* Oleh: Annemarie Schimmel
(Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam)
Dan sebelumnya Rumi lagi lagi bertanya:
Bagaimana mungkin kaml melakukah kesalahan?
Karena kami berada dalam cahaya Ahmad!
Keikut sertaan dalam cahaya Muhammad inilah yang membedakan orang beriman yang sejati, dan setelah dia menenggelamkan dirinya ke dalam cahaya primordial ini, neraka akan berkata kepadanya: “cahayamu telah mematikan api ku”. Sebab api neraka, sebagai ciptaan, dapat dimatikan, sedangkan Cahaya Muhammad, yang telah ada dalam prakeabadian, tidak dapat diganggu gugat.
Pada tingkat yang berbeda konsep Muhammad sebagai nur al anwar, “cahaya dari segala cahaya” dikaitkan dengan dongengan bahwa dia tidak mempunyai bayangan. Sebagaimana dijelaskan oleh Najm Razi,
dia, dari satu sudut pandang, adalah matahari,
dan matahari tidak mempunyai bayangan
sebagaimana dia, dari sudut pandang yang lain, “adalah raja agama,” dan “raja itu adalah bayangan Tuhan
di atas bumi,” dan sebuah bayangan tentu saja tidak mempunyai bayangan. Juga dikatakan bahwa cahaya ini dapat menyala seperti lampu di gelap malam. Para seniman kaligrafi menganggap wajar bahwa karena alasan ini tak satu pun dari nama-nama asli Nabi Muhammad, Ahmad, Hamid, dan Mahmud, ataupun julukannya rasul Allah mempunyai tanda tanda pembeda dalam penulisan bahasa Arab: cahayanya tidak ternoda oleh titik-titik hitam ketika nama dan statusnya ditulis.”
Di wilayah wilayah tertentu seluruh dongengan itu berkembang dari spekulasi spekulasi mengenai nur Muhammad. Cara yang digunakan oleh seorang penyair sufi Bengal dari abad kelima belas, Syaikh Ehand, untuk melukiskan awal penciptaan tentu saja tidak akan dapat diterima oleh kaum Muslim yang lebih ortodoks dan kurang berminat kepada puisi, tetapi itu kurang lebih merupakan suatu sarana untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran yang disebutkan dalam tulisan tulisan Ibn ‘Arabi dan para penggantinya:
Pemilik nur (cahaya) dengan sebatang tongkat ditangannya,
memandang ke timur.
Penciptaan dimulai dengan nur Muhammad.
Allah membawa nur dari hatinya sendiri.
Setelah melukiskan bagaimana nur Muhammad dikaruniai kesadaran, nafsu, akal, tujuan, kekuatan, dan juga kematian, dia melanjutkan:
Maka Allah mengucapkan kata kun (Jadllah),
Kaf dan nun, kedua huruf ini tercipta,
Dan dengan menggabungkan kedua huruf ini, Allah mengungkapkan diri-Nya.
Kaf mewakili kalimah (pernyataan iman) dan nun mewakili nur
(cahaya), dari salah satu antara keduanya.
Karena keeintaan-Nya kepada nur, Allah menetapkan alam raya,
Dengan melihat keindahan nur, dia menjadi terpesona
Dan terpikat dan memandang kepadanya . . .
Kesamaan dengan pelukisan Khaqani mengenai tindak penciptaan (yang tersebut di atas) tampak jelas.
Hubungan silang antara spekulasi spekulasi Sahl Al-Tustari, Hallaj dan Ibn ‘Arabi di satu pihak, dan doktrin doktrin Syi‘ah tentang cahaya para Imam di pihak lain, adalah sangat mungkin, tetapi sulit sekali
untuk memperkirakan artikulasi mereka yang setepatnya. Hal yang sama juga berlaku untuk pengaruh dari gagasan gagasan Helenistik-Makrifat yang mungkin merupakan dasar dari seluruh mistikisme cahaya serta dasar dari tradisi-tradisi lain di mana Nabi ditinggikan peringkatnya menjadi hampir seperti manusia super.
Banyak riset telah dilakukan untuk menyelidiki aspek-aspek profetologi mistikal ini, tetapi gambaran sejarah yang sempurna masih bélum jelas sepenuhnya. Sejalan dengan berkembangnya gagasan bahwa Muhammad merupakan cahaya asli dalam penciptaan, timbul keinginan untuk mengangkat Nabi dalam setiap hal yang memungkinkan, dan memberinya kedudukan yang jauh melebihi peringkat manusia. Kecenderungan yang
semakin meningkat adalah melupakan bahwa sebagian dari para tokoh sufi paling awal — di antara mereka adalah wakil pertama tasawuf cinta, Rabi‘ah dari Basrah (wafat 801) — pemah menyatakan bahwa kecintaan kepada Allah telah memenuhi hati mereka sebegitu rapatnya sehingga tidak ada lagi ruang bagi cinta kasih yang khusus untuk Nabi.
Tetapi satu abad kemudian, ketika sufi Al Kharraz memberikan jawaban yang sama kepada Nabi, yang dilihatnya di dalam mimpi, dia menerima jawaban: “Orang yang mencintai Allah, pasti juga mencintaiku!”. Sekalipun demikian, beberapa tokoh sufi dari masa sesudahnya masih takut untuk memberikan kepada Nabi kedudukan yang terlalu tinggi. Syibli, misalnya, berkata kepada Allah ketika dia mengucapkan panggilan untuk shalat (yang berisi dua pengakuan iman): “Jika Engkau tidak memerintahkannya, aku tidak akan menyebutkan nama siapa pun di samping namaMu” Tetapi keragu-raguan semacam itu, yang
muncul dari perasaan bahwa menyebutkan tentang “utusan Allah” di tempat yang begitu menonjol akan merusak Keesaan Allah yang tak ada bandingnya, dihapuskan oleh banyak sufi dari masa selanjutnya.
Hujwiri, ketika berbicara tentang perjalanan Bayazid Bistami ke langit, mengungkapkan tentang pertanyaan yang banyak membingungkan para sufi: “Apa yang harus aku lakukan?” Allah menjawab: “Wahai Abu Yazid, engkau harus membebaskan dirimu dari ’ke-engkau-an’ dengan menjadi pengikut kekasih-Ku. Sapulah matamu dengan debu kakinya, dan ikutilah dia terus.”
Setidak-tidaknya sejak masa hidup Muqatil, pemuliaan mistikal terhadap Muhammad berkembang pesat. Banyak hadis kini dikutip untuk membuktikan bahwa dia merupakan makna dan tujuan penciptaan. Dalam salah satu hadis dia berkata: “Aku telah menjadi nabi, sementara Adam masih berwujud antara air dan lempung,” yaitu, belum tercipta.”
Nabi juga diriwayatkan pernah berkata, “Yang pertama tama diciptakan Allah adalah jiwaku;” tetapi orang mendapati penyataan petnyataan yang bertentangan seperti “Yang pertama-tama diciptakan Allah adalah Pena” (yang ternyata “identik dengan Jiwa Muhammad”) atau “Akal.”
Najm Razi dengan terampil menggabungkan ketiga hadis yang tampaknya saling bertentangan itu dengan menafsirkan ketiganya sebagai menyangkut Nabi: “Ketika Allah Yang Mahakuasa
menciptakan jiwa Muhammad dan memandangnya dengan penuh kasih sayang, rasa malu menguasai jiwanya, dan mengakibatkannya jadi terbelah dua, separuh dari Pena Allah menjadi Jiwa Nabi, dan separuh yang lain menjadi Akal Nabi”.
Yang sangat penting dalam perkembangan ini adalah sebuah hadits qudsi, yaitu wahyu di luar Al-Quran, di mana Allah berfirman: Laulaka ma khalaqtu’l-aflaka,
“Jika engkau tidak ada (yaitu, tetapi demi engkau), Aku tidak akan menciptakan dunia itu”.
Hadis ini menjadi begitu panting, terutama dalam` bahasa puitikal, sehingga Muhammad sering disapa sebagai “penguasa laulaka”. Masih ada lagi firman Ilahi lainnya yang dikutip berulang ulang sebagai bukti bagi peringkat Nabi yang sangat tinggi, terutama dalam tradisi India:
“Dari Tahta sampai ke sesuatu yang ada di bawah debu, segala sesuatu mencari keridhaanNya,
dan aku lebih dulu mencari keridhaanmu, wahai Muhammad”.
Para sufi dan penyair masa sesudahnya tidak ragu ragu untuk menerapkan kepada Nabi hadits qudsi yang berbunyi: Kuntu kanzan makhfyyan “Aku adalah kekayaan yang tersembunyi, dan Aku ingin dikenal; itulah sebabnya Aku menciptakan dunia”
Allah, karena ingin sekali dalam kesendirian pra-keabadianNya untuk dikenal dan dicintai, meciptakan Muhammad sebagai cermin pertama cahaya dan keindahan-Nya, suatu cermin diimana Dia dapat melihat diriNya sendiri dengan penuh kecintaan.
Oleh karena itu, hadis yang berbunyi “Siapa yang pernah melihatku, telah melihat Al Haqq” (telah melihat realitas, Kebenaran, yaitu Allah)“ sering ditafsirkan sebagai mengandung arti bahwa Muhammad itu benar-benar merupakan cermin sempurna Keindahan llahi, tempat perwujudan semua nama dan atribut Ilahi, yang melalui keindahannya orang akan memahami Keindahan dan
Kesempurnaan Ilahi.“
* Furuzanfar, Ahadits-i Matsnawi no. 163, dari Bukhari dan Muslim. Dalam Suyuti, Al Jami’ As-Shaghir, yang dikutzip oleh Furuzanfar, hadis itu dikemukakan dengan tambahan la yatazayya bi, “sebab Setan tidak mengambil bentuknya;” yaitu bahwa melihat Nabi dalam suatu mimpi atau bayangan berarti benar-benar melihat dia.
Bagaimanapun juga, penafsiran akan haqq, “kebenaran,” sebagai Kebenaran Ilahi menjadi umum setidak tidaknya dari masa Al-Hallaj; dia menafsirkan perkataan ini sebagai yang mengacu kepada Muhammad dalam keadaan menyatu mutlak dengan Tuhan, ‘ayn al-jam‘ (Kitab At Tawasin, hal. 80, ulasan mengenai “Tasin As-Siraj”). Rumi mengemukakan bahwa Nabi pemah berkata “Ketika engkau melihatku berarti engkau melihat Tuhan,” dan Iqbal mengambil gagasan itu dalam puisinya yang baru, Armaghan-i Hijaz, hal. 71. Hal itu diterima secara luas dalam pengertian ini di kalangan para Sufi.
Risalah-risalah pendek dari tokoh Sufi Naqsyabandi India, Miskin, pada abad kesembilan belas memuat paragraf panjang mengenai jamal i Muhammadi, “keindahan Muhammad,” seperti: “Kekasih yang Sejati (Tuhan) telah mengambil cermin Esensi Muhammad di hadapan wajahNya dan berkata ’Aku adalah kekayaan yang tersembunyi . . .”’ (“Risala-i suluk,” dalam Ladzdzat-i Miskin, 2: 74; bandingkan dengan ibid., 2: 88, 96 dan “Tariq-i mahbub,” ibid., 2: 100; dan “Dida.r -i yar,” ibid., 2: 104).
Ibn ‘Arabi menempatkan hadis mengenai “kekayaan tersembunyi” itu pada pusat sistemnya, dan pada diri penggantinya serta penafsir puisinya, ‘Jami, para penyair itu berlantun:
Allah menjadikanmu cermin Esenssi
Sebuah cermln untuk Esensi yang unik
atau:
Dari “Aku adalah kekayaan” sifatmu yang sejati menjadi jelas:
Sosokmu adalah cermln Cahaya sempurna
Nabi juga dipandang sebagai benih dan buah penciptaan, atau sebagai pohon besar — suatu cerminan dari dongeng-dongeng mengenai Pohon Kosmik atau Pohon Kehidupan. Maulana Rumi menafsirkan mimpi seseorang mengenai sebatang pohon di pantai samudera sebagai berikut: “Samudera yang tak berbatas itu adalah Kebesaran Allah Yang Mahatinggi, dan pohon yang besar itu adalah eksistensi Muhammad yang diberkahi, dan cabang cabang pohon ini adalah peringkat peringkat para nabi dan kedudukan orang orang suci, dan burung-burung besar itu adalah jiwa jiwa mereka, dan lagu-lagu yang berbeda yang mereka nyanyikan adalah misteri-misteri dan rahasia rahasia lidah mereka”.
Gagasan-gagasan yang serupa – yang jauh lebih dikenal oleh kaum Muslim Abad Pertengahan dibanding fakta-fakta sejarah mengenai kehidupan Nabi — terdapat, misalnya, dalam literatur Indo-Muslim. Pada abad keenam belas Manjhan berlantun dalam karya epiknya, Madzumalati, setelah menyebutkan tentang “cahaya Muhammad”:
Muhammad, setelah menjadi akar pohon (kosmik),
Seluruh alam raya menjadi cabangnya.
Tuhan memasanghan mahkata sembilan lakh (100.000an) di atas kepalanya.
Tidak ada yang dapat menyamainya.
Dia adalah tubuh itu, dan seluruh dunia adalah cerminannya.
Dia adalah pencipta tersembunyi yang dikenali setiap orang;
Muhammad, yang merupakan perwujudan Tuhan, tak seorang pun tahu.
Dia yang bisa dilihat, tak terlihat dan tak terbatas,
Yang sama telah mengambil bentuk Muhammad,
Nama bentuk itu tetaplah Muhammad. . . .
Kepercayaan kepada pra-eksistensi esensi Muhammad ini, yang pertama tama diuraikan oleh Sahl Al Tustari dan Hallaj, yang dipuji puji dengan kata-kata indah oleh para pengarang seperti Al-Tsaflabi dan dibuat sistematik menjadi teori oleh Ibn ‘Arabi, selanjutnya meresap ke dalam ajaran tasawuf. Sebagaimana ditulis oleh seorang India dari akhir abad kesembilan belas dalam salah satu dari banyak risalahnya mengenai ”Sang Kekasih”.
Benih esensi Muhammad itu diselubungi dan tak terlihat di lahan non-eksistensi.
Ketika matahari Eksisten yang Nyata dan Kekasih yang Nyata (yaitu Tuhan) dipancarkan atasnya, dan ketika benih itu, yang merupakan “Rahmat bagi seluruh dunia,” menerima air Rahmat, ia mengangkat kepalanya dari
lahan non-eksistensi,
dan segala sesuatu di samping Tuhan, yang terdapat di antara bumi dan Tahta, antara Timur dan Barat, mengangkat kepalanya dari rahim yang diberkahi dari Esensi Muhammad dan menemukan kesegaran dan
pesona.
Oleh karena itu Tuhan berfirman, Laulaka, “Tetapi demi engkau . . .”
jika bukan karena Muhammad, tidak akan ada manusia,
Dan kedua dunia itu tidak akan tercipta.
Dalam tasawuf setelah Ibn ‘Arabi, pra eksistensi Nabi, yang dinamakan al haqiqah al Muhammadiyyah, dianggap sebagai sumber semua aktivitas kenabian. Sebab haqiqah Muhammadzyyah ini — suatu istilah yang sering diterjemahkan sebagai “Pola Dasar Muhammad” — mewujudkan dirinya pertama kali dalam diri Adam, lalu dalam diri semua nabi lain, sampai ia menemukan ungkapannya yang sepenuhnya sekali lagi dalam diri Muhammad yang historikal, yang karenanya menjadi Alfa dan Omega dari penciptaan. Muhammad sang Nabi adalah perwujudan yang mencakup keseluruhan “dan sempurna dari cahaya primordial, dan bersamanya daur perwujudan itu berakhir, sebab dia adalah Penutup para Nabi. Dalam tradisi Arab, Ibn Al Farid (wafat 1235) ada di antara tokoh-tokoh pertama yang mengungkapkan pemikiran pemikiran semacam itu, dalam Ta’iyyah-nya yang besar:
Dan tak satu pun dari mereka (para nabi sebelumnya) yang tidak menyeru umatnya
Menuju Kebenaran dengan karunia Muhammad dan karena dia adalah pengikut Muhammad.
Gagasan-gagasan ini selalu diulang ulang dalam puisi sesudahnya. Dalam tradisi Persia, Jami‘-lah yang terutama suka menyanyikan, dalam syair pembukaannya yang panjang dari karya karya epiknya, mengenai perkembangan yang menakjubkan ini. Menurut kata katanya, risalah setiap nabi yang pernah hidup tidak lain adalah bagian dari risalah Muhammad yang sangat luas:
Cahayanya muncul di dahi Adam
Sehingga para malaihat menekurkan kepala mereka bersujud;
Nuh, di tengah bahaya banjir,
Menemukan pertolongan darinya dalam pelayarannya;
Harum karunianya sampai kepada Ibrahim, ‘
Dan mawarnya bermekaran dari tumpukan kayu bakar Namruj.
Yusuf mendukungnya, di istana kebaihan
(Hanya) seharga seorang budak, tujuh belas dirham.
Wajahnya menyalakan api Musa,
Dan bibirnya mengajarkan kepada ‘Isa bagaikan menghiduphan
orang yang mati. **

