* Oleh: Annemarie Schimmel
(Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam)
nabimuhammad.info _ Salah satu tema pokok (kalau bukan satu-satunya tema pokok) dari prefetologi tasawuf adalah Cahaya Muhammad, nur Muhammad. Itu adalah seperti cahaya matahari, yang di sekitarnya segala sesuatu berputar; ia adalah “cahaya nama” yang oleh Iqbal, seperti juga banyak penyair lain sebelumnya, disebutkan dalam sajak sajaknya. Gagasan itu telah “ mewarnai setiap ungkapan kesusasteraan dari Islam mistikal (tasawuf), dan juga telah menjadi ciri luas dalam Islam rakyat, sejak masa-masa awal hingga abad kita sekarang ini.
* mengenai “cahaya” banyak terdapat dalam judul judul buku yang membicarakan tentang Nabi atau tentang hadis, dari koleksi hadis yang berjudul Misykat Al Masabih, “Ceruk untuk Lampu-lampu,” sampai karya ‘Aqqad Matali‘ An-Nur “Tempat tempat Terbitnya Cahaya;” dari karya Busiri Al-Kawakib Ad-Durriyyah, “Planet-planet yang Bercahaya . . . ,” sampai puisi Turki modern karya Kisakurek dengan judul Cole Inean Nur, “Cahaya yang Turun ke Gurun Pasir.”
Salah satu pengalaman yang paling mengharukan yang dapat dialami oleh seorang pengunjung ke Pakistan atau India adalah qawwali, suatu perkumpulan yang di dalamnya musik keagamaan dinyanyikan. Penyanyi utama dan paduan suara pengiringnya lambat laun terbawa perasaannya dan, seperti kebanyakan para pendengar mereka, tampaknya mencapai tahap mendekati ekstase.
Di antara lagu-lagu yang paling sering diperdengarkan pada kesempatan kesempatan semacam itu adalah sebuah ghazal Persia yang dianggap sebagai karya Amir Khusrau, penyair dan pemusik India Abad Pertengahan, yang kepadanya music Hindustan berutang budi, kalau bukan untuk dasarnya, maka setidak tidaknya untuk daya dorongnya yang sangat penting.
Syair itu dimulai dengan:
Namidanam che manzil bud syabgahi ki man budam:
Aku tidak tahu tempat manakah itu,
tempat yang pernah kudatangi di malam hari.. . .
dan setelah membicarakan tentang suatu perayaan malam yang misterius di mana Tuhan sendiri muncul sebagai pemegang cangkir, penyair itu mengakhirinya dengan baris yang menecengangkan:
Muhammad syam-i mahfil bud . . .
Muhammad adalah lilin di sana —
tempat yang pernah kudatangi di malam hari
Nabi Muhammad adalah lilin bagi majelis itu, syam’-i mahfil, cahaya yang menerangi kegelapan dunia ini di mana para pendengar itu berkumpul, lilin yang bersinar yang di sekelilingnya hati manusia berkerumun bagaikan laron yang tersihir.
Di antara semua atribut dan penggambaran yang telah dijalin diseputar pribadi Nabi untuk menyelubunginya dengan tabir puji-pujian yang bercahaya, mereka yang menyatakannya sebagai bagian dari alam
cahaya itu adalah yang paling umum.
Sesungguhnyalah, Al Quran sendiri (surah 33:46), sebagaimana yang kami pahami, menamai Nabi
sirajun munir, “sebuah lampu yang bersinar”. Suatu ungkapan yang diambil alih oleh Hassan ibn Tsabit, yang pernah menggambarkan Muhammad sebagai seseorang yang membawaceahaya dan kebenaran di
dalam kegelapan (seperti dalam surah 5:15);
Datanglah kepadamu dari Tuhan seberkas cahaya dan sebuah kitab yang jelas!
Lebih jauh lagi, dalam menggambarkan perang Badar, Hassan menyatakan bahwa wajah Nabi bersinar bagaikan bulan pumama, badr,
* Hassan ibn Tsabit, Diwan, no. 34, baris 8: bandingkan juga dengan no. 9, baris 21. Ibn ‘Arabi menganggap sahabat Muhammad, Ibn ‘Abbas, sebagai pencipta sebuah syair puji pujian yang, bagaimanapun juga, memuat seluruh terminologi teosofis dari masa masa sesudahnya; pengarangnya — siapa pun dia — menggambarkan cahaya Nabi yang menyinari bumi pada saat kelahirannya, dan sebagajnya. Lihal: Deladriere, La Profession de Foi d’Ibn ‘Arabi hal. 125.
Ibn Al Farid pun, dalam puisinya “Tih dallan,” berlagu:
Masyarakat Badr berada dalam arak arakan di mana engkau melakukan perjalanan di malam hari
Tidak, sebaliknya mereka bepergian di siang hari di bawah cahayamu . . .
Dikutip 0leh Arberry, Aspeets of Islamie Eivilization, hal. 66, dan Nieholson, Studies in Islamie Mystieism, hal. 174.
Dan dalam lagu belasungkawanya untuk Nabi yang dipuja puja itu dia menyebutkan juga cahaya terang yang bersinar pada saat kelahiran Muhammad, suatu topik yang diulang berkali kali dalam literatur:
Dan dia yang dituntun menuju cahaya yang penuh rahmat, dtunjuki dengan benar.
Pernyataan puitikal ini tampak bagaikan pendahuluan bagi penafsiran atas ayat Cahaya dalam Al Quran sebagaimana dikemukakan oleh ahli teologi Muqatil pada abad keenam. Kelihatannya dia adalah orang pertama yang menafsirkan kata-kata dari ayat ini sebagai
mengacu kepada Nabi:
Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi; persamaan dari cahayaNya adalah seperti sebuah ceruk yang di dalamnya terdapat sebuah lampu
lampu itu berada dalam sebuah kaca,
dan kaca itu seolah olah sebuah bintang yang bersinar yang dinyalakan dari sebatang Pohon yang Diberkahi,
sebatang pohon zaitun yang tidak berasal dari Timur maupun Barat,
yang minyaknya hampir menyala bahkan sekalipun tidak ada api yang menyentuhnya:
Cahaya di atas Cahaya
Allah menuntun menuju Cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki
Allah membuat beberapa perumpamaan kepada manusia
Dan Allah mengetahui segala-galanya. (surah 24:35).
Lampu, mishbah, itulah yang dianggap Muqatil sebagai suatu lambang yang tepat bagi Muhammad. Melalui dia Cahaya Ilahi dapat menyinari dunia, dan melalui dia umat manusia dituntun menuju
sumber cahaya ini.
Kata-kata “tidak dari Timur maupun Barat” diambil sebagai merujuk ke sifat tugas Muhammad yang menyeluruh,
yang tidak terbatas pada satu bangsa atau ras tertentu dan yang melampaui batasan batasan waktu dan ruang.
* Lihat Hallaj, “Tasin As Siraj,” dalam Kitab At-Tawasin, hal. 12, yang juga menggabungkan julukan ini dengan sebutan Makki “sebab dia tabah dalam kedekatan denganNya” dan harami, “menjadi milik tempat suci (Makkah)” dikarenakan karuniaanya yang sangat melimpah.*
Sampai masa kita ini, salah satu julukan yang paling umum bagi Nabi adalah nur al-huda, Cahaya
Penuntun yang Benar. Tidakkah Muhammad sendiri menyebutkan tentang cahaya yang menembus dirinya di dalam salah satu doanya, yaitu doa yang termasuk dalam khazanah kekayaan yang paling berharga dari kaum beriman dari abad ke abad?
Wahai Allah, tempatkan cahaya di dalam hatiku,
dan cahaya di dalam jiwaku,
cahaya pada lidahku,
cahaya di mataku
dan cahaya di telingaku,
tempatkan cahaya di sebelah kananku,
cahaya di sebelah kiriku,
cahaya di belakangku
dan cahaya di hadapanku,
cahaya di atasku
dan cahaya di bawahku.
Tempatkan cahaya di
syarafsyarafku,
dan cahaya di dalam dagingku,
cahaya dalam darahku,
cahaya dalam rambutku
dan cahaya dalam kulitku!
Berikan kepadaku cahaya,
perbanyaklah cahayaku,
ciptakan cahaya bagiku
*Padwiek, Muslim Devotions, hal. 212; M. Smith, Readings from the Mysties of Islam, ha. 47. Meskipun ia tetap ada sampai kini melalui suatu rangkaian lemah pam perawi, doa itu terdapat dalam hampir semua karya tasawuf, terutama secara pas dalam karya Dard, “Syam’-i Mahfil,” dalam Chahar Risalah, no. 341, di mana ia menjadi bab yang terakhir dan juga kata kata Dard yang terakhir; dia meninggal segera setelah mengulangi doa kesayangan Nabi*
Teori-teori menyangkut karakter Muhammad yang bercahaya mulai berkembang, atas dasar penjelasan-penjelasan Muqatil, dalam paruh kedua bas kesembilan. Adalah seorang tokoh sufi Irak, Sahl Al Tustari (wafat 896), yang pertama-tama mengungkapkan seluruh Heilsgeschichte itu dalam terminologl Cahaya Muhammad, dan dia juga mengambil gagasan-gagasannya dari ayat Cahaya itu.
Sebagaimana ditulis oleh penafsir modernnya, Gerhard Bowering, dalam telaah mendasarnya tentang peranan Nabi dalam teologi Tustari:
Allah, dalam keesaan-Nya yang mutlak dan realitas transenden-Nya, ditegaskan oleh Tustari sebagai misteri yang tak tertembus dari cahaya Ilahi yang bagaimanapun juga mengungkapkan dirinya sendiri dalam perwujudan prakeabadian dari “persamaan cahaya-Nya” matsalu nurihi, yaitu, “persamaan
cahaya Muhammad,” nur Muhammad.
Asal usul nur Muhammad dalam prakeabadian dilukiskan sebagai suatu masa bercahaya dari pemuliaan primordial di haribaan Allah yang mengambil bentuk suatu tiang tembus cahaya, ‘amud, cahaya Ilahi dan membentuk Muhammad sebagai ciptaan utama Allah.
Dengan demikian, dalam menjelaskan tentang terminologi ayat Cahaya itu, Tustari berkata: “Ketika Allah berkehendak untuk menciptakan`Muhammad, Dia memunculkan sebuah cahaya dari cahaya-Nya. Ketika ia mencapai selubung Keagungan, hijab al-‘azhamah, ia membungkuk dan bersujud di hadapan Allah. Allah menciptakan dari sujudnya itu sebuah tiang yang besar bagaikan kaca kristal dari cahaya, yang dari luar maupun dari dalam dapat ditembus pandang.
Yang menarik, Tustari juga mengaitkan surah 53 dengan Cahaya Muhammad. Dia tidak menafsirkan surah ini sebagai menyangkut penglihatan permulaan Nabi _atau perjalanannya ke langit, tetapi justru menyatakan bahwa kata-kata “Dan dia melihat-Nya lagi di waktu yang lain” (53: 13) mengandung arti “pada awal waktu,” ketika tiang Cahaya Muhammad berdiri di hadapan Allah,
sebelum dimulainya penciptaan selama sejuta tahun.
Dia berdiri di hadapanNya untuk memuja-Nya, ‘ubudiyyah, dengan keteguhan iman,
dan (kepadanya) diungkapkan misteri oleh Misteri itu sendiri “di pohon Sidrah di Tapal Batas” (surah 53:14), yaitu pohon di mana pengetahuan setiap orang berakhir.
Lalu, ketika penciptaan dimulai, Allah “menciptakan Adam dari cahaya Muhammad”.
Cahaya para nabi berasal darinya, cahaya Muhammad dan cahaya kerajaan langit, malakut, adalah dari cahayanya, dan cahaya dunia ini dan dunia yang akan datang berasal dari cahayanya.
Bowering melanjutkan penafsirannya atas doktrin Tustari:
Akhimya ketika kemunculan para nabi dan alam raya spiritual di dalam pra‘ keabadian telah sempurna, Muhammad dibentuk tubuhnya, dalam bentuk temporal dan teresterial, dari lempung Adam, yang telah diambil dari tiang nur Muhammad dalam pra-keabadian. Dengan demikian, penciptaan cahaya prakeabadian telah disempurnakan: manusia pertama itu dicetak dari cahaya Muhammad yang telah terkristal dan mengambil sosok pribadi Adam.
Itu berarti, sebagalmana yang dinyatakan oleh Ibn ‘Arabi tiga abad setelah Tustari, bahwa_Nabi adalah “seperti benih, bidzr, umat manusia dan para penyair tak henti-hentinya menyinggung tentang paradoks itu, yaitu bahwa Muhammad temyata ada lebih dulu dibanding Adam dalam esensinya, meskipun secara lahiriah dia adalah keturunannya.
Spekulasi-spekulasi Tustari yang membumbung tinggi, yang mempengaruhi aliran besar dalam pemikiran sufi, diuraikan secara lebih puitikal oleh muridnya, Hallaj, yang mengatakan dalam Thasin Al Siraj (Thasin Lampu), bab pertama dari karyanya, Kitab Al-Thawasin:
(Dia adalah) sebuah lampu dari cahaya Yang Tak Terlihat,
sebuah bulan yang bercahaya di antara bulan-bulan lainnya, yang
rumahnya berada dalam lingkaran segala misteri; Kebenaran Ilahi
(Tuhan) menyebutnya ummiy dikarenakan
késempurnaan aspirasinya yang mulia (himmah) . . .
Cahaya cahaya kenabian — dari cahayanyalah mereka
muncul, dan cahaya cahaya mereka berasal dari cahayanya,
dan tidak ada cahaya di antara cahaya cahaya lain yang lebih cemerang
dan lebih terang serta mendahului praeksistensi, daripada
cahaya tokoh mulia ini.
*Hallaj, “Tasin As-Siraj,” dalam Kitab At-Tawasin, hal. 9, ll. Lihat juga puisinya (Syaibi, Syarh Diwan Al-Hallaj, hal. 188, no. 24), dengan pembukaan ‘Ilm An-Nubuwwa Misbahun min An Nur, ”Pengetahuan kenabian merupakan cahaya dari segala cahaya . . .”*
Kita harus ingat bahwa kata-kata ini ditulis kurang dari tiga ratus tahun setelah wafatnya Nabi. Dari saat itu Nabi yang bercahaya itu muncul di mana mana dalam karya karya mistikal dan puitikal. Dia sendiri diyakini pernah mengemukakan pernyataan pernyatan yang berkaitan dengan peringkatnya yang sangat tinggi, misalnya, “Hal pertama yang diciptakan Allah adalah cahayaku,”" dan perkataannya
“Para sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang” sangat sesuai dengan peranannya sebagai matahari sebagai pusatnya atau bulan purnama dalam Islam.
Kawan Hallaj, yaltu Syibli yang agak eksentrik, membaca di atas ranjang kematiannya sebuah sajak yang masih dilantunkan dalam qawwali:
Setiap rumah yang engkau diami
Tidak membutuhkan lampu sama sekali,
Dan pada hari ketika bukti bukti dibawakan
Maka buktiku adalah wajahmu
Meskipun sajak ini aslinya tidak dimaksudkan sebagai lagu puji pujian untuk Nabi (yang akan bertentangan dengan sikap umum Syibli terhadapnya), ia membuktikan bahwa sejak itu ia dianggap sebagai kiasan bagi wajah Nabi yang bersinar.
Lagi-lagi, Ibn ‘Arabi itulah yang terutama bertanggung jawab atas peranan pokok cahaya ini dalam ajaran sufi selanjutnya.
Cahaya pertama muncul dari Selubung dari Yang Tak Terlihat,
dan dari pengetahuan ke eksistensi konkret,
ia adalah cahaya dari Nabi kita Muhammad
Ibn ‘Arabi menyatakan dalam Pernyataan Keimanannya, dan selanjutnya dia membandingkan Muhammad, siraj munir, dengan matahari, dan dari sini menyimpulkan bahwa “intelegensi, ‘uqul, spirit, arwah, intuisi, basha’z’r, dan esensi, dzawat, semuanya dipelihara oleh esensi yang bercahaya dari Mushthafa yang Terpilih, yang merupakan Matahari Eksistensi”.
Gagasan-gagasan dari Ibn ‘Arabi dan penafsirnya, ‘Abdul Karim Al Jili, menjadi dasar bagi banyak pernyataan dalam puisi di seluruh dunia Muslim di mana Nabi digambarkan dalam pengertian yang kadang kadang terdengar mengherankan, bahkan juga mengagetkan, bagi orang luar.
Jili membicarakan, misalnya, tentang haqiqah muhammadiyyah dan yang muncul dalam pra-keabadian sebagai chrysolite putih, yaquta baidha. Allah melihatnya, dan ia buyar menjadi gelombang gelombang dan zat-zat cair lainnya, yang dari situ muncullah dunia ciptaan. Tetapi riwayat itu jauh lebih tua umurnya. Tsa‘labi, dalam karyanya, ‘Ara’is Al Bayan, yang ditulis tak lama setelah tahun 1000, mengetahui adanya suatu dongeng yang penuh warna di mana “sebuah mutiara yang bersinar” memainkan peranan utama. Dalam nada yang tidak terlalu puitikal, Najm Daya Razi, tokoh seangkatan Ibn ‘Arabi tetapi bukan pengikutnya, menawarkan sebuah kisah yang serupa mengenai penciptaan: Tetesan keringat yang bagaikan mutiara yang muncul dari Cahaya Muhammad merupakan zat untuk menciptakan 124.000 nabi.
* Menurut Tsalabi, esensi Muhammad digabungkan dari lempung surgawi dan air dari air mancur surga Tasmin, dan tampak seperti sebutir mutiara putih yang, karena terpesona oleh pandangan Tuhan yang penuh kasih, mulai berkeringat. Dari sini, dapat dengan mudah diciptakan hubungan dengan julukan durra yatima, “si yatim,” yaitu mutiara yang unik, yang menjadi lebih bermakna lagi sebab Muhammad memang seorang anak yatim.
Untuk Tsalabi lihat Goldziher, “Neuplatonisehe und gnostisehe Elemente im hadits.”
Roy, Islamie Syneertistie Tradition, hal. 121 ff., terutama 127 ff., banyak membicarakan tentang kisah-kisah ini, yang dengan jelas dia anggap sebagai tradisi Bengali. Lihat juga ibid., hal. 176; nur Muhammad itu tersembunyi dalam sebuah mutiara putih pada bunga teratai di amrit kunda (air kehidupan) yang terdapat dalam wilayah ke dua tertinggi, ‘alam i jabarut. Lihat lebih jauh Razi, The Path of God’s Bondsmen, hal. 61. Yang menarik, suatu versi modern dari mitos Sufi kuno terdapat dalam ‘Abdur-Rahim, Islamie Book of the Dead, hal. 20-22. Di situ, disebutkan bukan hanya “mutiara putih bagaikan burung merak” dan penciptaannya dari keringat utusan primordial, tetapi juga peringkat peringkat manusia yang berbeda sesuai dengan peranan dari bentuk pre-eksistensi Muhammad yang di atasnya mata mereka jatuh; siapa pun yang melihat kepalanya, menjadi seorang khalifah dan sultan di antara semua makhluk; siapa pun yang melihat tangan kirinya menjadi ahli tulis; siapa pun yang melihat bayangannya menjadi seorang penyanyi, dan
seterusnya; mereka yang tidak melihat apa-apa menjadi orang Yahudi, Kristen, Majusi, atau malah orang kafir.*
Dalam riwayat inilah para penyair Turki dan Bengali melagukan peranan yang menakjubkan dari cahaya Muhammad, sebagaimana, misalnya, yang dilakukan oleh Khaqani dalam Hilyah Turkinya:
Allah (haqq) menyukai cahaya ini dan berkata: “Kawanku tercinta (habibi)!” `
Dan menjadi terpihat (‘asyiq) oleh cahaya ini. . .
Dan kemudian cahaya primordial ini, yang berkeringat karena terpesona dan takjub, menghasilkan bertetes tetes peluh, yang masing masing tetesnya menjadi seorang nabi; ialu setahap demi setahap, sebuah samudera, uap air, dan bola bola dunia muncul dari cahaya ini.
Para sufi sebelum Ibn ‘Arabi senang sekali menggunakan pandangan Tustari mengenai tiang cahaya pra-keabadian, dan beberapa bagian dari puisi Persia Abad Pertengahan memberikan suatu gambaran yang
lebih mengesankan dibanding baris baris ‘Attar dalam bagian pendahuiuan dari Manthiq Al Thayr:
Yang pertama tama muncul dari kedalaman Yang Tak Terlihat
Adalah cahayanya yang murnl – tak perlu dipertanyakan dan tak perlu dlragukan lagi!
Cahaya yang tinggi ini membuka tanda-tanda ~ Tahta,
Penunjang kaki, Pena dan Lembaran Catatan dengan demiklan muncul.
Satu bagian darl cahayanya yang murni menjadi dunia,
Dan satu bagian Adam dan benih umat manusla.
Ketika cahaya yang agung ini berslnar, la jatuh
Di hadapan Allah, bersujud dengan hormat.
Selama berabad abad ia tetap bersujud
Dan lama sekali berserah diri pula,
Dan dari tahun ke tahun ia berdiri tegak dalam doa,
Sepanjang hidup mengucapkan pernyataan iman:
Doa Lautan Cahaya rahasia ini
Memberikan kepada umat ritus doa!
Tetapi bukan hanya para penyair utama yang pandai saja yang membicarakan tentang Muhammad yang bercahaya; mereka diikuti, bahkan dilampaui, oleh para penyair kelana rakyat. Maka Yunus Emre, pada akhir abad ketiga belas, menyatakan bahwa Allah berfirman:
Aku menciptakannya dari cahayaKu sendiri
Dan Aku mencintainya kemarin dan hari ini!
Apa yang akan Aku lakukan dengan semua dunia ini tanpa dia?
Muhammad-Ku, Ahmad—Ku yang Bercahaya!
Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang sufi di India menulis, dalam bahasa Persia:
Inilah cahaya Allah (haqq), yang mewujud dalam sosok pribadi Nabi,
Sebagaimana cahaya bulan diambil dari matahari.
Pangerah Kalhora, Sarfaraz Khan, dari Sindh, yang menggubah suatu kalimat yang menyentuh hati untuk Nabi selama berada dalam penjara pada 1774, seperti para penulis yang tak terbilang jumlahnya sebelum dia, mengatakan bahwa:
Tidak ada ciptaan, tldak ada malaikat, tldak ada pula langit atau bumi —
Cahayamu cemerlang menyinari segalanya.
Maulana Rumi juga memuji muji sifat sifat yang menakjubkan dari cahaya primordial itu:
Jika saja satu cabang dan berjuta cabangnya terbuka,
Beribu ribu eklesiastik Kristen akan segera melepas sabuk kekafiran mereka.
Begitu pula, sebagaimana dilagukan oleh Jami‘, cahaya ini dapat mengubah keadaan kaum Muslim menjadi lebih baik:
Setiap orang yang terkena cahaya kebaikanmu (atau, matahari: mihr)
Akan menjadi merah mukanya (dihormati) diseluruh dunia bagaikan fajar.
*******

