Pengabadi keluhuran Nabi lewat puisi
مولاي صل وسلم دائما أبدا ÷ على حبيبك خير الخلق كلهم
“wahai Tuanku !
sholawat dan salam sudi Engkau limpahkan
selalu kepada kekasih-Mu
sebaik-baik mahluk yang Engkau titahkan
Pelantun puisi sanjungan atas Nabi ini bernama lengkap Syaikh al-Imam, al-Alim Syarafuddin Abu Abdullah, Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin Abdullah bin Shonhaj bin Hilal al-Shonhaji. Tentang kapan dan di mana ia dilahirkan, Imam Suyuthi dalam kitab “Khusnul Muhadloroh”menuturkan : “Syarafuddin Muhammad bin Sa’id bin Hammad, yang berasal dari Maghrib, hidup di kota Bushir ini dilahirkan di kota Dallas pada tahun 608 Hijriyah.
Penulis burdah yang sangat fenomenal ini kadang-kadang juga disebut al-Dallashiri. Satu sebutan yang merujuk pada asal kedua orang tuanya, yaitu Dallas dan Bushir satu daerah di wilayah Shaid (daerah selatan Mesir). Tapi di kemudian hari ia lebih terkenal dengan Bushiri.
Tentang Dallas dan Bushir
Dallas adalah nama suatu perkampungan yang pada masa Mesir kuno disebut dengan Habi. Pada masa Kristen Orthodoks namanya berganti menjadi Taa laas, kemudian diarabkan menjadi Dallas. Ibnu Khaldun berkata: “Dallas tempo dulu terletak di sepanjang sungai nil “. Pendapat ini dikukuhkan dengan perkataan Raja Batlimus yang menyebut Dallas dengan Nilobulis, artinya Madinat al-Nil (kota di sungai Nil ). Tersebut dalam kitab “Mu’jamul Buldan “ bahwa Dallas adalah termasuk salah satu kota di Wilayah Sha’id, Mesir, yang terdiri dari beberapa perkampungan yang cukup luas. Ia masuk dalam wilayah Kaurah al-Bahnasi.
Al-Idrisi berkata: “Dallas adalah suatu kota kecil yang sangat ramai sekali, sebagai pusat pabrik besi dan bermacam-macam industri yang lain. Di kota Dallas juga diproduksi kendali kuda al-Dalllashiyyah, di ambil dari nama kota Dallas. Abu Shalih al-Armini menambahkan, di kota Dallas, ada sebanyak tiga ratus tukang besi yang semuanya memproduksi kendali kuda. Oleh karena itu pada masa pertengahan terkenal dengan sebutan Dallas al-Lujum.
Tentang kota Dallas, lebih lanjut Ibnu Khauqal menuturkan : “Kota Dallas pada masa Kristen Orthodoks (Mesir kuno) merupakan kota yang sangat ramai dan padat penduduknya, hanya saja sekarang (di masa Ibnu Khauqal) tidak lagi menjadi kota besar, setelah bangsa Barbar dari Maroko, dibantu sebagian orang-orang Arab yang berhati jahat telah menguasainya, memporak-porandakan apartemen–apartemen yang megah, yang tersebar di seluruh penjuru kota. Akhirnya mayoritas penduduknya mengungsi, dan tinggal kelompok minoritas yang tetap mempertahankan kota Dallas.
Ada kemungkinan, sebagaimana tersebut dalam kitab “Al-khuthat al-Taufiqiyyah”, kakek Syarafuddin datang bersama-sama bangsa Barbar dari Maroko ke kota Dallas.
Sementara itu, kota Abu Shir yang telah menjadi nisbat Imam Syarafuddin adalah kampung halaman ibundanya, yaitu suatu perkampungan yang di masa Mesir kuno bernama Amdu Mahit, yang artinya Abidusy al-Syamaliyyah (Abidusy Utara) untuk membedakan Abidusy bagian selatan, yang terkenal saat itu dengan sebutan Al-Markaz al-Balina (Markas Balina). Pada masa Baltimus nama Abu Shir adalah Bus Aris artinya tempat tinggal Tuhan Aururis. Dan pada masa Kristen Orthodoks adalah Bushir, sedang dalam bahasa Arab adalah Abu Shir. Pada abad 19 kota ini terkenal dengan sebutan Abushir Almalaq, karena berlokasi di Wilayah al-Malaq.
Imam Bushiri Sang Penyair
Kepakaran dan ketenaran Imam Bushiri dalam bidang syair bukan hanya diakui masyarakat pada zaman sekarang. Ketika orang hendak melantunkan sanjungan atas baginda Nabi maka yang terlintas dalam benak adalah untaian qasidah yang menjelma lewat tangan dingin Imam syair sepanjang zaman ini.
Adalah Imam al-Shihab bin Hajar, rupanya ia tidak rela untuk tidak turut menyanjung Imam Bushiri : “Imam Bushiri telah mendapatkan limpahan dari Allah SWT berupa keahlian yang cemerlang di bidang syair, sajak dan natsar atau prosa “, begitu ia mengungkapkan suatu ketika. Lebih lanjut ia mengatakan : “Kalau saja karyanya, hanyalah Qashidah Burdah yang terkenal itu, maka itu sudah cukup menjadi suatu kebanggaan. Sebab ia juga mempunyai karya Qashidah Hamziyyah yang indah “. Dan memang qashidah Burdah ini banyak didendangkan, dikaji di rumah-rumah, di masjid-masjid dan tempat perayaan. Oleh karena itu tak ayal lagi keharumanya semakin semerbak.
Rasanya kurang afdol menuturkan keharuman nama Imam satu ini tanpa menelisik perjalanan karirnya hingga menjadi sebuah nama yang demikian tenar. Sebelum menekuni dunia sastra Syarafuddin pernah menjabat sekretaris di bidang perpajakan di Wilayah Bilbis, propinsi Syarqiyyah yang merupakan awal profesinya. Namun jiwa kesufiannya memberontak ketika melihat teman sejawatnya mayoritas bermental korup. Keadaan seperti ini memaksanya menjauhkan diri dari hal-hal yang berbau keduniaan, termasuk profesinya itu dan dunia sufi menjadi alternatif satu-satunya. Di ‘dunia’ yang baru ini ia menitinya untuk meraih cinta dan kedekatan dengan Yang Maha Asih. Pengalaman pahit saat menjadi pegawai negeri sipil membuatnya membuat sajak: “Aku diuji dalam barisan abdi bangsa, namun tak kutemui seorangpun yang bisa dipercaya”.
Rupanya ‘dunia pengabdian tulus kepada Tuhan’ semakin bulat ia masuki. Kota Bilbis ia tinggalkan unutk selanjutnya menuju sebuah kota wali kesohor yaitu Iskandariah untuk menimba ilmu pada Syaikh Abu Abbas al-Mursi. Ali Mubarok dalam bukunya “Al-khutat al-Taufiqiyyah “ berkata; “Imam Bushiri dan Ibnu Atho’ al-Sakandari adalah anak didik Syaikh Abu Abbas al-Mursi. Kemahiran di bidang syair dimiliki Imam Busiri, dan kepakaran di bidang natsar ada di tangan Imam Ibnu Atho’ al-Sakandari.
Syarafuddin al-Bushiri adalah murid yang rajin, selau hadir dalam majlis pengajian sang guru. Berkat ketekunannya itu Allah menganugerahi kematangan dalam beragama, kedalaman ilmu, kewiraian dan kewalian. Hal ini berpengaruh dalam sajak-sajaknya yang lebih bercorak sufistik dan lebih khusus lagi bertema tentang penyanjungan pada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Atasi problem yang menimpamu dengan akal budimu, dan ketika itu tidak memadahimu pahami dengan himah kebijaksanaanmu. Dan ketika itupun tak terjangkau maka serahkan segalanya pada Yang Mahaesa. Begitulah petuah bijak dunia sufi. Dan begitulah yang dirasakan dan dijalani oleh tokoh ini. Sebagai manusia biasa ia pernah mendapatkan ujian dari Allah berupa penyakit “falij ” atau lumpuh, yang mengakibatkan tidak berfungsinya sebagian organ tubuhnya. Ahli medis sudah angkat tangan tidak bisa mengobatinya. Maka ia berfikir untuk merangkai sajak dengan segudang harapan semoga dengan sajaknya itu Allah berkenan melimpahkan kesembuhan penyakitnya. Setelah ia selesai merangkai bait-bait Qasidah-nya, ia bermimpi bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpinya itu baginda Nabi mengusapnya dengan kedua tangan beliau yang mulia. Dan ketika terjaga penyalit yang menimpanya itu telah benar-benar sembuh. Allah telah berkenan menyembuhkannya.
Dalam kitab “al-Natakhat al-Syaziliyyah fi syarhi al-Burdah , Imam Hasan al-Nadawi berkata; “Alkisah, setelah kejadian itu Imam Bushiri keluar dari rumahnya. Di jalan ia bertemu dengan seorang laki-laki shalih yang memintanya membacakan sajak–sajaknya. Maka terkejutlah ia mendengar permintaan itu. Karena ia memang belum pernah bercerita pada siapapun, perihal sajaknya yang baru itu. Dengan nada heran al-Bushiri balik bertanya; “Dari mana Anda mengetahui sajak-sajak saya?”, Orang itu menjawab: “Aku mendengarnya tadi malam di kala engkau membacanya di hadapan Baginda Rasul”, mendengar jawaban lelaki itu Bushiri segera memberikan sajak itu kepadanya. Kemudian Imam Bushiri berkata: “Setelah aku membacakan pada laki-laki tersebut, ia segera meninggalkan aku”.
Beberapa hari setelah peristiwa itu, Imam Bushiri dipanggil menghadap Shahib Bahauddin, seorang menteri Raja Dhahir Bibres al-Bun Daqori, yang memintanya membacakan Qasidah-nya, yang berisikan sanjungan pada Baginda Rasul. Sang menteri berjanji akan mendengarnya dengan berdiri, dan tanpa tutup kepala demi menghormat Nabi. Imam Bushiripun segera membacakannya dan menulisnya dengan tangannya sendiri. Diceritakan bahwa tulisan tersebut selalu disimpan oleh menteri tersebut untuk dibaca, kadangkala untuk tabarruk-an , lebih-lebih ketika ada sesuatu yang penting. Hal itu dilakukan oleh sang menteri, sampai ia meninggal dunia. Setelah sang menteri tersebut meninggal dunia, tulisan tersebut selalu dijaga rapi oleh putranya.
Shahib Bahauddin bin Hana adalah orang yang wira’i. Ia gemar membeli peninggalan–peninggalan Nabi dari Bani Ibrahim di kota Yanbu’. Demi menimpan dan menjaga koleksinya ini ia membangun bangunan khusus yang memanjang dekat sungai Nil. Daerah tersebut sekarang terkenal dengan sebutan Atsarun Nabi.
Qasidah Imam Bushiri yang berisikan sanjungan pada Baginda Nabi terkenal dengan sebutan al-Burdah , tetapi sebetulnya nama yang lebih sesuai adalah al-Baro’ah, karena pengarangnya dibebaskan dari penyakit lumpuh. Adapun Burdah adalah sebauh Qashidah tulisan Ka’ab bin Zuhair yang berisikan penghinaan kepada Baginda Rasul sebelum dia masuk Islam. Maka Nabi pun mengurungkan untuk membunuhnya setelah dia datang bertaubat ke Masjid Nabawi, dan sambil membacakan Qasidah-nya yang permulaannya berbunyi:
بانت سعاد فقلبي اليوم متبول ÷÷÷ متيم أثرها لم يفد مكبول
وقد نبئت أن رسول الله أوعدني ÷÷÷ والعفو عند رسول الله مأمول.
“Suad telah tega meninggalkanku
dan kini aku menjadi gila
tak mampu menahan diri
namun bayangnya tak jua sirna
aku dengar janji
dari baginda Nabi
hanya ada asa
tuk meraih ampunnya
Maka Nabi pun mengampuninya sambil melepaskan burdah-nya yang mulia. Dari cerita ini Qasidah Ka’ab bin Zuhair terkenal dengan sebutan Burdah. Banyak pula beredar kitab Burdah yang tertera dengan sebutan al-Baro’ah (dibebaskan) sebagaimana yang telah dialami oleh Imam Bushiri sendiri.
Ada sedikit cerita, ketika Imam Bushiri merangkai Qasidah-nya, ia menemukan kesulitan setelah sampai pada kalimat
فمبلغ العلم فيه أنه بشر .
Pada saat itu baginda Nabi berkata “Bacalah, teruskan !”. Imam Bushiri menjawab; “Aku tak mampu menemukan bait setengahnya, maka Nabi bersabda padanya;
وأنه خير الخلق كلهم.
Jumlah bait-bait Qasidah ini ada seratus enampuluh. Di dalamnya terdapat beberapa fasal yang mengandung sanjungan pada Baginda Nabi, perjuangan Nabi, dan tawassul kepada Nabi. Banyak para penyair yang mengikuti jejak Imam Busiri dalam merangkai syair, dengan mengikuti lirik lagu Imam Bushiri. Di antaranya adalah al-Syauqi, (sang pangeran para penyair) dalam Qasidah-nya, “Nahju al-Burdah”.
Wafatnya Imam Bushiri
Sebagaimana penuturan Imam Suyuthi, Imam Bushiri meninggal pada tahun 696 hijriyyah. Makamnya ada dalam komplek masjid Imam Bushiri yang berlokasi di kota Iskandariah berhadapan dengan Masjid Syaikh Abu al-Abbas al-Mursi. Masjid Imam Bushiri, dahulunya adalah sekedar zawiyyah (bagian ruangan dari ruangan besar) yang cukup kecil. Beberapa waktu kemudian diadakan penambahan, perluasan sehingga seperti sekarang ini. Bentuk bangunan yang ada sekarang merujuk pada seni gaya bangunannya pada tahun 1274 H.[]
Kasidah Burdah adalah salah satu karya paling populer dalam khazanah sastra Islam. Isinya, sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan, hingga kini masih sering dibacakan di sebagian pesantren salaf dan pada peringatan Maulid Nabi. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastum, Melayu, Sindi, Inggris, Prancis, Jerman dan Italia.
Pengarang Kasidah Burdah ialah Al-Bushiri (610-695H/ 1213-1296 M). Nama lengkapnya, Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al-Bushiri. Dia keturunan Berber yang lahir di Dallas, Maroko dan dibesarkan di Bushir, Mesir, Dia seorang murid Sufi besar, Imam as-Syadzili dan penerusnya yang bernama Abdul Abbas al-Mursi – anggota Tarekat Syadziliyah. Di bidang ilmu fiqih, Al Bushiri menganut mazhab Syafi’i, yang merupakan mazhab fiqih mayoritas di Mesir.
Di masa kecilnya, ia dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari Al Quran di samping berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Kemudian ia belajar kepada ulama-ulama di zamannya. Untuk memperdalam ilmu agama dan kesusateraan Arab ia pindah ke Kairo. Di sana ia menjadi seorang sastrawan dan penyair yang ulung. Kemahirannya di bidang sastra syair ini melebihi para penyair pada zamannya. Karya-karya kaligrafinya juga terkenal indah.
Sebagian ahli sejarah menyatakan, bahwa ia mulanya bekerja sebagai penyalin naskah-naskah. Louis Ma’luf juga menyatakan demikian di dalam Kamus Munjibnya.
Sajak-sajak pujian untuk Nabi dalam kesusasteraan Arab dimasukkan ke dalam genre al-mada’ih an-nabawiyah, sedangkan dalam kesusasteraan-kesusasteraan Persia dan Urdu dikenal sebagai kesusasteraan na’tiyah (kata jamak dari na’t, yang berarti pujian). Sastrawan Mesir terkenal, Zaki Mubarok, telah menulis buku dengan uraian yang panjang lebar mengenai al-mada’ih an-nabawiyah. Menurutnya, syair semacam itu dikembangkan oleh para sufi sebagai cara untuk mengungkapkan perasaan religius yang Islami.
Kasidah Burdah terdiri atas 160 bait (sajak), ditulis dengan gaya bahasa (usiub) yang menarik, lembut dan elegan, berisi panduan ringkas mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW, cinta kasih, pengendalian hawa nafsu, doa, pujian terhadap Al Quran, Isra’ Mi’raj, jihad dan tawasul.
Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitis, AI-Bushiri bukan saja menanamkan kecintaan umat Islam kepada- Nabinya, tetapi juga mengajarkan sastra, sejarah Islam, dan nilai-nilai moral kepada kaum Muslimin. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika kasidah Burdah senantiasa dibacakan di pesantren-pesantren salaf, dan bahkan diajarkan pada tiap hari Kamis dan Jumat di Universitas AI-Azhar, Kairo.
Al-Bushiri hidup pada suatu masa transisi perpindahan kekuasaan dinasti Ayyubiyah ke tangan dinasri Mamalik Bahriyah. Pergolakan politik terus berlangsung, akhlak masyarakat merosot, para pejabat pemerintahan mengejar kedudukan dan kemewahan. Maka munculnya kasidah Burdah itu merupakan reaksi terhadap situasi politik, sosial, dan kultural pada masa itu, agar mereka senantiasa mencontoh kehidupan Nabi yang bertungsi sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), mengendalikan hawa nafsu, kembali kepada ajaran agama yang murni, Al Quran dan Hadis.
Sejarah Ringkas Kasidah Al-Burdah
Al-Burdah menurut etimologi banyak mengandung arti, antara lain :
1. Baju (jubah) kebesaran khalifah yang menjadi salah satu atribut khalifah. Dengan atribut burdah ini, seorang khalifah bias dibedakan dengan pejabat negara lainnya, teman-teman dan rakyatnya.
2. Nama dari kasidah yang dipersembahkan kepada Rasulullah SAW yang digubah oleh Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma.
Pada mulanya, burdah (dalam pengertian jubah) ini adalah milik Nabi Muhammad SAW yang diberikan kepada Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma, seorang penyair terkenal Muhadramin (penyair dua zaman: Jahiliyah dan Islam). Burdah yang telah menjadi milik keluarga Ka’ab tersebut akhirnya dibeli oleh Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan seharga duapuluh ribu dirham, dan kemudian dibeli lagi. oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur dari dinasti Abbasiyah dengan harga empat puluh ribu dirham. Oleh khalifah, burdah itu hanya dipakai pada setiap shalat fd dan diteruskan secara turun temurun.
Riwayat pemberian burdah oleh Rasulullah SAW kepada Ka’ab bin Zuhair bermula dari Ka’ab yang menggubah syair yang senantiasa menjelek-jelekkan Nabi dan para sahabat. Karena merasa terancam jiwanya, ia lari bersembunyi untuk menghindari luapan amarah para sahabat. Ketika terjadi penaklukan Kota Makkah, saudara Ka’ab yang bernama Bujair bin Zuhair mengirm surat kcpadanya, yang isinya antara lain anjuran agar Ka’ab pulang dan menghadap Rasulullah, karena Rasulullah tidak akan membunuh orang yang kembali (bertobat). Setelah memahami isi surat itu, ia berniat pulang kembali ke rumahnya dan bertobat.
Kemudian Ka’ab berangkat menuju Madinah. Melalui ‘tangan’ Abu Bakar Siddiq, di sana ia menyerahkan diri kepada Rasulullah SAW. Ka’ab memperoleh sambutan penghormatan dari Rasulullah. Begitu besarnya rasa hormat yang diberikan kepada Ka’ab, sampai-sampai Rasulullah melepaskan burdahnya dan memberikannya kepada Ka’ab.
Ka’ab kemudian menggubah kasidah yang terkenal dengan sebutan Banat Su’ad (Putri-putri Su’ad), terdiri atas 59 bait (puisi). Kasidah ini disebut pula dengan Kasidah Burdah. la ditulis dengan indahnya oleh kaligrafer Hasyim Muhammad al-Baghdadi di dalam kitab kaligrafi-nya, Qawaid al-Khat al-Arabi.
Di samping itu, ada sebab-sebab khusus dikarangnya Kasidah Burdah itu, yaitu ketika al-Bushiri menderita sakit lumpuh, sehingga ia tidak dapat bangun dari tempat tidurnya, maka dibuatnya syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi, dengan maksud memohon syafa’afnya. Di dalam tidurnya, ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. di mana Nabi mengusap wajah al-Bushiri, kemudian Nabi melepaskan jubahnya dan mengenakannya ke tubuh al-Bushiri, dan saat ia bangun dari mimpinya, seketika itu juga ia sembuh dari penyakitnya.
Pemikiran-Pemikiran Bushiri dalam Al-Burdah Burdah dimulai dengan nasib, yaitu ungkapan rasa pilu atas dukacita yang dialami penyair dan orang yang dekat dengannya, yaitu tetangganya di Dzu Salam, Sudah menjadi kelaziman bagi para penyair Arab klasik dalam mengawali karya syairnya selalu merujuk pada tempat di mana ia memperoleh kenangan mendalam dalam hidupnya, khususnya kampung halamannya. Inilah nasib yang diungkapkan Bushiri pada awal bait :
Amin tadzakurin jiranin bi Dzi Salami
Mazajta dam ‘an jara min muqlatin bi dami?
Tidakkah kau ingat tetanggamu di Dzu Salam
Yang air matanya tercucur bercampur darah?
Kemudian ide-ide al-Bushiri yang penting dilanjutkan dengan untaian-untaian yang menggambarkan visi yang bertalian dengan ajaran-ajaran tentang pengendalian hawa nafsu. Menurut dia, nafsu itu bagaikan anak kecil, apabila diteruskan menetek, maka ia akan tetap saja suka menetek. Namun jika ia disapih, ia pun akan berhenti dan tidak suka menetek lagi. Pandangan al-Bushiri tentang nafsu tersebut terdapat pada bait ke-18, yang isinya antara lain :
Wa an-nafsu kattifli in tuhmiihu syabba ‘ala
Hubbi ar-radha’i wa in tufhimhu yanfatimi
Nafsu bagaikan anak kecil, yang bila dibiarkan menetek
Ia akan tetap senang menetek. Dan bila disapih ia akan melepaskannya.
Dalam ajaran pengendalian hawa nafsu, al-Bushiri menganjurkan agar kehendak hawa nafsu dibuang jauh-jauh, jangan dimanjakan dan dipertuankan, karena nafsu itu sesat dan menyesatkan. Keadaan lapar dan kenyang, kedua-duanya dapat merusak, maka hendaknya dijaga secara seimbang. Ajakan dan bujukan nafsu dan setan hendaknya dilawan sekuat tenaga, jangan diperturutkan (bait 19-25).
Selanjutnya, ajaran Imam al-Bushiri dalam Burdahnya yang terpenting adalah pujian kepada Nabi Muhammad SAW. la menggambarkan betapa Nabi diutus ke dunia untuk menjadi lampu yang menerangi dua alam : manusia dan Jin, pemimpin dua kaum : Arab dan bukan Arab. Beliau bagaikan permata yang tak ternilai, pribadi yang tertgosok oleh pengalaman kerohanian yang tinggi. Al-Bushiri melukiskan tentang sosok Nabi Muhammad seperti dalam bait 34-59 :
Muhammadun sayyidui kaunain wa tsaqaulai
Ni wal fariqain min urbln wa min ajami
Muhammad adalah raja dua alam : manusia dannjin
Pemimpin dua kaum : Arab dan bukan Arab.
Pujian al-Bushiri pada Nabi tidak terbatas pada sifat dan kualitas pribadi, tetapi mengungkapkan kelebihan Nabi yang paling utama, yaitu mukjizat paling besar dalam bentuk Al Quran, mukjizat yang abadi. Al Quran adalah kitab yang tidak mengandung keraguan, pun tidak lapuk oleh perubahan zaman, apalagi ditafsirkan dan dipahami secara arif dengan berbekal pengetahuan dan makrifat. Hikmah dan kandungan Al Quran memiliki relevansi yang abadi sepanjang masa dan selalu memiliki konteks yang luas dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang bersifat temporal. Kitab Al Quran solamanya hidup dalam ingatan dan jiwa umat Islam.
Selain Kasidah Burdah, al-Bushiri juga menulis beberapa kasidah lain di antaranya a!-Qashidah al-Mudhariyah dan al-Qashldah al-Hamziyah. Sisi lain dari profil al-Bushiri ditandai oleh kehidupannya yang sufistik, tercermin dari kezuhudannya, tekun beribadah, tidak menyukai kemewahan dan kemegahan duniawi.
Di kalangan para sufi, ia termasuk dalam deretan sufi-sufi besar. Sayyid Mahmud Faidh al-Manufi menulis di dalam bukunya, Jamharat al-Aulia. bahwa al-Bushiri tetap konsisten dalam hidupnya sebagai seorang sufi sampai akhir hayatnya. Makamnya yang terletak di Iskandaria, Mesir, sampai sekarang masih dijadikan tempat ziarah. Makam itu berdampingan dengan makam gurunya, Abu Abbas al-Mursi.***

