*Oleh Annemarie Schimmel
(Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam)*
nabimuhammad.info _ Suatu sumber yang sangat penting untuk pemuliaan kepada Nabi adalah surah 33:45, di mana Muhammad dijuluki sebagai basyir, “pembawa berita-berita baik,” dan nadzir, “pemberi peringatan.” Kedua julukan itu seringkali digunakan sebagai nama orang, terutama di anak benua India (Basyir Ahmad, Nadzir Ahmad, dan semacam itu).
Ayat Al-Quran selanjutnya memuat penggambaran Muhammad sebagai sirajun munir, “lampu yang bersinar,” dan ini pun telah mengilhami timbulnya nama Muslim: Siraj ud-din, Siraj ud-daula, Siraj ul-Islam, yaitu Lampu Agama, Negara, dan Islam.
Munir juga bisa dipakai secara tersendiri atau digabungkan (lagi-lagi di sini dengan Ahmad, seperti Muniruddin Ahmad).
Nabi juga dinamakan al mushthafa, “yang terpilih”, dan sedikit agak jarang al mujtaba, “yang terpanggil”. Keduanya telah menjadi nama nama kesayangan di kalangan kaum Muslim.
* Tapisy, Gulzar-i Na‘t, fl. 12b, mengubah partisip mushthafa, murtadha, dan mujtaba menjadi kata-kata benda verbal: Nabi, sebagai Mushthafa, adalah “pohon cemara di dalam taman ishthifa, pilihan: sebagai Murtadha dia adalah “tumbuhan boxtree di kebun buah irtidha atau senang. Dan sebagai Mujtaba, “akar dari cabang ijtiba, pilihan: dan secara keseluruhan, dia adalah “sumber dari ranting ranting Panjtan, yaitu Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain. (Tapisy adalah seorang penyajr Syi‘ah)*
Sapaan sapaan Ilahi kepada Nabi seperti kata-kata pembuka dari surah 74, Ya ayyuha’l mudatstsir, “wahai engkau orang yang berselimut,” dan surah 73, Ya ayyuha’l muzammil, “wahai engkau orang yang berselubung”, digunakan, terutama di India, sebagai nama pria.
*Baljon, Modem Muslim Karan Intemretation, h. 99, menyebutkan cara tokoh modemis Pakistan, Ghulam Parvez, menjelaskan sapaan Ilahi kepada Nabi, Ya mudatstsir! Dia mengambil kata itu dari datstsara, tadtsir, dalam arti khusus “mengatur sarang”, yang kemudian dia tafsirkan sebagai “mengatur rumah agar rapi,” sehingga mudatstsir berarti, dalam pengertian modern, “pembaru dunia,” yang diperintah oleh Allah: Qum, “Bangkit,”
Yaitu, dia dipanggil agar mulai menyebarkan revelusi dunia*
Pada abad keempat belas, ahli sejarah, Safadi, menyusun sebuah syair yang agak panjang yang di dalamnya dia menyebut satu demi satu nama nama Nabi, dan sejak awal mula kaum Muslim mendapati bahwa Muhammad pun memiliki tidak kurang dari sembilan puluh sembilan nama, asma’ al-syarifah, Nama-nama Mulia, yang setara dengan sembilan puluh sembilan asma’ al-husna, Nama-nama Tuhan yang Paling Indah.
* Fischer, “Vergottlichung und Tabuisierung der Namen Muhammads” h.328. Becker, Islamstudien, 2: 104, membahas tentang kecenderungan bagi “nama nama Muhammad (dianggap) dalam Dala’il al-khairat untuk dapat disamakan dengan nama-nama Allah”, etika Dala’il dan karya-karya yang berkaitan dengan itu digunakan di Afrika Timur*
Setiap kali salah satu dari nama nama ini disebut, selalu diikuti dengan tashliyah, “Semoga Tuhan memberkahinya dan memberinya kedamaian”, sebagaimana dalam setiap penyebutan Nabi dalam wacana tulisan atau lisan.
*Karena itu orang mengatakan, ketika memperkenalkan sebuah hadis tanpa menyebutkan nama Muhammad: “Dia .— semoga Allah memberikan berkah dan kedamaian kepadanya!
— berkata . . . ” Sebuah kutipan Al Quran dimulai dengan “Dia — Yang MahaAgung (atau Mahatinggi) — berfirman . . . “*
Di antara kesembilan puluh sembilan nama ini, kita mendapati dua nama yang juga ada di antara Nama nama Ilahi, dan diberikan kepada Nabi, sebagaimana disebutkan dalam hadis, sebagai tanda karunia istimewa dari Allah: al ra’uf , ” an lembut,” dan al-rahim “yang pengas1h”.
Jamil‘ melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa “Keindahan Nabi adalah cerminan Nama Terbesar (Tuhan)!”
* Jami‘, Diwan, h. 73, no. 47, dalam sebuah Salam untuk Nabi. Salam itu menjadi suatu bentuk puisi yang sangat luas digunakan dalam bahasa Persia dari masa sesudahnya dan terutama dalam tradisi-tradisi Urdu. Lihat kumpulan pendek dan modern Siddiqi dan Asi, Muntakhab Salam, dalam bahasa Urdu.*
Banyak copy Al Quran yang dicetak menyebutkan satu demi satu sembilan puluh sembilan Nama Ilahi pada awalnya, dan menuliskan sembilan puluh sembilan nama Nabi pada kedua halaman terakhir.
Seorang sufi Suhrawardi abad ketujuh belas yang berasal dari Ucch (Pakistan) menyusun sebuah karya yang diberi judul Jawahir Al Auliya’ (Permata Orang-orang Sueci), yang memuat satu bab yang menarik
mengenai kebaikan kebaikan dan kekuatan rahmat sembilan puluh sembilan nama Nabi.
Nama-nama ini, atau sebagian dari mereka, juga digunakan dalam azimat azimat. Pengarangnya mengemukakan berbagai hadis yang berkaitan dengan penggunaan nama-nama itu.
*Staples, “Muhammad, A Talismanie Foree,” melukiskan sebuah azimat dengan sembilan puluh sembilan nama Nabi (tapi tanpa menyadari bahwa Thaha dan Yasin di sini adalah nama namanya dan bukan,‘seperti perkiraannya, nama nama dari surah 20 dan 36).*
‘Abdul Qadir Jailani diriwayatkan pernah berkata bahwa seseorang yang membaca nama nama itu sekali setiap siang dan setiap malam akan dijaga dari segala jenis penyakit, dan keyakinannya tidak akan pernah diganggu.
Menurut nenek moyang pengarang itu, Makhdum jahaniyan dari Ucch, pembacaan nama nama ini setelah shalat subuh akan mengakibatkan semua dosa, yang besar maupun kecil, yang terlihat maupun tersembunyi, diampuni, dan Sultan Sayyid Mahmud Nasiruddin Bukhari diriwayatkan pernah berkata bahwa barangsiapa membaca nama-nama itu tujuh kali setelah shalat zuhur, tidak akan diserang oleh burung atau binatang.
Seorang tokoh sufi lainnya mengatakan bahwa membaca nama nama itu sebelas kali setelah shalat Maghrib, akan dapat menambah pengetahuan, kehalusan, dan makrifat. Tetapi pahala yang paling besar, yang diberikan kepada seseorang yang membaca sembilan puluh sembilan nama Muhammad dua belas kali setelah shalat ’Isya, dikemukakan kepada Makhdum Jahaniyah oleh Nabi sendiri selama dalam perjalanan sufi itu ke Madinah: Muhammad menjanjikan bahwa dia pasti akan membawa orang itu ke surga, dan tidak akan memasukinya tanpa dia.
Tetapi bahkan sembilan puluh sembilan nama tampaknya tidaklah cukup bagi Nabi. Segera saja dua ratus nama dikemukakan satu demi satu, selanjutnya bahkan seribu nama. Kepercayaan umum bahkan menyatakan bahwa Nabi dipanggil dengan nama tertentu oleh setiap jenis makhluk.
Bagi ikan dia adalah ‘Abdul Quddus, “Hamba dari Yang Mahasuci;” bagi burung, ‘Abdul Ghaffar, “Hamba dari Yang Maha Pengasih;” bagi binatang-binatang liar, ‘Abdus Salam, “Hamba dari Pencipta Damai;” bagi setan, ‘Abdul Qahhar, “Hamba dari Yang Maha Kuasa;” dan seterusnya.
*Horten, Die relzgiose Vorstellungswelt des Volkes, h. 15. ‘Abdul Haqq Muhaddits Dihlawi, Madarij Al Nubuwwuh, h. 293-308, mencatat lebih dari empat ratus nama*
Para penyair juga tak henti hentinya menemukan nama nama baru bagi Nabi tercinta. Dalam riwayat Umm Ma‘bad, yang dombanya kering diperah susunya oleh Nabi, Muhammad digambarkan sebagai nasim wasim, “agung dan anggun.” Kata kata ini digunakan, dalam suatu bentuk yang lebih luas, pada pertengahan abad ketiga belas oleh Sa‘di dalam syairnya yang terkenal pada permulaan karyanya, Bustan,
yang di dalamnya Nabi diberi, antara lain, julukan-julukan:
wasimun qasimun jasimun nasim: ‘
Agung, berpotongan baik, mulia, dan anggun.
Rangkaian julukan yang indah-indah ini, yang dikemukakan dengan sangat mencolok di dalam apa yang kemudian menjadi salah satu buku kesayangan dari dunia Persia, segera dikenal di mana-mana, dan atribut-atribut Nabi selanjutnya sering digunakan sebagai nama nama panggilan, baik secara sendiri sendiri (Wasim, untuk wanita Wasmaa), atau dengan digabungkan, seperti jasimuddin.
Selanjutnya, terutama di kalangan Muslim bukan Arab, Nabi sering disebut dengan julukan-julukan yang berkaitan dengan negeri asal dan keluarganya: Quraisyi, Muththalibi (sesuai nama kakeknya ‘Abdul Al Muththalib), Hasyimi (dari keluarga Hasyim), Makki, Madini, atau hanya ‘Arab saja.
Menyinggung tempat-tempat di mana perwujudan perwujudan duniawi Nabi terjadi, Nizami menyapanya dengan “wahai engkau burqa‘ Madinah dan selubung Makkah!” dan memintanya untuk “mengangkat kepalanya dari jubah Yamannya” sebab umatnya sangat membutuhkannya pada masa masa kacau ini.
*Nizami, “Makhzan Al-Asrar,” na’t no. 3, dalam Kulliyatd Khamsa, h. 23. Kain bergaris garis Yaman sangat tinggi dihargai di kalangan orang Arab. Jami‘, Diwan, h. 177, no. 117. Dalam puisi rakyat, sebutan-sebutan yang berkaitan dengan latar belakang Arabnya Nabi seringkali muncul; maka dalam Siharfi huzuf q dapat berarti Quraisyi, ‘ain untuk ‘arab; kata ini kadang-kadang diperpanjang, ‘arab, demi mendapatkan matra yang sesuai. Sebuah contoh yang bagus mengenai distorsi-distorsi semacam itu muncul dalam Baloch, Tir Akharyun, 2: 190.
Tampaknya Jami‘ yang menguraikan pernyataan peryataan semacam itu dalam bentuk yang lebih artistik lagi, agaknya merupakan pelopor digunakannya julukan-julukan ini dalam bahasa Persia selanjutnya, dan lebih khusus lagi dalam bahasa Indo Persia dan Urdu, sebab puisi na‘tiyyah-nya penuh dengan istilah-istilah seperti “wahai Pujaan dari Al-Batsa!” (yaitu dari daerah di sekitar Makkah) dan:
Wahai engkau yang berair muka bagaikan bulan, yang tempat kelahiranmu di Makkah,
Dengan buaian Madinah, dengan selubung Yaman!
Dia, “yang diirikan oleh matahari”, adalah “bulan dari Al Batsa dan cahaya dari Yatsrib (Madinah)” dan karena itu dia dapat
menghunus pedang bangsa Arab sebab keluwesan ada padanya,
Dan dapat memburu bangsa Persia sebab dia memiliki keanggunan.
*Jami‘, “Iskandamrnama,” dalam Haft Aurang, h. 915. Muhammad adalah, sebagaimana di-
nyanyikan oleh penyair Urdu, Tapisy, pada awa] abad kesembilan belas (Gulzar-i Na‘t, fol 11b), bukan hanya “burung bulbul yang beryanyi merdu di dalam taman mawar perwujudan Ilahi” tetapi juga, “ranting bunga mawar dari petak kebun mawar di Batsa dan Madinah.”
Gagasan gagasan ini diulang ulang dalam beribu ribu sajak. Tetapi sementara upaya Jami‘ mengemukakan julukan julukan semacam itu jelas dimaksudkan untuk menekankan kekuatan Nabi yang bercakupan luas dan juga keindahannya, dalam tradisi India mereka sering dipahami sebagai pengingat bagi kaum Muslim akan asal usul agama mereka di negeri Arab.
Akan merupakan suatu upaya yang menarik untuk mengumpulkan seluruh julukan yang penuh kasih sayang dan pemuliaan yang dengan itu para penyair dan penulis prosa Muslim, dari kalangan sufi maupun bukan sufi, menggambarkan Muhammad, yang sering hanya disebut rasul-i akram, “Nabi yang paling mulia,” atau dalam tradisi Persia risalat-panah, “pelindung jabatan kenabian”. Dia, misalnya, adalah
sarwar-i ka ’inat, “pemimpin alam raya”, dan Burung Bulbul yang Penuh Kasih Sayang, Matahari dunia moneteisme, Penguasa Para Kekasih, Poros bulatan kedua dunia, Mawar padang kenabian dan sebagainya.
*Sebuah penelitian yang bagus mengenai juluka julukan mistikal untuk Nabi adalah indeks dari karya Baqli, ‘Abhar Al-‘Asyiqin; di antara berlusin lusin sapaan dan atribut atribut puitikal yang ada, misalnya adalah, “pemimpin para kekasih,” “burung Elang darl taman Realitas,” “matahari para nabi dan bulan purnama oran orang suci,” “singa di padang surga Akal,” “mempelai di istana Keesaan,” “kelana di gurun pengasingan, tajrid’,” dan sebagainya*
Para penyair dan sufi secara hati-hati memilih nama nama panggilan baginya yang sesuai dengan ciri karya mereka: dalam epik heroik, misalnya, kekuasaan dan kekuatannya mungkin ditonjolkan, dan dalam puisi tentang cinta, keindahan dan kebaikannya yang disoroti.
Karena nama Muhammad mengandung barakah yang sangat kuat, setiap anak lelaki harus diberi nama itu, atau paling tidak salah satu kata jadiannya atau padanannya. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ja‘far Al-Shadiq, lmam Keenam Syi‘ah, menyatakan bahwa Allah akan menyeru pada Hari Kiamat: “Setiap orang yang bernama Muhammad hendaklah bangkit dan masuk surga!”
Di Maroko dikatakan: “Jika ada seseorang bernama Muhammad hidup dalam sebuah rumah atau tenda,
maka para malaikat akan selalu hadir di sana, kecuali jika mereka diusir pergi oleh seekor anjing hitam atau segerombolan pemusik dan penari.”
Nabi mempunyai hubungan khusus dengan orang orang yang menyandang namanya, sebagaimana dikatakan Busiri, penyair Burdah, dalam syairnya yang terkenal:
Sebab sejak aku diberi nama Muhammad, dia memberiku
suatu kewajiban,
Dia, yang paling sempurna dalam memenuhi semua tugasnya di antara semua makhluk
Sebuah kisah yang mengharukan, yang menunjukkan kepercayaan yang dalam kepada kekuatan nama Muhammad, dikaitkan dengan sebuah syair yang diciptakan oleh ‘Abdur Rahim Al Bur‘i, salah seorang
penyair keagamaan di dunia Arab pada abad kesebelas. Ketika putranya yang masih muda, Muhammad, sedang sakit parah, dia berpaling kepada Nabi, penengah yang agung, dan mengakhiri permohonannya yang
panjang dengan kalimat kalimat:
Dan penyakit telah menjadi jadi menimpa putraku yang kuberi nama sesuai dengan namamu:
Kasihanilah, mengingat air matanya, yang mengalir di pipinya!
Dan benarlah, “anak lelaki itu sembuh” Contoh-contoh serupa dari puisi berbahasa Persia, Turki, dan Indo Muslim dapat dengan mudah diperoleh. Tetapi penggunaan nama Muhammad untuk setiap anak Ielaki juga
mengandung aspek lain. Dikhawatirkan sejak tahun-tahun pertama Islam bahwa nama Nabi mungkin akan menjadi ternoda karena terus menerus dipakai di kalangan orang beriman.
Tentu saja, kaum Muslim, juga memanggil anak anak mereka dengan nama-nama dari para nabi terdahulu, seperti Musa, Sulaiman, atau ‘Isa; tetapi tidakkah menyakitkan hati jika kita mendengar para orangtua mencela putra mereka Muhammad, mengata-ngatainya, atau jika ada orang bernama Muhammad dinyatakan sebagai penipu atau pezina?
Satu cara untuk mengatasi kesulitan ini adalah menambahkan sepatah kata penghormatan jika menyebut nama Nabi, seperti misalnya sayyidina: tuan kami, sidi:tuan atau Hazrat:Yang Mulia atau menambahkan tashliyah pada waktu menyebut namanya, atau hanya membicarakannya sebagai Nabi Mulia saja.
Cara lain untuk memecahkan masalah ini adalah menyuarakan huruf-huruf mati dari namanya, mhmh, dengan vokalisasi yang berbeda jika digunakan untuk manusia biasa: dengan demikian di Maroko kita dapati nama-nama pribadi seperti Mihammad, Mahammad, atau hanya M0h dan singkatan-singkatan serupa lainnya.
Di Afrika Barat, bentuk-bentuk seperti Momado banyak digunakan. Di Turki pengucapan Mehmet secara umum diterima untuk pemakaian pribadi, dan penyebutan Muhammad secara benar hanya ditujukan untuk Nabi. Orang mungkin juga memendekkan nama itu, terutama jika digabungkan dengan nama nama lain, menjadi M saja, yang diucapkan Mim (seperti dalam M.N. Rasyid = Mim Nun Rasyid), sebab m merupakan huruf yang paling penting dalam nama Nabi. Ia juga dapat digunakan sebagai singkatan untuk Mustafa (seperti dalam M. Kemal).
Tarikat Bektasyi dari Turki mengembangkan suatu mim duasi yang istimewa, “doa untuk *mim,” yang bertumpu pada rahasia-rahasia dari huruf ini. Dengan mempertahankan konsonan mhmh, kita dapat menjaga barakah dari nama itu; pada saat yang sama, dengan mengganti huruf huruf hidupnya, kita tidak perlu takut akan menodai nama Nabi yang mulia.
Seperti semua orang Arab, Muhammad pun mempunyai kunyah, sebuah nama yang menunjukkan dia sebagai “ayah dari si anu.” Kunyah ini adalah Abu’l Qasim, dan masalah itu sudah sering dibicarakan, dan tidak pernah dapat dipecahkan secara menyeluruh, apakah seorang pemuda boleh dipanggil dengan nama panggilan Nabi dan kunyahnya (yaitu Muhammad Abu’l Qasim), atau apakah kita harus membatasi penggunaannya hanya pada satu atau dua namanya saja. Tetapi penggabungan nama Muhammad Amin telah banyak digunakan.
Secara umum diyakini bahwa pengulangan nama suci Nabi akan membawakan rahmat kepada orang yang membacanya. Baris penutup dari sebuah charhhi nama Urdu kuno, sebuah syair yang di dalam tamsil memintal digunakan untuk menyampaikan perintah agama, memperingatkan orang beriman:
Engkau adalah pelayan wanita di rumah darwisymu
Sebutlah nama Allah dan Nabi dalam setiap tarikan hapas!
Tetapi di lain pihak, para penyair dan sufi sering mengungkap kekhawatiran mereka jangan-jangan mereka tidak cukup berharga bahkan untuk mengucapkan nama yang suci dan murni dari Nabi. Pada akhir abad keenam belas di India, ‘Urfi menulis bahwa:
Seribu kali aku mencuci mulutku
dengah minyak kesturi dan dengah air mawar,
Sekalipun demikian membicarakan namamu
merupakan kelancangan mutlak.
Dan Ghalib, hampir tiga ratus tahun kemudian, menghaturkan sébuah qashidah yang terdiri atas 101 sajak untuk Nabi, yang melukiskan sampai di akhir tulisannya bagaimana etiket telah mengingatkannya agar jangan sampai dia melampaui batas-batas perilaku yang sopan. Seorang pendosa seperti dirinya hendaknya tinggal diam dan tidak menyapa Nabi sama sekali_ dia, yang dipuji oleh Tuhan yang Maha Tinggi!
Kaum sufi memulai sejak dini sekali untuk merenungkan sifat mistikal dan simbolik nama-nama Muhammad. Hallaj ada diantara orang orang pertama yang menggeluti mistikisme huruf. Bukankah Adam, protetip umat manusia, diciptakan dari nama Muhammad?
Kepalanya adalah huruf bulat mim, tangannya adalah h, pinggangnya lagi-lagi adalah sebuah mim kecil, dan yang selebihnya adalah d sehingga seluruh umat manusia lahir, sebagaimana adanya, dari nama Nabi.
Ibn ‘Arabi barangkali telah memberikan alasan yang paling terinci atas mistikisme huruf dari nama Nabi ini:
mim pertama adalah kepalanya, dan itu adalah dunia dengan Kedaulatan Tertinggi (‘alam al-malakut al a‘la) dan dengan Akal Terbesar (al-‘aql al akbar).
Dada dan Iengannya berada di bawah huruf h, dan inilah Tahta yang Jaya;
Nilai angkanya adalah 8, yang merupakan jumlah dari para malaikat yang menjunjung Tahta.
Mim kedua mewakili perut, dan itulah Dunia Kerajaan itu (‘alam al mulk),
Pinggul, tungkai dan kaki berasal dari huruf d, dan itulah komposisi yang mantap melalui Penulisan Abadi.
Demikian juga, dalam bentuk kaligrafiknya, nama Muhammad (dalam tulisan Arab) ditafsirkan sebagai menggambarkan seorang manusia sedang bersujud.***

