Muhammad Ali Shaban (dari Teladan Suci Keluarga Nabi)
Diberitakan bahwa Nabi s.a.w. memiliki tubuh yang sedang tingginya, yakni tidak terlalu jangkung dan tidak terlalu pendek, namun lebih mendekati jangkung. Dadanya bidang yang menunjukkan akan kepandaiannya. Kepalanya besar, sebagai ciri akan kesempurnaan kekuatan otak. Rambutnya ikal berombak,
tidak terlalu kaku dan tidak terlalu lemas, dan panjangnya tidak melampaui kuping telinganya sekalipun tumbuh lebat (dalam riwayat lain, melampaui kuping telinganya dan panjang, dan bahkan ada yang mengatakau bahwa rambut beliau panjang terurai sampai mencapai pundaknya).
Semua riwayat ini mungkin saja, sebab rambut beliau itu adakalanya pendek dan adakalanya panjang. Ibn Al Qayyim mengatakan bahwa Naibi tidak menggunting rambutnya kecuali hanya empat kali, yaitu di dalam nusuk-nya. Sebab tidak ada kepastian mengenai kapan beliau menggunting rambutnya kecuali dari waktu nusuk tersebut, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Mawahib.
Beliau membiarkan rambutnya terurai ke muka mirip jambul. Hal ini mengikuti cara ahli kitab dan menyalahi orang-orang musyrikin. Tetapi kemudian, beliau menyisir rambutnya dan membaginya menjadi dua bagian, ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri. Karena hal ini lebih mendekati kepada kebersihan dan tidak akan sampai berlebih lebihan dalam mencucinya.
Di dalam Al-Syama’il disebutkan bahwa Ummu Hani berkata:
“Saya telah melihat Rasulullah s.a.w. memilin rambutnya. Mukanya bulat bercahaya cemerlang. Kulitnya berwarna putih kemerah-merahan, tidak pucat. Dahinya lebar. Alisnya tipis memanjang seolah olah diukir bersambung. Hidungnya mancung, di atasnya bersinar. Pipinya halus dan rata. Mulutnya lurus — bagi orang Arab, mulut besar pada orang laki-laki itu sangatlah terpuji. Giginya putih bersih, bagus, dan agak renggang. Bila tertawa, berkilaulah cahaya dari giginya itu laksana mutiara. Matanya lebar dan sangat hitam, serta ada sinar merah pada bagian putih matanya. Lehernya indah, putih laksana perak. Janggutnya lebat. Dari dada sampai ke pusarya tumbuh bulu bulu halus. Badannya tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus. Dadanya bidang sedang perut dan dadanya rata. Persendiannya besar, demikian pula lengan atas, lengan bawah, paha dan betisnya. Telapak tangannya lebar sebagai tanda kedermawanan. Jari-jari tangannya panjang manis, tidak berlebihan. Telapak tangannya lebih lunak daripada beludru. Kedua lengan dan pundaknya berbulu.
Kedua telapak tangan dan kakinya besar. Kedua lekuk telapak kakinya renggang dari tanah. Kedua kakinya halus, tidak ada eaeat sedikit pun. Beliau berjalan dengan tenang dan mantap, berwibawa, seakan-akan turun dari tempat yang tinggi. Jika menoleh, maka seluruh badannya ikut berpaling, tidak hanya dengan
lehernya. Suaranya jelas dan merdu. Badannya senantiasa berbau harum walaupun tidak disentuh minyak wangi, dan keringatnya lebih wangi dari pada kesturi.”
Pandangannya — ketika beliau diam — lebih banyak tertuju ke bawah daripada, ke atas. Sebab hal ini lebih mudah untuk memusatkan pikiran. Tetapi ini tidak menafikan keadaan beliau ketika berbicara, sebagaimana yang diwartakan oleh Abu Dawud bahwa jika beliau duduk berbincang-bincang, beliau banyak memandang ke arah langit. Banyak merundukkan pandangan itu juga merupakan kinayah akan sifat malu yang sangat. Kebanyakan pandangannya itu adalah memperhatikan.
Di pundak beliau agak ke sebelah kiri arah ke jantung, terdapat khatim nubuwah, berupa daging tumbuh berwarna merah agak hitam, sebesar telur burungdara yang di atasnya tumbuh bulu-bulu halus. Di dalam kitab-kitab kuno hal ini disebut sebagai tanda kenabiannya.
Sewaktu berjalan di belakang para sahabatnya, beliau mengatakan: “Biarkan daerah belakangku untuk para malaikat!” “
Beliau senantiasa lebih dahulu memberi salam kepada orang yang dijumpainya, sekalipun itu anak-anak. Di antara seluruh manusia tabiatnya paling halus, paling baik akhlaknya, paling besar rasa sautun dan maafnya, paling unggul akalnya, paling dermawan, paling jujur ueaparmya, paling banyak malunya, paling banyak maaf dan ampunan serta tawadhu-nya paling memperhatikan dan memelihara hak-hak persahabatan, paling lembut hatinya, dan paling takut kepada Allah Ta’ala.
Dalam hal ini, Abulhasan Al—Asy’ari mengatakan, dalam Al-Ijaz, bahwa Rasulullah itu takut kepada Allah tanpa khauf.
Ahli hak mengatakan bahwa takut beliau itu adalah takut akan siksaan Allah sebelum Allah memberikan jaminan keselamatan bagi beliau dari hal tersebut, dan takut akan celaan Allah di dunia. Seperti yang dikatakan kepadanya tatkala beliau memalingkan mukanya dari Ummi Maktum (dalam Al-Quran surah
Abasa). Adapun sesudah ada jaminan dari Allah itu, maka tidak seyogianya beliau me-irasa takut, sebab hal itu menunjukkan ketiadaan rasa yakin akan janji Allah tersebut. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa rasa takutnya akan siksaan itu berdasarkan llrman Allah: . . . Tiada yang merasa aman dari azab Allah
kecuali 0rang—0rang yang merugi. (QS Al-A’raf: 99)
Katakanlah, ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku . . .’ (QS Al-Ahqaf: 9)
Doa Nabi s.a.w. adalah: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan perlindungan-Mu dari siksaan-Mu. Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari siksaan neraka dan dari fitnah kehidupan dan kematian.
Mungkin saja jaminan keamanan itu hanya merupakan cobaan, siasat dan syarat yang terdapat di dalam pengetahuan Allah. Ayat-ayat dan doa di atas, memberikan hujah bahwa ayat yang pertama adalah khusus untuk selain para nabi dan malaikat; sedangkan ayat yang kedua terhapus (mansukh), maksudnya: “Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku (di dunia) ….. ”
Karena rasa takut yang sangat terhadap Allah SWT itu, kadang-kadang Rasul tidak ingat akan jaminan keselamatan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, sehingga muncullah dari dirinya permohonan-permohonan perlindungan seperti tersebut di atas.
Demikianlah tersebut di dalam Al Syihab ala al Syifa, dengan ringkas. Bellau paling berani di tempat-tempat yang menakutkan. Selalu tersenyum; dan dalam riwayat lain, selalu sedih dan senantiasa berpikir. Kedua riwayat ini adalah mungkin, karena yang pertama terjadi pada saat beliau bergaul dengan
keluarga, bertemu dengan tamu dan bercakap-cakap dengan para sahabat; sedang yang kedua, di kala beliau sendirian beribadat dan berkhalwat. Beliau banyak diam, tidak berbicara tanpa ada keperluan. Bicaranya sempurna dan jelas, sehingga tiap tiap huruf tidak tersembunyi dari pendengaran orang yang mendengarnya. Dan adakalanya beliau mengulangi ucapannya sampai tiga kali, untuk dapat dipaharni.
Beliau bukanlah seorang yang kasar dan bukan pula seorang yang suka mencela. Beliau sangat mengagungkan nikmat sekalipun sedikit, dan tidak nernah mencela makanan atau memujinya; bila makanan itu menarik hatinya, maka makanan itu dimakannya, dan bila tidak maka ditinggalkannya. Beliau makan de-
ngan ketiga jarinya, dan adakalanya menggunakan jarinya yang keempat untuk membantu.
Selesai makan, beliau menjilat jari-jari tangannya, dimulai darl jari tengah dan diakhiri pada ibu jari. Beliau minum dengan tiga kali napas, sambil mengucapkan basmalah di tiap napas dan hamdalah sesudahnya. Beliau minum dengan menghirup, bukan dengan menggelogok ( dengan sekali teguk). Beliau minum sambil duduk, dan kadang-kadang karena sesuatu halangan beliau minum sambil berdiri, atau untuk menunjukkan bahwa hal itu dibolehkan.
Beliau makan apa adanya, dan tidak pernah memaksakan diri terhadap apa yang tidak ada. Jika tidak mendapatkan makanan, beliau bersabar hingga kadang-kadang beliau mengikatkan sebuah batu di perutnya. Pernah beberapa malam berturut-turut beliau tidak makan apa—apa. Beliau tidakpernah dikenyangi oleh roti atau daging dua kali sehari, atau dikenyangi oleh roti selama tiga hari berturut-turut. Kebanyakan roti yang dlmakan beliau adalah terbuat dari sya’ir (gandum kasar), dan kebanyakan makanannya adalah kurma dan air. Beliau tidak pernah makan roti halus (yang tepungnya sudah diayak), dan tidak juga makan di atas meja, tetapi di atas seprah, dan adakalanya hanya digeletakkan di atas tanah saja.
Beliau tidak makan sambil bersandar. Sabda beliau: Aku makan sebagaimana makannya seorang hamba, dan duduk sebagaimana duduknya seorang hamba. Semua kesempitan ini adalah pilihan beliau sendiri, yang tidak suka akan kemewahan. Karena Allah pernah mengajukan pilihan dengan perantaraan malaikat Israfil untuk menjadikan bukit Tihamah sebagai permata, emas dan perak. Namun beliau, sesuai saran Jibril, memilih kehidupan sederhana saja. Beliau menyukai daging, terutama yang berasal dari bagian dzira’. Dan beliau pun menyukai buah dabba’ (sejenis labu), al-baqlah al-hamqa’ (sejenis tumbuh—tumbuhan), madu dan manis manisan. Di dalam Al-Syama’il karya Al—Turmidzi disebutkan bahwa beliau suka makan daging ayam dan hubara (nama burung). Bukhari meriwayatkan bahwa beliau juga memakan daging keledai liar, onta dan kelinci. Dan Muslim meriwayatkan bahwa beliau juga memakan daging ikan.
Buah-buahan yang paling disukai beliau adalah buah anggur dan semangka. Imam A1-Ghazali berkata: “Beliau memakan semangka bersama roti dan gula, dengan menggunakan kedua belah tangannya” Namun Al Manawi mengatakan bahwa tidak benar beliau pernan melihat gula. Dan berita dari Al-Suhail bahwa beljau pernah diberi gula oleh seorang Nasrani, tidaklah pasti.
Beliau menolak mudarat sebagian makanan dengan makanan lain. Seperti, buah kurma kering dan keju, semangka atau krei dengan kurma masak, Beliau tidak pernah makan hanya sejenis makanan, dan beliau melarang memakan hanya roti, tanpa lauk lain. Beliau juga melarang tidur sesudah makan.
Pakaiannya sederhana, dan kebanyakan terbuat dari kain kasar. Tidak pernah menurunkan lengan kemeja atau sarungnya, melainkan diangkatnya sarungnya sampai di atas mata kaki atau pertengahan betisnya, dan menjadikan lengan bajunya sampai di pergelangan tangannya. Yang paling disukai beliau adalah kemeja, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Syama’il dari Ummu Salmah radhiyallahu anha (na.) Di samping itu, kitab tersebut dan Sahih Bukhari serta Sahih Muslim menyebutkan dari sahabat Anas bahwa pakaian yang paling disukai beliau adalah jubah. Beliau menyukai pakaian yang berjahit dan suka memakai pakaian berwarna putih, hitam, kuning, merah, polos atau bergaris-garis tanpa dicelup, dan hijau. Serbannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, berwarna putih, hitam, dan kuning. Namun kebanyakan beliau memakai serban berwarna putih. Biasanya, beliau menurunkan rumbai serbannya sampai ke pundaknya, sedikitnya empat jari dan sebanyaknya satu hasta. Beliau memakai serban dengan kopiah, dan kadang•kadang tanpa kopiah, atau kopiah saja tanpa serban. Beliau sering memakai tutup kepala. Beliau juga membeli celana, tetapi terdapat perselisihan pendapat tentang apakah beliau memakainya atau tidak. Adapuu celupan yang paling disukai be-
liau adalah yang berwama kuning.
Beliau pun mengenakan cincin perak yang matanya terbuat dari perak juga; dan cincin perak yang matanya dari akik. Adakalanya dipakainya di jari kanan dan kadang-kadang di jari kiri. Namun yang sering adalah di jari kanan. Biasanya mata cincinnya itu menghadap telapak tangarmya. Adapun ukiran pada cincinnya itu berbunyi: “Muhammad Rasulullah”, sebanyak tiga baris.
Al—Manawi, dalam Al-Syama’iL mengemukakan sebuah hadis yang bersumber dari sahabat Anas, bahwa Rasul s.a.w. tidak suka memakai cincin yang matanya terbuat dari selainnya.
Kasur beliau terbuat dari kulit yang berisi sabut atau pakaian kasar dari wol. Adakalanya beliau tidur di atas tikar atau di atas tanah tanpa suatu alas. Beliau tidur dengan membaringkan dirinya pada rusuk kanannya dan meletakkan kepalanya di telapak tangannya.
Kalau berjalan, kadang-kadang beliau memakai sandal dan kadang-kadang tidak, tetapi yang sering adalah memakai sandal. Sandal beliau terbuat dari kulit sapi yang sudah disamak. Kedua sandal tersebut mempunyai tall yang terletak diantara jari telunjuk dan ibu-jari, di antara jari tengah dan jari manis kaki. Sandal
tersebut panjangnya satu jengkal dan dua jari, lebarnya pada bagian tumit tujuh jari sedangkan pada bagian jari-jari lebarnya enam jari dan pada bagian tengah lima jari. Demikian yang dlkatakan oleh Al-Hafidz Al-Iraqi.
Beliau juga menunggang kuda, unta, dan keledai; sedangkan baghal sangat sedikit sekali terdapat di tanah Arab, namun beliau pernah diberi hadiah seekor baghal, lalu beliau menungganginya. Kadang-kadang beliau menunggang sendirian, dan kadang-kadang menggonceng sahayanya atau isterinya‘ atau lainnya.
Kebanyakan duduk beliau adalah muhtabiyan dengan kedua tangannya. Beliau s.a.w. sangat menyukai wangi wangian dan sangat membenci bau busuk. Minyak wanginya berupa misik dan ghaliyah, gahru yang dibakar anbar dan kafur. Setiap akan tidur, beliau memakai celak itsmid, tiga kali pada tiap-tiap mata. Beliau meminyaki rambutnya, menggunting ujung kumisnya dan meratakan janggutnya. Janggutnya dirapikannya dengan sisir dan air. Beliau juga melumuri bulu yang tumbuh di bawah pusarnya dengan kapur; tapi dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mencukurnya, bukan melumurinya dengan kapur. Kedua riwayat ini dapat dipakai, karena mungkin suatu ketika beliau mencukurnya dan pada saat lain melumurinya dengan kapur. Cara cara pengobatan yang dilakukan adalah dengan terapi alamiah dan Ilahiah.
Mengenai kemarahan dan kerelaannya dapat dilihat dari wajahnya, namun beliau tidak pernah marah untuk kepentingan dirinya, tapi marah untuk kebenaran hingga kebenaran itu menang. Jika memberi isyarat, beliau mengisyaratkan dengan telapak tangan semuanya. Bila bergurau, beliau tidak mengatakan kecuali yang benar. Tertawa beliau adalah senyurn. Beliau memuliakan orang-orang mulia pada tiap tiap kaum dan tidak pernah manghina atau merendahkan seseorang. Beliau menyimak syair syair dan memberi hadiah kepada para penyair; sebab pujian mereka terhadap diri beliau itu adalah hak, berbeda dengan yang lain, biasanya dusta. Karena itu beliau berkatai “Taburkanlah tanah di muka orang-orang yang suka memuji!”
Beliau selalu menaruh perhatian terhadap para sahabatnya dan sering menanyakan tentang apa-apa yang terjadi di masyarakat. Beliau menyuruh agar disampaikan kepadanya keadaan orang-orang yang rnembutuhkan sesuatu yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya tersebut, dan melarang menyampaikan kepada nya berita buruk salah seorang sahabatnya. Katanya: “Aku ingin keluar menemui kalian dalam keadaan hati yang bersih”
Beliau menjadikan balk perbuatan baik dan membenarkannya, serta ;menjadikan buruk perbuatan buruk dan menghinakannya. .
Beliau tidaklah duduk atau berdiri, melainkan dengan menyebut nama Allah. Jika beliau tiba pada suatu kaum, maka beliau duduk di barisan terakhir majelis itu. Dan beliau menyuruh yang demikian itu. Beliau tidak suka orang-orang berdiri menghormat untuknya. Karena mengetahui ketidaksukaan beliau tadi, maka apabila para sahabatnya melihat beliau, mereka tidak bangkit berdiri. Demikian tersebut di dalam Al-Syama’il dari sahabat Anas.
Sedangkan Al Baihaqi meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah, bahwa jika Nabi s.a.w. hendak pulang dan
berdiri untuk masuk ke rumalmya, maka para sahabat pun berdiri untuknya. Kedua riwayat di atas dapat dipertemukan sebagai berikut: Jlka para sahabat 1 melihat bellau di tempat jauh sedang lewat dan tidak sedang menuju ke arah mereka, atau beliau pulang pergi berulang-ulang ke majells, maka mereka tidak bangkit berdiri. Tetapi kalau beliau datang untuk pertama kalinya atau beranjak hendak pulang rneninggalkan mlereka, maka para sahabat itu bangkit berdiri menghormat beliau.
Beliau memberikan hak masing-masing orang menurut status orang tersebut, sehingga setiap orang merasa bahwa tidak ada yang lebih mulla di sisi beliau dari dirinya sendiri.
Beliau senang sekali mengunjungi orang-orang sakit – hatta sebagian orang orang kafir dan rnunafik mengantar jenazah, dan memenuhi panggilan orang orang yang mengundang beliau. Dan beliau tidaklah melepaskan jabat-tangan seseorang yang menyalaminya, hingga orang itu sendirilah yang melepaskan geng-
gamannya.
Tidaklah beliau menghadapi dua pilihan, melainkan dipilihnya perkara yang lebih mudah sepanjang hal itu tidak mendatangkan dosa. Beliau melobangi sendiri sandalnya, menambal sendiri bajunya, memeras sendiri susu kambingnya, dan melayani keluarganya. Tidak pernah membentak seorang pelayan pun dan tidak pernah mengatakan kepada mereka akan sesuatu yang telah mereka kerjakan: ”Kenapa kau lakukan itu!” Atau sesuatu yang tidak mereka kerjakan: “Kenapa tidak kau lakukan itu!”
Beliau tidak pernah menghimpunkan dua benda, seperti dua kemeja, dua sarung, dua serban dan sebagainya.
Beliau duduk-duduk bersama orang orang miskin dan makan makan bersama mereka. Beliau menghormati tamunya dengan membentangkan bajunya, dan tidak pernah terlihat beliau menjulurkan kedua kakinya di hadapan para sahabat nya. Barangsiapa meminta sesuatu kebutuhan kepadanya tidak pernah ditolaknya
kecuali dengan apa yang diminta orang itu atau dengan perkataan yang baik. Beliau berusaha mencari orang orang yang membutuhkan bantuan. Beliau ibarat seorang bapak bagi para sahabatnya. Mereka semua di sisi beliau sama, tidak ada lebih melebihi kecuali dengan takwa.
Majelis beliau adalah majlis tenang penuh dengan sifat penyantun, malu dan amanat, tidak terdengar suara-suara keras dan tidak pula terhadap kata kata yang tidak berguna. Beliau bukanlah seorang yang suka mencaci atau yang suka berkata keji. Juga tidak pernah mencela atau menghina seorang pun. Beliau tidaklah berbicara kecuali dengan perkataan yang diharapkan pahalanya. Jika beliau berbicara, para sahabat beliau menekurkan kepalanya seolah-olah di atas kepala mereka bertengger seekor burung, dan jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah berbantah-bantahan di hadapan beliau, tetapi bila ada yang berbicara yang lain diam hingga orang yang berbicara itu selesai berbicara.
Allah telah menghimpunkan seluruh akhlak mulia pada pribadi beliau, dan telah pula mendidik beliau dengan didikan yang sebaik baiknya, serta telah memelihara beliau – sejak beliau masih kanak-kanak hingga dewasa — dari segala perbuatan buruk dan tercela. Semoga shalawat dan salam dari Allah senantiasa tercurah atas beliau, keluarga dan para sahabat beliau.***

