti semua ahli tafsir Hindu lainnya atas puisi Sindh dan Punjab, berusaha menjelaskan ajaran sufi sebagai suatu versi yang kurang lebih bersifat panteistik dan agak keislam-islaman dari ajaran mistik Veda mengenai Keesaan, mungkin telah mengenal Islam dari luar tetapi tidak begitu sadar akan kedudukan utama Muhammad sebagai penengah dan “tiang cahaya,” sebagai Manusia Sempurna dan
yang pertama dan terakhir di antara para nabi, sebagaimana terungkap selama berabad abad dalam berbagai citra dan lambang, dan sebagaimana hal itu ditetapkan sebagai yang sangat menentukan dalam pengalaman keagamaan di lingkungan yang luas di dunia Islam.
Bagaimanapun juga, kita harus selalu ingat akan satu fakta penting: meskipun Muhammad diangkat ke ketinggian yang terpuji dan mencapai kedudukan yang dapat diperbandingkan, dalam cara tertentu, dengan kedudukan Logos dalam teologi Kristen, _bahkan sebagai Manusia Sempurna, dia tetaplah ‘abduhu — hamba Tuhan dan makhluk ciptaan-Nya, yang paling dicintai di antara semua ciptaan-Nya. Meskipun beberapa penyair tampaknya melanggar batas-batas yang sewajarnya dalam puji-pujian mereka, gagasan mengenai suatu inkarnasi dalam pengertian Kristen mutlak mustahil dalam tradisi Islam.
Selama berabad-abad kaum ortodoks Islam merasa, dan itu dapat dipahami, tidak cocok dengan pemujaan mistikal yang terus tumbuh untuk Nabi, yang tampaknya di mata kebanyakan mereka terlalu berlebih lebihan dan tidak selaras dengan jiwa esensial Islam. Dengan tepat mereka,menyatakan bahwa poros Islam itu bukan soosok Nabi melainkan Firman Tuhan, sebagaimana yang diwahyukan melaluinya dan dituliskan dalam Al-
Quran. Sekalipun demikian, tampaknya kecintaan yang melimpah untuk Nabi, kepercayaan kepadanya dan pemujaan kepadanya, merupakan faktor yang menentukan dalam penggubahan puisi dan kesalehan rakyat, dan menawarkan kepada kaum Muslim suatu objek manusia yang kepadanya mereka dapat menumpahkan perasaan kelembutan dan kekaguman mereka.
Aspek manusiawi Nabi, dan kemungkinan bertemu bermuka muka dengannya, yang tampaknya lebih dapat dicapai dibanding Esensi Ilahi yang abadi, mengisi hati mereka dengan kebahagiaan. Dan barangkali merupakan suatu akibat wajar dan logis dari kecenderungan “Makrifat” tasawuf Islam dari masa sesudahnya, di mana pertemuan yang penuh kasih sayang antara manusia dan Tuhan Pribadi yang sekaligus adalah Pencipta, Penjaga dan Hakim, tidak lagi dianggap mungkin, sehingga imajinasi kaum beriman berpindah kepada penghormatan kepada Nabi, yang dengan segala kebesaran mistikalnya tetap meyupakan sosok manusia yang kepadanya sesama makhluk dapat berpaling dengan penuh kasih sayang, harapan, dan pemujaan, yang
kemudian mereka usahakan untuk mengungkapkannya dalam kata kata yang baru, lebih kaya warna dan ekstatik.**

