*Oleh Annemarie Schimmel
(Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam)*
Dengan sarana-sarana kabalistik, kita dapati terkandung didalam namanya nama nama dari 313 nabi yang menjadi rasul, plus satu orang yang menjadi orang suci. Dan lebih lebih lagi: ketika Adam diciptakan, dia melihat bahwa nama Muhammad ditulis di mana-mana sejak masa pra-keabadian. Hal ini disebutkan bahkan dalam puisi rakyat, seperti, misalnya, dalam sebuah puisi abad kedelapan belas dari Lembah Indus:
Di alas Tahta, di puncak puncak
Nama Muhammad ditulis sebagai suatu mantra (rumusan magik);
Di atas pepohonan, di atas daun demi daun,
Nama Muhammad ditulis sebagai suatu mantra.
Gagasan yang sarna juga terdapat dalam balada balada naratif Mesir:
Namamu, wahai Nabi, adalah yang dipilih dalam kemuliaan
Sebelum cakrawala, bersama dengan langit tertihggi, dibangun
Di antara para penyair Persia masa awal, Nizami adalah yang paling fasih dalam penjelasannya mengenai nama Ahmad:
bukankah Ahmad
Lurus bagaikan sebuah alif dalam kesetiaan kepada perjanjian,
Yang pertama dan yang terakhir di antara para nabi?
Ini adalah suatu permainan kata yang sangat cerdik, sebab kata anbiya’, “para nabi,” dimulai dan diakhiri dengan huruf alif, huruf pertama dari Ahmad. Sehingga peranan ganda Ahmad tampak nyata bahkan dalam fakta gramatikal.
Jelaslah bahwa penyair sufi besar dari Iran, Fariduddin ‘Attar, yang terutama mendorong timbulnya spekulasi-spekulasi lebih jauh mengenai nama nama Muhammad. Dalam karyanya (sekitar 1200) muncul untuk pertama kalinya kiasan kiasan tentang aspek aspek tertentu dari profetologi yang menjadi sangat popular dalam abad abad selanjutnya. Dalam karyanya, Mushibatnama, ‘Attar menyatakan bahwa:
kedua dunia itu diciptakan dari dua huruf m dari nama Muhammad.
sebab kata alam, “dunia”, hanya mempunyai satu m
dan dengan demikian m kedua dari mhmd pasti mengacu kepada dunia kedua, yakni dunia nanti
m yang pertama adalah dunia sekarang
Tiga abad sesudahnya, Jami‘ mengambil gagasan ini tetapi menguraikannya, sebagaimana biasa, melalui penalaran yang lebih rumit. Dengan menganggap nama Nabi adalah Ahmad (yang kepadanya Nizami telah mengacu dengan cara yang sangat terampil dalam puisinya).
Alif huruf pertama dari Ahmad, muncul, katanya, dari “titik Keesaan” (sebagaimana dalam kaligrafi.
titik yang pertama adalah pengukur huruf-huruf, dan alif adalah huruf yang menurutnya huruf-huruf lainnya diukur dan dibentuk).
Alif ini berdiri tegak seperti diameter dari sebuah lingkaran (lagi lagi suatu bentuk kaligrafi tradisional), dan dengan demikian membelah lingkaran dari Ipseity Ilahi yang gaib menjadi dua: satu bagian adalah dunia yang tidak tercipta, yaitu dunia Esensi Ilahi yang tidak dapat kita ketahui.
Dan bagian lainnya adalah dunia yang serba mungkin. Nabi, atau Iebih tepatnya – haqiqah Muhmmadiyyah adalah penghubung antara keduanya.
(Beberapa sufi Naqsyabandi masa selanjutnya bahkan akan membicarakan tentang haqiqah Ahmadiyyah sebagai manifestasi pertama dan terakhir Nabi, yang mengungkapkan kedekatan yang paling mungkin dengan Cinta Kasih yang Murni).
Kembali kepada ‘Attar: dia juga menyinggung tentang suatu riwayat yang akan menjadi sangat penting bagi perkembangan pemikiran Sufi di negeri negeri Islam timur, dan dikaitkan dengan nama Ahmad. .
Ini adalah hadits qudsi, salah satu wahyu Al Quran tambahan dari Tuhan:
Ana Ahmad bila mim,
“Akulah Ahmad tanpa m,” yaitu Ahad, “Satu”
“Ahmad adalah utusan dari Ahad,” seperti berulangkali dikatakan oleh ‘Attar,“ dan dia mengetahuinya ketika:
pancaran sinar perwujudan itu menjadi jelas,
m dari Ahmad menjadi tak terlihat
Yaitu hanya Tuhan saja satu satunya yang tinggal.
Jarang sekali ada hadits qudsi lain yang dipakai begitu sering di wilayah wilayah Persia dari dunia Muslim, meskipun tidak terbuktikan dalam kumpulan-kumpulan awal hadis dan baru muncul pada abad kedua belas.
Tampaknya hal itu dapat membuktikan bahwa Ahmad-Muhammad terpisahkan dari Tuhan hanya melalui satu huruf saja, yaitu m. Dalam sistem angka Arab, huruf ini mempunyai nilai 40, angka kesabaran, kematangan, penderitaan, persiapan. (Israel selama empat
puluh tahun berada di gurun pasir, Yesus melewatkan waktu empat puluh hari di gurun; Muhammad berusia empat puluh tahun ketika panggilan itu datang; masa puasa Masehi adalah empat puluh hari; kaum
sufi mempraktekkan pemencilan diri sepenuhnya selama empat puluh hari, yang dinamakan arba`in atau chilla; adat istiadat ini dan tradisi tradisi lainnya yang serupa merupakan ungkapan-ungkapan dari peranan istimewa angka 40 ini.
Dalam spekulasi spekulasi mistikal Islam, angka 40 lebih jauh menandai empat puluh langkah yang harus dilalui
manusia dalam perjalanannya kembali ke asal usulnya — suatu masalah yang diuraikan oleh ‘Attar dalam karyanya, Mushibatnama, dan selanjutnya oleh banyak sufi dalam tradisi Ibn ‘Arabi.
Huruf m dalam Ahmad menunjuk kepada semua misteri ini; ia merupakan “sumber dari seluruh ajaran yang sangat didambakan akal,” seperti dikatakan oleh Jami‘.
Seorang penyair masa selanjutnya di Punjab menamakan m itu “selendang umat manusia,” yang dikenakan oleh Tuhan yang Esa ketika Dia menciptakan Muhammad dalam peranannya sebagai teladan.
*Ramakrisyna, Punjabi Sufi Poets; hal. 99. Spekulasi-spekulasi menyangkut huruf m itu dimulai sejak masa Islam awal: sebuah mazhab yang dinamakan Muhammadiyyah atau Mimiyyah menyatakan Muhammad sebagai Tuhan; pemimpin mereka dihukum mati antara tahun 892 dan 902 (Handworterbueh des Islam, s.v. Muhammadiyyah). Pada saat yang sama, usaha-usaha untuk memberikan kepada nama Muhammad suatu penafsiran kanibalistik terdapat dalam karya Hallaj, Kitab At-Tawasin, “Tasin As-Siraj,” hal. 14.
Amir Khusrau, dalam aliran pemikiran yang berbeda, mendapati bahwa bentuk melingkar dari m ini mengungkapkannya sebagai “CIri Kenabian,” dan sering disebut sebagai “huruf yang penuh kemungkinan.”
Maulana Rumi, yang menyanyikan bahwa “Ahmad adalah selubung” melalui mana dia ingin mencapai Ahad, menggeluti misteri hadits qudsi ini dalam renungan-renungan prosanya, Fihi ma Fihi: “Setiap
penambahan bagi kesempurnaan berarti pengurangan . . .
Ahad itu sempurna, dan Ahmad belum lagi mencapai tahap kesempurnaan, jika huruf m itu dihilangkan ia menjadi benar-benar sempurna.
Tak terbilang, banyaknya penyair yang telah mengikuti ‘Attar dalam kecintaan mereka kepada hadis Ana Ahmad bila mim ~ para penyair yang, sebagaimana dinyanyikan oleh Muhsin Kakorawi, “menyimpan nama Ahmad di ujung lidah mereka, rahasia ’tanpa mim’ dalam hati mereka.”
Pada awal abad keenam belas, penguasa Uzbek, Syaibani menggunakan firman Ilahi ini sebagaimana yang dilakukan oleh para penyair Urdu modern; para penyair rakyat Turki sangat menyukainya sebagaimana para sufi di Punjab atau para penyair istana di Iran. Sufi Sindh, Shah ‘Abdul Latif, rnengutip hadits qudsi, seperti
juga Mirza Ghalib, penyair agung dari Delhi, melakukannya satu abad kemudian.
* Contoh contoh lebih jauh diberikan dalam Schimmel, “Ghalib’s Qasidah in Praise of the Prophet,” hal. 209 catatan no. 32: Syabistari, Gussyan-i Raz, menggunakan hadits qudsi seperti juga Naziri, Diwan, hal. 11, ghazal no. 15 (digabung dengan qaba qawsayn). Lihat juga Baloeh, Tih Akharyun, 1: 41. Sebuah puisi pendek berbahasa Urdu dari Decca oleh Qazi Mahmud dari Gogi seeara eerdik bermain-main dengan hadits qudsi ini:
Jika Muhammad menjadi penolong kita,
maka pecahkanlah teka teki kaum monoteis itu, Hai Mahmud: _
Semua kesedihan dan luka kita akan disangkal
jika untuk kita Ahmad menjadi Ahad, “Yang Esa.”
Yang menarik, puisi itu semata mata terdiri atas huruf huruf tanpa titik, sebab nama nama sejati Nabi tidak “dihitamkan” dengan penggunaan tanda-tanda pengenal (lihat bab 7 dibawah). Seyed, “Diwan Qazi Mahmud Bahri of G0gi,” no. 5, stanza 5. Makna penting dari huruf mim dalam kaitan antara Ahmad dan Ahad juga memainkan peranan dalam epik epik ciptaan kaum Muslim Bengali. Lihat Roy, Islamie Syneretistie Tradition, hal. 124:
Satu mim melahirkan tiga nama dalam ketiga dunia itu: “Nama Ahmad diingat di surga, nama Muhammad di dunia dan Mahmud oleh ular ular di neraka” Tradisi Ana Ahmad bila mim bahkan terdapat dalam beberapa ginan Ismaili, dengan demikian dalam Bujh Niranjan (informasi diberikan oleh Ali S. Asani)*
Salah saeorang penyair yang paling asyik dalam menggeluti spekulasi-spekulasi mengenai nama Nabi adalah Jami‘, yang memutuskan bahwa m pertama dari Muhammad rnerupakan ikal kecil pertama dari
kata mulk, “kerajaan”. Sementara huruf h dengan nilai angka 8, membuktikan bahwa Nabi membukakan di dalam dunia bersegi enam ini delapan jendela menuju delapan surga, dan lingkaran kaki dari huruf d rnenunjukkanbahwa kepala dari mereka yang benar benar beriman (dinparwaran, yang dimulai dengan huruf d) menyentuh kakinya.
*Jaml‘, “Yusuf—u-Zulaikha,” dalam Haft Aurang, hal. 583. Menurut Jili, lantai dari surga ke delapan merupakan atap dari Tahta Ilahi; itu adalah “tempat terpuji,” al-maqam al-mahmud, yang dijaniikan kepada Muhammad (surah 17: 79). Lihat Nieholson, Studies in Islamie Mystieism, hal. 136.*
Dia menemukan kofigurasi konfigurasi lainnya lagi dengan huruf-huruf dari nama Nabi: huruf h di antara kedua m di matanya tampak seperti wajah seorang bidadari (wanita muda dan cantik dari surga, yang dimulai dengan huruf h) dengan dua ikal rambut mereka, dan hurui d dikaitkan dengan dil, “hati.”
Bahkan ini belum cukup: dengan tipuan terselubung yang mungkin diwarisi dari Ibn ‘Arabi, Jami‘ memandang kata pertama dari surah 1, al hamd, dan huruf-huruf awal yang misterius dari surah 2, a-l-m, sebagaisuatu gabungan yang indah sekali: huruf a l dari surah 2 adalah sama dengan huruf-huruf pertama dari al hamd dan menunjuk kepada huruf m, huruf ketiga dari kelompok huruf yang misterius itu, sehingga nama Muhammad itu sendiri muncul dari al hamd.
Dengan demikian, nama Nabi membentuk, bagi mereka yang tahu cara membaca, kata pertama dari Al Quran.
Di lain pihak, a l m dari surah 2:1 sering dianggap menandakan rahasia cinta antara Tuhan (alif) dan Muhammad (mim). Huruf l, sandi rahasia untuk kekuatan pemersatu dari cinta, juga dapat ditafsirkan sebagai suatu tanda dari jibril, malaikat penyampai wahyu.
*Miskin, “Ramz Al Mahbub,” dalam Ladzdzat-i Miskin, 2: 86, menggabungkan alif lam-mim pada awal surah 2 dengan tiga kelompok pencari: alif adalah mereka, tua dan muda yang memuja Tuhan dalam KeesaanNya (wahdaniyyah) menurut sanjak Hafiz:
Tiada sesuatu pun dalam lembaran hatiku kecuali alif dari kemuliaan kekasihku —
Apa yang dapat kulakukan? Guruku tidak mengajariku huruf lainnya.
Lam adalah mereka yang, meskipun menerima wahdaniyyah, yaitu, Keesaan yang mutlak, tetap menerima para nabi pula, “sebab penerimaan wahdaniyyah tanpa penerimaan kedudukan para nabi tidak akan menuntun pada keselamatan.”
Tetapi mim adalah “para kekasih yang menerima Muhammad sebagai kekasih Allah,” mahbubiyyat’i khuda. Ahli mistik Naqsyabandi India itu di sini dengan jelas menunjuk pada peringkat tinggi dari mereka yang percaya kepada kedudukan Muhammad yang unik, dan menempatkan mereka lebih tinggi daripada “orang-orang beriman pada Keesaan Tuhan” yang sejati, yang merupakan kategori yang juga mencakup kaum non Muslim*
Sifat sifat yang misterius dari huruf m dalam nama Nabi terus mengilhami kaum Muslim, terutama di India.
*Suatu penjelasan modern yang menarik mengenai huruf mim diberikan dalam karya Canteins, La voie des letters, hal. 35 ff., di mana dia menggambarkan m itu, yang dalam bentuknya yang terpisah tampak seperti sebuah lonceng, sebagai “la chute vers l’abime”. Huruf yang dikaitkan dengan wahyu itulah yang mencapai Muhammad “seperti sebuah lonceng,” sementara alif yang tegak menunjuk pada mi‘raj nya, jalan ke bawah dari Keesaan Tuhan. Gagasan itu diambil dari Schuon, La Soufisme, hal. 144, di mana kata rasul, “Utusan,” dijelaskan sebagai turunnya Tuhan ke dunia pada Malam Kejayaan (laylat ab qadr), yang berhubungan dengan diangkatnya manusia menemui Tuhan pada Malam Perjalanan ke Surga, mi ‘raj.*
Ahmad Sirhindi, tokoh pembaru Naqsyabandi dari India Utara pada awal abad ketujuh belas, mengembangkan suatu teologi reformatif menyeluruh yang didasarkan atas dua huruf m dalam nama Nabi. Dan meskipun gagasan itu tampaknya agak terlalu dicari cari, orang bahkan masih bisa berspekulasi apakah kepercayaan kepada sifat-sifat mistikal dari huruf m tidak mendorong Busiri untuk memilih m sebagai huruf bersajak dari syairnya yang paling terkenal, Burdah, sebagaimana beberapa lagu pujian Sana‘i yang paling cemerlang untuk Nabi menggunakan sajak yang sama ini.
Bagi kaum sufi, huruf d, yang mengakhiri nama Muhammad, juga mengandung makna. Nilai angkanya adalah 4, dan ia mengisi tempat keempat dalam nama Nabi. Di samping itu, Nabi disebutkan dengan
namanya empat kali dalam Al-Quran.
Mirza Ghalib, di India pada abad kesembilan belas, membawa jenis permainan teologikal ini lebih jauh lagi: dari Ahmad Orang bisa mencapai Ahad, dan jika orang menghilangkan alif huruf Keesaan Ilahi, huruf h dan d tetap tinggal; semua ini mempunyai nilai angka masing-masing 8 dan 4, jumlahnya 12 dan dengan demikian mengacu kepada dua belas Imam Syi‘ah. Ini menunjukkan bahwa nama Ahmad itu sendiri mengandung suatu ikhtisar dogmatik yang sempurna.
Sekalipun demikian, pola Ghalib agaknya tidak dapat menyamai pola yang diciptakan oleh Ibn ‘Arabi, yang sebagai seorang sufi Sunni yang baik — belum menemukan ajaran-ajaran teologi Syi‘ah Imamiyah dalam nama Nabi, tetapi berhasil mengembangkan suatu pola numerolegik yang semakin canggih:
d (= 4) adalah separuh
dari h (= 8),
sementara m (= 40) adalah sepuluh kali d,
jika kita teruskan, kedua m (= 80) sama dengan sepuluh kali h.
Pemuliaan kepada nama Nabi telah mempengaruhi banyak aspek dari kebudayaan Islam. Kekhasan abjad Arab telah memungkinkan para seniman kaligrafi untuk menuliskannya bukan hanya dalam bentuk bentuk kursif yang anggun, tetapi (bahkanjauh lebih sering lagi) dalam bentuk Kufi persegi, sehingga ia dapat dilukiskan pada ubin dan tembok-tembok bata dan dalam sulaman sulaman serta tenunan tenunan (sering bersama dengan tulisan Allah dan, di kalangan Syi‘ah, dengan ‘Ali).
Pola pola melingkar atau berbentuk mawar juga dapat dibentuk dengan mudah dari nama suci itu. Ketika Iqbal pada 1912, berseru dalam syair Urdunya yang hebat, Jawab-i’ Syikwa:
Sinarilah dunia, yang terlalu lama dalam kegelapan,
Dengan nama Muhammad yang cemerlang,
Dia digerakkan oleh perasaan yang sama seperti yang dirasakan oleh raja Qutubsyahi, Muhammad Quli, yang pada sekitar 1600 menyanyi di Deccan:
Gerbang dari kedua dunia itu terbuka untuk kehidupan yang bahagia
Bagi setiap orang yang merendahkan hatinya di hadapan nama Nabi!
Nama Muhammad Quli sendiri dalam kenyataannya menunjukkan bahwa pada akhir Abad Pertengahan dan sampai hari ini, kaum Muslim tidak hanya menggunakan nama-nama Nabi yang berbeda-beda untuk
anak-anak laki-laki mereka, tetapi juga – terutama di wilayah wilayah bukan Arab – membuat nama-nama baru dengan menyebut mereka “hamba dari” atau “budak dari” Muhammad:
Muhammad Quli, “hamba dari Muhammad”
Paighambar Qul: “budak Nabi;”
Ghulam Rasul, “hamba Rasul”
Ghulam Sarwar: “hamba sang pemimpin;”
Al-i Ahmad, “keluarga Ahmad”
Yar Muhammad, “kawan Muhammad;”
Ghulam Yasin, “hamba Yasin;”
dan bahkan ‘Abdun Nabi, “hamba Nabi,”
dan ‘Abdur Rasul atau ‘Abdul Muhammad, meskipun penggunaan ‘abd hendaknya dibatasi pada gabungan dengan nama-nama Tuhan. (0leh sebab itu kita juga mendapati nama ‘Abd Rabb An-Nabi, “hamba
Tuhan dari Nabi”).
Bahkan Nur Muhammad, “Cahaya Muhammad,” terdapat di Indo-Pakistan.
Di lain pihak, nama nama pria seperti Nabi bakhsy atau Rasulbakhsy di Indo-Pakistan menyatakan bahwa penyandang nama itu dilahirkan sebagai “hadiah dari Nabi,” yang kedua orang tuanya memohon pertolongan dari Nabi. Dengan demikian, nama Nabi dapat ditemukan di setiap rumah orang beriman.
Mengingat banyaknya contoh dari nama-nama Nabi yang dipuja puja ini, tampaknya tepatlah jika kita mengakhiri bab ini -yang dapat diperluas hampir tanpa batas- dengan menuliskan permulaan sebuah na‘t dari versi Dakhni karya Ghawwasi dari kisah Shaif Al-Muluk; ditulis dalam matra “heroik” mutaqarib yang sederhana( —I—I—I—), sajak itu berbunyi:
Wahai Muhammad yang sejati, wahai engkau Mushthafa,
Engkau sesungguhnya Ahmad, engkau Mujtaba;
Engkau Thaha, engkau Yasin, engkau Abtahi,
Engkau ummiy, engkau Makki, engkau rasul sejati!
Engkaulah yang pertama dan terakhir, dan engkaulah sang pangeran,
Engkau lahlr, engkau batin, engkau Nabl yang unik!
Nabl Hasyimi, Quraisyi ltulah engkau —
Apa pun yang kau katakan, Allah menerimanya darimu . . .
Dan engkau adalah tuan yang sejati dari ketiga dunia,
Pusat agama, berkembang pesat melaluimu . . .
Para malalkat semuanya adalah laron, mengelilingl cahayamu,
Orang orang suci adalah debu yang berserakan di seputarmu,
matahari. . . .
Dan baris baris terakhir ini menuntun kita kepada suatu aspek lain dari profetologi Islam: spekulasi tentang nur Muhammad, hakikat Nabi yang bercahaya! ***

